Aspek Sosial-Budaya dalam Pembangunan Masyarakat Indonesia Daoed JOESOEF Perkataan AoAopembangunanAy selalu bahkan sampai saat ini ditanggapi daA lam pengertian pembangunan ekonomi. Menurut pengertian ekonomi yang murni. AoAopembangunanAy berarti keA mampuan suatu ekonomi nasional, yang pada mulanya berada dalam keadaan yang relatif statik, untuk menaikkan pendapatan nasional tahunannya sebesar 3 sampai 7% atau lebih, sambil mengubah struktur produksi dan pekerjaan begitu rupa sehingga bagian-bagiannya yang semakin menurun datang dari sektor pertanian sementara bagian-bagiannya yang semakin meningkat berA asal dari sektor-sektor sekunder dan tersier. Dalam pengertian yang begini arus moneter juga dianggap penting, peA ngeluaran devisa untuk impor dan pembelanjaan luar negeri lainnya sehaA rusnya tidak terlalu melebihi pemasukan devisa yang disebabkan oleh inA vestasi, pinjaman, bantuan dan penerimaan-penerimaan lainnya. Ada pula ahli ekonomi tertentu yang menitikberatkan pada kesanggupan pemerintah nasional untuk mengelola anggaran pendapatan dan belanja negara begitu rupa sehingga tidak mengalami defisit dan inflasi dapat dikuasai. Walaupun pembangunan masyarakat Indonesia tetap memberikan prioriA tas yang tinggi pada bidang ekonomi dan berhubung dengan itu penampilanA nya menjadi persis dan sesuai dengan definisi tersebut di atas, dari semenjak semula kami menggunakan istilah AoAopembangunanAy secara luas sehingga meA liputi tujuan-tujuan politik, budaya, sosial maupun ekonomi. Gagasan cara pembangunan yang juga menghargai nilai-nilai sosialbudaya timbul dari kesadaran tentang betapa piciknya cara pendekatan ekoA nomi semata-mata. Kekurangan dan kelemahan konsep pembangunan yang ANALISA 1984 - 5 hanya dipusatkan pada ekonomi jelas tercermin pada semakin meningkatnya ketidaklogisan struktural, ketidaksamaan serta kepincangan dan konflik baik dalam kehidupan perorangan, maupun dalam kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan, bahkan dalam hubungan internasional. Berhubung dengan itu ukuran-ukuran ekonomi baru mempunyai arti haA nya bila ia ditinjau bersama-sama indikator-indikator lainnya sebagai komA ponen dari suatu rangkaian yang menggambarkan suatu kecenderungan. Indikator-indikator pembangunan lainnya yang sosio-budaya non-ekonomik itu adalah antara lain: jumlah melek huruf, persekolahan dan perpustakaan, kondisi dan pelayanan kesehatan, perumahan dan sebagainya. Dalam rangka pemikiran pembangunan seperti itu, jawaban yang paling tepat terhadap semua kebutuhan sosial-budaya tersebut kiranya berupa peA ngaitan pendidikan dengan kebudayaan, di satu pihak, dan dengan pembaA ngunan, di lain pihak. Hubungan antara pendidikan dan kebudayaan tersebut seharusnya berupa pendidikan adalah bagian dari kebudayaan dan bukan Bila demikian kebudayaan ditanggapi tidak hanya dalam artian seni ruangan . rsitektur, patung, lukisan dan lain-lai. , seni waktu . usik, tari, teater, film dan lain-lai. , ekspresi plastik dan literair, maupun seni beladiri, yang khas menggambarkan pandangan hidup tersendiri dari kelompok maA nusia yang menampilkannya, tetapi juga dalam artian sistem nilai dan gagasan vital yang dikandung oleh dan jelas tercermin pada bentuk-bentuk kesenian Tanggapan yang begini memperlakukan kebudayaan sebagai segenap perA wujudan dan keseluruhan hasil pikiran . , kemauan . serta peraA saan . manusia dalam rangka perkembangan kepribadian manusia, perkembangan hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia deA ngan alam dan hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Maka pendidikan, sebagai bagian dari kebudayaan, merupakan sarana penerusan nilai-nilai dan gagasan vital yang dihayati. Melalui pendidikan diA bangkitkan dan dibina kesadaran nilai dalam diri manusia. Sebab nilailah yang membuat manusia hidup sederajat dengan harkat kemanusiaannya dan yang menyadarkannya tentang kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki dan