Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3158-3166 Perbandingan Kriteria danp Sub Kriteria Pengembangan Komoditi Unggulan Agribisnis di Polewali Mandar Comparison of Criteria and Sub Criteria for Agribusiness Leading Commodity Development in Polewali Mandar Bulkis*. Muh. Arman Yamin Pagala. Nurdiyah Jurusan Agribisnis. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Terbuka (UT) *Email: bulkis@ecampus. (Diterima 13-05-2025. Disetujui 26-07-2. ABSTRAK Kesesuaian agroekologi, memiliki nilai ekonomi tinggi, sesuai dengan sosial budaya setempat dan memiliki teknologi dan infrastruktur yang baik. Salah satu pendekatan wilayah basis pengembangan komoditas unggulan daerah memiliki keunggulan kompetitif untuk menghasilkan satu atau beberapa komoditi pangan. Daya dukung agroekologi yang sesuai akan menjadi penyumbang utama pembangunan pertanian daerah. Maka itu diperlukan metode pengembangan wilayah yang tepat, pengembangan agribisnis berbasis komoditi unggulan akan memiliki arti penting bagi penyusunan sistem pembangunan daerah, khususnya Kabupaten Polewali Mandar. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Polewali Mandar mulai Januari hingga Desember 2024. Metode pengumpulan data dengan wawancara, diskusi kelompok dan penelusuran dokumen. Teknik pengambilan sampling responden berdasarkan purposive sampling. Pemilihan prioritas komoditas unggulan dilakukan dengan menggunakan metode AHP. Shift share, perhitungan produktifitas, serta analisis kuantitatif. Hasil analisis matrix perbandingan kriteria maka pertimbangan agroekosistem memiliki rata-rata nilai elgen 0,49, menunjukan bahwa elemen ini harus diperhatikan dalam menentukan skala prioritas yang Kemudian pertimbangan kedua aspek ekonomi dengan nilai rata-rata elgen 0,23, sumber daya manusia 0. 16, sosial budaya 0,09 dan daya dukung 0,04. Analisis matrix perbandingan alternatif pada aspek ekonomi, agroekosistem, sosial budaya, sumber daya manusia dan daya dukung komoditi padi, kakao, kelapa dan kopi memiliki nilai tertinggi. Terdapat beberapa komoditi perlu diganti seperti pengembangan komoditi jagung dan pepaya. Nilai preferensi komoditas berdasarkan pertimbangan kriteria dan sub kriteria penilaian, tanaman padi menjadi pilihan utama dengan nilai prefrensi komoditi yang lebih tinggi yaitu 0,4, kelapa dengan nilai 0,2, kakao 0,1, kopi 0,1, jagung 0,007 dan pepaya 0,004. Kata kunci: Perbandingan. Komoditi. Unggulan. Agribisnis ABSTRACT Agroecological suitability, has high economic value, is in accordance with local socio-culture and has good technology and infrastructure. One of the regional approaches based on the development of regional superior commodities has a competitive advantage to produce one or several food Appropriate agroecological carrying capacity will be a major contributor to regional agricultural development. Therefore, the right regional development method is needed, the development of superior commodity-based agribusiness will have an important meaning for the preparation of regional development systems, especially Polewali Mandar Regency. The research was conducted in Polewali Mandar Regency from January to December 2024. Data collection methods were interviews, group discussions and document searches. Respondent sampling technique based on purposive sampling. Priority selection of superior commodities is carried out using the AHP method. Shift share, productivity calculations, and quantitative analysis. The results of the comparison matrix analysis of the criteria then agroecosystem considerations have an average elgen value of 0. indicating that this element must be considered in determining the priority scale developed. Then the second consideration is the economic aspect with an average elgen value of 0. 