FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEAKTIFAN KADER DALAM KEGIATAN POSYANDU DI WILAYAH PUSKESMAS KENARILANG KABUPATEN ALOR Elisabeth Eka Pering a*. Afrona E. L Takaebb. Rut Rosina Riwuc a* Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat/Fakultas Kesehatan Masyarakat, elisabethekapering@gmail. Universitas Nusa Cendana b Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat/Fakultas Kesehatan Masyarakat, afrona. takaeb@staf. Universitas Nusa Cendana c Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat/Fakultas Kesehatan Masyarakat, ruth. riwu@staf. Universitas Nusa Cendana ABSTRACT The activity of cadres is very important in posyandu activities because if the cadres are not active, the provision of health services and posyandu activity programs cannot run properly. The purpose of this study was to determine the factors related to the activeness of cadres in posyandu activities in the working area of the Kenarilang Health Center. Alor Regency. This type of quantitative research uses a cross sectional study approach. The study population consisted of 210 cadres, with a total sample of 68 cadres using convenience sampling/accidental sampling. Data were analyzed using chi-square statistical test. The results showed that the variables of knowledge (A = 0. , occupation (A = 0. , incentives (A = 0. , and support from community leaders (A = 0. had a relationship with the activeness of cadres in posyandu Meanwhile, the attitude variable (A=0. had no relationship with the activeness of cadres in posyandu activities. Puskesmas Kenarilang should improve training on promotive efforts when providing cadres in increasing knowledge about the duties and functions of posyandu. Village and sub-district governments should always provide appropriate incentives as motivation in increasing the activity of cadres in posyandu activities, and it is hoped that community involvement will always support cadres in posyandu Keywords: Posyandu. Cadre Liveliness. Cadre Activity ABSTRAK Keaktifan kader sangat penting dalam kegiatan posyandu karena jika kader tidak aktif maka pemberian pelayanan kesehatan dan program kegiatan posyandu tidak dapat berjalan dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan keaktifan kader dalam kegiatan posyandu di wilayah kerja Puskesmas Kenarilang Kabupaten Alor. Jenis penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan cross sectional study. Populasi penelitian terdiri dari 210 kader, dengan jumlah sampel sebanyak 68 kader dengan teknik convenience sampling/accidental sampling. Data dianalisis menggunakan uji statistik chisquare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pengetahuan (A=0,. , pekerjaan (A=0,. , insentif (A=0,. , dan dukungan tokoh masyarakat (A=0,. ada hubungan dengan keaktifan kader dalam kegiatan posyandu. Sedangakan variabel sikap (A=0,. tidak ada hubungan dengan keaktifan kader dalam kegiatan posyandu. Puskesmas Kenarilang sebaiknya lebih meningkatkan upaya promotif saat memberikan pelatihan bagi kader dalam meningkatkan pengetahuan tentang tugas-tugas dan fungsi posyandu. Pemerintah desa dan kelurahan sebaiknya selalu memberikan insentif yang sesuai sebagai bentuk motivasi dalam meningkatkan keaktifan kader dalam kegiatan posyandu, dan diharapkan adanya keterlibatan tokoh masyarakat untuk selalu mendukung kader dalam menjalankan kegiatan posyandu. Kata Kunci: Posyandu. Kader Posyandu. Keaktifan Kader PENDAHULUAN Pos Pelayanan Terpadu (Posyand. merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang dikelola dari, oleh, dan bersama masyarakat dalam pembangunan kesehatan yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan memudahkan masyarakat memperoleh kesehatan dasaryang dilaksanakan oleh kader sebagai perpanjangan tangan dari puskesmas. Received Februari 13, 2022. Revised maret 2, 2022. Accepted april 22, 2022 JURNAL JURRIKES Vol 1 No. 1 April 2. p ISSN: 2828-9366, eISSN: 2828-9374. Hal 27-37 Posyandu juga sebagai tempat penyampaian informasi kesehatan dalam bentuk upaya preventif dan promotif dalam mencegah penyakit, pemantauan status gizi dan pencegahan stunting,pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita. Keberadaan posyandu dan peran aktif kader sangat berpengaruh karena kader bertanggung jawab dalam pelaksanaan program posyandu. Jika kader tidak akrif, maka pelaksanaan posyandu tidak berjalan lancar dan akibatnya status gizi bayi atau balita tidak dapat terdeteksi secara dini secara jelas. Hal ini secara langsung akan mempengaruhi tingkat keberhasilan posyandu