dihadapinya berhubung nilai itulah yang menuntunnya untuk membedakan inti dari isi, untuk memisahkan beras dari sekam, untuk bebas sepenuhnya karena kebebasan bukanlah fungsi dari ada-tidaknya kesempatan memilih, tetapi tergantung dari ada-tidaknya kemampuan orang itu sendiri untuk mengambil sendiri keputusannya yang pada satu ketika harus dilakukannya. SOSIAL-BUDAYA & PEMBANGUNAN Jadi pada tingkat terakhir pendidikan nasional Indonesia hendak memA bentuk manusia seutuhnya, yaitu seorang makhluk yang sadar-nilai, yang mengkaji nilai dan yang mencari nilai. Ketiga kualitas keutuhan manusiawi tersebut secara implisit berarti bahwa proses belajar-mengajar seharusnya membuat anak didik mampu melihat secara kritis nilai-nilai yang diwarisinya sehingga mereka terlatih untuk berperan-serta secara kreatif dalam transforA masi nilai-nilai demi perbaikan dan kemajuan kehidupannya sendiri, kehiA dupan sesama warga serta kehidupan negara dan bangsa. PENGETAHUAN ILMIAH Salah satu dari nilai-nilai yang ingin diintegrasikan ke dalam kebudayaan Indonesia dewasa ini adalah pengetahuan ilmiah. Diketahui benar bahwa kebudayaan tradisional Indonesia mengandung nilai-nilai etik, estetik dan artistik yang sungguh agung, berupa penjelasan kepekaan perasaan dan kesuburan fantasi nenek moyang yang mengubah seA gala sesuatu menjadi ciptaan keindahan, yang mampu bertanding dengan bangsa mana pun di dunia ini. Namun kita sadar sepenuhnya bahwa di masa yang lalu nenek moyang tidak menghasilkan falsafah abstrak yang berat dan dalam yang dalam dirinya merupakan benih dari nilai-nilai ilmiah dan teknoA Hal ini merupakan satu kelemahan dalam kebudayaan yang kita warisi dari masa silam dan yang seharusnya kita sempurnakan secepat mungkin. Bila kebudayaan disimpulkan sebagai cara dan pandangan hidup yang diA bangun melalui tumpukan pengalaman historis sesuatu bangsa, bila kebudaA yaan harus dikaitkan pada usaha modernisasi, pembangunan dan perkemA bangan bangsa tersebut, maka ilmu pengetahuan serta teknologi yang dilahirA kannya harus dijadikan bagian yang integral dari kebudayaan . istem nilai dan gagasan vita. bangsa yang bersangkutan. Maka itu semangat ilmiah adalah satu dari nilai-nilai yang harus dikemA bangkan di kalangan anak-anak melalui pendidikan agar mereka menjadi sadar pengetahuan ilmiah. Lalu sejauh agama mencerminkan dimensi spiritual dari kebudayaan, segi estetikanya meliputi pemakaian teknik dan penggunaan peralatan sebagai jawaban terhadap kebutuhan yang semakin halus, sedangA kan ilmu pengetahuan dan teknologi masing-masing menggambarkan segi inA telektual dan fisikal dari kebudayaan. Pengembangan nilai-nilai ilmiah dan teknologis di kalangan anak didik melalui proses belajar-mengajar ini menunjukkan adanya kaitan fungsional antara pendidikan dan pembangunan masyarakat. ANALISA 1984 - 5 Sama halnya dengan agama, ilmu pengetahuan harus dihayati. lebih-lebih bila pendidikan formal bertujuan membuat anak didik menjadi sadarpengetahuan ilmiah dan tidak sekedar menjadi pemburu gelar akademik seA mudah mungkin. Maka demi pertumbuhan kesadaran ilmiah tersebut, di lingA kungan sekolah, lebih-lebih di lingkungan lembaga pendidikan tinggi, ilmu pengetahuan seharusnya diperlukan secara utuh, yaitu tidak hanya sebagai AoAoproduk,Ay tetapi juga sebagai AoAoprosesAy dan sebagai AoAoparadigma etikAy . Ilmu pengetahuan, sebagai produk, adalah pengetahuan yang telah dikeA tahui dan diakui kebenarannya oleh masyarakat ilmiah. Jadi dalam dirinya pengetahuan ilmiah terbatas pada pernyataan-pernyataan yang mengandung kemungkinan untuk disepakati dan terbuka untuk diteliti, diuji ataupun diA bantah oleh seseorang. Maka itu satu fakta ilmiah tidak mungkin bersifat orisinal seperti halnya pada sesuatu karya kesenian. Yang mungkin orisinal adalah penemuan fakta ilmiah tersebut dan bahannya fakta ilmiah itu sendiri. Inilah sebabnya mengapa dianggap penting AoAotimingAy dari sesuatu penemuan ataupun sesuatu