DEIKTIS: Jurnal Pendidikan. Bahasa dan Sastra. Vol. No. 1, 2024 Copyright A the author. Analisis Nilai Sosial dalam Kumpulan Puisi Essai Mata Luka Sengkon Karta Karya Peri Sandi Huizche Rizal1 Syahruddin2 Anzar3 1,2,3Universitas Muhammadiyah Makassar. Indonesia 1 rizalpuma114@gmail. 2syahruddin@unismuh. 3anzar@unismuh. Abstrak Masalah utama dalam penelitian ialah bagaimana Nilai Sosial dalam Puisi Mata Luka Sengkon Karta Karya Peri Sandi Huizche. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan makna kumpulan puisi Mata Luka Sengkon Karta Karya Peri Sandi Huizche dengan menggunakan teori Sosiologi Satra Wallek dan Werren. Jenis penelitian ini termasuk penelitian dekskriptif kualitatif dengan menghasilkan data deskriptif berupa kata, kalimat maupun frasa. Data dalam penelitian ini berupa teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik menyimak, dan mencatat. Hasil penelitian ini menampilkan bahwa data yang ditemukan dalam puisi Mata Luka Sengkon Karta Karya Peri Sandi Huizche sebanyak tiga data yang dikontekstualisasikan dengan sosiologi sastra Wellek dan Werren. Dalam sosiologi Wellek dan Werren menawarkan tiga konsep untuk menambah wawasan dalam memahami sebuah karya, yakni sosiologi sosiologi pengarang, sosiologi sastra dan sosiologi karya sastra. Kata Kunci: Puisi Mata Luka Sengkon Kerta. Sosiologi Sastra Wallek dan Werren Pendahuluan Sastra berasal dari bahasa sangsekerta yaitu kata shastra yang merupakan kata sarapan dari bahasa sangsekerta, memiliki makna teks yang mengandung intruksi atau pedoman dari kata sas yang memiliki makna intruksi atau ajaran. Seperti yang dikatakan (Wellek R. & Werren A. , 2. , mereka mengatakan salah satu pengertian sastra adalah seni bahasa. Yang memiliki makna, lahirnya sebuah karya sastra adalah dinikmati diri sendiri atau juga dinikmati oleh siapa saja yang membacanya atau pembacanya Karya sastra adalah ciptaan yang disampaikan dengan komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estatika. Karya-karya ini sering menceritakan sebuah kisah, ide, imajinasi maupun emosi yang dituangkan seorang penulis semua itu tergantung situasi dan kondisi penulis tersebut. Secara eksitensi sastra adalah suatu yang kongret dalam dirinya, tetapi berbagai fenomena sastra adalah cerminan yang mendukung proses kehidupan dan kemanusiaan. (Mustofa A. Dkk. Menurut Lianawati . 9: . mengemukakan bahwa "Sastra merupakan kata serapan dari bahasa sanskerta teks yang mengandung intruksi atau pedoman". Sastra dibagi menjadi sastra lisan dan sastra Masyarakat yang belum mengenal huruf tidak punya sastra tertulis, hanya memiliki tradisi lisan. Ningsih . , menyatakan bahwa karya sastra adalah karya yang kreatif dan imajinatif yang diciptakan oleh pengarang bersumber dari realitas kehidupan masyarakat. Wiharja. Dkk . menyatakan fungsi sastra sebagai sarana hiburan dan pendidikan dapat diperoleh melalui sebuah karya sastra seperti novel, cerpen, puisi, dan drama atau film. Menurut Wicaksono A. sastra adalah kreativitas pengarang yang bersumber dari kehidupan manusia secara langsung atau https://dmi-journals. org/deiktis/index DEIKTIS: Jurnal Pendidikan. Bahasa dan Sastra ISSN 2807-7504 melalui rekaannya yang dengan bahasa sebagai medianya. Prisyka . , karya sastra merupakan salah satu sarana yang digunakan pengarang untuk mengungkapkan ide mulai dari permasalahan hidup hingga perasaannya. Pengungkapan itu dapat terealisasikan apabila ada pengalaman yang dialami sendiri oleh pengarang ataupun realita yang terjadi di masyarakat. Sosiologi sastra diterapkan dalam penelitian ini dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman karya sastra dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat sehari hari, menjelaskan bahwa rekaan tidak berlawanan dengan kenyataan dalam hal karya sastra yang di konstruksikan secara imajinatif, akan tetapi struktur empirisnya dan karya sastra bukan hanya semata-mata merupakan wujud gejala individual, tetapi merupakan gejala sosial (Nilawijaya & Inawati, 2020:. Sosiologi merupakan studi yang ilmiah dan objektif yang mempelajari mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga sosial dan proses-proses Sosiologi berusaha menjawab pertanyaan mengenai bagaimana masyarakat dimungkinkan, bagaimana cara kerjanya dan mengapa masyarakat itu bertahan hidup (Faruk, 2010: . Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang dapat dikategorikan sebagai struktur wacana yang utuh. Puisi juga memperlihatkan ciri bahasa yang dinamis (Mulyana, 2005: . Puisi merupakan karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi rima dengan bunyi yang keluar dari perasaan seorang penyair. Pada hakikatnya sebuah karya sastra adalah replika kehidupan nyata. Walaupun bentuk fiksi, misalnya cerpen, novel, dan drama, persoalan yang disodorkan oleh pengarang tak terlepas dari pengalaman kehidupan nyata sehari-hari. Hanya saja dalam penyampaiannya pengarang sering mengemasnya dengan gaya yang berbeda-beda dan syarat pesan moral bagi kehidupan manusia. Puisi adalah bentuk karya sastra yang berbentuk pendek, singkat dan padat yang dituangkan dari isi hati, pikiran dan perasaan seorang penyair, dengan segala kemampuan bahasa yang pekat, kreatif, imajinatif. Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi rima dengan bunyi yang keluar dari perasaan seorang penyair. Bagaimnapun juga, peristiwaperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang, yang sering menjadi bahan sastra, adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat (Damono, 1984: . Sehubungan dengam hal tersebut. Awalludin & Anam . menyatakan bahwa kegiatan sastra itu tidak bisa lepas dari unsur masyarakat melalui intuisi sosial dengan menggunakan medium bahasa. Mustamar . menyatakan bahwa puisi selalu memiliki karakteristik yang berbeda pada setiap periode perkembangannya, baik dari sisi tema, bentuk, suasana maupun isinya. Kondisi sosial, politik, dan budaya menjadi pembentuk corak puisi. Jenis bahasa yang tersulit adalah puisi, sebab puisi menghendaki kepadatan dalam pengungkapan. Kepadatan ini tidak hanya tercermin lewat kata-kata yang memiliki bobot makna yang berdaya jangkau luas ketimbang katakata bahasa sehari-hari, namun juga berperan sebagai pembangunan dimensi kedua seperti membangun kesan atau efek imageri, tatanan ritmis ditiap baris, pembentukan nada suara sebagai cermin sikap penulis semisal sinis, ironis, dan hiperbolis terhadap pokok persoalan yang ia angkat dalam karyanya dan membangun dimensi lain yang hadir tanpa terlihat karena berada di balik makna literal (Siswantoro, dalam Hardiyanti, 2011: . (Sujarweni, 2014:. menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan yang diamati dari suatu kebudayaan dalam konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh. Internalisasi nilai-nilai sosio-kultural dalam implementasi pendidikan Islam berangkat dari heterogenitas pembelajar yang berasal dari diversitas etnik, agama, dan Sebagai contoh dalam sebuah kelas sangat memungkinkan terdiri dari siswa Vol. No. 1, 2024 ISSN 2807-7504 yang berasal dari latar belakang etnik, budaya, dan agama yang berbeda (Rohman dan Hairudin, 2. (Windarti, 2. Nilai juga dapat dikatakan sebagai suatu norma atau sebuah standar yang sudah ditentukan dan diyakini secara psikologis telah menyatu dalam diri individu. Di dalam nilai-nilai terdapat pembakuan mengenai suatu yang dinilai baik dan buruk serta pengaturan perilaku. Kumpulan Puisi Esai Mata Luka Sengkon Karta dalam Karya Peri Sandi Huizche merupakan sebuah karya sastra yang menarik untuk dikaji. Kumpulan puisi essay tersebut juga merupakan media untuk menyampaikan ide ataupun gagasan penulis mengenai kegelisahannya. Dalam Karya Peri Sandi Huizche menggunakan bahasa yang lebih padat dan menggunakan bahasa yang transparan, sehingga menimbulkan nuansa kejengkelan, penggambaran dan pemaknaannya terasa lebih jelas, menarik, dan lebih Dalam menggambarkan protes dan kritiknya terhadap pemerintah dengan menggunakan diksi pengangguran, kelaparan, bangsa, dan rakyat. Dalam skala politik global, urgensi media sangat berpengaruh dalam stabilitas politik sehingga penting kiranya dalam mengembangkan wacana analisis nilai-nilai sosial