KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X KAMBOTI Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Kristologi Humanis dan Diskriminatif bagi Etnis Tionghoa Martha Marselina Patty Program Studi Teologi Kristen Protestan. Fakultas Teologi. Universitas Kristen Indonesia Maluku - Ambon Correspondence: Tiaranaomii3012@gmail. Abstract Racial discrimination generally arises from the perceived superiority of one particular ethnicity over other ethnicities. This is what happens to ethnic Chinese in Indonesia. Discrimination against ethnic Chinese is a phenomenon that has been going on for quite a long time. This can be seen from the cases of riots from 1998 to 2020, also when the Covid-19 pandemic hit the world which also hit Indonesia. This discrimination against ethnicity is carried out in verbal and physical form. This article aims to offer a humanist Christology of Jesus as a point of view on the problem of discrimination as stated above. The method used is library research which examines selected Christian texts and extracts and concludes them as a humanist attitude of Jesus. This research found that Jesus' good attitude towards people who were marginalized and looked down upon by other groups shows that Jesus began to build bridges for relations between humans regardless of ethnicity, religion, race and between groups. This research concludes that Jesus was very pro-humanity. He did not view other ethnicities as "non-natives" or small groups that should be isolated and ostracized, but as fellow humans who should be treated equally, even as brothers. Keywords: racial discrimination. the humanist christology of Jesus. relations between Abstrak Diskriminasi ras pada umumnya timbul dari anggapan superioritas satu etnis tertentu terhadap etnis lain. Hal ini yang terjadi pada etnis Tionghoa di Indonesia. Diskriminasi terhadap etnis Tionghoa merupakan fenomena yang telah berlangsung cukup lama. Hal ini dapat terlihat dari Kasus kerusuhan di tahun 1998 sampai di tahun 2020, juga ketika pandemi Covid-19 melanda dunia yang juga melanda Indonesia. Diskriminasi terhadap etnis ini dilakukan dalam bentuk verbal maupun juga dalam bentuk fisik. Tulisan ini bertujuan menawarkan kristologi Yesus yang humanis untuk menjadi sudut pandang terhadap masalah diskriminasi seperti dikemukakan di atas. Metode yang digunakan adalah penelitian pustaka yang mengkaji teks-teks Kristen terpilih dan menyarikan serta menyimpulkannya sebagai sikap Yesus yang humanis. Penelitian ini menemukan bahwa sikap Yesus yang baik kepada orang-orang yang dimarjinalkan atau disisihkan dan dipandang rendah oleh kelompok lain menunjukan bahwa Yesus mulai membangun jembatan bagi relasi antar manusia tanpa memandang suku, agama, ras dan antar golongan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Yesus sangat pro-kemanusiaan. Ia tak memandang etnis lain sebagai Aunon pribumiAy atau kelompok kecil yang harus diasingkan dan dikucilkan, tetapi sebagai sesama manusia yang mesti diperlakukan setara sebagai saudara. Kata Kunci : diskriminasi ras. kristologi Yesus yang humanis. relasi antar manusia. KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X Pendahuluan Isu tentang orang keturunan Cina atau etnis Tionghoa yang didiskirimasikan di Indonesia memang merupakan isu yang telah bergulir dari tahun ke tahun. Ada banyak tulisan-tulisan yang mengkaji isu tersebut. Pada tahun 2006. Endah Setyowati seorang dosen di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) mengkaji isu ini dan menemukan bahwa kekerasan kepada etnis Tionghoa di Yogyakarta terjadi karena adanya prasangka etnis yang digunakan oleh elit politik untuk kepentingannya. Solusi yang ditawarkannya disebut nested paradigm yaitu mengembangkan sistem pencegahan konflik dengan membangun isu yang potensial terhadap konflik yang berada di setiap level (Setyowati, 2006: 42-. Pada tahun 2013. Joas Adiprasetya menulis sebuah artikel yang berjudul Following Jesus The Clown. Tulisan ini dimulai dari pengalamannya sebagai seorang Cina-Jawa yang selalu di-bully dengan panggilan AusipitAy dan itu sangat menyakitkan baginya. Ia bagaikan badut yang bodoh dan menjadi orang yang lucu di antara orang-orang AonormalAo (Adiprasetya, 2013: . Joas Adiprasetya melihat Semar sebagai sosok badut dari pertunjukan wayang Jawa yang bijaksana, berkarater tak terduga dan sederhana. Yesus dimetaforakan dengan Semar dan dinamai badut oleh Joas. Yesus mengosongkan diri-Nya dan melalui peristiwa penyaliban maka Ia menunjukan solidaritas-Nya bagi orang yang terpinggirkan. Penulis memang bukanlah orang keturunan Tianghoa, sama seperti pak Joas, tetapi