Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1432-1445 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Analisis Dramaturgi Kaum Gay Kota Bengkulu Windi Ardila. Gushevinalti. Mas Agus Firmansyah Ilmu Komunikasi. Universitas Bengkulu ardilawindi@gmail. com, gushevinalti@unib. id, m. agusfirmansyah@unib. ABSTRACT This research uses quantitative theoretical methods from Ervin Goffman, namely the theory of dramaturgical analysis (Impression Managemen. , a dramaturgical study approach. Gay dramaturgy requires an area called a stage as a place for actors to play their functions and roles so that they can be seen by the audience. Front stage or front stage and back stage or back stage which is a place for gay individuals to build interactions with their social environment. The front stage of Gay people is divided into two, namely their home or family environment and the community environment. Based on the situation that the author found in the interview and observation process, it can be concluded that gay people also need a place where they can relax with the people around them without having to pretend and can be completely themselves as gay So this back stage was created which is a private stage for gay people to interact with their fellow gay friends. Keywords: Dramaturgy. Gay People. ABSTRAK Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif teori dari Ervin Goffman yaitu teori analisis dramaturgi (Impression Managemen. pendekatan studi dramaturgis. Dramaturgi kaum gay membutuhkan wilayah yang disebut sebagai panggung sebagai tempat aktor dalam memainkan fungsi dan perannya agar dapat terlihat oleh penonton. Front stage atau panggung depan dan back stage atau panggung belakang yang merupakan tempat bagi individu gay dalam membangun interaksi dengan lingkungan sosialnya. Panggung depan kaum Gay ini terbagi menjadi dua yaitu lingkungan rumahnya atau keluarga dan lingkungan masyarakat. Berdasarkan situasi yang penulis temukan dalam proses wawancara dan observasi, dapat disimpulkan bahwa kaum gay juga membutuhkan tempat di mana mereka dapat bersantai dengan orang-orang di sekeliling mereka tanpa harus berpura-pura dan bisa seutuhnya menjadi diri sendiri sebagai seorang gay. Maka terciptalah panggung belakang ini yang merupakan panggung pribadi bagi kaum gay untuk berinteraksi dengan rekannya yang sesama gay. Kata Kunci: Dramaturgi. Kaum Gay. PENDAHULUAN Ketertarikan sensasi seksual dan perilaku individual dengan gender yang sama atau disebut juga sebagai Homoseksual semakin marak terjadi dan terkesan semakin berani menunjukkan eksistensinya. Perilaku ini memiliki pola yang bisa dibilang berkelanjutan atau disposisi seperti pengalaman seksual, kasih sayang, atau ketertarikan romantis yang eksklusif terhadap orang lain yang juga berjenis kelamin Sebuah relasi hubungan yang heteroseksual pada umumnya bersifat kompulsif dan menetap. Oleh karena itu, disfungsi seksual serta hubungan seks yang 1432 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1432-1445 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. menyimpang (Homoseksua. merupakan satu aspek dari gangguan kepribadian dan merupakan penyakit neurotis (Kartika, 2. Dede Oetomo . mengatakan bahwa banyak anggota masyarakat kita yang sudah mulai mengenal fenomena homoseksualitas masih menganggapnya sesuatu yang tidak wajar, penyimpangan, kelainan, penyakit, bahkan dosa. Tulisantulisan dalam bagian ini semuanya berusaha membongkar kekeliruan itu, dengan menunjukkan kenyataan yang ada di masyarakat kita, dan juga pandangan para pakar sains mengenai fenomena ini. Di sini dapat dibaca kisah-kisah nyata yang serba kompleks mengenai gender dan seksualitas yang tidak selalu pas dengan cetakan yang dikehendaki masyarakat (Oetomo:2. Munculnya fenomena homoseksual ini tidak terlepas daripada budaya masa lalu dari individu yang terlibat di dalamnya. Dalam ruang lingkup sosial, kelompok homoseksual yang paling mudah untuk di deteksi atau dilihat dengan kasat mata adalah kelompok homoseksual gay. Dari segi penampilan, karakteristik gay ini berpenampilan modis dan trendy daripada laki-laki pada umumnya, bahkan pakaian atau aksesoris yang digunakan pun tak jarang menggunakan menyerupai wanita. Sebagaimana disebutkan dari sisi penampilan, kaum gay dari sisi gestur atau pun sebagian besar tidak seperti laki-laki pada umumnya, yang mana mereka memiliki gestur yang lebih gemulai dan lembut seperti wanita. Komunitas gay menginginkan kehidupan yang lebih serius dengan pasangan sesama jenisnya seperti ke jenjang pernikahan. Meskipun di beberapa negara, pernikahan homoseksual sudah dilegalkan. Berbeda dengan di Indonesia, kontrol budaya