23, human resources 16, socio-cultural 0. 09 and carrying capacity 0. Analysis of alternative comparison matrix on economic, agroecosystem, socio-cultural, human resources and carrying capacity aspects of rice, cocoa, coconut and coffee commodities has the highest value. There are some commodities that need to be replaced such as the development of corn and papaya commodities. Commodity preference values Perbandingan Kriteria dan Sub Kriteria Pengembangan Komoditi Unggulan Agribisnis di Polewali Mandar Bulkis. Muh. Arman Yamin Pagala. Nurdiyah based on consideration of criteria and sub-criteria, rice is the main choice with a higher commodity preference value of 0. 4, coconut with a value of 0. 2, cocoa 0. 1, coffee 0. 1, corn 0. 007 and papaya Keywords: Comparative. Commodities. Excellence. Agribusiness PENDAHULUAN Penentuan komoditas unggulan daerah merupakan langkah awal menuju pembangunan yang berpijak pada konsep efisiensi. Langkah menuju efisiensi dapat ditempuh dengan fokus pada pengembangan sektor ekonomi yang mempunyai keunggulan komparatif terhadap daerah Penetapan komoditas unggulan tentu saja harus berdasarkan kriteria yang sesuai dengan kondisi wilayah setempat. Kriteria-kriteria tersebut antara lain kesesuaian agroekologi, memiliki nilai ekonomi tinggi, sesuai dengan sosial budaya setempat dan memiliki teknologi dan infrastruktur yang baik. Namun, penentuan komoditas unggulan pertanian di Kabupaten Polewali Mandar selama ini hanya berdasarkan potensi produksi dari komoditas tersebut, tanpa berdasarkan kreiteria- kriteria penetapan yang sesuai dengan wilayah di Kabupaten Polewali Mandar. Selain itu, pemerintah daerah setempat belum secara spesifik melakukan pemetaan wilayah-wilayah sentra produksi komoditas pertanian. Hal ini tentu memiliki kelemahan dalam menunjang pengembangan agribisnis di wilayah tersebut. Kelemahan tersebut antara lain: . Komoditas terpilih tidak sesuai dengan sosial budaya masyarakat setempat, . komoditas terpilih memiliki nilai ekonomi yang rendah, . Komoditas yang terpilih tidak didukung oleh teknologi dan infrastruktur sehingga tidak ada kegiatan nilai tambah yang dapat meningkatkan pendapatan petani, sehingga dapat mengambat perkembangan agribisnis dari subsektor hulu hingga hilir. Pendekatan wilayah basis pengembangan agribisnis komoditas unggulan daerah adalah dalam satuan wilayah Kabupaten. Satu Kabupaten dipandang sebagai satu kesatuan wilayah pengembangan yang memiliki keunggulan kompetitif untuk menghasilkan satu atau beberapa komoditi pangan. Kabupaten dengan daya dukung agroekologi yang sesuai akan menjadi penyumbang utama pembangunan pertanian daerah. Konsentrasi wilayah pengembangan komoditas utama di beberapa Kabupaten sentra . dengan kondisi agroekologi yang sesuai akan mempermudah pengembangan komoditi-komoditi tersebut. Pengetahuan tentang lokasiAelokasi (Kecamata. basis akan mempermudah kemungkinan pengembangan untuk memenuhi target kenaikan produksi dengan investasi yang lebih efisien. Kajian tentang potensi unggulan yang dimiliki tiap wilayah tersebut dapat ditentukan metode pengembangan wilayah yang tepat. Pengembangan agribisnis berbasis komoditi