Putra Irwandi. Amanda Anggi Purwanti Journal of Agribusiness and Community Empowerment (JACE) 2024 Vol. No. 2 : hal 56-70 JACE (Journal of Agribusiness and Community Empowermen. Published by Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh http://jurnalpolitanipyk. id/index. php/JACE ISSN 2655-4526 . 2655-2965 . Info: Received 13 09 2024 Revised 15 09 2024 Published 30 09 2024 Daya Saing dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Komoditas Pinang di Pasar Internasional Competitiveness and Factors Affecting Areca Nut Commodity Exports in International Markets Putra Irwandi*1. Amanda Anggi Purwanti1 Program Studi Sains Agribisnis. Departemen Agribisnis. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. IPB University. Bogor. Indonesia * Penulis Korespondensi : Putra Irwandi Email : irwandiputra@apps. Abstrak Pinang menjadi salah satu komoditas subsektor unggulan perkebunan di Indonesia. Kebutuhan akan pinang pada berbagai industri seperti pada industri pangan, farmasi, kosmetik dan tekstil mengindikasikan bahwa pinang memiliki prospek ekspor yang menjanjikan. Namun, fluktuasi kuantitas dan nilai ekspor yang dimiliki oleh pinang Indonesia di pasar global mengalami tantangan yang serius dalam mempertahankan daya saing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing dan faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor pinang Indonesia ke pasar interasional. Pendekatan penelitian ini yakni kuantitatif menggunakan data sekunder time series yang berasal dari Trademap dan Bank Dunia dengan kode HS pinang 080280 pada rentang tahun 2013-2023. Analisis yang digunakan adalah RCA (Revealed Comparatif Advantag. DRCA (Dynamic Releaved Comparative Advantag. untuk menganalisis daya saing, serta analisis Gravity Model untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi. Negara pesaing yang diidentifikasi antara lain India. Thailand. Myamar, dan China. Variabel penelitian yang digunakan adalah GDP. GDP perkapita, populasi, dan nilai tukar negara Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia memiliki nilai daya saing yang kuat dan keunggulan komparatif yang tinggi dengan nilai besar dari 1. Dinamika posisi pinang Indonesia pada tiga periode waktu berada pada posisi lagging opportunity, lost opportunity, dan Lagging retreat yang menunjukkan bahwa pangsa pasar pinang Indonesia mengalami penurunan, faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor pinang Indonesia ke pasar internasional menunjukkan bahwa variabel GDP dan GDP perkapita memiliki pengaruh signifikan, sedangkan populasi dan nilai tukar tidak berpengaruh. Kata Kunci : daya saing. DRCA, model gravity. Pinang. RCA Abstract Areca nut is one of the leading plantation subsector commodities in Indonesia. The need for areca in various industries such as the food, pharmaceutical, cosmetic and textile industries indicates that areca has promising export prospects. However, fluctuations in the quantity and value of exports owned by Indonesian areca in the global market have serious challenges in maintaining competitiveness. This study aims to analyze the competitiveness and factors affecting Indonesia's areca exports to the international market. This research approach is quantitative using secondary time series data derived from Trademap and the World Bank with areca nut HS code 080280 in the range of 2013-2023. The analysis used is RCA (Revealed Comparative Advantag. DRCA (Dynamic Releaved Comparative Advantag. to analyze competitiveness, and Gravity Model analysis to identify influencing factors. Competitor countries identified include India. Thailand. Myamar, and China. The research variables used are GDP. GDP per capita, population, and exchange rate of the destination The results showed that Indonesia has a strong competitiveness value and a high comparative advantage with a value greater than 1, the dynamics of Indonesia's areca nut position in the three time periods are in the position of lagging opportunity, lost opportunity, and lagging retreat which shows that Indonesia's areca nut market share has decreased, the factors that affect Indonesia's areca nut exports to the international market show that the variables of GDP and GDP per capita have a significant effect, while population and exchange rates have no effect. Keywords: Areca Nut. Competitiveness. DRCA. Gravity Model. RCA https://doi. org/10. 32530/jace. Putra Irwandi. Amanda Anggi Purwanti Journal of Agribusiness and Community Empowerment (JACE) 2024 Vol. No. 2 : hal 56-70 Pendahuluan Komoditas perkebunan sebagai bagian penting dari sektor pertanian juga subsektor unggulan yang memberikan sumbangsih cukup tinggi terhadap PDB sektor pertanian. Hal ini disebabkan meningkatnya peluang sektor perkebunan untuk eskpor dan nilai tambah yang dihasilkan. Dalam jangka panjang dampak yang dihasilkan antara lain peningkatan pembangunan ekonomi, devisa negara hingga kesejahteraan hidup masyarakat. Total produksi komoditas perkebunan ini mencapai 333 ton dengan nilai jual mencapai 541,8 triliun pada tahun 2021 (Badan Pusat Statistik, 2. Subsektor perkebunan ini harus konsisten menjadi bagian integral dalam pembangunan ekonomi nasional melalui peningkatan nilai ekspor dan kebutuhan industri dalam negeri. Peranan yang tidak hanya sebagai pembentuk PDB nasional, penyerapan teanaga kerja juga penting dalam permintaan dan penawaran masyarakat baik didalam ataupun diluar negeri (Rosmaniar et al. , 2021. Rosmika. Salah satu komoditas utama yang memiliki daya saing dan nilai jual yang cukup tinggi dari subsektor perkebunan adalah komoditas pinang. Prospek pasar ekspor yang bagus, serta pemenuhan konsumsi lokal yang cukup menjadikan pinang sebagai komoditas strategis untuk dikembangkan lebih lanjut yakni secara dominan, pinang dibudidayakan hampir disemua daerah di tanah air, didominasi oleh pulau Sumatera . 388 H. dan Jawa . 