dan agama masih sangat kuat melakukan proteksi terhadap budaya yang dianggap menyimpang ini. sehingga anggota komunitas Gay tidak berani untuk menampakkan perilaku ini muncul ke permukaan secara terang-terangan. Kegiatan mereka masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi dalam komunitas yang terbatas. Disisi lain komunitas gay tetap harus bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat Risiko yang harus diterima adalah beragam dilema dihadapi oleh anggota komunitas tersebut. Karena tidak adanya dasar hukum agama dan negara serta kultur masyarakat Indonesia yang memang tidak memberi ruang pada kelompok yang dianggap menyimpang ini. Dampaknya komunitas ini selalu mengalami kesulitan untuk bisa melegalkan ikatan mereka hingga pada status pernikahan. maka tak jarang dari mereka ada yang menjajakan dirinya atau terlibat prostitusi sesama jenis. Bahkan dalam beberapa kasus yang pernah terungkap dan diberitakan oleh media pun tak jarang pria yang sudah berkeluarga juga turut AumembeliAy jasa ini. Di Indonesia sendiri dalam menanggapi isu ini. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan serius mengeluarkan fatwa tentang penyimpangan ini pada tanggal 31 Desember 2014. Komisi Fatwa dengan seluruh anggotanya yang kurang lebih 50 ulama dari berbagai ormas Islam berkumpul dan menyepakati fatwa tentang homoseksualitas, sodomi, dan pencabulan, yang mencantumkan beberapa ketentuan sebagai berikut: Pertama, hubungan seksual hanya dibolehkan untuk suami istri, yakni pasangan laki-laki dan wanita berdasarkan pernikahan yang sah secara syarAoi. 1433 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1432-1445 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Kedua, orientasi seksual terhadap sesama jenis atau homoseksual adalah bukan fitrah tetapi kelainan yang harus disembuhkan. Ketiga, pelampiasan hasrat seksual kepada sesama jenis hukumnya haram. Tindakan tersebut merupakan kejahatan atau jarimah dan pelakunya dikenakan hukuman, baik had maupun takzir oleh pihak yang berwenang. Keempat, melakukan sodomi hukumnya haram dan merupakan perbuatan maksiat yang mendatangkan dosa besar dan pelakunya dikenakan had untuk Kelima, pelampiasan hasrat seksual dengan sesama jenis selain dengan cara sodomi hukumnya haram dan pelakunya dikenakan hukuman takzirAy . id diakses pada 17 Oktober 2. Di kota-kota besar kelompok ini sangat mudah untuk di jumpai, bahkan tak jarang dari mereka membuat sebuah komunitas yang memang ditujukan untuk kebebasan berekspresi dan menunjukkan ketertarikannya untuk saling menerima diri mereka masing-masing. Sebagaimana yang disampaikan oleh Erving Goffman dengan Impression Management yang memiliki pengertian kemampuan individu untuk mengatur tingkah lakunya di segala sesuatu dalam dirinya agar tersampaikan suatu citra diri yang ingin ditunjukan. Di bengkulu sendiri kelompok ini masih sangat sulit untuk di deteksi atau ditemukan, dalam arti lain mereka masih berbaur atau membentuk kelompok yang isinya masih ada non homoseksual, oleh karenanya mereka pun juga di tuntut untuk tetap menjaga perilakunya di hadapan lingkungan yang heteroseksual. Impression Management ini terdapat dalam suatu konsep yang lebih besar dari Goffman yaitu teori dramaturgi, di mana teori ini mengungkap bahwa banyak terdapat kesamaan antara Pementasan teater dengan berbagai jenis peran yang kita mainkan dalam interaksi dan tindakan seharian. Dalam dramaturgi, interaksi sosial dimaknai sama dengan pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui pertunjukan dramanya sendiri. Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep dramaturgi, manusia akan mengembangkan perilakuperilaku untuk mendukung perannya tersebut. Dramaturgi yang coba dibangun oleh kelompok gay ini terbilang cukup sulit, karena sebagian besar dari mereka kesulitan untuk membangun gestur yang maskulin sehingga identitas mereka masih sangat mudah untuk diketahui terutama di Kota Bengkulu. berbeda dengan posisi belakang panggung yang mereka jalani dimana mereka dengan bebas mengekspresikan diri mereka dengan apa yang mereka anggap sebagai sebuah identitas, seperti gestur yang lebih feminin. Meski demikian didalam ruang lingkup media sosial, mereka cukup berani untuk saling berinteraksi secara terbuka, karena sejatinya mereka di media sosial bisa dengan sangat mudah menyamarkan identitas meskipun interaksi mereka dilihat oleh orang awam atau kaum Straight . on LGBT). Dalam penelitian awal yang telah dilakukan, peneliti menemukan fakta dari beberapa orang yang peneliti kenal, baik teman sendiri maupun kenalan dari teman. Sejauh ini mereka yang tergabung dalam komunitas Gay berusaha agar perilaku