PENELITIAN ASLI HUBUNGAN POSTUR KERJA DAN DURASI KERJA DENGAN KEJADIAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS (MSD. PADA PENGEMUDI BUS TRANSJATIM Yuliana Kusuma Wardini1. Zufra Inayah1 Program Studi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Gresik. Gresik. Jawa Timur, 61111. Indonesia Info Artikel Abstrak Riwayat Artikel: Latar belakang: Data BPJS Ketenagakerjaan Tanggal Dikirim: 24 Juni 2025 menunjukkan bahwa MSDs menempati peringkat ke-2 Tanggal Diterima: 07 Juli 2025 penyakit akibat kerja (PAK) di Indonesia setelah Tanggal Dipublish: 07 Juli 2025 gangguan pernapasan, dengan 52. 500 kasus terdaftar dalam periode 2021-2023. Penelitian yang melibatkan 482 pekerja di 12 kabupaten/kota di Indonesia menunjukkan bahwa gangguan muskuloskeletal (MSD. Kata kunci: Musculoskeletal Disorders (MSD. Postur Kerja. merupakan kondisi paling umum dengan proporsi 16%. Durasi Kerja. Transjatim diikuti oleh penyakit kardiovaskular sebesar 8%, gangguan sistem saraf 5%, gangguan pernapasan 3%, serta penyakit pada telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) sebesar 1,5%. Penulis Korespondensi: Tujuan: Mengetahui hubungan antara postur kerja dan Yuliana Kusuma Wardini durasi kerja dengan kejadian MSDs. Email: Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan yulianakusumaww@gmail. kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 54 pengemudi yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Nordic Body Map (NBM) untuk mengukur keluhan MSDs dan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) untuk menilai postur kerja. Analisis data menggunakan uji Spearman dan SomersAod. Hasil: Mayoritas pengemudi memiliki postur kerja dengan risiko rendah . ,6%) dan durasi kerja lebih dari 10 jam per hari . ,8%). Sebagian besar responden mengalami keluhan MSDs ringan . ,3%). Terdapat hubungan yang signifikan antara postur kerja dengan kejadian MSDs . = 0,000. A = 0,. dan antara durasi kerja dengan kejadian MSDs . = 0,000. r = 0,. Simpulan: Postur kerja dan durasi kerja berkontribusi terhadap kejadian MSDs pada pengemudi. Penelitian ini merekomendasikan perbaikan aspek ergonomi kerja serta manajemen waktu kerja guna mengurangi risiko MSDs Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat e-ISSN: 2527-8185 Vol. 10 No. 1 Juni 2025 (Hal 55-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JMKM DOI: ttps://doi. org/10. 51544/jmkm. How To Cite: Wardini. Yuliana Kusuma, and Zufra Inayah. AuHubungan Postur Kerja Dan Durasi Kerja Dengan Kejadian Musculoskeletal Disorders (MSD. Pada Pengemudi Bus Transjatim. Ay Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat 10 . : 55Ae63. https://doi. org/ttps://doi. org/10. 51544/jmkm. Copyright A 2025 by the Authors. Published by Program Studi: Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Sektor transportasi memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Mobilitas masyarakat sangat bergantung pada ketersediaan layanan transportasi, di mana mayoritas penduduk Indonesia memilih moda transportasi darat sebagai alat utama perjalanan mereka. Ketidakseimbangan antara tingginya permintaan dan terbatasnya fasilitas transportasi sering kali menimbulkan berbagai permasalahan, salah satunya adalah meningkatnya beban kerja pengemudi sebagai penyedia layanan perjalanan. Beban kerja yang semakin tinggi ini dapat berdampak negatif, terutama terhadap aspek kesehatan pengemudi, seperti timbulnya keluhan gangguan muskuloskeletal . Gangguan muskuloskeletal (MSD. adalah kondisi yang memengaruhi otot rangka akibat paparan beban statis yang berlangsung secara berulang dan terus-menerus dalam jangka waktu Kondisi ini dapat menimbulkan keluhan atau kerusakan pada sendi, ligamen, dan Secara umum. MSDs ditandai dengan rasa nyeri, cedera, atau kelainan pada