Tanzhimuna Vol 5. No 1. Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 METODE DAN STRATEGI PEMBELAJARAN PAI BERBASIS SOSIO HUMANIORA Achmad Sauqi sauqiachmad@gmail. Program Pascasarjana. UIN SIber Syekh Nurjati Cirebon Abstract Islamic Religious Education (IRE) learning in the modern era faces complex challenges arising from social, cultural, and global dynamics that demand the strengthening of humanitarian dimensions alongside theological aspects. Predominantly normative and cognitive approaches to IRE learning are considered insufficient in fostering studentsAo empathy, tolerance, and social responsibility. This article aims to conceptually examine socio-humanitiesAebased IRE learning and to identify relevant methods and instructional strategies for developing studentsAo social and humanitarian dimensions. This study employs a qualitative descriptive approach through a literature review by analyzing various scholarly sources, including books, journal articles, and Islamic education regulations. The findings indicate that the socio-humanities approach positions IRE as a contextual, dialogical, and humanistic educational process through the integration of social, humanitarian, and Islamic values. This approach aligns with the demands of 21stcentury education and strengthens the role of teachers as learning facilitators and agents of social transformation. Therefore, socio-humanitiesAebased IRE learning makes a significant contribution to the development of Islamic education that is not only spiritually religious but also responsive to social and humanitarian realities. Keywords : Islamic Religious Education. socio-humanities. humanistic learning. social values. 21st-century education. Abstrak Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di era modern menghadapi tantangan kompleks seiring dengan dinamika sosial, budaya, dan arus globalisasi yang menuntut penguatan dimensi kemanusiaan selain aspek teologis. Pendekatan pembelajaran PAI yang masih dominan bersifat normatif dan kognitif dinilai belum sepenuhnya mampu menumbuhkan empati, toleransi, serta tanggung jawab sosial peserta didik. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara konseptual pembelajaran PAI berbasis sosio-humaniora serta mengidentifikasi metode dan strategi Metode dan Strategi Pembelajaran PAI Berbasis Sosio Humaniora Achmad Sauqi Divo MiAoraj Al-Azis. Zabrina Aprillia RD Tanzhimuna Vol 5. No 1. Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 pembelajaran yang relevan dalam mengembangkan dimensi sosial dan kemanusiaan siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka dengan menganalisis berbagai sumber ilmiah berupa buku, artikel jurnal, dan regulasi pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan sosio-humaniora memposisikan PAI sebagai proses pendidikan yang kontekstual, dialogis, dan humanistik melalui integrasi nilai-nilai sosial, kemanusiaan, dan keislaman. Pendekatan ini sejalan dengan tuntutan pendidikan abad ke-21 serta memperkuat peran guru sebagai fasilitator pembelajaran dan agen transformasi sosial. Dengan demikian, pembelajaran PAI berbasis sosio-humaniora berkontribusi penting dalam pengembangan pendidikan Islam yang tidak hanya menekankan dimensi spiritual, tetapi juga responsif terhadap realitas sosial dan Kata kunci : Pendidikan Agama Islam. sosio-humaniora. nilai sosial. pendidikan abad ke-21 PENDAHULUAN Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran sentral dalam membentuk karakter, moralitas, dan kepribadian peserta didik di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks (Arman, 2023. Hayatunnisa et al. , 2. Dalam konteks pendidikan modern, pembelajaran PAI tidak lagi cukup menekankan pada aspek kognitif dan dogmatis semata, melainkan juga perlu mengembangkan