publikasi. Bila sekolah menuntun anak didiknya untuk menguasai pengetahuan ilA miah semata-mata dalam artian produk tersebut, selalu ada risiko mereka menganggap ilmu pengetahuan seperti mempunyai suatu kekuatan magis berA hubung mereka sendiri tidak turut mengalami proses yang melahirkan ilmu pengetahuan itu. Bagi mereka lalu yang terpenting adalah memiliki obyek modern dari studi ini agar kekuatan magis yang bermanfaat itu dapat dinikA Namun persepsi tentang ilmu pengetahuan yang demikian ini sebenarA nya sama saja dengan fantasi yang ditimbulkan oleh kegemilangan lahiriah dari gambaran negara-negara industri modern yang terpampang jauh di kaki langit negara-negara terbelakang. Suatu fantasi yang lahir dari hal-hal yang tidak dimiliki dan bukannya lahir dari keadaan yang sebenarnya, yaitu citra yang terbalik dari kenyataan faktual yang ada. Berdasarkan fantasi seperti itu orang-orang yang berfantasi lalu bertekad mewujudkan sendiri persepsi yang keliru itu tanpa menyadari risiko bahwa dengan berbuat begitu mereka sebenarnya membina diri menjadi AoAobudakpemujaAy gelar akademik dan bukannya menjadi AoAotuanAy dari ilmu pengeA Maka untuk tidak terjerumus ke dalam alam fantasi para anak didik diA bimbing untuk mengenal pengetahuan ilmiah dalam artian proses. Ilmu peA ngetahuan, sebagai proses, adalah kegiatan sosio-akademik yang dilakukan demi penemuan dan pemahaman dunia alamiah sebagaimana adanya dan bukan sebagaimana yang kita kehendaki. SOSIAL-BUDAYA & PEMBANGUNAN Metode ilmiah yang khas dipakai dalam proses ini adalah analisa rasional, obyektif, sejauh mungkin bersifat AoAoimpersonal,Ay dari masalah-masalah yang didasarkan pada eksperimen dan data yang dapat ditanggapi . bservable Dengan begini anak didik mengenal ilmu pengetahuan atau mendapat peA ngetahuan ilmiah dengan melakukan sendiri kegiatan ilmiah. Jalan terbaik untuk melenyapkan kemistikan dari ilmu pengetahuan memang dengan menA dekatinya tidak dari luar melalui rumus-rumus yang siap pakai atau melalui produk teknologi, tetapi dari dalam melalui semangat yang menjiwai dan menggerakkan proses penemuan ilmiah itu. PARADIGMA Demi penguasaan ilmu pengetahuan secara utuh, anak didik perlu sekali menghayatinya pula dalam artian paradigma etik. Pengetahuan ilmiah, sebagai paradigma etik, adalah suatu masyarakat . unia pergaula. yang tindak-tanduknya, perilaku dan sikap serta tutur-katanya diatur oleh empat ketentuan, yaitu universalisme, komunalisme, jauh dari kepentingan pribadi . dan skeptisisme yang teratur. Universalisme berarti bahwa ilmu pengetahuan bebas dari warna kulit, ras, keturunan maupun keyakinan keagamaan. Komunalisme berarti pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan milik masyarakat . ublic knowledg. AoAoDisA interestednessAy berarti ilmu pengetahuan bukan propaganda. Skeptisisme yang teratur berarti keinginan untuk mengetahui dan bertanya harus didasarA kan pada penalaran dan keteraturan berpikir. Bukankah ada dikatakan bahwa pada asasnya ilmu pengetahuan adalah pemikiran yang teratur . rderly thinkA Konsekuensi dari pengetahuan ilmiah sebagai paradigma etik atau sebagai masyarakat ini adalah membina kampus, sebagai lingkungan di mana dilakA sanakan pendidikan tinggi, benar-benar menjadi suatu masyarakat ilmiah, yaitu lingkungan yang dapat menjadikan perguruan tinggi sebagai pusat peA meliharaan, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan kebutuhan masa sekarang dan masa datang. Lingkungan ini dapat berbuat begitu karena hanya penerapan paradigma etik itulah yang memungkinkan suburnya kehidupan semangat ilmiah, seA dangkan tanpa semangat ilmiah ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan lahir dan berkembang biak. ANALISA 1984 - 5 Walaupun ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilahirkannya jelas memA berikan sumbangan yang besar bagi keberhasilan jalannya pembangunan naA sional, masih saja terdapat orang-orang kalaupun tidak menentang secara terA