E-ISSN 2798-8678 SEGARA WIDYA Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Volume 13 No. Maret 2025 P196-207 Peran Art Jakarta dalam Memajukan Seni Kontemporer Indonesia: Perspektif Sejarah Sosial Seni I Gusti Ayu Putu Pratiwi1*. Hendra Santosa2 1,2Program Studi Tata Kelola Seni Program Magister. Institut Seni Indonesia Bali. Indonesia Jl. Nusa Indah. Sumerta. Kec. Denpasar Tim. Kota Denpasar. Bali 80235 bimatiwi17@gmail. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perubahan lanskap seni kontemporer Indonesia setelah Reformasi, di mana institusi seni mulai mengambil peran penting dalam memediasi nilai, jaringan sosial, dan struktur medan seni. Art Jakarta, sebagai art fair terbesar di Indonesia, menjadi contoh penting institusi seni yang berperan bukan hanya sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai aktor budaya yang Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran Art Jakarta sebagai institusi seni kontemporer yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai aktor penting dalam membentuk nilai dan struktur sosial seni di Indonesia. Dengan pendekatan sejarah sosial seni dan teori medan budaya Pierre Bourdieu, penelitian ini menganalisis bagaimana Art Jakarta menjadi arena simbolik, ekonomi, dan sosial tempat berbagai aktor budaya saling berinteraksi dan berkompetisi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen kuratorial dan media seni. Analisis dilakukan secara tematik dan kontekstual untuk memahami peran institusional Art Jakarta dalam membentuk struktur sosial seni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Art Jakarta berperan dalam membangun legitimasi simbolik, memperluas jejaring sosial seniman, dan membentuk narasi pasar seni Meskipun membuka peluang karier dan kolaborasi. Art Jakarta juga mereproduksi struktur eksklusivitas melalui mekanisme kurasi dan representasi galeri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Art Jakarta bukan hanya arena ekonomi seni, melainkan institusi budaya strategis yang aktif dalam membentuk arah dan sejarah sosial seni kontemporer Indonesia. Kata Kunci: Art Jakarta. Seni Kontemporer Indonesia. Sejarah Sosial Seni. Medan Budaya. Institusi Budaya. Art Fair. This research is grounded in the shifting landscape of Indonesian contemporary art following the Reformasi era, during which art institutions began to play a crucial role in mediating values, social networks, and the structure of the cultural field. Art Jakarta, as the largest art fair in Indonesia, exemplifies how an art institution functions not only as an exhibition platform but also as an active cultural agent. This study explores the role of Art Jakarta in shaping artistic value and social structure within IndonesiaAos contemporary art world. Using the social history of art approach and Pierre BourdieuAos theory of the cultural field, the research examines how Art Jakarta operates as a symbolic, economic, and social arena where cultural actors interact, compete, and negotiate positions. The study employs a qualitative methodology, involving in-depth interviews, participatory observation, and document analysis of curatorial texts and art media. Thematic and contextual analysis is used to understand Art JakartaAos institutional role in influencing the social dynamics of art. Findings reveal that Art Jakarta contributes to symbolic legitimacy, strengthens artistsAo social capital, and shapes the narrative of the contemporary art market. While it creates opportunities for professional growth and cross-institutional collaboration, the fair also reproduces structural exclusivity through curatorial selection and gallery representation. This study concludes that Art Jakarta functions not merely as a marketplace but as a strategic cultural institution that actively influences the development, direction, and social history of contemporary Indonesian art. Keywords: Art Jakarta. Indonesian Contemporary Art. Social Art History. Cultural Field. Cultural Institution. Art Fair I Gusti Ayu Putu Pratiwi (Peran Art Jakarta A) Volume 13 No. 2, 2025 PENDAHULUAN Dunia seni kontemporer Indonesia mengalami perubahan besar sejak era Reformasi. Transformasi seni kontemporer Indonesia semakin nyata dengan terbukanya ruang demokratisasi dan kebebasan berekspresi (Dartanto, 2. Perubahan ini tidak hanya terjadi pada bentuk dan tema karya, tetapi juga cara seni diproduksi, dipamerkan, dan diterima oleh masyarakat. Salah satu perubahan penting adalah meningkatnya peran institusi seni dalam membentuk arah dan struktur ekosistem seni. Institusi seni berupa galeri swasta/individu sudah mulai berkembang di tahun 1980-an sebagai fasilitas kebudayaan (Dewi, 2. Saat ini Art