unggulan akan memiliki arti penting bagi penyusunan sistem pembangunan daerah, khususnya Kabupaten Polewali Mandar. Secara sederhana konsep pengembangan wilayah perlu dilakukan dalam perencanaan perdesaan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan memperkuat masyarakat di lapisan bawah agar dapat mempengaruhi pasar secara berkelanjutan (Maryati 2. Diartikan sebagai sektor ekonomi yang aktifitasnya menyebabkan suatu wilayah itu tetap hidup, tumbuh dan berkembang atau sektor ekonomi yang pokok disuatu wilayah yang dapat menghidupi wilayah tersebut beserta masyarakatnya. Basis ekonomi memainkan peran yang vital di dalam menentukan tingkat pendapatan Secara umum tujuan yang ingin dicapai adalah menentukan arah prioritas untuk pengembangan agribisnis komoditas unggulan di Polewali Mandar, dengan: . menganalisis hirarki permasalahan yang dihadapi komodi unggulan agribisnis di Polewali Mandar, . menganalisis matrix perbandingan berdasarkan kriteria dan sub kriteria komoditi unggulan agribisnis di Polewali Mandar, . nilai prefrensi komoditi unggulan. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di Kabupaten Polewali Mandar selama 1 tahun yaitu Januari hingga Desember 2024. Metode pengumpulan data dilakukan melalui beberapa cara yaitu, wawancara, diskusi kelompok serta penelusuran dokumen. Wawancara ditujukan kepada pihak-pihak yang terkait dengan penelitian ini seperti petani dan kelompok tani. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. Badan Penyuluhan Pertanian tingkat Kecamatan, serta para ahli yang memiliki kepakaran dibidang pertanian. Diskusi kelompok Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3158-3166 dilakukan untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi petani. Wawancara diarahkan untuk mendapatkan bahan analisa mengenai sosial ekonomi masyarakat tani dan penilaian bobot kepentingan alternatif pencapaian tujuan dengan proses hirarki analitik. Teknik pengambilan sampling responden berdasarkan snow ball sampling disetiap komoditi unggulan yang dikembangkan, sehingga terdapat 163 responden dari komoditi yang dikembangkan. Metode analisis kuantitatif dilakukan untuk mengidentifikasi sektor basis dan penyebarannya di Kabupaten Polewali Mandar. Sedangkan analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui prioritas komoditas unggulan di Kabupaten Polewali Mandar yang di gabungkan dengan analisis kuantitatif. Pemilihan prioritas komoditas unggulan dilakukan dengan menggunakan metode AHP. Metode AHP didasarkan pada Saaty . Data yang dianalisis diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner terhadap para responden terpilih. HASIL DAN PEMBAHASAN Analytic Hierarchy Process (AHP) Pada analisis Analytic Hierarchy Process (AHP), yang dijadikan sampel penelitian adalah komoditi utama, sebagai komoditi unggulan yang di dukung dengan beberapa model pendukung dalam keputusan yang akan menguraikan masalah multi faktor atau multri kriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki. Pada gambar 2 mendefenisikan masalah dan menentukan pemecahan masalah yang diinginkan, berdasarkan kriteria dan sub kriteria yang ada. Pada komoditas unggulan atau utama yang dikembangkan produsen/petani di Polewali Mandar. Penetapan komoditas unggulan di dasarkan atas 5 kriteria, pertama Ekonomi yang terdiri dari sub kriteria. ditingkat produsen, perdagangan dan pengolahan. Kedua. Agroekosistem yang terdiri dari sub kondisi lahan yang dikembangkan, produksi, produktivitas