buka sesedikitnya menghambat perkembangan dan pemasyarakatan ilmu Ilmu pengetahuan seperti dicurigai atau dikhawatiri. Ada yang tidak seA nang pada ilmu pengetahuan karena ia dikhawatiri dapat mengganggu iman, merusak kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Orang-orang ini tidak mengetahui bahwa manusia yang pengetahuan ilmiahnya diperoleh melalui ilmu dalam artian proses justru yang paling menyadari Kemahakuasaan Tuhan. Kehadiran Tuhan di mana-mana di setiap detik. Ada pula yang meA nentang ilmu pengetahuan dan teknologi seolah-olah kemajuan kedua hal terA sebut dapat dibendung. Ada lagi yang menghendaki penafsiran dunia dan keA hidupan melalui dua nilai, ilmiah dan humanis, dan dengan demikian memA pertegas pemecahan yang telah mengkerdilkan ilmu pengetahuan tersebut. Semua pandangan ini dalam dirinya merupakan permainan solusi yang Namun bukan berarti bahwa ia harus diabaikan begitu saja karena biar bagaimanapun ada pertimbangan yang menjadi dasarnya. KeA keliruan mereka kiranya berupa analisa yang kurang mendalam dan berusaha mencocokkan hasil-hasil akhir yang satu dengan lainnya, sedangkan yang diA perlukan adalah penelusuran kembali sampai ke sumber permulaannya. Saya akui bahwa umat manusia dalam beberapa hal telah menderita kaA rena penerapan ilmiah yang menjadi benar-benar anti-nilai sehingga merusak nilai-nilai lainnya dari kebudayaan. Tetapi mengapa menyalahkan ilmu peA ngetahuan mengenai perbuatan manusia yang menyalahgunakan kekuatan ilA miah? Kekuatan ilmu pengetahuan memang dapat dipakai untuk kebaikan ataupun kehancuran manusia. Yang menentukan untuk apa dan ke arah mana kekuatan itu dipakai bukanlah ilmu pengetahuan itu sendiri, tetapi manusia. Manusialah yang harus dipersalahkan. PUNYA HAK Ilmu pengetahuan sebagai suatu unsur sosial-budaya dalam pembangunan mempunyai hak untuk berkembang dan dikembangkan. Ia adalah buah dari kejeniusan makhluk manusia. Ia adalah hasil manusia yang terus-menerus berA tanya, berpikir, mencari jawaban yang benar, mencari kebenaran. Sejarah ilmu pengetahuan acap kali ditulis melalui nama-nama para ilmuA wan besar seperti Newton dan Einstein sehingga menimbulkan kesan seolah- SOSIAL-BUDAYA & PEMBANGUNAN olah kemajuan ilmu pengetahuan sangat tergantung pada perkembangan Kiranya lebih mendekati kenyataan bila dikatakan bahwa kemajuan semua ilmu pengetahuan, baik yang dasar maupun yang terapan, sangat diA tentukan oleh perkembangan instrumen-instrumen baru. Kemajuan astronomi terjadi, misalnya berkat dua penemuan teknologis, yaitu teleskop dan spektroskop, walaupun tidak setiap astronom mengetahui nama penemu . kedua peralatan tersebut. Demikian pula halnya dengan biologi dan ilmu medikal. Kedua pengetahuan ilmiah ini tidak akan semaju sekarang ini andaikata tidak ada mikroskop. Dewasa ini pengetahuan manusia yang luar biasa meA ngenai struktur dari kompleks protein dan mekanisme dari penerusan ketuA runan . karena adanya AyX-ray diffraktometerAy dan komputer. TerA nyata ilmu pengetahuan dan teknologi selalu saling menunjang dalam perA kembangannya masing-masing. Memang salah seorang ilmuwan terkemuka pernah berkata bahwa ilmu pengetahuan lebih banyak berhutang budi pada mesin uap daripada mesin uap terhadap ilmu pengetahuan. Sebagai bangsa yang sangat maju di bidang ilmu pengetahuan dan teknoA logi. Jepang bila bersedia dapat banyak membantu remaja Indonesia dalam usaha mereka menguasai ilmu pengetahuan dan menciptakan sendiri teknologi yang diperlukannya. Bantuan ini kiranya berupa instrumen yang diperlukan oleh sekolah, laA boratorium dan lembaga-lembaga penelitian. Sebab sebagaimana telah diuraiA kan di atas tadi, untuk mengenal ilmu pengetahuan dalam artian produk saja sudah diperlukan adanya instrumen, apalagi untuk menguasainya dalam artian proses. Sedangkan pembentukan kampus sebagai masyarakat ilmiah tidak akan lengkap dan sempurna selama ia tidak dilengkapi dengan instrumen yang diA perlukan untuk itu.