Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Islamic History and Culture Learning through Collaborative Learning Model at MA Al Muchlisin: A Classroom Action Research Yanti Susilawati1. Utria2 1 MA Al Muchlisin 2 MTsS Saragi Correspondence: ysusilawati1993@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Islamic History and Culture. Collaborative Learning. Student Engagement. MA Al Muchlisin. Critical Thinking. Peer Learning. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to improve students' understanding and engagement in Islamic History and Culture (SKI) at MA Al Muchlisin by implementing the Collaborative Learning Model. The research focuses on enhancing student participation, critical thinking, and the ability to work together in understanding and applying historical and cultural concepts from Islamic perspectives. The study involved 30 students from grade 11, selected for their diverse academic backgrounds. Data collection was carried out through classroom observations, interviews, tests, and feedback from students and teachers. The research followed a two-cycle process consisting of planning, action, observation, and reflection to ensure continuous improvement in the teaching and learning The findings indicate that the Collaborative Learning Model significantly enhanced studentsAo engagement with the SKI subject. Through group discussions, collaborative projects, and peer learning, students were able to share insights, develop critical thinking skills, and approach the subject matter from different perspectives. Students showed an increased understanding of the material and demonstrated improved communication and teamwork skills. The teacherAos role as a facilitator allowed students to take more ownership of their learning, fostering a more interactive and dynamic classroom environment. In conclusion, the Collaborative Learning Model proved to be an effective approach in enhancing students' understanding and engagement in Islamic History and Culture at MA Al Muchlisin. The study suggests that collaborative learning can be a valuable method to foster deeper comprehension, social skills, and critical thinking among students. It is recommended that this model be further incorporated into the curriculum to provide a more student-centered and engaging learning experience. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan agama Islam di Indonesia memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan moral siswa, terutama dalam pemahaman sejarah dan budaya Islam. Salah satu mata pelajaran yang sangat mendasar dalam pendidikan agama Islam adalah Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI). Di MA Al Muchlisin, pembelajaran SKI bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang sejarah peradaban Islam dan kontribusinya terhadap perkembangan dunia. Namun, meskipun SKI merupakan mata pelajaran yang sangat penting, banyak siswa yang menganggapnya sebagai mata pelajaran yang sulit dan kurang Hal ini dapat mempengaruhi hasil belajar siswa dan minat mereka terhadap materi yang diajarkan (Budi, 2. Oleh karena itu, penting untuk mencari pendekatan yang lebih inovatif dalam mengajarkan SKI, yang dapat meningkatkan minat dan pemahaman siswa. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan pembelajaran SKI adalah model pembelajaran kolaboratif. Pembelajaran kolaboratif adalah pendekatan di mana siswa bekerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas dan memecahkan masalah bersamasama. Pendekatan ini telah terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa, memperkuat kemampuan berpikir kritis, serta meningkatkan pemahaman dan keterampilan sosial siswa. Menurut Hanafi . , kolaborasi antar siswa dapat memperkaya pemahaman mereka tentang materi dengan berbagi perspektif yang berbeda dan berdiskusi mengenai topik yang kompleks, seperti sejarah dan budaya Islam. Oleh karena itu, model pembelajaran kolaboratif dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran SKI di MA Al Muchlisin. Pembelajaran SKI seringkali dipandang sebagai mata pelajaran yang monoton karena cenderung berfokus pada hafalan tanggal, peristiwa sejarah, dan nama-nama tokoh tanpa kaitan yang jelas dengan kehidupan siswa. Padahal, pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah Islam dapat membentuk pola pikir siswa, memperluas wawasan mereka, serta menghubungkan ajaran agama dengan kenyataan sosial yang ada. Pembelajaran yang menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari siswa akan lebih menarik dan memberikan dampak positif bagi perkembangan mereka (Siti, 2. Oleh karena itu, pembelajaran yang lebih interaktif dan melibatkan siswa secara aktif sangat penting untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang materi SKI. Pembelajaran kolaboratif menawarkan cara yang efektif untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar secara individual, tetapi juga dapat saling berbagi pengetahuan dan perspektif melalui diskusi kelompok. Ini memungkinkan mereka untuk lebih aktif dalam mencari pemahaman terhadap materi, berdiskusi mengenai peristiwaperistiwa penting dalam sejarah Islam, serta mengaitkan ajaran agama dengan kondisi sosial dan budaya yang relevan. Menurut Ahmad . , pembelajaran berbasis kolaborasi juga dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa, seperti kemampuan bekerja dalam tim, komunikasi, dan menghargai pendapat orang lain. Hal ini akan memperkaya pengalaman belajar mereka, sekaligus meningkatkan pemahaman terhadap materi yang diajarkan. Salah satu tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran SKI di MA Al Muchlisin adalah adanya perbedaan kemampuan dan gaya belajar siswa. Setiap siswa memiliki cara belajar yang berbeda, sehingga membutuhkan pendekatan yang dapat menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Dalam pembelajaran kolaboratif, perbedaan kemampuan ini justru menjadi Siswa yang lebih cepat dalam memahami materi dapat membantu teman-temannya yang membutuhkan dukungan lebih, sementara siswa yang lebih lambat mendapatkan kesempatan untuk belajar dari teman-temannya. Dengan demikian, model pembelajaran ini dapat membantu mengatasi perbedaan kemampuan di dalam kelas, serta menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung (Sari, 2. Pembelajaran kolaboratif juga mendorong siswa untuk lebih terlibat dalam pembelajaran aktif, yang akan meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi SKI. Sebelumnya, banyak siswa yang merasa tertekan dengan materi yang memerlukan pemahaman yang mendalam, terutama karena banyaknya konsep yang sulit untuk dipahami. Namun, dengan bekerja dalam kelompok, siswa dapat saling membantu dalam memahami materi dan menyelesaikan tugas-tugas yang Ini tidak hanya meningkatkan pemahaman mereka terhadap sejarah Islam, tetapi juga memberikan mereka keterampilan berpikir kritis yang akan berguna dalam kehidupan sehari-hari (Joko, 2. Di MA Al Muchlisin, penerapan model pembelajaran kolaboratif dapat memberikan banyak Selain meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi SKI, model ini juga dapat menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan dinamis. Ketika siswa bekerja dalam kelompok, mereka merasa lebih terlibat dalam proses belajar, lebih termotivasi untuk berpartisipasi aktif, dan lebih mudah untuk memahami konsep-konsep yang sulit. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Pembelajaran yang lebih interaktif dan menyenangkan ini juga dapat meningkatkan sikap positif siswa terhadap mata pelajaran SKI dan pendidikan agama secara umum (Widi, 2. Penerapan pembelajaran kolaboratif tidak hanya berdampak pada pemahaman siswa terhadap materi SKI, tetapi juga pada pengembangan keterampilan sosial dan emosional mereka. Siswa yang bekerja dalam kelompok belajar untuk menghargai pendapat orang lain, berkomunikasi dengan baik, dan menyelesaikan masalah bersama-sama. Hal ini sangat penting untuk perkembangan pribadi mereka, karena keterampilan sosial dan emosional yang baik akan membantu mereka dalam berinteraksi dengan orang lain di kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran kolaboratif tidak hanya memberikan manfaat akademis, tetapi juga mempersiapkan siswa untuk menjadi individu yang lebih baik dalam masyarakat (Rina, 2. Dalam konteks pengajaran SKI, pembelajaran kolaboratif juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk lebih aktif mengaitkan ajaran Islam dengan kehidupan mereka. Misalnya, siswa dapat berdiskusi mengenai peran tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam dan bagaimana nilai-nilai mereka dapat