kesadaran sosial, empati, dan tanggung jawab kemanusiaan (AsAoad. Zainuddin & Ali, 2. Paradigma baru pendidikan menuntut guru untuk tidak hanya menjadi pengajar nilai-nilai religius, tetapi juga fasilitator dalam menginternalisasi nilai-nilai sosial dan humaniora yang memperkaya spiritualitas dan kemanusiaan siswa (Ulin Nuha et al. Globalisasi, perkembangan teknologi, dan perubahan sosial yang cepat telah menghadirkan tantangan bagi pendidikan Islam, termasuk bagaimana nilai-nilai keislaman dapat diintegrasikan dengan kebutuhan abad ke-21 (Musyafak & Subhi, 2023. Rahman, 2. Pendidikan berbasis nilai-nilai sosio humaniora menjadi penting untuk memastikan bahwa peserta didik tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berjiwa adil, toleran, dan memiliki kepedulian sosial (Zubaedi, 2004. Tilaar, 2. Dalam kerangka ini, pembelajaran PAI perlu diarahkan untuk menumbuhkan manusia berbudaya dan berperadaban yang mampu hidup damai dalam keragaman (Mustaqim, 2013. Kirchberger, 2. Namun demikian, berbagai studi menunjukkan bahwa pembelajaran PAI di banyak sekolah masih terjebak dalam pendekatan konvensional yang menekankan hafalan dan Metode dan Strategi Pembelajaran PAI Berbasis Sosio Humaniora Achmad Sauqi Divo MiAoraj Al-Azis. Zabrina Aprillia RD Tanzhimuna Vol 5. No 1. Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 ceramah, tanpa memperhatikan konteks sosial peserta didik (Masrifah et al. , 2023. Hanifah et , 2. Keterbatasan pemahaman guru terhadap metode inovatif menyebabkan rendahnya kemampuan siswa dalam mengaitkan ajaran agama dengan realitas sosial (Umam & Hamami. Sukana, 2. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara tujuan normatif pendidikan Islam dan realitas pedagogis yang terjadi di lapangan (Al Amin et al. , 2. Sementara itu, pendekatan yang mengabaikan aspek humaniora berpotensi mengikis dimensi sosial agama Islam yang sejatinya sangat menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial (Shihab, 2019. Wibowo & Bakri, 2. Kesenjangan ini menjadi semakin nyata ketika pembelajaran PAI tidak mampu mengakomodasi perbedaan sosial dan budaya di lingkungan sekolah yang multikultural (Asrin. Munadlir, 2. Padahal. Islam sebagai agama rahmatan lil Aoalamin mengajarkan pentingnya kebebasan, keadilan, dan kesederajatan dalam kehidupan sosial (Mustaqim, 2. Oleh karena itu, urgensi penerapan pendekatan sosio humaniora dalam pembelajaran PAI menjadi relevan untuk mengembalikan fungsi pendidikan agama sebagai sarana membangun kesadaran sosial dan spiritual secara seimbang (Abdurrahman, 2020. Al-Qurtubi, 2. Pendekatan sosio humaniora dalam pembelajaran PAI memandang manusia sebagai makhluk sosial dan spiritual yang harus berkembang dalam interaksi harmonis dengan sesama dan lingkungannya (Vygotsky dalam Suardipa, 2020. Arini & Umami, 2. Melalui integrasi nilai-nilai sosial seperti empati, solidaritas, dan keadilan dengan ajaran Islam, pembelajaran dapat diarahkan menjadi kontekstual, dialogis, dan transformatif (Gunawan, 2021. Al Amin et , 2. Dengan demikian, guru berperan strategis sebagai agen pembentuk ekosistem belajar yang menghargai keberagaman dan menumbuhkan kesadaran kemanusiaan (Suwartiningsih, 2022. Zain, 2. Selain itu, pembelajaran berbasis sosio humaniora sejalan dengan arah pengembangan kurikulum PAI yang menekankan integrasi ilmu pengetahuan, nilai-nilai agama, dan konteks sosial peserta didik (Mulyasa, 2017. Kurniawan, 2. Metode seperti problem-based learning, inkuiri, dan diskusi kolaboratif terbukti efektif meningkatkan keterlibatan, berpikir kritis, serta kepekaan sosial siswa (Santosa, 2021. Arlina et al. , 2. Melalui strategi tersebut, pembelajaran PAI tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga arena pembentukan karakter sosial yang berlandaskan nilai-nilai Islam universal (Uno, 2024. Musbikin, 2. Metode dan Strategi Pembelajaran PAI Berbasis Sosio Humaniora Achmad Sauqi Divo MiAoraj Al-Azis. Zabrina Aprillia RD Tanzhimuna Vol 5. No 1. Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 Berdasarkan pemikiran di atas, makalah ini bertujuan untuk menjelaskan landasan konseptual dan karakteristik pembelajaran PAI yang berorientasi pada pendekatan sosio humaniora serta mengidentifikasi berbagai metode dan strategi pembelajaran yang efektif dalam mengembangkan dimensi sosial dan kemanusiaan peserta didik. Diharapkan, kajian ini memberikan kontribusi konseptual bagi guru dan akademisi untuk merancang pembelajaran PAI yang relevan dengan tantangan zaman, tanpa kehilangan esensi spiritualitas Islam yang humanis, inklusif, dan berkeadilan (Arman, 2023. Al Amin et al. , 2025. Asrin, 2. METODE Makalah ini disusun menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. Seluruh pembahasan didasarkan pada kajian teoritis dari berbagai sumber ilmiah yang relevan, seperti buku, artikel jurnal, prosiding, serta regulasi pendidikan Islam di Indonesia. Langkah-langkah penulisan makalah meliputi: Identifikasi masalah Ae Menelaah isu-isu aktual dalam pembelajaran PAI, khususnya kebutuhan untuk mengintegrasikan nilai-nilai sosial dan humaniora dalam proses belajar mengajar. Pengumpulan data pustaka Ae Mengumpulkan literatur yang berkaitan dengan teori pembelajaran PAI, pendekatan sosio humaniora, serta metode dan strategi pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan karakter kemanusiaan peserta . Analisis dan sintesis data Ae Melakukan analisis konseptual terhadap teori dan temuan pustaka untuk menemukan keterkaitan antara pendekatan sosio humaniora dan praktik pembelajaran PAI. Penyusunan argumentasi Ae Menyusun uraian secara sistematis dan logis untuk menjelaskan bagaimana metode dan strategi pembelajaran PAI dapat diarahkan pada penguatan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Dengan metode ini, makalah diharapkan mampu memberikan gambaran konseptual dan reflektif mengenai pentingnya paradigma sosio humaniora dalam merancang pembelajaran PAI yang kontekstual, dialogis, dan humanis. Metode dan Strategi Pembelajaran PAI Berbasis Sosio Humaniora Achmad Sauqi Divo MiAoraj Al-Azis. Zabrina Aprillia RD Tanzhimuna Vol 5. No 1. Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 HASIL DAN PEMBAHASAN Hakikat dan Tujuan PAI Modern Hakikat Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam konteks pendidikan modern tidak dapat dipahami sekadar sebagai proses transfer pengetahuan keagamaan, tetapi lebih luas sebagai pembinaan kepribadian religius yang berimplikasi sosial. Menurut Arman . PAI berperan penting dalam membentuk Auindividu Muslim yang berkarakter dan berkontribusi positif dalam masyarakat,Ay sehingga pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan aspek teologis, melainkan harus mendorong internalisasi nilai-nilai etika dan moral dalam kehidupan nyata. Dalam pandangan Hayatunnisa et al. 4, dikutip dalam Arman, 2. PAI menjadi fondasi utama dalam membangun moralitas publik dan tanggung jawab sosial di tengah perubahan sosial yang cepat. Artinya, hakikat PAI kini bertransformasi dari pendidikan normatif menuju pendidikan humanis yang menumbuhkan kesadaran sosial peserta didik. Selanjutnya, tujuan utama PAI modern adalah membentuk insan yang beriman dan bertakwa sekaligus mampu menampilkan akhlak sosial yang konstruktif. Abdurrahman . menegaskan bahwa pendidikan Islam yang terintegrasi dengan nilai-nilai sosial-humaniora bertujuan menciptakan sistem pendidikan yang holistikAi menanamkan keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab sosial sebagai refleksi iman. Pendapat ini sejalan dengan Zainuddin & Ali . yang