Vol. 3 No. 2 Edisi Mei 2023 ISSN. Jurnal Imiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Journal Page is available to https://jurnal. id/index. php/JIPDAS Email: jipdas8@gmail. PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI BANGUN DATAR DAN BANGUN RUANG MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING DI KELAS V SD NEGERI 100670 HUTAIMBARU KABUPATEN PADANG LAWAS UTARA Oleh Santi Delina Harahap . Sartika Rati Asmara Nasution2. Nurbaiti3 1*,2 ,3 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa Institut Pendidikan Tapanuli Selatan *Email: santidelina21111999@gmail. Received: 31 Agustus 2022 Article history: Revised: 09 Septembers 2022 Published: 20 Mei 2023 Accepted: 15 Mei 2023 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan model pembelajaran Snowball Throwing pada peserta didik di kelas V SD Negeri 100670 Hutaimbaru pada pembelajaran matematika materi bangun datar dan bangun ruang. Jenis penelitian ini menggunakan PTK (Classroom Action Researc. Peningkatkan hasil belajar matematika materi bangun datar dan bangun ruang menggunakan model pembelajaran snowball throwing di kelas V SD Negeri 100670 Hutaimbaru. Pelaksanaan pembelajarandi kelas V SD Negeri 100670 Hutaimbaru melalui model pembelajaran snowball throwing atau kerja kelompok yaitu dilaksanakan dengan dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Dalam proses pembelajaran, peneliti memiliki tiga tahapan kegiatan yaitu kegiatan awal atau pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan akhir atau penutup. Dengan penerapan model snowball throwing dapat meningkatkan hasil belajar siswa terbukti dengan diperolehnya pada setiap siklusnya. Peningkatan hasil belajar pada siklus I mencapai 60% . ategori cuku. dimana 12 orang siswa tuntas dan 40% dimana 10 orang siswa tidak tuntas. Selanjutnya siklus II menunjukkan hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 80% . ategori bai. dimana 18 orang siswa dan 20% dengan 4 orang siswa tidak tuntas. Kata kunci :Peningkatan. Hasil Belajar. Model Snowball Throwing,Bangun Datar dan Bangun Ruang PENDAHULUAN Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri manusia, melalui pendidikan manusia mengalami proses membimbing, melatih dan memandu diri supaya terhindar atau keluar dari kebodohan dan pembodohan. Pada proses pendidikan dimana pembelajaran terjadi saat pendidik dan peserta didik memiliki komunikasi dua arah. Terjadinya pembelajaran merupakan proses dimana pendidik akan menerapkan suatu pembelajaran di kelas, dimana proses pembelajaran yang dilakukan tentunya memiliki tujuan yang ingin dicapai. Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka dari itu peran guru menjadi penentu keberhasilan misi pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Guru bertanggung jawab mengatur, mengarahkan, dan menciptakan suasana kondusif yang mendorong siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran di sekolah. Belajar merupakan suatu aktivitas yang dapat dilakukan secara psikologis maupun secara fisiologis. Aktivitas yang bersifat psikologis yaitu aktivitas yang merupakan proses mental, misalnya aktivitas berpikir, memahami, menyimak, menelaah, membandingkan, membedakan, mengungkapkan, menganalisis, dan sebagainya. Sedangkan aktvitas yang bersifat fisiologis yaitu aktivitas yang Vol. 3 No. 2 Edisi Mei 2023 ISSN. Jurnal Imiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Journal Page is available to https://jurnal. id/index. php/JIPDAS Email: jipdas8@gmail. merupakan proses penerapan atau praktik, misalnya melakukan eksprimen atau percobaan, latihan, kegiatan praktik, membuat karya . , apersepsi dan sebagainya. Dalam kurikulum 2013 ada beberapa pola pembelajaran yang disempurnakan yaitu pada pembelajaran yang dulu berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa, pola pembelajaran satu arah . menjadi pembelajaran interaktif, pembelajaran terisolasi menjadi pembelajaran secara jejaring . iswa dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh melalui interne. , pola pembelajaran pada kurikulum sebelumnya pasif menjadi pola pembelajaran aktif, pola pembelajaran sendiri menjadi pola pembelajaran kelompok, pola pembelajaran alat tunggal menjadi pembelajaran berbasis alat multimedia. Dari penyempurnaan pola pikir tersebut sudah jelas bahwa kurikulum 2013 peserta didik dituntut untuk aktif dalam mencari dan memperoleh pengetahuan baik dari guru maupun dari media belajar lain. Sedangkan guru dalam kurikulum 2013 hanya bersifat sebagai fasilitator yang juga dituntut untuk lebih kreatif dalam menyampaikan materi pembelajaran dan menyajikan media-media pembelajaran yang dapat mengajak peserta didik lebih antusias dalam mengikuti proses belajar mengajar. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan peneliti melalui observasi dan wawancara pada hari sabtu tanggal 18 Desember 2021 dengan guru Kelas V SD Negeri 100670 Hutaimbaru dengan Ibu Leli Murni Harahap S. Pd. , diketahui bahwa dalam pembelajaran Matematika masih ada beberapa siswa yang belum tuntas pada pembelajaran yang dilakukan dan masih perlu ditingkatkan. Dimana jumlah siswa sebanyak 22 orang dalam satu kelas, yang tuntas hanya 7 orang dan yang belum tuntas sebanyak 15 orang dalam pembelajaran. Tabel 1. 1 Persentase Nilai Ulangan Harian Matematika Kelas V SD Negeri 100670 Hutaimbaru Nilai KKM Keterangan Jumlah siswa Presentase Ou 75 Tuntas < 75 Tidak tuntas Jumlah Sumber : Nilai Ulangan Harian Kelas V SD Negeri 100670 Hutaimbaru Berdasarkan tabel di atas menunjukkan hasil nilai ulangan harian kelas V SD Negeri 100670 Hutaimbaru Kabupaten Padang Lawas Utara dari pembelajaran Matematika dapat diketahui bahwa beberapa siswa kelas V SD Negeri 100670 Hutaimbaru belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan oleh sekolah Bagi sebagian siswa pelajaran Matematika bukanlah pelajaran yang menyenangkan. Dalam pengamatan yang dilakukan saat observasi di mana para siswa tidak bersemangat dalam belajar Matematika, sehingga tingkat pemahaman siswa tidak maksimal yang berujung pada hasil belajar yang juga tidak maksimal atau dapat dikatakan tidak baik. Dalam proses belajar mengajar yang dilakukan di dalam kelas selama ini memang belum melakukan cara-cara belajar kreatif yang dapat menghidupkan kelas dan menjadikan siswa aktif untuk mengikuti proses pembelajaran, sehingga setelah melakukan pengamatan peneliti ingin mencoba cara atau model pembelajaran yang baru dalam menyampaikan materi Matematika khususnya pada materi AuBangun Datar dan Bangun RuangAy. Permasalahan rendahnya pencapaian siswa dalam pembelajaran dipengaruhi banyak faktor. Khusunya pada pembelajaran Matematika sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan. Beberapa kesulitan yang dialami peserta didik dalam belajar matematika adalah: motivasi siswa dalam belajar masih rendah, kurangnya persiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran, kurangnya latihan siswa dalam mengerjakan soal, kelemahan dalam menghitung, kesulitan dalam membagi pengetahuan kepada teman menenai materi yang dipahami, pemahaman bahasa Matematika yang kurang, kesulitan membedakan angka, simbol-simbol, serta bangun ruang dan bangun datar dalam matematika, siswa masih sering bermain dan tidak mendengarkan saat guru menjelaskan, kesulitan dalam memahami materi karena merasa matematika itu sulit. Kemudian faktor yang paling penting adalah ketersedian sarana dan media pembelajaran yang dibutuhkan, dan kemampuan guru dalam memilih metode pembelajaran yang tepat. Untuk mengatasi masalah yang dihadapi siswa, guru harus mengambil langkah dalam proses pembelajaran misalnya mengenai penggunaan model pembelajaran agar siswa tidak merasa jenuh dan bosan dalam pembelajaran, sehingga guru sebagai tenaga pendidik dituntut mampu menciptakan Vol. 3 No. 2 Edisi Mei 2023 ISSN. Jurnal Imiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Journal Page is available to https://jurnal. id/index. php/JIPDAS Email: jipdas8@gmail. inovasi pembelajaran yang dapat menarik minat siswa dalam belajar, memberikan tantangan serta mampu membuat siswa berpartisipasi dalam pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas dimana rendahnya hasil belajar siswa tentu tidak bisa kita biarkan terus Oleh karena itu, penulis mendorong dan berkeinginan menggunakan suatu model pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Snowball Throwing. Snowball Throwing dilakukan dengan cara melempar sebuah gulungan kertas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat dalam gulungan kertas Strategi ini digunakan untuk memberikan konsep pemahaman materi yang sulit kepada siswa serta dapat juga digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan kemampuan siswa pada materi tersebut. Penggunaan model Snowball Throwing yaitu siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang masingmasing kelompok diwakili seorang ketua kelompok untuk mendapat tugas dari guru. Kemudian, masing-masing anggota kelompok membuat pertanyaan di selembar kertas yang dibentuk seperti bola lalu dilempar ke kelompok lain. Kelompok yang mendapat lemparan kertas harus menjawab pertanyaan dalam kertas yang telah didapatkan. Sehubungan dengan masalah tersebut, maka penulis termotivasi melakukan suatu penelitian dengan judul: AuPeningkatan hasil belajar matematika materi bangun datar dan bangun ruang menggunakan model pembelajaran snowball throwing di kelas V SD Negeri 100670 Hutaimbaru Kabupaten Padang Lawas UtaraAy. Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang terbentuk karena pengalaman maupun ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang. Pengalaman tersebut diperoleh dari lingkungannya maupun melalui ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Belajar adalah pemahaman pengetahuan pada diri seseorang, belajar sebagai perubahan tingkah laku berkat pengalaman dan latihan. Belajar merupakan suatu aktivitas yang dapat dilakukan secara psikologis maupun secara fisiologis. Aktivitas yang bersifat psikologis yaitu aktivitas yang merupakan proses mental, misalnya aktivitas berpikir, memahami, menyimak, menelaah, membandngkan, membedakan, mengungkapkan, menganaliis dan sebagainya. Sedangkan aktivitas yang bersifat fisiologis yaitu aktivitas yang merupakan proses penerapan atau praktik misalnya melakukan eksprimen atau percobaan, latihan, kegiatan praktik, membuat karya . , apersepsi dan sebagainya. ( Rusman, 2013: . Dari tiga pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri seseorang melalui pengalaman dan pelatihan yang di alaminya, dan aktivitas secara fisiologis maupun psikologis. Hasil belajar seringkali digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai bahan yang sudah diajarkan. Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu AuhasilAy dan AubelajarAy. Pengertian hasil atau . menunjukkan pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. Hasil produksi adalah perolehan yang didapatkan karena adanya kegiatan mengubah bahan . au material. menjadi barang jadi . inished good. Hasil belajar yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik (Mansur, 2018:. Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah kemampuan yang di peroleh anak setelah melalui kegiatan Secara lebih praktis, hasil belajar juga dimaksudkan untuk mengungkapkan kemampuan siswa dalam bentuk angka-angka sebagaimana pendapat (Achdiyat & Utomo, 2018:. bahwa hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan siswa yang ditentukan dalam bentuk angka setelah menjalani proses pembelajaran. Penggunaan angka pada hasil tes tertentu dimaksudkan untuk mengetahui daya serap siswa setelah menerima materi pelajaran Isnaini . Menurut Suprijono . hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan meliputi polapola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertiian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan. Sedangkan menurut Paizaluddin dan Ermalinda . mengungkapkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai peserta didik setelah melalui proses pembelajaran yang dapat dilihat dari nilai rapor yang menunjukkan tingkat kemampuan peserta didik dalam menguasai materi pelajaran. Vol. 3 No. 2 Edisi Mei 2023 ISSN. Jurnal Imiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Journal Page is available to https://jurnal. id/index. php/JIPDAS Email: jipdas8@gmail. Dari beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan hasil belajar adalah hasil yang dicapai siswa setelah melalui proses pembeljaran dan kemampuan yang diperoleh baik dari segi kognitif, afektif, dan Menurut Huda . dalam Wihendra Adhiatmika Snowball Throwing berasal dari dua kata yaitu AusnowballAy dan AuthrowingAy. Kata snowball berarti salju, sedangkan throwing berarti melempar, jadi Snowball Throwing adalah melempar bola salju. Pembelajaran Snowball Throwing merupakan salah satu model dari pembelajaran kooperatif. Pembelajaran Snowball Throwing merupakan model pembelajaran yang membagi murid di dalam beberapa kelompok, yang dimana masing-masing anggota kelompok membuat bola pertanyaan. Dalam pembuatan kelompok, siswa dapat dipilih secara acak atau Model pembelajaran Snowball Throwing merupakan rangkaian penyajian materi ajar yang di awali dengan penyampaian materi, lalu membentuk kelompok dan ketua kelompoknya yang kemudian masing-masing ketua kelompok kembali ke kelomoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya serta dilanjutkan dengan masing-masing peserta didik diberi satu lembar kertas, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut mteri yang suah dijelaskan oleh ketua kelompok. Inti dari model pembelajaran Snowball Throwing menjelaskan pada anggotanya, masing-masing anggota membuat pertanyaan yang dimasukkan dalam bola, lalu bola tersebut di lempar pada siswa lain untuk menjawab pertanyaan yang ada di daam bola tersebut. Menurut Arif . Snowball secara etimologi berarti bola salju, sedangka throwing artinya Snowball Throwing secara keseluruhan dapat diartikan melempar bola salju. Model pembelajaran snowball Throwing merupakan model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif dimaksudkan adalah pembelajaran yang disusun melalui kelompok kecil peserta didik yang saling bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Konsep belajar berkelompok, tingkat keberhasilannya tergantung pada kemampuan dan aktivitas anggota kelompok, baik secara indivudual dan kelompok. Menurut Sudjana . pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Keberhasilan inni disebabkan dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing siswa menjadi lebih aktif yang berarti siswa cenderung positif dalam mengikuti proses belajar mengajar yang diberikan oleh guru maupun dalam melakukan diskusi di dalam dan antar Berdasarkan pengertian para ahli di atas dapat diambil kesimpulan, model pembelajaran snowball throwing merupakan pengembangan dari model pembelajaran diskusi dan merupakan bagian dari model pembelajaran . Snowball berarti bola salju dan throwing melempar jadi snowball throwing secara keseluruhan adalah melempar bola salju yang dilakukan dalam bentuk kelompok yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa melalui diskusi dan kerja sama siswa dalam bentuk kelompok. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini akan dilaksanakan di Kelas V SD Negeri 100670 Hutaimbaru yang berlokasi di Kecamatan Halongonan. Kabupaten Padang Lawas Utara. Provinsi Sumter Utara. Dengan Bapak Kepala Sekolah SD Negeri 100670 Hutaimbaru adalah Bapak Ahmad Puji Harahap. Pd dan Guru Kelas V Ibu Leli Murni Harahap. Pd. Sebagaimana dengan subjek penelitian diatas maka untuk objek penelitiannya adalah model pembelajaran Snowball Throwing pada pembeljaran Matematika materi bangun datar dan bangun ruang di kelas V SD Negeri 100670 Hutaimbaru Penelitian ini menggunkan desain Penelitian Tindakan Kelas atau PTK yang dalam bahasa inggris Classroom Action Research. Peneltian Tindakan Kelas (PTK) merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan (Suharsimi Arikunto, 2006:. Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa siklus dengan setiap siklusnya terdiri dari: 1. , tindakan . , pengamatan . Vol. 3 No. 2 Edisi Mei 2023 ISSN. Jurnal Imiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Journal Page is available to https://jurnal. id/index. php/JIPDAS Email: jipdas8@gmail. Teknik Analisis Datadilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif. Analisis data pada penelitian ini didasarkan pada refleksi tiap siklus tindakan. HASIL PENELITIANDAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Siklus I Hasil penelitian siklus 1 pertemuan 1 Pertemuan I Pada siklus I dilaksanakan pada hari selasa 24 Mei 2022 dengan waktu 70 menit. Sebelum pembelajaran dimulai peneliti melakukan persiapan seperti menyiapkan lembar observasi untuk guru dan iswa, kemudian membuat skenario pembelajaran yang akan disusun dalam RPP dan mempersiapkan media sesuai materi yang dijelaskan dan kertas yang akan digunakan dalam proses menggunakan model pembelajaran Snowball Trowing. Adapun yang menjadi observer saat peneliti melaksanakan pembelajaran yaitu wali kelas V SD Negeri 100670 Hutaimbaru ibu Leli Murni Harahap S. Pd. Pertemuan II Setelah pertemuan pertama selesai lalu peneliti melakukan berbagai persiapan seperti menyiapkan apa saja yang kurang dalam pertemuan pertama serta lembar observasi untuk siswa dan juga guru kemudian membuat skenario pembelajaran yang akan disusun dalam RPP. Hasil Penelitian siklus I pertemuan II Pada pertemuan kedua ini guru melanjutkan materi pembelajaran pada pertemuan I dengan materi pembelajaran yaitu bangun datar dan bangun ruang yaitu mengenai rumus lingkaran dan bola, dalam proses pembelajaran menggunakan model snowball throwing . Hasil penelitian siklus II Hasil Penelitian siklus II Pertemuan I Rencana tindakan pada siklus II ini dilakukan dengan memperlihatkan hasil refleksi siklus I pada siklus II ini peneliti akan meperbaiki pelaksanan pembelajaran matematika materi bangun datar dan bangun Siklus II