khususnya dalam pemantauan tumbuh kembang balita. Terdapat dua faktor yang berpengaruh terdapat kekatifan kader posyandu yaitu faktor internalterdiri dari pengetahuan merupakan bagian pertama dari tingkat pengetahuan awal untuk tahu dan mengerti segala sesuatu, sikap yang secara nyata menunjukkan adanya kesesuaian reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial, dan pekerjaan yang mempengaruhi keaktifan kader karena kader yang tidak bekerja akan mempunyai risiko untuk pasif. Faktor eksternal terdiri dari insentif berupa upah atau gaji diberikan kepada kader berupa uang sebagai motivasi tersendiri bagi kader, dan dukungan tokoh masyarakat sebagai orang terkemuka menjadi tempat bertanya dan tempat bagi kader meminta pendapat dan bimbingan mengenai urusan-urusan tertentu. Data dari profil kesehatan Indonesia menyebutkan bahwa terdapat 291. 447 posyandu di Indonesia pada tahun 2017 dengan posyandu aktif sebanyak 164. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi NTT menunjukkan pada tahun 2016 di NTT terdapat 10. 033 posyandu dengan posyandu aktif berjumlah 5. ,34%), sedangkan pada tahun 2017 di NTT terdapat 10. 080 posyandu dengan posyandu aktif berjumlah 119 . ,78%). Data sangat penting untuk menghasilkan informasi. , berdasarkan data menunjukkan bahwa posyandu yang aktif mengalami penurunan tahun 2017 jika dibandingkan dengan tahun 2016. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Alor menyatakan bahwa jumlah posyandu sebanyak 433 posyandu dengan posyandu aktif tahun 2016 sebanyak 136 . ,41%) dan tahun 2017 sebanyak 139 . ,10%). Meskipun mengalami peningkatan keaktifan posyandu di tahun 2017 akan tetapi masih ada penemuan balita dengan BGM sebanyak 327 dan gizi buruk 347 balita. Puskesmas Kenarilang terletak di Kecamatan Teluk Mutiara wilayah kerja puskesmas mencakup 14 desa/kelurahan. Data yang diperoleh dari bidang gizi Puskesmas Kenarilang jumlah keseluruhan kader posyandu sebanyak 210 orang dengan kader aktif pada tahun 2017 sebanyak 150 dan tahun 2018 kader aktif sebanyak 134 orang. Hasil wawancara dengan beberapa ketua kader didapatkan data jumlah kehadiran kader posyandu setiap bulannya tidak menentu, ada posyandu yang memiliki anggota kader baru namun belum ada pelatihan dan pengkaderan mengakibatkan tidak semua kader aktif menjalankan tugasnya setiap bulan, dan kurangnya dukungan dari lurah untuk mendukung kegiatan posyandu seperti memberikan dana atau biaya insentif. Berdasarkan observasi selama pelaksanaan kegiatan posyandu di salah satu posyandu, diperoleh data dari total lima kader posyandu, hanya ada tiga kader yang aktif menjalankan tugasnya. Keadaan ini mengakibatkan kegiatan posyandu tidak berjalan dengan baik, kader mengalami kesulitan dalam memberikan pelayanan kesehatan, kurangnya kunjungan ibu-ibu yang memiliki bayi dan balita, mekanisme pelayanan di posyandu hanya pada tahap pendaftaran, penimbangan bayi dan balita, pengisian KMS dan konsultasi dari petugas kesehatan namun belum ada penyuluhan individu dari kader bagi ibu yang memiliki balita yang mendekati gizi buruk dan BGM berdasarkan hasil pengisian KMS. Penelitin ini bertujuaan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan keaktifan kader dalam kegiatan posyandu di wilayah Puskesmas Kenarilang Kabupaten Alor. TINJAUAN PUSTAKA Posyandu Pengertian Posyandu adalah suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam pelayanan kesehatan masyarakat dari Keluarga Berencana dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga. berencana yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Yang dimaksud dengan nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini yaitu dalam peningkat mutu manusia masa yang akan datang. Keaktifan Kader Partisipasi dan keaktifan kader posyandu dipengaruhi oleh pengetahuan, pekerjaan, tingkat pendapatan dankeikutsertaan dengan organisasi lain. Disi lain keaktifan kader juga dipengaruhi oleh motivasi baik dari dalam diri kader sendiri ataupun dari pihak luar seperti dukungan yang positif dari berbagai pihak diantaranya JURNAL JURRIKES Vol 1 No. 1 April 2. p ISSN: 2828-9366, eISSN: 2828-9374. Hal 27-37 kepala desa, tokoh masyarakat setempat, maupun dari petugas kesehatan setempat, fasilitas yang memadai. Mengirimkan kader kepelatihan-pelatihan kesehatan, pemberian buku panduan, mengikuti seminar-seminar kesehatan, penghargaan, kepercayaan yang diterima kader dalam memberikan pelayanan kesehatan mempengaruhi aktif tidaknya seorang kader posyandu. Penghargaan bagi kader dengan mengikuti seminarseminar kesehatan dan pelatihan serta pemberian modul-modul panduan kegiatan pelayanan kesehatan. Dengan kegiatan tersebut diharapkan kader mampu dalam memberikan pelay' anan kesehatan dan aktif datang disetiap kegiatan posyandu. METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian ini yaitu kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross-sectionalstudy. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kenarilang Kabupaten Alor pada bulan April-Juni 2021, sedangkan pengumpulan data di lapangan pada bulan Mei-Juni 2021. Populasi dalam penelitian ini adalah 210 kader dari 42 posyandu yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kenarilang Kabupaten Alor, kemudian di ambil sampel sebanyak 68 kader dengan menggunakan teknik convenience sampling/accidental samplingyaitu sebagai sampel kebetulan karena sampel kebetulan terletak secara spasial, dan dekat dengan tempat peneliti melakukan pengumpulan data. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari responden sedangkan data sekunder diperoleh dari puskesmas berupa dokumen untuk melengkapi hasil penelitian ini. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar informed consent dan lembar kuesioner yang berisikan pertanyaan terkait pengetahuan, sikap pekerjaan, insentif dan dukungan tokoh masyarakat bagi kader di wilayah kerja Puskesmas Kenarilang yang sebelumnya sudah di uji validitas dan reliabilitas kuesioner penelitian. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data univariabel untuk menjelaskan tentang karakteristik dari responden dan analisis bivariabel untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dan variabel dependendengan menggunakan uji statistik chi-square. Pengambilan kesimpulan dari uji statistik adalah jika nilai p O . maka ada hubungan antara variabel independentdengan variabel dependen, dan jika nilai p Ou . maka tidak ada hubunganantara variabel independen dengan variabel Penelitian ini sudah memperoleh kelayakan etik dari Tim Kaji Etik Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Nusa Cendana dengan nomor persetujuan etik: 2021029 Ae KEPK. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Karakteristik Responden pada Kader Posyandu Pada penelitian ini terdapat karakteristik responden kader posyandu wilayah kerja Puskesmas Kenarilang Kabupaten Alor. Populasi dalam penelitian ini adalah 210 kader dari 42 posyandu yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kenarilang Kabupaten Alor, kemudian di ambil sampel sebanyak 68 kader dengan menggunakan teknik convenience sampling/accidental sampling yaitu sebagai sampel kebetulan karena sampel kebetulan terletak secara spasial, dan dekat dengan tempat peneliti melakukan pengumpulan data. Adapun detail dari karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 1 berikut: Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Kenarilang Kabupaten Alor Tahun 2021 Karakteristik Kader N(%) Umur (Tahu. 20-30 Tahun 16 . 31-40 Tahun 21 . 41-50 Tahun 17 . Ou 50 Tingkat Pendidikan 7 . SMP SMA Perguruan Tinggi 4 . JURNAL JURRIKES Vol 1 No. 1 April 2. p ISSN: 2828-9366, eISSN: 2828-9374. Hal 27-37 Berdasarkan tabel 1 terlihat bahwa responden paling banyak . ,9%) berada pada umur 31-40 tahun. Sedangkan tingkat pendidikan akhir responden rata-rata . ,6%) berada pada jenjang pendidikan SMA 46 2 Analisis Univariabel Analisis univariabel pada penelitian ini terdiri dari pengetahuan, sikap, pekerjaan, insentif, dukungan tokoh masyarakat dan keaktifan kader yang dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan. Sikap. Pekerjaan. Insentif. Dukungan Tokoh Masyarakat dan Keaktifan Kader Variabel n (%) Pengetahuan Baik 14 . Cukup 27 . Kurang 27 . Total Sikap Positif Negatif Total Pekerjaan Bekerja Tidak bekerja Total Isentif Sesuai Tidak sesuai Total Dukungan Tokoh Masyarakat Pernah Tidak pernah Total Keaktifan Kader Aktif Tidak aktif Total Berdasarkan tabel 2 terlihat bahwa responden dalam penelitian ini lebih banyak tidak aktif dalam kegiatan posyandu . ,5%). Persentase responden yang berpengetahuan yang kurang namun memiliki sikap positif terhadap kegiatan posyandu adalah . ,7%) dan . ,6%). Namun sebagian besar responden tidak bekerja dan tidak mendapatkan insentif yang sesuai . ,1%) dan . ,4%). Selain itu, lebih banyak responden tidak pernah mendapatkan dukungan dari tokoh masyarakat . ,4%). 