585 JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 PERAN EFIKASI DIRI DAN RESILIENSI DALAM MEMBANGUN KETAHANAN UMKM DI KAWASAN WISATA BEDUGUL. KABUPATEN TABANAN. BALI I Putu Andre Adi Putra Pratama1. I Gusti Ngurah Oka Widjaya2. Isvari Ayu Pitanatri3. Putu Ade Wijana4 1Program Studi Sarjana Industri Perjalanan Wisata. Universitas Udayana 2Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Perhotelan. Universitas Udayana 3Program Studi Sarjana Industri Perjalanan Wisata. Universitas Udayana 4Program Studi Sarjana Industri Perjalanan Wisata. Universitas Udayana E-mail: 1andreadiputra@unud. id, 2ngurah. oka@unud. 3isvaripitanatri@unud. id, 4adewijanaputu@unud. Article History: Received: 25-01-2025 Revised: 27-01-2025 Accepted: 28-01-2025 Keywords: Efikasi Diri. Resiliensi. UMKM Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran efikasi diri dalam membentuk resiliensi pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam rangka membangun ketahanan usaha lokal di Kawasan Wisata Bedugul. Kabupaten Tabanan. Bali. Studi ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner kepada 50 pelaku UMKM, yang mencakup pedagang hasil bumi, makanan lokal, cinderamata, hingga penyedia jasa wisata danau. Teknik analisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menguji hubungan antar variabel, khususnya antara efikasi diri dan resiliensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek motivasi dalam konstruk efikasi diri memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap resiliensi pelaku UMKM. Temuan ini mengindikasikan bahwa motivasi internal, seperti konsistensi dalam berjualan dan keyakinan untuk tetap bertahan di tengah tekanan, menjadi kekuatan penting dalam membangun ketahanan usaha. Studi ini diharapkan dapat menjadi rujukan akademik untuk penelitian selanjutnya terkait faktor psikologis dalam penguatan UMKM di sektor pariwisata. PENDAHULUAN Pariwisata telah menjadi salah satu pilar utama dalam pembangunan ekonomi yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian daerah dan nasional (Pratama dkk. Melalui aktivitas wisata, terbentuklah sebuah ekosistem ekonomi yang hidup dan dinamis, di mana pelaku usaha lokal turut terlibat dalam menyediakan berbagai kebutuhan wisatawan ketika melakukan perjalanan wisata ke suatu destinasi. Salah satu elemen utama dari ekosistem tersebut adalah Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM), yang menjadi a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Februari 2021 penyedia jasa dan produk langsung di destinasi wisata seperti makanan, suvenir, transportasi lokal, hingga akomodasi sederhana. Keberadaan UMKM di sektor pariwisata memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat, karena mampu membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan rumah tangga. UMKM sendiri merujuk pada kegiatan usaha produktif yang dimiliki oleh perorangan maupun badan usaha yang memenuhi kriteria tertentu berdasarkan jumlah aset dan omzet, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008. Di sektor pariwisata. UMKM memegang peranan strategis karena menjadi bagian dari rantai nilai destinasi sekaligus sebagai bentuk aktivitas ekonomi berbasis komunitas maupun masyarakat yang berkontribusi terhadap perputaran ekonomi, penguatan identitas lokal, dan pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan perekonomian pada pariwisata. Peran strategis UMKM dalam pariwisata menunjukkan bahwa pembangunan pariwisata yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat lokal tidak dapat dipisahkan dari penguatan sektor ini. Provinsi Bali menempati posisi strategis sebagai destinasi wisata unggulan yang telah dikenal secara global, dan menjadikan sektor pariwisata sebagai sektor dominan yang menopang struktur ekonomi daerah, oleh karena itu pariwisata di Bali tidak hanya aktivitas yang bersifat rekreatif melainkan telah menjadi kekuatan ekonomi mendasar (Dewi et al. Wijana dkk, 2. Ketergantungan yang tinggi terhadap sektor ini tentu menjadi tantangan besar bagi Bali terutama dalam skala mikro yang sangat ditentukan oleh situasi maupun dinamika global yang mempengaruhi arus kunjungan wisatawan, seperti halnya krisis ekonomi yang dapat menuntut kesiapan dan ketahanan dari para pelaku ekonomi lokal (Wira dkk, 2. khususnya pelaku UMKM yang tersebar di berbagai daya tarik wisata. Kawasan Wisata Bedugul, khususnya di sekitar Daya Tarik Wisata (DTW) Danau Beratan, merupakan salah satu destinasi unggulan di Kabupaten Tabanan yang memiliki daya tarik alam, budaya, dan spiritualitas yang kuat. Lanskap pegunungan yang sejuk, keindahan Danau Beratan yang ikonik dengan Pura Ulun Danu Beratan di tengahnya, serta keberadaan