Jakarta, sebagai art fair terbesar di Indonesia, muncul sebagai contoh konkret dari fenomena pertumbuhan galeri-galeri swasta/individu. Art Jakarta tidak lagi hanya menjadi tempat menjual karya seni, tetapi telah berkembang menjadi ruang penting dalam pertemuan ide, jejaring sosial, dan pertarungan nilai simbolik dalam dunia seni. Perkembangan seni kontemporer Indonesia tidak terlepas dari dinamika sosial, politik, dan budaya yang membentuk medan seni sejak era reformasi. Perubahan kebijakan politik, pertumbuhan ruang seni alternatif, serta munculnya pasar seni global telah mendorong transformasi struktur produksi dan distribusi seni. Di tengah konteks ini, institusi seni seperti Art Jakarta memiliki peran penting sebagai ruang artikulasi, negosiasi, dan representasi nilai-nilai seni kontemporer. Sebagai art fair terbesar di Indonesia. Art Jakarta bukan hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga medan sosial tempat aktor budaya bertemu, berkompetisi, dan berkolaborasi (Kent. Oleh karena itu. Art Jakarta layak dikaji bukan hanya dari perspektif pasar, tetapi juga sebagai institusi budaya yang memiliki dampak historis dan sosial. Art Jakarta mengalami evolusi signifikan sejak pertama kali muncul sebagai Bazaar Art Jakarta pada tahun 2009 hingga menjadi institusi seni profesional yang mewakili dinamika seni Asia Tenggara. Perubahan ini menandai pergeseran fungsi art fair dari sekadar ruang transaksional menjadi aktor budaya yang turut membentuk wacana dan arah perkembangan seni kontemporer. Art fair di Asia Tenggara memiliki peran ganda sebagai pasar dan platform budaya yang menampilkan identitas nasional sekaligus memfasilitasi pertukaran dan visibilitas transnasional di dunia seni global (Poshyananda, 1. Program-program kuratorial yang dirancang Art Jakarta menjadi cerminan dari upaya menjembatani kebutuhan pasar, wacana seni global, dan ekspresi kultural lokal. Dalam hal ini, dibutuhkan Analisa lebih mendalam untuk memahami Art Jakarta sebagai ruang produksi simbolik yang berperan dalam membentuk legitimasi dan nilai-nilai artistik dalam ekosistem seni Indonesia. Berdasarkan hal itu, penelitian ini berangkat dari pertanyaan utama: bagaimana Art Jakarta berkontribusi dalam memajukan seni kontemporer Indonesia melalui perspektif sejarah sosial seni? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peran Art Jakarta sebagai institusi budaya yang memiliki dampak terhadap perkembangan medan seni kontemporer Indonesia. Secara khusus, penelitian ini ingin mengidentifikasi bagaimana Art Jakarta membentuk relasi antara aktor-aktor budaya dan bagaimana Art Jakarta mereproduksi serta mendistribusikan nilai-nilai seni melalui praktik kuratorial, jaringan sosial, dan struktur partisipasi. Tujuan lain adalah memperlihatkan bahwa event seni seperti Art Jakarta bukan sekadar ruang pamer, tetapi bagian dari proses historis yang membentuk struktur sosial seni. Penelitian ini juga bertujuan untuk menyoroti bagaimana aktor-aktor seni merespons dinamika institusi dan pasar dalam konteks global dan lokal yang terus berubah. I Gusti Ayu Putu Pratiwi (Peran Art Jakarta A) Volume 13 No. 2, 2025 Penelitian ini menggunakan kerangka teori medan budaya dari Pierre Bourdieu yang menawarkan alat konseptual untuk memahami relasi kuasa dalam dunia seni. Konsep-konsep seperti habitus, kapital simbolik, dan medan budaya digunakan untuk membaca bagaimana Art Jakarta menjadi arena pertarungan nilai dan strategi simbolik para pelaku seni. Bourdieu memandang dunia seni sebagai ruang sosial yang terstruktur oleh berbagai bentuk kapital dan relasi kuasa antar aktor. Dalam konteks ini. Art Jakarta tidak hanya merepresentasikan karya, tetapi juga mengatur mekanisme distribusi nilai dan posisi simbolik seniman. Dengan pendekatan ini, penelitian mampu menangkap dinamika sosial seni dalam konteks yang lebih luas dan Pendekatan sejarah sosial seni digunakan untuk melihat seni sebagai bagian dari praktik budaya yang melekat dalam struktur sosial dan historis masyarakat. Perspektif ini memungkinkan untuk menelusuri bagaimana seni kontemporer Indonesia berkembang dalam interaksi antara institusi, aktor, dan kondisi sosialpolitik. Dengan menempatkan Art Jakarta sebagai studi kasus, penelitian ini menggabungkan analisis institusional dengan pembacaan historis terhadap dinamika seni Indonesia. Sejarah sosial seni tidak hanya memperhatikan perkembangan bentuk visual, tetapi juga jaringan, struktur kekuasaan, dan distribusi modal budaya dalam dunia seni. Oleh karena itu, pendekatan ini sangat relevan untuk mengkaji posisi Art Jakarta dalam peta sejarah seni Indonesia kontemporer. Secara metodologis, penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Data dikumpulkan dari partisipasi langsung dalam penyelenggaraan Art Jakarta, wawancara dengan seniman, kurator, dan pengelola galeri, serta studi terhadap katalog dan arsip resmi Art Jakarta. Analisis data dilakukan secara tematik dengan mengidentifikasi kategori utama yang berkaitan dengan struktur medan seni, distribusi modal simbolik, serta dinamika partisipasi. Validasi data dilakukan dengan triangulasi sumber dan teknik, serta diskusi dengan akademisi dan praktisi seni untuk memperkuat interpretasi. Pendekatan ini memastikan hasil penelitian bersifat kontekstual, reflektif, dan akurat secara teoritis. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memperkuat kajian institusi seni dalam konteks Indonesia, khususnya peran art fair dalam sejarah sosial seni. Selain itu, penelitian ini juga memberikan pemetaan awal terhadap bagaimana seni kontemporer Indonesia dipengaruhi oleh struktur mediasi institusional dan logika pasar. Art Jakarta dalam hal ini menjadi contoh konkret bagaimana institusi dapat membentuk medan seni melalui praktik simbolik dan relasi sosial yang terstruktur. Kontribusi lainnya adalah memberikan wacana alternatif terhadap pemahaman seni kontemporer, yang tidak hanya berfokus pada estetika karya, tetapi juga proses sosial di balik produksinya. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teori dan praktik seni dalam ranah akademik maupun kelembagaan seni di Indonesia. Penelitian dengan fokus pada Art Jakarta, diharapkan dapat menawarkan pembacaan baru atas peran art fair bukan hanya sebagai arena ekonomi, tetapi juga sebagai agensi budaya yang aktif dalam mereproduksi dan mengonstruksi nilai-nilai seni di era kontemporer. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menganalisis dinamika sosial dan budaya yang terjadi di balik penyelenggaraan Art I Gusti Ayu Putu Pratiwi (Peran Art Jakarta A) Volume 13 No. 2, 2025 Jakarta, serta melihat bagaimana peran institusi ini dalam membentuk nilai-nilai Tiga teknik utama digunakan dalam pengumpulan data. Pertama, wawancara mendalam dilakukan dengan seniman, kurator, pemilik galeri, dan pelaku seni lainnya yang terlibat langsung dalam Art Jakarta. Kedua, dilakukan observasi partisipatif selama event berlangsung, dengan mencatat bagaimana interaksi sosial terbentuk, siapa yang hadir, dan bagaimana ruang pameran dikelola. Ketiga, peneliti mengkaji dokumen-dokumen seperti katalog pameran, teks kuratorial, berita media, dan arsip Ketiga teknik ini saling melengkapi dan digunakan bersama untuk memperkuat hasil temuan. Data yang terkumpul dianalisis secara tematik, yaitu dengan mencari pola dan tema yang berulang, seperti praktik simbolik, distribusi nilai, dan strategi para aktor Analisis dilakukan secara bertahap dan reflektif, lalu dikaitkan dengan teori medan budaya dari Pierre Bourdieu. Peneliti menelaah bagaimana posisi, modal simbolik, dan relasi kuasa terbentuk dalam arena Art Jakarta. Hasilnya dihubungkan kembali dengan fokus dan tujuan penelitian. Peneliti melakukan triangulasi data untuk menjaga keandalan dan ketajaman hasil analisis melalui proses membandingkan data dari berbagai sumber dan metode. Selain itu, diskusi dengan pakar dan praktisi seni dilakukan untuk menguji temuan awal dan memperkuat interpretasi. Pendekatan ini memastikan bahwa penelitian tidak hanya menjelaskan apa yang terjadi, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih dalam dan kritis tentang bagaimana Art Jakarta berfungsi sebagai institusi budaya dalam sejarah sosial seni Indonesia. ANALISIS DAN INTEPRETASI DATA Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan pendekatan tematik yang bertujuan untuk menemukan pola-pola penting dari hasil wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Dari ketiga sumber tersebut, peneliti mengidentifikasi tiga tema besar: peran simbolik Art Jakarta, dinamika jaringan sosial dalam arena seni, dan hubungan antara institusi seni dan pasar. Tema-tema ini tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dalam membentuk pemahaman tentang bagaimana Art Jakarta menjadi ruang penting dalam sejarah sosial seni kontemporer Indonesia. Tabel 1. Temuan Tematik Hasil Triangulasi Data (Sumber: Peneliti, 2. Tema Utama Peran Simbolik Art Jakarta Jaringan Sosial dan Kolaborasi Hubungan Seni dan Pasar Wawancara "Art Jakarta memberi panggung bagi seniman untuk "Saya bertemu kolektor luar negeri pertama kali di sana. "Tema karya saya disesuaikan agar bisa lebih diterima. Observasi Karya-karya dipilih berdasarkan kurasi galeri terkemuka. Interaksi antar galeri lintas negara sangat Banyak karya ditampilkan dengan harga dan label Dokumen Katalog menyebutkan galeri peserta . dan kurator sebagai penentu utama. Teks