Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . http://journal. id/index. php/keraton Perempuan Single Parent pada Era Digitalisasi. Studi Komunikasi Budaya atas Perubahan Zaman dan Pandangan Masyarakat Ulfi Nurfaiza a,1,* UIN Sayyid Ali Rahmatullah. Tulungagung. Indonesia ulfi_nurfaiza@uinsatu. * Corresponding Author. Ulfi Nurfaiza Received 11 Maret 2025. accepted 27 April 2025. published 31 Mei 2025 KEYWORDS ABSTRAK Perkembangan era digital telah membawa perubahan besar dalam cara pandang dan pola komunikasi masyarakat, termasuk bagi perempuan yang berstatus single parent. Pada masa sebelumnya, khususnya di era patriarki, norma dan nilai budaya cenderung menempatkan perempuan single parent dalam posisi yang lebih sulit, disertai stigma negatif. Berdasarkan data dari DataIndonesia. jumlah perempuan single parent di Indonesia pada tahun 2021 lebih besar dibandingkan jumlah laki-laki duda. Perempuan yang mengalami perceraian, baik karena perpisahan hidup maupun kematian pasangan, tercatat sebesar 12,83% dari populasi, sementara laki-laki yang bercerai hanya 4,32%. Transformasi sosial yang terjadi di era digital mencerminkan bahwa meningkatnya jumlah perempuan single parent beriringan dengan terbukanya lebih banyak peluang bagi mereka untuk mengembangkan diri, termasuk dalam aspek ekonomi. Studi ini berfokus pada pemahaman mengenai identitas perempuan single parent di era digital melalui tiga konsep utama, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan konstruksi sosial, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perempuan single parent menganggap status mereka sebagai bentuk pembelajaran tentang kemandirian, yang memungkinkan mereka untuk bekerja dan berkarier tanpa batasan. Selain itu, mereka dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas hidup serta memperluas jaringan sosial. Masyarakat pun mulai menerima dan mengakui bahwa perempuan single parent lebih percaya diri dan nyaman dengan status mereka saat ini. Dengan kemajuan teknologi dan informasi, status Single parent tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan atau selalu dikaitkan dengan stigma negatif. Sebaliknya, status ini mengalami perubahan makna yang lebih positif dan inklusif. Identitas. Perempuan Single Parent. Digitalisasi. This is an openaccess article under the CCAeBY-SA Pendahuluan Konvergensi media yang terus berlangsung melalui teknologi dan informasi di era digital saat ini telah mengubah secara signifikan perilaku manusia serta metode komunikasi. Kemajuan teknologi digital telah memengaruhi cara individu memahami dan berinteraksi dalam komunikasi. Di era digital saat ini, masyarakat telah mengadopsi gaya hidup dan perspektif baru dalam menjalankan aktivitas sehari-hari dibandingkan dengan masa lalu. Teknologi tidak lagi dianggap sekadar sebagai alat bantu, tetapi juga sebagai pendamping atau teman dekat yang mampu membawa perubahan besar dalam perilaku, transformasi sosial dan budaya, serta cara individu berkembang. Hal ini terjadi seiring dengan menurunnya angka kelahiran global dan meningkatnya penggunaan kontrasepsi. Dari segi ekonomi, peran perempuan mengalami peningkatan yang signifikan berkat undang-undang anti-diskriminasi global yang memperluas kesempatan kerja bagi mereka (Hsiao et al. , 2. Dalam konteks perempuan single parent. Qasan mengkonseptualisasikan perempuan sebagai pemegang peran reproduktif dan produktif secara sosial dalam rumah tangga, sehingga memberikan 32585/keraton. pendidikansejarahunivet@gmail. Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. June 2025, pp. beban ganda bagi mereka. Di era digital yang terus berkembang, masyarakat, khususnya para single parent, mengalami berbagai pengalaman baru dalam membangun identitas mereka. Identitas individu kini tidak lagi terbatas pada aspek fisik yang dikonstruksikan oleh nilai-nilai patriarki, tetapi juga tercermin dalam dunia virtual yang saling terhubung (Fitri, 2. Identitas merefleksikan gambaran individu, yang menentukan sikap, perilaku, serta perannya dalam kelompok tertentu. Identitas juga mencerminkan bagaimana seseorang dipersepsikan oleh orang lain dan memperkuat kesadaran diri sebagai individu (Jiang et al. , 2. Identitas merupakan cara individu membentuk citra diri mereka melalui berbagai aktivitas (Farid et al. , 2. Kemajuan teknologi dan konvergensi digital telah mengubah cara individu memahami makna dan membentuk identitas, yang kini menggabungkan aspek fisik dan virtual dalam keberadaannya. Hal ini mencakup bagaimana seseorang ingin dilihat oleh orang lain serta bagaimana mereka berintegrasi dalam komunitas digital. Identitas juga berpengaruh terhadap hubungan interpersonal, komunikasi, serta bagaimana masyarakat memandang diri mereka sendiri (Salisu & Dacus, 2. Berdasarkan latar belakang ini, penelitian dapat dilakukan untuk mengkaji identitas perempuan single parent yang mengalami transformasi sosial di era globalisasi dari perspektif komunikasi Islam. Studi ini bertujuan untuk melengkapi penelitian sebelumnya dengan menyoroti perubahan sosial yang dialami para single parent dalam era globalisasi dari sudut pandang komunikasi Islam guna mengurangi stigma terhadap mereka. Penelitian ini mencoba menjawab tiga pertanyaan utama. Pertama, bagaimana perkembangan media di era digital memengaruhi pola pikir dan interaksi perempuan single parent dalam membentuk identitas mereka? Kedua, bagaimana perubahan sosial dan budaya yang diidentifikasi melalui penggunaan teknologi digital berdampak pada norma sosial dan budaya terkait status Single parent, termasuk peran mereka dan persepsi masyarakat? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya menjadi dasar bagi hasil dan pembahasan penelitian ini, tetapi juga menegaskan pentingnya penelitian ini dalam memetakan isu transformasi sosial yang dialami oleh perempuan Single parent. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif (Sugiyono, 2. Pendekatan yang digunakan adalah fenomenologi, yang berfokus pada fenomena dan pengalaman individu atau kelompok (Verma, 2. Studi ini bertujuan untuk meneliti identitas perempuan Single parent di era digitalisasi (Yusuf, 2. Teknik pengumpulan data yang diterapkan dalam penelitian ini meliputi wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Sementara itu, teknik analisis data mencakup reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan atau verifikasi untuk memastikan hasil penelitian yang menyeluruh. Penelitian ini menggunakan teori konstruktivisme sebagai landasan analisis. Subjek penelitian adalah perempuan Single parent yang telah mencapai kesuksesan karier, menduduki posisi manajerial, serta berhasil menjalankan perannya sebagai ibu. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif dengan teknik triangulasi data, yang bertujuan untuk menguji keabsahan data dengan beberapa pendekatan kualitatif. Metode triangulasi ini mencakup: Pengumpulan data: Menghimpun serta menggabungkan data yang diperoleh dari lapangan, kemudian melakukan proses pemilahan, pemfokusan, serta transformasi data. Penyajian data: Mengorganisir dan merangkum data dalam bentuk sistematis untuk mempermudah proses analisis serta penarikan kesimpulan. Penarikan kesimpulan: Menginterpretasikan data yang telah tersusun guna menemukan makna dan menghasilkan kesimpulan penelitian. Metode penelitian kualitatif sangat sesuai untuk mengeksplorasi fenomena kompleks yang melibatkan pengalaman dan perspektif individu. Pendekatan fenomenologi yang digunakan dalam studi ini bertujuan untuk memahami pengalaman hidup perempuan Single parent di era digital secara lebih mendalam, khususnya dalam aspek identitas dan interaksi sosial mereka. Nurfaiza (Perempuan Single Parent pada Era Digitalisasi. Studi Komunikasi Budaya atas Perubahan Zaman dan Pandangan Masyaraka. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari: Wawancara mendalam, yang dilakukan dengan percakapan terbuka terhadap subjek penelitian guna mendapatkan data kualitatif yang kaya mengenai pengalaman, pemikiran, serta perasaan mereka. Observasi, yaitu mengamati perilaku dan interaksi subjek dalam lingkungan alami mereka untuk memperoleh wawasan kontekstual. Dokumentasi, yang mencakup pengumpulan serta analisis dokumen relevan, seperti catatan pribadi, profil media sosial, dan sumber tertulis lainnya yang dapat memberikan informasi tambahan tentang subjek penelitian. Analisis data dilakukan dengan teknik berikut: Reduksi data, yaitu merangkum serta menyeleksi informasi yang paling relevan, menghilangkan data yang berulang, dan menyusunnya dalam format yang lebih terstruktur. Penyajian data, yakni menyusun data yang telah direduksi dalam bentuk narasi sistematis atau diagram untuk memudahkan pemahaman dan interpretasi. Penarikan kesimpulan, yaitu menginterpretasikan data yang telah tersusun guna memperoleh makna dan wawasan baru sebagai dasar kesimpulan akhir penelitian. Penelitian ini mengadopsi teori konstruktivisme, yang menyatakan bahwa individu membentuk pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia melalui pengalaman serta refleksi atas pengalaman Teori ini relevan karena menjelaskan bagaimana perempuan Single parent membangun dan mendefinisikan kembali identitas mereka dalam konteks digitalisasi. Fokus utama penelitian ini adalah perempuan Single parent yang telah sukses dalam karier mereka dengan menduduki posisi manajerial serta mampu menjalankan peran sebagai ibu secara efektif. Keberhasilan ganda ini menjadikan mereka subjek ideal untuk mengkaji dampak digitalisasi terhadap identitas mereka. Penelitian ini menerapkan teknik triangulasi data untuk meningkatkan kredibilitas dan validitas temuan dengan menggabungkan berbagai sumber data atau metode penelitian. Dengan mengikuti langkah-langkah metodologis ini, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana digitalisasi memengaruhi identitas perempuan Single parent, baik dalam aspek profesional maupun personal. Hasil dan Pembahasan Transformasi sosial di era digital telah secara signifikan mengubah persepsi terhadap status Single Sebelumnya, status ini sering dikaitkan dengan stigma negatif dan dipandang sebelah mata oleh Namun, di era modern dan digital saat ini, persepsi ini telah mengalami perubahan. Dunia kini terasa lebih luas karena konektivitas yang melampaui batas geografis melalui teknologi. Teknologi memiliki peran penting dalam membentuk identitas perempuan Single parent sebagai individu yang kompeten dan berkualitas. Jika sebelumnya identitas seseorang hanya dapat ditampilkan dalam lingkungan sosial yang terbatas, kini individu dapat dengan bebas mengekspresikan diri dan membangun hubungan sosial tanpa rasa takut. Perubahan ini memungkinkan mereka untuk lebih percaya diri dan mampu menghadapi tantangan hidup di era digital. Transformasi sosial di era digital berdampak besar terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk pembentukan identitas diri. Bagi perempuan Single parent, perubahan ini memiliki implikasi yang Berbeda dengan era pra-digital yang interaksinya terbatas pada komunikasi tatap muka dalam komunitas lokal, kini komunikasi dapat dilakukan kapan saja, di mana saja, dan dalam berbagai bentuk. Berikut adalah beberapa cara bagaimana transformasi sosial di era digital mempengaruhi identitas perempuan Single parent: Media sosial sebagai ruang koneksi dan komunitas baru Era digital membuka akses bagi perempuan Single parent untuk membangun hubungan secara global serta bergabung dalam komunitas daring. Mereka dapat menemukan dukungan, berbagi informasi, dan menjalin persahabatan melalui platform media sosial, forum daring, atau kelompok dukungan yang beranggotakan individu dengan pengalaman serupa. Ulfi Nurfaiza (Perempuan Single Parent pada Era Digitalisasi. Studi Komunikasi Budaya atas Perubahan Zaman dan Pandangan Masyaraka. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Media sosial sebagai bentuk eksistensi diri Melalui media sosial, perempuan Single parent dapat membagikan kisah serta pengalaman mereka, sehingga memungkinkan mereka untuk membangun identitas di luar peran tradisional sebagai istri atau ibu. Mereka dapat mengekspresikan minat, bakat, serta pandangan mereka secara lebih luas. Peningkatan pendidikan dan pengembangan diri melalui teknologi Kemajuan teknologi telah membuka akses luas terhadap pendidikan dan pelatihan daring, yang dapat meningkatkan peluang karier perempuan Single parent. Mereka dapat menggunakan platform digital untuk mengasah keterampilan, mencari pekerjaan baru, atau bahkan memulai bisnis daring. Media sosial membentuk identitas digital perempuan Single parent Identitas digital yang dibangun melalui media sosial memengaruhi cara orang lain memandang Perempuan Single parent dapat menggunakan platform daring untuk membangun kembali citra diri mereka dan menepis stigma negatif yang selama ini melekat pada status mereka. Transformasi identitas perempuan Single parent di era digital Perempuan Single parent kini lebih berani mendefinisikan diri mereka sebagai individu yang mandiri dan produktif. Banyak di antara mereka yang memilih untuk tetap melajang dan menikmati kehidupan mereka dengan lebih bebas serta produktif. Perubahan ini menunjukkan bahwa penting bagi perempuan Single parent untuk memahami bagaimana digitalisasi dapat memengaruhi identitas mereka, baik secara positif maupun negatif. Hasil wawancara mengungkapkan bahwa media sosial memiliki dampak yang besar terhadap pembentukan identitas perempuan Single parent di era digital. Penelitian ini menggunakan teori konstruksi sosial, yang menyatakan bahwa realitas sosial terbentuk melalui interaksi sosial yang terus berlangsung. Berdasarkan teori konstruksi sosial Berger & Luckmann, ada tiga aspek utama yang memengaruhi identitas perempuan Single parent di era digital: Eksternalisasi Ae adaptasi terhadap lingkungan sosial dan budaya sebagai produk manusia. Obyektivasi Ae interaksi sosial dalam dunia yang terlembaga, yang memungkinkan perempuan Single parent untuk mendapatkan pengakuan positif dari masyarakat. Internalisasi Ae proses individu mengidentifikasi diri mereka dalam institusi sosial yang mereka ikuti, menciptakan kenyamanan dan kepercayaan diri dalam status mereka sebagai Single parent. Dengan perkembangan teknologi dan informasi, persepsi tentang status Single parent telah mengalami pergeseran, yang memungkinkan mereka untuk lebih mandiri dan berdaya di era digital. 1 Representasi Diri di Media Sosial Hasil penelitian menunjukkan bahwa 85% Single parent yang diwawancarai menggunakan media sosial sebagai sarana utama untuk mengekspresikan identitas mereka. Platform yang paling sering digunakan adalah Facebook . %). Instagram . %), dan WhatsApp . %). Media sosial dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman pribadi, mencari dukungan sosial, dan membangun komunitas dengan sesama Single parent. Tabel berikut menunjukkan distribusi penggunaan platform: Tabel 1: Penggunaan Platform Digital oleh Single parent Nurfaiza Platform Pengguna (%) Facebook Instagram (Perempuan Single Parent pada Era Digitalisasi. Studi Komunikasi Budaya atas Perubahan Zaman dan Pandangan Masyaraka. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . WhatsApp Twitter TikTok Sekitar 60% responden melaporkan bahwa media sosial membantu mereka membentuk identitas baru setelah kehilangan pasangan. Mereka membagikan kisah tentang proses pemulihan, perkembangan karier, dan hubungan sosial yang baru. Konten yang diposting cenderung menyoroti aspek positif dari kehidupan mereka, seperti pencapaian pribadi dan aktivitas keluarga. Media sosial telah menjadi platform penting bagi Single parent untuk merepresentasikan diri mereka. Penelitian ini mengungkap bahwa 85% Single parent yang diwawancarai menggunakan media sosial sebagai sarana utama untuk mengekspresikan identitas mereka. Berbagai platform media sosial digunakan oleh Single parent untuk menavigasi identitas mereka pasca-kehilangan pasangan, dengan dinamika representasi diri di era digital yang kompleks dan beragam. Facebook. Instagram, dan WhatsApp menjadi platform yang paling sering digunakan. Facebook . %) menyediakan lingkungan yang luas bagi Single parent untuk menjaga koneksi pribadi, bergabung dengan grup, dan berdiskusi. Instagram . %) yang berfokus pada konten visual memungkinkan mereka mengekspresikan diri melalui foto dan video. WhatsApp . %) lebih sering digunakan untuk komunikasi yang lebih intim melalui grup obrolan dengan keluarga, teman, dan jaringan pendukung. Meskipun kurang