NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Volume 5. Issue 2. Mei 2024 DOI: https://doi. org/10. 55681/nusra. Homepage: ejournal. id/index. php/nusra p-ISSN: 2715-114X e-ISSN: 2723-4649 PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN IPS PADA SISWA KELAS Vi DI MTs DDI AL-AMIN Ernawati1*. Muh. Yahya1. Erni Rismawanti2. Andi Taskirah3 Program Studi Pendidikan Ekonomi. Sekolah pascasarjana. Universitas Patompo. Indonesia Program Studi Pendidikan Ekonomi. Universitas Patompo. Indonesia Program Studi Pendidikan Biologi. Universitas Patompo. Indonesia *Corresponding author email: ewaty03@gmail. Article History ABSTRACT Received: 18 April 2024 Revised: 5 May 2024 Published: 21 May 2024 This research aims . To determine students' activities using the problem-based learning model in class Vi social studies learning at MTs DDI AL-AMIN. To improve students' critical thinking skills by using the problem-based learning model in class Vi learning at MTs DDI AL-AMIN. This research is classroom action research (PTK) by carrying out 3 cycles, in each cycle there are 4 stages, namely planning, action, observation and reflection. The subjects of this research were class Vi students consisting of 16 students. Data sources obtained from students and teachers. Data collection techniques used were observation, tests and documentation, qualitative and quantitative data analysis techniques. Based on the research results, it shows that . the implementation of the problem-based learning model to improve students' critical thinking skills in cycle I analyzed the images presented, in cycle II used TTS in learning, cycle i used PPT material and learning videos then made mind mapping. in cycle I for the pretest and posttest it reached 14%, then in cycle II it increased to 43% and in cycle i the percentage of completion reached 91% or overall students had reached the KKM. Keywords: Critical Thinking. Integrated Social Sciences Learning. Problem Based Learning (PBL) Copyright A 2024. The Author. How to cite: Ernawati. Yahya. Rismawanti. , & Taskirah. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Melalui Model Problem Based Learning dalam Pembelajaran IPS Pada Siswa Kelas Vi di MTs Ddi Al-Amin. NUSRA: Jurnal Penelitian Dan Ilmu Pendidikan, 5. , 582Ae593. https://doi. org/10. 55681/nusra. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Volume 5. Issue 2. Mei 2024 LATAR BELAKANG Pendidikan merupakan suatu proses perubahan sikap dan perilaku untuk mendewasakan manusia melalui kegiatan pengajaran atau pembelajaran. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Tanpa peradaban tidak akan berkembang, manusia akan sulit meningkatkan mutu dan kualitas kemakmuran dan kesejahteraan. Menurut Nurhadi dan Senduk, . , ada tiga permasalahan dalam pendidikan yaitu : pertama, pembaruan kurikulum, kurikulum harus menyeluruh responsif terhadap dinamika sosial, relevan, tidak berlebihan dan mampu menyatukan keberagaman keperluan dan kemajuan Kedua, kualitas pembelajaran meningkatkan kualitas hasil pendidikan. Dalam lingkup kecil harus ditemukan strategi atau model pembelajaran yang efektif dikelas yang lebih memberdayakan potensi siswa. Penelitian ini lebih cenderung menyoroti permasalahan yang ketiga yaitu efektifitas metode pembelajaran karena diprediksikan oleh praktisi pendidikan sampai hari ini sangat besar pengaruhnya terhadap output dan kualitas belajar siswa. Tujuan pendidikan yaitu menciptakan seseorang yang berkualitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita-cita yang diharapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan serta berbudi pekerti luhur, mempunyai pengetahuan serta keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani dan bertanggung jawab. Tenaga pendidik juga dituntut agar memiliki kemampuan menyampaikan pembelajaran lebih mudah dipahami serta dapat memakai media yang menarik pada proses pembelajaran. Model pembelajaran dalam dunia pendidikan sangat bervariatif, tenaga pendidikan hanya perlu mencari model yang efektif untuk diaplikasikan kepada siswa dikelasnya saat Pembelajaran adalah kegiatan umum yang dilaksanakan oleh seorang guru yang lebih banyak menekankan pada aspek pengetahuan dan pemahaman peserta didik, sedangkan untuk aspek seperti kegiatan