menyimpang mereka cukup diketahui dari sebuah gestur 1434 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1432-1445 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. yang kemayu saja, tidak sampai kepada hal-hal yang mengarah kepada konteks Secara simbolik mereka ingin menunjukkan bahwa mereka seorang Gay dari sebuah gestur bukan berdasarkan orientasi seksualnya. Atau pada dasarnya gestur AukemayuAy sebagai sebuah simbol sudah dipahami oleh mereka yang berada dalam satu komunitas gay. Pada penelitian awal ini juga peneliti mencoba untuk menganalisis media sosial yang berkaitan dengan aktivitas gay. Pada ruang digital terkhusus media sosial peneliti menemukan fakta bahwa mereka tanpa rasa malu saling berinteraksi secara vulgar dengan menggunakan Second Account media sosial mereka atau akun Alter Ego yang mana akun tersebut sangat berlawanan dengan diri mereka ketika menampilkan diri di akun utama. Akun pertama dibuat sebagai panggung depan untuk mempresentasikan dirinya secara positif dan berjalan sebagaimana kodratnya. Sementara pada Second Account ini mereka dengan sangat bebas menjadi diri mereka sendiri tanpa takut untuk di hakimi dan diketahui oleh keluarga, kerabat atau teman mereka di dunia nyata. Secara vulgar komunitas anggota komunitas gay mencari pasangan sesama jenis bahkan walau hanya untuk mendapatkan kepuasan semata sebagaimana yang terlihat pada gambar screenshoot dari grup Facebook dengan anggota lebih dari 1. 400 orang sebagai berikut: Gambar 1. Grup Facebook Gay Kota Bengkulu. Haryanto dan Nugrohadi . 1:213Ae. memaparkan kehidupan sosial manusia dimulai dengan relasi sosial manusia, relasi tersebut mempunyai bentuk konkret sesuai dengan nilai-nilai sosial dalam suatu masyarakat. Salah satu kunci kehidupan sosial adalah interaksi sosial, interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan dinamis. Manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial merupakan gabungan dari aspek individu sebagai perwujudan dirinya sendiri dan makhluk sosial sebagai anggota kelompok ataupun masyarakat. Tidak terkecuali kehidupan yang dijalani 1435 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1432-1445 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. kaum gay yang tidak lepas pula dari lingkup hubungan sosial dan interaksi sosial dimana mereka harus membentuk panggung yang tepat agar dapat diakui sebagai bagian dari masyarakat yang dipandang secara kaum normal lainnya. Dalam ruang lingkup keluarga pun kaum gay ini harus sangat berhati-hati, karena keluarga merupakan lingkungan pertama yang harus mereka hadapi sehingga membutuhkan cara tertentu yang benar-benar bisa menutupi identitas mereka sebagai kaum gay. Guru Besar Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga IPB. Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti. Si. Dalam sebuah Seminar dan Lokakarya Nasional (SEMILOKNAS) pada Rabu . /8/2. yang diselenggarakan oleh Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, memaparkan bahwa: AuAngka gangguan jiwa jenis ini yang dinilai cukup besar di Indonesia. Menurut Euis, khusus untuk kasus LSL . elaki sama lelak. atau homoseksual, ada peningkatan signifikan berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2012. Jika tahun 2009 totalnya diperkirakan 800 ribu jiwa, pada tahun 2012 diperkirakan jumlahnya meningkat menjadi 1. 970 di Indonesia. Namun ia menerangkan, angka sebenarnya diperkirakan jauh lebih besar. Ay . com diakses 5 November 2. Berdasarkan pendataan yang dilakukan Kantong Informasi Pemberdayaan Kesehatan Adiksi (Kipa. Bengkulu dari portal berita online Bengkulu Ekspress, untuk Kota Bengkulu sendiri pelaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) terus Berdasarkan pendataan yang dilakukan Kantong Informasi Pemberdayaan Kesehatan Adiksi (Kipa. Bengkulu terdapat ada 3. 754 orang yang menyukai sesama jenis. Sebanyak 1. 202 orang dari kalangan lelaki suka lelaki . dan waria sebanyak 162 orang. Hasil temuan Kantong Informasi Pemberdayaan Kesehatan Adiksi (Kipa. Bengkulu di lapangan juga sangat mengejutkan, karena selain dari kalangan muda, perilaku gay ini ada dari kalangan PNS, pengusaha bahkan pria beristri. Jumlah dari kalangan PNS, pengusaha dan pria beristri ini juga cukup Hanya saja mereka lebih rapat menyembunyikan perilakunya. Melihat dari apa yang disampaikan Kantong Informasi Pemberdayaan Kesehatan Adiksi (Kipa. Bengkulu bahwa kaum Gay secara rapat menyembunyikan perilakunya yang berarti mereka memiliki cara sendiri untuk membentuk identitas diri sebagaimana mereka bersikap normal dalam kehidupan untuk ditampilkan dan menutupi orientasi seksualnya di hadapan masyarakat. Berdasarkan apa yang