255 h. (Sunadi et al. , 2. Indonesia menempati urutan strategis ketiga di dunia dalam pemenuhan sekitar 80% kebutuhan pinang dunia (Ismadinata et al. , 2. Banyaknya manfaat yang dimiliki antara lain digunakan dalam berbagai tradisi (Naimena & Nubatonis, 2. , permasalahan mulut, gigi dan gusi, luka, serta nyeri pinggang hingga pemanfaatan industri manufaktur dan tekstil. Tidak hanya itu pinang kode HS 080280 ini menjadi bagian dari family palmacea juga digunakan sebagai bahan baku sektor industri, obat dan farmasi, kecantikan dan kosmetik, juga pewarna pada tekstil menjadikan permintaan pinang dan kebutuhan dunia semakin meningkat setiap tahun (Painenon et al. , 2024. Pebriaman, 2. Dominan sentra pinang berada di Sumatera. Kalimantan, dan Papua dengan tiga kategori utama yakni PR . erkebunan rakya. PN . erkebunan negar. , dan perkebunan swasta (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2. Secara statitik, lahan, produksi serta produktivitas dari pinang dijelaskan lebih lanjut pada tabel 1. Tabel 1. Luas Lahan. Produksi, dan Produktivitas Pinang Indonesia Tahun Luas Areal (H. Produksi (To. Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan . Produktivitas(Ton/H. 0,433 Tabel 1 dari tahun 2018-2022, produksi pinang Indonesia mengalami fluktuasi yang tidak bisa diprediksi setiap tahun, namun produktivitas yang dihasilkan bersifat relatif sama. Hal ini menjadikan perlu adanya tindakan lebih lanjut mengenai kondisi pinang didalam negeri. Dikhawatirkan Indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan dan ketersediaan stock pinang di pasar Lebih lanjut Kementerian Perdagangan Republik Indonesia menyatakan bahwa permintaan pinang dunia tumbuh signifikan mencapa 52,74% pertahun. Permintaan pinang dunia mencapai nilai sebesar 358,7 juta dolar AS. Tahun 2023 ukuran pasar pinang dunia mencapai nilai USD 935,74 juta dan akan terus meningkat mencapai USD 1,5 miliar pada tahun 2030 (International Trademap, 2. Kekhawatiran pinang Indonsia yang belum mencukupi juga didukung oleh budaya dan tradisi di negara-negara Asia-Pasifik dimana pinang menjadi bagian penting dalam acara dan adat masyarakat setempat. Tidak hanya kondisi didalam negeri, kecendrungan nilai ekspor dan jumlah ekspor pinang Indonesia juga mengalami jumlah yang cendrung fluktuatif. Ekspor sendiri didefinisikasn sebagai kegiatan yang berkaitan erat dengan produksi yang dihasilkan negara untuk dikirim dan dinikmati oleh konsumen di luar negeri (Ustriaji, 2. Pentingnya aktivitas ekspor pinang ini juga diharapkan dapat meningkatkan posisi tawar pinang di pasar internasional. Gambaran nilai (US$) dan kuantitas ekspor pinang Indonesia sejak tahun 2013-2023 dengan rata-rata nilai ekspor berjumlah Putra Irwandi. Amanda Anggi Purwanti Journal of Agribusiness and Community Empowerment (JACE) 2024 Vol. No. 2 : hal 56-70 US$269. 288,4 dan kuantitas mencapai 226495,5 ton. Nilai tertinggi yakni terjadi pada tahun 2021, sedangkan jumlah terbanyak berada pada tahun 2015 (Gambar . Nilai dan Jumlah Ekspor Pinang Indonesia Nilai (US$) Jumlah Gambar 1. Nilai dan Kuantitas Ekspor Pinang Indonesia 2013-2023 (Trademap, 2. Beragamnya permasalahan yang melandasi ekspor pinang Indonesia di pasar internasional, terlihat dari volume dan nilai yang cenderung fluktuatif juga disebabkan oleh posisi daya saing pinang Indonesia di pasar global. Secara sederhana, konsep daya saing didefinisikan yakni kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing negara untuk dapat berembang dibanding dengan pesaing lain dalam aktivitas perdagangan internasional (Sukmaya & Perwita, 2. Semakin tinggi daya saing dari suatu komoditas atau produk yang ditawarkan, maka akan semakin meningkat pula keunggulan produk dan merupakan langkah strategis dalam peningkatan ekspor ke suatu negara (Aurelia et al. , 2022. Khoirudin & Widiastuti, 2. Penelitian serupa telah pernah diteliti oleh (Sinaga et al. , 2. yang menjelaskan bahwa pinang sejak tahun 1995 hingga 2013 memiliki daya saing komparatif yang tinggi dan berdaya saing global. Rujukan dari hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa permintaan pinang yang tinggi akan berbanding lurus dengan kebutuhan pokok dunia. Tujuan utama ekspor Indonesia yakni Pakistan. Arab Saudi. Thailand, dan Malaysia. Namun, masalah lain yang mucul tahun 2019-2023 adalah banyaknya negara-negara importir yang lebih mempriortaskan Myanmar sebagai eksportir utama dunia di banding Indonesia. Fakta ini muncul didukung oleh volume ekspor Myanmar yang lebih besar dari Indonesia yakni mencapai 841 ton pada tahun 2021. Tidak hanya itu, pinang negara lain yang menjadi saingan utama Indonesia adalah pinang Myanmar dengan kandungan flokulan yang tinggi dan serat yang cukup yang bermakna, kualitas rasa pinang Myanmar lebih unggul dibanding Indonesia (Yang et al. , 2. Tingginya persaingan juga disebabkan oleh adanya beberapa faktor yang mempengaruhi. Setidaknya faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas ekspor suatu negara disebabkan oleh adanya perbedaan GDP suatu negara, pendapatan perkapita yang dihasilkan, populasi negara, juga nilai tukar yang berbeda antar masing-masing negara. GDP, pendapatan per kapita, populasi, dan nilai tukar mempengaruhi ekspor suatu negara melalui berbagai cara. GDP yang tinggi menunjukkan ekonomi yang kuat dan kapasitas produksi yang besar, yang dapat mengalami peningkatan daya saing produk di pasar internasional (Hye & Javid, 2. Pendapatan per kapita yang tinggi sering kali berarti daya beli domestik yang kuat, yang bisa mengurangi kebutuhan untuk ekspor karena konsumsi domestik yang tinggi, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas produk yang diekspor (Siddiqui & Iqbal, 2. Populasi besar menciptakan pasar domestik yang luas, yang bisa mengurangi kebutuhan untuk ekspor, namun juga memungkinkan keuntungan skala dalam produksi yang meningkatkan daya saing produk (Goh & Wang, 2. Nilai tukar mempengaruhi daya saing harga produk. Pelemahan nilai tukar membuat ekspor lebih murah bagi pembeli asing, sedangkan penguatan nilai tukar dapat membuat produk domestik kurang kompetitif