yang terdapat dalam media, salah satunya adalah karya sastra. Nilai adalah prinsip, standar, atau kualitas yang dianggap berharga atau diinginkan oleh orang yang memegangnya. Artinya, nilai itu tidak hanya diharapkan, tetapi juga diusahakan sebagai sesuatu yang pantas dan benar bagi diri sendiri dan orang lain. Sementara itu nilai sosial adalah kualitas perilaku, pikiran, dan karakter yang dianggap baik dan benar, hasilnya diinginkan, dan layak ditiru oleh orang lain. Nilai sosial merupakan sikap dan perasaan yang diterima secara luas oleh masyarakat dan merupakan dasar untuk merumuskan apa yang benar dan apa yang penting. Dalam proses pengerjaan penelitian ini ada beberapa penelitian terdahulu yang dijadikan sebagai landasan atau dasar dalam menyusun penelitian ini, seperti penelitian yang dilakukan oleh Yuliana. dengan judul Nilai-nilai sosial dalam Novel Belenggu Karya Mufidatun Fauziyah: Tinjauan Sosiologi Sastra. Hasil penelitian menunjukkan Nilai-nilai sosial yang terdapat dalam novel Belenggu karya Mufidatun Fauziyah, yaitu nilai sosial budaya, nilai sosial religius, nilai sosial ekonomi, nilai sosial pendidikan, dan nilai sosial cinta kasih. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Prahasti. dengan judul Analisis Sosiologi Sastra dalam Novel Megat Karya Rida K Liamsi. Penelitiannya mengungkap beberapa fakta sosiologis di dalam data-data yang ditemukan dengan menggunakan teknik hermeneutik sebagai teknik pengumpulan data. Sosiologi sastra sebagai pendekatan penelitian, dengan metode desktiptif kualitatif, yakni mendeskripsikan datadata berupa uraian kalimat, kata, ataupun frasa dalam objek penelitian tertentu. Penelitian sebelumnya yang dianggap relefan dan signifikan dengan penelitian ini adalah penelitian dilakukan oleh Rusfat. dengan judul Kesenjangan Sosial dalam kumpulan Puisi essay Mata Luka Sengkon Karta Karya Peri Sandi Huizche. Pada penelitiam ini Pendekatan yang digunakan adalah sosioligi sastra Marxis dengan penekanan pada pembahasan infrastruktur, suprastruktur, ideologi, dan pertentangan Hasil pada penelitian ini menunjukkan data yang ditemukan dalam puisi Mata Luka Sengkon Karta Karya Peri Sandi Huizche sebanyak tiga data yang dikontekstualisasikan dengan Sosiologi Sastra Marxis. Kemudian penelitian selanjutnya dilakukan oleh Sahara. L . dengan judul Analisis Nilai Sosial pada Kumpulan Puisi Sebuah Kota dalam Tubuh Karya Djuhari Basri sebagai Alternatif Bahan ajar di Sekolah Menengah Atas. Dalam Penelitiannya mengemukakan jenis-jenis nilai sosial yang dianalisis yakni nilai sosial material, nilai sosial vital dan nilai sosial kerohanian. Hasil penelitian mengungkapkan dapat diketahui bahwa jenis nilai sosial yang paling banyak DEIKTIS: Jurnal Pendidikan. Bahasa dan Sastra ISSN 2807-7504 muncul di kumpulan puisi Sebuah Kota dalam Tubuh karya Djuhardi Basri adalah nilai sosial religius, sedangkan nilai sosial yang paling sedikit muncul di kumpulan puisi Sebuah Kota dalam Tubuh karya Djuhardi Basri adalah nilai sosial moral. Metode Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode yang bersifat analisis deskriptif kualitatif. Analisisnya berfokus pada analisis secara rinci dan mendalam. Jenis penelitian ini juga berupa metode penelitian yang difokuskan pada suatu kasus khusus untuk diamati dan analisis secara Data penelitian ini adalah ungkapan dan kalimat dalam puisi yang diklasifikasikan sesuai dengan analisis yang dikaji yaitu teori sastra sosiologi sastra Wellek dan Werren yang terdiri dari sosiologi pengarang, sosiologi karya sastra dan sosiologi pembaca yang terdapat dalam kumpulan puisi essai Mata Luka Sengkon Karta Karya Peri Sandi Huizche. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, simak, baca, catat, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan mengumpulkan, mengklasifikasikan, dan menganalisis data. Data dengan cara mencatat tuturan tokoh dan narasi deskriptif penulis dalam novel yang sesui dengan karakteristik penelitian, yaitu deiksis sosial. Mengklasifikasikan data berdasarkan deiksis sosial, dan konteks tuturan sebelum melakukan analisis data. Menganalisis data berdasarkan metode analisis kontekstual. Konteks yang dimaksud meliputi lingkungan fisik maupun non-fisk atau konteks situasi tutur ( maksud tutur, lokasi tutur, peserta tutur dan lain-lain ). Hasil Puisi essai Mata Luka Sengon Karta Karya Peri Sandi Huizche dikaji dan dianalisis dengan pendekatan sosiologi sastra wallek dan werren dengan melihat tiga aspek sosiologi pengarang, sosiologi pembaca dan karya sastra yang terkandung dalam puisi tersebut yang dijadikan sebagai fokus. Adapun hasil penelitiannya sebagai berikut. Sosiologi Pengarang Sosiologi pengarang adalah ilmu yang memperlajari tentang masyarakat atau ilmu yang mempelajari masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Sosiologi pengarang terbagi menjadi dua yaitu: Biografi Pengarang Nama pengarang yaitu Peri Sandi tempat, tanggal lahir Sukabumi 15 Februari 1987 alamat sekarang di Serang. Banten umurnya 36 tahun agama yang dianut Latar Belakang Sosial Pengarang Peri Sandi pernah mengeyam pendidikan S1 pada tahun 2012 dan S2 pada tahun 2015 di Perguruan Tinggi Institut Seni Budaya Indonesia Bandung dan mendapatkan gelar S. Sn serta M. Sn. Sekarang bekerja sebagai dosen tetap di Perguruan Tinggi Institut Seni Indonesia Surakarta dengan Program Studi Teater, jabatan fungsiona adalahl Asisten Ahli. Peri Sandi juga pernah mendapatkan penghargaan dari Jurnal Sajak Inpirasi com sebagai pemenang lomba puisi dengan judul AuMata Luka Sengkon KartaAy . , selain itu ia terlibat dalam sejumlah acara : Pertemuan Sastrawan Jabar 2013. Temu Sastrawan Mitra Praja Utama (MPU) 2013. Bengkel Penulisan Essai Ae Majelis Sasta Asia Tenggara (MASTERA) 2014. Sosiologi Pembaca Vol. No. 1, 2024 ISSN 2807-7504 Dalam sosiologi pembaca melibatkan para pembaca dalam permasalahan dan dampak sosial setelah membaca atau pernah mendengar puisi Mata Luka Sengkon Karta Karya Peri Sandi Huizche tersebut. Dalam sosiologi pembaca terbagi menjadi dua bagian yang akan diuraikan sebagai berikut. Nama Ali Amri Deppatoro tempat, tanggal lahir Kalumpang 22 Agustus 2001 Umur sekarang 22 Tahun dan beragama islam. Pernah mengeyam pedidikan S1 pada tahun 2018 di Universitas Muhammadiyah Makassar dan mendapatkan gelar pada 16 Maret 2023. Salah satu pembaca buku kumpulan puisi essai Mata Luka Sengkon Karta Karya Peri Sandi Huizche di berpendapat bahwa AuPuisi essai Mata Luka Sengkon Karta Karya Peri Sandi Huizche ini merupakan puisi yang relatif menarik dikalangan mahasiswa pada umumnya. Peri Sandi sebagai penulis yang sangat berhati-hati menuliskan sajak dan meletakan beberapa kata yang membuat pembaca merasa berada pada zaman puisi itu dideskripsikan, bahkan Peri Sandi sebagai penulis melakukan berbagai riset dan penelitian terkait pemberontakan dan penangkapan atau bahkan tragedi pembunuhan yang dialami oleh PKI. Puisi ini menurut saya sangat membantu kita . dalam memahami dan menemukan potret kekerasan pada masa orde lama dan orde baru. Bahwa pada masa itu, wujud bangsa indonesia yang heterogen secara ideologis mampu mewarnai sejarah dan mengantarkan Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan . esadaran ketertindasa. Di samping itu, puisi seperti Mata Luka Sengkon Karta Karya Peri Sandi Huizche masih relatif sedikit dalam dunia kesustraan khususnya di Indonesia sehingga hadirnya puisi ini mampu menambah warna dan khazanah atau genus dalam konteks penulisan karya sastraAy Serta dia menceritakan dampak sosial itu AuDampak sosial yang dirasakan oleh pembaca adalah hadirnya kesepahaman bahwa aparat Negara merupakan alat pembungkaman mutlak bagi perbedaan. Hal ini di tegaskan dalam puisi tersebut dengan penangkapan dan pembunuhan yang dilakukan oleh aparat Negara. Di samping itu, puisi sejenis Mata Luka Sengkon Karta ini manambah wawasan kita terkait genre ataupun aliran-aliran yang membentuk puisi, kendati di Indonesia puisi aliran romantisme cukup membumi sehingga puisi-puisi ini seperti mata luka sengkon karta ini kurang mendapat tempat yang layak di benak masyarakat. Ay Muh Yusril Rusfat yang lahir pada 25 November 1999 sekarang dia berumur 