pemilihan judul ini lahir dari keprihatinan terhadap realita Indonesia. Lebih tepatnya, keprihatinan atas diskriminasi kepada etnis Tionghoa yang masih terjadi sampai saat ini. Keprihatinan ini penulis kemukakan dalam beberapa poin, antara lain: . Indonesia sebagai negara yang memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika yakni berbeda-beda tetapi satu. Semboyan ini hanya merupakan tempelan menurut penulis karena kemajemukan sebagai anugerah justru juga menjadi ancaman. Kasus-kasus kekerasan atas nama suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) terus terjadi. Di Indonesia, terjadinya kasus diskriminasi ras lebih merujuk kepada etnis Tionghoa. Padahal, warga negara Indonesia (WNI) AuketurunanAy di Indonesia bukan hanya etnis Tionghoa tetapi ada juga keturunan Arab. India, dan lain . Menyimak pidato gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta terpilih tahun 2017, yang sangat rasial. Pidato ini menjadi viral karena sebagai seorang pemimpin ibu kota tentu ini merupakan sebuah polemik, ketika dalam pidato Anies yang berlangsung 22 menit, ada kata "pribumi ditindas" dari kalimat "Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkanAy (Sadikin, 2017: tanpa halama. Anies menyinggung Aupribumi ditindasAy ketika berbicara soal perjuangan pribumi melawan kolonialisme. Kata pribumi ini dipahami bahwa ada segregasi antara etnis Tionghoa dan pribumi. Pandemi Covid-19 yang menyebar dan mematikan banyak manusia di dunia memiliki dampak negatif bagi keturunan etnis Tionghoa. Sentimen negatif mulai diarahkan kepada mereka karena virus itu dimulai dari Wuhan. China. Diskriminasi verbal lewat sebutan sipit dan juga etnofaulisme. Hukum untuk menjamin etnis Tionghoa sebagai WNI yang tidak boleh diperlakukan diskriminatif ternyata tidak cukup kuat untuk menghapus tindak diskriminasi. Melihat hal ini maka, seharusnya agama mampu membangun konstruksi dengan dogma yang dimiliki sehingga menggugah dan menyumbang pemikiran-pemikiran anti diskriminasi di Indonesia. Jika Joas Adiprasetya melihat masalah etnis Tionghoa sebagai orang yang terpinggirkan dengan menggunakan metafora Semar sebagai badut lalu menamai Yesus sebagai badut yang mencoba mengungkapkan bahwa cinta Allah bersifat universal dan tidak tergantung pada kondisi tertentu (Adiprasetya, 2013: . , maka dalam tulisan ini, penulis bertujuan menyajikan sebuah konsep kristologi tentang Yesus sebagai tokoh yang humanis. Penulis perlu menegaskan bahwa konsep kristologi Yesus yang humanis ini diutarakan berdasarkan pada hipotesa bahwa diskriminasi itu terjadi karena merosotnya nilai kemanusiaan, merosotnya nilai penghargaan terhadap orang lain di mata sesamanya sehingga diharapkan konsep mampu menyumbang nilai saling menghargai antar sesama dan toleransi 49 | P a g e KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X bagi orang-orang termarginal seperti etnis Tionghoa, tanpa mengesampingkan ciptaan yang lain dalam rangkaian karya keselamatan Allah melalui Yesus Kristus. Metode Tulisan ini menggunkan metode penelitian pustaka . ibrary researc. Literaturliteratur yang digunakan adalah literatur yang mendukung penulisan, yakni yang berbicara mengenai humanisme Kristen, teks-teks alkitab yang mendukung dan juga identitas etnis Tionghoa di Indonesia. Penulis berupaya mendeskripsikan pemikiran mereka dan menganalisisnya dan membangun sebuah pemikiran yang konstruktif untuk menyikapi kasus diskriminasi etnis Tionghoa di Indonesia. Hasil Penelitian dan Pembahasan Diskriminasi Ras : Jangan panggil mereka Cina. Mereka WNI! Diskriminasi merupakan masalah internasional. Marthin Luther King Jr. menyampaikan harapannya dalam pidato bersejarah tahun 1963 di Lincoln Memorial. Dia berharap suatu saat anak-anaknya tidak akan dihakimi oleh karena warna kulit mereka tetapi dengan karakter mereka. Diskriminasi ras ini menyeruak sampai ke sistem politik di Amerika sehingga Amy Gultman menyatakan bahwa mungkin buta warna adalah moralitas yang ideal supaya tercipta suatu masyarakat ideal untuk diterapkan di Amerika (Choi, 2011: 79 ) Di Indonesia diskriminasi sudah berlangsung sejak zaman Belanda menjajah Indonesia pada tahun 1849. Kebijakan segregasi hukum perdata tahun 1926 mengatur pembagian golongan di hadapan hukum dengan memisahkan antara golongan Eropa, golongan Timur Asing, dan golongan Bumi Putra atau Pribumi. Diskriminasi ras pada umumnya timbul dari anggapan superioritas satu etnis dibandingkan dengan etnis lain. Hal ini yang terjadi pada etnis Tionghoa di Indonesia. Amy Freedman dari Franklin and Marshall College. Amerika Serikat berpendapat bahwa sentiment rasial terhadap etnis Tionghoa