di pasar internasional. Semua faktor ini berinteraksi untuk menentukan volume dan daya saing ekspor suatu negara (Chen & Xie, 2. Telah banyak penelitian yang dilakukan berkaitan dengan ekspor pinang ke pasar internasional, antara lain dilakukan oleh (Feodora et al. , 2024. Khairunnas et al. , 2023. Khoirudin & Widiastuti, 2022. Marinda et al. , 2. Namun penelitian tersebut hanya terbatas pada beberapa Putra Irwandi. Amanda Anggi Purwanti Journal of Agribusiness and Community Empowerment (JACE) 2024 Vol. No. 2 : hal 56-70 sektor wilayah baik provinsi ataupun kabupaten. Belum ada penelitian yang membahas secara komprehensif secara nasional dan dalam jangka waktu 10 tahun terakhir. Tidak hanya itu, penelitian ini juga dilengkapi dengan bagaimana pengaruh faktor yang berkaitan dengan ekspor pinang Indonesia di pasar internasional yang belum pernah diteliti sebelumnya. Sehingga, penelitian ini mengisi kekosongan gap penelitian tersebut. Secara eksplisit, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing dan faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor pinang Indonesia di pasar Metode Penelitian Studi ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data runtun waktu sekunder dari tahun 2013 hingga 2023. Objek penelitian difokuskan pada komoditas biji pinang . entah dan kerin. , diklasifikasikan dengan kode HS 080280, yang memiliki potensi ekspor yang signifikan bagi Indonesia. Lima negara produsen pinang terbesar dunia, yaitu Indonesia. India. Thailand. Myanmar, dan Tiongkok, menjadi pembanding dalam penelitian ini. Analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) diterapkan untuk mengevaluasi keunggulan komparatif Indonesia dalam ekspor biji pinang secara menyeluruh. Analisis ini kemudian disempurnakan dengan metode Dynamic Revealed Comparative Advantage (DRCA) guna mengidentifikasi dinamika perubahan keunggulan komparatif dari waktu ke waktu. Hasil analisis ini diharapkan dapat menjadi dasar perumusan kebijakan yang tepat untuk meningkatkan daya saing komoditas biji pinang Indonesia di pasar global. Menjawab tujuan penelitian ketiga yakni faktot-faktor yang mempengaruhi ekspor pinang ke pasar dunia akan dianalisis dengan pendekatan Gravity Model. Model gravitasi perdagangan, seperti yang dibahas oleh Li et al. , . , dibangun berdasarkan model gravitasi klasik yang pertama kali diperkenalkan oleh Tinbergen pada tahun 1962. Premis dasar dari model gravitasi adalah bahwa arus perdagangan antara dua negara berhubungan positif dengan ukuran ekonomi mereka . ering diukur dengan PDB) dan berhubungan negatif dengan jarak di antara mereka. memperluas model ini dengan memasukkan variabel tambahan seperti biaya perdagangan, tarif, dan hambatan non-tarif, dan dengan mempertimbangkan hubungan yang lebih kompleks antara perdagangan bilateral dan faktor-faktor ekonomi. Revealed Comparative Advantage (RCA) RCA merupakan indeks yang dikembangkan oleh Balassa, . Metode ini digunakan untuk mengukur daya saing suatu negara dalam memproduksi dan mengekspor produk tertentu. Indeks ini membandingkan proporsi ekspor suatu produk terhadap total ekspor negara di pasar global. Dengan kata lain. RCA menunjukkan seberapa spesialisasi suatu negara dalam memproduksi dan mengekspor produk tertentu dibandingkan dengan negara lain. Nilai RCA yang tinggi mengindikasikan bahwa negara tersebut memiliki daya saing yang kuat dalam produk tersebut, sehingga dapat dijadikan acuan untuk menentukan spesialisasi perdagangan internasional. Rumus yang digunakan perhitungan RCA sebagai berikut . ycyeOyeU/ycyeOyei ycycyc = a. ycyeOyeU/ycyei Keterangan= Xij = Nilai Eksor komoditas j dari negara i Xit = Nilai ekspor seluruh komoditas negara i Wij = Nilai ekspor dunia komoditas j Wt = Nilai ekspor seluruh komoditas dunia Indeks RCA (Revealed Comparative Advantag. yang dikembangkan oleh Balassa memiliki rentang nilai antara 0 hingga tak terhingga. Jika nilai RCA suatu produk lebih dari 1, maka Indonesia memiliki pangsa pasar yang lebih besar untuk produk pinang di tingkat global dibandingkan dengan negara lain. Dengan kata lain. Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi dan mengekspor produk tersebut. Dynamic Revealed Comparative Advantage (DRCA) Indeks RCA yang diperkenalkan oleh Balassa pada tahun 1965 memiliki keterbatasan dalam menjelaskan perubahan keunggulan komparatif suatu negara dari waktu ke waktu. Untuk mengatasi hal ini. Edwards & Schoer . mengembangkan indeks baru yang disebut Dynamic Revealed Comparative Advantage (DRCA). Indeks DRCA adalah pengembangan lebih lanjut dari indeks RCA yang dirancang untuk menganalisis perubahan keunggulan komparatif secara dinamis. Jika indeks Putra Irwandi. Amanda Anggi Purwanti Journal of Agribusiness and Community Empowerment (JACE) 2024 Vol. No. 2 : hal 56-70 RCA hanya memberikan gambaran statis pada suatu titik waktu, indeks DRCA memungkinkan kita untuk melihat bagaimana keunggulan komparatif suatu negara berubah dari waktu ke waktu. Hal ini dilakukan dengan menghitung pertumbuhan indeks RCA, yang menunjukkan apakah keunggulan komparatif suatu negara meningkat, menurun, atau tetap stabil. Hal ini sangat berguna untuk menganalisis kebijakan perdagangan, strategi pengembangan industri, dan tren globalisasi. Rumus yang digunakan untuk menghitung DRCA sebagai berikut . ycUycnyc yaycIyaya = yuuycIyaya ycIyayayc OI(Oc ycycUycny. ycUycnyc Oc ycycUycnyc ycUycyc Oe OI(Oc ycycUycy. ycUycyc Oc ycycUycyc a. Keterangan : DRCA = daya saing dinamis RCAj = Keunggulan komparatif komoditas j dinegara i Xij = Total ekspor komoditas j dari negara i (US$) Xwj = Total ekspor komoditas j dari semua negara dunia (US$) Ocj Xij = Total ekspor semua komoditas dari negara i (US$) Ocj Xwj = Total ekspor semua komoditas dari semua negara dunia (US$) Dalam analisis daya saing yang dilakukan oleh DRCA, terdapat matriks penempatan yang dikembangkan oleh (Edwards & Schoer, 2. Matriks ini berfungsi sebagai alat visual yang memungkinkan pemahaman mendalam