sistem otot dan rangka, termasuk jaringan saraf, otot, ligamen, tendon, maupun sendi . Menurut data World Health Organization (WHO) gangguan muskuloskeletal menyumbang sekitar 21,5% dari seluruh keluhan terkait pekerjaan secara global, dengan prevalensi tinggi pada pekerja yang terpapar postur statis, getaran, dan durasi kerja panjang . Laporan International Labour Organization (ILO) menyatakan bahwa 37% pekerja di negara berkembang terpapar risiko MSDs akibat postur kerja tidak ergonomis dan durasi kerja panjang . Keluhan akibat gangguan muskuloskeletal berkontribusi terhadap 42Ae 58% dari keseluruhan kasus penyakit akibat kerja secara global, serta menyumbang sekitar 40% dari total pengeluaran untuk kesehatan tenaga kerja. Di Inggris, selama tahun 2021 hingga 2022, tercatat sebanyak 477. 000 pekerja mengalami gangguan muskuloskeletal terkait pekerjaan (WMSD), baik kasus lama maupun baru. Dari jumlah tersebut, kasus baru 000, dengan distribusi keluhan terbanyak pada area punggung sebesar 42%, diikuti oleh bagian tubuh atas dan leher sebesar 37%, serta bagian tubuh bawah sebesar 21% . Data BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa MSDs menempati peringkat ke-2 penyakit akibat kerja (PAK) di Indonesia setelah gangguan pernapasan, dengan 32. kasus terdaftar dalam periode 2021-2023 . Penelitian Kementerian Kesehatan RI pada pekerja sektor informal . ermasuk supir angkuta. mengungkapkan bahwa 56% mengalami nyeri punggung dan 40% mengeluh nyeri leher akibat postur kerja statis . Berdasarkan profil masalah kesehatan yang dirilis oleh Departemen Kesehatan, sekitar 40,5% penyakit yang dialami oleh pekerja memiliki kaitan langsung dengan aktivitas pekerjaan mereka. Penelitian yang melibatkan 9. 482 pekerja di 12 kabupaten/kota di Indonesia menunjukkan bahwa gangguan muskuloskeletal (MSD. merupakan kondisi paling umum dengan proporsi 16%, diikuti oleh penyakit kardiovaskular sebesar 8%, gangguan sistem saraf 5%, gangguan pernapasan 3%, serta penyakit pada telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) sebesar 1,5% . Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya keluhan musculoskeletal disorders (MSD. pada pekerja meliputi beban kerja yang berlebihan, posisi kerja yang statis dalam waktu lama . erutama dudu. , lamanya waktu kerja, serta frekuensi gerakan berulang selama bekerjai . Postur kerja yang ergonomis memungkinkan pekerja untuk menjalankan tugasnya secara aman, nyaman, dan efisien. Sebaliknya, jika postur kerja tidak sesuai prinsip ergonomi, maka dapat memicu gangguan pada sistem otot dan rangka, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Selain itu, durasi kerja yang panjang juga menjadi faktor risiko yang berkontribusi terhadap timbulnya gangguan muskuloskeletal, terutama jika pekerjaan tersebut menuntur aktivitas fisik yang berat dan melibatkan kerja otot secara terus-menerus . Umumnya, waktu seseorang bekerja dalam sehari adalal 6-8 jam, namun apabila seseorang bekerja lebih dari itu maka akan terlihat timbulnya hal negatif. Bekerja selama 28 jam dalam sehari dan pekerjaan yang dilakukan monoton, statis dan berulang-ulang maka akan mengakibatkan kontraksi otot yang berlebihan dan akan muncul keluhan . Salah satu moda transportasi umum yang sangat diminati di Jawa Timur adalah Bus Transjatim. Bus Transjatim sendiri merupakan bentuk dari sistem pelayanan transportasi publik berwujud BRT (Bus Rapid Transi. dalam lingkup wilayah aglomerasi perkotaan di Provinsi Jawa Timur yang memiliki 5 koridor dan beroperasi pukul 05. 