di Indonesia merupakan hasil dari politik pecah belah Soeharto. Dalam penelitian berjudul Political Institution and Ethnic Chinese Identity in Indonesia. Freedman menyebut Soeharto memaksa masyarakat Tionghoa untuk melakukan asimilasi sembari mengidentifikasi mereka sebagai bukan pribumi (Dhani, 2016: tanpa halama. Orang Tionghoa Indonesia menjadi sasaran kebijakan rezim Soeharto karena banyak dari mereka dicurigai sebagai simpatisan komunis. Sejumlah besar orang Tionghoa adalah Konghucu, untuk itu setiap kebijakan yang membatasi aktivitas Tionghoa akan berpengaruh jauh pada praktik agama ini. Memang, langkah-langkah rezim yang berurutan mengenai Auisu ChinaAy antara tahun 1967 dan 1988 bersifat membatasi, diskriminatif dan mencakup hampir semua aspek urusan Tionghoa mulai dari ekonomi, budaya dan identitas hingga agama juga. (Ropi, 2017: . Pada umumnya, konflik sosial terutama etnis lebih diwarnai oleh persoalan ekonomi, politik dan agama (Dwihartanta, 1999: . Kerusuhan Mei 1998 yang memakan banyak korban khususnya etnis Tionghoa merupakan sejarah kelam di benak mereka dan menjadi tanda diskriminasi bagi golongan yang disebut Aunon pribumi. Ay Pada tahun 2008 diterbitkanlah UU No. 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Ada 3 . pertimbangan pokok atas lahirnya UU Pertama, bahwa segala tindakan diskriminasi ras dan etnis bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Kedua, segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan berhak atas perlindungan terhadap setiap bentuk diskriminasi ras dan etnis. Ketiga, adanya diskriminasi ras dan etnis dalam kehidupan bermasyarakat merupakan hambatan bagi hubungan kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan, perdamaian, keserasian, keamanan, dan kehidupan bermata pencaharian di 50 | P a g e KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X antara warga negara yang pada dasarnya selalu hidup berdampingan. Untuk mensistematisasikan dan objektivitas dalam proses pengawasan atas tindakan diskriminasi. Pasal 2 UU Nomor 40 Tahun 2008 telah memberikan batasan tindakan diskriminasi berupa: Satu, memperlakukan pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan berdasarkan pada ras dan etnis, yang mengakibatkan pencabutan atau pengurangan pengakuan, perolehan, atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam suatu kesetaraan di bidang sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. atau: Kedua, menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang karena perbedaan ras dan etnis, yang berupa perbuatan: . membuat tulisan atau gambar untuk ditempatkan, ditempelkan, atau disebarluaskan di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat dilihat atau dibaca oleh orang lain. berpidato, mengungkapkan, atau melontarkan kata-kata tertentu di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat didengar orang lain. mengenakan sesuatu pada dirinya berupa benda, katakata, atau gambar di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat dibaca oleh orang lain. melakukan perampasan nyawa orang, penganiayaan, pemerkosaan, perbuatan cabul, pencurian dengan kekerasan, atau perampasan kemerdekaan berdasarkan diskriminasi ras dan etnisAy (DPR RI, 2. Melalui undang-undang ini sebenarnya hak politik, ekonomi dan sosial etnis Tionghoa sebagai WNI tanpa ada pembedaan telah dijamin. Jaminan ini memberi ruang bagi etnis Tionghoa untuk beraktivitas di Indonesia. Walaupun sudah ada jaminan oleh UU termasuk melarang tindak diskriminasi dalam bentuk pidato namun, diskriminasi kembali terulang dalam pidato Gubernur Jakarta Anies Baswedan. Kutipan sebagian isi pidato Anies Baswedan yang menjadi viral: AuJakarta ini satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan kolonialisme dari dekat, penjajahan di depan mata, selama ratusan tahun. Di tempat lain mungkin penjajahan terasa jauh tapi di Jakarta bagi orang Jakarta yang namanya kolonialisme itu di depan mata. Dirasakan sehari hari. Karena itu bila kita merdeka maka janji janji itu harus terlunaskan bagi warga Jakarta. Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan pepatah Madura. Itik telor, ayam singerimi. Itik yang bertelor, ayam yang Kita yang bekerja keras untuk merebut kemerdekaan. Kita yang bekerja keras untuk mengusir kolonialisme. Kita semua harus merasakan manfaat kemerdekaan di ibu kota Dan kita menginginkan Jakarta bisa menjadi layaknya sebuah arena aplikasi PancasilaAy (Rizqo, 2. Pidato yang disampaikan pada saat pelantikan dirinya ini menjadi bahan perbincangan di seluruh nusantara. Dengan cepat muncul perdebatan dari banyak pihak yang menganggap pidato ini bersifat rasial karena menyindir mantan gubernur Jakarta yang berasal dari etnis Tionghoa. Secara umum banyak yang menilai pidato ini mengandung unsur diskriminasi antara pribumi dan non pribumi . aca: etnis Tiongho. Munculnya ideologi kesukubangsaan yang beranggapan bahwa orang Cina itu asing menjadikan mereka didiskriminasi secara hukum dan sosial walaupun sudah menjadi warga negara Indonesia (Suparlan, 2003: . Etnis Tionghoa mengalami ketertindasan secara politis, etnis, budaya dan agama. Kita sering menyapa mereka dengan sebutan cici /ci atau koko/ko tanpa kita sadari ini merupakan bentuk steriotipe yang diberikan kepada mereka. Panggilan ini adalah sebuah bentuk diskriminasi yang merujuk kepada spesifikasi mereka sebagai etnis Tionghoa. Penindasan terjadi bukan saja dalam bentuk linguistik yakni steriotipe yang diberikan kepada etnis tionghoa tetapi juga dalam bentuk fisik dan dalam akses. Jika kita amati hanya sebagian kecil etnis Tionghoa yang menjadi pegawai negeri sipil (PNS) atau bekerja dalam instansi-instansi Mungkin kita hanya melihat mereka sebagai pegawai-pegawai bank atau sebagai Padahal mereka juga adalah WNI yang memiliki hak dan akses yang sama untuk berkembang di lingkup pemerintahan. Kita selalu mengidentikan etnis Tionghoa sebagai 51 | P a g e KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X penguasa jalur perdagangan karena mereka memiliki usaha dan bisnis di Indonesia lalu kita berpikir bahwa semua etnis Tionghoa adalah orang kaya. Apakah standart itu berlaku bagi semua etnis Tionghoa? AuKepulauan Riau mempertontonkan kenyataan, memutar-balikkan persepsi sebelumnya yang telah melekat erat dalam benak. Keturunan China juga banyak yang miskin dan bahkan sangat miskin. Di Kepulauan Riau, dengan mudah dapat ditemui nelayan-nelayan miskin, para buruh, dan para pekerja kasar lainnya. Kota Singkawang, masih di Kalimantan Barat, cerita tentang para Amoy yang mau menggadaikan harga diri, menyediakan diri dinikahkan dengan pria-pria Taiwan sangat mudah ditemui. Di Tangerang pun banyak warga keturunan China dengan perwujudan sipit, warna kulit yang jauh dari putih, rambut kemerahan terbakar surya, dan miskin atau sangat miskin. Berbagai berita tentang China Benteng di Tangerang dengan segenap cerita menyedihkannya membuat semakin miris hati. Mereka banyak yang menggantungkan mata pencahariannya sebagai nelayan, tukang becak, buruh pasar, pembantu rumah tangga, maupun buruh tani. Hidup di permukiman-permukiman yang jauh dari kata layakAy (Setia, 2014: tanpa halama. Faktafakta dalam tulisan ini menunjukan bahwa tidak semua etnis Tionghoa adalah orang kaya. Salah satu peristiwa yang mengaburkan identitas Tionghoa adalah dengan melakukan penggantian nama berbahasa Mandarin (Mulyono, 2015: . Pada tahun 1960-1962 orang Cina diberikan pilihan untuk memilih kewarganegaraan mereka. Melly G. Tan menyatakan bahwa pada saat diperhadapkan dengan pilihan tersebut, orang-orang Cina terbagi menjadi 4 kategori: ada yang memilih menjadi WNI, ada yang menggantungkan pilihan sampai waktu mendesak, ada yang memilih untuk menjadi warga negara asing (WNA), ada yang tidak mengetahui perjanjian yang harus mereka ambil sehingga mereka kehilangan pilihan untuk menjadi warga negara Indonesia (Tan, 2008: . Sebagian yang memilih menjadi WNI membangun hidup, berkeluarga, berbisnis bahkan ada juga yang turut terlibat untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah internasional. Sebut saja Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma . tlet bulu tangkis menyumbang medali emas bagi Indonesia di kancah internasiona. Basuki Tjahya Punama atau Ahok (Gubernur DKI Jakart. dan masih banyak Jika mereka telah memilih untuk menjadi WNI bahkan memberi diri, tenaga dan mengharumkan nama bangsa Indonesia lewat prestasi-prestasi mereka di bidang olahraga dan pemerintahan maka, masih pantaskah kita sebut mereka Cina atau Etnis Tionghoa? Penulis merasa betapa pentingnya nilai penghargaan diberikan kepada mereka dengan cara menjunjung harkat dan martabat mereka sebagai manusia seutuhnya tanpa memberi label atau warna berdasarkan ciri fisik. Penulis mengajak kita melihat Yesus sebagai tokoh yang humanis yang mengajarkan dan mempraktekan cara hidup menghargai kemanusiaan. Hal ini dapat menjadi landasan membangun relasi yang baik kepada etnis Tionghoa sehingga dan meminimalisir diskriminasi terhadap mereka. Humanisme Kristen Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan humanis sebagai: . orang yang mendambakan dan memperjuangkan terwujudnya pergaulan hidup yang lebih baik, berdasarkan asas perikemanusiaan. pengabdi kepentingan sesama umat manusia. Penganut paham yang menganggap manusia sebagai objek terpenting. Penganut humanisme (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2. Peter Cave berpendapat bahwa humanis berbicara tentang humanisme yang membuat dunia menggunakan akal, pengalaman dan berbagi nilai-nilai kemanusiaan bersama (Cave, 2009: . Humanis mendorong manusia untuk menciptakan hidup yang lebih baik, hidup yang mengandung arti dan tujuan dan saling Beberapa pengertian di atas menunjukan bahwa humanisme sangat melekat dengan human atau manusia. Nilai-nilai kemanusiaan dan martabat manusia menjadi ukuran segala sesuatu. 