diterapkan dalam kehidupan modern. Ini tidak hanya membuat pembelajaran menjadi lebih relevan, tetapi juga membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif, yang sangat penting dalam memaknai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari (Maya, 2. Namun, penerapan model pembelajaran kolaboratif juga memiliki tantangan, terutama dalam hal pengelolaan kelas. Mengatur dinamika kelompok yang beragam memerlukan keterampilan manajerial yang baik dari guru. Guru perlu memastikan bahwa setiap siswa terlibat aktif dalam diskusi dan tidak ada yang tertinggal dalam proses belajar. Oleh karena itu, pelatihan bagi guru untuk menerapkan model ini secara efektif sangat diperlukan. Guru juga perlu memiliki keterampilan dalam memfasilitasi diskusi kelompok dan memberikan arahan yang jelas agar siswa dapat bekerja sama dengan baik (Zahira, 2. Dalam hal ini, teknologi dapat menjadi alat yang berguna untuk mendukung pembelajaran Penggunaan alat digital seperti forum diskusi online, aplikasi pembelajaran, atau video pembelajaran dapat meningkatkan interaksi siswa di luar kelas, sehingga memperkuat pembelajaran yang terjadi di dalam kelas. Teknologi juga memberikan akses yang lebih luas bagi siswa untuk menggali lebih dalam mengenai materi yang dipelajari, terutama ketika mereka menghadapi kesulitan dalam pemahaman. Dengan demikian, integrasi teknologi dalam pembelajaran kolaboratif dapat memperkaya pengalaman belajar siswa (Zahra, 2. Pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran juga tidak boleh diabaikan. Orang tua dapat memberikan dukungan yang sangat penting dalam pembelajaran di rumah, terutama dalam membantu anak memahami materi SKI yang mungkin belum sepenuhnya dipahami di sekolah. Oleh karena itu, sekolah perlu melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran, seperti melalui pertemuan rutin atau pembekalan mengenai cara mendukung anak dalam belajar. Dengan adanya kolaborasi antara sekolah dan orang tua, siswa akan merasa lebih didukung dalam mencapai keberhasilan akademik mereka (Zuhdi, 2. Secara keseluruhan, penerapan model pembelajaran kolaboratif di MA Al Muchlisin dapat meningkatkan kualitas pembelajaran SKI dengan cara yang lebih interaktif, menyenangkan, dan efektif. Melalui diskusi, kerjasama, dan berbagi ide, siswa tidak hanya memperdalam pemahaman mereka terhadap sejarah dan budaya Islam, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial dan emosional yang penting untuk kehidupan mereka. Oleh karena itu, model ini dapat menjadi salah satu alternatif yang efektif dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama di sekolah. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) di MA Al Muchlisin melalui penerapan model pembelajaran kolaboratif. PTK dipilih karena Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 pendekatan ini memungkinkan perbaikan berkelanjutan dalam proses pembelajaran, berdasarkan evaluasi langsung dari hasil yang dicapai pada setiap siklus. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Setiap siklus bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pembelajaran kolaboratif dan memperbaiki pendekatan berdasarkan hasil refleksi sebelumnya (Budi, 2. Subjek penelitian ini adalah 30 siswa kelas 11 MA Al Muchlisin yang memiliki latar belakang akademik yang bervariasi. Pemilihan siswa dilakukan secara purposive untuk memperoleh sampel yang representatif dari keberagaman kemampuan siswa di kelas tersebut. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap kegiatan kelas, wawancara dengan siswa dan guru, serta tes untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi SKI. Peneliti juga mengumpulkan dokumentasi hasil diskusi kelompok dan tugas yang diberikan dalam setiap Data ini akan dianalisis untuk mengidentifikasi dampak penerapan pembelajaran kolaboratif terhadap hasil belajar siswa (Dewi, 2. Pada tahap perencanaan, guru merancang kegiatan pembelajaran yang berbasis pada kolaborasi antar siswa. Rencana pembelajaran ini mencakup pembagian tugas yang berbeda untuk setiap anggota kelompok, berdasarkan peran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masingmasing siswa. Materi yang diajarkan difokuskan pada topik-topik sejarah Islam yang relevan dan dapat digali melalui diskusi kelompok. Guru juga menyiapkan media pendukung seperti video, gambar, dan teks yang dapat membantu siswa lebih memahami konteks sejarah dan budaya Islam. Siti . menjelaskan bahwa perencanaan yang matang sangat diperlukan untuk memastikan setiap siswa dapat berkontribusi dalam diskusi kelompok dengan optimal. Pada tahap tindakan, pembelajaran dilakukan dengan membagi siswa ke dalam kelompokkelompok kecil untuk mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan materi SKI. Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk mendiskusikan topik yang diberikan dan kemudian menyampaikan hasil diskusinya kepada kelas. Guru bertindak sebagai fasilitator yang memantau jalannya diskusi, memberikan bimbingan saat diperlukan, dan memastikan setiap siswa berpartisipasi aktif. Selama tindakan, peneliti juga mengobservasi interaksi antar siswa, mencatat peningkatan keterlibatan mereka, serta mendokumentasikan perkembangan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman mereka terhadap materi (Ahmad, 2. Pada tahap refleksi, hasil yang diperoleh dari setiap siklus dianalisis untuk mengevaluasi efektivitas penerapan model pembelajaran kolaboratif. Guru bersama peneliti akan menganalisis data yang terkumpul, seperti hasil tes, observasi kelas, serta umpan balik dari siswa mengenai pengalaman mereka selama pembelajaran. Berdasarkan refleksi ini, perbaikan dilakukan untuk siklus berikutnya, baik dalam hal strategi pembelajaran, pembagian tugas dalam kelompok, maupun penggunaan media yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa. Proses refleksi ini memastikan bahwa pembelajaran kolaboratif terus ditingkatkan dan disesuaikan dengan kebutuhan kelas (Rina, 2. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama, penerapan model pembelajaran kolaboratif menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan siswa dalam pembelajaran Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI). Sebelumnya, banyak siswa yang kurang aktif dan merasa kurang tertarik dengan materi SKI karena dianggap sebagai pelajaran yang berat dan penuh dengan fakta yang harus dihafal. Namun, dengan adanya pembelajaran kolaboratif, siswa diberi kesempatan untuk bekerja dalam kelompok, berbagi pengetahuan, dan mendiskusikan materi secara lebih mendalam. Hal ini menciptakan suasana yang lebih interaktif dan menyenangkan di dalam kelas, sehingga siswa merasa lebih terlibat dalam proses pembelajaran. Budi . menyatakan bahwa pembelajaran berbasis kolaborasi dapat meningkatkan motivasi siswa karena mereka merasa lebih dihargai dan memiliki peran penting dalam diskusi. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Selain peningkatan keterlibatan, siklus pertama juga menunjukkan adanya perubahan yang positif dalam kemampuan siswa untuk bekerja sama. Pembelajaran kolaboratif menuntut siswa untuk berinteraksi secara aktif dalam kelompok, saling berbagi informasi, dan berdiskusi untuk menyelesaikan masalah bersama. Siswa yang sebelumnya cenderung bekerja sendiri kini lebih terbuka untuk berkolaborasi dengan teman-temannya. Mereka mulai menghargai pendapat orang lain dan merasa lebih nyaman dalam berkomunikasi. Ini menunjukkan bahwa model pembelajaran ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial mereka. Menurut Siti . , keterampilan sosial yang berkembang dalam pembelajaran kolaboratif sangat penting bagi pengembangan karakter Pada siklus kedua, setelah adanya evaluasi dari siklus pertama, penerapan pembelajaran kolaboratif menunjukkan hasil yang lebih optimal. Salah satu perubahan signifikan adalah pembagian tugas dalam kelompok yang lebih merata, serta penyesuaian waktu yang lebih baik untuk setiap aktivitas. Dengan adanya perbaikan dalam pengelolaan waktu, kelompokkelompok dapat bekerja lebih efisien dan menyelesaikan tugas dengan lebih terorganisir. Siswa yang sebelumnya merasa kesulitan untuk mengikuti diskusi atau kegiatan kelompok kini dapat lebih aktif berpartisipasi, karena mereka memiliki waktu yang cukup untuk memahami materi dan mendiskusikan topik secara mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan kelas yang lebih baik dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran kolaboratif (Ahmad, 2. Peningkatan juga terlihat dalam hal pemahaman siswa terhadap materi SKI. Pada siklus pertama, beberapa siswa masih kesulitan untuk mengaitkan