agrowisata dan pasar tradisional menjadikan kawasan ini sebagai magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Keberadaan DTW tersebut tidak hanya memberikan kontribusi terhadap sektor pariwisata, tetapi juga berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat lokal, khususnya melalui keberadaan pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM). Disamping itu. UMKM yang berkembang di kawasan ini antara lain meliputi pedagang hasil bumi . ayuran, buah-buahan, dan bunga khas dataran tingg. , pelaku kuliner yang menjajakan makanan ringan lokal seperti keripik sayur, camilan khas Bedugul, serta pelaku usaha cinderamata yang menjual produk kerajinan dan oleh-oleh khas Seluruh jenis UMKM ini tidak hanya melayani kebutuhan wisatawan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat lokal. Meskipun secara kuantitatif menunjukkan pertumbuhan, pelaku UMKM di kawasan ini masih menghadapi berbagai permasalahan fundamental yang berpotensi dapat mengancam keberlanjutan usaha mereka. Tantangan situasional muncul akibat dinamika langsung di lapangan, seperti fluktuasi kunjungan wisatawan yang tinggi pada akhir pekan namun rendah di hari kerja, serta dampak dari perubahan infrastruktur transportasi yang memengaruhi pola pergerakan wisatawan. Salah satu contoh konkret adalah implementasi jalur satu arah sebagai dampak adanya jalur shortcut BedugulAeSingaraja yang membuat wisatawan dari arah utara (Buyan dan sekitarny. cenderung enggan singgah di Pasar Bedugul karena harus melakukan perjalanan memutar. Hal ini secara langsung berdampak a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 pada menurunnya menurunnya intensitas transaksi di pasar dan pusat UMKM lain yang selama ini mengandalkan arus wisatawan lintas wilayah. Di samping itu, keberadaan Pasar Candikuning Bedugul saat ini juga menjadi tantangan tersendiri dalam ekosistem UMKM Banyak pedagang mulai merelokasi lapak dagangannya ke sepanjang jalur utama menuju kawasan wisata, khususnya di tepi jalan raya, untuk mengantisipasi menurunnya kunjungan wisatawan ke dalam area pasar tradisional. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan adanya ketimpangan akses pasar antar pelaku usaha, tetapi juga memicu kompetisi yang semakin ketat di antara pelaku UMKM itu sendiri. Persaingan menjadi lebih kompleks karena tidak semua pedagang memiliki kapasitas yang sama dalam hal sumber daya, lokasi strategis, maupun strategi adaptif untuk menarik pembeli secara langsung. sisi lain, tingginya tingkat persaingan usaha di kawasan wisata mendorong pelaku UMKM untuk terus bersaing agar tetap relevan di pasar. Perbedaan ini menandakan adanya faktorfaktor internal yang turut memengaruhi keyakinan dalam dirinya untuk bertahan secara psikologis dalam mengelola usaha dan menghadapi tantangan yang kompleks. Salah satu faktor psikologis yang memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan individu dalam menghadapi tantangan usaha adalah efikasi diri. Bandura . menyatakan bahwa efikasi diri merujuk pada keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk mengatur dan melaksanakan tindakan yang diperlukan guna mencapai tujuan yang Dengan kata lain, pelaku usaha yang memiliki efikasi diri tinggi akan lebih percaya diri dalam mengambil keputusan, menetapkan strategi, serta mengelola risiko dan tekanan dalam menjalankan usahanya. Keyakinan terhadap kemampuan pribadi ini menjadi kekuatan internal yang dapat mendorong keberanian dalam berinovasi dan ketekunan dalam menghadapi hambatan usaha, termasuk dalam situasi yang tidak menentu seperti perubahan tren wisata atau penurunan jumlah kunjungan wisatawan (Pratama, 2. Efikasi diri juga berperan penting dalam membentuk resiliensi, yaitu kemampuan untuk bangkit dan bertahan di tengah kesulitan dan perubahan yang terjadi. Resiliensi juga dapat dipahami sebagai kapasitas psikologis individu untuk bertahan, beradaptasi, dan pulih dari tekanan atau situasi krisis (Garmeezy, 1991. Wagnild & Young. Pelaku usaha yang resilien tidak hanya mampu mempertahankan eksistensi usahanya di tengah guncangan, tetapi juga mampu mengubah tekanan menjadi peluang untuk tumbuh dan berkembang. Ketika efikasi diri yang kuat dipadukan dengan resiliensi yang tinggi, pelaku UMKM memiliki peluang lebih besar untuk membangun usaha yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan di kawasan wisata seperti Pantai Pandawa, yang secara alamiah memiliki dinamika ekonomi yang cepat berubah. Hal ini dapat dijelaskan bahwa efikasi diri dan resiliensi merupakan dua aspek psikologis yang saling berkaitan dan berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan pelaku UMKM dalam menghadapi tekanan maupun