00 WIB . Bus Transjatim ini berbeda pada angkutan umum didaerah sekitar seperti angkot, bus perjalanan pada umumnya, karena Transjatim memiliki rute dan halte tersendiri, yang dilengkapi dengan fasilitas kursi yang nyaman, ruangan yang tidak panas, dan terdapat kenyamanan pelayanan dengan baik menjadikan Transjatim diminati oleh banyak Sopir pada Transjatim umumnya berkendara dengan rute yang berbeda dan durasi yang berbeda, namun sopir yang cenderung pada rute Kabupaten Gresik menuju Sidoarjo ataupun sebaliknya memiliki durasi waktu lama. Perjalanan ditempuh kurang lebih 2 jam jika tidak ada hambatan Perjalanan pada rute tersebut pada beberapa waktu tertentu tidak dapat beroperasi dengan lancar atau semestinya, seperti pada pukul 17. 00 WIB pada hari kerja atau terdapat kendaraan lain yang mogok dapat menyebabkan kemacetan parah 1-2 jam, sehingga durasi mengemudi lebih lama dari rentang waktu yang Hal ini membuat sopir berada dalam posisi yang statis sehingga terkadang postur tubuh saat mengemudi tidak sesuai membuat sopir sering mengalami nyeri pada bagian punggung, lengan, dan pundak. Diantara masalah kesehatan yang dialami oleh pengemudi bus adalah gangguan muskuloskeletal, masalah psikologis seperti kelelahan dan stres, masalah gastrointestinal, dan masalah tidur. Masalah-masalah ini memengaruhi cara pengemudi bus beroperasi. Menurut National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). MSDS merupakan salah satu penyebab utama ketidakhadiran kerja dan penurunan produktivitas di berbagai sektor industri. Secara fisiologis. MSDs disebabkan oleh akumulasi stres biomekanik pada jaringan tubuh akibat postur kerja yang tidak ergonomis, pengulangan gerakan yang tinggi . epetitive motio. , beban berlebih, serta kurangnya waktu pemulihan. Proses ini dapat mengakibatkan kelelahan jaringan, peradangan, hingga cedera struktural kronis . Model biomekanik menjelaskan bahwa saat beban kerja melebihi ambang toleransi jaringan, terjadi mikrotrauma yang dapat berkembang menjadi keluhan atau gangguan muskuloskeletal . Teori demand-control model dari Karasek juga menambahkan bahwa kondisi psikososial kerja, seperti tekanan waktu, kontrol kerja yang rendah, dan dukungan sosial yang minim, turut memperburuk risiko keluhan muskuloskeletal . Posisi duduk pengemudi bus menimbulkan masalah muskuloskeletal yang dipengaruhi oleh kondisi fisik dan mental mereka karena mereka harus duduk dalam waktu lama saat Durasi kerja pengemudi transportasi umum yang mencapai 12 jam per hari serta tingginya jumlah penumpang menambah beban fisik kerja. Penelitian oleh . mendukung hal ini, dimana prevalensi MSDs pada pengemudi di Terminal Mengwi provinsi Bali berdasarkan durasi kerja Ou 12 jam/hari lebih banyak mengalami MSDs yaitu 91,7%. Keadaan ini diperburuk oleh posisi duduk yang statis dalam durasi yang lama, yang dapat berdampak negatif terutama pada sistem muskuloskeletal. Efek yang ditimbulkan antara lain nyeri otot, nyeri pada tulang belakang, serta kram otot, yang berpotensi menurunkan efisiensi kerja, menyebabkan absensi, dan pada akhirnya berdampak pada penurunan produktivitas kerja . Berdasarkan data dan permasalahan diatas, serta masih terbatasnya penelitian yang mengkaji hubungan antara postur kerja dan durasi kerja dengan kejadian Musculoskeletal Disorders (MSD. pada pengemudi bus di jawa timur terutama pada moda transportas yang sangat diminati masyarakat jawa timur yaitu Transjatim di wilayah Kabupaten Gresik. maka peneliti merasa penting untuk dilakukannya penelitian ini. Peminat penumpang Transjatim di Kabupaten Gresik yang banyak dan jarak tempuh yang dilalui oleh Transjatim ini sangat banyak sehingga sopir bus terkadang mengejar target waktu agar sesuai dengan jadwal terminal. Oleh sebab itu, hasil penelitian yang diperoleh diharapkan dapat digunakan menjadi bahan pertimbangan bagi transjatim dalam menganalisis pencegahan dan pengendalian permasalahan yang berkaitan dengan kinerja pengemudi. Metode Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan analitik observasional. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional, studi kasus ini dilakukan di transjatim koridor I (Gresik-Surabaya-Sidoarj. Populasi dalam penelitian ini adalah pengemudi bus transjatim koridor I dengan jumlah keseluruhan sebanyak 54 pengemudi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Total Sampling, sehingga jumlah sampel yang digunakan adalah 54 pengemudi. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengumpulkan data adalah kuesioner Nordic Body Map (NBM) untuk mengetahui keluhan musculoskeletal disorders (MSD. dan Rapid Entire Body Assesment (REBA) untuk menilai postur tubuh pekerja, serta data yang dihasilkan berupa data nominal dan ordinal. Menurut Teori yang dikemukakan Wilson dan Corlett pada tahun 1995 Nordic Body Map (NBM) menjadi salah satu pengukuran secara subjektif untuk mengukur rasa sakit otot para pekerja. Perhitungan Rapid Entire Body Assesment (REBA) adalali metode untuk menilai posisi kerja pada postur leher, punggung, lengan, pergelangan tangan, dan kaki. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji rank spearman dan uji somers'd dikarenakan variabel independen . ostur kerja dan durasi kerj. berskala data nominal dan variabel dependen (MSD. dengan skala data ordinal yang memiliki tingkatan seperti Tidak Sakit. Agak Sakit. Sakit dan Sangat Sakit. Dalam teknik analisis ini menunjukkan frekuensi observasi untuk setiap variabel. Hasil Data Karakteristik Pekerja Tabel 1. Distribusi Data Karakteristik Pekerja Variabel Usia < 40 Tahun Ou 40 Tahun Total Lama Bekerja < 10 Tahun > 10 Tahun Total Frekuensi Persentase (%) Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel 1, menunjukkan bahwa dari keseluruhan pekerja yang berjumlah 54 pekerja, sebagian besar pekerja di Transjatim koridor I berada pada kelompok usia 40 tahun keatas sebanyak 31 pekerja dengan persentase 57,4%, dan sebagian besar pekerja memiliki lama bekerja lebih dari 10 tahun sebanyak 35 pekerja dengan persentase 64,8%. Analisis Data Univariat Tabel 2. Distribusi Frekuensi berdasarkan Postur Kerja dan Durasi Kerja Variabel Postur Kerja Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Total Durasi Kerja 8 Jam 2 Jam 8 Jam > 2 Jam Total Frekuensi Persentase (%) Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel 2, hasil distribusi data dari 54 pengemudi di Transjatim koridor I menunjukkan bahwa sebagian besar pengemudi memiliki postur kerja yang tergolong dalam risiko rendah sebanyak 30 pengemudi dengan persentase 55,6%. Distribusi data durasi kerja menunjukkan bahwa hampir seluruhnya pengemudi memiliki durasi kerja 8 jam 2 Jam sebanyak 42 pengemudi dengan persentase 77,8%. Tabel 3. Distribusi Frekuensi berdasarkan Tingkat Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. Keluhan MSDs Ringan Sedang Berat Sangat Berat Total Frekuensi Persentase (%) Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel 3, distribusi data dari 54 pengemudi di Transjatim koridor I menunjukkan bahwa sebagian besar pengemudi memiliki keluhan MSDs yang tergolong dalam kategori ringan sebanyak 32 pengemudi dengan persentase 59,3%. Analisis Data Bivariat Tabel 4. Hubungan Postur Kerja dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. Postur Kerja Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Total r (A) Sig. -valu. Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. Ringan Sedang Berat Sangat Berat 0,489 0,000 Total Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel 4, hasil analisis diketahui bahwa pengemudi dengan postur kerja risiko rendah, hampir seluruhnya mengalami keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. ringan sebesar 75%, keluhan sedang 31,6%, sedangkan keluhan berat dan sangat berat tidak ditemukan 0%. Pengemudi dengan postur kerja risiko sedang, sebagian kecil mengalami keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDS) ringan sebesar 25%, keluhan sedang 68,4%, keluhan berat 100%, sedangkan keluhan sangat berat tidak ditemukan 0%. Untuk golongan postur kerja risiko tinggi dan sangat tinggi tidak ada satupun yang mengalami keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. sebesar 0%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa postur kerja berhubungan signifikan dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. , dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Nilai koefisien korelasi spearman . menunjukkan kekuatan hubungannya adalah sedang sebesar 0,489 dan arah hubungan positif, artinya semakin tidak ergonomis postur kerja, semakin meningkat kemungkinan terjadinya keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. Tabel 5. Hubungan Durasi Kerja dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. Durasi Kerja 8 Jam 2 Jam 8 Jam > 2 Jam Total r (A) Sig. -valu. Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. Ringan Sedang Berat Sangat Berat 0,524 0,000 Total Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel 5, hasil analisis diketahui bahwa pengemudi dengan durasi kerja 8 jam 2 jam hampir setengahnya mengalami keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. ringan sebesar 37,5%, sedangkan keluhan sedang dan berat tidak ditemukan 0%. Pengemudi dengan durasi kerja 8 jam > 2 jam sebagian besar mengalami keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. ringan sebesar 62. keluhan sedang dan berat sebesar 100%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa durasi kerja berhubungan signifikan dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. , dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Nilai korelasi somers'd . menunjukkan kekuatan hubungannya adalah sedang sebesar 0,524 dan arah hubungannya positif, artinya semakin panjang duras kerja, semakin meningkat kemungkinan terjadinya keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. Pembahasan Hubungan Postur Kerja dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. pada Pengemudi Bus Transjatim Analisa data dari uji statistik rank spearman menunjukkan hasil postur kerja dengan risiko rendah hampir seluruhnya mengalami keluhan MSDs ringan . %), diikuti dengan pengemudi yang seluruhnya mempunyai postur kerja dengan risiko sedang mengalami keluhan MSDs berat . %). Postur kerja yang tidak sesuai dengan prinsip ergonomi dapat memicu timbulnya keluhan musculoskeletal disorders (MSD. Risiko tersebut akan semakin besar apabila posisi tubuh saat bekerja semakin menjauh dari titik pusat gravitasi. Selain itu, pekerjaan yang bersifat repetitif dapat menimbulkan akumulas ketegangan pada diskus tulang belakang, yang berisiko menyebabkan cedera, nyeri, maupun trauma pada jaringan. Postur kerja yang tidak tepat juga meningkatkan beban otot karena memerlukan tenaga tambahan untuk mempertahankan posisi, dan jika dilakukan secara terusmenerus dalam jangka waktu lama, kemungkinan terjadinya MSDs dapat meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan pekerja dengan durasi aktivitas yang lebih singkat . Berdasarkan hasil uji bivariat menggunakan uji korelasi Spearman, didapati sign sejumlah 0,000 (<0,. , diasumsikan H1 diterima yang menunjukkan bahwa ada kaitan sangat signifikan antar kedua variabel dengan nilai Correlation Coefficient . sebesar 0,489 menunjukkan bila postur kerja mempunyai tingkat korelasi sedang dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. Hal ini sejalan dengan penelitian . yang menunjukkan postur kerja memiliki hubungan yang signifikan dengan keluhan musculoskeletal disorders dengan p-value 0,024 (<0,. dengan hasil uji chi square 0,265. Penelitian lain juga mendukung adanya hubungan yang