52 | P a g e KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X Dalam sejarah humanisme, humanisme Kristen dipertentangkan dengan humanisme William Franklin dan Joseph M. Shaw dalam bukunya The Case for Christian Humanism mengartikan pengertian humanisme sekuler sebagai berikut: On the other side is what is often called Ausecular humanism,Ay an interpretation of humanity that limits itself to AumerelyAy human interests, regarding human person as complete masters of their own affairs and destinies and deliberately excluding the transcendent from its philosophy. Humanisme sekuler memahami bahwa manusia adalah segala-segalanya dan ia yang menentukan hidupnya, manusia adalah tuan atas dirinya. Humanisme sekuler tidak percaya kepada Allah bahkan meniadakan Allah. Hal ini berarti sangat tidak mungkin kekristenan menjadi humanis. Selanjutnya. Franklin dan Shaw berpendapat bahwa kekristenan bisa menjadi kekristenan yang humanis tanpa perlu menambahkan jenis-jenis corak liberal ke dalam iman Kristen tetapi, cukup hanya dengan mendengar apa pesan Alkitab yang berbicara tentang manusia (Franklin dan Shaw, 1991: . Kristologi Yesus yang Humanis Dalam menghadapi persoalan diskriminasi ras, kristologi seperti apa yang hendak dimunculkan dalam menghadapi masalah diskriminasi terhadap etnis Tionghoa? Apa sumbangsih dari kristologi tersebut? Berangkat dari pengertian humanisme yang dilihat secara positif yakni menekankan nilai-nilai kemanusiaan dan kekristenan humanis yang mendengarkan apa pesan Alkitab yang berbicara tentang manusia, maka pada bagian ini, penulis mencoba membangun sebuah pemahaman tentang sisi Yesus yang humanis dengan berpatokan pada Alkitab sebagai sumber dan didukung oleh beberapa literatur yang menunjang agar dapat terlihat posisi humanis Yesus. Kisah penciptaan manusia, ketika Allah mulai menciptakan manusia dan menjadikan mereka segambar dan serupa dengan Allah merupakan motif humanisme di dalam Alkitab (Franklin dan Shaw, 1991: . William Franklin dan Joseph Shaw menyatakan bahwa fakta inkarnasi. Allah mengutus anakNya. Yesus Kristus mengambil bagian dalam kehidupan manusia merupakan fondasi atau dasar dari humanisme Kristen (Franklin dan Shaw, 1991: Dasar Alkitab untuk pernyataan ini yaitu Injil Yohanes 1:14 Au Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita sudah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Allah Bapa, penuh kasih karunia dan Ay Agustinus dan bapa-bapa gereja melihat bahwa teks ini menjelaskan dengan menjadi manusia maka. Yesus adalah image of God . ambar dan rupa Alla. (Franklin dan Shaw, 1991: . Sama seperti Agustinus. Tertulianus juga berpendapat bahwa inkarnasi yaitu firman yang ilahi menjadi daging (McGrath, 1995: . Inkarnasi berarti Allah hadir dalam bentuk daging . sehingga dapat terungkap . , dilihat dan disentuh (McGrath, 1995: . Allah yang berinkarnasi dalam Yesus memberi pembaharuan gambaran manusia yang telah rusak akibat dosa. Allah mengerjakan keselamatan bagi orang berdosa melalui kehidupan, pelayanan, kesengsaraan, penyaliban, dan kematian di kayu salib (Maiaweng, 2015: . Matius 1:21. AuIa akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka Ay telah memberi catatan bahwa kelahiran Yesus terkait dengan Allah dan misi penyelamatan bagi umat manusia (Franklin dan Shaw, 1991: . Hal ini menunjukan bahwa Allah itu humanis. Keselamatan manusia menjadi bagian dari rencana penyelamatan dunia. Proses Inkarnasi merupakan wujud cinta kasih Allah bagi manusia. Selain itu, beberapa narasi dalam Perjanjian Baru (PB) memuat banyak sekali tindakan Yesus yang menunjukan tindakan kemanusiaanNya. Mujizat yang dilakukan oleh Yesus dalam kapasitasNya sebagai yang Ilahi dalam wujud manusia selalu mendatangkan keuntungan bagi mereka yang membutuhkan. Gagasan ini sama dengan ide humanisme kristiani yang menjadikan tindakan Yesus ini sebagai tanda bahwa Tuhan peduli dengan 53 | P a g e KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X kesejahteraan manusia dan tindakan itu mengembalikan keutuhan hidup manusia yang telah rusak (Franklin dan