perubahan yang terjadi di kawasan wisata (Maddux, 2000. Pratama, 2. Pelaku usaha yang memiliki tingkat efikasi diri tinggi cenderung lebih siap secara mental dalam mengambil keputusan, mengelola risiko, dan mempertahankan motivasi saat menghadapi ketidakpastian. Keyakinan tersebut dapat menjadi fondasi penting dalam membentuk sikap resilien, yaitu kemampuan untuk bangkit, beradaptasi, dan terus menjalankan usaha di tengah kondisi yang penuh tantangan. Berdasarkan uraian tersebut, fenomena tersebut akan dikaji lebih lanjut dalam studi ini untuk mengetahui bagaimana peran efikasi diri berperan terhadap resiliensi pelaku UMKM, khususnya dalam membangun ketahanan usaha lokal di kawasan wisata Bedugul. Kabupaten a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Februari 2021 Tabanan. Bali. Permasalahan utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah sejauh mana efikasi diri mampu memengaruhi tingkat resiliensi pelaku UMKM dalam memperkuat ketahanan usaha mereka di tengah dinamika sektor pariwisata yang fluktuatif dan Kajian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran faktor-faktor psikologis dalam mendukung keberlanjutan UMKM, sekaligus memperluas pendekatan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal melalui penguatan kapasitas individu pelaku usaha. LANDASAN TEORI Efikasi Diri Efikasi diri merupakan keyakinan seorang individu atau manusia terhadap kemampuannya untuk mengontrol fungsi diri dalam melakukan sebuah tugas, mencapai tujuan atau mengatasi hambatan lingkungannya (Bandura, 1. Efikasi diri dalam hal ini dapat menentukan apakah seorang individu dapat bertahan saat menghadapi kesulitan atau kegagalan hingga mencapai kesuksesan dapat mempengaruhi perilaku seorang individu di masa depan (Feist & Feist, 2006. Friedman & Schustack, 2. Dengan kata lain, premis dasar teori efikasi diri merupakan kepercayaan dari seorang individu terhadap kemampuannya untuk mencapai hasil yang diinginkan pasca memecahkan sebuah masalah dalam kehidupannya, hal tersebut merupakan faktor penentu perilaku individu ketika dirinya akan terlibat dan gigih dalam menghadapi rintangan dan tantangan ataupun kondisi sebaliknya (Maddux, 2. Menurut Corsini . terdapat faktor-faktor yang menentukan efikasi diri setiap individu terletak pada aspek kongitif (Cognitive Proces. , motivasi (Motivational Proces. , afektif (Affective Proces. dan seleksi (Selection Proces. yang secara masing-masing memiliki implikasi penting bagi individu yang secara jelas dapat diuraikan sebagai berikut : Aspek Kognitif Proses kognitif menempatkan efikasi diri sebagai faktor yang dapat mempengaruhi seorang individu untuk menafsirkan situasi lingkungan, antisipasi yang akan diambil dan perencanaan yang akan dirancang dalam menghadapi situasi tertentu. Seorang individu yang menilai dirinya bahwa ia mampu menafsirkan situasi tertentu sehingga semakin kuat efikasi diri yang dimiliki individu maka semakin tinggi pula tujuan yang ditetapkan oleh individu tersebut. Proses Motivasi Proses motivasi sebagai dorongan dari diri individu yang bersifat optimis dalam mewujudkan tujuan yang diharapkan dan setiap individu melalui motivasinya akan membentuk keyakinan dalam dirinya untuk tujuannya sendiri. Apabila seorang individu memiliki motivasi yang tinggi dalam dirinya maka semakin dekat kesuksesan dalam mewujudkan tujuan yang diharapkannya, begitu pun sebalikny Proses Afektif Aspek afeksi merupakan kemampuan seorang individu mengatasi perasaan emosi maupun cemas yang timbul pada dirinya sendiri untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Apabila seorang individu dapat meyakini dirinya bahwa dapat mengatasi situasi yang sulit maka ia akan merasa tenang dan tidak merasa cemas dalam mengatasi situasi tersebut. Sebaliknya, apabila seorang individu tidak yakin dengan kemampuannya maka akan mengalami kecemasan dalam dirinya. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Proses Seleksi Aspek seleksi merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seorang individu untuk memilah tingkah lakunya dan memilih lingkungan yang tepat untuk menghadapi situasi Proses memilih dipengaruhi oleh keyakinan individu akan kemampuannya, maka dalam hal ini seorang individu yang memiliki self-efficacy yang rendah akan memilih tindakan untuk menghindari atau menyerah pada suatu situasi yang melebihi Resiliensi Menurut Wagnild & Young . menjelaskan bahwa resiliensi sebagai faktor psikologis individu yang mampu menghambat dampak negatif dari stres dan dapat menghasilkan adaptasi yang bersifat positif. Resiliensi dalam hal ini tidak hanya dilihat sebagai sifat atau sikap yang terdapat dalam individu, melainkan sebagai hasil