dan trend produksi. Ketiga. Sosial Budaya yang tediri dari sub kriteria. dapat diterima masyarakat lokal telah diusahakan. Keempat. Sumber Daya Manusia terdiri dari sub kriteria. pengetahuan dan keterampilan petani. Kelima. Daya Dukung yang tediri dari sub kriteria. modal, pasar infus dan output, teknologi dan lembaga yang mendukung, menyerap tenaga kerja dan pelaku usaha. Sehingga matrik perbandingan berpasangan antara kriteria dan elemen yang dibandingkan berjumlah 30 kali penilaian sebagaimana pada gambar 1. Kakao Kopi Jagung Gambar 1. Susunan Hirarki Permasalahan yang Dihadapi Sumber: Data primer setelah diolah . Perbandingan Kriteria dan Sub Kriteria Pengembangan Komoditi Unggulan Agribisnis di Polewali Mandar Bulkis. Muh. Arman Yamin Pagala. Nurdiyah Berdasarkan hasil penilaian skala perbandingan berpasangan krtiteria, berdasarakan pertimbangan sub kriteria kondisi pertanian di Polewali Mandar, pada tabel 2 menunjukan dari rata-rata nilai elgen bahwa elemen kriteria agroekosistem menunjakan nilai lebih tinggi yaitu 0,49 dari elemen kriteria lainnya. Kondisi ini menggambarkan bahwa faktor kondisi lahan pertanian sangat menunjang komoditas unggulan pertanian di Polewali Mandar, produktivitas dan produksi dalam menaikan trend produksi setiap tahunnya. Lahan merupakan salah satu bagian agroekosistem yang mempengaruhi pola pertanian disetiap wilayah, untuk menentukan skala periortas petani. Lahan merupakan salah satu faktor produksi, yaitu tempat dihasilkan produk pertanian yang memiliki sumbangan terhadap usaha tani di mana banyak sedikitnya prnoduksi dari usaha tani salah satunya di-pengaruhi oleh luas sempitnya lahan yang digunakan (Harini et al. Kriteria kedua yaitu ekonomi dengan nilai 0,23, komoditi yang dikembangkan secara ekonomi berdampak pada pendapatan dan lingkungan sekitarnya seperti dapat menyerap tenaga kerja lokal, serta tumbuh industri kecil . ome industr. dan menengah di daerah. Serta dapat meningkatkan daya saing melalui keunggulan komperatif, yang memberikan kontribusi dalam pembentukan PDB dan kesempatan kerja serta merupakan sumber pertumbuhan baru yang signifikan ((Pusation dan Technology, 2. Kriteria ketiga daya dukung, fasilitas infrastruktur dan suprastruktur pertanian harus menunjang komoditi yang dikembangkan oleh petani, sarana produksi, teknologi, kebijakan pemerintah. Matrix Perbandingan Kriteria dan Sub Kriteria Komoditi Unggulan Hasil penilaian skala perbandingan berpasangan krtiteria, berdasarakan pertimbangan sub kriteria kondisi pertanian di Polewali Mandar, pada tabel 2 menunjukan dari rata-rata nilai elgen bahwa elemen kriteria agroekosistem menunjakan nilai lebih tinggi yaitu 0,49 dari elemen kriteria lainnya. Kondisi ini menggambarkan bahwa faktor kondisi lahan pertanian sangat menunjang komoditas unggulan pertanian di Polewali Mandar, produktivitas dan produksi dalam menaikan trend produksi setiap tahunnya. Lahan merupakan salah satu bagian agroekosistem yang mempengaruhi pola pertanian disetiap wilayah, untuk menentukan skala periortas petani. Lahan merupakan salah satu faktor produksi, yaitu tempat dihasilkan produk pertanian yang memiliki sumbangan terhadap usaha tani di mana banyak sedikitnya produksi dari usaha tani salah satunya di-pengaruhi oleh luas sempitnya lahan yang digunakan (Harini et al. Kriteria kedua yaitu ekonomi dengan nilai 0,23, komoditi yang dikembangkan secara ekonomi berdampak pada pendapatan dan lingkungan sekitarnya seperti