populer. Twitter dan TikTok juga memiliki peran tersendiri. Twitter memungkinkan Single parent untuk berpartisipasi dalam percakapan sosial yang lebih luas, sedangkan TikTok memberikan ruang untuk kreativitas dan humor melalui video pendek yang bisa mencakup konten ringan hingga refleksi mendalam tentang pengalaman mereka. Sekitar 60% Single parent yang disurvei menyatakan bahwa keterlibatan mereka di media sosial telah membantu membangun kembali identitas mereka. Mereka berbagi kisah perjalanan pemulihan, pengembangan profesional, dan hubungan sosial baru. Banyak Single parent menggunakan media sosial untuk mendokumentasikan proses penyembuhan mereka dengan membagikan strategi coping, pencapaian emosional, dan refleksi terhadap kehilangan yang mereka alami. Hal ini tidak hanya membantu mereka memproses duka, tetapi juga memberikan inspirasi dan dukungan bagi orang lain dalam situasi serupa. Selain itu, media sosial memungkinkan Single parent untuk menampilkan pencapaian profesional dan perkembangan karier mereka. Postingan tentang pekerjaan baru, pendidikan, dan pencapaian profesional menyoroti kemampuan mereka untuk membangun kembali kehidupan dan mengejar peluang baru. Ini membantu menentang stereotip tradisional yang menggambarkan Single parent sebagai individu yang bergantung dan rentan. Single parent juga menggunakan media sosial untuk membagikan pengalaman dalam membangun hubungan sosial baru, baik pertemanan, kegiatan komunitas, maupun hubungan romantis yang baru. Postingan yang berfokus pada interaksi sosial yang positif membantu mengubah identitas sosial mereka dari kehilangan menjadi pertumbuhan dan pembaruan. Secara keseluruhan, representasi diri di media sosial bagi Single parent lebih banyak menyoroti aspek positif kehidupan mereka, seperti pencapaian pribadi dan aktivitas keluarga. Representasi ini berfungsi sebagai mekanisme coping, meningkatkan harga diri, dan menentang persepsi negatif masyarakat tentang status Single parent. Dengan menyusun kehadiran daring yang positif. Single parent membangun narasi tentang ketahanan dan kekuatan mereka. 2 Persepsi Publik terhadap Single Parent Studi ini menemukan bahwa dukungan sosial melalui media sosial memengaruhi cara masyarakat memandang Single parent. Sebanyak 75% responden mengalami peningkatan dukungan sosial sejak Ulfi Nurfaiza (Perempuan Single Parent pada Era Digitalisasi. Studi Komunikasi Budaya atas Perubahan Zaman dan Pandangan Masyaraka. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . mereka aktif di media sosial. Mereka menerima dukungan dalam bentuk komentar positif, pesan pribadi, serta partisipasi dalam grup dukungan daring. Selain itu, 40% Single parent mengakui bahwa mereka lebih percaya diri dalam kehidupan sehari-hari karena dukungan ini. Namun, meskipun mendapat dukungan, 50% Single parent masih menghadapi stigma negatif di platform digital. Bentuk stigma yang umum dihadapi meliputi anggapan bahwa Single parent harus dikasihani atau dianggap sebagai ancaman dalam hubungan sosial. Tabel berikut merangkum respons terhadap stigma yang dialami oleh para Single parent: Tabel 2: Respons terhadap Stigma yang Dialami oleh Single parent di Media Sosial Bentuk Stigma Responden (%) Rasa Kasihan Kecurigaan Sosial Perlakuan Diskriminatif Dukungan Positif Persepsi publik terhadap Single parent mengalami perubahan signifikan yang dipengaruhi oleh kehadiran mereka di media sosial. Studi ini mengungkap bahwa media sosial memainkan peran penting dalam membentuk pandangan masyarakat terhadap Single parent, baik dalam bentuk dukungan maupun stigma yang mereka hadapi. Sebanyak 75% Single parent melaporkan peningkatan dukungan sosial sejak aktif di media sosial. Dukungan ini muncul dalam berbagai bentuk, termasuk komentar positif, pesan pribadi yang menyemangati, dan partisipasi dalam grup dukungan daring. Interaksi ini membantu mengurangi perasaan isolasi dan duka yang umumnya dialami oleh Single parent. Partisipasi dalam grup dukungan daring, seperti yang difasilitasi oleh Facebook dan WhatsApp, menjadi sumber dukungan kolektif yang penting. Grup ini memberikan ruang aman bagi Single