INFORMATIKA: JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. No. Desember 2025 Hal. e-ISSN: 2774-7921 Literasi Digital untuk Pencegahan Bullying dan Pembentukan Karakter Siswa Siti Sufaidah1. Muhammad Iqbal Nashrullah2. Ibrahim3*. Arif Abdur Roofiq4 . Septian Dwi Wahyu5. Mursyid Hero Sejati6. Achsanul Khuluq Izzulchaq7. Ahmad Nur Wahid8. Chairul Anam9. Sistem Informasi. Universits KH. Wahab Hasbullah Pascasarjana. Universits KH. Wahab Hasbullah Manajemen. Universits KH. Wahab Hasbullah Pendidikan Agama Islam. Universits KH. Wahab Hasbullah 5,6,7 Informatika. Universits KH. Wahab Hasbullah STIE Mahardhika *Email: ibrahim@unwaha. ABSTRACT The development of information and communication technology has led to the increasing use of social media among elementary school students. This condition poses serious challenges, particularly regarding low levels of digital literacy and the prevalence of bullying behavior, both directly and through social media . This community service program aims to improve studentsAo digital literacy, especially in understanding morals and ethics in using social media. The program was carried out in three stages, namely preparation, implementation, and evaluation, targeting fourth to sixth grade The partner in this activity was SDN Talun Kidul, involving the principal and teachers. The results of the program indicate positive changes among students. After the activity, students were able to distinguish between good and bad behavior, reduce the use of negative language, demonstrate mutual respect, and show the courage to reprimand peers engaged in bullying. The program concluded with an anti-bullying declaration as a collective commitment to creating a safe and conducive school Thus, digital literacy socialization has proven effective in fostering studentsAo wisdom, empathy, and social responsibility. This program is recommended to be implemented sustainably by involving students, teachers, parents, and schools to build a positive culture in the use of social media. Keywords: Digital Literacy. Cyberbullying. Social Media ABSTRAK Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mendorong meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan anak usia sekolah dasar. Kondisi ini menimbulkan tantangan serius, terutama terkait rendahnya literasi digital dan maraknya perilaku perundungan, baik secara langsung maupun melalui media sosial . Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi digital siswa, khususnya dalam memahami akhlak dan etika bermedia sosial. Program dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan sasaran utama siswa kelas IV-VI. Mitra pada pengabdian ini adalah SDN Talun Kidul, dengan melibatkan kepala sekolah dan guru. Hasil kegiatan menunjukkan adanya perubahan positif pada siswa. Setelah kegiatan, siswa mampu membedakan perilaku baik dan buruk, mengurangi penggunaan bahasa negatif, menunjukkan sikap saling menghargai, serta berani menegur teman yang melakukan bullying. Kegiatan juga ditutup dengan deklarasi anti-bullying sebagai bentuk komitmen bersama menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan kondusif. Dengan demikian, sosialisasi literasi digital terbukti efektif dalam menumbuhkan sikap bijak, empati, dan tanggung jawab sosial siswa. Program ini direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan siswa, guru, orang tua, dan sekolah agar tercipta budaya positif dalam penggunaan media sosial. Kata Kunci: Literasi Digital. Cyberbullying. Media Sosial Jumat Informatika: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 Desember 2025 PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk pada anak-anak usia sekolah dasar. Salah satu bentuk perkembangan tersebut adalah hadirnya media sosial yang kini tidak hanya digunakan oleh orang dewasa, tetapi juga sudah dikenal dan digunakan oleh anak-anak. Media sosial memiliki sisi positif sebagai sarana pembelajaran, hiburan, interaksi, dan komunikasi. Di lingkungan pendidikan, khususnya sekolah, sering muncul perilaku menyimpang berupa tindakan kekerasan seperti perundungan. Bentuk kekerasan yang dialami siswa dapat terjadi secara fisik, verbal, maupun melalui media sosial yang dikenal sebagai cyberbullying (Yuli & Efendi, 2. Tanpa adanya pengawasan yang tepat, pemanfaat teknologi dapat menimbulkan dampak negatif bagi penggunanya. Berdasarkan laporan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) . , menunjukkan bahwa meskipun Generasi Alpha . sia < 13 tahu. masih tergolong anakanak, mereka sudah memiliki tingkat penetrasi internet yang cukup tinggi, yaitu 79,73%. Artinya, hampir 8 dari 10 anak di bawah 13 tahun telah terhubung ke internet. Selain itu, kontribusi penggunaan internet dari kelompok ini mencapai 23,19%, menempatkan Gen Alpha sebagai pengguna internet terbesar ketiga setelah Generasi Z dan Milenial. Fakta ini menegaskan bahwa anak-anak sudah sangat akrab dengan teknologi digital sejak dini, dan menjadi segmen yang berpengaruh dalam ekosistem pengguna internet dalam mengakses media digital. Dengan kondisi tingginya penetrasi internet pada kelompok usia dini, tidak dapat dipungkiri bahwa praktik cyberbullying berpotensi menyasar anak-anak sekolah dasar. Pada tahap perkembangan ini, siswa masih berada dalam proses pembentukan karakter dan identitas diri sehingga cenderung lebih rentan terhadap pengaruh negatif di dunia maya. Jika tidak dibekali dengan pemahaman literasi digital yang memadai serta pendampingan dari orang tua dan guru, penggunaan media sosial yang seharusnya menjadi sarana positif justru dapat berubah menjadi ruang terjadinya Karakteristik utama yang membedakan cyberbullying dari bentuk perundungan konvensional terletak pada siswa perundungan. Oleh karena itu, intervensi edukatif sejak dini menjadi penting untuk menanamkan sikap berakhlak dan bijak dalam bermedia sosial. Cyberbullying merupakan tindakan agresif yang dilakukan secara berulang dan disengaja melalui perangkat digital dengan tujuan menyakiti atau mempermalukan korban. Bentuk perundungan ini tidak hanya bersifat verbal dan emosional, tetapi juga dapat mencakup pelanggaran privasi, penyebaran konten tanpa izin, hingga praktik doxing (Agustin et al. , 2. sifatnya yang asinkron . serta tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Oktariani et al, . menegaskan bahwa dampak cyberbullying cenderung lebih lama dan merusak, mengingat jejak digital yang ditinggalkan bersifat permanen serta berpotensi menyebar secara viral. Bagi remaja yang masih berada pada tahap pencarian identitas dengan kondisi emosional yang relatif labil, pengalaman tersebut dapat menimbulkan trauma berkepanjangan. Konsekuensi serius dari praktik cyberbullying pada tingkat sekolah dasar menunjukkan pentingnya upaya penanganan yang efektif. Sinergi antara guru dan orang tua memiliki peran krusial dalam menanamkan pemahaman kepada anak tentang nilai-nilai perilaku positif serta sikap saling menghormati, baik di dunia maya maupun dalam interaksi langsung sehari-hari. Dalam menghadapi tantangan ini, pendidikan karakter menjadi pendekatan yang esensial untuk mencegah serta menangani perilaku perundungan, termasuk cyberbullying (Waters et al. , 2. Fokus utama pendidikan karakter adalah menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan tanggung jawab sosial pada peserta didik (Saputro & Murdiono. Melalui penguatan keterampilan sosial dan emosional, seperti empati, pengendalian diri, serta sikap saling menghormati, pendidikan karakter dapat berperan sebagai strategi pencegahan yang efektif (Aningsih et al. , 2. Beberapa hasil penelitian empiris menunjukkan dampak praktik cyberbullying terhadap peserta Seperti yang dilakukan oleh Sigit et al, . terdapat lima faktor penyebab bullying atau perundungan di kalangan peserta didik. Di antaranya adalah faktor individu, keluarga, media sosial, teman sebaya, dan lingkungan sekolah. Peneliti memandang media sosial memberikan dampak signifikan terhadap bullying, hal ini dikarenakan dengan adanya perkembangan teknologi informasi yang mudah diakses berdampak pada gaya hidup dan individualitas peserta didik yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Peneliti lain juga menyoroti fenomena serupa, di mana media sosial menjadi faktor yang tidak terlihat namun memiliki dampak yang besar dalam merubah sikap seorang peserta didik yang mengarah Jumat Informatika: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 Desember 2025 pada