mengenai dinamika daya saing komparatif antar negara. Dengan memanfaatkan matriks tersebut, kita dapat memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai posisi suatu negara dalam konteks persaingan global sehingga dapat merumuskan kebijakan yang tepat untuk meningkatkan daya saing nasional . Tabel 2. Matriks Posisi Pasar Ekspor RCA Pertumbuhan Pertumbuhan Posisi Pasar Ekspor Pangsa Pangsa komoditi j pada komoditi j pada ekspor negara ekspor dunia Naik Ic Ic Rising stars Ic Ie Falling stars Ie Ie Lagging retreat Turun Ie Ic Lost opportunity Ie Ie Leading retreat Ic Ic Lagging opportunity Sumber: (Edwards & Schoer, 2002. Ozcelik & Guzin, 2. Evaluasi Ekspor Succesful restructuring Poor restructuring Poor restructuring Poor restructuring Succesful restructuring Poor restructuring Gravity Model Penelitian ini menggunakan model gravitasi sebagai kerangka analisis untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi nilai ekspor pinang Indonesia ke berbagai negara Gravity model, adalah sebuah pendekatan dalam ekonomi internasional yang digunakan untuk memprediksi aliran perdagangan antara dua negara atau wilayah (Li et al. , 2. Konsep dasar dari model ini terinspirasi oleh hukum gravitasi dalam fisika, yang menyatakan bahwa gaya gravitasi antara dua objek berbanding lurus dengan massa mereka dan berbanding terbalik dengan kuadrat Dalam konteks ekonomi, model gravitasi perdagangan menyatakan bahwa aliran perdagangan antara dua negara atau wilayah adalah fungsi dari ukuran ekonomi mereka . iasanya diukur dengan Produk Domestik Bruto atau GDP) dan jarak geografis antara mereka. Model ini mengasumsikan bahwa volume perdagangan antara dua negara akan semakin besar jika ekonomi kedua negara tersebut semakin besar . iukur oleh PDB) dan jarak geografis antara kedua negara semakin dekat. Maka dari itu model gravitasi dipilih pada penelitian ini karena mampu menangkap pengaruh ukuran ekonomi, dan faktor-faktor lainnya terhadap pola perdagangan internasional. Secara matematis, model gravitasi perdagangan sering kali dinyatakan dengan rumus berikut . Ln. = 1*Ln. 2*Ln. 3*Ln. 4*Ln. Aij. Dimana Ln. = Logaritma natural nilai ekspor pinang dari Indonesia ke negara tujuan . Ln. = Logaritma natural PDB negara j . egara tujua. Ln. = Logaritma natural PDB negara j . egara tujua. Putra Irwandi. Amanda Anggi Purwanti Journal of Agribusiness and Community Empowerment (JACE) 2024 Vol. No. 2 : hal 56-70 Ln(Popj. = Logaritma natural populasi negara j . egara tujuan Ln(Excj. = Logaritma natural nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara j = Konstanta 1, 2, 3, 4, 5 = Koefisien regresi yang akan diestimasi Aij = Error term Variabel-variabel yang digunakan dalam model ini dipilih berdasarkan teori ekonomi internasional dan studi empiris sebelumnya. PDB negara tujuan dipilih karena mencerminkan ukuran ekonomi dan potensi permintaan, pendapatan perkapita menujukkan pendapatan individu penduduk yang ada, populasi negara tujuan mencerminkan potensi pasar, sementara nilai tukar mencerminkan daya saing harga ekspor pinang Indonesia. Variabel-variabel ini secara bersama-sama diharapkan dapat menjelaskan variasi dalam nilai ekspor pinang Indonesia. Hasil dan Pembahasan Keragaan Ekspor Pinang Indonesia dan Negara Eksportir utama lainnya Pinang merupakan bahan baku utama dalam berbagai industri baik di sektor pangan, minuman, ataupun manufaktur, kosmetik, dan obat. Sehingga perlu adanya pengujian kualitas terhadap pinang yang akan di ekspor sehingga dapat dijamin mutu serta aman untuk dikonsumen oleh pengguna. Indonesia sebagai salah satu eksportir utama pinang dunia perlu melakukan peningkatan mutu pinang sehingga tidak dapat digantikan oleh negara pesaing. Indonesia perlu melakukan berbagai tindakan dalam upaya melakukan pertahanan terhadap keunggulan produk yang dimiliki sehingga persaingan tetap terjaga dengan baik. Perlu adanya upaya untuk mengidentifikasi keragaan ekspor pinang dunia melalui eksportir utama antara lain Indonesia dan pesaing yakni India. Thailand. Myanmar. China pada tabel 3 berikut: Tabel 3. Keragaan Kuantitas Ekspor negara eksportir utama pinang dunia (To. Tahun Indonesia India Thailand Myanmar China Rata-Rata Pangsa Pasar 74,67% Sumber : Data diolah, 2024 5733,818 1,59% 43652,18 12,10% 43217,36 11,98% 95,09091 0,02% Total Ekspor Pinang Dunia 502552,2727 Memahami nilai dan kuantitas ekspor adalah dua metrik kunci dalam perdagangan internasional yang memberikan wawasan mendalam tentang kondisi ekonomi suatu negara dan posisinya di pasar global. Nilai ekspor mengukur pendapatan dari hasil jual barang dan jasa ke negara lain, sementara kuantitas ekspor menunjukkan volume fisik barang yang dikirim. Memahami kedua metrik ini penting karena mereka bersama-sama memberikan gambaran lengkap tentang kinerja Nilai ekspor yang tinggi mungkin disebabkan oleh harga yang tinggi atau volume penjualan yang besar. Sebaliknya, kuantitas ekspor yang tinggi belum tentu menghasilkan nilai yang tinggi jika harga per unit rendah. Dengan membandingkan keduanya, kita dapat menganalisis tren harga, daya saing produk, dan efisiensi produksi. Berdasarkan data yang telah dianalisis, dominan pangsa pasar tertinggi adalah Indonesia disusul oleh Thailand dan Myanmar sebagai pesaing dengan nilai pangsa pasar berturut-turut adalah 74,67%, 12,10% dan 11,98%. Putra Irwandi. Amanda Anggi Purwanti Journal of Agribusiness and Community Empowerment (JACE) 2024 Vol. No. 2 : hal 56-70 Pangsa pasar ekspor pinang yang lebih tinggi menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi dominan dalam perdagangan pinang global. Hal ini mencerminkan keunggulan komparatif negara tersebut dalam produksi dan distribusi pinang, serta kemampuannya untuk mempengaruhi harga dan tren pasar internasional. Posisi ini memberi negara daya tawar yang kuat dalam negosiasi perdagangan dan menjadikan pinang sebagai sumber devisa yang signifikan. Namun, dominasi ini juga membawa tanggung jawab untuk menjaga stabilitas pasokan global dan menghadapi tantangan dalam mempertahankan kualitas serta keberlanjutan produksi. Pemerintah cenderung memberikan perhatian khusus pada sektor ini dalam kebijakan pertanian dan perdagangan. Meski mengindikasikan kekuatan ekonomi, khususnya dalam sektor pertanian dan ekspor, posisi ini juga menjadikan negara tersebut target utama persaingan dari negara eksportir lain, mendorong kebutuhan untuk terus berinovasi dan meningkatkan efisiensi(Caner et al. , 2. Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa nilai ekspor Indonesia menempati urutan pertama dibandingkan dengan negara eksportir lainnya. Hal ini ditandai dengan nilai rata-rata Indonesia mencapai US$269. 288,36 (Tabel Tabel 4. Kuantitas Nilai Ekspor Eksportir pinang dunia (US$) Tahun Indonesia Rata-Rata 288,36 Sumber : Data diolah, 2024 India Thailand Myanmar China 426,27 698,64 447,73 157,909 Total Ekspor Pinang Dunia 552,2727 Analisis Daya Saing Pendekatan RCA Daya saing dilihat dari berbagai keunggulan terlihat dari nilai RCA (Releaved Compartive Advanetage. yang dihasilkan. Nilai RCA (Revealed Comparative Advantag. pinang dunia bukanlah suatu nilai tunggal, melainkan serangkaian nilai yang menggambarkan keunggulan komparatif berbagai negara dalam ekspor pinang. RCA mengukur seberapa besar pangsa ekspor pinang suatu negara dibandingkan dengan pangsa ekspor pinang di pasar global. Negara dengan RCA lebih dari 1 dianggap memiliki keunggulan komparatif dalam ekspor pinang. Beberapa negara Asia Tenggara, termasuk India dan Indonesia, kemungkinan memiliki nilai RCA tinggi untuk pinang karena kondisi iklim dan tanah yang menguntungkan, serta keahlian dalam produksi dan perdagangan komoditas ini. Nilai RCA masing-masing negara dapat berfluktuasi seiring waktu, dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti perubahan teknologi pertanian, kebijakan perdagangan, dan dinamika permintaan global. Untuk memahami posisi pinang dalam perdagangan dunia, perlu dianalisis nilai RCA dari berbagai negara eksportir utama, yang akan menunjukkan pola keunggulan komparatif dalam pasar pinang global (Tabel . Nilai RCA (Revealed Comparative Advantag. pinang Indonesia yang besar dan tinggi memiliki implikasi signifikan bagi posisi negara dalam perdagangan global komoditas ini. Hal ini terlihat dari rerata RCA yang bernilai lebih besar dari 4 yang berarti bahwa Indonesia menempati urutan strategis dan berdaya saing kuat. Berbeda dengan nilai di negara lain yang menunjukkan daya saing yang lemah. Nilai RCA yang tinggi untuk pinang Indonesia. Hal ini menjadi penting karena Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang tinggi dalam produksi dan ekspor pinang dibandingkan dengan rata-rata dunia. Ini berarti Indonesia lebih efisien dan kompetitif dalam menghasilkan dan mengekspor pinang relatif terhadap produk-produk lainnya, dibandingkan dengan negara-negara lain secara umum. Hal ini relevan dengan penelitian (Mudjiono, 2. tentang daya Putra Irwandi. Amanda Anggi Purwanti Journal of Agribusiness and Community Empowerment (JACE) 2024 Vol. No. 2 : hal 56-70 saing pinang di Jambi menunjukkan bahwa hasil yang berdaya saing kuat dengan nilai RCA 5,50. Tidak hanya itu, penelitian lain yang relevan dengan nilai RCA pinang Indonesia dilakukan oleh (Jannah et al. , 2021. Putra et al. , 2. yang secara bersamaan menyatakan bahwa pinang Indonesia memiliki daya saing yang kuat dengan nilai RCA masing-masing 6,4 dan 6,5. Tabel 5. Nilai RCA negara eksportir pinang dunia Period Indonesia 70,56 66,83 70,11 68,52 71,01 56,07 59,94 50,41 44,36 34,93 32,44 Sumber : Data diolah, 2024 India 1,15 1,14 1,40 3,06 1,28 0,89 0,93 1,20 1,37 4,64 8,92 RCA Thailand 8,01 4,81 4,66 5,92 5,35 8,81 9,07 10,37 17,62 10,57 6,96 Myanmar 56,81 113,01 110,85 152,96 86,30 251,98 208,72 211,45 264,51 263,31 102,39 China 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,04 0,13 0,34 Meskipun nilai RCA yang tinggi menunjukkan posisi yang kuat. Indonesia perlu terus berinovasi dan meningkatkan efisiensi untuk mempertahankan keunggulan komparatifnya. Hal ini dapat dilakukan dengan pengembangan varietas unggul, meningkatkan praktik pertanian berkelanjutan, dan mengeksplorasi pasar baru untuk produk-produk berbasis pinang. Selain itu. Indonesia juga perlu memperhatikan diversifikasi ekonomi untuk mengurangi risiko ketergantungan berlebihan pada ekspor pinang. Strategi ini dapat melibatkan pengembangan industri pengolahan pinang untuk meningkatkan nilai tambah, serta memperkuat sektor-sektor ekonomi lainnya. Dengan mempertahankan dan meningkatkan nilai RCA pinang yang tinggi. Indonesia dapat terus memainkan peran kunci dalam pasar pinang global, sambil memaksimalkan manfaat ekonomi dari keunggulan komparatif ini untuk pembangunan nasional (Akhter et al. , 2. Analisis Daya Saing Eksportir Pinang dengan Pendekatan DRCA Analisis lain dalam mengidentifikasi daya saing komoditas dapat dilihat dari dinamika daya Metode ini menggunakan pendekatan dinamis atau tidaknya kinerja pinang Indonesia. Dynamic Revealed Comparative Advantage (DRCA) adalah metode analisis daya saing dalam perdagangan internasional yang merupakan pengembangan dari konsep Revealed Comparative Advantage (RCA). Berbeda dengan RCA yang bersifat statis. DRCA menawarkan pendekatan dinamis yang mempertimbangkan perubahan daya saing dari waktu ke waktu. Metode ini membandingkan kinerja ekspor produk dari negara dengan negara lain yang menghasilkan indikator yang menunjukkan tren peningkatan, penurunan, atau stabilitas daya saing. DRCA membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan daya saing, seperti kebijakan pemerintah, inovasi teknologi, atau perubahan permintaan global, dan sering digunakan oleh pembuat kebijakan, ekonom, dan peneliti untuk memahami tren daya saing serta merancang strategi perdagangan yang efektif dalam konteks ekonomi global yang terus berubah. Hasil analisis yang dilakukan, menunjukkan posisi Indonesia berapada pada kondisi yang berbeda (Ginting et al. , 