menyebut bahwa integrasi antara pendidikan Islam dan ilmu sosial-humaniora memperkuat pembentukan karakter moral dan spiritual siswa. Dengan demikian, orientasi PAI modern tidak berhenti pada penguasaan ritual keagamaan, tetapi mengarah pada pembentukan manusia yang mampu menjadi khalifah fil ardh, yaitu pribadi beriman yang membawa manfaat sosial. Dalam konteks globalisasi dan era digital. PAI menghadapi tantangan besar dalam menjaga relevansinya dengan dinamika masyarakat modern. Musyafak dan Subhi . menyatakan bahwa strategi pembelajaran PAI harus disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang cepat agar nilai-nilai keislaman tetap hidup dalam praktik keseharian. Di sinilah pentingnya pendekatan sosio humaniora yang menghubungkan ajaran Islam dengan pengalaman sosial peserta didik (Gunawan, 2. Pendekatan ini memungkinkan siswa memahami Islam bukan sebagai sistem dogma yang tertutup, tetapi sebagai sumber nilai kemanusiaan universal yang dapat menuntun perilaku sosial yang berkeadilan dan toleran (Mustaqim, 2. Metode dan Strategi Pembelajaran PAI Berbasis Sosio Humaniora Achmad Sauqi Divo MiAoraj Al-Azis. Zabrina Aprillia RD Tanzhimuna Vol 5. No 1. Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 Sementara itu, pendekatan humanistik dalam PAI memberi ruang bagi peserta didik untuk mengalami pembelajaran yang lebih kontekstual dan reflektif. Pendidikan Islam bukan lagi sekadar alat doktrinasi, tetapi sarana pembebasan spiritual yang menumbuhkan kesadaran sosial dan empati terhadap sesama (AsAoad, 2. Nilai-nilai seperti kasih sayang . , keadilan (Aoad. , dan persaudaraan . menjadi orientasi moral pembelajaran yang menuntun siswa memahami hakikat beragama secara utuh. Oleh karena itu. PAI modern diharapkan menjadi medium pengembangan kemanusiaan yang seimbang antara spiritualitas, intelektualitas, dan sosialitas, sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yang rahmatan lil Aoalamin. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa hakikat dan tujuan PAI modern adalah membentuk manusia paripurna . nsan kami. yang tidak hanya memahami ajaran Islam secara tekstual, tetapi juga mampu menerjemahkannya dalam realitas sosial yang plural. PAI berbasis sosio humaniora menempatkan nilai keagamaan dalam konteks kehidupan kemasyarakatan, menumbuhkan empati, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Dengan paradigma ini, pendidikan agama Islam berfungsi sebagai jembatan antara iman dan kemanusiaan, membentuk peserta didik yang religius sekaligus relevan dengan tuntutan zaman modern (Arman, 2023. Asrin, 2019. Ulin Nuha et al. , 2. Landasan Filosofis Sosio Humaniora dalam PAI Landasan filosofis pendekatan sosio humaniora dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) berakar pada pandangan Islam tentang hakikat manusia sebagai makhluk spiritual sekaligus sosial. Dalam Islam, manusia dipandang sebagai khalifah fil ardh yang memiliki tanggung jawab etis terhadap sesama dan lingkungannya. Menurut Abdurrahman . , tujuan utama pendidikan Islam adalah menciptakan sistem pendidikan yang holistikAimenyatukan nilai moral, keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Hal ini menunjukkan bahwa dimensi humaniora bukan unsur tambahan dalam pendidikan Islam, tetapi merupakan esensi dari misi kemanusiaan Islam itu Sejalan dengan itu. AsAoad . menegaskan bahwa pendidikan sosialhumaniora dalam perspektif Islam menanamkan nilai empati, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama, sehingga peserta didik tidak hanya religius, tetapi juga berperan aktif dalam membangun harmoni sosial. Pendekatan sosio humaniora berpijak pada asumsi bahwa manusia berkembang melalui interaksi sosial yang bermakna. Teori sosiokultural Vygotsky . alam Suardipa. Metode dan Strategi Pembelajaran PAI Berbasis Sosio Humaniora Achmad Sauqi Divo MiAoraj Al-Azis. Zabrina Aprillia RD Tanzhimuna Vol 5. No 1. Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 menjelaskan bahwa kemampuan berpikir dan moral seseorang terbentuk melalui proses internalisasi nilai-nilai yang diperoleh dari interaksi sosial dan budaya. Dalam konteks ini, pembelajaran PAI harus menjadi wahana dialogis tempat peserta didik mengalami proses pemanusiaan . umanization of educatio. melalui nilai-nilai Islam yang bersifat universal. Pandangan ini sejalan dengan Arini dan Umami . yang menekankan bahwa pembelajaran berbasis sosiokultural menghadirkan ruang pembentukan empati sosial dan kesadaran kebersamaan. Dengan demikian, landasan filosofis sosio humaniora menegaskan bahwa pembelajaran PAI tidak hanya mentransfer dogma, tetapi juga membangun kesadaran kemanusiaan yang bersumber dari ajaran Islam. Filosofi sosio humaniora juga sejalan dengan misi Islam sebagai agama rahmatan lil AoalaminAirahmat bagi seluruh alam. Mustaqim . menegaskan bahwa Islam mengandung semangat universalitas dan kemanusiaan yang melampaui batas etnis dan agama. Asrin . kemudian memperkuat gagasan ini dengan menyatakan bahwa pendidikan berbasis multikultural dan sosial-humaniora harus menghormati pluralitas budaya dan menumbuhkan sikap saling menghargai. Artinya, landasan filosofis PAI berbasis sosio humaniora menolak pandangan eksklusif keagamaan dan mengedepankan moderasi, toleransi, serta inklusivitas sebagai bagian dari praksis Dalam konteks masyarakat majemuk Indonesia, orientasi ini menjadi penting untuk menumbuhkan generasi Muslim yang terbuka, adil, dan berperan dalam menjaga harmoni sosial (Kirchberger, 2022. Wibowo & Bakri, 2. Lebih lanjut, pendidikan Islam yang berlandaskan sosio humaniora mengintegrasikan nilai spiritualitas dengan rasionalitas dan moralitas sosial. Ulin Nuha et al. menunjukkan bahwa ketika nilai-nilai Islam diintegrasikan dalam pembelajaran ilmu sosial, siswa tidak hanya memahami konsep sosial, tetapi juga menunjukkan peningkatan empati, toleransi, dan kepedulian sosial hingga 80%. Hasil ini memperlihatkan bahwa dimensi filosofis sosio humaniora menjadi landasan pedagogis untuk menghubungkan nilai ilahiah dengan realitas insaniah. Dalam pandangan ini, agama bukan entitas yang terpisah dari kehidupan sosial, tetapi sumber etika dan moral publik yang menumbuhkan solidaritas sosial. Oleh karena itu, pendekatan sosio humaniora membantu peserta didik memahami bahwa spiritualitas sejati tidak terletak pada ritual formal, melainkan pada kepedulian terhadap Metode dan Strategi Pembelajaran PAI Berbasis Sosio Humaniora Achmad Sauqi Divo MiAoraj Al-Azis. Zabrina Aprillia RD Tanzhimuna Vol 5. No 1. Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 Dengan demikian, pendidikan Islam sejatinya berfungsi memanusiakan manusia . aAodib al-insA. , menumbuhkan kesadaran spiritual, etis, dan sosial yang utuh. Pendekatan ini melahirkan paradigma baru dalam pendidikan agamaAidari orientasi dogmatis menuju orientasi humanistik dan dialogis (Abdurrahman, 2020. Asrin, 2019. Al Amin et al. , 2. Prinsip Dasar Pembelajaran PAI Berbasis Sosio Humaniora Prinsip dasar pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis sosio humaniora berakar pada pandangan bahwa pendidikan agama harus berfungsi sebagai media pembentukan manusia yang beriman, berakal, dan berakhlak sosial. Asrin . menegaskan bahwa pendidikan yang mengandung nilai-nilai sosial-humaniora harus menghargai pluralitas budaya, memperkuat rasa saling menghormati, dan menumbuhkan keadilan sosial dalam kehidupan sekolah. Prinsip ini berpijak pada ajaran Islam yang menempatkan kemanusiaan sebagai inti dari keimanan, sebagaimana ditegaskan Mustaqim . bahwa Islam diturunkan bukan untuk satu