kuratorial mengangkat kerja sama regional Asia Tenggara. Media menyebutkan transaksi dan apresiasi pasar dalam laporan Tabel 1. menegaskan tiga tema besar dalam analisis berbagai sumber data. Data yang ditampilkan telah diklasifikasi menggunakan pendekatan tematik dan dikaji berdasarkan sumber referensi yang telah ditentukan. Meskipun keriga tema besar ini I Gusti Ayu Putu Pratiwi (Peran Art Jakarta A) Volume 13 No. 2, 2025 tidak bisa berdiri sendiri, peneliti menuliskan dalam 3 sub bab pembahasan untuk mempertajam hasil temuan tersebut. Berikut ini adalah analisis interpretasi ketiga tema besar yang ditemukan dalam event Art Jakarta. Peran Simbolik Art Jakarta Art Jakarta memiliki peran penting dalam membentuk nilai simbolik dalam medan seni kontemporer Indonesia. Dari hasil analisis, dapat dilihat bahwa partisipasi seniman dalam event ini bukan sekadar pameran, melainkan juga bentuk pencapaian profesional yang diakui. Keikutsertaan dalam Art Jakarta sering dianggap sebagai Aucap simbolikAy yang memperkuat posisi sosial seniman di mata publik, galeri, dan kolektor. Hal ini sejalan dengan pemikiran (Bourdieu, 1. , bahwa modal simbolik memiliki kekuatan dalam membangun struktur hierarki di medan budaya. Simbolik kapital seperti ini mampu mengangkat posisi seorang seniman dalam arena seni yang kompetitif. Seniman muda yang mengikuti art fair yang prestisius akan memperoleh branding image positif (Lee & Lee, 2. Penempatan booth yang eksklusif, pilihan karya oleh galeri ternama, dan pemilihan kurator menjadi elemen kunci dalam menciptakan citra yang prestisius. Seniman yang dipilih untuk tampil di Art Jakarta merasa bahwa kehadiran mereka bukan hanya disorot dari kualitas karya, tetapi juga dari status representasi mereka. Booth pameran dianggap sebagai etalase reputasi yang memperlihatkan siapa yang Aulayak tampilAy. Proses seleksi ini menciptakan narasi eksklusif yang memperkuat citra simbolik event tersebut. Dalam praktiknya, arena ini menjadi ruang sosial yang sarat nilai tidak netral dan penuh konstruksi simbolik. Medan seni yang tampak kosmopolit sebenarnya dikendalikan oleh kekuatan ekonomi dan representasi institusional, yang secara tidak langsung menentukan siapa yang Aulayak tampilAy dan siapa yang tidak (Quemin, 2. Teks kuratorial dan katalog resmi juga memperkuat posisi Art Jakarta sebagai institusi yang membentuk nilai artistik. Nama-nama seniman dan galeri yang diangkat secara eksplisit dalam media pameran membentuk hierarki simbolik yang berdampak langsung pada legitimasi para pelaku seni. Kurasi tidak hanya menjadi soal estetika, tetapi juga strategi nilai. Apa yang dipilih dan ditampilkan mencerminkan preferensi institusional dan ekspektasi pasar. Ini adalah proses simbolik yang terorganisir secara sosial dan strategis. Salah satu unsur penting yang turut memperkuat nilai simbolik Art Jakarta adalah peran media. Media massa dan media sosial turut membentuk narasi keberhasilan event, popularitas seniman, dan tren pasar yang berkembang. Melalui pemberitaan dan dokumentasi visual. Art Jakarta dikonstruksikan sebagai ruang prestisius dan eksklusif. Narasi ini secara tidak langsung memengaruhi persepsi masyarakat terhadap siapa seniman AuterkemukaAy dan karya mana yang Aubernilai tinggiAy. Media menjadi alat penting dalam menyebarluaskan nilai simbolik yang terbangun di dalam event ini. Observasi juga menunjukkan bahwa keikutsertaan dalam Art Jakarta berdampak nyata pada perkembangan karier seniman. Beberapa seniman muda mendapatkan undangan pameran lain setelah tampil di Art Jakarta, baik di dalam maupun luar negeri. Eksposur publik dan perhatian dari kolektor dan kurator asing memperluas jangkauan mereka di arena seni global. Ini menunjukkan bahwa nilai simbolik yang dibangun tidak berhenti pada satu event, tetapi menjalar menjadi I Gusti Ayu Putu Pratiwi (Peran Art Jakarta A) Volume 13 No. 2, 2025 modal sosial dan profesional jangka Dalam konteks ini. Art Jakarta berfungsi sebagai peluncur karier dan pembentuk legitimasi. Namun, nilai simbolik ini tidak tersedia secara merata. Gambar 1. menunjukkan seniman muda yang berhasil masuk pada event Art Jakarta. Hasil wawancara menunjukkan bahwa tidak semua seniman memiliki akses yang sama untuk bisa tampil di Art Jakarta. Banyak seniman menyebutkan bahwa tanpa representasi dari galeri mapan, peluang untuk terlibat sangat kecil. Ini menandakan adanya eksklusivitas dalam Medan budaya yang tampak dikendalikan oleh jaringan yang sudah Gambar 1. Foto Bersama Seniman Muda Indonesia terstruktur sebelumnya. Dalam konteks di Depan Both dan Karyanya dalam Art Jakarta 2024 (Sumber : Dokumentasi Peneliti , 2. art fair internasional, seniman tidak bisa berpartisipasi