2. Dominan dinamika pinang Indonesia dalam tiga periode terakhir adalah rising star. Namun demikian, dinamika pinang Indonesia tidak selalu berada pada posisi yang menguntungkan, ada juga berada kondisi yang lemah (Tabel . Putra Irwandi. Amanda Anggi Purwanti Journal of Agribusiness and Community Empowerment (JACE) 2024 Vol. No. 2 : hal 56-70 Tabel 6. Nilai DRCA eksportir dunia Period Sumber : Data diolah, 2024 Indonesia -0,063 -0,134 -0,232 India 3,596 -0,746 4,351 DRCA Thailand -0,568 0,568 -0,118 Myanmar -0,134 -0,746 0,568 China 0,768 -0,409 199,993 Dinamika posisi eksportir utama pinang dunia dikategorikan dalam beberapa kelompok antara lain 3 periode waktu yang dimulai dari tahun 2013 sampai tahun 2023. Indonesia berada pada kategori lagging opportunity, lost opportunity, dan lagging retreat. Hal ini bermakna bahwa pangsa pasar Indonesia dominan dibawah pasar internasional. Banyak faktor yang mempengaruhi antara lain harga jual ketika periode tersebut, ataupun kualitas mutu yang dihasilkan oleh komoditas Indonesia (Tabel . Tabel 7. Dinamika Posisi Eksportir utama pinang Periode 1 Negara Indonesia lagging opportunity India Lagging Opportunity Thailand lagging opportunity Myanmar Rising Stars China raising star Sumber : Data diolah, 2024 Periode 2 lost opportunity Lagging Opportunity Rising Stars Rising Stars lost opportunity Periode 3 Lagging retreat Rising Stars lagging retreat leading retreat falling star Periode 2013-2016, komoditas pinang di Indonesia berada dalam kondisi lagging opportunity, yang menggambarkan situasi di mana pertumbuhan pasar melambat meskipun pangsa pasar tetap Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, permintaan global terhadap pinang mengalami stabilisasi atau bahkan penurunan, terutama di negara-negara pengimpor utama seperti India dan Pakistan. Kedua, minimnya inovasi dan investasi dalam industri pinang di Indonesia selama periode tersebut membuat sektor ini kurang mampu beradaptasi dengan dinamika pasar global yang berubah. Selain itu, kompetisi dari negara-negara produsen pinang lainnya seperti India dan Bangladesh juga memperketat persaingan di pasar internasional. Faktor eksternal lain seperti fluktuasi harga komoditas, perubahan kebijakan perdagangan, serta isu lingkungan turut memengaruhi daya saing dan pertumbuhan industri pinang di Indonesia. Meskipun Indonesia memiliki pangsa pasar yang signifikan, kondisi lagging opportunity ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh sektor pinang dalam mempertahankan pertumbuhan dan meningkatkan posisi di pasar global(Khairunnas et al. , 2023. natassia, 2. Periode kedua tahun 2016-2019, komoditas pinang Indonesia mengalami kondisi lost opportunity akibat berbagai faktor yang menghambat optimalisasi potensi ekonomi sektor ini. Keterbatasan infrastruktur dan penggunaan teknologi tradisional oleh petani menyebabkan rendahnya produktivitas dan kualitas pinang yang kurang bersaing di pasar global. Meskipun permintaan ekspor dari negara-negara seperti India. Bangladesh, dan Pakistan meningkat. Indonesia tidak mampu memanfaatkan peluang ini secara maksimal, terutama karena masalah logistik dan kurangnya pengorganisasian pasar (Firmanda et al. , 2. Selain itu, dukungan kebijakan pemerintah pada masa itu belum terfokus secara memadai untuk mendorong pengembangan komoditas pinang, sehingga para petani kekurangan insentif dan program peningkatan kapasitas. Minimnya diversifikasi produk menjadi tantangan lain, di mana Indonesia hanya mengekspor pinang dalam bentuk mentah tanpa mengembangkan produk turunan bernilai tambah. Ditambah lagi, fluktuasi harga internasional yang tinggi membuat komoditas ini rentan, karena ketergantungan pada pasar luar negeri tanpa adanya diversifikasi pasar yang jelas. Akibatnya. Indonesia kehilangan kesempatan besar untuk memperkuat posisi di pasar pinang global dan meningkatkan kontribusi ekonomi dari komoditas tersebut selama periode tersebut. Data menunjukkan bahwa produksi pinang di Indonesia pada tahun 2016 mencapai sekitar 90. 000 ton dan meningkat menjadi 120. 000 ton pada Namun, pertumbuhan ini masih jauh dari potensi maksimal yang dapat dicapai. Dimana Putra Irwandi. Amanda Anggi Purwanti Journal of Agribusiness and Community Empowerment (JACE) 2024 Vol. No. 2 : hal 56-70 Ekspor pinang Indonesia pada tahun 2016 mencapai sekitar 60. 000 ton, tetapi hanya meningkat 000 ton pada tahun 2019, menunjukkan pertumbuhan yang tidak signifikan dibandingkan dengan permintaan global yang meningkat. Sehingga pinang Indonesia termasuk lemah dalam periode ini. Periode 3 tahun 2019-2023 kondisi komoditas pinang di Indonesia mengalami penurunan yang signifikan, tercermin dari produksi dan harga yang tidak stabil. Tahun 2019, produksi pinang mencapai sekitar 45. 000 ton, dengan Aceh sebagai produsen utama. Namun, pada tahun 2020, produksi menurun menjadi 42. 000 ton akibat serangan hama, dan pada 2021, penurunan berlanjut 000 ton karena dampak pandemi COVID-19 yang mengganggu rantai pasokan(Asrar & Makmur, 2. Pada 2022, produksi stagnan di angka 38. 000 ton, tetapi pada 2023 diperkirakan turun lagi menjadi 35. 000 ton akibat perubahan iklim dan kurangnya teknologi pertanian modern. Dari segi harga, pinang pada tahun 2019 diperdagangkan antara IDR 40. 000 hingga IDR 50. 000 per kilogram, namun pada 2021 harganya turun menjadi IDR 30. 000 hingga IDR 40. 