penulis uraikan pada tulisan di atas, maka penulis merasa perlu untuk mengangkat masalah ini ke dalam penelitian dengan judul AuAnalisis Dramaturgi Kaum Gay Kota BengkuluAy terkait interaksi mereka di luar dan di dalam komunitas mereka sendiri. TINJAUAN LITERATUR Homoseksualitas Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), homoseksual merupakan keadaan di mana seseorang tertarik terhadap orang dan jenis kelamin yang sama (KBBI, 2. Kamus Bahasa Melayu Nusantara memberikan dua definisi tentang 1436 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1432-1445 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. homoseksual yakni. pertama, homoseksual adalah individu yang tertarik nafsu syahwatnya kepada sejenis dengannya. Kedua, homoseksual orang yang berada dalam keadaan tertarik terhadap orang dengan jenis kelamin yang sama. cenderung kepada hubungan sejenis. Siti Musdah Mulia . dalam Jurnal Gandrung mendefinisikan homoseksualitas sebagai seseorang yang memiliki orientasi seksual dengan sesama jenis kelamin. Djalinus . juga memberi pengertian bahwa homoseksual adalah orang dalam keadaan tertarik terhadap orang lain dari jenis kelamin yang sama. Meskipun demikian, pada hakikatnya homoseksual bukan hanya tentang kontak seksual antara dua orang dalam jenis kelamin yang sama melainkan juga menyangkut tentang psikologis, emosional, dan sosial masing-masing. Pada kasus homoseksual, individu yang mengalami disorientasi seksual tersebut mendapatkan kenikmatan fantasi seksual melalui pasangan sejenisnya (Allyn dan Bacon, 1. Gay Sebutan Gay sering kali digunakan untuk menyebut pria yang memiliki kecenderungan mencintai sesama jenis. Definisi Gay yakni lelaki yang mempunyai orientasi seksual terhadap sesama lelaki (Duffy & Atwater, 2. Michael dkk (Kendal, 1. , mengidentifikasikan tiga kriteria dalam menentukan seseorang itu homoseksual, yakni ketertarikan seksual terhadap orang yang memiliki kesamaan gender dengan dirinya, keterlibatan seksual dengan satu orang atau lebih yang memiliki kesamaan gender dengan dirinya, dan mengidentifikasi diri sebagai gay atau Kerangka Berpikir Realita dalam kehidupan di masyarakat terdapat orientasi seksual selain heteroseksual yaitu homoseksual. Karena orientasi seksual ini bertentangan dengan nilai norma sosial serta agama yang ada di masyarakat Indonesia. Sehingga, menimbulkan pro dan kontra di masyarakat dan pilihan orientasi seksual yaitu homoseksual sampai saat ini masih tidak diakui oleh masyarakat Indonesia. Karena adanya pro dan kontra di masyarakat mengenai keberadaan homoseksual . , akhirnya individu gay melakukan tindakan berupa pengelolaan kesan sebaik mungkin dengan cara menyampaikan informasi berupa pesan verbal maupun Maka, dalam kajian penelitian ini penulis menggunakan teori pengelolaan kesan pendekatan studi dramaturgis dari Ervin Goffman. Dalam teori tersebut Goffman mengasumsikan bahwa ketika orang-orang berinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu presentasi diri yang akan diterima orang lain. dengan proses produksi identitas tersebut, dalam perspektif dramaturgis, kehidupan ini ibarat teater, interaksi sosial yang mirip dengan pertunjukan di atas panggung, yang menampilkan peran-peran yang dimainkan aktor. Ketika individu gay melakukan kegiatan untuk menumbuhkan kesan tertentu di hadapan orang lain. Dalam proses tersebut terjadi realitas sosial individu gay dalam 1437 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1432-1445 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. mempertunjukkan gambaran idealis mengenai diri mereka. Sehingga, hasil akhirnya menghasilkan Analisis Dramaturgi Kaum Gay Kota Bengkulu. Gambar 2. Kerangka Berpikir METODE PENELITIAN Penulis menggunakan penelitian exploratif kualitatif untuk memberikan gambaran dasar mengenai topik bahasa, mengembangkan teori yang bersifat tentatif, serta menentukan teknik dan arah yang akan digunakan dalam penelitian berikutnya. Penelitian analisis Dramaturgi kaum Gay Kota Bengkulu dalam Interaksi Sosial akan memperlihatkan perilaku dalam keluarga, kelompok sesama, dan lingkungan sosial lainnya yang dijalani oleh subjek penelitian. Seperti yang diketahui. Gay sebagai pencinta sesama jenis merupakan sebuah orientasi seksual yang dipilih namun banyak mendapatkan penolakan dari masyarakat sekitar. Sehingga gay membuat ruang identitas sesuai dengan panggung teater yang telah dibentuk. Dalam penelitian ini, penulis membagi informan menjadi dua, yaitu informan kunci merupakan individu yang memiliki pengalaman, pengetahuan dan termasuk ke dalam komunitas gay yang memiliki ruang identitas secara tampak dalam komunitas gay atau keluarganya sendiri dan informan pendukung merupakan teman dekat informan kunci yang terlibat dalam proses interaksi dalam ruang identitasnya masing-masing baik dengan komunitas gay. Teknik pengumpulan data menggunakan Teknik wawancara, observasi dan studi pustaka. Dikarenakan penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif maka dalam analisis data, penulis menggunakan Model Miles dan Huberman yaitu: Reduksi Data (Reductio. Penyajian Data (Displa. , dan Pengambilan Kesimpulan (Verificatio. 