kelompok umat, tetapi untuk seluruh manusia sebagai rahmatan lil Aoalamin. Oleh karena itu. PAI berbasis sosio humaniora menuntut proses pembelajaran yang tidak hanya menyentuh dimensi kognitif dan afektif, tetapi juga praksis sosial yang konkret dalam kehidupan peserta didik. Selanjutnya, prinsip kedua yang menjadi dasar penting dalam pembelajaran PAI sosio humaniora adalah empati dan tanggung jawab sosial. Pendidikan agama bukan sekadar mengajarkan hukum dan ritual, melainkan membentuk karakter sosial yang peka terhadap keadilan dan kemanusiaan. Menurut Kamal . , pendidikan multikultural dan sosial-humaniora membantu siswa membangun sikap positif terhadap perbedaan kultural, ras, dan agama, serta mengembangkan keterampilan sosial. Pandangan ini sejalan dengan Tilaar . dan Zubaedi . , yang menegaskan bahwa tujuan pendidikan harus diarahkan untuk membentuk manusia berbudaya dan masyarakat berperadaban melalui prinsip keadilan, keterbukaan, dan penghormatan terhadap keragaman. Dengan demikian, pembelajaran PAI perlu dirancang secara demokratis dan partisipatif agar siswa dapat menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam interaksi sosialnya. Metode dan Strategi Pembelajaran PAI Berbasis Sosio Humaniora Achmad Sauqi Divo MiAoraj Al-Azis. Zabrina Aprillia RD Tanzhimuna Vol 5. No 1. Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 Prinsip berikutnya adalah integrasi antara nilai spiritual dan realitas sosial. PAI berbasis sosio humaniora menuntut hubungan dialektis antara ajaran Islam dan konteks sosial peserta didik, di mana nilai-nilai keimanan diterjemahkan ke dalam aksi sosial. Ulin Nuha et al. menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai Islam dalam pembelajaran ilmu sosial mampu meningkatkan empati dan kepedulian sosial hingga 80% siswa, menandakan keberhasilan pengajaran yang berbasis nilai kemanusiaan. Dengan prinsip ini, guru dituntut untuk memfasilitasi pengalaman belajar yang kontekstualAimisalnya melalui diskusi sosial, studi kasus, atau proyek kolaboratifAi agar siswa mampu memaknai ajaran Islam secara aplikatif dalam kehidupan seharihari. Prinsip ini juga mempertegas bahwa keimanan sejati tidak hanya tampak dalam ibadah formal, tetapi juga dalam sikap sosial yang adil, peduli, dan bertanggung jawab terhadap sesama. Selain itu, prinsip humanisasi dan dialog menjadi fondasi utama pembelajaran PAI sosio humaniora. Pendidikan agama harus menjadi ruang dialog terbuka antara nilai ilahiah dan realitas insaniah, antara ajaran normatif dan persoalan sosial. Menurut Arini & Umami . , pembelajaran sosiokultural menekankan interaksi antarpeserta didik dalam membangun pemahaman bersama melalui pengalaman sosial, sehingga menumbuhkan empati dan solidaritas. Prinsip ini menegaskan bahwa guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber kebenaran, melainkan fasilitator proses belajar yang Dalam perspektif Vygotsky . alam Suardipa, 2. , interaksi sosial merupakan jalan bagi peserta didik untuk membentuk kesadaran moral dan sosialnya. Oleh karena itu, pembelajaran PAI yang berprinsip sosio humaniora harus bersifat kontekstual, dialogis, dan reflektif, agar siswa dapat mengembangkan keseimbangan antara religiositas dan kemanusiaan. Integrasi Nilai Sosial dan Agama dalam Pembelajaran PAI Integrasi nilai sosial dan agama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan pendekatan yang menegaskan bahwa ajaran Islam tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial manusia. Menurut Ulin Nuha et al. , integrasi nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran ilmu sosial terbukti meningkatkan pemahaman dan kesadaran kemanusiaan siswa secara signifikanAi85% siswa menunjukkan peningkatan pemahaman sosial, sementara 80% mampu mengaitkan konsep sosial Metode dan Strategi Pembelajaran PAI Berbasis Sosio Humaniora Achmad Sauqi Divo MiAoraj Al-Azis. Zabrina Aprillia RD Tanzhimuna Vol 5. No 1. Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 dengan ajaran Islam. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi tersebut tidak hanya memperdalam pemahaman keagamaan, tetapi juga memperluas makna keberagamaan ke ranah etika sosial. Dalam konteks ini, pembelajaran PAI menjadi sarana untuk membumikan ajaran Islam dalam realitas sosial, menjadikan nilai-nilai rahmah. Aoadl, dan ukhuwah sebagai pedoman perilaku peserta didik dalam kehidupan bersama. Pendekatan integratif ini juga berlandaskan pada pandangan bahwa agama dan sosial merupakan dua dimensi yang saling menguatkan. Abdurrahman . menjelaskan bahwa integrasi pendidikan Islam dengan nilai-nilai sosial-humaniora bertujuan untuk menciptakan sistem pendidikan holistik yang menanamkan keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Artinya, tujuan pendidikan agama bukan hanya mencetak pribadi yang taat secara spiritual, tetapi juga individu yang mampu menampilkan akhlak sosial yang konstruktif. Dalam praktiknya, nilai-nilai Islam seperti kejujuran, empati, dan tolong-menolong dapat diintegrasikan dalam pembelajaran tematik, proyek kolaboratif, dan kegiatan sosial sekolah, sehingga siswa belajar menerapkan ajaran Islam dalam konteks nyata. Dengan demikian, integrasi nilai sosial dan agama menjadi jembatan antara keimanan . dan pengabdian sosial (Aoama. Selain memperkuat dimensi moral, integrasi nilai sosial dan agama juga menjadi respon terhadap tantangan pendidikan modern yang cenderung fragmentaris dan kognitif-sentris. Arman . menyoroti bahwa pembelajaran PAI di banyak sekolah masih menekankan aspek hafalan dan teori keagamaan, belum menyentuh ranah sosial secara mendalam. Melalui integrasi nilai sosial, pembelajaran PAI dapat bergerak menuju pendekatan yang kontekstual dan aplikatifAimengaitkan materi keagamaan dengan isu sosial seperti keadilan, kemiskinan, lingkungan, dan kemanusiaan global. Hal ini sejalan dengan pandangan Mustaqim . , bahwa Islam sejatinya mengandung semangat kemanusiaan universal yang melampaui batas agama dan etnis. Oleh karena itu, pembelajaran yang memadukan nilai sosial dan agama dapat menjadi alat transformasi sosial yang menumbuhkan kesadaran keadilan dan empati di kalangan peserta didik. Integrasi nilai sosial dan agama juga sejalan dengan paradigma pendidikan multikultural yang menempatkan keberagaman sebagai sumber pembelajaran. Asrin . menegaskan bahwa pendidikan multikultural yang bernuansa sosial-humaniora Metode dan Strategi Pembelajaran PAI Berbasis Sosio Humaniora Achmad Sauqi Divo MiAoraj Al-Azis. Zabrina Aprillia RD Tanzhimuna Vol 5. No 1. Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 harus terintegrasi dengan mata pelajaran keagamaan agar siswa belajar menghormati perbedaan dan membangun harmoni sosial. Dalam kerangka ini, guru PAI berperan strategis sebagai role model yang menampilkan perilaku inklusif, adil, dan dialogis. Ketika guru mempraktikkan nilai-nilai Islam dalam interaksi sosial, siswa belajar melalui keteladanan, bukan sekadar teori. Dengan demikian, integrasi nilai sosial dan agama tidak berhenti pada kurikulum, tetapi menjadi budaya belajar yang menumbuhkan solidaritas, saling menghargai, dan cinta kemanusiaan sebagai refleksi Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa integrasi nilai sosial dan agama dalam pembelajaran PAI bukan hanya pendekatan pedagogis, melainkan transformasi epistemologis: mengembalikan makna pendidikan Islam sebagai proses penyatuan antara iman, ilmu, dan amal sosial. PAI yang berorientasi pada integrasi ini melahirkan generasi Muslim yang cerdas spiritual dan empatik sosial, yang memahami bahwa beragama