sejarah dan budaya Islam dengan konteks kehidupan mereka. Namun, pada siklus kedua, siswa mulai menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam menghubungkan ajaran Islam dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang Melalui diskusi kelompok, mereka diajak untuk memikirkan bagaimana sejarah Islam mempengaruhi peradaban dunia dan bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini memperlihatkan bahwa pembelajaran kolaboratif memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir kritis dan reflektif terhadap materi yang diajarkan (Rina, 2. Selain peningkatan dalam pemahaman materi, siklus kedua juga menunjukkan adanya perbaikan dalam kemampuan siswa untuk menyampaikan pendapat secara lisan. Pada awalnya, banyak siswa yang merasa ragu untuk berbicara di depan kelas atau menyampaikan pendapat mereka dalam diskusi. Namun, setelah terbiasa bekerja dalam kelompok dan saling berbagi ide, siswa menjadi lebih percaya diri. Mereka mulai aktif dalam memberikan pendapat, menjawab pertanyaan, dan berdiskusi mengenai topik yang sedang dibahas. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran kolaboratif dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan berbicara di depan umum dan meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam berbicara (Siti, 2. Namun, meskipun banyak kemajuan yang tercatat pada siklus kedua, beberapa tantangan masih muncul, terutama dalam hal dinamika kelompok. Beberapa kelompok masih terlihat kurang efisien dalam bekerja sama, dengan beberapa anggota kelompok yang dominan dan mengontrol jalannya diskusi. Siswa yang lebih pemalu atau pendiam kadang-kadang kesulitan untuk mengemukakan pendapat mereka. Oleh karena itu, guru perlu lebih mengatur pembagian tugas dalam kelompok dan memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi aktif. Pembagian tugas yang lebih jelas dan pengawasan yang lebih ketat akan membantu memastikan bahwa setiap siswa dapat berkontribusi secara maksimal (Zahra, 2. Penerapan model pembelajaran kolaboratif pada siklus kedua juga menunjukkan peningkatan dalam kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa yang sebelumnya hanya menerima informasi dari guru mulai terbiasa menganalisis, bertanya, dan memberikan pendapat mereka sendiri mengenai materi yang dipelajari. Mereka diajak untuk melihat peristiwa-peristiwa sejarah Islam tidak hanya dari satu sudut pandang, tetapi juga mempertimbangkan perspektif lain yang Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 mungkin lebih relevan dengan kondisi saat ini. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran kolaboratif memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis yang lebih dalam dan analitis (Zuhdi, 2. Selain itu, siklus kedua menunjukkan bahwa penggunaan media dan teknologi dalam pembelajaran kolaboratif memberikan dampak positif terhadap pemahaman siswa. Pada siklus pertama, media pembelajaran masih terbatas, namun pada siklus kedua, penggunaan video, gambar, dan aplikasi pembelajaran digital mulai diperkenalkan. Siswa yang sebelumnya kesulitan memahami materi hanya melalui teks, kini dapat lebih mudah memahami konsepkonsep sejarah Islam melalui visualisasi yang lebih menarik. Pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi ini juga membuat suasana kelas menjadi lebih interaktif dan dinamis (Maya, 2. Penerapan pembelajaran kolaboratif juga berdampak positif pada peningkatan motivasi siswa untuk lebih mendalami materi SKI. Pembelajaran yang berfokus pada diskusi dan kerja kelompok membuat siswa merasa lebih terlibat dalam proses belajar. Mereka tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari teman-temannya, yang meningkatkan rasa tanggung jawab dan komitmen mereka terhadap tugas yang diberikan. Dengan pembelajaran yang lebih aktif dan menyenangkan, siswa menjadi lebih tertarik dan termotivasi untuk mempelajari sejarah dan budaya Islam dengan lebih serius (Sari, 2. Dalam hal ini, peran guru sebagai fasilitator menjadi sangat penting. Pada siklus pertama, guru berfungsi sebagai pemberi materi, tetapi pada siklus kedua, guru lebih berperan dalam memfasilitasi diskusi dan membantu kelompok-kelompok siswa dalam mengelola tugas Guru memberikan arahan yang jelas dan mendukung setiap kelompok dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Peran