Shaw, 1991: . Ketika murid-murid mendayung dalam angin sakal maka. Ia mendatangi mereka (Markus 6:. Ketika orang banyak merasa lapar. Ia memberi mereka roti untuk dimakan. Contoh lainnya yaitu: cerita mujizat Yesus membangkitkan orang mati. Yesus menyembuhkan seorang yang tuli, memulihkan lelaki yang buta, menyembuhkan wanita yang telah menderita pendarahan selama dua belas tahun dan juga mengusir roh-roh Setiap contoh ini menunjukan bahwa tindakan Yesus tersebut dimulai dari belas kasihanNya kepada mereka yang merasa takut dan menderita. Penulis melihat sisi lain dari tindakan mujizat yang dilakukan oleh Yesus, dan perlu kita perhatikan adalah bahwa beberapa narasi dalam teks PB menunjukan Yesus yang melakukan mujizat kepada orang-orang non Yahudi . rang di luar kelompok Yesu. Hal ini dapat dilihat sebagai patokan menilai sikap Yesus yang humanis. Allah yang berinkarnasi melalui Yesus berkarya di dunia yang plural. Ia berhadapan dengan budaya, agama dan orang yang berasal dari bangsa lain seperti tradisi Yahudi, orang Yunani dan Romawi. Yesus adalah keturunan Yahudi dan Ia harus berhadapan dengan kenyataan dalam budaya orang Yahudi yang eksklusif. Orang Yahudi tidak pernah menerima the other (Yunani. Romawi, dl. Mereka selalu merasa dan menggap diri sebagai orang-orang yang istimewa yakni sebagai umat pilihan Allah. Oleh karena itu, orang Yahudi merasa bahwa hanya merekalah yang memperoleh keselamatan dan inilah yang menjadi salah satu alasan sehingga mereka mengucilkan bangsa lain. Nolan menyatakan bahwa spiritualitas Yesus sangat radikal. berbicara dan bertindak secara tajam dan tegas. Ia mengambil jalan berbeda dari agama dan tradisi Yahudi dengan tujuan yang jelas (Sujoko, 2013: 127-. Yesus sebagai keturunan Yahudi tidak bersikap eksklusif. Ia sangat terbuka kepada bangsa dan agama lainnya . he Yahya Wijaya kata-kata Fletcher. AuYesus ketidaksetiakawanan yang sempit dan eksklusif Ay untuk itu, ia kembali menegaskan dalam artikelnya bahwa AuYesus mengembangkan suatu komunitas terbuka yang tampak dalam komposisi para pengikutNya yang latar belakangNya sangat berbeda: pemungut cukai, pejuang Zealot, orang yang dekat dengan kalangan Imam besar dan para nelayan sederhanaAy (Wijaya, 2007: 100 ). Sikap Yesus ini hendak menunjukan bahwa relasi antar sesama manusia tidak terbatas. Siapapun seharusnya menerima orang lain menjadi bagian dari hidupnya. Beberapa teks dalam Perjanjian Baru juga menunjukan hal serupa, di antaranya: Matius 8:5-13 Tentang Yesus dan Hamba Seorang Perwira di Kapernaum Perwira adalah kepala serdadu. de Heer tidak meyakini bahwa perwira tersebut merupakan orang Romawi karena ia bertugas di Kapernaum yang merupakan bagian dari kerajaan Herodes . e Heer, 1982: . Lukas mencatat bahwa perwira tersebut menolak Yesus memasuki rumahnya karena, perwira tersebut bukanlah berasal dari Israel . Mat. jadi, ia adalah orang kafir, tidak punya tempat di kota tersebut (Stafford, 2010: Dirinya dan rumah tangganya dianggap najis, dan seorang Yahudi yang saleh akan menghindari kontak langsung dengannya (Stafford, 2010: . Tetapi Yesus memenuhi permintaanNya untuk menyembuhkan hambanya tanpa memandang latar belakang tentang siapa dia. Penulis melihat hal ini sebagai sebuah tindakan kemanusiaan. Ia seorang perwira yang memiliki anak buah. Sebagai seorang perwira tentu ia memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar kepada negara/pemerintah. Alkitab menceritakan ia memiliki seorang hamba yang mengalami sakit lumpuh yang tentu akan menghalanginya untuk menjalankan tugasnya secara Tindakan Yesus untuk menyembuhkan hamba perwira ini berdampak bukan hanya kepada pemulihan fisik tetapi juga membangkitkan semangat hidup dan rasa percaya diri dari hamba tersebut. Yesus justru tidak langsung bertemu dengan hamba yang menderita sakit tersebut tetapi hanya melalui perwira yang bukan orang Yahudi. Yesus sungguh menghargai 54 | P a g e KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X nilai kemanusiaan terutama menghargai sikap perwira itu yang peduli kepada hambanya yang sedang sakit. Matius 15:21-28 Tentang Yesus dan Perempuan Kanaan Interaksi Yesus dengan bangsa lain juga terlihat ketika Yesus memuji iman perempuan Kanaan1 karena sekalipun orang Kanaan menyembah dewa-dewi . (Hakh, 2017: . tetapi ia merendahkan diri kepada Yesus yang adalah keturunan Yahudi. Yohanes 4:1-42 Tentang Yesus dan Perempuan Samaria Eksklusifitas orang Yahudi sangat Nampak dalam teks ini. AuSikap eksklusif ini terlihat dalam ayat 9 Ausebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang SamariaAy. Yohanes sengaja menambahkan kalimat ini untuk memperjelas posisi