transaksi yang dinamis antara kekuatan dari luar . dengan kekuatan dari dalam individu . dengan demikian resiliensi dapat disebabkan oleh adanya proses dinamis antara faktor internal dalam individu itu sendiri dalam menyikapi kondisi eksternal yaitu sosiallingkungan sebagai kekuatan seseorang untuk bangkit dari kondisi atau situasi sulit (Garmeezy, 1. Menurut Wagnild dan Young . , resiliensi sebagai sebuah sifat kepribadian dengan memiliki lima karakteristik yang saling berhubungan satu sama lain, yaitu diantaranya sebagai berikut : Keseimbangan Batin (Equanimit. Keseimbangan batin didefinisikan sebagai perspektif yang seimbang pada kehidupan dan pengalaman seorang individu. Beberapa orang terus merenungkan kegagalan yang dialami, terbebani dengan banyak penyesalan, atau cenderung melihat hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup sebagai malapetaka. Individu yang resilien akan mampu mengerti bahwa hidup tidak selalu baik dan tidak selalu buruk, selain itu individu-individu yang resilien mempunyai pikiran yang terbuka. Ketekunan . Ketekunan dalam hal ini mengacu pada kesediaan untuk melakukan perlawanan terhadap kesulitan. Individu yang resilien akan mampu mengatasi hal-hal seperti kesulitan, kekecewaan, keputusasaan dan tetap maju meraih tujuannya. Resiliensi dalam hal ini merupakan sebuah proses yang dimiliki oleh individu untuk bangkit dari pengalaman negatif, untuk itu diperlukan sebuah ketekunan. Kemandirian . elf relianc. Kemandirian diartikan sebagai kepercayaan diri dan kemampuan untuk bergantung pada diri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Individu mampu mengerti kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki. Pengalaman dan latihan akan membentuk kepercayaan pada kemampuan diri sehingga individu yang memiliki resiliensi, dirinya telah belajar dari pengalaman-pengalaman dan telah mengembangkan banyak cara untuk mengatasi sebuah masalah. Kebermaknaan . Kebermaknaan tergolong ke dalam realisasi hidup, bahwa hidup memiliki tujuan. Sadar akan tujuan atau makna dalam hidup individu mungkin merupakan karakteristik yang paling penting dari resiliensi karena hal ini merupakan fondasi dari empat karakteristik lainnya. Hidup tanpa tujuan merupakan hal yang sangat sia-sia, sedangkan hidup yang memiliki tujuan akan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Februari 2021 Ketika seseorang individu mengalami kesulitan yang tidak dapat dihindiari, hal yang dapat membuat individu terus maju dan memiliki tujuan yang harus dicapai. Kesendirian eksistensial . xistential alonenes. Kesendirian eksistensial mencerminkan sebuah kesadaran bahwa jalan hidup setiap individu bersifat unik, hal ini mencakup karakteristik kepribadian serta orientasi filosofis resiliensi dalam diri individu. Individu yang memiliki resiliensi akan belajar hidup secara mandiri meskipun hidup bersama-sama dengan orang lain dan individu sadar bahwa ketika menghadapi peristiwa negatif dalam hidup, maka individu itu harus menghadapinya secara mandiri. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan tujuan untuk menggambarkan dan menguji hubungan antara efikasi diri dan resiliensi dalam membangun ketahanan pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) di kawasan wisata. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari penyebaran kuesioner yang disusun berdasarkan indikator teoritis variabel efikasi diri dan resiliensi, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui observasi lapangan dan penggalian informasi kontekstual yang memperkuat interpretasi hasil. Sumber data primer berasal dari pelaku UMKM lokal di Kawasan Wisata Bedugul. Kabupaten Tabanan. Bali. Adapun sampel dalam penelitian ini mencakup para pedagang hasil bumi di pasar tradisional Candikuning Bedugul . isalnya penjual sayur, buah, dan hasil bumi lainny. , pelaku usaha kuliner, pedagang suvenir khas lokal, serta pengelola jasa wisata berbasis komunitas di sekitar area Danau Beratan. Sumber data sekunder diperoleh dari buku, artikel jurnal ilmiah, serta media informasi valid yang relevan dengan topik penelitian. Teknik penentuan sampel menggunakan metode quota sampling dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang responden. Pemilihan metode ini didasarkan pada pertimbangan keterbatasan waktu dan sumber daya, serta perlunya keterwakilan dari berbagai jenis pelaku UMKM yang beroperasi di kawasan wisata. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis Structural Equation Modeling (SEM), yang berfungsi untuk menguji secara parsial hubungan antara variabel efikasi diri terhadap resiliensi. Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pengaruh faktor psikologis terhadap ketahanan usaha pelaku UMKM di kawasan wisata Bedugul. Adapun definisi operasional variabel yang digunakan dalam studi ini yakni dapat dijelaskan pada Tabel 1 dan Tabel 2 berikut : Dimensi / Aspek Proses Kognitif Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Efikasi Diri Indikator Konseptual Indikator Operasional Kemampuan individu dalam 1. Memahami situasi pasar dan menilai situasi usaha dan menyusun langkah usaha merancang respons strategis terhadap Mampu membaca tren dan perubahan eksternal permintaan wisatawan Kode ED1 ED2 https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Proses Motivasi Proses Afektif Proses Seleksi Dimensi / Aspek Keseimbangan Batin Dorongan internal untuk Termotivasi meningkatkan tetap berjuang mencapai penjualan meski hanya tujuan meski dalam tekanan mengandalkan akhir pekan Konsisten dan semangat untuk usaha meskipun menghadapi persaingan yang semakin ketat Kemampuan individu Mampu mengelola mengelola kecemasan kekhawatiran saat penjualan dalam situasi usaha yang tidak stabil Tidak mudah menyerah meski lokasi dagang kurang Kemampuan individu dalam 7. Memilih lokasi jual yang memilih strategi dan strategis dan ramai lingkungan usaha yang Aktif bergabung dalam komunitas usaha untuk memperluas jaringan Tabel 2. Definisi Operasional Variabel Resiliensi Definisi Dimensi Indikator Operasional Kemampuan Mampu menerima perubahan sikap tenang dan seimbang pasar sebagai bagian dari saat menghadapi situasi dinamika usaha sulit tanpa larut dalam 2. Tidak larut dalam penyesalan saat mengalami penurunan Ketekunan Kemauan untuk terus 3. Terus berusaha menjual produk meski kunjungan rintangan dan tekanan wisatawan fluktuatif dalam mencapai tujuan. Tetap aktif menjalankan usaha saat menghadapi tekanan persaingan Kemandirian Kemampuan Mengandalkan kemampuan mengandalkan keputusan pribadi dalam mengambil dan kekuatan diri sendiri keputusan usaha Tidak bergantung pada bantuan orang lain dalam mengelola usaha Kebermaknaan Kesadaran akan tujuan 7. Menjalankan usaha dengan Hidup dan nilai dari hidup serta keyakinan bahwa usahanya usaha yang dijalankan, membawa manfaat bagi keluarga/lingkungan ED3 ED4 ED5 ED6 ED7 ED8 Kode RES1 RES2 RES3 RES4 RES5 RES6 RES7 https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Februari 2021 Kesendirian Eksistensial yang menjadi sumber 8. Memiliki tujuan jangka motivasi untuk bertahan panjang dalam menjalankan usaha UMKM Kesadaran bahwa setiap 9. Tetap mampu berdiri sendiri individu memiliki jalan saat menghadapi tantangan hidup yang unik dan harus Menyadari bahwa setiap tantangan secara mandiri. pelaku usaha memiliki tantangan unik yang harus dihadapi secara mandiri RES8 RES9 RES10 Untuk memahami peran efikasi diri dan resiliensi dalam membentuk ketahanan pelaku UMKM di kawasan wisata Bedugul, diperlukan pemetaan konstruk teoritis yang merepresentasikan hubungan antar variabel secara sistematis. Konstruk ini menggambarkan alur berpikir konseptual yang mendasari rumusan hipotesis dalam penelitian ini yang dijelaskan pada Gambar 1. Gambar 1. Konstruk Penelitian (Sumber : Corsini, 1994. Wagnild & Young, 1994. Pratama, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Mayoritas responden dalam penelitian ini adalah pedagang hasil bumi seperti sayuran dan buah-buahan lokal, yang mencapai jumlah 12 orang atau 40% dari total responden. Kelompok terbesar kedua adalah pedagang makanan lokal, khususnya produk olahan seperti keripik dan jajanan khas Bedugul, dengan jumlah 7 orang atau 23,3%. Selanjutnya, terdapat 5 orang atau 16,7% yang merupakan pedagang cinderamata, seperti aksesori, kaus, dan a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 barang kerajinan khas daerah. Sementara itu, 3 orang responden merupakan penyedia jasa wisata danau, seperti sewa perahu . di Danau Beratan. Terakhir, 3 responden lainnya adalah pedagang tanaman hias, yang memanfaatkan lokasi wisata sebagai pasar potensial. Menariknya, dari keseluruhan responden, terdapat 6 orang pelaku usaha yang berasal dari luar Bali, yang telah lama menetap dan berintegrasi dalam aktivitas ekonomi lokal. Dominasi responden dari sektor perdagangan hasil bumi dan makanan lokal mencerminkan ketergantungan masyarakat terhadap sektor pertanian dan wisata sebagai sumber utama Uji Validitas Berikut merupakan hasil uji validitas indikator melalui nilai outer loading yang diperoleh dari pengolahan data menggunakan pendekatan PLS-SEM. Indikator yang dinyatakan memiliki validitas konvergen yang baik apabila nilai outer loading-nya Ou 0,70, nilai tersebut menunjukkan bahwa indikator tersebut secara kuat dan signifikan mampu menjelaskan variabel laten yang diwakilinya (Hair et al, 2. Adapun