Analisis Standpoint Theory Gerakan Feminisme dalam Film Monalisa Smile P: ISSN. Analisis Standpoint Theory dan Gerakan Feminisme dalam Film Mona Lisa Smile Ainal Fitri Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Agama Islam Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh Email. fitri@serambimekkah. Abstract The equality between man and woman has become a general matter and still fought until now. One of these topic is presented trough Mona Lisa SmileAos movie . This movie tries to describe the construction of social reality in American society . , which are based on men viewpoint, and indirectly injured the women position. The author tries to review the meaning of this movie by the Standpoint Theory, the study of Radical Feminism, and the Feminine Mystique conceptAos by Betty Freidan. Keyword: Movie. Feminism. Education Abstrak Kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan sudah menjadi hal yang sangat umum dan masih diperjuangkan sampai saat ini. Salah satu perjuangannya melalui film Mona Lisa Smile . yang menggambarkan adanya konstruksi realitas sosial masyarakat Amerika . yang berdasarkan sudut pandang laki-laki, dan secara tidak langsung merugikan posisi perempuan. Penulis mengkaji makna dari film ini berdasarkan Teori Sudut Pandang, kajian Feminisme Radikal, dan konsep The Feminine Mystique yang dicetuskan oleh Betty Freidan. Kata Kunci: Film. Feminisme. Pendidikan . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Juli 2019 PENDAHULUAN Semakin berkembangnya zaman, semakin banyak perubahan yang terjadi di lingkungan masyarakat dunia saat ini, baik ditinjau secara sosial, ekonomi, politik maupun lainnya. Perubahan-perubahan tersebut tidak terjadi secara instan, melainkan setelah melalui fase sejarah yang cukup panjang dan masih akan terus berkembang. Sebut saja contohnya perkembangan dunia pendidikan yang dulu pada awalnya hanya diprioritaskan bagi laki-laki, namun kini sudah dapat dikecap oleh laki-laki dan perempuan secara setara setelah disuarakan secara terus-menerus. Untuk menyuarakan social movement serupa, banyak sekali cara dan sarana yang dapat digunakan, salah satunya melalui film. Kellner . 0: . mengatakan bahwa film merupakan salah satu sarana untuk membentuk dan menyebarluaskan makna. Melalui film, kita dapat melihat bagaimana suatu peristiwa terjadi baik berdasarkan pengalaman, sosok, praktik maupun wacana sosial Film Mona Lisa Smile adalah salah satu medium yang ikut serta menyuarakan kesetaraan hak khususnya pendidikan yang seharusnya didapatkan oleh laki-laki dan perempuan pada tahun 1953-1954 di Amerika Serikat. Namun film ini tidak hanya berbicara sebatas level kesetaraan pendidikan, namun juga lebih jauh yakni berbicara di level bagaimana perempuan yang sebelumnya hanya boleh aktif di ranah domestik tapi juga bisa merambah ke ranah publik seperti laki-laki. Film ini diproduksi oleh Revolution Studios dan Columbia Picture pada tahun 2003, dan disutradarai oleh Mike Newell. Film ini menonjolkan realitas bagaimana sudut pandang laki-laki sangat diutamakan di seluruh aspek kehidupan masyarakat Amerika atau bahkan masyarakat dunia pada saat itu. Sudut pandang ini yang pada Analisis Standpoint Theory Gerakan Feminisme dalam Film Monalisa Smile P: ISSN. akhirnya membentuk realitas yang lebih menguntungkan laki-laki dibanding perempuan, sudut pandang ini pula yang menjadikan budaya patriarki semakin mengakar kuat di lingkungan sosial Film ini bermula dari keprihatinan seorang Katherine Watson (Julia Rober. yang mengajar di kampus Wellesley College, kampus khusus mahasiswi pada saat itu. Watson merasa prihatin karena banyak sekali mahasiswi yang sangat cerdas, namun tidak memiliki pemikiran yang luas dan terbuka. Wellesley College, mahasiswi hanya dirancang agar siap menjadi seorang istri dan ibu ketika halnya dengan laki-laki yang boleh mengecap pendidikan setinggi apapun. Hal yang meyakini . nstitusi, perkantoran, regulator dan sebagainy. lebih pantas dipegang atau dikendalikan oleh laki-laki, sedangkan perempuan diyakini hanya boleh berperan aktif di ranah domestik, hal ini mencakup urusan rumah tangga, mengurus anak, dan sejenisnya. Hal ini sangat disayangkan oleh Watson, karena menurutnya pada saat itu saja banyak sekali mahasiswinya yang memiliki bakat dan kemampuan yang sama baiknya dengan laki-laki dan juga pantas mendapatkan pendidikan tinggi. Menurut Watson, perempuan dapat berperan aktif di ranah publik dan domestik secara bersamaan. RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Dampak Vol. No. 01 Juli 2019 dari keadaan ini menjadikan para AutundukAy pada kebenaran