secara langsung, tetapi harus diundang dan direpresentasikan oleh galeri menunjukkan bahwa akses terhadap arena seni ditentukan oleh relasi kuasa dan jaringan institusional (Quemin, 2. Fenomena ini sesuai dengan gagasan Bourdieu tentang reproduksi simbolik. Akses terhadap panggung simbolik seperti Art Jakarta ditentukan oleh modal yang dimiliki seniman, baik dalam bentuk reputasi, koneksi, maupun kedekatan dengan lembaga galeri dan kurator. Art Jakarta dalam hal ini tidak hanya menjadi medan simbolik, tetapi juga medan perebutan posisi sosial. Mereka yang memiliki modal tinggi cenderung tampil dan diangkat, sementara yang tidak, tetap berada di Mekanisme ini menciptakan lapisan dalam medan seni yang semakin Kutipan wawancara dari para seniman memperkuat temuan ini. Seorang seniman muda menyatakan bahwa tampil di Art Jakarta membuatnya Aumasuk ke lingkaran dalam dunia seniAy. Responden lain menyebut bahwa galeri memilih karya yang paling AurepresentatifAy, sementara seorang seniman multimedia menilai booth Art Jakarta sebagai Auetalase reputasiAy. Semua testimoni ini menunjukkan bagaimana para pelaku seni memahami dan merasakan efek dari pengakuan simbolik yang diberikan oleh event tersebut. Bukan hanya karya yang dipertaruhkan, tetapi juga citra diri dan identitas profesional. Dalam praktiknya, simbolik kapital yang diperoleh dari Art Jakarta menjadi bekal untuk mobilitas sosial dan karier yang lebih luas. Tidak sedikit seniman yang mengaitkan kesuksesan proyek berikutnya dengan legitimasi yang diberikan oleh Art Jakarta. Bahkan, dalam beberapa kasus, partisipasi di event ini menjadi prasyarat tak tertulis untuk diterima dalam proyek galeri atau residensi bergengsi. Oleh karena itu, simbolik kapital yang dibentuk di Art Jakarta bukan hanya simbolis, tetapi berdampak nyata dalam dinamika medan seni. Inilah kekuatan dari medan simbolik yang dibentuk oleh institusi budaya. I Gusti Ayu Putu Pratiwi (Peran Art Jakarta A) Volume 13 No. 2, 2025 Berdasarkan keseluruhan temuan pada kontek tematik ini, dapat disimpulkan bahwa Art Jakarta memiliki fungsi ganda sebagai institusi seni kontemporer: di satu sisi, ia membentuk nilai dan legitimasi melalui kurasi, media, dan eksposur. di sisi lain, ia memperkuat struktur hierarkis dalam medan seni melalui proses seleksi yang Peran simbolik ini menjadikan Art Jakarta bukan hanya tempat pameran seni, tetapi juga aktor sosial yang membentuk arah dan identitas dunia seni Indonesia. Dengan demikian, analisis simbolik atas peran Art Jakarta menjadi kunci penting dalam memahami bagaimana nilai-nilai seni diproduksi dan didistribusikan secara sosial dan institusional di era kontemporer. Jaringan Sosial dan Kolaborasi Art Jakarta berfungsi sebagai ruang strategis untuk membangun perwujudan nyata teori modal sosial. Gambar 2. menunjukkan terjalinnya relasi sosial dan kolaborasi antara semua actor dalam seni. Art Jakarta menjadi titik temu bagi seniman, kurator, kolektor, dan penggemar seni yang sebelumnya tersebar di berbagai komunitas lokal. Seperti dinyatakan oleh (Spielmann, 2. , "art fairs facilitate transnational social capital and creative exchange". Ini sangat terasa saat berbagai pelaku seni saling berinteraksi di area santai seperti lounge dan presentasi galeri. Art fair Gambar 2. Foto Bersama Direktur Art Jakarta. Seniman Senior. Owner Galeri. Kurator dan Kolektor berfungsi sebagai jaringan global. Seni di Depan Both Toni Raka Galeri dalam Art Jakarta menghubungkan galeri, kolektor, senator, dan kurator dalam struktur (Sumber : Dokumentasi Peneliti , 2. Ausmall-world networkAy di mana interaksi strategis memfasilitasi pertukaran informasi dan peluang kolaborasi (Morgner, 2. Interaksi informal di lounge dan sesi diskusi sangat identik dengan proses koneksi lintas institusi. Di area itu, seniman dan kurator kerap memulai percakapan yang kemudian menjadi kolaborasi pameran baru. Seorang seniman mengungkapkan. AuSaya bertemu kurator dari Singapura di lounge, dan langsung diundang ke residensi di BangkokAy pengalaman dan pernyataan dari salah satu seniman menjadi contoh nyata modal sosial berubah menjadi peluang profesional. Situasi seperti ini memperkuat posisi Art Jakarta sebagai perantara jejaring lintas negara dan institusi. Format art fair memungkinkan pertemuan simultan antara dimensi sosial, budaya, dan ekonomi, menjadikannya medan sosial multi-dimensional. Modal sosial tidak hanya diperoleh dalam wacana profesional, tetapi juga dalam interaksi santai dan rutin. Hal ini memperlihatkan bahwa medan budaya dirancang untuk I Gusti Ayu Putu Pratiwi (Peran Art Jakarta A) Volume 13 No. 2, 2025 mempertemukan modal ekonomi dan simbolik secara simultan (Velthuis & Curioni, 2. Hasil