dapat menyerap tenaga kerja lokal, serta tumbuh industri kecil . ome industr. dan menengah di Serta dapat meningkatkan daya saing melalui keunggulan komperatif, yang memberikan kontribusi dalam pembentukan PDB dan kesempatan kerja serta merupakan sumber pertumbuhan baru yang signifikan ((Pusation dan Technology, 2. Kriteria ketiga daya dukung, fasilitas infrastruktur dan suprastruktur pertanian harus menunjang komoditi yang dikembangkan oleh petani, sarana produksi, teknologi, kebijakan pemerintah. Kriteria Ekonomi Agroekosistem Sosial Budaya SDM Daya Dukung Jumlah Tabel 1. Matrix Perbandingan Dengan Kriteria Ekonomi Agroekosistem Sosial SDM Budaya Daya Dukung Tabel 2. Nilai Elgen Nilai Elgen 0,22 0,65 0,07 0,04 0,02 0,19 0,56 0,11 0,08 0,07 Jumlah 0,21 0,35 0,17 1,13 0,32 0,52 0,39 2,43 0,11 0,03 0,11 0,43 0,32 0,09 0,28 0,80 0,05 0,01 0,06 0,22 Sumber: Data primer setelah diolah . Rata-Rata 0,23 0,49 0,09 0,16 0,04 Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3158-3166 Kriteria ketiga Sumber Daya Manusia (SDM), lebih mempertimbangkan pada aspek pengetahuan dan keterampilan pada komoditas yang dikembangkan oleh petani maupun pelaku usaha disektor pertanian, dengan nilai elgen rata-rata 0,16. Kondisi ini lebih disebabkan karena beberapa komoditas yang telah dibudidayakan ditingkat produsen/petani, masih perlu ditingkatkan pada aspek pengetahuan budidaya serta pengolahannya. Studi menunjukkan bahwa investasi dalam pengembangan SDM petani dapat meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan. Melalui pelatihan yang tepat, petani dapat memahami praktik pertanian terbaik, memanfaatkan inovasi teknologi, dan mengelola sumber daya alam dengan lebih efisien (Kurdi et al. Kriteria keempat, elemen yang perlu dipertimbangkan adalah sosial budaya dengan nilai 0,09. Artinya, komoditi yang akan dikembangkan telah lama dibudidaya oleh masyarakat setempat. Dapat diterima sebagai komoditi unggulan secara ekonomi dapat meningkatkan ekonomi petani, seperti tanaman kelapa dalam, kakao, padi dan kopi. Kriteria kelima daya dukung, sebagai suport system dalam meningkatkan agribisnis komoditas unggulan di Polewali Mandar. Dengan nilai CI dibawah O. 1 menunjukan bahwa matrix perbandingan pendefenisian masalah dengan kriteria sub kriteria dikatakan konsisten (Jadiaman Parhusip, 2. Dimana nilai hasil penelitian CI yaitu O,O8 dikatakan konsisten, dan solusi yang dihasilkan optimal CR = 0,07. Nilai Lamda Max = 5,33. CI = 0,08, dan CR = 0,07. Tabel 3. Matrix Perbandingan Alternatif Pada Kriteria Ekonomi Ekonomi Nilai Elgen Kelapa 0,03 Kakao Kopi Padi Jagung Pepaya 0,05 0,21 0,07 0,29 0,16 0,87 RatRata 0,14 0,14 0,31 0,10 0,17 0,26 1,28 0,21 0,05 0,10 0,16 0,17 0,16 0,69 0,11 0,69 0,31 0,48 0,29 0,26 2,53 0,42 0,05 0,03 0,10 0,06 0,11 0,36 0,06 0,03 0,05 0,27 0,05 0,03 0,03 0,10 Jumlah Sumber: Data primer setelah diolah . Hasil analisis matrix perbandingan alternatif kriteria ekonomi pada tabel 4 dengan beberapa komoditas utama di Polewali Mandar menunjukan bahwa tanaman padi memiliki rata-rata nilai elgen tertinggi yaitu 0,42, menunjukan bahwa dari aspek ekonomi. Komoditi padi dapat meningkatkan pendapatan, pengolahan serta perdagangan di Polewali Mandar. Artinya komoditi ini masih perlu dipertahankan sebagai komoditi unggulan yang dapat meningkatkan masyarakat setempat, disusul komoditi Kopi. Kakao. Kelapa. Jagung dan Pepaya. Dengan nilai CI = 0,1 menunjukan bahwa jawaban dari responden konsisren, untuk nilai