3 Analisis Bivariabel Analisis variabel dalam penelitian ini adalah analisis hubungan antrara variabel independen dengan variabel dependen yang disajikan dalam tabel 3. Tabel 3. Hubungan antara Pengetahuan. Sikap. Pekerjaan. Insentif dan Dukungan Tokoh Masyarakat terhadap Keaktifan Kader Posyandu Di Wilayah Kerja Puskesmas Kenarilang Tahun 2021 JURNAL JURRIKES Vol 1 No. 1 April 2. p ISSN: 2828-9366, eISSN: 2828-9374. Hal 27-37 Variabel Keterangan Pengetahuan Baik Cukup Kurang Positif Negatif Bekerja Tidak bekerja Sesuai Tidak sesuai Pernah Tidak pernah Sikap Pekerjaan Insentif Dukungan Keaktifan Kader Posyandu Aktif Tidak Aktif Total P-Value 0,023 0,492 0,022 0,002 0,043 4 Hubungan Pengetahuan dengan Keaktifan Kader Posyandu Pengetahuan kader merupakan salah satu faktor internal yang mendasari seorang kader posyandu untuk bisa aktif dalam setiap kegiatan posyandu dalam wilayah kerja. Kader dengan pengetahuan yang semakin tinggi membantu kader memahami setiap tugas-tugas dan fungsi serta peran kader dalam kegiatan posyandu. Pengetahuan dalam penelitian ini adalah pengetahuan kader tentang tugas dan fungsi dalam kegiatan Pengetahuan kader sangat berperan penting dalam kegiatan posyandu dimana jika kader memiliki pengetahuan yang cukup kader mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Namun pengetahuan yang cukup dan kurang yang dimiliki seorang kader juga dapat berakibat tidak optimal pekerjaan yang dilakukan, karena akan berpengaruh bagi pelayanan yang diberikan dan kegiatan posyandu tidak akan berjalan dengan optimal. Pada penelitian ini kader dengan pengetahuan cukup dan kurang tidak aktif dalam kegiatan posyandu disebabkan oleh tingkat pendidikan yang rendah dari kader, kurang memahami kegiatan posyandu, tujuan dan sistem pelayanan di meja posyandu, serta kurangnya bimbingan dan pelatihan dari petugas kesehatan. Pengetahuan yang semakin baik sangat mempengaruhi kader untuk aktif dalam kegiatan posyandu dan bila pengetahuan kader kurang maka kader tidak memiliki kinerja dan tidak aktif dalam kegiatan posyandu karena tidak dibekali dengan pengetahuan yang baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kader dengan pengetahuan cukup dan aktif dalam kegiatan posyandu karena beberapa kadermemiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, sering mengikuti pelatihan dan mengakses informasi dari luar sehingga kader memiliki keterampilan dan kinerja yang cukup. Selain itu kader dengan pengetahuan kurang tetapi aktif dalam kegiatan posyandu karena memotivasi dirinya sendiri dari adanya dukungan keluarga untuk berpartisipasi dalam kegiatan posyandu. Tingginya tingkat pengetahuan tentang tugas dan fungsi posyandu dipengaruhi oleh tingkat pendidikan seseorang dalam respon informasi yang datang dari luar. Seorang kader denganberpendidikan lebihtinggi akan lebih mudah memahami informasi yang diberikan tentang kegiatan posyandu dan akan lebih kritis dalam menghadapi berbagai permasalahan, karena pengetahuan diperoleh baik secara formal maupun informal. Hasil dari penelitian ini sesuai dengan penelitian yang mengatakan ada keterkaitan antara pengetahuan dengan tingkat pendidikan. Seseorang yang mempunyai pengetahuan yang baik akan memberikan tanggapan yang lebih rasional bila dibandingkan dengan orang yang berpendidikan rendah atau tidak berpendidikan. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang mengatakan seorang kader harus memiliki pengetahuan yang baik sehingga dapat memotivasi dirinya aktif dalam kegiatan posyandu yang di peroleh dari penyuluhan dan pelatihan dari petugas kesehatan. dan tingkat pengetahuan kader yang tinggi membuat kinerjanya baik dan berdampak pada pelaksanaan posyandu karena semakin baik tingkat pengetahuan kader maka semakin baik tinggakt keaktifan dalam pelaksanaan posyandu. Akan tetapi hasil dari penelitian ini tidak sesuaidengan penelitian yang mengatakan tidak semua kader berpengetahuan rendahtidak akan aktif dalam kegiatan posyandu, karena keaktifan kader juga dipengaruhi oleh faktor lain misalnya kepercayaan, tradisi, ketersediaan fasilitas dan lain sebagainya. Seorang kader harus memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang tugas dan fungsi posyandu, karena dengan pengetahuan yang lebih baik kader dapat mengetahui setiap tugas dan fungsi posyandu dan meningkatkan keaktifannya dalam menjalankan kegiatan posyandu. JURNAL JURRIKES Vol 1 No. 1 April 2. p ISSN: 2828-9366, eISSN: 2828-9374. Hal 27-37 5 Hubungan Sikap dengan Keaktifan Kader Posyand Setiap individu memiliki sikap yang berbeda, ada yang memiliki sikap yang positif saat merasa senang dan bisa menempatkan diri untuk menerima dan ada yang memiliki sikap yang negatif saat individu tidak merasa senang untuk menerima berbagai stimulus. Sikap seseorang bisa saja dapat