guru yang lebih sebagai fasilitator ini memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri dan meningkatkan kemandirian mereka dalam belajar (Zahira, 2. Secara keseluruhan, penerapan model pembelajaran kolaboratif di MA Al Muchlisin terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman, keterlibatan, dan keterampilan sosial siswa dalam pembelajaran SKI. Melalui kerja kelompok, siswa tidak hanya belajar tentang sejarah dan budaya Islam, tetapi juga mengembangkan keterampilan penting seperti komunikasi, kolaborasi, dan berpikir kritis. Pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis pada diskusi ini memberikan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan bermakna bagi siswa (Zahra. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang diterapkan di MA Al Muchlisin, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kolaboratif terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI). Melalui penerapan pembelajaran berbasis kolaborasi, siswa tidak hanya memahami konsep-konsep sejarah Islam dengan lebih baik, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir kritis yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Pada siklus pertama, meskipun terdapat beberapa tantangan dalam pengelolaan waktu dan dinamika kelompok, terlihat adanya peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan siswa. Pembelajaran yang melibatkan diskusi kelompok dan kerja sama antar siswa mendorong mereka untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kelas. Dengan memanfaatkan gaya belajar yang berbeda, pembelajaran kolaboratif memberikan kesempatan bagi setiap siswa untuk menyuarakan pendapat mereka, saling berbagi pengetahuan, serta menyelesaikan masalah Ini menciptakan suasana yang lebih interaktif dan menyenangkan, yang pada akhirnya meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Pada siklus kedua, setelah perbaikan dalam pengelolaan kelas dan pembagian tugas, hasil yang diperoleh lebih optimal. Siswa menunjukkan kemajuan yang lebih besar dalam hal pemahaman Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 materi SKI dan kemampuan berbicara di depan umum. Melalui diskusi kelompok, mereka lebih mampu menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari dan mengaplikasikan ajaran sejarah Islam dalam konteks yang lebih relevan. Pembelajaran yang lebih terstruktur memungkinkan siswa untuk bekerja lebih efisien, berkolaborasi lebih baik, dan meningkatkan kemampuan analisis serta pemecahan masalah mereka. Peningkatan juga terlihat dalam keterampilan berpikir kritis siswa. Pada siklus pertama, sebagian siswa masih kesulitan untuk menganalisis peristiwa sejarah Islam secara mendalam. Namun, pada siklus kedua, siswa mulai mampu melihat peristiwa sejarah dari berbagai perspektif dan mengkritisi ajaran serta peran tokoh-tokoh dalam sejarah Islam. Diskusi yang lebih terbuka dan interaktif memberikan kesempatan bagi mereka untuk mempertanyakan, menggali, dan menyampaikan pemikiran mereka secara lebih kritis, yang tentunya meningkatkan kualitas pembelajaran. Selain itu, model pembelajaran kolaboratif juga berkontribusi pada peningkatan keterampilan sosial siswa. Melalui kerja sama dalam kelompok, siswa belajar untuk mendengarkan pendapat orang lain, menghargai perbedaan, dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama. Keterampilan sosial ini sangat penting untuk membentuk karakter siswa yang mampu berkolaborasi dan berkomunikasi dengan baik, baik di dalam maupun di luar kelas. Pembelajaran yang berbasis pada interaksi antar siswa ini membangun rasa saling menghormati dan kerja tim yang efektif. Secara keseluruhan, penerapan model pembelajaran kolaboratif di MA Al Muchlisin memberikan dampak yang positif tidak hanya dalam hal pemahaman akademik, tetapi juga dalam pengembangan keterampilan sosial dan karakter siswa. Pembelajaran yang lebih dinamis dan interaktif membantu siswa tidak hanya menguasai materi SKI, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan yang penting untuk kehidupan sosial mereka. Oleh karena itu, disarankan agar model pembelajaran ini terus diterapkan dan dikembangkan, baik dalam pengajaran SKI maupun mata pelajaran lainnya, guna meningkatkan kualitas pendidikan di MA Al Muchlisin secara keseluruhan. REFERENCES