yang diyakini meskipun berdasarkan dari sudut pandang laki-laki. Para mahasisiwi tidak boleh dibiarkan berpikiran luas dan menentukan kemauannya sendiri. Materi-materi perkuliahan yang ada saat itu pun hanya sebatas Aubagaimana menjadi Istri dan Ibu yang baikAy, tidak ada materi yang mempersiapkan kemampuan mahasiswi untuk berkarir di level yang lebih tinggi seperti laki-laki. Seiring berjalannya waktu, hal ini terus berjalan meskipun hanya ada beberapa mahasiswi yang merasa terkekang, namun mahasiswi yang terkekang kebebasannya tersebut justru dianggap AuanehAy atau Auada sesuatu yang salah pada dirinyaAy oleh teman-temannya bahkan para guru dan orang tua. Anggapan ini bukan muncul seketika, namun merupakan hasil dari sudut pandang laki-laki menyudutkan perempuan. Tidak hanya di dalam ruang lingkup aktivitas akademik, sudut pandang laki-laki juga mendominasi di sehari-hari. Contohnya perilakunya seperti harus berperilaku baik, lemah lembut, dan sesuai dengan kemauan laki-laki, sementara laki-laki bebas mengontrol perilakunya sendiri. Melalui film Mona Lisa Smile kita dapat melihat bagaimana mendominasi, dan melekatkan budaya patriarki yang mengedepankan kepentingan laki-laki, mengindikasikan adanya ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender menjadi fokus perhatian dari para feminis dengan melakukan beberapa gerakan yang kemudian lebih dikenal dengan istilah feminisme. Feminisme adalah sebuah ideologi yang Analisis Standpoint Theory Gerakan Feminisme dalam Film Monalisa Smile P: ISSN. berlandaskan dari suatu kesadaran terhadap penindasan dan sejenisnya terhadap perempuan di lingkungan masyarakat maupun tempat kerja, dan kemudian hal tersebut memicu perempuan maupun laki-laki untuk mengubah keadaan tersebut (Sunarto, 2000: 34-. Penulis merasa bahwa perlunya pemahaman yang memadai bagi kita semua untuk melihat makna-makna yang disampaikan oleh berbagai media saat ini termasuk film, karena melalui film kita bisa memahami suatu konteks sosial, kita juga bisa berusaha menyuarakan sesuatu demi keadilan dan kesetaraan, atau bahkan mampu mengubah suatu struktur tatanan sosial meskipun tidak dalam skala Tulisan ini tidak bertujuan untuk mengkotak-kotakkan realitas hanya sebatas film ini saja, namun juga mencoba membuka cara pandang kita baik laki-laki dan peremuan atas kaitan antara realitas masa lampau, masa kini, dan masa depan. Karena penulis merasa bahwa sampai saat ini pun masih banyak sudut pandang laki-laki yang dijadikan sebagai patokan utama dalam interaksi sosial meskipun tidak seburuk sebelumnya. Di dalam tulisan ini, penulis lebih mengkaji mengenai makna yang disampaikan dalam film ini berdasarkan kajian sudut pandang . Kajian ini banyak digunakan oleh para Feminist yang . perempuan, yang di dalamnya termasuk budaya patriarki. Penulis mengkaji melalui jalan cerita, pesan, dan tokoh yang dilibatkan. PEMBAHASAN Standpoint Theory (Teori Sudut Pandan. Teori sudut pandang adalah teori kritis yang merupakan karya dari Sandra Harding dan Patricia Hill Collins. Kemudian teori ini . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Juli 2019 diadopsi ke kajian ilmu komunikasi oleh Julia Wood dan Marsha Houston. Teori sudut pandang mengkaji bagaimana keadaan memahami dan membentuk dunia sosial (Littlejhon & Foss, 2008:. Jika dikaitkan dengan isu feminisme, teori standpoint dapat dilihat melalui pemikiran Nancy Hartsock pada tahun 1983. Teori ini komunikasi terbentuk dalam bagian besar grup sosial di tempat mereka berasal. Teori Standpoint melakukan advokasi kritis mengenai status quo dikarenakan struktur kekuasaan yang mendominasi (West dan Turner, 2010:. Teori Standpoint memberikan titik awal untuk pemahaman mengenai beberapa dinamika yang dialami oleh perempuan. Teori Standpoint memberikan kerangka untuk memahami sistem kekuasaan. Kerangka ini dibangun atas dasar pengetahuan yang dihasilkan dari kehidupan orang sehari-hari. Setiap individu adalah konsumen aktif dari realitas mereka sendiri dan bahwa perspektif individu-individu itu sendiri merupakan sumber informasi yang paling penting mengenai pengalaman mereka. Sebab perspektif dari mereka yang kurang berkuasa akan lebih objektif daripada mereka yang berkuasa. (Griffin, 2006:. Teori standpoint yang diutarakan Hartsock memiliki lima asumsi mengenai kehidupan sosial, yaitu (West & Turner, 2010 . Material life, posisi kelas akan membentuk dan membatasi pemahaman mengenai relasi sosial Pandangan kelompok yang berkuasa akan membentuk relasi dimana semua kelompok dipaksa untuk berpartisipasi Analisis Standpoint Theory Gerakan Feminisme dalam Film Monalisa Smile P: ISSN. Pandangan Pemahaman kelompok tertindas tentang ketidakadilan dalam relasi antarkelompok akan mengarah pada AuduniaAy yang lebih Mereka menempati tempat-tempat yang berbeda dalam hierarki Kelima asumsi tersebut mengungkapkan bahwa kehidupan material yang menyusun dan membatasi pemahaman akan hubungan sosial, dimana mengalami struktur dalam dua cara yang berlawanan. Ketika terdapat kelompok dominan dan kelompok bawahan, maka pemahaman dari kelompok yang dominan akan bersifat parsial dan Sama halnya dengan pemikiran kelompok dominan yakni laki-laki yang menguasai situasi dan kondisi masyarakat pada saat itu. Seperti yang terdapat dalam film Mona Lisa Smile, bagaimana laki-laki merugikan perempuan itu sendiri, sebab apapun yang dilakukan perempuan secara langsung atau tidak langsung berdasarkan sudut pandang laki-laki. Perempuan dalam film ini memiliki kedudukan lebih rendah dan terpinggirkan. Hal ini tercerminkan dari sikap patriarki masyarakat yang sangat melekat pada saat itu. Kehidupan yang didominasi sudut pandang laki-laki jelas menguntungkan para laki-laki tapi tidak bagi perempuan. Sebagai contoh di materi Kelas Pernikahan. Wellesley College membantu memecahkan permasalahan yang dialami laki-laki . uami mereka nant. namun dengan cara tidak menjadi seperti laki-laki. RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Juli 2019 Posisi mereka sebagai perempuan hanya berada di posisi kedua. Sebagai contoh dapat dilihat dari salah satu scene di bawah ini: (Sumber: Film Mona Lisa Smile (Menit ke 34. Detik ke . Percakapan: Guru : AuSuamimu sedang dalam persimpangan karirnya, dia sedang bersaing untuk promosi melawan dua rivalnya. Smith dan Jones. Untuk meluruskan masalah, kau telah mengundang pimpinannya dan istrinya untuk makan malam pukul 7. Kau rencanakan makanan dengan hati-hati, mengatur meja dan meminta pengurus bayi. Tiba-tiba ada kejutan, waktu sudah pukul 6:15 dan suamimu menelepon, dia bilang Jones dan Smith juga diundang atas permintaan pimpinan. Sebagai mahasiswi Wellesley tetaplah tenang dan mengerti bahwa pimpinan mungkin mengujimu dan suamimu. Lalu bagaimana?Ay Giselle Levy : AuMengajukan perceraianAy Guru : AuItu sangat lucu, tapi masalahnya ini bukan lelucon. Beberapa tahun lagi, kau bertanggung jawab atas suami dan anak-anakmu. Yang terpenting adalah apa yang suami mu berikan, bukan apa yang kuberikan. Ay Dari scene di atas terlihat bagaimana perempuan harus bertingkah laku dengan baik seperti yang diinginkan laki-laki. Mereka dididik dengan teliti, penuh kelembutan, kesabaran dan sebagainya dengan tujuan membantu laki-laki. Selesai menjalani pendidikan, mahasiswi nantinya dianggap akan menjadi istri dan ibu yang baik jika mereka mampu belajar mengenai hal itu dengan benar di kampus Perempuan yang baik yang tercerminkan dalam film ini Analisis Standpoint Theory Gerakan Feminisme dalam Film Monalisa Smile P: ISSN. adalah perempuan yang patuh kepada laki-laki dan siap membantu laki-laki. Jika ada yang menyimpang, maka hal tersebut dianggap sebagai suatu keanehan. Hal itulah yang dilakukan oleh Giselle Levy, salah satu mahasiswi yang terkesan frontal dan menolak pelajaranpelajaran yang pada akhirnya menguntungkan laki-laki. Hal tersebut justru menjadikan Levy seolah-olah dianggap menjadi perempuan yang aneh, sulit diatur dan menentang kultur kampus oleh dosendosen dan teman-temannya. Berdasarkan kajian teori standpoint tersebut terhadap film Mona Lisa Smile, dapat kita lihat mengenai adanya dominasi pandangan kaum laki-laki di dalam aspek kehidupan masyarakat yang mana dipengaruhi oleh patriarki dan ideologi tetentu. Keadaan ini terjadi karena adanya konstruksi budaya patriarki yang sangat kental di dalam diri masyarakat sehingga masyarakat itu sendiri memandang bahwa perempuan hanyalah kelompok yang berada di kelas kedua, dan laki-laki selalu mendapatkan posisi yang utama. Segala aktivitas yang dilakukan selalu berdasarkan sudut pandang laki-laki, bukan perempuan atau seimbang. Jika ada perempuan yang berlaku tidak sesuai dengan kategori baik menurut versi laki-laki, maka akan dianggap aneh, gila, berpenyakit dan sebagainya. Perempuan digambarkan harus siap menerima beban ganda, yakni mengatasi permasalahan laki-laki dan permasalahannya sendiri. Gerakan Feminisme Dari seluruh gerakan feminisme yang ada, penulis melihat bahwa dalam film ini gerakan feminisme yang tergambarkan adalah Feminisme Radikal. Hal ini karena penulis merasa pada kondisi yang tergambarkan perempuan sudah Feminisme radikal merupakan . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Juli 2019 feminisme gelombang kedua yang dianggap revolusioner karena meningkatkan kesadaran. Berbeda dengan feminisme sebelumnya, yakni Feminisme Liberal yang fokus pada kesetaraan pendidikan, hak-hak perempuan yang terus diperjuangkan melalui kesadaran mereka Seperti halnya dalam film ini, pendidikan sudah diberikan kepada laki-laki dan perempuan, namun perempuan hanya diberikan pendidikan yang tidak setara dengan laki-laki, sehingga apa yang perempuan pelajari pada akhirnya hanya akan bisa diaplikasikan di ranah domestik, bukan ranah publik. Melalui feminisme radikal lah Perempuan bisa saja memilih apa yang mereka inginkan, termasuk dengan melanjutkan pendidikan yang sama dengan lakilaki, sehingga perempuan juga bisa berkarir di ranah publik. Gerakan feminisme radikal ini tercerminkan melalui tokoh Katrine Watson, dosen baru yang berusaha membuka pikiran mahasiswinya bahwa mereka berhak menentukan pilihannya sendiri tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Namun yang perlu diingat bahwa, perempuan dianggap selalu berada dalam posisi yang Seperti yang dikatakan oleh Alison Jaggar dan Paula Rothenberg, hal tersebut dengan alasan bahwa (Tong, 1998:. Dilihat dari sejarah, wanita adalah kelompok pertama yang Penindasan wanita adalah penindasan yang paling banyak tersebar luas, dan dapat dilihat secara nyata di setiap kelompok masyarakat yang kita tahu. Analisis Standpoint Theory Gerakan Feminisme dalam Film Monalisa Smile P: ISSN. Penindasan wanita adalah bentuk penindasan yang paling sulit dibasmi dan tidak dapat dihilangkan dengan penggantian status sosial lainnya seperti penghapusan kelas masyarakat. Penindasan wanita menyebabkan penderitaan yang terburuk bagi korbannya, baik secara kualitas maupun jumlahnya, walaupun korban yang bertahan seringkali tidak dianggap dikarenakan penilaian berdasarkan jenis kelamin dari si penindas dan korban Penindasan wanita menyediakan contoh konseptual untuk mengerti penindasan dalam bentuk lainnya. Feminisme banyaknya berkumpul para feminis yang aktif dalam kelompok hak-hak Mereka perempuan, timbul dalam konteks partisipasi mereka dalam satu atau lebih gerakan sosial radikal. Meskipun pada akhirnya feminis radikal melihat banyak sekali bentuk opresi yang terjadi terhadap perempuan, seperti berdasarkan seksualitas, pornografi, lesbianisme, reproduksi dan mothering, namun secara umum feminisme radikal melihat pada sistem yang ada di dalam masyarakat yang menjadi penyebab ketertindasan perempuan. Feminisme radikal mengklaim bahwa sistem patriarki ditandai oleh kuasa, dominasi, hierarki, dan Sistem patriarki bagi kelompok ini tidak dapat dibentuk ulang, tetapi harus dicabut dari akar dan cabang-cabangnya sampai Patriarki berdasarkan konsep yang dirumuskan oleh para feminis radikal adalah sebagai suatu struktur yang tidak fleksibel dan . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Juli 2019 tidak memberikan ruang untuk penolakan ataupun perubahan, dan juga mengimplikasikan suatu bentuk universal penindasan yang berdasarkan pada perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Alexander dan Taylor . dalam Hollows . mengatakan bahwa bagi kalangan feminis, patriarki mungkin bukan konsep yang sempurna, tapi masih merupakan alat terbaik untuk memahami posisi perempuan yang subordinat. Para feminis radikal juga memberi perhatian khusus pada isu tentang kekerasan laki-laki terhadap perempuan. Dominasi laki-laki perempuan, seperti pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, pornografi, pelecehan seksual, menjadi tampak alami dan AulayakAy. Sejalan dengan pemahaman ini, tercipta pula dikotomi mengenai good girls dan bad girls (Dina, 2009:. Sama halnya dengan apa yang digambarkan dalam film Mona Lisa Smile, seperti dalam salah satu scene yang menjelaskan seorang mahasiswa yang bernama Betty Warren yang kemudian menikah dan berusaha menjadi ibu rumah tangga yang baik. (Sumber: Film Mona Lisa Smile. Menit ke 49. Detik ke . Warren sampai harus melakukan cuti akademik hanya untuk melayani suami di rumah. Warren adalah salah satu mahasiswi yang Analisis Standpoint Theory Gerakan Feminisme dalam Film Monalisa Smile P: ISSN. cerdas, namun memilih menjadi seorang istri dengan alasan demi melestarikan kebudayaan dan melanggengkan kepercayaan bahwa kampus tersebut sudah memberikan pilihan yang sangat baik bagi mahasiswinya, meskipun tanpa sadar mereka sudah menjadi korban dari patriarki. Feminisme Radikal terbagi menjadi dua pandangan yaitu pandangan Liberal dan pandangan Cultural. Pandangan RadikalLiberal menyatakan kalau wanita baiknya mempunyai sifat feminim dan maskulin yang seimbang di dalam dirinya, agar bisa diterima