hasil uji validitas pada indikator variabel efikasi diri dan resiliensi pada studi ini yaitu dapat dijelaskan sebagai Tabel 3. Hasil Uji Validitas Melalui Pengukuran Outer Loadings Indikator Outer Nilai Keterangan Variabel Loading Kriteria ED1 0,700 Valid ED2 0,700 Valid ED3 0,700 Valid ED4 0,700 Valid ED5 0,700 Valid ED6 0,700 Valid ED7 0,700 Valid ED8 0,700 Valid RES1 0,700 Tidak Valid RES2 0,700 Tidak Valid RES3 0,700 Valid RES5 0,700 Valid RES6 0,700 Valid RES7 0,700 Valid RES8 0,700 Valid RES9 0,700 Valid RES10 0,700 Tidak Valid Berdasarkan hasil analisis outer loading dapat dijelaskan bahwa seluruh indikator yang membentuk konstruk variabel Efikasi Diri (ED1AeED. menunjukkan nilai outer loading yang memenuhi nilai kriteria lebih besar 0,70. Hal ini mengindikasikan bahwa indikatorindikator tersebut memiliki validitas konvergen yang baik dan dapat digunakan sebagai representasi konstruk efikasi diri secara akurat. Sementara itu, pada konstruk variabel Resiliensi, terdapat enam indikator yang memenuhi kriteria validitas, yaitu pada kode indikator RES3. RES5. RES6. RES7. RES8, dan RES9. Keenam indikator tersebut memiliki nilai outer loading di atas nilai kriteria 0,70, sehingga dapat dinyatakan indikator variabel tersebut a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Februari 2021 memiliki validitas konvergen yang baik. Sedangkan, terdapat tiga indikator yang memiliki nilai di bawah batas minimum yang disyaratkan, yaitu RES1 . RES2 (-0,. , dan RES10 . yang masuk dalam kategori tidak memenuhi kriteria validitas konvergen sehingga ketiga indikator tersebut harus dikeluarkan dari model dan tidak dapat digunakan pada analisis selanjutnya. Uji Reliabilitas Konstruk dinyatakan reliabel apabila memiliki nilai CronbachAos Alpha dan CR lebih besar dari 0,700, yang menunjukkan bahwa indikator-indikator dalam konstruk tersebut memiliki konsistensi internal yang baik. Sementara itu, validitas konvergen diuji melalui nilai Average Variance Extracted (AVE), yang menggambarkan proporsi varians indikator yang berhasil dijelaskan oleh konstruknya. Nilai AVE Ou 0,500 menunjukkan bahwa konstruk memiliki validitas konvergen yang memadai (Hair et al. , 2. Adapun hasil uji discriminant validity & reliability pada studi ini dapat dijelaskan pada Tabel 4 berikut : Tabel 4. Hasil Uji Reliabilitas Melalui Pengukuran Discriminant Validity & Reliability Average Composite Composite Cronbach's Variabel reliability reliability . (AVE) Proses Afektif Proses Kognitif Proses Motivasi Proses Seleksi Resiliensi Berdasarkan hasil uji reliabilitas dan validitas konvergen terhadap konstruk penelitian, diketahui bahwa seluruh konstruk menunjukkan kriteria yang sangat baik. Nilai CronbachAos alpha untuk setiap konstruk berada di atas ambang batas 0,600, yang menandakan konsistensi internal indikator-indikator dalam setiap konstruk dalam kategori Kemudian, nilai Average Variance Extracted (AVE) yang diperoleh juga memenuhi kriteria minimal 0,500. Semua konstruk memiliki nilai AVE di atas 0,700, yang menunjukkan bahwa lebih dari 70% varians indikator dapat dijelaskan oleh konstruknya masing-masing, maka dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa seluruh konstruk dalam penelitian ini memenuhi syarat validitas konvergen dan reliabilitas konstruk, serta dapat digunakan dalam tahapan analisis model struktural selanjutnya. Uji R-Square Analisis koefisien determinasi (R-squar. dilakukan untuk mengetahui seberapa besar variabel independen dalam model mampu menjelaskan variabel dependen. Dalam hal ini, nilai R-square digunakan untuk melihat seberapa besar kontribusi variabel efikasi diri dalam menjelaskan resiliensi pelaku UMKM di Kawasan Wisata Bedugul. Menurut Chin . yang menyatakan bahwa nilai R-square sebesar 0,19 tergolong lemah, 0,33 masuk dalam kategori sedang, dan 0,67 termasuk dalam kategori tinggi. Adapun hasil uji r-square pada studi ini dapat dijelaskan Tabel 5 berikut: https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Tabel 5. Hasil Uji R-Square Variabel R-square R-square adjusted Resiliensi Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai R-square untuk variabel resiliensi sebesar 0,386, sedangkan nilai R-square adjusted tercatat sebesar 0,374. Hal ini menunjukkan bahwa sebesar 38,6% variasi dalam resiliensi pelaku UMKM dapat dijelaskan oleh variabel efikasi diri, sementara sisanya sebesar 61,4% dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Dengan demikian, model ini cukup memadai dalam menjelaskan hubungan antara efikasi diri dan resiliensi pada pelaku UMKM di lokasi penelitian. Analisis Model Struktural Berikut merupakan hasil uji model struktural yang menggambarkan pengaruh