analisis, aplikasi, dan evaluasi hanya masuk dalam sebagian kecil dari pembelajaran yang Namun kebanyakan guru masih banyak yang menggunakan model ceramah dan mengarahkan peserta didik untuk mengerjakan soal-soal latihan tanpa adanya pemahaman yang cukup tentang materi Maka dapat disimpulkan peserta didik saat ini belum mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dikarenakan masih banyak kegiatan belajar yang didominasi oleh guru sehingga membuat berpikir kritis peserta didik tidak terlatih dengan baik. Salah satu model pembelajaran adalah Problem Based Learning dengan metode ini siswa mampu kemampuan yang dibutuhkan karena model ini selalu dihadapkan dengan keadaan konkret pada proses pembelajaran dan siswa diharuskan memecahkan masalah yang telah disediakan tersebut dengan berpikir secara kritis kemudian dengan hal itu peserta didik memiliki pengetahuan baru dari hal tersebut. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Melalui Model Problem Based Learning dalam . Oe Ernawati et al. NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Menurut Hill dan Hill, . pembelajaran problem based learning adalah sebagai berikut . Meningkatkan Memperdalam pemahaman siswa, . Menyenangkan siswa dalam belajar, . Mengembangkan sikap kepemimpinan siswa, . Mengembangkan sikap positif siswa, . Mengembangkan rasa percaya diri siswa, . Mengembangkan rasa memiliki, . Mengembangkan keterampilan untk masa yang akan datang, . dan Meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dan kreatif. Penelitian terdahulu banyak menggunakan model ini karena dapat memudahkan siswa untuk menyerap ilmu pengetahuan dan banyak menyajikan masalah nyata untuk diselesaikan oleh siswa, oleh karena itu peneliti menggunakan model problem based learning pada sekolah yang akan diteliti karena sekolah tersebut menggunakan kurikulum 2013 dimana siswa dituntuk untuk berperan aktif. Pada dasarnya pendidikan akan selalu berorientasi menuju masa depan maka penting untuk bisa menekankan inisiatif individu dan modal intelektual pada peserta didik agar bisa menjadi warga negara yang Kemampuan berpikir kritis masuk dalam kategori 4C pada pembelajaran adab 21 yaitu komunikasi . , kerja sama . , keterampilan berpikir kritis . ritical thinking skill. ,dan kreativitas . Selain itu manfaat dari kemampuan berpikir kritis bisa memberikan dorongan dengan memunculkan ide-ide baru terkait permasalahan, memiliki kemandirian dalam menyelesaikan masalah, dan mampu meningkatkan keterampilan peserta didik menggunakan infromasi serta kemampuan komunikasi yang baik untuk mengumpulkan Volume 5. Issue 2. Mei Year Faktor kemampuan berpikir kritis dari peserta didik yaitu, kondisi fisik, motivasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, kecemasan atau emosional peserta didik terhadap sesuatu, perkembangan intelektual peserta didik, dan interaksi atau hubungan yang terjalin antara peserta didik dengan lingkungan yang mana bisa meningkatkan dalam kemampuan berpikir kritis peserta Menurut Robbins, . menjelaskan kemampuan adalah kapasitas seorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan. Kemampuan siswa dapat dilihat dari kapasitas individu itu sendiri, semakin besar kemampuan yang dimiliki oleh seorang individu maka semakin beragam pula tugas pekerjaan yang dapat diselesaikan. Menurut Scheffler kemampuan dapat diartikan sebagai istilah ilmiah yang biasa digunakan secara umum dalam percakapan sehari-hari di dalam Kemampuan pada dasarnya telah tercipta melalui bahasa yang ada di dalam pemikiran siswa yang sering digunakan setiap harinya. Kemampuan yang tinggi terhadap sesuatu bisa di dapatkan dengan cara melakukan latihan dan mempelajarinya dengan tekun sehingga siswa tersebut dapat memiliki kualitas yang baik dalam melakukan sesuatu. Prevette menyatakan bahwa kemampuan adalah kapasitas dalam bertindak, kemampuan seseorang dalam meningkatkan kualitas atau keadaan. Kemampuan ini juga sebagai kekuatan untuk melakukan sesuatu, baik fisik maupun Intelektual ataupun secara legal. Hal tersebut dapat diartikan bahwa kemampuan dapat dimiliki oleh siswa melalui belajar dengan terampil secara teratur dan kecerdasan ilmu pengetahuan atau kesiapan Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Melalui Model Problem Based