CR = 0,1 menggambarkan bahwa komoditi padi mampu secara konsisten memberikan solusi yang optimal. Tabel 4. Matrix Perbandingan Alternatif Pada Kriteria Agroekosistem Nilai Elgen Jumlah Rata-Rata Agroekosistem Kelapa Kakao Kopi Padi Jagung 0,19 0,06 0,06 0,58 0,06 0,30 0,10 0,03 0,51 0,03 0,24 0,24 0,08 0,39 0,03 0,08 0,11 0,11 0,53 0,11 0,20 0,20 0,20 0,33 0,07 0,23 0,23 0,14 0,23 0,14 1,23 0,93 0,61 2,56 0,43 0,21 0,16 0,10 0,43 0,07 Pepaya 0,04 0,02 0,03 0,08 0,02 0,05 0,23 0,04 Sumber: Data primer setelah diolah . Perbandingan Kriteria dan Sub Kriteria Pengembangan Komoditi Unggulan Agribisnis di Polewali Mandar Bulkis. Muh. Arman Yamin Pagala. Nurdiyah Analisis matrix perbandingan alternatif kriteria ekonomi pada tabel 5 dengan beberapa komoditas utama di Polewali Mandar menunjukan bahwa tanaman padi memiliki rata-rata nilai elgen tertinggi yaitu 0,43, menunjukan bahwa dari aspek agroekosistem komoditi padi sangat ditunjang sub sistem penunjang seperti irigasi yang baik, pola tanam yang teratur, sarana produksi yang memadai, dukungan pemerintah, industri pengolahan beras, akses pasar potensial dan kesesuaian lahan. Kondisi ini mendorong trend produksi padi lebih tinggi dari komoditi lain. Kemudian ada komoditi Kelapa nilai 0,21. Kakao nilai 0,16. Kopi nilai 0,01. Jagung nilai 0,07 dan Pepaya dengan nilai 0,04. Dengan nilai CI = 0,12 menunjukan bahwa jawaban dari responden konsisten, untuk nilai CR = 0,10 menggambarkan secara konsisten memberikan solusi yang optimal. Sosial Budaya Kelapa Kakao Tabel 5. Matrix Perbandingan Alternatif Pada Kriteria Sosial Budaya Nilai Elgen Jumlah Rata-Rata 0,13 0,38 0,06 0,19 0,26 0,18 0,13 0,13 0,19 0,19 0,16 0,26 0,93 1,33 0,16 0,22 Kopi Padi 0,04 0,38 0,09 0,56 0,09 0,44 0,08 0,39 0,32 0,19 0,26 0,16 0,89 2,12 0,15 0,35 Jagung 0,04 0,06 0,02 0,13 0,06 0,11 0,42 0,07 0,04 0,02 0,13 0,03 0,05 0,31 0,05 Pepaya 0,04 Sumber: Data primer setelah diolah . Tabel 6 analisis matrix perbandingan alternatif kriteria ekonomi dengan beberapa komoditas utama di Polewali Mandar menunjukan bahwa tanaman padi memiliki rata-rata nilai elgen tertinggi yaitu 0,35, telah lama di budidayakan oleh masyarakat secara turun temurun sebagai komoditi pangan utama keluarga sebelumnya dikenal dengan sistim tanam padi gogo. Kakao menjadi komoditi yang kedua sangat diterima masyarakat setempat dengan nilai 0,22, kakao telah lama menjadi komoditi yang memperbaiki kesejahteraan petani terkhusus untuk daerahdaerah yang memliki kondisi lahan sangat mendukung seperti daerah Kecamatan Tutar. Allu dan Tapango. Kelapa dengan nilai 0,16. Kopi nilai 0,15. Jagung nilai 0,07 dan Pepaya dengan nilai 0,05. Dengan nilai CI = 0,2 menunjukan bahwa rata-rata jawaban dari responden konsisten, dengan nilai CR = 0,1 menggambarkan bahwa beberapa komoditi utama diterima sebagai komoditi unggulan di Polewali Mandar. Tabel 6. Matrix Perbandingan Alternatif Pada Kriteria SDM SDM Nilai Elgen Jumlah Rata-Rata Kelapa Kakao 0,09 0,28 0,06 0,18 0,31 0,20 0,13 0,13 0,03 0,31 0,13 0,19 0,75 1,29 0,12 0,21 Kopi 0,03 0,09 0,10 0,13 0,20 0,19 0,75 0,12 Padi 0,28 0,55 0,31 0,39 0,31 0,31 2,14 0,36 Jagung 0,28 0,06 0,05 0,13 0,10 0,13 0,75 0,12 Pepaya 0,05 0,06 0,03 0,08 0,05 0,06 0,33 0,06 Sumber data: Data primer setelah diolah, 2024. Tabel 7 analisis matrix perbandingan alternatif pada kriteria SDM dengan beberapa komoditas utama di Polewali Mandar menunjukan bahwa komoditi padi memiliki rata-rata nilai elgen tertinggi yaitu 