1438 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1432-1445 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis dramaturgi yang dilakukan pada kaum Gay meliputi manipulasi simbol dalam konteks gaya berbicara, cara berpakaian, serta sikap dan perilaku atau Bahasa tubuh yang berada pada ruang lingkup lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sesama gay. Dimulai dengan bagaimana cara kaum gay kota Bengkulu ini bersikap ketika berinteraksi dengan rekannya. Dalam situasi yang mereka atur, seorang kaum gay membatasi sikap mereka ketika berada di panggung Hal ini, bertujuan untuk menutupi identitas mereka yang masih menjadi Sementara dalam ruang lingkup sesama gay, mereka akan lebih terbuka dalam berbagai hal dan menganggap hal ini dapat menjadikan diri mereka lebih percaya diri dalam menjalani kehidupan sebagai seorang gay. Panggung depan kaum Gay ini terbagi menjadi dua yaitu lingkungan rumahnya atau keluarga dan lingkungan masyarakat. Dalam wawancara yang telah dilaksanakan bersama ketiga informan kunci dan satu informan tambahan dari masing-masing informan kunci, maka disimpulkan bahwa kaum gay memerankan peran sosial ketika berinteraksi dengan lingkungan sosialnya menjalankan pengendalian penuh atas identitas diri mereka dengan baik. Ketika memerankan peran di panggung depan, maka seorang kaum gay kota Bengkulu ini melakukan manipulasi simbol-simbol seperti gaya berbicara, penampilan dan gaya berpakaian, serta body language atau Bahasa tubuh dalam bersikap maupun berperilaku dalam lingkup lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Front stage yang ditampilkan kaum gay adalah dengan tertutupnya mengenai identitas diri sebagai Di depan lingkungan keluarga maupun di lingkungan masyarakat, mereka benarbenar menunjukkan sosok yang seperti laki-laki straight atau normal. Dengan penampilan mereka hingga tutur bahasa mereka batasi guna tampil sempurna di depan publik. Saat berada pada panggung depan, kaum gay sepenuhnya akan berubah dan tidak seperti yang ditemukan pada panggung belakang. Kaum gay yang dalam hal ini di gay kota Bengkulu menjadi pribadi yang benar-benar menampilkan apa yang diharapkan oleh khalayak dalam panggung depan, bukan seperti apa yang kaum gay ini inginkan. Kaum akan gay berperan layaknya aktris atau aktor dalam suatu pertunjukan drama panggung, dalam hal ini kondisi akting di front stage adalah adanya penonton melihat mereka sedang berada dalam kegiatan pertunjukan. Mereka akan berusaha dengan keras memainkan peran yang sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku mereka. Sebagaimana dalam proses komunikasi yang dilakukan ketiga informan kunci ini pada panggung depan ketika berada di lingkungan masyarakat terdapat perbedaan pada masing-masing informan Pada informan kunci pertama dan kedua yaitu A dan B yang mana pada dasarnya mereka memiliki karakter yang mudah untuk dekat dengan orang baru sementara informan kunci ketiga yaitu C merupakan pribadi yang sedikit tertutup dan lebih kalem. Dalam proses wawancara dan observasi yang penulis lakukan terhadap sikap dan tingkah laku informan kunci A dan C, penulis melihat bahwa kedua informan kunci tidak seperti yang dibayangkan bahwa kenyataannya mereka 1439 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1432-1445 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. berdua adalah gay, yang mana kedua informan kunci A dan C memiliki perawakan dan suara seperti layaknya laki-laki pada umumnya. Informan kunci A dengan postur tubuh yang tinggi tegap dan berotot, kulit yang bersih serta mengenakan kaos berkerah dan celana jeans panjang sementara informan kunci C dengan perawakan yang tinggi sedikit kurus dengan mengenakan kemeja flannel dan celana jeans Panjang. Bahkan body language yang ditampilkan informan kunci A dan C ini seutuhnya seperti laki-laki straight atau laki-laki normal pada umumnya. Sementara informan kunci kedua yaitu B dalam mengelola panggung depan dengan sedemikian rupa ketika berada di hadapan lingkungan sosialnya, yang mana informan kunci B dapat berada dalam lingkungan maskulin maupun feminis secara bersamaan, sebagai contoh ketika informan B berada dalam kegiatan hajatan