dipengaruhi oleh faktor usia, pengetahuan, pengalaman, dan bimbingan. Sikap dalam penelitian ini adalah sikap kader terhadap kegiatan posyandu. Sikap memiliki dua arah yaitu mendukung atau tidak mendukung, memihak atau tidak memihak seseorang sebagai objek. Selain itu, sikap memiliki intensitas artinya kekuatan sikap belum tentu sama dan sikap dapat mengenai aspek yang sangat sedikit dan spesifik serta dapat mencakup banyak aspek dari objek sikap. Selain itu, sikap juga merupakan cerminan persepsi kader terhadap tugas yang diembannya. Semakin baik sikap kader maka akan semakin positif terhadap tugasnya sehingga dapat meningkatkan kinerja dalam kegiatan posyandu. Apabila dilihat dari respon kader pada tindakan dan praktek berdasarkan hasil penelitian baik sebelum hari buka, saat hari buka dan setelah hari buka posyandu. Kader dengan sikap positif lebih aktif dalam kegiatan posyandu karena memiliki respon sangatbaik dalam setiap kegiatan posyandu, selain itu kader ada yang berpengetahuan baik dan biasanya kader membantu petugas dalam memberikan pelayanan kesehatan. Namun kader dengan sikap yang positif masih banyak yang tidak aktif juga karena sebagian kader berpengetahuan kurang sehingga sebagian kader tidak memahami setiap tugas-tugasnya dengan baik termaksud dalam pemberian pelayanan kesehatan khususnya di meja ke IV sehingga keberhasilan pelayanan kesehatan sistem lima meja tidak berjalan dengan baik dan tidak semua kader memotivasi sasaran datang ke posyandu setiap bulannya. Hasil penelitian ini sesuaidengan penelitian yang mengatakan seseorang dapat menentukan sikap positif dan negatif dari tingkat pengetahuan yang dimilikinya, sikap yang semakin positif dari seorang kader dapatmenunjukkan pelayanan posyandu yang semakin baik. Selain itu penelitian ini juga sesuai daripenelitian yang mengatakan kader bersikap negatif karena kurang memiliki dalam mengajak sasaran datang di posyandu dan kurang memperhatikan setiap keluhan yang disampaikan. Namun hasil dari penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang menyebutkan bahwa sikap kader sangat mempengaruhi keberhasilan kader dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, karena dengan adanya respon kader yang semakin baik maka kegiatan posyandu akan bertambah lancarsaat bertindak aktif dalam memberikan motivasi kepada sasaran. Selain itu,dari penelitian ini juga kader yang memiliki sikap negatif tetapi aktif dalam kegiatan posyandu karena kader mempunyaipengalaman dari pelatihan dan saat mendapatkan bimbingan oleh petugas kesehatan, kader mendapatkan dukungan dari keluarga dan masyarakat serta memiliki kesadaran akan tanggungjawab menjadi kader posyandu. Penelitian ini diperkuat dengan penelitian dalam teori yang mengatakan bahwa sikap menjadi domain dalam proses perubahan perilaku dan dapat terbentuk melalui pembelajaran . Sikap seseorang akan langgeng jika memiliki pegetahuan, sikap yang positif, dan kesadaran yang dimiliki. Seperti seorang kader posyandu akan semakin aktif dan memiliki kinerja yang baik dalam kegiatan posyandu jika memiliki pengetahuan, kesadaran dan sikap yang semakin positif tentang posyandu. Sikap positif tidak selamanya menentukan kader aktif di posyandu, tetapi sangat menentukan perilaku kader dalam menyikapi dan memberikan pelayanan kesehatan yang baik di posyandu. Sehingga kader dengan sikap yang lebih positif menjadikankader memiliki kinerja yang lebih baik sehingga meningkatkan aktivitas di posyandu. 6 Hubungan Pekerjaan dengan Keaktifan Kader Posyandu Pekerjaan adalah tugas utama atau kegiatan rutinitas yang dimiliki oleh seorang kader untuk membantu, membiayai kehidupan keluarga, dan menunjang kebutuhan rumah tangganya. Pekerjaan kader dalam penelitian ini adalah pekerjaan yang sering dilakukan oleh kader sehari-hari yang menghasilkan uang dalam memenuhi kebutuhan hidup. Pekerjaan merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak tantangan. Semakin banyak waktu yang tersita untuk melakukan pekerjaan maka semakin sempit kesempatan untuk menjadi seorang kader. Pekerjaan juga dapat mempengaruhi seseorang terhadap peran sertanya dalamkegiatan sosial di masyarakat seperti peran aktif menjadi kader dalam kegiatan posyandu. Semakin sedikit waktu bersosialisasi karena pekerjaan menyebabkan menurunnya tingkat kesadaran dan tanggungjawab sebagai seorang kader kesehatan di lingkungan. Berdasarkan penelitian, kader tidak bekerja Pada penelitian ini kader yang tidak bekerja lebih aktif melibatkan diri di posyandu karena tidak memiliki kesibukan terlalu banyak, selain