0,36. Artinya tingkat pengetahuan dan keterampilan petani membudidayakan tanaman padi sebagai komoditi unggulan, lebih baik dari komoditi tanaman lainnya. Baik dari aspek budidayanya, teknologi yang digunakan, serta pola tanam yang digunakan untuk meningkatkan nilai tambah petani (Pagala 2. Kakao menjadi komoditi yang kedua dari aspek SDM dimiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik, kondisi ini lebih menunjukan karena kakao memiliki pangsa pasar yang cukup besar, sehingga petani atau produsen mengelolanya dengan profesional dengan nilai perbandingan alternatifnya yaitu 0,21. Untuk Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3158-3166 kelapa dalam 0,12. Kopi 0,12. Jagung 0,12 dan Pepaya dengan nilai 0,06. Dengan nilai CI = 0,1 menunjukan bahwa rata-rata jawaban dari responden konsisten, dengan nilai CR = 0,1 menggambarkan bahwa jawaban dan solusi yang ditawarkan optimal. Tabel 7. Matrix Perbandingan Alternatif Pada Kriteria Daya Dukung Daya Dukung Kelapa Kakao Kopi Padi Jagung Pepaya Nilai Elgen 0,13 0,07 0,04 0,65 0,07 0,04 0,28 0,14 0,07 0,42 0,05 0,05 0,31 0,21 0,10 0,31 0,03 0,03 Jumlah 0,09 0,15 0,15 0,44 0,09 0,09 0,14 0,21 0,21 0,34 0,07 0,03 0,18 0,18 0,18 0,29 0,12 0,06 Rata-Rata 1,12 0,94 0,75 2,46 0,42 0,31 0,19 0,16 0,12 0,41 0,07 0,05 Sumber data: Data primer yang diolah, 2024. Tabel 8 analisis matrix perbandingan alternatif pada kriteria daya dukung dengan sub kriteria modal, teknologi, mampu menyerap tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan pelaku usaha. Maka komoditi jagung Komoditi padi memiliki nilai rata-rata elgen 0,41, menunjukan bahwa sub sistem sarana pendukung untuk komoditi ini sangat menunjang dalam peningkatan Kemudian disusul komoditi lain seperti Kelapa dengan nilai rata elgen 0,19, kakao 0,16, kopi 0,12, jagung 0,07 dan pepaya 0,05. Dengan nilai CI = 0,1 menunjukan bahwa ratarata jawaban dari responden konsisten, dengan nilai CR = 0, menggambarkan bahwa jawaban dan solusi yang ditawarkan optimal. 0,45 0,35 0,25 Nilai Prefrensi 0,15 0,05 Kelapa Cacao Kopi Padi Jagung Pepaya Gambar 2. Nilai Preferensi Komoditi Unggulan di Polewali Mandar Sumber: Data primer yang diolah . Nilai preferensi ini menggambarkan sejauh mana satu alternatif yang lebih diinginkan atau lebih baik dibandingkan alternatif lain berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, dari 6 komoditas utama yang dibudidayakan petani di Polewali Mandar, maka nilai preferensi yang tertinggi adalah komoditi padi yaitu 0,43, kelapa 0,24, kakao 0,17, kopi 0,11, jagung 0,07 dan pepaya 0,04. Baik itu pada aspek kriteria ekonomi, agroekosistem, sosial budaya, sumber daya manusia dan daya dukung. Menunjukan bahwa komoditi yang memiliki nilai prefrensi tinggi, mempunyai pangsa pasar yang kuat tehadap permintaan konsumen, baik di pasar lokal. Perbandingan Kriteria dan Sub Kriteria Pengembangan Komoditi Unggulan Agribisnis di Polewali Mandar Bulkis. Muh. Arman Yamin Pagala. Nurdiyah regional maupun nasional. Komoditi dengan prefrensi tinggi menunjukan bahwa permintaan terhadap komoditi seperti padi, kelapa dan kakao lebih besar dari komoditi lainnya, dan sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan petani, karena petani akan mendapatkan harga yang relatif stabil atau meningkat. Rata-rata konsumsi beras lokal/ketan per kapita seminggu tahun 2023 1. 558 kg, tahun 2024 1. 