Learning dalam . Oe Ernawati et al. NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan mental maupun fisik dari siswa tersebut, sehingga dapat mencapai kualitas maupun keadaan yang diinginkan. Problem based learning termasuk dalam pembelajaran yang inovatif dan berbeda dengan model pembelajaran pembelajaran yang banyak melibatkan guru. Berdasarkan dari definisi kemampuan yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan . adalah kesanggupan atau kapasitas siswa dalam melakukan suatu tugas melalui latihan dan mempelajarinya dengan teratur juga secara sistematik, sehingga dapat mencapai kualitas dan keadaan yang diinginkan. Hal ini dapat dilihat dari percakapan yang biasa digunakan dalam kehidupan siswa seharihari baik secara fisik maupun kecerdasan Problem Based Learning merupakan pembelajaran berbasis masalah atau suatu model pembelajaran yang di awali dengan adanya permasalahan dan diakhiri dengan penyelesaian masalah. Dampak positif dari meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik dalam bekerja sama, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja Pengaruh yang lainnya dari model PBL ini adalah meningkatkan meningkatkan kecakapan kolaboratif, dan mengelola sumber yang didapat. Tujuan PBL adalah mengembangkan kemampuan kemandirian dalam belajar dan keterampilan sosial dari peserta didik. Kelebihan yang dimiliki oleh pembelajaran berbasis masalah Volume 5. Issue 2. Mei Year ini adalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menigkatkan kemampuan dalam memecahkan masalah, meningkatkan kemampuan berkerja sama, dan mampu dalam mengolah sumber yang ada. Pembelajaran berbasis masalah juga dapat dimasukkan pada semua mata pelajaran karena model ini mampu untuk bisa meningkatkan semua kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik. Mata pelajaran yang bisa menggunakan PBL dalam proses pembelajaran salah satunya adalah mata pelajaran IPS Terpadu. Dengan banyaknya materi IPS yang menuntut peserta didik untuk bisa berpikir lebih dalam, maka menggunakan PBL untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik membantu meningkatkan kemampuan dalam berargumen dan memecahkan masalah agar bisa memutuskan keputusan yang akan diambil pada suatu permasalahan. Mata pelajaran IPS adalah mata pelajaran yang berkaitan dengan kehidupan sosial setiap orang baik peserta didik ataupun guru IPS juga salah satu disiplin ilmu dan memiliki cabang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, sejarah, ekonomi, geografi, antropologi, kewarganegaraan. Dari hal tersebut akan melahirkan pelaku-pelaku sosial yang akan berpartisipasi dalam pemecahan masalah sosio kebangsaan. Maka dibutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk bisa melakukan analisis, memberikan gagasan, memecahkan masalah dan Selain kemampuan berpikir kritis juga dapat memecahkan masalah dalam kegiatan Dengan mata pelajaran IPS peserta didik juga bisa meningkatkan kemampuan secara emosional, berpikir rasional, memiliki keterampilan sosial dan intelektual, sehingga peserta didik akan mampu membuat suatu keputusan yang tepat Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Melalui Model Problem Based Learning dalam . Oe Ernawati et al. NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan berdasarkan situasi dan kondisi yang terjadi. Mata pelajaran IPS terpadu yang masih dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan, karena memiliki banyak materi sehingga Peserta didik masih pasif dan kurang aktif selama proses belajar, ketika guru memberikan pertanyaan hanya sebagian peserta didik yang bisa menjawab. Berdasarkan observasi di MTs DDI AL-AMIN untuk mata pelajaran IPS guru masih menggunakan model ceramah atau kontekstual yang membuat peserta didik hanya diam mendengarkan dan jarang mengemukakan pendapat. Hal ini dapat terlihat dari proses pembelajaran yang sedang berlangsung di dalam kelas, peserta didik cenderung malas dan masih ada beberapa yang tidak memperhatikan pada saat penyampaian materi. Peserta didik juga masih banyak yang pasif ketika di dalam kelas saat guru memberikan beberapa pertanyaan untuk memancing peserta didik berargumen tetapi yang menanggapi pertanyaan tersebut hanya beberapa peserta didik dan yang lainnya tidak menjawab. Hal tersebut akan