Yesus dan perempuan Samaria. Namun. Yesus menunjukan hal yang berbeda. Ia meminta minum pada perempuan itu bahkan dari timba yang sama yang dimiliki oleh perempuan tersebut. Hal ini bertentangan dengan tradisi Yahudi. Orang Yahudi tidak akan menerima makanan dari orang Samaria karena dianggap najis (Kostenberger, 2004: . Yesus bukan hanya meminta minum kepada perempuan yang berasal dari Samaria tetapi Ia juga tinggal bersama orang-orang Samaria selama dua hari . Di sisi lain, perempuan Samaria mengakui bahwa nenek moyangnya menyembah di atas gunung ini . bahkan Yesus mengidikasikan dengan AuAllah yang tidak dikenalAy . AuAllah yang tidak dikenalAy ini dapat merujuk pada agama Yunani. Yesus menerobosi tembok-tembok yang memisahkan agama. Ay (Patty, 2017: 10-. Menurut Jhon F. Bagget, sikap Yesus terhadap orang Samaria itu begitu revolusioner bahkan Yesus memberi sebuah perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati (Lukas 10:30-. dan menggambarkannya sebagai seorang pahlawan (Bagget, 2008: . Ini sungguh merupakan hal yang sangat mengherankan mengingat ada perseteruan antara orang Yahudi dan orang Samaria. Melalui narasi-narasi ini. Yesus memperlihatkan sangat bersikap terbuka terhadap bangsa/umat lain/agama lain di sekitarNya bahkan yang dianggap dan dipandang rendah oleh orang Yahudi melalui interaksi, mujizat bahkan perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria menunjukan sebuah percakapan yang proaktif. Anthony Gittins berpendapat bahwa sikap Yesus terhadap orang Samaria sangat revolusioner. Perumpamaan orang Samaria yang murah hati (Luk. 10:30-. merupakan contoh sikap belas kasihan dan kemurahan hati Yesus kepada orang asing (Gittins, 2004:. Cara Yesus memperlakukan mereka hendak menunjukan pengakuan terhadap eksistensi mereka bahwa harkat dan martabatnya perlu diangkat dan dihargai. Nilai-nilai ini juga nampak pada perumpamaan yang dipakai Yesus dalam Lukas 10:25-37 tentang Perumpamaan orang Samaria yang murah hati menunjukan bahwa Yesus menekankan aspek kemanusiaan. Inilah gambaran asli Yesus. Yesus yang humanis dan Yesus yang bersikap pluralis. Sikap Yesus yang baik kepada orang-orang yang dimarjinalkan atau disisihkan dan dipandang rendah oleh kelompok lain menunjukan bahwa Yesus mulai membangun jembatan bagi relasi antar manusia tanpa memandang suku, agama, ras dan antar golongan. Yesus sangat pro-kemanusiaan, ia tak memandang etnis lain sebagai Aunon pribumiAy atau kelompok kecil yang harus diasingkan dan dikucilkan. Yesus yang Humanis dan Etnis Tionghoa. Yahya Wijaya dalam artikelnya yang berjudul AuMembangun teologi etnisitas yang inklusifAy menyatakan bahwa etnisitas menjadi unsur dari sebuah bangsa, akan tetapi bisa pula menembus batas kebangsaan, misalnya etnis Jawa di Suriname dan etnis Tionghoa di Indonesia menjadi salah satu unsur pembentuk dalam negara tersebut (Wijaya, 2007: . Perempuan Kanaan adalah orang non-Yahudi. Injil Markus menyebutkannya dengan perempuan Siro Fenesia. 55 | P a g e KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X Eksistensi etnisitas bukan hanya menjadi kekayaan tapi juga memicu potensi konflik di berbagai negara. Masalah etnisitas keturunan migran merupakan masalah yang sangat signifikan terutama di Indonesia. Kelompok etnik keturunan migran yang biasanya merupakan kelompok minoritas dan memiliki karakteristik tertentu menjadi alasan terjadinya diskriminasi yang dilakukan oleh kelompok mayoritas (Wijaya, 2007: . Eksistensi orang-orang etnis Tionghoa secara turun temurun di tengah-tengah masyarakat Indonesia merupakan sebuah kenyataan. Eksistensi mereka diwarnai dengan berbagai sikap. Ada yang menerima tetapi ada juga yang cenderung berlaku ekstrim. Perbedaan suku bangsa bertindih tepat dengan perbedaan ciri fisik. Misalnya: dengan cepat kita dapat mengenali bahwa seseorang berasal dari Papua. Ambon. Batak. Arab dan Cina dari ciri fisik atau cara dan nada bicara . Tak dapat kita sangkali bahwa etnis Tionghoa memiliki ciri fisik yang berbeda seperti terlihat pada bentuk mata, warna kulit tetapi juga memiliki ciri sosial yang berbeda termasuk moralitas, agama dan etos kerja (Wijaya, 2007: Perbedaan yang mencolok ini menjadi salah satu alasan mereka didiskriminasikan. Padahal, perbedaan ciri fisik dipengaruhi oleh genetik atau timbul secara biologis. Kasus diskriminasi yang dialami oleh etnis Tionghoa merupakan bentuk kemerosotan moral, kemerosotan nilai kemanusiaan, dan kemerosotan nilai penghargaan terhadap orang lain di mata sesamanya. Pembahasan-pembahasan di atas telah menunjukan bahwa Allah menghargai manusia atau dengan kata lain manusia sangat bernilai di mata Allah