73 FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI DI SMAN 2 BUNTUMALANGKA KABUPATEN MAMASA TAHUN 2017 Oleh: Muhammad Hatta. Renaldi M. Stevea Alicia Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIK) Makassar ABSTRAK: Anemia dapat didefenisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada di bawah normal, sebagian besar penyebab anemia di Indonesia adalah kekurangan besi yang berasal dari makanan yang dimakan setiap hari. Dampak anemia pada remaja putri yaitu pertumbuhan terhambat, tubuh pada masa pertumbuhan mudah terinfeksi, mengakibatkan kebugaran atau kesegaran tubuh berkurang, semangat belajar atau prestasi menurun Menurun. Menurut data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2014 menyatakan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri usia 10 -18 tahun sebesar 57,1% dan usia 19 45 tahun sebesar 39,5%. Wanita mempunyai risiko terkena anemia paling tinggi terutama pada remaja putri Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, status gizi, lama haid, pendapatan orangtua dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMAN 2 Buntumalangka. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan desain analitik pendekatan cross sectional. Sampelnya adalah remaja putri di wilayah SMAN 2 Buntumalangka, yang diamabil dengan total sampling sebesar 36 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian anemia pada remaja putri . Tidak ada hubungan antara Lama Menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri . , dan ada hubungan antara pendapatan orangtua dengan kejadian anemia pada remaja putri . Simpulan, ada hubungan Pengetahuan. Pendapatan orangtua dengan kejadian anemia pada remaja putri, tidak ada hubungan antara lama menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri. Saran, perlu diadakan penyuluhan gizi dan kesehata reproduksi khusunya melalui sekolah. Kata kunci : Anemia. Pengetahuan. Lama Menstruasi. Pendapatan orangtua PENDAHULUAN Dampak anemia pada remaja putri yaitu pertumbuhan terhambat, tubuh pada masa pertumbuhan mudah terinfeksi, mengakibatkan kebugaran/kesegaran tubuh belajar/prestasi menurun, pada saat akan menjadi calon ibu maka akan menjadi calon ibu yang berisiko tinggi untuk kehamilan dan melahirkan. (Badriah, 2. Amerika Serikat, mengalami anemia sebanyak 2% sampai Negara-negara lainnya memiliki tingkat anemia lebih tinggi. Pada perempuan muda terdapat dua kali lebih mungkin mengalami anemia di bandingkan laki-laki muda karena perdarahan menstruasi yang tidak teratur (Fillah, 2. Menurut data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2014 menyatakan bahwa prevalensi anemia pada balita sebesar 40,5%, ibu hamil sebesar 50,5%, ibu nifas sebesar 45,1%, remaja putri usia 10 -18 tahun sebesar 57,1% dan usia 19 -45 tahun sebesar 39,5%. Wanita mempunyai risiko terkena anemia paling tinggi terutama pada remaja putri (Kemenkes RI, 2. Jurnal Mitrasehat. Volume Vi Nomor 1. Mei 2018 ISSN 2089-2551 74 ___ Faktor Yang Berhubungan Dengan. Sementara di sulawesi Barat Prevalensi anemia pada 200 remaja putri adalah sebesar 27%. Ditinjau dari tingkat keparahan anemia, 0,5% responden tergolong anemia sangat berat . , 3% yang mengalami anemia sedang . , dan 24% tergolong anemia ringan. (Rahma. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada remaja putri Kelas XI MAN 1 Metro Lampung Timur terhadap 10 remaja putri yang diperiksa Hb diperoleh hasil sebanyak 5 remaja putri . %) mengalami anemia, sedangkan dari 10 remaja putri tersebut ternyata terdapat 5 remaja putri . %) memiliki pengetahuan yang kurang tentang anemia dan 5 remaja putri mempunyai pengetahuan yang baik. Dari 5 remaja putri yang mengalami anemia terdapat 2 remaja . %) mempunyai status gizi di bawah normal dan 3 remaja putri mempunyai status gizi normal. Hasil tersebut menunjukkan kejadian anemia di Kelas XI MAN 1 (Martini,2. Penelitian yang dilakuka Septi . mengatakan bahwa ada hubungan antara anemia dengan siklus menstruasi p=0,018 (P<0,. sehingga dapat di simpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara anemia pada siklus menstruasi di SMAN 1 Negri 1 Imogiri Bantul Yogyakarta. Dari data tersebut maka penulis tertarik malakukan penelitian yang mengenai Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri di SMAN 2 Buntumalangka kabupaten Mamasa Tujuan Penelitian Tujuan umum Secara umum tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan anemia pada remaja putri siswa SMAN 2 Buntu Malangka Tujuan khusus Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang anemia dengan kejadian anemia pada remaja putri. Muhammad Hatta. Renaldi M. Stevea Alicia Untuk mengetahui hubungan antara lama menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri. Untuk mengetahui adanya hubungan antara pendapatan keluarga dengan kejadian anemia pada remaja putri Manfaat Penelitian Manfaat Ilmiah Sebagai sumber ilmiah dan menjadi bahan tambahan informasi dalam peneitian selanjutnya dan menambah khasanah/ilmu pengetahuan khususnya disiplin ilmu kesehatan masyarakat. Manfaat institusi Sebagai bahan masukan bagi SMAN 2 Buntumalangka untuk memperhatikan kesehatan bagi siswanya terutama remaja putri untuk menurunkan kejadian anemia Manfaat Praktis Menambah wawasan dan sebagai sarana untuk menerapakan ilmu dalam bidang Kesehatan Reproduksi, umumnya dan khususnya untuk mendukung evaluasi penanggulangan Anemia pada Remaja Putri Serta diharapkan dapat menjadi sumber penelitian bagi peneliti selanjutnya Manfaat bagi masyarakat Diharapkan penelitian ini mampu memberikan manfaat bagi masyarakat untuk mengetahuai akan masalah-masalah yang tekait dengan kejadian anemia pada remaja putri sehhingga dapat menghindari terjadinya anemia pada remaja putri. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan desain analitik pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja putri siswa SMAN 2 Buntumalangka kelas 10 dan 11 sebanyak 36 siswa. Sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling ini disebabkan karena jumlah populasi yang ada jumlahnya sedikit sehingga populasinya diambil secara keseluruhan, sebesar 36 orang sampel. Variabel independent dalam penelitian ini adalah anemia pada remaja Variabel dependent dalam penelitian ini adalah pengetahuan tentang anemia, lama mensruasi dan pendapatan orangtua. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berupa pemeriksaan kadar Hemoglobin, data mengenai pendapatan keluarga, dan pengetahuan tentang anemia. Instrumen pengumpulan data yaitu Pemeriksaan Hemoglobin digunakan untuk mengukur menggunakan metode siahli sebagai batasan Dan menggunakan Haemometer. Kuesioner merupakan daftar pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden antara lain mengenai karaktristik responden, pengetahuan tentang anemia, pendapatan keluarga, dan lama Tehnik pengolahan data dengan menggunakan editing, koding dan Tabulasi. Analisi data dengan menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Distribusi Responden Berdasarkan Umur. Berat badan. Tinggi badan, dan Indeks Massa Tubuh dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut: Distribusi Karakteristik Responden berdasarkan pendidikan. Pekerjaan dan Penghasilan dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini Distribusi Kejadian Anemia. Pengetahuan, lama haid dan pendapatan orangtua. Adapun hasil tersebut di sajikan dalam tabel 3 berikut Hubungan Pengetahuan Kejadian Anemia pada Remaja Putri Hubungan Lama menstruasi dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri Hubungan Pendapatan Orangtua dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri Jurnal Mitrasehat. Volume Vi Nomor 1. Mei 2018 PEMBAHASAN Hubungan Pengetahuan dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri Pengetahuan merupakan pedoman dalam membentuk tindakan seseorang . ver Sebagian besar pengetahuan di peroleh melalui mata dan telinga (Heri. Pengetahuan umum tentang gizi meliputi fungsi makanan, kombinasi pemborosan, cara mengelolah dan memilih serta cara menilai kesehatan yang berhubungan dengan faktor gizi (Ambarwati. Pengetahuan seseorang dapat mempengaruhi terjadinya anemia karena pengetahuan dapat mempengaruhi perilaku termasuk pola hidup dan kebiasaan makan (Fillah D, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki pengetahuan kurang dan mengalami anemia yaitu 17 . %) orang, siswa yang memiliki pengetahuan kurang dan tidak anemia 3 . %) orang. Sedangkan pengetahuan cukup dan mengalami anemia sebanyak 5 . ,2%) orang, dan siswa yang memiliki pengetahuan cukup dan tidak mengalami anemia sebanyak 11 . ,8%) Hasil analisis data dengan menggunakan chi-square test, maka di peroleh nilai p= . < 0,05. Hal ini berarti, ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian anemia pada remaja putri. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di MAN 1 Metro Lampung Timur oleh martini . yang menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang anemia dengan kejadian anemia pada remaja putri ( p=0,048 < = 0,05 ). Dari hasil pengamatan pada saat penelitian dengan pengisian kuesioner/ sebagian besar dari responden mengalami anemia, tetapi mereka tidak tahu tentang apa itu anemia, kemudian mereka tidak mengetahui makanan apa yang memiliki kandungan zat besi yang harus di konsumsi ISSN 2089-2551 76 ___ Faktor Yang Berhubungan Dengan. serta dampak yang akan terjadi apabila mengalami anemia. Hal ini terjadi karena kurangnya penyuluhan kepada remaja putri mengenai masalah-masalah gizi dan akibat yang ditimbulkan apabila tubuh kekurangan gizi terutama zat Besi. Tetapi berdasarkan hasil penelitian tersebut diatas ada juga siswa dengan pengetahuan cukup tetapi masih saja mengalami anemia yaitu sebanyak 5 orang Hal ini terjadi karena sebagian siswa hanya sebatas mengetahui saja tentang anemia tetapi tidak mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian dari mereka memiliki kebiasaan makan yang tidak teratur. Pengalaman baru, kegembiraan di sekolah, rasa takut kalau terlambat kesekolah dan keingian siswa untuk memiliki tubuh yang langsing, merupakan beberapa penyebab kurangnya keteraturan jadwal makan sehingga dapat menghambat asupan zat gizi yang yang di serap oleh tubuh, sehingga mempengaruhi terjadinya anemia. Hubungan antara Lama Menstruasi dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri Anemia dapat disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah kehilangan Remaja putri secara normal akan mengalami kehilangan darah melalui menstruasi setiap bulan. Bersamaan dengan menstruasi akan dikeluarkan sejumlah zat besi yang diperlukan untuk pembentukan Hal ini merupakan salah satu penyebab prevalensi anemia cukup tinggi pada remaja putri. Lama menstruasi dapat diukur berdasarkan hari pertama sampai dengan hari terakhir keluar darah. Kehilangan zat besi di atas rata-rata dapat terjadi pada remaja putri dengan pola menstruasi yang lebih banyak dan waktunya lebih panjang (Atikah, 2. Pada dasarnya siklus haid wanita tidak sama tetapi umumnya berlangsung antara 25-35 hari . ata-rata 28 har. Hari pertama pendarahan di hitung sebagai permulaan siklus haid. Lalu, siklus haid adalah jumlah hari sebelum haid berikutnya terjadi . ari pertama Muhammad Hatta. Renaldi M. Stevea Alicia Jangka waktu menstruasi antara 3-7 hari. (Eva dkk,2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang Lama menstruasinya tidak normal dan mengalami anemia terdapat 2 . ,7%) orang dan siswa yang lama menstruasinya tidak normal dan tidak mengalami anemia sebanyak 1 . ,3%) orang, sedangkan siswa yang memiliki lama menstruasi normal tapi mengalami anemia sebanyak 20 . ,6%) orang dan siswa yang memiliki lama menstruasi normal dan tidak anemia sebanyak 13 . Hasil analisis data dengan menggunakan chisquare test, maka di peroleh nilai p = . > 0,05, ini berarti, tidak ada hubungan antara Lama Haid dengan kejadian anemia pada remaja putri. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yunarsi . di SMPN 6 Kediri yang mengatakan tidak adanya hubungan antara lama menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri di mana hasil perhitungan statistik 0,756 > (=0,. Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Eka . menyatakan bahwa ada hubungan antara lama menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri di buktikan dengan hasil uji chisquare menunjukkan bahwa p=0,002 < . Ini berarti Ho di terima dan menunjukkan ada hubungan antara lama menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri Hasil penelitian yang telah peneliti lakukan di mana tidak adanya hubungan antara lama menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri. Ini terjadi karena penelitian yang dilakukan oleh peneliti hanya menilai lama menstruasinyanya saja sementara jumlah voleme darah yang keluar saat haid tidak dilihat oleh peneliti. Volume darah yang keluar pada saat menstuasi dapat juga mempengaruhi terjadinya anemia. Volume darah yang keluar pada saat menstruasi rata-rata mencapi 35-50 ml hal ini dapat menyebabkan remaja putri kehilangan zat besi yang dapat menimbulkan anemia, belum lagi jika remaja putri mengeluarkan volume darah lebih dari normal misalnya berganti pembalut lebih dari 1-2 jam sekali, atau jika selama tujuh hari . penuh mengalami perdarahan banyak. "Volume darah yang dikeluarkan lebih dari normal, yaitu sekitar 80 mililiter maka hal ini dapat memicu terjadinya anemia pada remaja putri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki lama haid normal yaitu rata-rata lama haidnya 3- 8 hari tetapi mereka banyak yang mengalami Hal ini terjadi karena tingginya aktivas bagi remaja putri misalnya kegiatan ekstrakulikuler disekolah yang cukup padat dan setelah pulang sekolah membatu orangtua di rumah, sehingga hal ini dapat memicu terjadinya peningkatan volume darah bagi ramaja putri. Hubungan Pendapatan Orangtua dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri Menurut Wirakusuma,1998 dalam buku Waryana, 2011 yaitu faktor ekonomi merupakan penyebab pola konsumsi masyarakat kurang baik, tidak semua masyarakat dapat mengkonsumsi lauk hewani dalam setiap kali makan. Padahal pangan hewani merupakan sumber zat besi yang tinggi absorsinya. Akses terhadap makanan dalam hal uang atau barang penukar merupakan faktor kritikal dalam menentukan pilihan makanan. Semakin tinggi status ekonominya, semakin banyak jumlah dan jenis makanan yang diperoleh. Sebaliknya orang yang hidup dalam kemiskinan atau berpenghasilan rendah memiliki kesempatan yang sangat terbatas dalam memilih makanan (Mery E, 2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari siswa yang memiliki pendapatan orangtua Rendah dan mengalami kejadian anemia sebanya 18 . ,7%) orang. Dan siswa yang memiliki pendapatan orangtua Rendah dan tidak mengalami anemia sebanya 3 . ,3%). Sedangkan siswa yang Pendapatan orangtuanya Tinggi tapi mengalami anemia sebanyak 4 . ,7%) dan siswa yang pendapatan Tinggi dan tidak anemia sebanyak 11 . ,3%) orang. Hasil analisis data dengan menggunakan chisquare test, maka di peroleh nilai p= . < 0,05, ini berarti, ada hubungan antara pendapatan orangtua dengan kejadian anemia pada remaja putri. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Angelia M. menunjukkan hubungan antara kejadian anemia dengan status sosial ekonomi pada siswi SMP Negeri 5 Kota Manado. 167 siswi. Hasil dianalisis menggunakan uji Chi-Squar maka diperoleh hasil p=0,000, dimana p < ( = 0,. Pendapatan orangtua merupakan salah satu variabel yang diteliti oleh peneliti untuk menentukan faktor yang berhubungan dengan anemia pada remaja putri. menyebabkan daya beli untuk kebutuhan pangan rendah terutama kebutuhan produk hewani dan sayur-sayuran. Sebagian besar orangtua siswi bekerja sebagai petani dimana orangtua tidak memiliki penghasilan yang tidak tetap setiap bulannya. Tetapi ada juga sebagian dari siswa yang pendapatan orangtuanya normal tetapi masih saja mengalami anemia, hal ini disebabkan kerena pendapatan orangtua yang tinggi tersebut tidak di pergunakan untuk membeli bahan makanan yang memiliki kandungan yang kaya akan zat besi, seperti ikan, daging, sayur-sayuran dan lain-lain Jurnal Mitrasehat. Volume Vi Nomor 1. Mei 2018 ISSN 2089-2551 KESIMPULAN Setelah melakukan analisis data maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian anemia pada remaja putri p = 0,02 < . Tidak ada hubungan antara lama menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri p = 1,000 > . Ada hubungan antara pendapatan orangtua dengan kejadian anemia pada remaja putri p = 0,01 < . 78 ___ Faktor Yang Berhubungan Dengan. SARAN Saran yang diberikan penulis sebagai berikut : Perlu diadakan penyuluhan gizi di sekolah tentang anemia dan makanan kaya zat besi sehingga remaja memiliki pengetahuan yang baik tentang gizi dan masalah anemia pada remaja putri. Sebaiknya remaja mengetahui akan pemiliharaan personal menstruasi setiap bulannya. Disarankan kepada orangtua untuk memanfaatkan lahan kosong untuk menanami sayur Aesayuran sehingga meskipun memiliki tingkat ekonomi yang rendah tatapi kebutuhan zat gizi teritama kebutuhan zat besi dapat terpenuhi. DAFTAR PUSTAKA