membuat peserta didik tidak mengemukakan pendapat, dan tidak cukup mampu dalam memecahkan masalah serta pengambilan keputusan. Selain itu keadaan nyata dari kelas Vi adalah tidak ada tanggapan saat ada pertanyaan, peserta didik mengungkapkan argumen, dan jarang bekerja sama dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu peneliti terdorong untuk melakukan perubahan model pembelajaran yang digunakan dari yang semula menggunakan model ceramah diubah PBL meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berpikir kritis untuk memecahkan Volume 5. Issue 2. Mei Year suatu permasalahan dan kemampuan dalam memutuskan, meningkatkan kemampuan berargumen dan berpendapat setiap peserta Peneliti menggunakan model PBL bisa memberikan dampak yang baik bagi peserta didik, sehingga kemampuan berpikir kritis peserta didik bisa meningkat dan berkembang dengan baik. Berdasarkan permasalahan yang dijelaskan di atas, peneliti berminat untuk Au(Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta didik melalui model problem based learning dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas Vi di MTs DDI AL-AMIN)Ay untuk pembelajaran PBL ini dapat meningkatkan dan menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa, khususnya di kelas Vi. karenakan beberapa siswa terlihat kurang dalam kreatifitas dan keaktifannya di dalam proses pembelajaran, selalu merasa jenuh serta mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa di kelas tersebut. METODE PENELITIAN Jenis dilaksanakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan 3 siklus. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu observasi, tes, dan Teknik Analisis Datanya yaitu . Analisis Kualitatif berupa Analisis data non tes atau data kualitatif mencakup data pengamatan . dan dokumentasi menggunakan teknik analisis deskriptif Analisis deskriptif kualitatif meliputi tiga alur kegiatan yang secara bersamaan dan terus menerus selama dan setelah pengumpulan data, yaitu reduksi data . ata reductio. , penyajian data . ata Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Melalui Model Problem Based Learning dalam . Oe Ernawati et al. NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Volume 5. Issue 2. Mei Year kesimpulan/verifikasi, dan . Analisis Kuantitatif merupakan data yang diperoleh dari hasil tes belajar peserta didik dianalisis Analisis ini dilakukan dengan membandingkan hasil hitung dari statistik deskriptif pada nilai tes kondisi awal, nilai tes siklus I, siklus II, dan siklus i. memiliki kemampuan yang masih rendah dan belum mampu dalam mengemukakan argumen yang mereka miliki. Maka dari itu peneliti melakukan perubahan pada metode pembelajaran untuk bisa memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran PBL pada mata pelajaran IPS Terpadu. HASIL DAN PEMBAHASAN Siklus 1 Gambaran Singkat Lokasi Penelitian Pra Siklus Pada kegiatan pra siklus ini peneliti melakukan tes pada kelas Vi dan melihat kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam mengidentifikasi masalah, membuat pertanyaan, melakukan evaluasi dan analisis, dan menyampaikan argumen. Dan didapatkan hasil yang menyatakan bahwa kelas Vi memiliki nilai yang lebih rendah dalam kemampuan berpikir kritis. Maka penelitian tindakan kelas akan dilakukan pada kelas Vi untuk bisa memecahkan masalah dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Perolehan data kelas Vi tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1: Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Peserta DidikPada Prasiklus Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Definisi dan klarifikasi menilai informasi dan penjelasanSederhana membuat kesimpulan 6,09 6,09 6,13 Berdasarkan dilakukan pada observasi pra siklus pada kelas Vi menunjukkan bahwa pada tahap observasi ditemukan masalah yaitu: Peserta didik tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan pendapat Peserta didik yang masih cenderung Hasil belajar yang masih rendah Guru yang lebih mendominasi kegiatan pembelajaran dan jarang melibatkan peserta didik Pembelajaran kontekstual yang lebih mengarah pada penyelesaian pemahaman peserta didik. Dengan permasalahan yang terjadi diatas maka prosedur penelitian ini di siklus 1 dimulai dari tahap perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi Hasil Pre dan Post Test Siklus I Kemampuan berpikir kritis peserta didik dapat diketahui dengan dilakukannya pengujian pre dan post test yang berisikan 5 soal uraian dan berkaitan dengan materi yang disampaikan dapat dilihat pada tabel 2. Pada tabel 1. dapat terlihat setelah dianalisis data yang diperoleh selama pra siklus untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis peserta didik ternyata masih Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Melalui Model Problem Based Learning dalam . Oe Ernawati et al. NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Tabel 2: Hasil Pre dan Post Test Peserta Didik Pada Siklus I Pre test Jumlah Post test 66,36 Pada tabel di atas menunjukkan kenaikan nilai rata-rata kelas setelah adanya penelitian tindakan kelas dari yang sebelumnya hanya 28% naik menjadi 83% pada post test. Kenaikan jumlah peserta didik yang mencapai KKM sebesar 54%. Nilai yang dicapai masih dalam katergori kurang dan belum mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan oleh peneliti. Jumlah peserta didik yang belum mencapai nilai 75 ke atas juga masih kurang memenuhi Pada pre test jumlah peserta didik yang tuntas sebanyak 5 orang, kemudian pada post test naik menjadi 15 peserta didik. Hasil Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Tabel 3: Hasil Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Pada Siklus I Indikator Kemampuan F Berpikir Kritis Definisi dan klarifikasi 7 Menilai informasi dan 7,5 memberikan penjelasan Membuat kesimpulan 7,86 Volume 5. Issue 2. Mei Year kurang sekali. Kemudian untuk indikator memberikan penjelasan sederhana peserta didik sebesar 11% masih masuk dalam kategori kurang sekali. Selanjutnya indikator kemampuan membuat kesimpulan peserta didik yang paling tinggi dari persentase indikator yang lainnya yaitu sebesar 17% namun ini masih masuk dalam kategori kurang sekali. Kemampuan peserta didik perlu untuk ditingkatkan lagi agar mampu mencapai indikator keberhasilan. Refleksi. Berdasarkan data yang sudah didapatkan pada penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan model problem based learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada mata pelajaran IPS terpadu. Pada siklus I terlaksana dengan baik namun hasil yang didapat dari penilaian peserta didik masih sangat kurang dari KKM dan indikator keberhasilan yang ingin dicapai. Nilai peserta didik pada siklus I untuk pre test masih 55% dan post test 66%, yang masuk dalam kategori cukup dan untuk penilaian kemampuan berpikir kritis juga masih sangat kurang sekali. Dengan melihat nilai peserta didik yang masih banyak di bawah KKM maka perlu mengadakan perbaikan dalam pembelajaran pada siklus II agar nilai dan kemampuan berpikir kritis peserta didik dapat meningkat lebih baik. Siklus II Setelah melihat tabel 3. diketahui rata-rata pada setiap indikator kemampuan berpikir kritis peserta didik. Indikator definisi dan klarifikasi masalah peserta didik sebesar 14% dikategorikan Prosedur penelitian ini di siklus 2 dimulai dari tahap perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi dengan terlebih dahulu melihat hasil refleksi dan evaluasi pembelajaran di siklus 1. Hasil Pre dan Post Test Siklus II Dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dapat dilakukan Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Melalui Model Problem Based Learning dalam . Oe Ernawati et al. NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan dengan pengujian pre test dan post test yang berisikan 5 soal uraian dan berkaitan dengan materi yang disampaikan. Berdasarkan data yang sudah diperoleh, berikut adalah persentase pre dan post test pada siklus II dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4: Rata-Rata Nilai Pre dan Post Test Pada Siklus II Pre test Jumlah Post test 84,31 Pada tabel 4. menunjukkan kenaikan nilai rata-rata kelas setelah adanya penelitian tindakan kelas dari yang sebelumnya hanya 36% naik menjadi 91% pada post test. Kenaikan jumlah peserta didik yang mencapai KKM sebesar 55%. Nilai yang dicapai masih dalam katergori kurang dan belum mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan oleh peneliti. Hasil Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Tabel 5: Hasil Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Pada