24 tahun dan beragama islam. Pernah mengeyam pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar pada tahun 2018 dan mendapatkan S1. Dia berpedapat bahwa Puisi AoAomata luka sengkon kartaAoAo karya peri sandi huizche ini merupakan cerminan sejarah yang terdapat pada tragedi G30S PKI yang menjelaskan tentang seorang petani miskin yang menjadi buruh tani pada lading orang lain. Kehidupan seorang petani miskin yang menjadi buruh tani pada lading orang lain yang bertepatan di daerah Bojongsari, kota bekasi. Masa pemerintahan belanda, bekasi pada masa ini masuk ke dalam Regentchap messtercornelis, yang terbagi atas empat distrik, yaitu Messter Cornelis. Kebayoran. Bekasi dan Cikarang. Peri Sandi Huizche dalam puisinya sangat peduli pada kehidupan kelas bawah . akyat miski. , seolah-olah dia memperjuangkan hak-hak rakyat tertinggal melalui puisi yang dibuatnya. Peri Sandi Huizche pergerakan dari pembaca dan mahasiswa untuk membantu menyelesaikan masalah yang belum terpecahkan. Pembaca diajaknya untuk kemabali menghadirkan nalar kritis terhadap jalan nya kehidupan yang semakin tidak adil dan menindas rakyat kecil dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan yang telah didapatkan disekolah atau perguruan tinggi. DEIKTIS: Jurnal Pendidikan. Bahasa dan Sastra ISSN 2807-7504 Sosiologi Karya Sastra Dalam sosiologi karya sastra terbagi yaitu sosiologi membicarakan tentang bermasyarakat dan karya sastra tentang cerita kisah tentang penulis cinta, sedih, bahagia dan lain-lain. Sosiologi karya sastra terbagi menjadi tiga akan diuraikan sebagai . Isi Karya Sastra Mata Luka Sengkon Karta Aupupuh mengantarkan wejangan hidup kecapi dalam suara sunyi menyendiriAy Dalam bait ini, selain nasihat dijadikan sebagai motivasi untuk melanjutkan hidup, nasihat juga diartikan sebagai pandangan seseorang yang mengarah pada orang bijak. Sehingga Sengkon dan Karta menjadikan nasihat sebagai irama dalam kehidupan. AuPupuh dan kecapi membalut nyeri Menyatu dalam suara gentingAy Pada bait ini, perasaan luka yang dirasakan Sengkon dan Karta akibat ulah warga desa karena melakukan tindakan penuduhan pembunuhan terhadap orang tersohor dibojongsari yaitu Sulaiman dan istrinya. Auterluka, melukai, dilukai, dan luka-luka menganga akibat ulah manusiaAy Peristiwa kejam dari bait ini menandakan bahwa sekitar puluhan tahun yang lalu tepatnya pada tahun 1974 terjadi sebuah tragedi penindasan, penghakiman, penuduhan sampai mengakibatkan penumpahan darah di Bojongsari. Sengkon dan Karta tertuduh sebagai pembunuhan salah satu warga yakni Sulaiman warga Bojongsari. Sulaiman merupakan orang terpandang di Bojongsari, memiliki banyak harta dan kekayaan yang melimpah Sulaiman juga memanfaatkan hal itu dengan cara merendahkan, menghina dan menghakimi orang lain. Sehingga dengan kekayaan dimilikinya dapat melakukan apa saja yang dia inginkan tanpa memandang peri Selanjutnya yang terkandung dalam puisi Terengah-engah dalam Tabung dan Selang yang mengatakan bahwa. AuAku seorang petani bojongsari menghidupi mimpi dari padi yang ditanam Ay Menyimpulkan bahwa, pada era itu kehidupan sengkon karta bergantung pada penghasilan dari padi yang digarap. Tentu saja, dikarenakan sengkon dan karta tinggal di daerah pedesaan tepatnya di Bojongsari yang didominasi mata pencaharian warga adalah bertani. Pada bait kelima mengatakan bahwa. Aukesederhanaan panutan hidup dapat untung dilipat dan ditabung. Ay Berdasarkan bait tersebut terkandung sebuah makna bahwa seorang petani yang berupaya mencari kebutuhan hidup sehari-hari dari sebuah hasil dari sawah dengan harapan hasil dari menggarap sawah bias ditabung dan disimpan untuk membuat usaha yang bisa mencukupi kehidupan keluarga. Au1974 tanah air yang kucinta berumur dua puluh sembilan tahun waktu yang muda bagi berdirinya sebuah negaraAy Sejarah masa lalu yang kelam merupakan makna bait puisi tersebut. Puluhan tahu yang lalu insiden kemerdekaan mengantarkan Indonesia merayakan kemerdekaan sebagai Negara yang bebas daripenjajahan. Banyak tragedi pembunuhan. Vol. No. 1, 2024 ISSN 2807-7504 pertumpahan