oleh masyarakat dan bisa disejajarkan dengan laki-laki. Sedangkan Pandangan Radikal-kultural memerlukan sifat maskulin atau pengaruh apapun. Wanita hendaknya menjadi wanita seutuhnya. Hal yang salah dalam sistem sosial saat ini adalah anggapan masyarakat terhadap sifat feminisme itu sendiri. Feminisme Radikal-Kultural . alam Karmini, 2012:. Pertama, setiap perempuan harus lebih menguatkan esensi perempuan dengan tidak mencoba untuk menjadi seperti lakilaki. Kedua, setiap perempuan menekankan nilai-nilai dan sifat-sifat, yang secara kultural dihubungkan terhadap perempuan, seperti saling kebergantungan, komunitas, hubungan, berbagi, emosi, kepercayaan, ketiadaan hierarki, perdamaian, dan kehidupan. Ketiga, di dalamnya ditekankan pula untuk meninggalkan nilai-nilai dan sifat-sifat yang secara kultural dihubungkan dengan laki-laki. Penulis melihat bahwa feminisme radikal kultural lebih bersinggungan dengan pesan yang disampaikan melalui film ini. Feminis radikal kultural bersikeras pada proposisi yang menyatakan bahwa perempuan seharusnya tidak seperti laki-laki, dan tidak perlu bagi perempuan untuk berperilaku . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Juli 2019 seperti laki-laki. Kaum feminis radikal kultural mencegah penerapan nilai-nilai maskulin yang secara kultural dikenakan pada pria, dominasi, budaya, transendensi, perang dan kematian. Perbedaan antara feminisme radikal liberal dengan feminisme radikal kultural mengungkapkan adanya perbedaan sudut pandang yang tajam antara Dimana memperdebatkan apakah reproduksi merupakan sumber Aupenindasan perempuan atau Aukekuatan perempuan. Ay Meskipun demikian, terdapat satu hal yang mengikat ide radikal feminisme, yaitu pada pemahaman dasar bahwa sistem gender adalah basis dari penindasan Feminis mengangkat isu-isu tentang seksisme, patriarki, hak-hak reproduksi, kekuatan hubungan laki-laki dan perempuan, dikotomi antara ranah privat dan ranah publik. Tokoh yang mencerminkan adanya pergerakan feminisme radikal kultural dalam film Mona Lisa Smile adalah tokoh utama, yakni Katherin Watson. Melalui tokoh Katherine Watson dalam film ini digambarkan bahwa ia ingin menyadarkan bahwa perempuan seharusnya tidak lagi menjadi sosok yang pasif, menunggu, dan menjadi objek dari tindakan aktif dari laki-laki, seperti yang dibentuk oleh sistem patriarki. Watson bertekad untuk merubah pola pikir Setiap ada kesempatan, ia berusaha menyadarkan para siswanya bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memiliki karier cemerlang jika mereka menginginkannya. Bahkan Mereka juga dapat menjalankan peran mereka sebagai ibu rumah tangga dan wanita karier secara bersamaan. Di dalam salah satu scene, terlihat Watson sangat gerah melihat Analisis Standpoint Theory Gerakan Feminisme dalam Film Monalisa Smile P: ISSN. budaya patriarki yang mendominasi kehidupan kampus tersebut. Tak seorang mahasiswi pun memiliki tujuan lain selain menikah setelah menjalani pendidikan. Pada akhirnya. Watson menanyakan kepada salah satu mahasiswinya yakni Joan mengenai rencananya setelah lulus nanti. Percakapan: Watsson : Di sini tertulis kau calon mahasiswi hukum. Sekolah apa yang kau minati? Joan : Aku belum memikirkannya. Setelah lulus, aku berencana Watson: Lalu? Joan : LaluA Lalu aku akan menikah Watson : Kau bisa melakukan keduanya Ini adalah salah satu langkah besar yang dilakukan oleh Watson dalam membuka pemikiran mahasiswinya yang selama ini terlanjur terbelenggu. Watson bahkan meyakinkan bahwa Joan bisa menjadi istri, ibu dan sekaligus melanjutkan pendidikannya. Joan juga sempat mengalami dilema karena ia ragu dengan jurusan hukum yang akan dilanjutkannya, karena pada kenyataannya hanya laki-laki yang lebih banyak mendalami hukum tersebut. Tapi akhirnya Joan menerima tawaran Watson untuk melanjutkan pendidikan, dan Joan pun diterima di universitas tersebut. Feminisme radikal kultural juga tidak terlepas dari kritikan . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Juli 2019 yang muncul. Arivia . menyatakan bahwa feminisme radikal kultural menerima kritikan dari sejumlah pihak mengenai anggapan bahwa feminisme radikal sudah AuterperangkapAy dalam pemikiran bahwa pada dasarnya perempuan lebih baik dari laki-laki dan bahwa ideologi juga tereduksi menjadi dikotomi antara laki-laki dan Hal ini terlihat jelas dalam film tersebut, berbagai penolakan diterima oleh Watson. Banyak yang menilai bahwa apa yang dilakukan Watson hanya akan sia-sia karena pada dasarnya tugas perempuan adalah menemani suami dan mengabdi. Perempuan tidak boleh melakukan sesuatu yang lebih dibandingkan laki-laki, karena sudah menjadi kewajiban bagi laki-laki untuk melakukan sesuatu yang lebih tersebut. Pada akhirnya Watson dianggap sebagai perempuan yang telah melakukan pendurhakaan terhadap takdir perempuan yang seharusnya hanya menjadi istri dan ibu yang baik. Berdasarkan pemaparan konsep feminisme radikal di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa perjuangan kaum feminis radikal ini menekankan perjuangan melawan ideologi dan lembaga-lembaga yang mengembangkan ideologi ini. Oleh karena itu, gerakannya terlalu memusatkan perhatiannya pada kenyataan, bahwa laki-laki mendapat banyak keuntungan dari sistem patriarki, sehingga seringkali melihat laki-laki sebagai musuh utama. Namun hal lain yang menarik bagi penulis dalam kajian ini adalah mengenai konsep the feminine mystique yang dirumuskan oleh Betty Freidan. Meskipun konsep ini muncul di feminisme liberal, namun Betty Freidan lebih banyak menfokuskan konsep ini pada gerakan feminisme gelombang kedua, termasuk feminisme radikal. The Feminine Mystique. Betty Freidan Betty Freidan melalui tulisannya The Feminine Mystique pada tahun Analisis Standpoint Theory Gerakan Feminisme dalam Film Monalisa Smile P: ISSN. 1974 menjelaskan bagaimana kondisi perempuan di Amerika pasca Perang Dunia II. Pada saat itu perempuan merasa tidak bahagia hanya menjadi seorang istri dan ibu dari anak-anaknya. Perempuan diajarkan menjadi seorang yang feminine dan tidak menginginkan karir, pendidikan tinggi, hak politik, kemandirian, serta kesempatan dalam banyak hal. Permasalahan tersebut kemudian dirumuskan Freidan dengan istilah Authe problem thas has no name. Ay Betty Friedan percaya bahwa masalah yang terjadi pada para perempuan tersebut adalah akibat dari yang disebutnya dengan the feminine mystique (Friedan, 1974:. The pemenuhan sifat-sifat feminin yang wajib dijalankan oleh perempuan. Mitos ini yang menyebabkan perempuan menjadi pasif, terkucil, dan menjadi buta terhadap masalah-masalah yang dialaminya serta buta dalam melihat kesempatan-kesempatan yang dimilikinya. Sistem patriarki dianggap sebagai pelaku yang telah menciptakan mitos itu bagi perempuan dan telah begitu lama pula perempuan hidup di bawah mitos tersebut dan tidak menyadarinya. Pemenuhan kualitas feminin itu dapat dipenuhi oleh perempuan dengan menjalankan AukodratAy sebagai istri dan ibu. Dengan kata lain, perempuan harus menempati dan hanya bisa menjalankan perannya di dalam ruang Hal ini sesuai dengan yang selama ini telah diasosiasikan dengan pembagian wilayah antara perempuan dan laki-laki dalam konstruksi gender. Men had become associated with what was public: the workplace, politics, religion in its institutional forms, intellectual and cultural life, and in general terms, the exercise of power and authority. RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Juli 2019 women, with what was private: the home, children, domestic life, sexuality . r its repressio. (Eisenstein, 1984:. Laki-laki dilekatkan dengan segala hal yang terkait dengan kekuatan dan kekuasaan. Sedangkan perempuan diasosiasikan dengan kehidupan dan wilayah domestik yang dikontrol oleh kekuatan dan kekuasaan laki-laki. Perempuan yang melanggar AukodratAy-nya AuThe ones with female troubles are the ones who have denied their femininity . Ay (Friedan, 1974:. The problem that has no name juga tergambarkan melalui film ini. Betty Warren yang notabene sudah menikah dan berusaha menikmati perannya sebagai istri yang baik, tinggal di rumah yang mewah dan serba berkecukupan, akhirnya merasa ada sesuatu yang terjadi dalam Warren merasa tidak bahagia dengan pernikahannya, sedangkan sebelumnya ia sangat membangga-banggakan betapa bahagianya lulusan Wellesey College jika menjadi seorang istri. Ternyata hal tersebut tidak terbukti padanya. Percakapan: Ibu Betty: Tolong lihat ibu, aku sudah bicara pada Nyonya Jones dan Penyesuaian membutuhkan waktu Betty : Lihatlah ini. BuA (Menunjukkan foto Monalis. Analisis Standpoint Theory Gerakan Feminisme dalam Film Monalisa Smile P: ISSN. Ibu Betty: Spencer pun akan mencobanya Betty : Dia tersenyum, apakah dia bahagia? Ibu Betty: Hal yang terpenting adalah tak mengatakan pada siapapun Betty : Dia terlihat bahagia. Lalu, apa masalahnya? Biar kukatakan Tak semua hal sesuai dengan apa yang terlihat Kebahagiaan rumah tangga yang dibanggakan oleh kampus, keluarga dan yang dibayangkan Warren sebelum menikah tidak Setelah menikah, suaminya terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Pada akhirnya ia mendapati suaminya berselingkuh dengan perempuan lain. Dengan penuh kekesalan. Warren mengadu Warren mempertahankan pernikahannya