Siklus II Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Definisi dan klarifikasi Menilai informasi dan 12,05 50% penjelasan sederhana Membuat kesimpulan 11,95 41% Tabel 5. menunjukkan rata-rata yang diperoleh pada setiap indikator kemampuan berpikir kritis peserta didik. Indikator definisi dan klarifikasi masalah peserta didik pada siklus I mencapai persentase rata-rata sebesar 14% yang masuk dalam kategori Volume 5. Issue 2. Mei Year kurang sekali. Kemudian pada siklus II meningkat menjadi 43% namun masih Selanjutnya persentase indikator kemampuan menilai informasi dan memberikan penjelasan sederhana peserta didik pada siklus I sebesar 11% masuk dalam kategori kurang sekali. Kemudian naik pada siklus II sebesar 50% namun masih dalam kategori kurang. Indikator kemampuan membuat kesimpulan peserta didik pada siklus I sebesar 17% dikategorikan kurang sekali. Kemudian pada siklus II naik menjadi 41% dan masih masuk dalam kategori kurang. Dalam hal ini kemampuan berpikir kritis peserta didik perlu untuk ditingkatkan lebih lagi agar mampu mencapai indikator keberhasilan yang sudah ditetapkan. Siklus i Prosedur penelitian ini di siklus 3 dimulai dari tahap perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi dengan terlebih dahulu melihat hasil refleksi dan evaluasi pembelajaran di siklus 2. Hasil pre dan post test pada siklus i Berdasarkan data yang sudah diperoleh, berikut adalah persentase pre dan post test pada siklus i dapat dilihat pada Tabel 6. Hasil Pre dan Post Test Pada Siklus i Jumlah Pre test Post test 89,77 Pada tabel 6. menunjukkan kenaikan nilai rata-rata kelas setelah adanya penelitian tindakan kelas dari yang sebelumnya pada pre test hanya 41% naik menjadi 100% pada Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Melalui Model Problem Based Learning dalam . Oe Ernawati et al. NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan post test. Kenaikan jumlah peserta didik yang mencapai KKM sebesar 59%. Nilai yang dicapai sudah masuk dalam kategori baik dan sudah mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan oleh peneliti. Hal pemahaman peserta didik meningkat seletah pembelajaran menggunakan PBL berjalan dengan baik Volume 5. Issue 2. Mei Year Tabel 7: Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Pada Siklus i Hasil Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik . Definisi dan Klarifikasi Masalah Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Definisi dan klarifikasi 14,88 Menilai informasi dan memberikan penjelasan 14,91 Membuat kesimpulan 14,95 Tabel 8: Perolehan Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Pada Pra Siklus. Siklus I. Siklus II, dan Siklus i Indikator Kemampuan Berpikir Kritis PesertaDidik Definisi dan Klarifikasi Masalah Menilai Informasi dan Memberikan Penjelasan Sederhana Membuat Kesimpulan Pra Siklus Siklus I Siklus II 6,09 10% 14,88 6,09 12,05 14,91 6,13 7,86 17% 11,95 14,95 Tabel 8. dapat terlihat peningkatan yang signifikan untuk kemampuan berpikir kritis dengan menggunakan media PPT dan video pembelajaran serta dalam kegiatan kelompom membuat mind mapping dari materi yang sudah didapatkan membuat peserta didik menjadi lebih aktif dari sebelumnya dan lebih banyak menuangkan pemikiran mereka pada tugas analisis yang Maka dengan ini pembelajaran Siklus i dengan menggunakan model problem-based learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik sudah terlaksana dengan baik dan memberikan hasil yang sangat baik untuk peserta didik dan guru. Dengan menggunakan model PBL mampu meningkatkan kemampuan yang dimiliki peserta didik dan meningkatkan aktifitas peserta selama pembelajaran berlangsung. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Melalui Model Problem Based Learning dalam . Oe Ernawati et al. NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Volume 5. Issue 2. Mei Year 89% 91% 95% 14% 11% 17% Siklus I Siklus II Siklus i Definisi danKklarifikasi Masalah Menilai Informasi dan Memberikan Penjelasan Sederhana MembuatKesimpulan Gambar 1. Persentase Perbandingan Kemampuan Berpikir Kritis Pada Siklus I. Siklus II, dan Siklus i Gambar 1. menunjukkan rata-rata yang diperoleh pada setiap indikator kemampuan berpikir kritis peserta didik. Indikator definisi dan klarifikasi masalah peserta didik pada siklus I mencapai persentase rata-rata sebesar 14% yang masuk dalam kategori kurang sekali. Kemudian pada siklus II meningkat menjadi 43% namun masih dikategorikan kurang dan meningkat lagi pada siklus i sebesar 89% masuk dalam kategori baik. Selanjutnya persentase indikator kemampuan menilai informasi dan memberikan penjelasan sederhana peserta didik pada siklus I sebesar 11% masuk dalam kategori kurang sekali. Kemudian naik pada siklus II sebesar 50% namun masih dalam kategori kurang dan pada siklus i mengalami kenaikan menjadi 91% sehingga dikategorikan baik sekali. Indikator kemampuan membuat kesimpulan peserta didik pada siklus I sebesar 17% dikategorikan kurang sekali. Kemudian pada siklus II naik menjadi 41% dan masih masuk dalam kategori kurang, lalu pada siklus i naik menjadi 95% dan masuk kategori baik Dalam hal ini kemampuan berpikir kritis peserta didik sudah mengalami kenaikan yang signifikan sehingga pada siklus i kemampuan tersebut mampu dan berhasil mencapai indikator keberhasilan. Berdasarkan data yang sudah didapatkan pada penelitian PTK dengan menggunakan model problem based learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada mata pelajaran IPS terpadu. Pada siklus i terlaksana dengan baik dan hasil yang didapat dari penilaian pre test peserta didik yang sebesar 71% masih kurang dari KKM dan indikator keberhasilan yang ingin Namun pada nilai post test terjadi kenaikan sebesar 90% yang sudah melebihi dari KKM dan berhasil mencapai indikator Maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran pada siklus i sudah terlaksana sesuai RPP dan terjadi peningkatan pada nilai tes peserta didik. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Melalui Model Problem Based Learning dalam . Oe Ernawati et al. NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Pada siklus i ini sudah tidak ada permasalahan yang muncul selama proses pembelajaran dengan menggunakan model PBL. Peserta didik sudah sepenuhnya memperhatikan selama kegiatan belajar, selalu menjawab jika terdapat pertanyaan, dan kelas mampu terkondisikan dengan Kemudian untuk kemampuan berpikir kritis peserta didik sudah banyak mengalami peningkatkan seperti dari yang belum bisa berargumen setelah pembelajaran menjadi lebih lancar dalam berargumen dan masih banyak lagi. KESIMPULAN Simpulan dalam penelitian ini, yaitu: Aktivitas Peserta didik melalui model problem based learning dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas Vi di MTs DDI AlAmin Tahun 2022/2023 dilaksanakan dengan 3 siklus yang pada setiap siklusnya terdiri dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Pada siklus I dilakukan dengan menganalisis Perdagangan antardaerah/antarpulau dan perdagangan Pada pre test siklus I ini terdapat 5 peserta didik yang tuntas adalah 28% dan yang tidak tuntas terdapat 10 peserta didik adalah 94%. Pada Post Test naik menjadi 10 peserta didik yang tuntas adalah 83% dan yang tidak tuntas terdapat 5 peserta didik adalah 39%. Kemudian pada siklus II pembelajaran dilakukan dengan menggunakan TTS (Teka Teki Silan. dimana peserta didik bebas untuk mengemukakan pemikiran mereka. Peserta didik pada pre test siklus II persentase yang didapatkan 7 peserta didik yang tidak tuntas adalah 36% d a n y a n g tuntas terdapat 7 peserta didik adalah 64%, kemudian pada Post Test naik menjadi 12 peserta didik yang tuntas adalah 91 % dan yang tidak tuntas Volume 5. Issue 2. Mei Year terdapat 3 peserta didik adalah 9 %. Sedangkan pada Siklus i proses belajar dilakukan dengan menggunakan PPT (Powert poin. dan video pembelajaran yang bisa digunakan untuk kegiatan analisis. Pada pre test terdapat 10 peserta didik yang tuntas adalah 23% dan yang tidak tuntas terdapat 5 peserta didik adalah 77% untuk post test 100% semua peserta didik sudah tuntas, dan . Peningkatan kemampuan berpikir kritis menunjukkan adanya perubahan positif pada peserta didik dan pembelajaran IPS terpadu. Selain itu kemampuan berpikir kritis peserta didik juga Kemudian menggunakan model PBL banyak peserta didik yang sudah mampu dalam melakukan memberikan pertanyaan dan menjawab, serta membuat kesimpulan sehingga mencapai indikator keberhasilan pada kemampuan berpikir kritis peserta didik. DAFTAR PUSTAKA