dokumentasi kuratorial dan arsip Art Jakarta mengonfirmasi orientasi regional sebagai strategi penguatan jejaring Asia Tenggara. Terdapat Singapura. Malaysia, dan Thailand, serta kolaborasi formal dalam katalog Teks kuratorial secara eksplisit mengangkat tema regionalisme dan identitas Asia, memperlihatkan strategi glokalisasi yang sejalan dengan (Velthuis & Curioni, 2. Dokumen gambar 3 menunjukkan bahwa Art Gambar 3. Foto Bersama Seniman Spanyol di Depan Jakarta tidak hanya diikuti oleh Both dan Karyanya dalam Art Jakarta 2024 (Sumber : Dokumentasi Peneliti , 2. seniman Indonesia dan jejaring Asia Tenggara namun, luasnya jejaring sosial yang telah dibentuk oleh Art Jakarta telah menarik minat galeri untuk menampilkan seniman yang berasal dari Eropa (Spanyo. Interaksi lintas disiplin bukan hanya terjadi antar pelaku seni, tapi juga melibatkan akademisi, jurnalis, dan profesional industri kreatif. Dalam perhelatan Art Jakarta, akademisi berbicara dalam panel diskusi. jurnalis pula aktif meliput dan mendistribusikan wacana. Ini menjadikan event sebagai forum legitimasi mengonfigurasi opini publik dan membentuk narasi dominan seni kontemporer Indonesia. Forum informal seperti diskusi dan peluncuran karya menciptakan momentum publikasi publik yang berperan penting dalam proses validasi artistik. Seniman dan aktor pendukungnya sama-sama merupakan agen dalam dunia seni mereka hal ini menunjukkan bahwa interaksi kolektif adalah penentu utama reputasi dan kesempatan dalam jaringan seni (Kirchberg & Zembylas, 2. Interaksi ini membangun kredibilitas artistik yang sulit diperoleh melalui solo exhibition semata. Kolaborasi yang lahir dari Art Jakarta juga terlihat dalam pameran bersama lintas negara dan proyek kuratorial. Banyak seniman memulai debut internasionalnya setelah diundang kurator yang bertemu melalui event. Art fair ini telah menjadi platform pertama bagi kolaborasi formal yang melintasi batas geografi serta menegaskan posisinya sebagai jembatan gardu budaya. Peran Art Jakarta sebagai media penyambung ini juga berdampak pada pengembangan karier profesional pelakunya. Setelah berpartisipasi, seniman sering memperoleh tawaran residensi, proyek baru, atau akses ke galeri global. Ini menunjukkan bahwa jaringan yang dibangun tidak hanya informal, tetapi menghasilkan modal profesional yang nyata dan berkelanjutan. Namun, perlu dicatat bahwa akses ke jejaring ini bersifat selektif. Hanya mereka yang berhasil melewati proses kurasi maupun berasal dari galeri mapan yang mampu memanfaatkan peluang jaringan sepenuhnya. Hal ini memperlihatkan ketimpangan distribusi modal sosial dalam medan seni. Struktur jejaring sangat tergantung pada posisi awal dalam medan (Swartz, 1. Modal sosial yang tidak I Gusti Ayu Putu Pratiwi (Peran Art Jakarta A) Volume 13 No. 2, 2025 sama dimiliki oleh seniman menjadi faktor penentu dalam proses galeri menuju Art Jakarta. Meski eksklusif. Art Jakarta tetap menjadi poin sentral bagi pengembangan modal sosial seni Indonesia, menghubungkan pelaku lokal dengan jaringan internasional dan panggung global. Sebagai bekal bagi kolaborasi jangka panjang, fungsi jejaring ini berkontribusi pada transformasi ekosistem seni nasional. Art Jakarta jelas berperan sebagai arena jaringan sosial dan kolaborasi strategis. menyatukan aktor budaya dari berbagai disiplin. Membuka peluang kolaborasi lintas negara, dan membentuk modal sosial yang konkret meskipun distribusinya masih terbatas oleh kurasi dan struktur eksklusif. Sebagai institusi seni. Art Jakarta telah membuktikan fungsinya lebih dari sekadar marketplace. ia menjadi katalisator pembentukan modal sosial dan perubahan struktural dalam ekosistem seni kontemporer Indonesia. Hubungan Seni dan Pasar Art Jakarta membuka kesempatan bagi seniman dan galeri untuk menghadirkan karya secara transparan, lengkap dengan label harga, sehingga proses transaksi menjadi bagian eksplisit dari pameran. Ini menegaskan bahwa event ini berfungsi tidak sekedar sebagai ruang presentasi estetika, melainkan juga pasar seni. Banyak seniman menyampaikan bahwa mereka menyesuaikan tema atau media karya agar tetap AuterbacaAy. Konflik antara idealisme artistik dan realitas pasar menjadi terfokus di sini. Art Jakarta dengan demikian menjadi ruang ketegangan antara nilai simbolik dan nilai ekonomi. Wawancara dengan pelaku seni mengungkap bahwa ada dorongan kuat untuk menciptakan karya dengan Aupotensi jual tinggiAy. Sejumlah seniman muda bercerita bahwa mereka diminta mengubah aspek visual atau tema agar sesuai preferensi pasar. Sementara itu, seniman lain menyatakan bahwa mereka berusaha mempertahankan suara kritis dan ekspresi pribadi. Hal ini menciptakan medan negosiasi internal antara