warga, dalam waktu yang bersamaan informan B dapat turut serta dalam kegiatan kaum lakilaki seperti Menyusun panggung atau mengangkat kursi dalam jumlah banyak, sementara ketika berpindah dalam kegiatan kaum wanita, informan kunci B turut serta pula dalam kegiatan dapur seperti memasak makanan untuk hajatan bahkan mengambil sebagian besar peran dalam memasak. Dalam situasi ketika informan kunci B berada dilingkungan kaum wanita terutama ibu-ibu, informan kunci B akan menjadi pribadi yang lebih ramai dan mampu menghidupkan suasana dibandingkan pada lingkungan pria atau bapak-bapak. informan kunci B pada dasarnya merupakan individu dengan karakter pribadi yang ceria dan mudah dekat dengan orang yang baru dikenal. Gaya berbicaranya yang blak-blakan dan body language yang sedikit seperti kewanita-wanitaan. Meskipun demikian penampilan yang diperlihatkan oleh informan kunci B, hal tersebut tidak membuat teman-teman informan kunci B menjadi curiga atau menyadari akan jati dirinya sebagai gay. Karena informan kunci B bersikap seperti itu hanya pada situasi tertentu saja, dan hanya dengan temanteman dekatnya saja. Kaum gay dalam menceritakan dirinya kepada seseorang tidak secara sembarangan, mereka hanya memilih orang-orang yang dapat dipercaya. Hal ini guna menjaga agar identitas mereka sebagai seorang gay tidak menyebarluas kepada Semua hal akan dilakukan kaum gay, agar kerahasiaan hidup mereka dapat tersimpan dengan rapih tanpa diketahui masyarakat. Menurut Goffman dalam Mohammad Ali . , dalam studi dramaturgis itu terjadi pada orang-orang yang mendapatkan discreditable yang merupakan stigma yang perbedaannya tidak diketahui oleh anggota penonton, yaitu dalam penelitian ini kaum gay kota Bengkulu. Masalah studi dramatugis mendasar bagi seseorang yang mempunyai stigma discreditable adalah analisis dramaturgi atau pengelolaan informasi sedemikian rupa sehingga masalahnya tetap tidak diketahui orang lain. Kaum gay merupakan bagian dari individu yang memiliki peran sebagai makhluk Mereka berkomunikasi dengan semua orang, tidak terkecuali dengan masyarakat di sekeliling mereka yang mayoritas masyarakat heteroseksual dan khususnya di Kota Bengkulu. Mempunyai pilihan orientasi seksual yang berbeda dengan mayoritas di lingkungan sosialnya, tentu saja tidak mudah bagi kaum gay. Karena, pilihan menjadi seorang gay masih tidak dapat diterima. Sehingga, kaum gay melakukan sebuah drama atau teknik-teknik analisis dramaturgi untuk menyembunyikan jati dirinya sebagai seorang gay agar masyarakat mayoritas 1440 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1432-1445 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. heteroseksual tersebut tidak mengetahui jati dirinya sebagai seorang gay. Hal berbeda terlihat pada identitas yang ditampilkan dipanggung depan. Apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka harapkan dari dunia panggung depan terhadap peran yang mereka lakukan. Dalam situasi panggung belakang, kaum gay kota Bengkulu ini menjadi lebih santai dan bisa menjadi diri mereka yang apa adanya tanpa harus ada yang ditutupitutupi. Hal ini nampak sebagaimana dalam observasi yang didapatkan saat penulis turun langsung kelapangan dengan secara terpisah dalam suatu waktu dan tempat yang berbeda saat berada ditengah-tengah ketiga informan kunci yang sedang berinteraksi dengan teman dekat sesama gay-nya. Mereka benar-benar nampak terlihat jelas sangat nyaman dan bahan obrolan yang jauh lebih bebas dan sedikit vulgar seperti membahas seks, hubungan berpacaran dan percintaan yang mereka lakukan bersama dengan pasangan sesama jenis mereka. kaum gay menjalankan sebuah peran yang utuh atau sesungguhnya ketika berada pada panggung belakang, mereka tidak akan menunjukkan bagaimana aslinya mereka seperti pada saat berada dipanggung depan yang sejatinya menutupi identitas mereka. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara bersama seluruh informan, bahwa mereka akan menampilkan karakter diri mereka yang seutuhnya saat di belakang panggung. Panggung belakang atau Back stage yang ditampilkan kaum gay suatu keadaan dimana mereka berada di belakang panggung dengan situasi dan kondisi tanpa penonton yang dalam hal ini adalah khalayak yang menginginkan mereka bersikap sebagaimana harapan mereka, sehingga mereka dapat berperilaku bebas tanpa memedulikan tuduhan atas perilaku yang mereka tampilkan. Dalam pengamatan penulis terhadap Informan kunci pertama yaitu A, penulis berencana membuat janji terlebih dahulu sebelum mewawancarai A yang saat itu juga mengajak rekan kerjanya di sebuah coffee shop di sekitar jalan Tanah Patah kota Bengkulu. A menggunakan pakaian yang rapih yaitu kemeja, celana jeans, dengan rambut yang disisir rapi dan klimis, mengenakan jam tangan, serta memakai parfum yang beraroma maskulin. Penulis saat itu mengamati bagaimana informan kunci A saat berbicara dengan teman-temannya selayaknya laki-laki umumnya atau straight dan tidak terdapat juga bahasa khusus yang digunakan saat dia berbicara dengan teman-temannya. Pembahasan yang mereka bicarakan benar-benar bahasan seorang laki-laki secara umum yaitu mengenai sepakbola, film, politik, dan game. Saat pertemuan kedua, penulis bertemu dengan informan kunci A bersama dengan pasangan gay-nya di sebuah cafy dengan suasana yang cukup sepi dan tenang di dekat pantai panjang, penulis mengamati bahwa informan kunci A tetap berperawakan lakilaki normal pada umumnya, sementara rekan gay-nya agak sedikit kemayu, mereka bertingkah laku selayaknya pasangan laki-laki dan perempuan. Pada proses observasi dan wawancara selanjutnya penulis bertemu dengan informan kunci kedua yaitu B, penampilan yang diperlihatkan B benar-benar seperti orang yang hobi melakukan perawatan kecantikan dan kebersihan kulit. Cara berpakaian yang diperlihatkan informan kunci B lebih santai dari informan kunci A yaitu menggunakan kaos oblong polos berwarna putih, mengenakan kalung berwarna emas celana pendek, mengenakan jam tangan dan sepatu sporty. Informan kunci kedua ini menggunakan bahasa Bengkulu saat bersama rekannya dan Indonesia 1441 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1432-1445 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. ketika bertemu. Saat penulis bertemu dengan Informan kunci kedua ini sedang bersama 2 rekan gay-nya dan satu orang rekan perempuannya. Pembahasan yang mereka bicarakan mengenai gossip terbaru seputar selebritis hubungan percintaan mereka dengan pasangan sesama jenisnya dan tak sedikit membahas tentang seks. Sedangkan. Informan kunci ketiga yaitu C saat penulis temui sedang bersama dua rekan kampusnya yang salah satunya mengetahui status gay dari informan kunci C, untuk kemudian penulis wawancarai dengan meja terpisah agar rekan yang satunya lagi tidak mendengarkan pembicaraan kami. Adapun yang dibahas informan kunci C bersama rekan-rekannya terkait dengan tugas kampus, game dan organisasi. Berdasarkan situasi yang penulis temukan dalam proses wawancara dan observasi, dapat disimpulkan bahwa kaum gay juga membutuhkan tempat di mana mereka dapat bersantai dengan orang-orang di sekeliling mereka tanpa harus berpura-pura dan bisa seutuhnya menjadi diri sendiri sebagai seorang gay. Maka terciptalah panggung belakang ini yang merupakan panggung pribadi bagi kaum gay untuk berinteraksi dengan rekannya yang sesama gay. Rasa nyaman dan kepuasan biologis yang didapat dari pasangan sesama gay menjadi alasan kaum gay ini masih bertahan dengan kehidupan yang saat ini mereka jalani, dimana dengan perasaan yang nyaman pula kaum gay ini bebas mencurahkan berbagai masalah yang berkaitan dengan orientasi mereka sebagai seorang gay baik hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari baik dalam urusan percintaan, ataupun masalah hidup yang lain yang dapat kaum gay ceritakan kepada temanteman sesama gay-nya. Ketiga informan kunci yang penulis temui sependapat bahwa pentingnya mendapatkan teman yang sama-sama dapat saling menjaga rahasia akan jati dirinya sebagai gay. Sehingga, ketika kaum gay ini merasa leluasa bersikap saat berada dipanggung belakang daripada ketika mereka berada di panggung depan, yang mana kaum gay ini akan berusaha lebih keras untuk menutupi identitas dirinya. Bagaimanapun seorang kaum gay menampilkan dua pribadi dalam dua panggung yang mereka jalani. Kemampuan untuk mengolah dan memanipulasi simbol di masing-masing panggung tentu saja harus mereka kuasai dan menjadi memiliki tantangan tersendiri. Sehingga kedua panggung yang memiliki karakter dan ciri yang berbeda tetap harus mereka jalani dengan hati-hati. Pada saat individu hadir dan beraktivitas untuk dirinya dan orang lain, ia mengatur dan mengontrol kesan yang dibentuk oleh individu tersebut (Goffman, 1959:. Pengelolaan kesan pada situasi panggung yang dihadapi merupakan istilah yang dikemukakan Goffman yakni AuBahwa ketika orang-orang berinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akan diterima orang lain. Ay Dramaturgi mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam mencapai tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut. Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada AukesepakatanAy perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud interaksi sosial Bermain peran merupakan salah satu alat yang dapat mengacu kepada tercapainya kesepakatan tersebut. Sehingga dalam hal ini setiap individu gay yang memainkan peran tersebut dapat mencapai kesepakatan perilaku agar diterima oleh berbagai kalangan dalam kehidupan mereka. 