dilaksanakan pada hari kamis 26 Mei 2022. Berdasarkan hasil yang dilaksanakan pada siklus I ada beberapa hal yang menjadi bahan perencanan untuk dilaksanakan di siklus II. Peneliti lebih mampu menjelaskan cara menggunakan model pembelajaran snowball throwing dengan jelas, peneliti harus bisa mengendalikan kelas, peneliti menyiapkan RPP (Rencana Pelaksanan Pembelajara. , lembar aktivitas guru dan siswa untuk mengamati kembali perkembangan aktivitas guru dan siswa saat proses pembelajaran berlangsung, kemudian peneliti juga lebih memahami materi yang akan diajarkan. Hasil Penelitian Siklus II pertemuan II Pada pertemuan II peneliti kembali melakukan berbagai persiapan, sepertipengatas masalah pada pertemuan satu dan pada siklus II, menyiapakan RPP, skenario pembelajaran, media pembelajaran dan serta menyiapakan lembar observasi untuk peneliti dan peserta didik, kemudian membuat skenario pembelajaran yang disusun dalam RPP. Pembahasan penelitian sebagai berikut : Penerapan model snowball throwing Pelaksanaan model pembelajaran snowball throwing ini merupakan hal baru bagi siswa. Dalam pelaksanaan pembelajaran peneliti menemukan masalah dalam pembelajaran seperti halnya menyampaikan pendapat yang kurang pada siswa. Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti melakukan tahap perencanaan dan pelaksanaan menggunakan model pembelajaran snowball throwing. Model snowball throwing merupakan model yang dilaksanakan dengan membentuk kelompok, dan guru memanggil ketua kelompok untuk menjelaskan materi dan prosses pembelajaran,setelah selesai kemudian masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada teman sekelompoknya, masing-masing siswa diberikan lembar kerja berupa kertas dan di isi dengan pertanyaan tentang materi pelajaran, kemudian kertas yang di isi pertanyaan dibuat seperti bola kemudian saling melempar keoada kelompok yang Aktivitas Siswa Vol. 3 No. 2 Edisi Mei 2023 ISSN. Jurnal Imiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Journal Page is available to https://jurnal. id/index. php/JIPDAS Email: jipdas8@gmail. Lembar observasi bertujuan untuk melihat aktivitas siswa dalam belajar. Aktivitas siswa merupakan interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru. Interaksi yang baik akan menunjang tingginya hasil belajar. AktivitasGuru Keberhasilan siswa dalam pembelajaran pada umumnya dilihat juga dari pengelolaan pelaksanaan pembelajaran pada presentase aktivitas guru. Dalam hal ini terlihat peningkatan dari siklus I ke siklus Pelaksanaan Skor Siklus I 71,4% Siklus II 85,7% Peningkatan 14,3% Berdasarkan tabel diatas, bahwa menggunakan model pembelajaran snowball throwing dapat meningkatkan aktivitas guru dalam mengajar. Pada siklus I aktivitas guru mencapai 71,4% atau masuk dalam kategori cukup. Pada siklus II meningkat menjadi 85,7% atau kategori baik. Peningkatan aktivitas guru pada siklus I dan II mencapai 14,3%. Hal ini menunjukkan menggunakan model pembelajaran snowball throwing dapat meningkatkan aktivitas guru akan berpengaruh pada hasil belajar siswa meningkat. PeningkatanHasil Belajar Siswa Menggunakan Model Pembelajaran Snowball Throwing Hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh dari kegiatan hasil belajar mengajar. Hasil belajar akan meningkat apabila aktivitas belajar mengajar terlaksana dengan baik. Tujuan dilaksanakannya tes untuk mengukur sejauh mana tingkat pemahaman siswa dalam memahami materi yang disampaikan guru. Berikut tabel hasil belajar siswa sebelum dan sesudah melaksanakn siklus. SIMPULAN Berdasakan penelitian yang telah dilakukan pada kelas V SD Negeri 100670 Hutaimbaru tahun ajaran 2021/2022 maka dapat disimpulkan: Pelaksanaan pembelajaran di kelas V SD Negeri 100670 Hutaimbaru melalui model pembelajaran snowball throwing atau kerja kelompok yaitu dilaksanakan dengan dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Dalam proses pembelajaran, peneliti memiliki tiga tahapan kegiatan yaitu kegiatan awal atau pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan akhir atau penutup. Dengan penerapan model snowball throwing dapat meningkatkan hasil belajar siswa terbukti dengan diperolehnya pada setiap siklusnya. Peningkatan hasil belajar pada siklus I mencapai 60% . ategori cuku. dimana 12 orang siswa tuntas dan 40% dimana 10 orang siswa tidak tuntas. Selanjutnya siklus II menunjukkan hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 80% . ategori bai. dimana 18 orang siswa dan 20% dengan 4 orang siswa tidak tuntas. DAFTAR PUSTAKA