langsung antara variabel efikasi diri terhadap resiliensi pelaku UMKM di Kawasan Wisata Bedugul, sebagaimana diestimasi melalui pendekatan Partial Least Squares (PLS) menggunakan aplikasi SmartPLS yang dapat dijelaskan pada Gambar 1 berikut : Gambar 2. Hasil Uji Model Struktural Berdasarkan hasil analisis terhadap pengaruh langsung dan tidak langsung antar variabel, ditemukan tiga pengaruh parsial yang melibatkan efikasi diri, dan resiliensi. Menurut Ghozali . , hipotesis diterima jika nilai T-statistic > 1,96 dan P-value < 0,05. Adapun pengujian hipotesis dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antar variabel secara langsung maupun tidak langsung, sebagaimana ditampilkan pada tabel H1. Pengaruh Proses Kongitif Terhadap Resiliensi (-) Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pertama, ditemukan bahwa sub variabel efikasi diri pada proses kognitif tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap resiliensi pelaku UMKM di Kawasan Wisata Bedugul. Hal ini ditunjukkan oleh nilai P-value sebesar 0,334 yang melebihi batas signifikansi 0,05, sehingga hipotesis tersebut dinyatakan tidak diterima. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Februari 2021 H2. Pengaruh Proses Motivasi Terhadap Resiliensi ( ) Berdasarkan hasil pengujian hipotesis kedua, diketahui bahwa sub variabel efikasi diri pada aspek proses motivasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap resiliensi pelaku UMKM di Kawasan Wisata Bedugul. Hal ini dibuktikan dengan nilai P-value sebesar 0,001 yang berada di bawah tingkat signifikansi 0,05, sehingga hipotesis tersebut dinyatakan diterima. H3. Pengaruh Proses Afektif Terhadap Resiliensi (-) Berdasarkan hasil pengujian hipotesis ketiga, diketahui bahwa sub variabel efikasi diri pada aspek proses afektif tidak memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap resiliensi pelaku UMKM di Kawasan Wisata Bedugul. Hal ini ditunjukkan oleh nilai P-value sebesar 0,067 yang melebihi ambang signifikansi 0,05, sehingga hipotesis tersebut dinyatakan ditolak. H4. Pengaruh Proses Seleksi Terhadap Resiliensi (-) Berdasarkan hasil pengujian hipotesis keempat, diketahui bahwa sub variabel efikasi diri pada aspek proses seleksi tidak memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap resiliensi pelaku UMKM di Kawasan Wisata Bedugul. Hal ini ditunjukkan oleh nilai P-value sebesar 0,798 yang berada di atas ambang signifikansi 0,05, sehingga hipotesis tersebut dinyatakan ditolak. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis structural equation modelling partial least square (SEM-PLS), studi ini menemukan bahwa aspek motivasi dalam konstruk efikasi diri memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap resiliensi pelaku UMKM di Kawasan Wisata Bedugul. Temuan ini menunjukkan bahwa motivasi internal pelaku usaha, seperti keyakinan untuk tetap berusaha meskipun menghadapi berbagai tekanan dan keterbatasan, berperan penting dalam membentuk daya lenting . dan pada akhirnya menopang ketahanan UMKM itu sendiri. Sejalan dengan studi terdahulu oleh Pratama . yang menegaskan bahwa motivasi memiliki peran vital dalam membentuk keyakinan individu untuk bertahan di tengah kondisi usaha yang tidak stabil. terutama bagi pelaku UMKM yang beroperasi di sektor informal dan bergantung pada fluktuasi pasar yang tinggi seperti halnya pelaku ekonomi di kawasan wisata yang sangat bergantung pada pangsa pasar wisatawan harian. Jika ditinjau dari realitas kondisi di Kawasan Wisata Bedugul, saat ini kondisi pasar wisatawan yang tidak sepenuhnya stabil yang disebabkan oleh arus kunjungan wisatawan yang cenderung tinggi hanya pada akhir pekan, sehingga menyebabkan fluktuasi pendapatan yang signifikan dalam satu pekan. Selain itu, kebijakan relokasi jalur distribusi wisata akibat pembangunan jalur alternatif BedugulAeSingaraja telah mengubah pola pergerakan wisatawan, yang berdampak pada menurunnya intensitas kunjungan ke pusat-pusat aktivitas ekonomi tradisional seperti pasar Desa Candikuning, hal ini turut menimbulkan tantangan baru dalam aspek aksesibilitas dan distribusi pasar wisatawan, di mana setelah menyelesaikan aktivitas wisata di kawasan Daya Tarik Wisata Danau Beratan hingga Buyan, wisatawan cenderung langsung mengikuti arus balik tanpa menyempatkan diri untuk singgah atau berbelanja di pasar-pasar lokal di sekitar kawasan tersebut. Di sisi lain, meningkatnya persaingan antar pelaku usaha baik dari pendatang baru maupun relokasi a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 pedagang ke titik-titik yang lebih strategis seperti tepi jalan utama yang mempertegas tekanan eksternal yang dihadapi oleh pelaku UMKM lokal. Dalam