521 kg secara nasional sangat tinggi (BPS, 2. , sementara ketersedian lokal seperti beras mengalami penurunan. Data BPS Polewali Mandar . , produksi padi sebesar 294, 03 ribu ton gabah kering giling, kalau dibandingkan produksi pada pada tahun 2022 sebesar 353, 51 ribu ton gabah kering giling. Terjadi penurunan sebanyak 59, 48 ribu ton atau sebesar 16, 83 persen. Kondisi ini juga terjadi pada komoditi kakao, tingkat permintaan kako di pasar dunia setiap tahunnya meningkat sebesar 3 %, sementara produksi kakao lokal di Polewali Mandar mengalami penurunan. Permasalahan yang dihadapi dalam perkebunan rakyat di Kabupaten Polewali Mandar adalah tidak terintegrasinya rantai pasok, rendahnya kinerja usaha perkebunan kakao rakyat dan rendahnya daya saing kakao, serta rantai integrasi pasok yang belum diterapkan dalam pengembangan industri kakao di Polewali Mandar (Mujirin M. Yamin and Wahyu Maulid Adha 2. Kelapa dalam merupakan salah satu komoditi yang telah lama di budidayakan masyarakat di Polewali Mandar, sangat ditunjang dengan kondisi agroekosistim, dan pengalaman petani dalam membudidayakan komoditi ini. Tapi proses pengolahan kelapa dalam hanya sampai pada kopra untuk memasok industri diluar Sulawesi Barat, sehingga rantai pasar yang panjang dapat mempengaruhi harga per biji kelapa Rp. 500 Ae 2. Menunjukan bahwa rantai pemasaran kelapa dalam di Polewali Mandar, belum efisien. Maka untuk itu, dengan tingkat prefrensi yang tinggi ketiga komoditi unggulan padi, kakao dan kelapa. Harus ditunjang dengan sub sistem yang bagus, baik dari aspek ekonomi . , daya dukung kelembagaan atau kebijakan, dan sumber daya manusia ditingkat produsen. KESIMPULAN Penentuan prioritas komoditas agribisnis di Polewali Mandar harus mempertimbangkan beberapa kriteria seperti aspek ekonomi, agroekosistem, sumberdaya manusia, sosial budaya dan daya dukung dalam menentukan komoditi unggulan wilayah. Berdasarkan analisis matrix perbandingan kriteria maka pertimbangan agroekosistem memiliki rata-rata nilai elgen 0,49, menunjukan bahwa elemen ini harus diperhatikan dalam menentukan skala prioritas yang Kemudian pertimbangan kedua aspek ekonomi dengan nilai rata-rata elgen 0,23, sumber daya manusia 0. 16, sosial budaya 0,09 dan daya dukung 0,04. Analisis matrix perbandingan alternatif pada aspek ekonomi, agroekosistem, sosial budaya, sumber daya manusia dan daya dukung komoditi padi, kakao, kelapa dan kopi memiliki nilai rata-rata Menunjukan bahwa komoditi ini menjadi komoditi unggulan di Polewali Mandar perlu di dukung dari aspek kebijakan pemerintah daerah. Terdapat beberapa komoditi perlu dievalusia, seperti jagung dan pepaya. Nilai preferensi komoditas utama di Polewali Mandar, dengan berbagai aspek pertimbangan kriteria dan sub kriteria penilaian. Maka tanaman padi menjadi pilihan utama menunjukan pilihan prefrensi komoditas lebih tinggi yaitu 0,4, kemudian tanaman kelapa dengan nilai 0,2, tanaman kakao 0,1, tanaman kopi 0,1, jagung 0,007 dan pepaya 0,004. Menunjukan bahwa penyebaran komoditi pertanian di Polewali Mandar, lebih dipengaruhi oleh kondisi agroekosistem daerah, serta aspek ekonomi atau nilai komoditi yang berlaku sebagai salah satu faktor petani untuk menentukan keputusan dalam menentukan jenis komoditi yang akan Berdasarkan hasil penelitian, maka pengembangan komoditi unggulan pertanian di Polewali Mandar harus menjadi skala prioritas dari pemerintah daerah. Sebab komiditi tersebut menjadi penggerak ekonomi petani atau sumber penghasilan utama petani, baik disektor perkebunan maupun tanaman pangan. DAFTAR PUSTAKA