ISSN : 2808-0084 Vol. 2 No. 2 (Maret, 2. Relationship Between Knowledge Level And Attitude Of Pharmacy Students Class Of 2018 About Ulcer Self-Medication At Sari Mulia University Devi Sophia Purwaningsih 1. Darini Kurniawati 2. Erlina Syamsu3 Program Studi Sarjana Farmasi. Fakultas Kesehatan. Universitas Sari Mulia Banjarmasin Email: devisophia9@gmail. ABSTRACT Ulcer is a disease associated with the gastric mucosa which causes inflammation and causes swelling of the gastric mucosa. Purpose this research is find out the "Relationship Level of Knowledge and Attitudes of 2018 Pharmacy Students to Ulcer Self-Medication at Sari Mulia University" using a sample of 111 students. The type of research used in this research is analytic observationalusing a cross-sectional research design or cross-sectional study, sampling technique with purposive sampling. The level of knowledge of pharmacy students class of 2018 is in the good category at 58. 6% and attitudes are in the positive category with a score The relationship between knowledge level and ulcer self-medication has a significance value of 000 with a correlation coefficient of 0. 964 with a positive ( ) correlation direction, while the attitude towards ulcer self-medication has a significance value of 0. 000 with a correlation coefficient of 0. 903 with a positive ( ) correlation direction. The test results from this study showed that there was a relationship between the independent variables . evel of knowledge and attitudes of student. and the dependent variable . lcer self medicatio. Keywords : Attitude. Knowledge. Self-medication. Student. Ulcer PENDAHULUAN Maag ialah suatu penyakit yang berhubungan dengan mukosa lambung yang menjadikan peradangan dan mengakibatkan pembengkakan di mukosa lambung sampai terlepasnya epitel pada gangguan saluran Proses ini akan merangsang timbulnya suatu proses inflamasi pada lambung (Huzaifah, 2. Penyakit maag di Indonesia banyak dialami oleh remaja hingga orang-orang yang lanjut usia. Penyebabnya yakni kurangnya faktor pengetahuan tentang faktor-faktor penyebab Maag (Huzaifah, 2. Kejadian maag didunia saat ini relatif cukup tinggi. Menurut World Health Organization (WHO 2. , angka kejadian maag sekitar 1,8-2,1 dari jumlah penduduk setiap tahunnya dengan hasil persentase dari kejadian maag didunia, antaranya Inggris 22%. Jepang 14,5%. Prancis 29,5% dan China 31% (Sumbara, 2. Pada tahun 2014 dari data yang ditemukan di Dinkes Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan maag adalah termasuk penyakit dari 20 penyakit terbanyak yang terjadi di kota Banjarmasin dengan angka kejadian 25. 950 orang dan data yang ditemukan dari Dinkes Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan Pada tahun 2019 dengan kasus 637 (Irianty et al. , 2. Pada Tahun 2020 penyakit maag termasuk penyakit terbanyak di Kalimantan selatan dengan urutan ke 3 dengan jumlah kasus yaitu 18,213 (Dinas Kesehatan, 2. Kalangan remaja biasanya menderita maag karena disebabkan oleh beberapa faktor-faktor yaitu pola makan yang tidak teratur, gaya hidup salah satunya meningkatnya aktivitas. Selain itu maag juga bisa disebabkan oleh stress (Maharani et al. , 2. Swamedikasi ataupun pengobatan diri sendiri merupakan bagian dari upaya masyarakat menjaga kesehatan sendiri. Pada pelaksanaannya sendiri dapat menjadi masalah terkait obat (Drug Related Proble. akibatnya keterbatasaan, pengetahuan terkait obat dan penggunaannya (Harahap et al. , 2. Sikap merupakan keteraturan perasaan, pemikiran perilaku seseorang dalam berinteraksi sosial (Elisa, 2. http://journal. id/index. php/jnhe ISSN : 2808-0084 Vol. 2 No. 2 (Maret, 2. Berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti lakukan pada beberapa mahasiswa universitas mendapatkan hasil sebagian mahasiswa mengalami maag karena factor kegiatan yg sangat banyak dan Pengetahuan mahasiswa terhadap swamedikasi maag tidak terlalu baik bisa jadi dikarenakan pada saat kuliah materi yang diberikan secara online. Dari studi pendahuluan yang peneliti lakukan maka peneliti ingin meneliti AuHubungan tingkat pengetahuan mahasiswa terhadap sikap swamedikasi maag di Universitas Sari Mulia METODE Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah observasional analitik . on eksperime. yang menggunakan desain penelitian cross-sectional atau studi potong lintang. Populasi pada penelitian ini ialah mahasiswa farmasi angkatan 2018 Universitas Sari Mulia Banjarmasin dengan jumlah 153 orang. Jumlah sampel yang digunakan yaitu 111 responden dengan rumus slovin. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah mahasiswa farmasi semester delapan dan bersedia mengisi kuesioner. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat dimulai dengan analisis demografi responden yang meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pengetahuan, sikap dan penggunaan obat swamedikasi maag. Analisis bivariat dimulai dengan analisis tabulasi silang dan hubungan setiap uji statistik menggunakan analisis uji Spearman Rho dan dengan tabulasi silang HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis uji univariat sebagai berikut: Kategori Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Usia Tabel 1. Berdasarkan Data Demografi Frekuensi . Persentase. (%) 84,6% 12,4% 10,8% 24,3% 48,6% 16,2% Tabel 2. Tingkat Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa Terhadap Swamedikasi Maag Kategori Frekuensi . Persentase (%) Pengetahuan Baik 58,6% Cukup 36,9% Kurang 4,5% Total Sikap Positif 82,9% Negatif 17,1% Total Berdasarkan hasil penelitian didapatkan data demografi responden yaitu jenis kelamin dan usia. Penelitian ini menggunakan populasi yaitu mahasiswa farmasi angkatan 2018 yang memenuhi kriteria inklusi. Data demografi responden menurut jenis kelamin yang didapatkan yaitu mayoritas nya berjenis kelamin perempuan dengan jumlah 97 orang. Hasil ini sesuai dengan data Universitas Sari Mulia bahwa pada angkatan 2018 mayoritanya berjenis kelamin perempuan (BAAK Universitas Sari Mulia, 2. Data demografi responden menurut usia didapatkan hasil bahwa mayoritas responden berusia 22 tahun dengan jumlah 54 orang. Hasil ini sesuai dengan data Universitas Sari Mulia bahwa pada angkatan 2018 mayoritasnya berusia 22 tahun (BAAK Universitas Sari Mulia 2. Hal ini juga sejalan dengan penelitian (Oi et al. , 2. bahwa usia 22 tahun termasuk usia yang produktif, usia produktif pada umumnya memiliki tingkat produktifitas yang lebih tinggi serta kesibukan yang padat, jadwal yang padat merupakan salah satu http://journal. id/index. php/jnhe ISSN : 2808-0084 Vol. 2 No. 2 (Maret, 2. penyebab mahasiswa sering mengalami pola makan yang tidak teratur stress akibat beban studi yang Berdasarkan tabel. 2 hasil yang didapatkan mengenai tingkat pengetahuan mahasiswa terhadap swamedikasi maag dengan menggunakan 10 pertanyaan. Menunjukkan kategori tingkat pengetahuan mahasiswa yaitu pada kategori baik mendapatkan sebanyak 65 . ,6%) responden. Berdasarkan pertanyaan yang diberikan oleh penulis bisa disimpulkan bahwa mahasiswa lebih banyak menjawab pertanyaan dengan benar pada nomor 1,2,5 dan 9. Selain itu responden paling banyak menjawab pertanyaan yang tidak tepat yaitu pada pertanyaan nomor 3,4,6,7,8 dan 10. Pertanyaan yang paling banyak responden menjawab tidak tepat adalah pertanyaan nomor 10 yaitu sebanyak 62 . ,9%) responden dan pertanyaan nomor 7 yaitu sebanyak 57 . ,4%) responden. Responden umumnya sudah tahu tentang swamedikasi maag mulai pada gejala hingga pemilihan obat yang tepat, responden yang mempunyai pengetahuan baik umumnya dimiliki oleh responden yang memiliki pendidikan menengah atau dan tinggi (Notoatmodjo, 2. Dari hasil penelitian yang saya lakukan dapat diketahui bahwa penelitian saya sejalan dengan penelitian (L, 2. mengenai tingkat pengetahuan swamedikasi maag di wilayah kerja puskesmas Gatak Sukoharjo mempunyai tingkat pengetahuan yang baik dengan hasil tingkat pengetahuan 