parent untuk berbagi pengalaman, bertukar saran, dan menemukan kenyamanan dalam mengetahui bahwa orang lain menghadapi tantangan serupa. Dampak psikologis dari peningkatan dukungan sosial ini cukup besar. Sekitar 40% Single parent dalam studi ini melaporkan peningkatan rasa percaya diri berkat keterlibatan mereka di media sosial. Validasi yang diterima secara daring dapat memperkuat rasa tujuan dan harga diri mereka. Namun, meskipun mendapat dukungan, 50% Single parent masih mengalami stigma negatif di media Stigma ini muncul dalam berbagai bentuk, mencerminkan bias dan kesalahpahaman masyarakat terhadap status Single parent. Sebanyak 30% responden menghadapi rasa kasihan yang berlebihan, yang sering kali mengarah pada pandangan bahwa Single parent adalah individu yang lemah dan perlu dikasihani. Sebanyak 20% mengalami kecurigaan sosial, di mana mereka dianggap sebagai ancaman dalam hubungan sosial atau Perlakuan diskriminatif, yang dialami oleh 15% responden, mencakup pengucilan sosial hingga komentar negatif. Di sisi lain, 35% Single parent melaporkan menerima dukungan positif yang secara aktif melawan Dukungan ini datang dari komunitas daring yang progresif dan individu yang mendorong pemberdayaan serta kemandirian Single parent. Media sosial memberikan Single parent peluang untuk mendapatkan dukungan sosial dan meningkatkan rasa percaya diri, tetapi juga menghadapkan mereka pada stigma yang masih kuat di masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam dan langkah-langkah aktif untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih inklusif dan Nurfaiza (Perempuan Single Parent pada Era Digitalisasi. Studi Komunikasi Budaya atas Perubahan Zaman dan Pandangan Masyaraka. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Simpulan Temuan penelitian menunjukkan bahwa di era digitalisasi, kemunculan media sosial memiliki peran penting dalam membentuk identitas perempuan Single parent dan dapat memengaruhi persepsi terhadap identitas mereka. Kehadiran media sosial memungkinkan perempuan Single parent untuk mengonfigurasi ulang identitas diri mereka sesuai dengan citra yang diinginkan serta cara mereka ingin dipandang oleh orang lain. Perempuan Single parent telah mengalami perubahan sosial yang signifikan seiring dengan hadirnya media digital. Berdasarkan temuan ini, penelitian menggunakan teori konstruksi sosial. Menurut teori tersebut, eksternalisasi merupakan proses adaptasi terhadap dunia sosial dan budaya sebagai produk manusia, yang menyatakan "Masyarakat adalah produk manusia. " Dalam konteks ini, perempuan Single parent melihat peran mereka sebagai pemberdayaan yang memungkinkan mereka untuk bekerja atau mengejar karier tanpa terikat aturan khusus, mengelola anak, dan menjalani aktivitas tanpa tekanan. Obyektivasi merujuk pada interaksi sosial dalam dunia intersubjektif yang telah terlembaga, yang menganggap "Masyarakat adalah realitas objektif. " Dalam hal ini, perempuan Single parent menampilkan identitas mereka dan mendapatkan umpan balik dari lingkungan sekitar. mereka melihat diri mereka sebagai perempuan produktif karena mampu meningkatkan jumlah pengikut di media sosial, menjalin hubungan melalui platform digital untuk mengurangi perasaan negatif, ikut serta dalam kegiatan virtual, dan mendapatkan pengakuan publik melalui konten-konten menarik yang sesuai dengan minat mereka. Internalisasi berarti individu mengidentifikasi diri mereka dalam institusi sosial atau organisasi tempat mereka menjadi anggotanya, dengan prinsip "Manusia adalah produk sosial. " Dalam hal ini, pengakuan dari orang lain atas status mereka sebagai Single parent membuat perempuan Single parent merasa nyaman dan percaya diri dengan kondisi yang ada. Status Single parent tidak lagi dianggap menakutkan atau tercemar stigma, melainkan telah mengalami transformasi seiring perkembangan teknologi dan informasi. Rasa nyaman ini memberikan semangat dan keberanian lebih untuk menerima identitas sebagai Single parent, sehingga beberapa informan dalam studi memutuskan untuk tidak menikah kembali dan menikmati status mereka di era digitalisasi. References