idealisme dan pragmatisme komersial. Dalam praktiknya, produser seni kontemporer sering kali harus menavigasi ketegangan antara ekspresi artistik dan logika pasar, sebagaimana tercermin dalam karya-karya relational art (Bourriaud, 2002. Flynn. Observasi lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar booth memajang daftar harga dan tiket dialog terbuka, yang menegaskan bahwa transaksi adalah bagian struktural dari event ini. Dalam satu booth, interaksi langsung antara kurator, seniman, dan kolektor mencerminkan hubungan kerja antara pasokan dan permintaan visual. Area bernama AuCollectorsAo CircleAy pun menyediakan fasilitas untuk transaksi langsung. Ini mengilustrasikan bagaimana Art Jakarta merancang marketplace modern di tengah konteks artistik. Jadi, pasar tidak hanya hadir secara laten, tetapi dikenalkan secara terbuka dan resmi. Bahkan kuratorial juga dipengaruhi oleh nilai ekonomis. Kurator sering memperhitungkan marketability saat memilih karya, karena Art Jakarta adalah art fair komersial. Strategi kurasi di art fair tidak semata soal estetik: kurator dan galeri mendesain program berdasarkan potensi ekonomi, harga, dan reputasi Lembaga sebuah instrumen untuk menarik kolektor dan sponsor (Velthuis & Curioni, 2. Art Jakarta, karya yang menampilkan potensi jual tinggi lebih mungkin ditampilkan, sehingga ekspresi kritis sering kali dikompromikan. Dengan demikian, kuratorial menjadi tempat persilangan nilai estetis dan ekonomi. Penelitian tentang art fair global menunjukkan bahwa ruang kreatif dalam seni kontemporer tidak dapat I Gusti Ayu Putu Pratiwi (Peran Art Jakarta A) Volume 13 No. 2, 2025 dilepaskan dari logika ekonomi dan struktur pasar seni, termasuk dalam proses kurasi dan pembentukan program (Quemin, 2. Dokumen katalognya mencerminkan dominasi sponsor dan pendanaan. Banyak galeri mendapat dukungan dari pihak komersial dan pemerintah, yang mencantumkan logo di materi publikasi. Ini memperlihatkan bahwa event ini berada dalam simpul kuasa institusional sekaligus ekonomi. Medan budaya adalah tempat dominasi nilai secara simbolik dan struktural (Bourdieu, 1. Sponsorship dan dukungan institusional menjadi alat redistribusi simbolik yang memperkuat posisi para pelaku seni tertentu. Selain itu, banyak seniman merasakan bahwa seleksi ketat melalui galeri mapan menyebabkan ketimpangan akses. Seniman yang tidak dikelola galeri profesional menghadapi kesulitan masuk. Ini memperkuat mekanisme hierarki dalam medan budaya hanya mereka yang memiliki modal ekonomi dan jaringan yang cukup bisa tampil. Art Jakarta, meski terlihat terbuka, masih terkendali oleh struktur elit. Modal ekonomi juga berperan dalam memengaruhi visi artistik. Galeri besar mampu menawar ruang tampil dan bahkan menentukan tema booth mereka. Ini menunjukkan adanya intervensi ekonomi terhadap kebebasan kreatif seniman. Banyak seniman yang akhirnya mencari keseimbangan: menciptakan karya yang menarik pasar, sambil tetap mempertahankan nilai artistik. Strategi ini menunjukkan bahwa seniman bukan semata Aukorban pasarAy, tetapi juga aktor kreatif yang mampu memanfaatkan situasi. Nilai ekonomi dan nilai budaya sering berinteraksi dalam ekosistem seni. Art Jakarta menjadi tempat negosiasi kreatif antara estetika dan komersialisme. Art fair tidak hanya menjual karya, tetapi juga menetapkan tolok ukur reputasi dan nilai: partisipasi dalam art fair menciptakan benchmark yang memengaruhi persepsi pasar (Morgner, 2. Media dan liputan independen juga turut mengawasi mekanisme pasar. Institusi pasar seni seperti galeri dan art fair membentuk nilai karya melalui kurasi informasi dan sejarah, sekaligus mengukuhkan otoritas mereka dalam menentukan apa yang dianggap sah dan bernilai dalam seni (Brown, 2. Majalah seni sering menyoroti galeri independen yang tampil dengan harga terjangkau atau karya Ini menjadi semacam counterpublic terhadap dominasi art fair Dalam wacana budaya visual, media semacam ini memberi ruang alternatif dan menjaga pluralitas nilai seni. Fenomena ini menunjukkan bahwa kurasi dan pemilihan karya bukan sekadar soal pertimbangan estetika, melainkan juga kapasitas dalam menjual dan memasarkan. Sebagian kurator dan galeri telah membangun portofolio bisnis yang kuat berdasarkan reputasi Art Jakarta. Ini menghasilkan pasar tertutup yang elegan dan menguntungkan secara ekonomi. Medan seni di sini terlihat seperti Aoklub eksklusifAo yang mengatur siapa yang layak tampil dan dihargai. Hubungan seni dan pasar dalam Art Jakarta tampak sangat kompleks dan Event ini menjadi tempat pertemuan antara nilai ekonomi dan simbolik, di mana seniman harus merundingkan identitas artistik dan strategi pasar. Kuratorial dan seleksi membutuhkan