47,1%. Berdasarkan pertanyaan yang diberikan oleh penulis bisa disimpulkan bahwa sikap mahasiswa terhadap swamedikasi maag menunjukan mahasiswa lebih banyak menjawab salah pada pertanyaan nomor 4 mengenai kepercayaan responden bahwa penggunaan obat maag dapat menyembuhkan maag. Pertanyaan mengenai sikap terhadap penggunaan obat swamedikasi maag mayoritas responden menjawab dengan benar, sehingga menunjukan sikap yang positif pada sikap responden. Responden merupakan mahasiswa semester 8 dengan memberi kueisoner tentang sikap mahasiswa terhadap swamedikasi maag saya mendapatkan hasil sikap yang bagus . ini sejalan dengan penelitian (Oi et al. , 2. bahwa mahasiswa kesehatan cenderung memiliki sikap yang lebih baik dibandingkan mahasiswa non kesehatan. Tabel 5. Penggunaan Obat Swamedikasi Maag Kategori Frekuensi Rasional Tidak Rasional Total Persentase 83,8% 16,2% Berdasarkan tabel 5. diketahui dari 111 responden hanya 18 orang yang menggunakan obat swamedikasi maag secara tidak rasional dan 93 orang menggunakan obat secara rasional karena dari 93 orang menjawab pertanyaan secara benar berdasarkan kriteria penggunaan obat yang rasional menurut WHO yaitu tepat indikasi menggunakan obat promag untuk penggunaan swamedikasi maag,tepat dosis menggunakan promag 3 kali sehari 2 tablet untuk dewasa sebelum makan dan dikunyah,tepat pasien ,tepat pemilihan obat dan waspada efek samping (Sari. Desti Diana, 2. Pengukuran penggunaan obat swamedikasi maag diukur dengan menggunakan 5 pertanyaan mengenai penggunaan obat swamedikasi maag dengan pilihan jawaban pada tiap pertanyaan adalah ya atau tidak. Setiap pertanyaan akan diberi nilai 1 apabila benar sedangkan bila salah akan diberi nilai 0, terdapat 5 pertanyaan yang diajukan mengenai penggunaan obat swamedikasi maag, pertanyaan sudah disesuaikan dengan indikator penggunaan obat secara rasional menurut (WHO, 2. , yaitu tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, tepat dosis dan waspada efek samping. Hasil yang didapatkan penelitian terhadap penggunaan obat swamedikasi maag di Universitas Sari Mulia, sebelumnya responden diberi pertanyaan mengenai obat swamedikasi maag apa yang pernah responden minum sehingga didapatkan hasil sebagai berikut. Berdasarkan pertanyaan yang diberikan oleh penulis bisa disimpulkan bahwa obat yang lebih banyak responden gunakan yaitu promag dan antasida, sedangkan Mylanta dan polycilane lebih sedikit responden yang menggunakannya. Obat maag yang banyak digunakan adalah obat promag karena obat maag memiliki iklan sehingga nam obat maag lebih familiar ditelinga responden. Penelitian saya sejalan dengan penelitian hidayat dkk karena menunjukkan bahwa obat promag merupakan obat yang paling banyak digunakan oleh para responden untuk mengobati sakit maag. Berdasarkan 5 pertanyaan yang diberikan kepada responden yang berjumlah 111 responden. Menunjukkan bahwa mayoritas responden menjawab benar pada pertanyaan pada nomor 1,2,3 dan 4 sedangkan pada pertanyaan nomor 5 sebagian responden menjawab http://journal. id/index. php/jnhe ISSN : 2808-0084 Vol. 2 No. 2 (Maret, 2. Hasil analisis uji bivariat sebagai berikut: Jenis Kelamin Perempuan Laki-Laki Usia Pengunaan Rasional Tidak rasional Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Usia Penggunaan Rasional Tidak Rasional Tabel 6. Tabulasi Silang Terhadap Tingkat Pengetahuan Pengetahuan Baik Cukup Kurang Tabel 7. Tabulasi Silang Terhadap Sikap Sikap Positif Negatif Tabel 8. Tabulasi Silang Jenis Kelamin Terhadap Penggunaan Obat Swamedikasi Maag Penggunaan Jenis Kelamin Rasional Tidak Rasional Perempuan Laki-laki Usia Tabel 9. Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Terhadap Penggunaan Obat Swamedikasi Maag Signifikansi Koefisien Korelasi Arah Korelasi Pengetahuan 0,000 0,964 Sikap 0,000 0,903 Analisis tabulasi silang penelitian ini dilakukan antara jenis kelamin dan usia responden dengan tingkat pengetahuan terhadap swamedikasi maag. Jenis Kelamin dengan Tingkat Pengetahuan Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan pada tabulasi silang antara jenis kelamin dengan tingkat pengetahuan terhadap swamedikasi maag didapatkan hasil bahwa kebanyakan responden yang memiliki pengetahuan yang baik adalah responden berjenis kelamin perempuan dengan jumlah 56 responden, sebanyak 37 responden memiliki pengetahuan yang cukup dan 4 responden memiliki pengetahuan yang Sedangkan pada responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 9 orang responden memiliki pengetahuan yang baik, sebanyak 4 responden yang memiliki pengetahuan yang cukup dan 1 responden memiliki pengetahua yang cukup. Berdasarkan data pada penggunaan obat yang rasional sebanyak 83 responden berjenis kelamin perempuan menggunakan obat swamedikasi maag secara rasional dan sebanyak 10 responden berjenis kelamin laki-laki menggunakan obat swamedikasi maag secara rasional, http://journal. id/index. php/jnhe ISSN : 2808-0084 Vol. 2 No. 2 (Maret, 2. sedangkan sebanyak 14 responden berjenis kelamin perempuan menggunakan obat swamedikasi maag secara tidak rasional dan responden sebanyak 4 orang berjenis kelamin laki-laki menggunakan obat swamedikasi maag secara tidak rasional. Berdasarkan hal tersebut kebanyakan responden berjenis kelamin perempuan memiliki pengetahuan yang baik hasil tersebut sejalan dengan penelitian (F. , 2. dimana diketahui jumlah responden perempuan yang lebih banyak melakukan swamedikasi maag dibandingkan responden berjenis kelamin laki-laki karena pada umunnya perempuan lebih memperhatikan biaya dan efektifitas obat yang Usia dengan Tingkat Pengetahuan Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan pada tabulasi silang antara usia responden dengan tingkat pengetahuan terhadap penggunaan obat swamedikasi maag didapatkan hasil bahwa kebanyakan responden berusia 22 tahun memiliki pengetahuan baik dengan jumlah responden 31 orang sedangkan untuk penggunaan obat swamedikasi maag yang rasional sebanyak 47 orang berusia 22. Berdasarkan hasil tersebut usia yang paling banyak memiliki pengetahuan baik adalah berusia 22 tahun berdasarkan WHO 2015 dimana usia tersebut termasuk usia dewasa. Hasil ini sejalan dengan pernyataan bahwa usia dapat mempengaruhi seseorang dalam menangkap dan berpikir maka semakin dewasa seseorang semakin bertambah kemampuan seseorang dalam menangkap dan berpikir. Hasil ini sejalan dengan penelitian (Oi et al. , 2. bahwa usia 22 tahun termasuk usia yang produktif, usia produktif pada umumnya memiliki tingkat produktifitas yang lebih tinggi serta kesibukan yang padat, jadwal yang padat merupakan salah satu penyebab mahasiswa sering mengalami pola makan yang tidak teratur stress akibat beban studi yang berlebihan. Analisis tabulasi silang penelitian ini dilakukan antara jenis kelamin dan usia responden dengan sikap terhadap swamedikasi maag. Jenis Kelamin dengan Sikap Berdasarkan hasil yang didapatkan pada tabulasi silang jenis kelamin dengan sikap tehadap swamedikasi maag didapatkan hasil bahwa sebanyak 82 responden yang berjenis kelamin perempuan dan 10 responden berjenis kelamin laki-laki memiliki sikap yang positif terhadap swamedikasi maag, sedangkan sebanyak 15 responden yang berjenis kelamin perempuan dan sebanyak 4 orang responden berjenis lakilaki memiliki sikap negatif terhadap swamedikasi maag. Adapun untuk penggunaan obat swamedikasi maag secara rasional sebanyak 83 responden berjenis kelamin perempuan dan sebanyak 10 responden berjenis kelamin laki-laki telah menggunakan obat swamedikasi maag secara rasional. Berdasarkan hasil yang telah dijelasi diatas bisa diliat bahwa kebanyakn responden perempuan memiliki sikap yang positif sebanyak 82 responden dan berjenis kelamin laki-laki sebanyak 10 responden, hasil yang didapatkan sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa perbedaan sikap kedua jenis kelamin perempuan dengan laki-laki yang dianggap sebagai dasar biologis yang memungkinkan antara