situasi semacam ini, motivasi sebagai bagian dari efikasi diri menjadi kekuatan internal yang sangat dibutuhkan agar pelaku usaha tetap mampu mempertahankan kelangsungan usahanya dengan cara-cara adaptif, konsisten dan semangat untuk meskipun mengalami tekanan persaingan yang ketat. Dalam situasi semacam ini, motivasi sebagai bagian dari efikasi diri menjadi kekuatan internal yang sangat penting bagi pelaku UMKM untuk mempertahankan kelangsungan usahanya. Dorongan motivasional ini mendorong pelaku usaha untuk tetap adaptif, konsisten, dan memiliki semangat dalam menjalankan usahanya, meskipun berada dalam tekanan persaingan yang ketat dan kondisi pasar yang tidak stabil. Salah satu bentuk adaptasi yang umum dilakukan oleh masyarakat di kawasan wisata Bedugul adalah dengan memanfaatkan peluang dari kunjungan siswa-siswa study tour, yang tidak hanya berlangsung pada akhir pekan, tetapi juga pada hari-hari biasa. dimana kehadiran study tour ini tidak hanya berkontribusi pada kelangsungan aktivitas ekonomi harian, tetapi juga menciptakan dinamika usaha yang menuntut pelaku UMKM untuk tetap adaptif dan responsif terhadap perubahan pola kunjungan. Dengan demikian, pola konsumsi wisatawan pelajar turut berperan dalam menopang keberlanjutan ekonomi masyarakat lokal yang bergantung pada sektor pariwisata (Indrawati et al, 2024. Wijana et al, 2025. Pitanatri et al, 2. Hasil penelitian ini memperkuat pandangan teori efikasi diri yang dikemukakan oleh Bandura . , yang menyatakan bahwa individu dengan tingkat efikasi diri yang tinggi akan lebih mampu mengelola tantangan, merencanakan langkah, serta memelihara motivasi dalam menghadapi situasi sulit. Motivasi merupakan faktor pendorong dalam diri . individu untuk melakukan sesuatu (Maslow, 1943. Pratama dkk, 2021. Dewi et al, 2. Motivasi dalam hal ini dapat menjadi dorongan untuk berprestasi . eed for achievemen. menjadi penggerak utama dalam perilaku kewirausahaan (Robbins & Judge, 2. Sebagaimana pelaku UMKM di kawasan wisata Bedugul, motivasi yang kuat tercermin dari upaya bertahan dan menyesuaikan strategi usaha meskipun dihadapkan pada fluktuasi kunjungan wisatawan, persaingan lokasi usaha, hingga keterbatasan akses pasar. Efikasi diri menjadi dasar penting bagi pengambilan keputusan yang produktif, termasuk dalam memanfaatkan peluang dari kunjungan pelajar study tour sebagai alternatif pasar. Secara teoretis, motivasi yang lahir dari efikasi diri tidak hanya berdampak pada perilaku bertahan, tetapi juga membentuk resiliensi yakni kemampuan untuk bangkit dan beradaptasi dalam Keberlanjutan ekonomi lokal yang didorong oleh ketahanan usaha masyarakat akan turut meningkatkan daya saing destinasi wisata itu sendiri (Pitanatri et al, 2. wisatawan cenderung lebih tertarik pada destinasi yang menawarkan pengalaman autentik dan mampu mendukung kesejahteraan masyarakat lokal. Oleh karena itu, hubungan antara efikasi diri dan resiliensi dalam studi ini secara nyata memperkuat kedua konstruk tersebut berperan strategis dalam membangun ketahanan UMKM lokal, khususnya dalam ekosistem pariwisata yang dinamis seperti di Kawasan Wisata Bedugul. Kabupaten Tabanan. Bali. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa efikasi diri, khususnya pada aspek motivasi, memiliki peran signifikan dalam membentuk resiliensi pelaku UMKM di Kawasan Wisata Bedugul. Kabupaten Tabanan. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Februari 2021 Temuan ini menunjukkan bahwa keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk terus berusaha, meskipun dalam situasi yang penuh tantangan seperti penurunan jumlah wisatawan, relokasi jalur distribusi, hingga persaingan lokasi usaha, menjadi faktor utama dalam membangun daya lenting . Motivasi yang lahir dari efikasi diri mendorong pelaku usaha untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga mencari peluang melalui strategi adaptif, seperti menyasar wisatawan pelajar dalam program study tour sebagai alternatif pasar. Jika ditinjau dari keberlanjutan ekonomi lokal, keberadaan efikasi diri dan resiliensi yang kuat tidak hanya menopang kelangsungan UMKM, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan daya saing dan ketahanan kawasan wisata Bedugul secara Berdasarkan temuan studi ini, diharapkan agar pemerintah daerah Kabupaten Tabanan turut mendorong penguatan efikasi diri dan resiliensi pelaku UMKM local melalui pelatihan yang berkaitan penguatan ekonomi lokal melalui UMKM di destinasi. Secara akademis, hasil penelitian ini juga dapat dijadikan landasan awal untuk pengembangan studi lanjut mengenai peran faktor psikologis lainnya dalam mendukung ketahanan ekonomi UMKM pada sektor pariwisata. DAFTAR PUSTAKA