modal ekonomi dan jaringan mapan. Tetapi, ia juga membuka peluang kreatif dimana seniman dapat menegosiasikan identitas mereka. Dengan demikian. Art Jakarta bukan sekadar tempat bertransaksi, melainkan institusi yang menentukan nilai dan bentuk seni kontemporer Indonesia. I Gusti Ayu Putu Pratiwi (Peran Art Jakarta A) Volume 13 No. 2, 2025 SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa Art Jakarta bukan sekadar ajang pameran seni atau tempat transaksi ekonomi, melainkan sebuah institusi budaya yang kompleks dan berpengaruh dalam medan seni kontemporer Indonesia. Sebagai art fair terbesar di Indonesia. Art Jakarta memiliki berbagai peran strategis sebagai arena simbolik yang melegitimasi posisi seniman, sebagai simpul jaringan sosial yang menghubungkan berbagai aktor budaya, serta sebagai medan ekonomi yang membentuk arah kuratorial dan produksi seni. Temuan memperlihatkan bahwa partisipasi dalam Art Jakarta memberikan nilai simbolik yang tinggi bagi seniman, baik dalam bentuk pengakuan sosial maupun peluang karier. Namun, nilai simbolik ini tidak terdistribusi secara merata, melainkan mengikuti pola-pola eksklusivitas yang dikendalikan oleh modal ekonomi, representasi galeri, dan jejaring institusional. Selain itu, medan seni di Art Jakarta juga menunjukkan adanya ketegangan antara idealisme artistik dan tuntutan pasar, yang memengaruhi praktik penciptaan dan seleksi karya. Art Jakarta berfungsi sebagai medan budaya dalam pengertian Bourdieu: sebuah ruang sosial tempat berbagai bentuk modal simbolik, sosial, dan ekonomi dipertukarkan, dipertarungkan, dan direproduksi. Fungsi ganda Art Jakarta sebagai institusi seni dan pasar budaya menunjukkan bahwa perkembangan seni kontemporer Indonesia saat ini tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosial, ekonomi, dan politik representasi yang melingkupinya. Pendekatan sejarah sosial seni dan teori medan budaya, memberikan kontribusi penting dalam memahami peran art fair sebagai agen perubahan struktural dalam ekosistem seni. Penelitian ini menegaskan pentingnya membaca institusi seni tidak hanya dari sisi estetika atau ekonomi, tetapi juga sebagai aktor aktif dalam membentuk struktur sosial seni. Dalam konteks ini. Art Jakarta dapat dipahami sebagai representasi dari medan kontestasi nilai dalam seni kontemporer Indonesia dimana kuasa, legitimasi, dan identitas budaya terus dinegosiasikan. DAFTAR RUJUKAN Bourdieu. The Field of Cultural Production. st ed. Vol. Columbia University Press / Polity Press . Bourdieu. The Rules of Art: Genesis and Structure of the Literary Field (P. Bourdieu. Ed. 1st ed. Vol. Stanford University Press. Bourriaud. Relational aesthetics . nd ed. Vol. Les Presses du ryel. Brown. Art markets, epistemic authority, and the institutional curation of Cultural Studies, 37. , 626Ae646. https://doi. org/10. 1080/09502386. Dartanto. Sebuah Catatan :Relasionalitas dalam Praktik Seni Rupa AuGenerasi Multipolar. Ay In A. Dartanto. Krishbie, & C. Dewi (Eds. Pameran Manifesto 6. 0 MULTIPOLAR . st ed. Vol. 1, pp. 18Ae. Galeri Nasional Indonesia Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dewi. Galeri Nasional Indonesia (GNI) dalam Pembentukan Identitas Nasional: Kajian Tentang Pameran Seni Rupa Nusantara. Di GNI. Jakarta. Tahun 2001 - 2017. I Gusti Ayu Putu Pratiwi (Peran Art Jakarta A) Volume 13 No. 2, 2025 Flynn. Relational Art. In The International Encyclopedia of Anthropology . 1Ae. Wiley. https://doi. org/10. 1002/9781118924396. Kent. Contemporary Jakarta: A Tale of Two Art Events. Art Australia, 59. , 291. Kirchberg. , & Zembylas. Volker Kirchberg. Tasos Zembylas The Social Organization of Arts (V. Kirchberg & T. Zembylas. Eds. 1st ed. Vol. mdwPress. Lee. , & Lee. Art Fairs as a Medium for Branding Young and Emerging Artists: The Case of Frieze London. The Journal of Arts Management. Law. Society, 46. , 95Ae106. https://doi. org/10. 1080/10632921. Morgner. The Art Fair as Network. The Journal of Arts Management. Law, and Society, 44. , 33Ae46. https://doi. org/10. 1080/10632921. Poshyananda. Contemporary art in Asia : traditions tensions . st ed. Vol. Asia Society Galleries. Quemin. International Contemporary Art Fairs In A AuGlobalizedAy Art Market European Societies, 15. , 162Ae177. https://doi. org/10. 1080/14616696 Spielmann. Contemporary Indonesian Art: Artists. Art Spaces, and Collectors . st ed. Vol. National University of Singapore Press. Swartz. Culture and Power The Sociology of Pierre Bourdieu (D. Swartz. Ed. 1st ed. Vol. The University of Chicago Press. Velthuis. , & Curioni. Cosmopolitan Canvases: The Globalization of Markets for Contemporary Art (O. Velthuis & S. Curioni. Eds. 1st ed. Vol. Oxford University Press.