tindakan cyberbullying. Syarif et al, . dalam penelitiannya menemukan bahwa faktor media sosial berdamoak pada dimensi psikologis pengguna. Seperti yang diketahui, bahwa media sosial saat ini menjadi ruang paling diminati dalam menghabiskan waktu para, baik di sekolah maupun di luar. Berdasarkan hasil dan temuan peneliti, para siswa cenderung menikmati tayangan kekerasan dan arogan yang dianggap sebagai sikap anak muda modern dan kekinian. Dengan meniru gaya di media sosial, dapat berdampak pada standar perilaku peserta didik, meskipun tergolong pada perilaku negatif dan tidak Sementara itu. Pinalis et al, . menemukan bahwa anak muda yang aktif menggunakan media sosial telah mengetahui berbagai tindakan cyberbullying serta dampaknya. Adapun tindakan-tindakan yang sering dilakukan di media sosial yang mengarah pada cyberbullying seperti komentar yang mengandung opini merendahkan, menghina, serta mengancam keselamatan fisik maupun mental para Dengan beberapa temuan penelitian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa media sosial menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi siswa dalam bertindak perundungan atau cyberbullying. Objek pengabdian dalam kegiatan ini adalah siswa-siswi SDN Talun Kidul yang tengah menghadapi tantangan serius terkait rendahnya literasi digital. Berdasarkan observasi awal, para siswa telah terbiasa menggunakan gawai dan media sosial dalam keseharian serta pemahaman mengenai etika penggunaannya masih sangat terbatas. Hal ini tampak dari munculnya perilaku yang dianggap lumrah, seperti penggunaan kata-kata ejekan, penyebaran informasi tanpa izin, hingga pemberian komentar yang menyinggung perasaan teman sebaya. Fenomena tersebut tidak hanya mencerminkan lemahnya kontrol diri siswa dalam berinteraksi di ruang digital, tetapi juga menandakan adanya celah dalam pendidikan Berdasarkan analisis situasi tersebut, target luaran pengabdian kepada masyarakat ini meliputi meningkatnya literasi digital siswa SDN Talun Kidul, khususnya dalam memahami akhlak dan etika bermedia sosial. Pengabdian ini juga diharapkan mampu membentuk sikap bijak dalam berinteraksi di dunia maya, tercermin dari berkurangnya penggunaan ejekan dan komentar negatif, tumbuhnya sikap saling menghargai, serta keberanian siswa untuk menegur teman yang melakukan bullying. Sebagai bentuk komitmen bersama, kegiatan ini ditutup dengan deklarasi anti-bullying guna menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan kondusif. METODE Metode pelaksanaan program pengabdian ini dirancang dengan sasaran utama siswa SDN Talun Kidul, khususnya kelas IV hingga VI, yang berada pada tahap perkembangan kritis dalam membentuk karakter dan pola interaksi sosial, baik di dunia nyata maupun digital. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan pihak sekolah sebagai mitra utama, meliputi kepala sekolah serta guru kelas. Sinergi antara tim pengabdian dan sekolah menjadi aspek penting untuk memastikan keberlanjutan dampak program, sehingga literasi digital dan pembentukan karakter siswa tidak berhenti pada kegiatan edukasi, melainkan berlanjut dalam praktik keseharian di lingkungan sekolah dan rumah. Pelaksanaan program pengabdian ini dilakukan melalui tiga tahapan. Pada tahap persiapan, tim melakukan observasi awal untuk memetakan kebutuhan siswa terkait penggunaan media sosial, berkoordinasi dengan pihak sekolah, serta menyiapkan materi sosialisasi dengan bahasa sederhana yang dilengkapi media pendukung berupa poster, video animasi, dan lembar refleksi. Tahap berikutnya adalah pelaksanaan sosialisasi dengan pemaparan materi mengenai media sosial, etika digital, dan bentuk-bentuk cyberbullying dengan bantuan media visual dan contoh kasus nyata. Untuk memperkuat pemahaman, siswa diajak berinteraksi melalui diskusi kelompok serta kegiatan bermain peran yang menggambarkan situasi bullying di dunia maya, kemudian diarahkan menuliskan hasil refleksi dan mendeklarasikan komitmen anti-bullying. Selanjutnya, tahap evaluasi dilakukan dengan menyampaikan rangkuman materi, menyerahkan bahan sosialisasi kepada guru sebagai referensi pembelajaran lanjutan, serta mendokumentasikan seluruh rangkaian kegiatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil dari program pengabdian ini dapat dijabarkan berdasarkan tahapan-tahapan sebagaimana Pelaksanaan Program Program pengabdian ini dilakukan dengan kegiatan sosialisasi yang telah melalui beberapa Jumat Informatika: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 Desember 2025 Pada proses pelaksanaan, tim pengabdian memberikan sosiasialisasi terhadap siswa dengan tema AuCerdas dan Bijak dalam Bermedia SosialAy yang diikuti oleh seluruh siswa kelas IV sampai VI SDN Talun Kidul. Sosialisasi memperoleh respon positif dari siswa maupun pihak sekolah. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif dengan bantuan media visual, kemudian diperkuat melalui permainan edukatif dan simulasi peran . ole pla. mengenai praktik bullying di media sosial. Gambar 1. Pelaksanaan Sosialisasi Cerdas dan Bijak dalam Bermedia Sosial. Selama kegiatan berlangsung, siswa menunjukkan antusiasme tinggi yang tampak dari banyaknya pertanyaan serta keaktifan dalam diskusi kelompok. Melalui role play, mereka dapat merasakan pengalaman sebagai pelaku maupun korban cyberbullying, sehingga lebih memahami dampak psikologis yang ditimbulkan. Pada sesi refleksi, mayoritas siswa mampu menuliskan kembali pemahaman mereka tentang etika bermedia sosial, yang menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dan pemahaman terhadap pentingnya bersikap bijak dalam berinteraksi di ruang digital. Gambar 2. Penyampain Materi oleh Tim Pengabdian Evaluasi Evaluasi program dilakukan untuk mengukur tingkat pemahaman para siswa mengenai bahaya Adapun instrumen pengukuran tingkat pemahaman dilakukan pada penilaian secara objektif guru SDN Talun Kidul. Berikuut beberapa pertanyaan mengenai tahapan evaluasi: Jumat Informatika: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 Desember 2025 Gambar 3. Pertanyaan Evaluasi Program Dari informasi Gambar 3. di atas, dapat diketahui hasil evaluasi menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi literasi digital memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perubahan sikap dan perilaku siswa. Sebagian besar siswa dinilai mampu membedakan perilaku baik dan buruk dalam penggunaan media sosial, mengurangi komentar negatif, serta menunjukkan sikap saling menghargai dalam interaksi, baik di dunia nyata maupun digital. Selain itu, keberanian siswa untuk menegur tindakan bullying maupun cyberbullying menjadi indikasi tumbuhnya peran aktif sebagai agen perubahan di Secara keseluruhan, mayoritas guru menilai siswa telah menginternalisasi nilai-nilai bijak dalam bermedia sosial, yang mencerminkan efektivitas sosialisasi dalam menumbuhkan kesadaran etika digital, empati, dan tanggung jawab sosial pada diri mereka. Pembahasan Kegiatan sosialisasi pada program pengabdian di SDN Talun Kidul menunjukkan adanya perubahan yang cukup signifikan terhadap pemahaman dan sikap siswa terkait literasi digital dan pencegahan bullying. Perbandingan kondisi sebelum dan sesudah kegiatan mengindikasikan bahwa siswa awalnya masih menganggap ejekan, komentar negatif, dan candaan berlebihan sebagai hal yang wajar, serta kurang menyadari dampak buruk perilaku tersebut bagi korban. Mereka juga belum memiliki keberanian untuk menegur teman yang melakukan bullying. Namun, setelah mengikuti rangkaian sosialisasi, siswa mulai mampu membedakan perilaku baik dan buruk dalam berinteraksi di media sosial, mengurangi penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta menunjukkan sikap saling menghargai baik di lingkungan sekolah maupun dunia maya. Lebih jauh, tumbuh keberanian untuk mengingatkan teman yang melakukan perundungan, disertai kesadaran bahwa harga diri tidak ditentukan oleh jumlah like atau komentar, melainkan oleh perilaku positif dan rasa saling menghormati. Luaran yang dicapai dari kegiatan ini meliputi terbentuknya sikap bijak dalam bermedia sosial, dokumentasi kegiatan, dan deklarasi anti-bullying sebagai komitmen bersama siswa dan guru. Hal ini sejalan dengan temuan Yuli & Efendi . , melalui program psikoedukasi berhasil meningkatkan pengetahuan, kesadaran, serta sensitivitas siswa terhadap ciri-ciri perundungan, bahkan menumbuhkan keberanian mereka menjadi fasilitator dalam menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari Dengan demikian, pengabdian ini tidak hanya menegaskan pentingnya sosialisasi dalam meningkatkan literasi digital, tetapi juga memperkuat bukti bahwa intervensi berbasis pendidikan nilai mampu mendorong siswa menjadi agen perubahan dalam menjaga ekosistem sekolah yang sehat, inklusif, dan berkarakter. SIMPULAN Kegiatan pengabdian di SDN Talun Kidul terlaksana dengan baik serta memberikan dampak positif terhadap peningkatan literasi digital dan etika sosial siswa. Sebelum kegiatan, mayoritas siswa belum memahami secara utuh mengenai etika bermedia sosial, masih menganggap ejekan sebagai hal yang lumrah, serta kurang menyadari dampak buruk dari perilaku bullying. Setelah mengikuti sosialisasi, siswa menunjukkan perubahan yang signifikan, antara lain meningkatnya pemahaman tentang etika digital, berkurangnya penggunaan bahasa negatif, tumbuhnya keberanian untuk menegur teman yang melakukan bullying, serta adanya kesadaran akan pentingnya sikap saling menghargai dalam berinteraksi, baik di lingkungan sekolah maupun di media sosial. Temuan ini menegaskan bahwa sosialisasi berbasis literasi digital mampu memberikan kontribusi nyata dalam membentuk perilaku bijak dan bertanggung jawab pada siswa sekolah dasar. Sebagai tindak lanjut, beberapa saran yang diajukan antara lain: . siswa diharapkan terus menginternalisasi dan menerapkan etika bermedia sosial dalam kehidupan sehari-hari serta menjadi teladan bagi teman sebaya. guru disarankan untuk mengintegrasikan materi literasi digital dan pencegahan bullying ke dalam pembelajaran, sekaligus melakukan pemantauan berkelanjutan terhadap interaksi siswa. orang tua perlu lebih aktif dalam mendampingi anak menggunakan gawai dan media sosial di rumah serta menjalin komunikasi terbuka guna mendeteksi masalah sejak dini. sekolah diharapkan menjadikan deklarasi anti-bullying sebagai budaya bersama serta mengadakan kegiatan serupa secara rutin agar pemahaman siswa mengenai etika digital semakin kuat dan berkesinambungan. DAFTAR RUJUKAN Jumat Informatika: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 Desember 2025 Agustin. Deliana. , & Bara. Peran Oraang Tua Dalam Meminimalisir Dampak Cyberbullying Terhadap Kesehatan Mental Anak. Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik, 6. , 19Ae26. https://doi. org/10. 24198/jkrk. Aningsih. Zulela. Neolaka. Iasha. , & Setiawan. How is the Education Character Implemented? The Case Study in Indonesian Elementary School. Journal of Educational and Social Research, 12. , 371Ae380. https://doi. org/10. 36941/jesr-2022-0029 APJII. Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Penggunaan Internet. Nugroho. Handoyo. , & Hendriani. Identifikasi Faktor Penyebab Perilaku Bullying di Pesantren: Sebuah Studi Kasus. Al-Hikmah: Jurnal Agama Dan Ilmu Pengetahuan, 17. , 1Ae14. https://doi. org/10. 25299/al-hikmah:jaip. Oktariani. Mirawati. Arbana Syamantha, & Rodia Afriza. Pemberian Psikoedukasi Dampak Cyberbullying Terhadap Kesehatan Mental Pada Siswa. ABDIKAN: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains Dan Teknologi, 1. , 189Ae194. https://doi. org/10. 55123/abdikan. Pinalis. Triyono. , & Yulianto. Pemahaman Gen Z terhadap Tindakan Cyberbullying di Platform Instagram. Jurnal Common, 8. , 178Ae192. Saputro. , & Murdiono. Implementation of Character Education through a Holistic Approach to Senior High School Students. International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 7. , 460Ae470. http://ijmmu. comhttp//dx. org/10. 18415/ijmmu. Syarif. Rohmad. , & Muchsan. Improving Understanding of Equality and Social Solidarity Among Islamic Students to Prevent Violence and Bullying in Pesantrens at Mojokerto Regency. Engagement: Jurnal, 09. , 27Ae42. Waters. Russell. , & Hensley. Cyber Bullying. Social Media, and Character Education: Why It Matters for Middle School Social Studies. The Clearing House: A Journal of Educational Strategies. Issues Ideas, 93. , 195Ae204. https://doi. org/10. 1080/00098655. Yuli. , & Efendi. Psikoedukasi Upaya Mencegah dan Melawan Perundungan (Bullying & Cyberbullyin. di SMP Unggulan Habibulloh. Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1. , 15Ae23. https://doi. org/10. 55784/jompaabdi.