itu memiliki banyak waktu yang cukup untuk bisa berpartisipasi, dan kader menyadari akan tugas yang diembankan dalam membantu petugas kesehatan untuk menjalankan kegiatan posyandu setiap bulan. Selain itu kader yang tidak JURNAL JURRIKES Vol 1 No. 1 April 2. p ISSN: 2828-9366, eISSN: 2828-9374. Hal 27-37 bekerja dan tidak aktif dalam kegiatan posyandu karena menurunnya tingkat kesadaran kader akan tugas yang diembankan kepadanya di tenggah masyarakat dalam mengelola posyandu. Sedangkan kader yang bekerja namun aktif dalam kegiatan posyandu karena sebagian kader menyadari akan tanggungjawabnya dalam posyandu meskipun kader tidak memiliki banyak waktu yang cukup untuk berperan aktif dalam setiap kegiatan posyandu yang di laksanakan karena kesibukan akan pekerjaan yang sering dikerjakan setiap hari. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang mengatakan kader posyandu yang tidak bekerja memiliki persentase keaktifan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang bekerja, sejalan dengan teori yang mengatakan bahwa orang yang bekerja memiliki kesempatan yang lebih sedikit untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial karena kesibukannya. Selain itu penelitian ini juga sejalan daripenelitian mengatakan kader yang tidak bekerja banyak aktif dan memiliki banyak waktu luang untuk melakukan kegiatan posyandu karena dilihat dari waktu pelaksanaan posyandu yang tidak terlalu lama. Penelitian ini juga diperkuat dengan penelitian yang mengatakan bahwa seorang kader harus mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan semua tugas kader yang telah ditetapkan dalam kegiatan posyandu. Namun hasil penelitian ini tidak sesuai oleh penelitian yang mengatakan kader yang bekerja memiliki keaktifan yang lebih baik jika dibandingkan dengan kader yang tidak bekerja beresiko tidak aktif sebesar 12,75 kali dibandingkan dengan kader yang bekerja. Disarankan menjadi kader posyandu bagi seseorang yang tidak memiliki pekerjaan karena orang yang memiliki pekerjaan tidak selalu memiliki waktu yang cukup untuk mengikuti kegiatan posyandu. 7 Hubungan Insentif dengan Keaktifan Kader Posyandu Insentif adalah upah atau gaji untuk kader sebagai bentuk penghargaan atas setiap pekerjaan yang telah dikerjakan dalam setiap kegiatan posyandu. Bentuk insentif dalam penelitian ini yitu gaji yang diberikan oleh pemerintah desa/kelurahan dan puskesmas atas pengabdian menjadi kader sebagai fasilitator yang menjembatani antara program kesehatan dan masyarakat dalam wilayah kerja puskesmas. Insentif bagi kader merupakan salah satu faktor eksternal yang mendukung kader untuk tetap aktif dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan posyandu. Insentif merupakan salah satu jenis penghargaan yang dikaitkan dengan prestasi Sebagai imbalan atas kerja kerasnya, sebagian besar kader tidak mendapatkan imbalan melainkan mendapatkan upah dalam bentuk lain. Namun faktor terpenting yang diperoleh yaitu status kader yang diperoleh dari partisipasi dalam setiap program yang berprioritas tinggi tetapi dari penghargaan yang diberikan juga dari pihak pemerintah. Insentif selamanya meningkatkan produktifitas dan motivasi tersendiri, insentif setidaknya cukup sederhana agar kader dapat yakin akan prestasi kerja yang menghasilkan imbalan karena merasa termotivasi, karena ada perasaan puas yang timbul dari penyelesaian pekerjaan yang dilakukan dengan baik. Pada hasil penelitian ini kader memberikan informasi bahwa insentif yang diberikan biasanya tidak menentu ada yang enam bulan sekali dan setahun sekali tetapi tidak sesuai dengan yang harus diterima. Kader yang mendapatkan insentif tidak sesuai tetapi aktif dalam kegiatan posyandu karena kader menyadari akan tanggungjawabnya dan memiliki sikap yang baik ketika menerima dan merespon setiap tugas yang diembankan, selain itu kader yang mendapatkan insentif tidak sesuai dan tidak aktif karena kader berpersepsi dengan tanggungjawab yang besar ditambah pemberian insentif yang tidak menentu mengakibatkan kader merasa tidak adanya dorongan untuk berpartisipasi aktif dalam posyandu. Sedangkan kader yang mendapatkan insentif sesuai memiliki keaktifan di posyandu karena pemberian insentif membuat kader merasa termotivasi dan menambah kinerja kader dalam kegiatan posyandu karena merasa puas akan imbalan yang diterima, namun kader yang mendapat insentif sesuai dan tidak aktif dalam kegiatan posyandu karena adanya perasaan tidak puas akan upah atau imbalan yang diterima dari pekerjaan yang dikerjakannya. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang menyebutkan bahwa insentif yang diberikan kepada kader baik berupa uang, barang maupun penghargaan dapat menjadi salah satu motivasi dan insentif bagi kader untuk lebih giat lagi dalam melaksanakan dan memelihara kegiatan posyandu. Selain itu penelitian ini diperkuat oleh penelitian lain bahwa faktor insentif merupakan cara untuk meningkatkan kinerja kader posyandu karena insentif berupa uang memberikan motivasi tersendiri bagi kader. Hasil dari penelitian ini juga sejalan dengan penelitian lain yang mengatakan bahwa memberikan insentif bagi kader merupakan salah satu bentuk tindakan untuk meningkatkan motivasi kader untuk aktif di posyandu. Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang mengatakanbahwa insentif tidak mempengaruhi dalam melaksanakan tugas sebagai kaderyang bekerja tanpa mengharapkan imbalan, sesuai dengan pernyataan bahwa kader adalah anggota masyarakat yang mau dan mampu bekerja secara sukarela. Seorang kader posyandu perlu mendapatkan insentif yang sesuai setiap bulannya karena pemberian insentif membantu kader untuk termotivasi dan memiliki kinerja yang baik untuk aktif dalam setiap kegiatan posyandu karena perasaan puas dengan upah yang diterima dari pekerjaan yang dilakukan. JURNAL JURRIKES Vol 1 No. 1 April 2. p ISSN: 2828-9366, eISSN: 2828-9374. Hal 27-37 8 Hubungan Tokoh Masyarakat dengan Keaktifan Kader Posyandu Dukungan tokoh masyarakat mempunyai peran dan pengaruh yang besar di masyarakat, karena tokoh masyarakat sebagai panutan perilaku masyarakat yang sehat dalam suatu wilayah kerja. Bentuk dukungan dari tokoh masyarakat bermacam-macam misalnya dalam memberikan bimbingan, motivasi dan pemberian insentif dalam bentuk uang atau barang. Dukungan tokoh masyarakat dapat berupa pengalihan sumber daya baik dana, perlengkapan, maupun tempat pelaksanaan kegiatan posyandu. Selain itu tokoh masyrakat dapat membantu bila ada masalah dan ikut menggerakkan ibu-iu balita untuk datang ke posyandu kaena dukungan tokoh masyarakat meningkatkan kepercayaan diri kader dalam dalam menjalankan tugasnya. Tokoh masyarakat berperan dalam memberdayakan masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan posyandu dan mendampingi kader dalam mengelola posyandu serta mendampingi kader dalam menyiapkan dana dan fasilitas penyelenggaraan posyandu. Pengaruh tokoh masyarakat terhadap keberadaan posyandu di masyarakat dipengaruhi oleh pengetahuan, siikap dan perilaku terhadap keberadaan posyandu karena yang paling di hormati dan berpengaruh. Dukungan dari tokoh masyarakat sebagai salah satu bentuk motivasi dan semangat bagi kader dalam menjalankan kegiatan posyandu, serta meningkatkan kinerja dan kelestarian posyandu. Hasil penelitian kader yang mendapatkan dukungan dari tokoh masyarakat dan aktif dalam kegiatan posyandu karena kader menyadari adanya peran tokoh masyarakat dalam memberikan dukungan baik dalam bentuk kunjungan dalam kegiatan posyadu dan sering pemberian bantuan dalam kelancaran kegiatan posyandu, dengan adanya dukungan ini membuat kader merasa memiliki peran yang penting dan sangat dibutuhkan dalam masyarakat. Namun kader yang tidak mendapatkan dukungan dari tokoh masyarakat tetapi aktif dalam kegiatan posyandu karena kader merasa akan tanggungjawab dan tugasnya dalam membantu petugas kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Selain itu dari hasil penelitian kader yang tidak pernah mendapatkan dukungan dari tokoh masyarakat dan tidak aktif dalam kegiatan posyandu karena kader dengan pegetahuan yang kurang, bekerja dengan suka rela, dan tidak pernah merasa keterlibatan tokoh masyarakat untuk mendukung kader dalam kegiatan posyandu seperti kunjungan saat kegiatan posyandu, dan memberikan dana baik bentuk uang atau barang yang menjadi kebutuhan bagi kelancaran kegiatan posyandu. Hal inilah yang mengakibatkan ada kegiatan posyandu yang tidak berjalan dengan optimal dan kader menjadi kurang memiliki kinerja dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan posyandu. Penelitian ini sejalan dengan peneliti lain bahwa semakin baik peran tokoh masyarakat dalam mendukung kegiatan posyandu maka semakin tinggi tingkat partisipasi kader, sedangkan kurangnya peran tokoh masyarakat maka tingkat partisipasi kader pun akan kurang dalam kegiatan posyandu. Kemudian penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang mengatakan bahwa dukungan tokoh masyarakat sangat dibutuhkan oleh kader, mempengaruhi keaktifan dan peran sertanya dalam kegiatan posyandu karena kader merasa dihargai dan dibutuhkan dalam