sehingga. Allah berinkarnasi melalui Yesus dalam rupa dan wujud manusia untuk mengembalikan dan memulihkan nilai kemanusiaan yang rusak akibat dosa. Pemaparan di atas dimaksudkan untuk menunjukan bukti-bukti bahwa Yesus itu humanis sehingga bisa menjadi satu solusi alternatif bagi masyarakat, lebih khusus orang Kristen untuk dapat menghargai etnis Tionghoa sebagai Kristologi tentang Yesus sebagai tokoh yang humanis, menunjukan bahwa Yesus tidak bersikap tertutup terhadap orang lain yang adalah sesama manusia. Kemanusiaan Yesus menjadikan Yesus sebagai manusia yang eksistensinya diarahkan kepada sesama-Nya. Sikap Yesus yang terbuka dinikmati oleh orang-orang dari etnis lain seperi orang Samaria. Perempuan Siro-Fenisia. Perempuan Kanaan, perwira di Kapernaum dan juga banyak orang yang menikmati mujizat-mujizat yang dilakukan oleh Yesus. Sikap Yesus ini merupakan kritikan terhadap orang Yahudi yang sangat eksklusif yakni mengutamakan etnisitas sendiri (Wijaya, 2007: . Pertanyaan sangat mendasar yakni mengapa sampai harus ada perbedaan ras? Bukankah perbedaan tampilan karena ras, etnis, agama, merupakan anugerah? Steriotipe kepada orang Tionghoa mengakibatkan mereka dilihat secara berbeda. Post modernisme menunjukan bahwa manusia cenderung bertindak untuk kepentingan kelompok atau orangorang terdekat. Manusia pada hakikatnya telah dibutakan oleh warna cinta dosa. Agustinus menggambarkan manusia telah membangun kehidupan dengan penuh keegoisan dan prinsipprinsip kepentingan diri (Marsden, 2015: . Perkembangan zaman membawa orang pada arus egoisme. Sikap ini akan menimbulkan jurang antar sesama dan tembok-tembok yang membatasi relasi. Tetapi. Yesus yang humanis menjadi contoh nyata bagi kita sebagai orang Kristen untuk melihat bahwa semua orang itu sama. Yesus telah membangun kesadaran manusia . aca: orang Kriste. tentang pentingnya nilai-nilai kemanusiaan. Kekristenan harus berpola pada Yesus. Yesus yang humanis menjadi inspirasi bagi kekristenan yang humanis. Ini dapat menjadi kekuatan dalam menghadapi permasalahan dunia kini dan akan datang. Yesus bukan saja bersikap terbuka tetapi Ia juga memberikan harapan hidup bagi orang-orang yang Sesungguhnya, hak untuk hidup dan hak untuk merasa bebas dari ancaman merupakan hak asasi manusia. Hak yang paling mendasar. Untuk itu, sebuah proses introspeksi diri dan kontekstualisasi diri merupakan hal yang penting untuk dilakukan oleh masyarakat khususnya orang Kristen. 56 | P a g e KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X Dalam artikelnya. William Schweiker menyajikan sebuah humanisme yang diambil dari sumber-sumber Kristen sebagai sikap etis yang paling memadai untuk menghormati dan meningkatkan integritas kehidupan manusia dan bukan manusia ke masa depan global (Schweiker, 2016: . Manusia menjadi penentu masa depan dunia. Manusia sebagai makhluk bermoral harus mengembangkan sikap humanis terhadap sesamanya. Perilaku Yesus ini memberikan pengharapan yang baru bagi kaum termaginal . alam hal ini etnis Tiongho. bahwa kita hidup di bumi yang sama walaupun dalam wujud kita berbeda. Yesus hadir dan mengangkat harkat dan martabat etnis Tionghoa sebagai kelompok yang minor. Ini juga menjadi kekuatan bagi warga negara Indonesia terutama kita sebagai pengikut Kristus untuk menciptakan kehidupan bersama dalam damai. Penutup Yesus yang humanis mampu mentransformasi moral para pengikutnya untuk melihat etnis Tionghoa sebagai bagian dari hidup mereka dan mampu mengimplikasikannya dalam tindakan-tindakan yang etis. Yesus sebagai tokoh yang humanis adalah Allah yang menjadi manusia dan hadir tanpa memandang golongan maupun etnis. Ia hadir, berpihak, dan turut merasakan penderitaan para korban termasuk korban diskriminasi yakni etnis Tionghoa di Indonesia. Inilah sebuah harapan di tengah penderitaan etnis Tionghoa sebagai kaum minoritas di Indonesia. Kristologi tentang Yesus sebagai tokoh yang humanis, menunjukan bahwa Yesus tidak bersikap tertutup terhadap orang lain yang adalah sesama manusia. Kemanusiaan Yesus menjadikan Yesus sebagai manusia yang eksistensinya diarahkan kepada sesama-Nya. Manusia sebagai makhluk bermoral harus mengembangkan sikap humanis terhadap sesamanya. Perilaku Yesus ini memberikan pengharapan baru bagi kaum termarginal . alam hal ini etnis Tiongho. bahwa hidup di bumi yang sama adalah indah dan merupakan hak walaupun dalam wujud berbeda. Yesus hadir dan mengangkat harkat dan martabat etnis Tionghoa sebagai kelompok yang minor. Hal ini juga menjadi kekuatan bagi warga negara Indonesia terutama kekristenan untuk menciptakan kehidupan bersama dalam damai sebagai satu bangsa. Daftar Pustaka