kedua jenis kelamin memiliki dan mengembangkan tingkah laku yang berbeda-beda. Akan tetapi perbedaan sikap juga dapat terjadi karena adanya perbedaan seksual (D. , 2. Usia dengan Sikap Berdasarkan hasil yang telah didapatkan bahwa usia responden yang ikut serta dalam penelitian ini berusia rentan antara 20 tahun sampai 23 tahun ini telah masuk usia produktif, usia produktif yaitu usia pada rentang 15 tahun sampai 65 tahun, sehingga pada umur tersebut bisa diperkirakan dapat menerima informasi dan bisa menyikapi informasi yang diperlukan termasuk menerima informasi mengenai swamedikasi maag (D. , 2. Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Penggunaan Obat Swamedikasi Maag Berdasarkan analisis hubungan tingkat pengetahuan terhadap penggunaan obat swamedikasi maag pada penelitian ini dengan analisis Spearman Rho karena data merupakan data yang berskala ordinal dengan menggunakan SPSS dengan nilai signifikansi yang didapatkan pada penelitian ini yaitu 0,000 hasil ini menunjukkan adanya hubungan antara dua variabel yang dihubungakan yaitu pengetahuan dan penggunaan obat swamedikasi maag karena nilai signifikansinya <0,05 Berdasarkan hal tersebut maka pada penelitian ini Ha diterima dan Ho ditolak. Nilai korelasi yang didapatkan peneliti yaitu 0,964 yang menunjukan bahwa korelasi pada pengetahuan terhadap penggunaan obat swamedikasi maag sangat kuat karena rentang http://journal. id/index. php/jnhe ISSN : 2808-0084 Vol. 2 No. 2 (Maret, 2. korelasi adalah 0,8 - <1,00 interprestasinya adalah sangat kuat. Berdasarkan arah korelasinya yang didapatkan yaitu arah positif ( ) yang berarti memiliki hubungan yang searah semakin besar variabel pengetahuan maka akan semakin besar variabel penggunaan obat swamedikasi maag. Berdasarkan pernyataan tersebut maka pada penelitian ini memiliki arah yang positif menunjukan bahwa apabila nilai pengetahuan tinggi maka semakin tinggi juga nilai penggunaan obat swamedikasi maag. Hubungan Sikap Terhadap Penggunaan Obat Swamedikasi Maag Berdasarkan analisis hubungan sikap terhadap penggunaan obat swamedikasi maag pada penelitian ini dengan menggunakan Spearman Rho karena data merupakan data yang berskala ordinal dengan menggunakan SPSS dengan nilai signifikasi yang didapatkan pada penelitian ini yaitu 0,000 hasil ini menunjukan adanya hubungan antara dua variabel yang ingin dihubungkan yaitu sikap dan penggunaan obat swamedikasi maag karena nilai signifikasinya <0,05 Berdasarkan hal tersebut maka pada penelitian ini Ha diterima dan Ho ditolak. Nilai korelasi yang didapatkan pada penelian ini yaitu 0,903 yang menunjukan bahwa korelasi pada sikap terhadap penggunaan obat swamedikasi maag sangat kuat karena rentang korelasinya yaitu 0,8 - <1,00 interprestasinya adalah sangat kuat. Berdasarkan arah korelasinya yang didapatkan yaitu positif ( ) yang berarti memiliki hubungan yang searah, semakin besar variabel sikap maka semakin besar juga variabel penggunaan obat swamedikasi. Berdasarkan pernyataan tersebut maka penelitian ini memiliki arah yang positif menunjukan bahwa apabila nilai sikap tinggi maka semakin tinggi juga nilai penggunaan obat swamedikasi maag KESIMPULAN Berdasarkan hasil yang didapatkan pada penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa farmasi angkatan 2018 di Universitas Sari Mulia pada kategori baik, sedangkan sikap memiliki kategori positif, penggunaan obat swamedikasi maag termasuk dalam kategori penggunaan yang rasional. Hubungan tingkat pengetahuan mahasiswa di Universitas Sari Mulia terhadap swamedikasi maag dengan uji statistik Spearman Rho memiliki hasil analisis nilai signifikansi dengan arah korelasi positif ( ) yang menunjukkan terdapat hubungan antara pengetahuan dan penggunaan obat swamedikasi maag. Sedangkan pada hubungan sikap terhadap swamedikasi maag memiliki nilai signifikansi dengan arah korelasi positif ( ) yang menunjukkan adanya hubungan antara sikap dan penggunaan obat swamedikasi DAFTAR PUSTAKA