000 per kilogram karena fluktuasi permintaan dan kesulitan distribusi. Persaingan dari negara produsen lain, seperti Malaysia dan Thailand, yang memproduksi pinang secara lebih efisien, turut menambah tantangan bagi petani Indonesia. Keterbatasan akses pasar, disebabkan oleh infrastruktur yang kurang memadai dan dominasi pedagang besar, mengakibatkan petani sering kali tidak mendapatkan harga yang adil. Secara keseluruhan, kombinasi dari faktor-faktor ini menciptakan kondisi lagging retreat bagi komoditas pinang di Indonesia, sehingga memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan stakeholders untuk meningkatkan daya saing serta kesejahteraan petani (Mawardati, 2. Analisis Faktor Pendekatan Gravity Model Gravity model dalam ekonomi internasional adalah alat analisis yang menjelaskan pola perdagangan bilateral antar negara, terinspirasi dari hukum gravitasi Newton. Model ini menyatakan bahwa volume perdagangan antara dua negara berbanding lurus dengan ukuran ekonomi mereka . iasanya diukur dengan PDB) dan berbanding terbalik dengan jarak geografis yang memisahkan Selain ukuran ekonomi dan jarak, model ini juga dapat memasukkan faktor-faktor lain seperti kesamaan bahasa, hubungan kolonial masa lalu, atau perjanjian perdagangan yang ada. Dalam formulasi matematisnya, perdagangan antara negara i dan j umumnya dinyatakan sebanding dengan (GDPi * GDP. / Distanceij. Model gravitasi telah terbukti sangat akurat dalam menjelaskan pola perdagangan aktual dan sering digunakan oleh ekonom dan pembuat kebijakan untuk menganalisis dampak berbagai faktor terhadap arus perdagangan internasional, termasuk efek dari kebijakan perdagangan dan integrasi ekonomi regional. Model gravitasi memiliki peran penting dalam analisis ekspor karena memberikan kerangka kerja yang kuat dan fleksibel untuk memahami dan memprediksi pola perdagangan internasional. Pentingnya model ini dalam konteks ekspor terletak pada kemampuannya untuk menjelaskan faktorfaktor yang mempengaruhi arus ekspor antarnegara. Model gravitasi membantu mengidentifikasi determinan utama ekspor seperti ukuran ekonomi, jarak geografis, dan berbagai hambatan Hal ini memungkinkan pembuat kebijakan dan pelaku bisnis untuk menganalisis potensi pasar ekspor, mengevaluasi dampak perjanjian perdagangan, dan merancang strategi ekspor yang efektif. Keakuratan model ini dalam menjelaskan pola perdagangan aktual membuatnya menjadi alat yang berharga untuk meramalkan volume ekspor di masa depan dan mengidentifikasi peluang pasar baru. Selain itu, fleksibilitas model gravitasi memungkinkan inkorporasi berbagai variabel tambahan, seperti faktor budaya atau kelembagaan, yang dapat memberikan wawasan mendalam tentang dinamika ekspor dalam konteks global yang kompleks. Secara umum, beberapa faktor yang mempengaruh nilai ekspor pinang ke pasar internasional adalah GDP negara tujuan ekspor. GDP perkapita negara tujuan, populasi, dan nilai tukar negara tujuan (Zainal et al. , 2. Setelah melakukan uji Hausman, data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan fixed effect karena Nilai signifikansi dibawah 0. %). Analisis gravity menggunakan stata 17 (Tabel . Putra Irwandi. Amanda Anggi Purwanti Journal of Agribusiness and Community Empowerment (JACE) 2024 Vol. No. 2 : hal 56-70 Tabel 8. Koefisien variabel penduga ekspor pinang ke pasar internasional Variabel Koefisien Ln. Ln. Ln. Ln. _cons R-Square Prob(F-Sta. Sumber : Data diolah, 2024 Probabilitas Hasil Model Gravity yang dibangun adalah sebagai berikut: Ln. = 19. 289Ln. - 0. 699Ln. - 0. 463Ln. 072 Ln. Aij GDP berpengaruh positif terhadap ekspor pinang indonesia GDP memiliki koefisien positif ( 0. dengan probabilitas 0. 107 yang berarti signifikan pada taraf 10%. Peningkatan ini bermakna bahwa 1% GDP naik maka akan meningkatkan ekspor pinang sebesar 0,28% pada kondisi cateris paribus. GDP berpengaruh positif terhadap ekspor Indonesia karena peningkatan GDP umumnya mencerminkan penguatan kapasitas ekonomi secara Ketika GDP Indonesia meningkat, hal ini biasanya menandakan peningkatan produktivitas, infrastruktur yang lebih baik, dan kapasitas produksi yang lebih besar di berbagai sektor ekonomi. Peningkatan ini memungkinkan Indonesia untuk memproduksi lebih banyak barang dan jasa, termasuk yang ditujukan untuk pasar ekspor. GDP yang lebih tinggi juga sering dikaitkan dengan peningkatan teknologi dan efisiensi produksi. Selain itu, pertumbuhan GDP dapat menarik investasi dari dalam dan luar negeri lebih banyak, yang selanjutnya dapat meningkatkan kapasitas Ekonomi yang lebih kuat juga dapat memberikan Indonesia posisi tawar yang lebih baik dalam perjanjian perdagangan internasional, potensial membuka lebih banyak peluang ekspor. Namun, penting untuk dicatat bahwa hubungan ini mungkin tidak selalu linear namun juga oleh faktor eksternal antara lain kondisi perekonomian dunia, kebijakan perdagangan internasional, dan fluktuasi nilai tukar (Arifin & Rahman, 2020. Setiawan et al. , 2. Produk domestik bruto (GDP) memiliki pengaruh signifikan terhadap ekspor pinang Indonesia, terutama dalam hal hubungan ekonomi dan daya saing internasional. Pertumbuhan ekonomi domestik yang tercermin dalam peningkatan GDP dapat memengaruhi produktivitas sektor pertanian, termasuk produksi pinang. Peningkatan GDP umumnya berkaitan dengan perbaikan infrastruktur, investasi, dan teknologi, yang berujung pada peningkatan produksi serta kualitas pinang, sehingga mampu meningkatkan daya saing di pasar ekspor. Selain itu. GDP juga mempengaruhi daya beli negara-negara tujuan ekspor. Ketika GDP global meningkat, terutama di negara mitra dagang utama, permintaan terhadap produk pinang bisa meningkat pula. Sebaliknya, jika GDP global menurun, permintaan terhadap produk ekspor seperti pinang juga bisa ikut Di sisi lain, pertumbuhan GDP yang kuat mencerminkan stabilitas ekonomi yang baik, daya saing Indonesia meningkat di pasar internasional termasuk komoditas pinang. Dengan demikian, meskipun GDP bukan satu-satunya faktor, pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan negaranegara tujuan ekspor dapat menjadi faktor penting dalam mendorong volume ekspor pinang. Telah banyak penelitian yang berkaitan dengan GDP terhadap kinerja ekspor antara oleh (Ibrahima et al. , 2020. Sentsho et al. , 2018. Sudari et al. , 2. yang secara dominan menunjukkan hasil bahwa GDP berpengaruh positif terhadap peningkatan ekspor suatu negara. Tidak hanya itu, penelitian-penelitian ini juga menunjukkan bahwa hubungan antara GDP dan kinerja ekspor masih relevan di mana pertumbuhan GDP secara langsung berkontribusi pada peningkatan kinerja ekspor