darah, perlawanan dan perjuangan yang telah pahlawan lakukan untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Aulambang garuda dasarnya pancasila undang-undang empat lima merajut banyak peristiwaAy Pada bait ini ditandai dengan pertentangan ideologi pancasila dan ideologi komunisme yang diadopsi oleh Partai Komunis Indonesia. Pancasila sebagai ideologi dasar Negara merupakan landasan dan rujukan kita sebagai warga Indonesia untuk senantiasa mengamalkan dan melaksanakan bunyi sila pertama sampai sila kelima. Sehingga tidak terjadi lagi ketidakadilan atau kesenjangan sosial untuk para kelas bawah, tidak ada lagi penindasan dan tidak ada lagi perampasan atau kasus hak asasi manusia yang marak terjadi pada puluhan tahun silam. Auperalihan kepemimpinan yang mendesak bung karno diganti pak harto dengan dalih keamanan negara. Ay peralihan kepemimpinan atau dikenal dengan transisi kekuasaan diakibatkan oleh kepentingan Soeharto menuntaskan dan membubarkan PKI (Partai Komunis Indonesi. Pengaruh keberadaan PKI membuat Indonesia kehilangan arah, maraknya pembunuhan tragedy G30S (Gerakan 30 Septembe. dan hancurnya inflasi ekonomi Negara berakibat dari keberadaan PKI. Sehingga pada 1 Juli 1966 Soeharto ditunjuk sebagai pejabat presiden. Selaku pemegang ketetapan Soeharto kemudian menerima penyerahan kekuasaan pemerintahan dari Presiden Soekarno. Pada 7 Maret 1967. Soeharto ditunjuk sebagai pejabat presiden sampai terpilihnya presiden oleh MPR hasil pemilihan umum. Aupemusnahan golongan kiri PKI wajib mati. Ay Sejarah merupakan peristiwa yang selalu menjadi pertanyaan dan perbandingan, sama halnya pada bait ini yang menceritakan tentang kekejaman PKI. Peristiwa pembantaian aparat militer menjadi alasan Partai Komunis Indonesia harus dibubarkan. Namun Soekarno sempat menolak pembubaran PKI. Alasannya, karena Soekarno menganggap pembubaran PKI bertentangan dengan ideologi nasionalisme, agama, dan komunisme (NASAKOM) yang dia cetuskan. Aupemimpin otoriter REPELITA rencana pembangunan lima tahun bisa jadi rencana pembantaian lima tahunAy Pada bait ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa, dahulu banyak pemimpin otoriter atau pemimpin yang berkuasa dengan sewenang-wenang di negara kita, walaupun jejak pemimpin dahulu dan sekarang masih ada yang seperti itu. Sejarah turunnya atau digantikannya Soekarno dari kursi presiden juga terkandung dalam bait ini, karena pada tahun 1968 presiden Soekarno digantikan oleh Soeharto dari jabatannya sebagai presiden republik Indonesia. Soeharto dengan kepemimpinannya pada masa-masa awal juga mengalami begitu banyak dinamika, salah satu diantaranya adalahpemberontakan PKI dan pembunuhan beberapa jendral pada peristiwa G30SPKI. Audi tahun-tahun berikutnya kudapati penembak misterius tak ada salah apalagi benar tak ada hukum negara. Ay Pada bait ini menceritakan tentang penembakan misterius atau sering disebut dengan petrus pada masa pemerintahan Soeharto pada tahun 1980-an untuk menanggulangi tingkat kejahatan yang begitu tinggi pada saat itu. Petrus berawal dari operasi penanggulangan kejahatan di Jakarta, operasi ini secara umum adalah operasi penangkapan dan pembunuhanterhadap orang-orang yang mengganggu keamanan dan ketenteraman masyarakat khususnya di Jakarta dan Jawa DEIKTIS: Jurnal Pendidikan. Bahasa dan Sastra ISSN 2807-7504 Tengah. Pelakunya tak jelas dan tak pernah tertangkap, karena itu muncul istilah "petrus". enembak misteriu. Malam Jumat Dua Satu November 1974 Ausetiap malam jumAoat yasin dilantunkan dengan hidmat bintang- bintang berdzikir di kedipannyaAy Pada bait ini ditandai dengan penyadaran diri kepada Tuhan pemilik alam, sebagai manusia tidak merasa dirinya paling benar dan paling bisa melakukan tanpa ada campur tangan dari Tuhan. Sehingga lantunan surat Yasin diyakini akan membawa berkah bagi diri sendiri dan keluarga jika amalan tersebut dilakukan dengan khidmat dan serius. Pada bait kedua yang mengatakan bahwa. Ausuara-suara binatang melengkingkan pujian untuk tuhanAy Pada bait ini menggambarkan tentang pujian dan kearifan yang berarti rasa pengakuan