1442 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1432-1445 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Pembahasan Dalam penelitian kualitatif analisis data merupakan tahap untuk menelaah data yang diperoleh dari beberapa informan yang telah dipilih selama penelitian Selain itu juga berguna untuk menjelaskan dan memastikan kebenaran temuan penelitian. Analisis data ini telah dilakukan sejak awal penelitian dan bersamaan dengan proses pengumpulan data di lapangan. Tahap analisis data merupakan tahap untuk mengolah data yang telah dikumpulkan sebelumnya, pada tahap ini peneliti menjabarkan data dari para informan atau narasumber dan menggabungkan dengan konsep-konsep dan kajian pustaka. Pada penelitian ini peneliti memfokuskan pada bagaimana analisis Dramaturgi kaum Gay Kota Bengkulu terkait interaksi mereka di luar dan di dalam komunitas mereka sendiri. Dimana kajian penelitian ini menggunakan teori dari Ervin Goffman yaitu teori analisis dramaturgi (Impression Managemen. pendekatan studi dramaturgis. KESIMPULAN Dramaturgi kaum gay membutuhkan wilayah yang disebut sebagai panggung sebagai tempat aktor dalam memainkan fungsi dan perannya agar dapat terlihat oleh Front stage atau panggung depan dan back stage atau panggung belakang yang merupakan tempat bagi individu gay dalam membangun interaksi dengan lingkungan sosialnya. Panggung depan kaum Gay ini terbagi menjadi dua yaitu lingkungan rumahnya atau keluarga dan lingkungan masyarakat. Berdasarkan situasi yang penulis temukan dalam proses wawancara dan observasi, dapat disimpulkan bahwa kaum gay juga membutuhkan tempat di mana mereka dapat bersantai dengan orang-orang di sekeliling mereka tanpa harus berpura-pura dan bisa seutuhnya menjadi diri sendiri sebagai seorang gay. Maka terciptalah panggung belakang ini yang merupakan panggung pribadi bagi kaum gay untuk berinteraksi dengan rekannya yang sesama gay. Saat berada pada panggung depan, kaum gay sepenuhnya akan berubah dan tidak seperti yang ditemukan pada panggung belakang. Kaum gay yang dalam hal ini di gay kota Bengkulu menjadi pribadi yang benar-benar menampilkan apa yang diharapkan oleh khalayak dalam panggung depan, bukan seperti apa yang kaum gay ini inginkan. Kaum gay menjalankan sebuah peran yang utuh atau sesungguhnya ketika berada pada panggung belakang, mereka tidak akan menunjukkan bagaimana aslinya mereka seperti pada saat berada dipanggung depan yang sejatinya menutupi identitas mereka. SARAN Bagi orang tua dan keluarga diharapkan untuk dapat memberikan kasih sayang yang seimbang antara ibu dan ayah kepada anak laki-laki. Bagi orang tua terutama ibu disarankan agar tidak terlalu memanjakan anak laki-laki walaupun anak tersebut merupakan anak tunggal dan dapat memberikan kasih sayang kepada anak secara wajar dan tidak berlebihan. Selain itu disarankan bagi orang tua untuk tidak meremehkan atau membiarkan anak laki-laki yang terus berperilaku seperti perempuan yang selalu bermain dan memainkan permainan perempuan. 1443 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1432-1445 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Bagi masyarakat untuk selalu bersiaga dan mengawasi lingkungan sekitarnya terhadap perilaku-perilaku yang mencurigakan terutama kepada pelecehan seksual anak oleh oknum gay yang tidak bertanggung jawab. Serta masyarakat tidak menganggap remeh dan menyepelekan bahwa perilaku yang kemayu atau banci sebagai hiburan semata. Selain itu sering terjadinya denial atau penolakan masyarakat terhadap gay adalah suatu masa yang krusial bagi seseorang individu untuk mencari identitas gendernya. Maka diharapkan masyarakat maupun orang tua subjek dapat memberikan pengarahan yang bersifat bersahabat, tidak langsung menghakimi dengan menakut-nakuti atau mengutuk. Tapi diarahkan secara santun untuk mencari informasi-informasi atau mendekatkan pada pola konstruksi sosial masyarakat setempat. Bagi pemerintah agar dapat memberikan batasan dan pengawasan yang ketat terhadap media telekomunikasi atau media sosial terkait dengan praktik LGBT yang terjadi di kota Bengkulu khususnya dan di Indonesia umumnya. Peneliti menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penelitian ini, peneliti menyarankan kepada peneliti selanjutnya yang akan menggunakan topik yang sama, diharapkan dapat memperdalam bagaimana subjek dapat bangkit dari kondisi terpuruk ketika lingkungan sekitar melakukan diskriminasi dan penolakan, agar ia dapat lebih mampu mengendalikan sikap serta emosinya. DAFTAR PUSTAKA