karena ibunya berpikir bahwa kebahagiaan Warren sudah lengkap dengan menikah dan hidup serba Warren pada awalnya menolak tegas langkah-langkah yang ditempuh oleh Watson selaku pengajar dalam upaya membuka Warren mempropaganda seluruh kampus melalui tulisannya mengenai Watson yang dianggap aneh karena ingin merubah struktur pemikiran yang ada. Namun yang terjadi adalah Warren mulai merasa apa yang dilakukan oleh Watson adalah benar. Perempuan tidak boleh dibiarkan berlama-lama terbelenggu dalam sudut pandang dan budaya patriarki. Perempuan berhak memutuskan pilihannya sendiri demi kebahagiaan, dan keputusan tersebut tanpa dipengaruhi oleh Laki-laki yang lebih identik dengan ranah publik, sementara perempuan di ranah domestik pun tidak banyak diprotes oleh . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Juli 2019 mahasiswi saat itu. Adanya perbedaan antara kebebasan yang dimiliki laki-laki dan perempuan menyebabkan perempuan dianggap layak jika hanya menjadi istri dan bekerja di rumah saja . anah domesti. , sedangkan laki-laki dibebaskan berkarir setinggi-tingginya di ranah Bahkan ketika perempuan mulai merambah ke ranah publik, mereka pun masih saja harus dituntut memiliki peran ganda yang tidak mengabaikan ranah publik dan domestik. Peran domestik menurut anggapan orang hanya pantas dilakukan oleh perempuan. Keadaan tersebut menyebabkan posisi perempuan sarat dengan pekerjaan yang beragam, dalam waktu yang tidak terbatas, dan dengan beban yang cukup berat. Misalnya, memasak, mencuci, menyeterika, menjaga kebersihan dan kerapian rumah, membimbing anak-anak belajar, dan sebagainya. Pekerjaan domestik tersebut dilakukan bersama-sama dengan fungsi reproduksi, haid, hamil, melahirkan, dan menyusui. Adapun laki-laki dengan peran publiknya menurut kebiasaan masyarakat, tidak bertanggung jawab terhadap beban kerja domestik tersebut, karena hanya layak dikerjakan oleh perempuan (Khotimah, 2009:158-. Mosse . juga menyatakan bahwa banyak laki-laki dan perempuan masih berpikiran bahwa urusan domestik rumah tangga, termasuk pengurusan anak, merupakan tanggung jawab perempuan, meskipun keduanya sama-sama bekerja di ranah publik. Di luar perannya dalam rumah tangga, perempuan juga memiliki hak untuk bekerja, berkarya atau memiliki kesibukan di luar rumah sebagai bentuk aktivasi dirinya di wilayah publik untuk menunjukkan Hal inilah yang kemudian ingin disadarkan oleh Watson, bahwa perempuan bisa bergerak bukan hanya di ranah domestik. Analisis Standpoint Theory Gerakan Feminisme dalam Film Monalisa Smile P: ISSN. namun bisa sekaligus di ranah publik. Namun, hal tersebut masih sangat sulit karena perempuan dan laki-laki pada saat itu masing mengagung-agungkan bahwa hak di ranah publik lebih banyak didapatkan oleh laki-laki, sedangkan perempuan hanya berada di Di akhir cerita. Warren dengan berani mengajukan surat perceraian kepada suaminya dan mengajukan pendaftaran ke salah satu universitas untuk melanjutkan pendidikannya. Saat itu juga Warren merasa benar-benar bahagia atas pilihannya sendiri, bukan berdasarkan pilihan orang lain. Warren merasa bahwa bahwa mimpimimpi perempuan tidak hanya pada kehidupan di dalam ruang domestik sebagai istri dan ibu, namun ada hal-hal lain yang membuat mereka merasa bahagia. Warren secara tidak langsung menolak menjadi perempuan yang pasif yang merugikan dirinya sendiri. Selain Betty Freidan. Kate Millet juga mengungkapkan terdapat oposisi biner antara perempuan dan laki-laki sebagai berikut: that for female. AunormalAy meant passive, while for male, it meant Men had instrumental traits: they were tenacious, aggressive, curious, ambitious, planful, responsible, original and competitive. Women had expressive traits: they were affectionate, obedient, responsive to sympathy and approval, cheerful, kind, and friendly (Eisenstein, 1984: . Perempuan yang normal adalah perempuan yang pasif, patuh, pengasih, ceria, dan ramah. Sedangkan yang normal bagi pria adalah bersikap aktif, agresif, ambisius, bertanggung jawab, dan kompetitif. Millet berpendapat bahwa ideologi patriarkal begitu kuat sehingga laki-laki biasanya mampu mendapat persetujuan dari perempuan . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Juli 2019 yang mereka opresi. Hal tersebut juga disebabkan karena tersebarnya ideologi patriarki melalui institusi-institusi seperti akademisi, gereja, perempuan terhadap laki-laki. Akibat dari penyebaran ideologi tersebut, kebanyakan perempuan menginternalisasi rasa inferioritas AuDiriAy terhadap laki-laki. Sebagaimana Wellesley College, keluarga dan masyarakat yang tercerminkan dalam film tersebut sangat melanggengkan ideologi patriarki dan melakukan segala tindakan berdasarkan sudut pandang laki-laki. KESIMPULAN Dari analisis mengenai film Mona Lisa Smile, penulis melihat bahwa banyak sudut pandang . laki-laki yang mendominasi dalam cerita kehidupan film tersebut. Perempuan dididik menjadi AubaikAy sesuai dengan apa yang laki-laki inginkan. Laki-laki akan membutuhkan perempuan yang lembut, memiliki nilai kasih sayang, rela berada di posisi kedua yang selalu siap membantu laki-laki suami. Hal ini menjadi cikal bakal diterapkannya kurikulum tertentu untuk memenuhi sudut pandang tersebut oleh Wellesley College. Selain itu, penulis juga melihat bahwa ada kecenderungan feminisme radikal kultural yang tergambarkan dalam film ini. Pemahaman feminisme radikal kultural bahwa untuk mencapai kesetaraan, perempuan tidak perlu menjadi laki-laki. Perempuan harus tetap menjadi perempuan dengan meningkatkan kesadaran bahwa mereka berhak memutuskan pilihannya sendiri. Hal ini tercerminkan dari tokoh Katherin Watson yang bersusah payah Meskipun akhirnya ia mendapatkan banyak kritikan Analisis Standpoint Theory Gerakan Feminisme dalam Film Monalisa Smile P: ISSN. dengan alasan bahwa apa yang dilakukannya adalah cerminan pendurhakaan terhadap takdir perempuan, yakni hanya menjadi istri dan ibu bagi anak-anaknya. Namun perjuangan Watson yang tercerminkan dalam feminisme radikal kultural membuahkan hasil, salah satu mahasiswi yang terkenal sangat bangga terhadap budaya kampus yang patriarki dan didominasi sudut pandang laki-laki yakni Betty Warren, mulai merasa bahwa apa yang dijalaninya adalah sesuatu yang salah. Realitas yang terjadi di Amerika ini setidaknya menjadi referensi bagi laki-laki maupun perempuan bahwa keduanya sama-sama memiliki hak dan kesempatan yang sama. Film ini dapat dijadikan sebagai Aoalat bantuAo bagi perkembangan zaman bahwa perempuan berhak menentukan pilihannya sendiri tanpa adanya tekanan dari orang lain. Impian merupakan sebuah penemuan jati diri bagi seorang perempuan, pun bagi laki-laki. Perempuan akan bermimpi dan mencita-citakan suatu hal agar ia dapat membuktikan eksistensinya di dunia ini untuk dirinya dan untuk masyarakat. Tentu saja impian setiap perempuan berbeda, namun impian tiap perempuan yang beragam ini kemudian sulit terwujud karena adanya Auimpian global perempuanAy yang diciptakan masyarakat. Sebagai rekomendasi, penulis mengharapkan adanya tulisan-tulisan lain yang turut membantu menggalakkan social movement serupa, atau justru mengkaji film ini dari sudut pandang lain. Hal ini dengan harapan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, atau gerakan lainnya, serta tentunya memperkaya kajian ilmu khususnya di kajian komunikasi dan media massa. RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Juli 2019 Daftar Referensi Arivia. Gadis . Filsafat Berperspektif Feminis. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan Dina. Farah. Representasi Ideologi Patriarki Dalam Novel Tanah Abu. Kajian Feminisme Radikal. Jurnal Sastra Indonesia. Vol 2. No 1 Universitas Negeri Semarang Eisenstein. Hester . Contemporary Feminist Thought. Great Britain and Australia: Unwin Paperbacks. Friedan. Betty. The Feminine Mystique. New York: Dell Publishing. Griffin. EM. A First Look At Communication Theory. New York McGraw-Hill. Hollows. Joanne . Feminisme. Feminitas & Budaya Populer, terjemahan Betharia Anissa Ismayasari. Yogyakarta: Jalasutra Karmini. Ni NYoman. Analisis Feminisme Dalam Geguritan Saci. Jurnal MUDRA. Volume 27 Nomor 1. Januari 2012 Kellner. Douglas . Budaya Media: Cultural Studies. Identitas, dan Politik antara Modern dan Postmodern. Yogyakarta: Jalasutra Khotimah. Khusnul. Diskriminasi Gender Terhadap Perempuan Dalam Sektor Pekerjaan. Jurnal studi gender dan anak Yin Yang Vol. 4 No. 1 Jan-Jun 2009 LittleJhon & Foss . Teori Komunikasi: edisi 9. Penerjemah: Mohammad Yusuf Hamdan. Jakarta: Salemba Humanika Mosse. Julia Cleves, 1996. Gender & Pembangunan. Yogjakarta : Pustaka PelajarSadli Putri. Widya Ivani . The Spirit Of Feminism Reflected In The Main Character Of Mona Lisa Smile Movie: A Study Of Feminism In A Patriarchal Society. Skripsi. Universitas Diponegoro Sunarto . Analisis Wacana Ideologi Gender Media Anak-Anak. Semarang: Mimbar Tong. Rosemarie Putnam . Feminist Thought. Pengantar Paling Komperhensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Terjemahan Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta: Jalasutra West. Richard and Lynn H. Turner . Introducing Communication Theory Analysis and Aplication (Fourth Editio. Singapore: Mc Graw-Hill International Edition.