yang tulus akan kebaikan Tuhan kepada hamba- Nya. Kebaikan Tuhan kepada hamba-Nya adalah bentuk cinta dan sayang, sehingga kesungguhan dan keseriusan dalam berkomunikasi kepada-Nya merupakan cara alternatif untuk Pada bait kedelapan belas yang mengatakan bahwa. Auistriku masih mengenakan mukena mengambilkan minum dari dapur di kejauhan terdengar warga desa gaduhAy Auadili si keluarga rampok ituAyAuyaA usir dari kampong iniAy AuBakar saja rumahnyaAy AubetulAy Pada bait ini ditandai dengan ketidaktahuan Sengkon atas pembunuhan dan perampokan dikediaman Sulaiman. Sulaiman dikabarkan telah meninggal dunia oleh warga, sedangkan Sengkon sama sekali tidak mengetahui berita tersebut. Tiba-tiba warga telah mengepung rumahnya. Sengkon tertuduh sebagai pelaku pembunuhan dan perampokan Sulaiman dan istrinya. di lubang bilik ada banyak obor dan petromak menyala teriakkan tegas Ausodara sengkon, sodara sudah dikepung ABRI! kalau mau selamat, sodara sudah tidak bias kabur, angkat tangan!Ay Pada bait ini ditandai dengan penyerangan massa warga bojongsari dan aparat kepolisian setelah mengetahui informasi kasus pembunuhan dan perampokan Sulaiman. Sengkon tertuduh dalam kasus pembunuhan dan perampokan Sulaiman dengan berbagai bukti yang dimiliki oleh warga dan pihak kepolisian, mulai dari sumpah Sengkon atas kematian Sulaiman sampai pada masalah ekonomi yang diterpahnya. istriku kaget Aukok kamu, kang?Ay Audemi allah saya tidak berbuat jahat!Ay masih dalam suara yang sama Aukalau sodara tidak keluar Dalam hitungan tiga Kami akan mengeluarkan tembakan peringatan satu, duaA tiAgA. Ay Pada bait ini. Sengkon didatangi oleh aparat kepolisian dan warga karna tertuduh atas pembunuhan Sulaiman, namun disisi lain Sengkon tidak menyadari dan tidak bersalah dalam kasus tersebut. Karena pelaku kasus pembunuhan dan Vol. No. 1, 2024 ISSN 2807-7504 perampokan Sulaiman adalah Gendul anak dari sahabat bapak dari Sengkon yang telah Sengkon berupaya untuk terus mengatakan hal yang sebenarnya, tetapi warga dan aparat kepolisian yang ada dirumah Sengkon tidak mau dan tidak menerima Tindakan represifitas dan tidak berperikemanusiaan pun terjadi karena amarah yang tidak terkontrol lagi oleh masyarakat. Sengkon mengalami kekerasan fisik berupa pemukulan dan caci makian. Secepat yang kubisa aku keluar angkat tangan di pintu ratusan warga mulai melontarkan sumpah serapah anjing! babi! setan! bagong! tai! sampah! Pada bait ini. Sengkon secepat yang dia bisa keluar dan mengangkat tangan depan pintu rumahnya. Jika tidak keluar maka ABRI dan Polisi akan mengelurkan tembakan peringatan kepada Sengkon dan istrinya. Warga desa yang semakin gaduh dengan teriakan yang tegas agar Sengkon segara menyerah. Segalanya ada di mulut warga Kata-kata tak mewakili peri kemanusiaan Warga seperti serigala Ganas Bengis tak ada rasa kasihan dari batu sampai bambu dari golok sampai balok dari cerulit sampai arit diacung-acungkan ke arahku serempak berkata Auallahu akbar!!!Ay batu, bambu, dan balok beterbangan ke arahku. Pada bait ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa amarah warga sudah tidak terbendung lagi, warga yang mendengarkan berita bahwa Sulaiman telah dibunuh oleh Sengkon dan Karta. Warga yang geram denganberita tersebut dengan membawa senjata tajam mereka ingin menghakimi si pelaku pembunuhan Sulaiman dan istrinya, mulai dari cerulit, batu, balok, arit/pisau diacungkan di tubuh Sengkon. aku masih diselimuti kebingungan disambut rajia seluruh badan kepalaku ditodong senjata laras panjangmendekati puluhan ABRI dan Polisi AuyaA gantung saja!Ay Audasar orang tak tahu diuntung!AyAusampah masyarakat!Ay Aubagong siah! setan alas! babi! goblok!dulur aing paeh gara-gara sia! anying! ku aing dipaehan siah!Ay Pada bait kesepuluh mengatakan bahwa, duk! dak! aku dikerumuni pukulan warga ABRI dan Polisi ikut-ikutan menendang dor! Pada bait ini ditandai dengan kekerasan fisik yang dialami Sengkon dan Karta, pukulan dari warga dan kepolisian ABRI membuat Sengkon dan Karta tidak Penganiayaan terus terjadi, semakin mereka berkata jujur semakin mendapat perilaku