signifikan antara posisi kerja dengan kejadian MSDs, dengan tingkat risiko yang dapat mencapai 73,7%. Posisi kerja yang tidak ergonomis pada pengemudi dapat meningkatkan risiko cedera pada otot bagian bawah, menunjukkan bahwa postur kerja yang buruk berkontribusi pada meningkatnya keluhan otot . Hubungan Durasi Kerja dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. pada Pengemudi Bus Transjatim Analisa data dari uji statistik menunjukkan hasil durasi kerja 8 jam > 2 jam mengalami keluhan musculoskeletal disorders sedang dan berat . %). Penelitian oleh . menunjukkan bahwa pekerja pria yang bekerja lebih dari 52 jam per minggu setara dengan 8 jam kerja ditambah lebih dari 2 jam lembur per hari memiliki risiko yang secara signifikan lebih tinggi untuk mengalami keluhan Analisis statistik menunjukkan bahwa pria dengan durasi kerja panjang dan pola kerja tidak teratur memiliki odds ratio (OR) sebesar 3,48 . % CI: 2,53-4,. , dibandingkan dengan pria yang bekerja 40 jam per minggu. Hasil ini menegaskan bahwa durasi kerja berlebih merupakan faktor risiko utama terhadap kejadian musculoskeletal disorders (MSD. pada pekerja. Penelitian oleh . menunjukkan bahwa durasi kerja lebih dari 8 jam per hari, terutama ketika disertai dengan postur duduk statis dan getaran tubuh penuh . hole-body vibratio. , secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko keluhan musculoskeletal disorders (MSD. , terutama pada punggung bawah, leher, dan Risiko meningkat seiring bertambahnya masa kerja, buruknya desain ergonomis kendaraan . isalnya kursi dan posisi setir yang tidak nyama. , serta minimnya waktu istirahat. Berdasarkan hasil analisa bivariat melalui uji Somers'd, dari perhitungan diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi 0,000 (<0,. , diasumsikan Hi diterima yang menunjukkan adanya kaitan antara kedua variabel dengan nilai korelasi pvalue sebesar 0,524 menunjukkan bila durasi kerja mempunyai tingkat korelasi sedang dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian . menunjukkan korelasi kuat antara durasi kerja . dengan keluhan musculoskeletal disorders pada pengemudi bus antarkota. Simpulan Postur kerja berdasarkan penilaian REBA pada pengemudi bus Transjatim sebagian besar berada dalam kategori postur kerja risiko rendah . 6%). Durasi kerja yang dilakukan pengemudi bus Transjatim hampir seluruhnya berada dalam durasi panjang 8 Jam > 2 Jam . 8%). Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. berdasarkan kuesioner Nordic Body Map (NBM), oleh pengemudi Transjatim menyatakan dominan pengemudi merasakan keluhan MSDs tergolong ringan . ,3%). Ada hubungan signifikan antara postur kerja dengan keluhan musculoskeletal disorders bernilai sign 0,000 (<0,. serta Correlation Coefficient . 0,489 . Ada hubungan signifikan antara durasi kerja dengan keluhan musculoskeletal disorders bernilai sign 0,000 (>0,. serta r 0,524 . Rekomendasi penelitian selanjutnya meneliti mengenai studi dalam waktu panjang . tudi longitudinal dan multisente. , menganalisis evaluasi kebijakan jam kerja maksimal dan regulasi keselamatan kerja dalam menurunkan angka kejadian MSDs pada pengemudi Transjatim. Peneliti selanjutnya dapat memberikan perbandingan mengenai pengemudi mengenai MSDs sebelum dan sesudah diberikan program edukasi mengenai MSDs, serta penerapan yang dilakukan oleh pengemudi. Ucapan Terimakasih Penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh responden yang telah bersedia meluangkan waktu dan memberikan informasi yang diperlukan dalam penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, kritik, dan saran yang membangun dalam penyusunan artikel ini. Dukungan dari rekan-rekan sejawat dalam proses analisis data dan penyusunan naskah juga sangat berarti bagi kelancaran penelitian ini. Referensi