melalui peningkatan kapasitas produksi dan efisiensi ekonomi. GDP perkapita berpengaruh terhadap kinerja ekspor pinang Indonesia GDP perkapita negara tujuan memiliki koefisien negatif (-0. dengan probabilitas 0. yang berarti signifikan pada taraf 5%. Berarti peningkatan GDP perkapita 1% akan menurunkan ekspor pinang Indonesia mencapai 0,699% kondisi cateris paribus. GDP perkapita berdampak negatif terhadap ekspor pinang meskipun dampaknya lebih tidak langsung dibandingkan dengan GDP secara Putra Irwandi. Amanda Anggi Purwanti Journal of Agribusiness and Community Empowerment (JACE) 2024 Vol. No. 2 : hal 56-70 Peningkatan GDP per kapita seringkali mencerminkan peningkatan standar hidup dan produktivitas tenaga kerja, yang berimbas pada sektor pertanian, termasuk produksi pinang. Dengan pendapatan per kapita yang lebih tinggi, teknologi dan infrastruktur di sektor ini cenderung membaik, sehingga meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas produk, membuat pinang Indonesia lebih kompetitif di pasar global. Selain itu, meskipun peningkatan GDP per kapita mendorong konsumsi domestik, jika permintaan dalam negeri tidak cukup besar untuk menyerap seluruh produksi pinang, para produsen akan lebih fokus pada pasar ekspor sebagai cara untuk meningkatkan pendapatan (Bojnec & Ferto, 2021. Sun et al. , 2. GDP perkapita negara yanng tinggi juga memiliki lebih banyak ruang fiskal untuk menerapkan kebijakan yang mendukung ekspor, seperti subsidi atau insentif bagi petani dan eksportir, serta pengembangan infrastruktur perdagangan, yang semuanya dapat memperkuat kinerja ekspor pinang (Baier et al. , 2. Telah banyak penelitianyang berkenaan antara GDP perkapita dengan ekspor komoditas suatu Antara lain (Aslam et al. , 2. dan (Rodrik et al. , 2. menunjukkan hasil secara umum pengaruh positif GDP perkapita terhadap ekspor pinang dan kinerja ekspor suatu negara, dengan peningkatan pendapatan per kapita memperkuat kapasitas produksi, efisiensi, serta daya saing di pasar internasional. Populasi tidak berpengaruh terhadap ekspor Pinang Indonesia Populasi negara tujuan memiliki koefisien negatif -0. 463 dengan probabilitas 0. 8 yang berarti tidak signifikan pada taraf apapun. Populasi tidak selalu menjadi faktor penentu utama dalam kinerja ekspor, dalam beberapa kasus, populasi dapat berperan sebagai faktor pendukung atau penghambat, tergantung pada bagaimana populasi tersebut memengaruhi aspek lain seperti kapasitas produksi, konsumsi dalam negeri, dan daya saing internasional. Banyak faktor menyebabkan populasi tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan ekspor suatu negara. Antara lain disebabkan oleh (Zhao et al. , 2. kapasitas produksi dan teknologi yang dihasilkan oleh suatu negara misalnya negara-negara kecil dengan populasi rendah, seperti Singapura atau Swiss, memiliki kinerja ekspor yang sangat baik karena mereka berfokus pada teknologi, efisiensi, dan inovasi. Jika dibandingkan dengan ekspor Indonesia yang masih bersifat konvensional, masih jauh dari yang bukan pada ukuran populasi. Struktur ekonomi yang dianut oleh negara tersebut, konsumsi domestik yang tinggi dan lain sebagainya. Di beberapa negara dengan populasi besar, sebagian besar produksi mungkin digunakan untuk memenuhi konsumsi domestik, sehingga jumlah barang yang tersedia untuk diekspor menjadi terbatas. Ini menunjukkan bahwa populasi besar tidak selalu mengarah pada peningkatan ekspor. Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengidentifikasi apakah populasi memberikan dampak terhadap aktivitas ekspor komoditas Antara lain (Canh et al. , 2021. Choi & Kim, 2. dan (Tien et al. , 2. yang menyatakan bahwa populasi tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel ekspor sering kali mengeksplorasi hubungan antara ukuran populasi dan aspek lain dari ekonomi atau perdagangan. Namun. Studi-studi lain secara kolektif menunjukkan tren di mana pertumbuhan populasi berdampak positif pada aktivitas ekspor, terutama melalui peningkatan pasokan tenaga kerja dan permintaan Hal ini dilakukan oleh (Chen et al. , 2020. Fukumoto & Kinugasa, 2. yang menunjukkan bagaimana perubahan demografis dapat mempengaruhi kapasitas ekspor. Penelitian ini mencakup analisis data dari ekonomi APEC untuk menggambarkan hubungan antara populasi dan perdagangan internasional. Nilai Tukar tidak berpengaruh terhadap ekspor pinang Indonesia Nilai tukar negara tujuan memiliki koefisien positif . dengan probabilitas 0,8 yang berarti tidak signifikan pada taraf apapun. Nilai tukar tidak memberikan pengaruh terhadap ekspor pinang Indonesia di Pasar Internasional. Hal ini diakibatkan nilai t-statistik variabel ini dibawah 1,69 yang artinya tidak ada pengaruh. Banyak faktor yang memempengaruhi antara lain daya saing harga masing-masing negara, biaya impor, kekuatan mata uang, dan lain-lain. Penelitian relevan yang menunjukkan nilai tukar tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja ekspor yakni (Ahmed et al. , 2018. Ma & Chen, 2019. Rao et al. , 2. yang didominasi bahwa menunjukkan bahwa meskipun nilai tukar dapat berfluktuasi, dampaknya terhadap ekspor bisa terbatas atau tidak Putra Irwandi. Amanda Anggi Purwanti Journal of Agribusiness and Community Empowerment (JACE) 2024 Vol. No. 2 : hal 56-70 Kesimpulan Kesimpulan ini menunjukkan bahwa posisi daya saing pinang Indonesia memiliki status berdaya saing yang kuat. Namun disisi lain, jika dilihat mengunakan dinamikan waktu dan periode, maka pinang Indonesia pada pasar Internasional termasuk dalam lagging oportunity, lost opportunity, dan laging retreat dimana secara dominan pangsa Indonesia lebih rendah dibanding pangsa pasar dunia. Banyak faktor yang mempengaruhi antara lain GDP. GDP perkapita, populasi, dan nilai tukar negara tujuan. Namun yang memiliki pengaruh signifikan adalah GDP dan GDP perkapita negara tujuan. Harapannya, komoditas pinang Indonesia dapat menjamin kualitas dan mutu untuk tetap terus berdaya saing di pasar internasional. Daftar Pustaka