tidak berperikemanusiaan. Sengkon dan Karta dipaksa untuk berbohong dengan kasus pembunuhan Sulaiman. Pada bait kesebelas mengatakan bahwa. DEIKTIS: Jurnal Pendidikan. Bahasa dan Sastra ISSN 2807-7504 suara tembakan di langit terdengar sayup aku terkapar di tanah seorang ABRI menggusurk darah dan becek tanah bercampur di tubuh Pada bait ini dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang aparat militer ABRI yang melakukan tindakan represif kepada Sengkon yang tertuduh kasus pembunuhan Sulaiman dan istri. Tindakan represif ini mengakibatkan luka disekujur tubuh sengkon dan tidak hanya itu penuduhan dengan bukti yang belum jelas selalu berkumandang kepada keluarga sengkon karta. Kasus penuduhan kepada sengkon karta selalu dilator belakangi oleh kisah keluarga dari bapak sengkon yang terkenal dengan perampok Pada bait ketiga belas mengatakan bahwa, selang kejadian sesosok tubuh dilemparkan ke bak mobil ada sebagian tubuh yang menindih kuperhatikan wajah yang penuh luka itu Aukarta?Ay kami di tangkap dengan tuduhan perampokan juga pembunuhan Pada bait ini kita ditandai dengan ditangkapnya saudara Sengkon yakni Karta dikediamannya, namun berbeda dengan Sengkon. Karta ketika ingin ditangkap melakukan perlawanan kepada aparat kepolisian, perkelahian dan pertarungan fisik diupayakan oleh Karta karena merasa bahwa dirinya tidak bersalah dan tidak melakukan kasus pembunuhan dan perampokan. Namun, semua penjelasan yang dilontarkan oleh Karta tidak dididengarkan oleh aparat kepolisian. Karta tetap ditangkap dan diangkut ke dalam mobil lalu dibawah keruangan interogasi untuk dimintai keterangan lebih jelas oleh kasus tertuduh pembunuhan Sulaiman dan . Tujuan Adapun yang menjadi tujuan penulisan puisi sai Mata Luka Sengkon Karta Karya Peri Sandi Huizche ini, memiliki tujuan yaitu hanya sekedar bergurau untuk mengisi waktu senggang selain itu karena tidak uang dan ternyata mendapat juara . Sasaran Dengan terciptanya puisi essai Mata Luka Sengkon Karta Karya Peri Sandi Huizche ini memiliki sasaran yaitu mungkin bisa dibaca oleh semua kalangan. Simpulan Hasil analisis penelitian ini didapatkan kesimpulan yakni dengan menggunakan metode pendekatan sosiologi sastra oleh Wallek dan Warren dapat mempresentasikan nilai sosial dalam puisi essai Mata Luka Sengkon Karta Karya Peri Sandi Huizche. Adapun nilai social yakni pertama sosiologi Pengarang dalam penelitian Peri Sandi Huizche bernama lengkap Peri Sandi lahir di Sukabumi pada tanggal 15 Februari 1987 dia juga pernah kuliah di Institut Seni Indonesia Surakarta program studi teater S1 dan S2 di Institut Seni Budaya Indonesia Bandung serta menjadi dosen tetap Institut Seni Indonesia Surakarta Pernah juga mendapatkan penghargaan dari Jurnal Sajak Inpirasi com sebagai pemenang lomba puisi dengan judul AuMata Luka Sengkon KartaAy . Kedua sosiologi Pemabaca disini ada dua pembaca yang saya wawancarai tentang puisi Pembaca pertama Ali Amri Deppatoro dia mengatakan bahwa Peri Sandi sebagai penulis yang sangat berhati-hati menuliskan sajak dan meletakan beberapa kata yang membuat pembaca merasa berada pada zaman puisi itu dideskripsikan, bahkan Peri Sandi sebagai penulis melakukan berbagai riset dan penelitian terkait pemberontakan dan penangkapan atau bahkan tragedi pembunuhan yang dialami oleh PKI. Ada juga Vol. No. 1, 2024 ISSN 2807-7504 pendapat dari Muh Yusril Rusfat selaku pembaca kedua. Puisi AoAoMata Luka Sengkon KartaAoAo Karya Peri Sandi Huizche ini merupakan cerminan sejarah yang terdapat pada tragedi G30S PKI yang menjelaskan tentang seorang petani miskin yang menjadi buruh tani pada ladang orang lain, bertepatan di daerah Bojongsari, kota bekasi. Dia juga mengatakan dampak sosial pembaca adalah menanamkan dan memperkuat nilai-nilai agama, rasa solidaritas, dan cinta sesama manusia. Menumbuhkan kepekaan masyarakat terhadap toleransi sosial dalam kehidupan sehari-hari, sehingga akan terwujud masyarakat yang saling mengerti. Sosiologi Karya Sastra dalam penelitian ini adalah sengkon dan karta adalah seorang ditangkap dengan tuduhan perampokan juga Daftar Pustaka