masyarakat. Hasil dari penelitian ini juga sama dengan penelitian lain bahwa dukungan sangat diperlukan oleh kader posyandu, karena pekerjaan kader yang sukarela dan dukungan masyarakat meningkatkan rasa percaya diri kader dalam pelaksanaan tugasnya. Namun hasil dari penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang mengatakanbahwa dukungan tokoh masyarakat terhadap kegiatan posyandu tidak selalu dalam bentuk donasi dan materi tetpi juga dalam bentuk pemberian motivasi kepada kader untuk selalu berperan aktif dalam kegiatan posyandu dan memberikan saran peningkatan keterampilan agar masyarakat, khususnya ibu-ibu bayi dan balita tertarik ke posyandu. Tokoh masyarakat hendaknya selalu mendukung kader dalam melaksanakan kegiatan posyandu karena keberhasilan program posyandu di masyarakat dan peran aktif kader dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada sasaran di pengaruhi dari peran aktif tokoh masyarakat kepada kader di wilayahnya. Berdasarkan tabel 3 terlihat bahwasebagian besar responden yang memiliki pengetahuan kurang aktif dalam kegiatan posyandu . ,4%). Hal ini tidak sama dengan sebagian responden yang cukup berpengetahuan untuk aktif dalam kegiatan posyandu . ,3%). Peningkatan pengetahuan kader tentang tugas dan fungsi posyandu dapat meningkatkan keaktifan kader dalam kegiatan posyandu dilihat dari hasil uji chi-square . value=0,. ada hubungan pengetahuan dengan keaktifan kader. Sebagian besar responden dengan sikap yang positif lebih banyak aktif dalam kegiatan posyandu . ,6%). Begitu pula dengan responden yang memiliki sikap negatif namun aktif dalam kegiatan posyandu . ,4%). Sikap positif kader terhadap kegiatan posyandu tidak selalu menentukan keaktifan kader dalam kegiatan posyandu. Dapat dilihat dari hasil uji chi-square . -value=0,. bahwa tidak ada hubungan antara sikap kader dengan keaktifan kader. Responden berstatus bekerja aktif dalam kegiatan posyandu . ,2%). Hal ini berbeda dengan responden yang tidak bekerja lebih aktif dalam kegiatan posyandu . ,8%). Kader dengan status tidak bekerja JURNAL JURRIKES Vol 1 No. 1 April 2. p ISSN: 2828-9366, eISSN: 2828-9374. Hal 27-37 lebih aktif dalam kegiatan posyandu karena memiliki waktu yang cukup dalam kegiatan posyandu, hal ini dapat dilihat dari hasil uji chi-square . -value=0,. ada hubungan antara pekerjaan denga keaktifan kader. Sebagain besar responden tidak mendapatkan insentif yang sesuai aktif dalam kegiatan posyandu . ,0%), namun berbeda dengan responden yang menerima insentif yang sesuai hanya aktif dalam kegiatan posyandu . ,2%). Kader akan lebih aktif dalam kegiatan posyandu ketika kader menerima insentif yang sesuai setiap bulannya. Hal ini terlihat dari hasil uji chi-square . -value=0,. insentif ada hubungan dengan keaktifan kader. Responden yang pernah mendapat dukungan dari tokoh masyarakat aktif dalam kegiatan posyandu . ,3%). Berbeda dengan responden yang tidak pernah mendapatkan dukungan dari tokoh masyarakat aktif dalam kegiatan posyandu . ,7%). Dukungan tokoh masyarakat sangat dibutuhkan kader dalam kegiatan posyandu, namun dukungan tokoh masyarakat tidak selalu mementukan keaktifan kader dalam kegiatan Hal ini terlihat dari hasil uji chi-square . -value=0,. dukungan tokoh masyarakat ada hubungan dengan keaktifan kader. KESIMPULAN DAN SARAN Pengetahuan, pekerjaan, insentif dan dukungan tokoh masyarakat memiliki hubungan dalam meningkatkan keaktifan kader di posyandu. Tanpa pengetahuan yang baik seorang kader tidak akan memahami tugas dan fungsi posyandu. Selain itu kader yang tidak bekerja keaktifannya lebih meningkat karena memiliki waktu luang untuk berpartisipasidi posyandu. Sama halnya dengan mendapatkan insentif dan dukungan tokoh masyarakat dapat meningkatkan keaktifannya karena mendapat upah dari pekerjaan yang dikerjakan setiap bulan dan merasa dibutuhkan dalam masyarakat. Namun sikap kader tidak selamanya meningkatkan keaktifan kader karena faktor lain juga mempengaruhi kader aktif dalam kegiatan posyandu seperti motivasi, dukungan keluarga dan petugas kesehatan serta ketersediaan sarana dan prasarana bagi kegiatan posyandu. Sebaiknya lebih meningkatkan upaya promotif saat memberikan pelatihan bagi kader dalam meningkatkan pengetahuan tentang tugas-tugas dan fungsi posyandu, selalu memberikan insentif yang sesuai sebagai bentuk motivasi dalam meningkatkan keaktifan kader dalam kegiatan posyandu. Diharapkan adanya keterlibatan tokoh masyarakat untuk selalu mendukung kader dalam menjalankan kegiatan posyandu. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA