PENELITIAN ASLI PENGARUH PERENCANAAN PAJAK. PROFIBILITAS DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP MANAJEMEN LABA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR Rika Mei Hayani Ginting1. Renika Hasibuan1. Rosanna Purba1. Fanny Viola Manurung1. Nazwa Habibah1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Sari Mutiara Indonesia Jalan Kapt Muslim No. 79 Medan, 20123. Sumatera Utara. Indonesia Info Artikel Abstrak Riwayat Artikel: Latar belakang: Kualitas laporan keuangan perusahaan dapat dibaca sebagai cerminan praktik manajemen laba yang dipengaruhi oleh strategi perencanaan pajak, tingkat profitabilitas, serta skala Tujuan: untuk menelaah bagaimana ketiga faktor tersebut memengaruhi manajemen laba pada perusahaan manufaktur subsektor barang industri yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2021Ae2023 Metode: Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif, dengan populasi sebanyak 41 perusahaan dan penarikan sampel sebanyak 17 perusahaan Hasil: Temuan penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pajak tidak berkontribusi secara signifikan terhadap manajemen laba. Sebaliknya, profitabilitas terbukti berpengaruh, sementara ukuran perusahaan menunjukkan hubungan negatif terhadap praktik tersebut. Secara bersama-sama, perencanaan pajak, profitabilitas, dan ukuran perusahaan terbukti memengaruhi manajemen laba Kesimpulan: penelitian menegaskan bahwa pada perusahaan manufaktur yang menjadi emiten di Bursa Efek Indonesia pada periode 2021Ae2023, profitabilitas dan ukuran perusahaan berperan nyata dalam mendorong praktik manajemen laba. Namun, perencanaan pajak tidak memberikan kontribusi berarti terhadap stabilitas laporan keuangan. Dengan demikian, kinerja keuangan dan besaran perusahaan kecenderungan manajemen laba, sedangkan strategi perencanaan pajak bukanlah penentu utama dalam konteks penelitian ini. Tanggal Dikirim: 16 Desember 2025 Tanggal Diterima: 14 Januari 2026 Tanggal Dipublish: 15 Januari 2026 Kata kunci: Perencanaan Pajak. Profibilitas. Ukuran Perusahaan. Manajemen Laba Penulis Korespondensi: Rika Mei Hayani Ginting Email: r1m3y@yahoo. Jurnal Mutiara Akuntansi e-ISSN: 2579-7611 Vol. 10 No. 2 Desember 2025 (Hal 59-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JMA DOI: https://doi. org/10. 51544/jma. How To Cite: Ginting. Rika Mei Hayani. Renika Hasibuan. Rosanna Purba. Fanny Viola Manurung, and Nazwa Habibah. AuPengaruh Perencanaan Pajak. Profibilitas Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur. Ay Jurnal Mutiara Akuntansi . 59Ae67. https://doi. org/https://doi. org/10. 51544/jma. Copyright A 2025 by the Authors. Published by Program Studi: Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Setiap perusahaan menghadapi berbagai tantangan dalam menjaga stabilitas kinerjanya, terutama dalam hal pelaporan keuangan. Perusahaan yang wajib memiliki manajemen laba yang juga menjadi bentuk perhatian dalam dunia akuntansi dan keuangan terutama Perusahaan dan naungan BEI. Praktik ini terjadi ketika manajemen perusahaan melakukan upaya intervensi pada proses pelaporran keuangan yang dimaksud untuk memengaruhi hasil laba yang dilaporkan, baik untuk kepentingan internal maupun eksternal. Laba menjadi salah satu indikator kunci yang digunakan oleh pemangku kepentingan untuk menilai pencapaian perusahaan. Namun angka keuntungan yang disajikan dalam laporan keuangan tidak selalu menggambarka keadaan perusahaan secara riil Hal ini dikarenakan manajemen sering kali menggunakan kebijakan akuntansi tertentu untuk menampilkan citra yang lebih baik di hadapan investor, kreditor, dan pihak lain. (Ariana & Yudantara, 2. Perencanaan pajak berperan penting dalam upaya perusahaan untuk meminimalkan beban pajak secara legal. Namun, strategi ini dapat mendorong manajemen untuk melakukan penyesuaian terhadap laporan laba guna mencapai efisiensi pajak yang Apabila perusahaan mampu menerapkan perencanaan pajak secara efektif maka potensi laba fiskal yang diperoleh akan lebih optimal dan pada akhirnya dapat mempengaruhi besarnya laba yang disajikan dalam laporan keuangan (Utami & Ambarita, 2. Disisi lain, perusahaan yang memiliki profitablitas positif akan menjadi indikator daya tarik investor. erusahaan yang menunjukkan tingkat profitabilitas yang tinggi cenderung memiliki dorongan untuk mempertahankan stabilitas laba guna menjaga persepsi positif terhadap kinerja keuangannya. Entitas dengan profitabilitas yang kuat biasanya memiliki keleluasaan yang lebih besar dalam melakukan manajemen laba, baik melalui pengaturan biaya maupun pendapatan, serta pengelolaan kewajiban pajak (Ramadani. Muda, & Abubakar, 2. Selain itu, pengeloaan perusahaan dilihat dari ukuran perusahaan baik kecil dan besar memiliki pengawasan yang lebih baik secara publik dan otoritas. Kecenderungan perbedaan pengawasan ini memiliki hubungannya dengan laba jika perusahaannya besar maka akan lebih ketat sedangkan kecil tidak demikian. Ukuran perusahaan umumnya ditentukan melalui indikator seperti total aset, jumlah pendapatan, dan jumlah karyawan. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi pertimbangan manajemen dalam proses penyusunan dan penyajian laporan laba (Joe & Ginting, 2. Tindakan praktik manajemen laba di Indonesia marak terjadi di Indonesia. Salah satunya, pada Juli 2021. Indonesia sempat dihebohkan dengan kasus dugaan praktik manajemen laba yang melibatkan PT. Envy Indonesia. Dalam laporan keuangan perusahaan tersebut tampak adanya fluktuasi laba yang dianggap tidak wajar. Pada 2019. PT. Envy Indonesia mencatat laba Rp188,58 miliar, meningkat sekitar 135% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kenaikan laba bersih sekitar 19% dari tahun Namun, pada 2020 kondisi perusahaan berbalik tajam pendapatannya anjlok hingga 98,61%, sementara laba bersih merosot 96,4% dibandingkan capaian tahun 2019 (Sandria, 2. Pada kasus lainnya. PT. Indofarma Tbk. (INAF), terdapat indikasi kerugian keuangan Perseroan berserta anak usahannya yang ditemukan oleh BPK. Temuan audit menunjukkan kerugian mencapai sekitar Rp 371,8 miliar. Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) investigatif BPK juga mengungkap bahwa manipulasi laporan keuangan telah berlangsung untuk jangka waktu yang cukup lama (Indonesia, 2. (Wibowo & Limajatini, 2. yang mengusung tema yang dirumuskan dalam judul AuPengaruh Perencanaan Pajak. Ukuran Perusahaan dan Profibilitas Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Food And Beverage Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Pada Tahun 2019-2. Ay dengan hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas merupakan determinan signifikan dalam praktik manajemen laba. Selanjutnya (Zai & Masyitah, 2. dengan judul penelitian AuPengaruh Perencanaan Pajak. Ukuran Perusahaan. Beban Pajak Tangguhan. Profibilitas Dan Leverage Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Barang Dan Komsumsi Periode 2018-2020Ay melalui hasil penelitiannya menunjukkan profitabilitas dan manajemen laba tidak Gap diantara kedua penelitian terdahulu ini memberikan celah kepada peneliti selanjutnya dalam mendalami kajian terhadap topik dan variabel ini. Berdasarkan uraian konseptual dan empiris yang telah dikemukan, maka penulis meneliti AuPengaruh Perencanaan Pajak. Profibilitas Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur Subsektor Barang IndustriAy. Metode Penelitian Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif sebagai pendekatan analisis. Objek penelitian meliputi 41 perusahaan manufaktur pada subsektor terkait yang terdaftar sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2021 hingga 2023. Dari keseluruhan populasi tersebut, sebanyak 17 perusahaan ditetapkan sebagai sampel. Pemilihan sampel dilakukan menggunakan metode purposive sampling, sementara data penelitian bersumber dari laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan secara resmi. manufaktur subsektor barang industri yang tercatat di BEI sepanjang tahun 2021Ae2023. Pengolahan serta analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui penerapan metode regresi linier berganda, analisis hubungan antarvariabel menggunakan korelasi dan koefisien determinasi, disertai dengan uji asumsi klasik serta pengujian hipotesis penelitian. Hasil Dan Pembahasan Uji Asumsi Klasik Uji normalitas, dilakukan dengan menerapkan metode-Kolmogorov-SmirnovTest. Temuan pengujian selanjutnya dipaparkan sebagai berikut: Tabel 1 Hasil Uji Normalitas Metode Kolmogorov-Smirnov Test Sumber: Hasil Olah Data, 2025 Merujuk pada Tabel 1, terlihat bahwa nilai Asymp. Sig. -taile. berada pada angka 0,149. Angka ini melampaui ambang signifikansi sebesar 0,05, yang menandakan bahwa seluruh variabel melalui kajian yang dilakukan menunjukkan pola sebaran data yang mengikuti distribusi normal. Uji multikolinearitas, dilakukan dengan berlandaskan pada kriteria bahwa nilai Variance Inflation Factor (VIF) tidak melampaui nilai 10, sedangkan nilai Tolerance disyaratkan lebih besar dari 0,10. Berdasarkan ketentuan tersebut, hasil dari pengujian yang telah dilakukan dapat diuraikan sebagai berikut: Tabel 2 Hasil Uji Multikolinearitas Sumber: Hasil Olah Data, 2025 Sejalan dengan temuan yang dirangkum dalam Tabel 2, secara keseluruhan hasil penelitian memperlihatkan bahwa seluruh variabel independen berada dalam kondisi yang aman dari gejala multikolinearitas. Kesimpulan ini diperkuat oleh nilai Tolerance yang konsisten melampaui ambang 0,10 serta nilai VIF yang seluruhnya terletak dibawah ambang toleransi yang ditentukan 10. Secara rinci, variabel Perencanaan Pajak mencatat nilai Tolerance sebesar 0,978 dengan VIF 1,022. variabel Profitabilitas menunjukkan Tolerance 0,985 dan VIF 1,015. sedangkan variabel Ukuran Perusahaan memiliki nilai Tolerance 0,986 disertai VIF 1,014. Uji heterokedastisitas, dilaksanakan guna mengidentifikasi adanya indikasi Adapun hasil pengujiannya adalah sebagai berikut: Gambar 1 Hasil Uji Heterokedastisitas Sebagaimana terlihat pada Gambar 1, titik-titik data tersebar bebas di atas dan di bawah garis nol tanpa menampakkan pola yang konsisten tidak membentuk garis lurus, gelombang, maupun kurva walaupun masih dijumpai beberapa titik yang Pola sebaran seperti ini mencerminkan residual dengan varians yang relatif konstan, sehingga tidak menunjukkan adanya indikasi heteroskedastisitas. Pengujian autokorelasi dijalankan sebagai langkah untuk menelusuri apakah dalam penelitian ini tersirat adanya gejala autokorelasi atau tidak. Hasil dari proses pengujian tersebut kemudian dipaparkan sebagai berikut: Tabel 3 Hasil Uji Autokorelasi Sumber: Hasil Olah Data, 2025 Merujuk pada informasi yang tersaji dalam Tabel 3, diperoleh nilai DurbinAeWatson (DW hitun. sebesar kurang lebih 1,801. Posisi angka ini berada pada nilai yang diperoleh berada dalam kisaran Oe2 sampai dengan 2, yang menunjukkan bahwa model regresi terbebas dari gejala autokorelasi. Dengan kata lain, model regresi linier berganda yang diterapkan dapat dinyatakan bersih dari indikasi autokorelasi. Uji Regresi Linier Berganda Untuk menelusuri hubungan antara variabel independen dan variabel dependen, penelitian ini memanfaatkan pendekatan regresi linier berganda. Hasil dari proses pengujian tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: Tabel 4 Hasil Uji Regresi Linier Berganda Sumber: Hasil Olah Data, 2025 Merujuk pada Tabel 4 yang ditampilkan sebelumnya, makna dari persamaan koefisien tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: Y= 0,519 0,92X1 0,571X2 0,33X3 A Interprestasi model analisis regresi yang digunakan: Nilai konstanta . sebesar 0,519 dapat dimaknai sebagai titik awal Manajemen Laba. Artinya, ketika Perencanaan Pajak (X. Profitabilitas (X. , dan Ukuran Perusahaan (X. diasumsikan tidak memberikan pengaruh sama sekali atau bernilai nol, maka Manajemen Laba (Y) tetap terbentuk pada level 0,519. Koefisien pada variabel Perencanaan Pajak (X. tercatat sebesar Oe0,092. Angka ini menggambarkan hubungan yang berlawanan arah, di mana setiap peningkatan satu unit dalam Perencanaan Pajak secara konsisten memicu penurunan Manajemen Laba (Y) sebesar 0,092 unit, dengan catatan bahwa seluruh variabel lain diasumsikan tidak mengalami perubahan. Koefisien profitabilitas (X. yang bernilai 0,571 menggambarkan bahwa setiap dorongan naik satu tingkat profitabilitas akan menyeret manajemen laba (Y) untuk ikut meningkat sebesar 0,571 satuan, selama variabel lain tetap berada pada posisi yang tidak berubah. Koefisien Ukuran Perusahaan (X. tercatat sebesar Oe0,033, yang menggambarkan hubungan terbalik antara ukuran perusahaan dan manajemen laba. Artinya, ketika ukuran perusahaan meningkat satu tingkat, praktik manajemen laba (Y) justru bergerak turun sebesar 0,033, selama faktor-faktor lain diasumsikan tidak mengalami perubahan. Uji Hipotesis Uji parsial yang dikenal sebagai Uji t berperan sebagai alat untuk menelusuri derajat pengaruh setiap variabel bebas ketika dianalisis secara individual terhadap variabel Rangkaian temuan dari proses pengujian ini kemudian dipaparkan sebagai Tabel 5 Hasil Uji Parsial (Uji . Sumber: Hasil Olah Data, 2025 Penyajian data pada tabel di atas mengindikasikan bahwa: Perencanaan pajak menunjukkan nilai t hitung sebesar Oe1,609, sedangkan nilai t tabel tercatat sebesar 2,01174. Karena nilai Oe1,609 lebih kecil dibandingkan 2,01174 serta tingkat signifikansi sebesar 0,114 yang melebihi 0,05, maka hipotesis HCA dinyatakan ditolak. Dengan demikian, secara parsial perencanaan pajak tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur subsektor barang industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2021Ae2023. Profitabilitas menunjukkan nilai t hitung sebesar 2,409, sedangkan t tabel tercatat sebesar 2,01174. Karena nilai 2,409 lebih besar dibandingkan 2,01174 serta tingkat signifikansi sebesar 0,020 lebih kecil dari 0,05, maka HCC dinyatakan diterima. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa profitabilitas memberikan pengaruh parsial yang signifikan terhadap manajemen laba pada perusahaan subsektor barang industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2021Ae2023. Ukuran perusahaan menunjukkan nilai t hitung sebesar Oe7,594, sedangkan nilai t tabel tercatat sebesar 2,01174. Dengan mempertimbangkan bahwa nilai absolut t hitung sebesar 7,594 melampaui t tabel 2,01174 serta tingkat signifikansi 0,000 yang berada di bawah ambang 0,05, maka HCE dapat dinyatakan diterima. Hasil ini menegaskan bahwa ukuran perusahaan secara parsial memiliki pengaruh negatif yang nyata terhadap praktik manajemen laba pada perusahaan subsektor barang industri yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sepanjang periode 2021Ae2023. Uji simultan atau yang dikenal sebagai Uji F berperan sebagai alat untuk menelusuri derajat kontribusi variabel independen (X) bekerja secara kolektif dalam memengaruhi variabel dependen (Y) di dalam satu kerangka analisis. Melalui pengujian ini, dapat ditarik gambaran ringkas namun utuh mengenai hubungan seluruh variabel bebas terhadap variabel terikat yang terjadi secara bersamaan. Hasil analisis dari pengujian tersebut kemudian disajikan sebagai berikut: Tabel 6 Hasil Uji Simultan (Uji F) ANOVAa Modeil Reigreission Reisidual Sum of Meian Squareis df Squarei Sig. ,890 3 ,297 22,443 ,000b ,621 47 ,013 Total 1,511 De pe nde nt Variable : Manaje me n Laba Preidictors: (Constan. Ukuran Peirusahaan. Profitabilitas. Peireincanaan Pajak Sumber: Hasil Olah Data, 2025 Hasil analisis mengungkapkan bahwa nilai Fhitung tercatat sebesar 22,443, melampaui Ftabel yang hanya sebesar 2,80 ( = 0,05. df1 = 3. df2 = . , dengan tingkat signifikansi mencapai 0,000. Kondisi ini menegaskan bahwa Fhitung lebih tinggi daripada Ftabel serta nilai signifikansi terletak dibawah kriteria minimum 0,05, sehingga hipotesis alternatif (H. dapat diterima. Dengan demikian. Dengan demikian, perencanaan pajak, tingkat profitabilitas, dan ukuran perusahaan secara bersama-sama terbukti berperan signifikan dalam memengaruhi praktik manajemen laba pada perusahaan subsektor barang industri yang terdaftar di BEI selama periode 2021Ae2023. Uji Koefisien Korelasi . dan Determinasi (R. Paparan berikut menyajikan temuan dari hasil pengolahan data: Tabel 7 Hasil Uji Koefisien Korelasi . dan Determinasi (R. Sumber: Haisl Olah Data, 2025 Berdasarkan hasil diatas. Koefisien korelasi yang tercatat sebesar 0,786 menandakan bahwa keterkaitan antarvariabel terjalin dengan intensitas yang kuat, seolah keduanya saling bergerak dalam irama yang selaras, yang berada dalam rentang korelasi 0,600Ae 0,799. Nilai koefisien determinasi (RA) sebesar 0,618 atau 61,8% mengindikasikan bahwa variabel Perencanaan Pajak. Profitabilitas, dan Ukuran Perusahaan mampu menjelaskan variasi Manajemen Laba sebesar 61,8%, sedangkan sisanya sebesar 38,2% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Selanjutnya, nilai Adjusted RA sebesar 0,584 atau 58,4% menunjukkan bahwa model regresi yang digunakan memiliki tingkat kesesuaian yang baik dan relevan. Sementara itu, nilai Standard Error of the Estimate sebesar 0,10612 menandakan tingkat kesalahan yang masih wajar dalam memprediksi Manajemen Laba. Daftar Pustaka