tidak hanya bersujud kepada Tuhan, tetapi juga berbuat baik kepada sesama. Paradigma ini menegaskan bahwa Islam sejati adalah Islam yang hidup dalam tindakan sosialAiyang mewujud dalam empati, keadilan, dan cinta kasih (Ulin Nuha et al. , 2024. Abdurrahman, 2020. Mustaqim, 2. Relevansi Abad ke-21 dalam Pembelajaran PAI Berbasis Sosio Humaniora Pendidikan di abad ke-21 ditandai oleh perubahan sosial, teknologi, dan budaya yang cepat, yang menuntut kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, serta berkomunikasi efektif. Dalam konteks ini, pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) harus bertransformasi dari pendekatan tradisional menuju pendekatan sosio humaniora yang relevan dengan kebutuhan zaman. Simatupang . menegaskan bahwa strategi belajar mengajar abad ke-21 menuntut guru untuk mengembangkan four C skillsAicritical thinking, communication, collaboration, dan creativityAiyang hanya dapat tumbuh dalam lingkungan pembelajaran partisipatif dan kontekstual. Pembelajaran PAI yang berorientasi pada nilai-nilai sosial dan kemanusiaan mampu mengintegrasikan keempat keterampilan tersebut, sebab siswa diajak berpikir kritis terhadap realitas sosial, berkolaborasi dalam aktivitas sosial, dan mengomunikasikan nilai keislaman secara kreatif dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan sosio humaniora menjadikan pembelajaran PAI lebih kontekstual dan bermakna karena berangkat dari pengalaman sosial siswa. Arman . Metode dan Strategi Pembelajaran PAI Berbasis Sosio Humaniora Achmad Sauqi Divo MiAoraj Al-Azis. Zabrina Aprillia RD Tanzhimuna Vol 5. No 1. Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 menegaskan bahwa strategi pembelajaran yang tepat dalam PAI harus adaptif terhadap dinamika zaman, memanfaatkan teknologi secara bijak, dan mengaitkan nilai-nilai Islam dengan kehidupan sosial peserta didik. Dalam praktiknya, pembelajaran berbasis proyek . roject-based learnin. atau berbasis masalah . roblem-based learnin. dapat digunakan untuk mengembangkan kepedulian sosial dan kemampuan berpikir reflektif Hal ini diperkuat oleh Kurniawan . yang menyatakan bahwa pendekatan berbasis proyek dalam ilmu sosial dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kolaboratif, dua kemampuan kunci abad ke-21. Dengan demikian. PAI berbasis sosio humaniora menjadi wadah bagi siswa untuk belajar memahami dan mengaktualisasikan nilai Islam dalam konteks masyarakat global yang kompleks. Selain relevan secara pedagogis, pembelajaran PAI berbasis sosio humaniora juga memiliki dimensi etis dan spiritual yang penting dalam menghadapi krisis kemanusiaan modern. Al Amin et al. menunjukkan bahwa pembelajaran PAI dengan pendekatan sosiokultural di SMA Negeri Magepanda berhasil menumbuhkan sikap toleransi, keadilan, dan kasih sayang di kalangan siswa. Pendekatan ini memperkuat kesadaran bahwa pendidikan agama tidak boleh terisolasi dari nilai-nilai kemanusiaan universal seperti keadilan sosial dan penghormatan terhadap perbedaan. Dalam masyarakat global yang sarat konflik dan polarisasi, pembelajaran PAI dengan orientasi sosio humaniora membantu membentuk generasi yang berjiwa moderat dan mampu hidup dalam harmoni. Kirchberger . juga menegaskan bahwa moderasi beragama . adalah inti keseimbangan moral yang sangat dibutuhkan di era modern ini. Lebih jauh, relevansi sosio humaniora dalam abad ke-21 juga terletak pada peran pendidikan agama dalam membentuk kecerdasan sosial-emosional . ocialemotional learnin. Masrifah et al. menemukan bahwa pendekatan sosioemosional dalam pembelajaran SKI di MTs Al-Hidayah Cinangka mampu meningkatkan keaktifan dan rasa tanggung jawab sosial siswa. Pembelajaran semacam ini menumbuhkan empati, menghargai perbedaan, dan menguatkan relasi antarsiswa. Dengan demikian, pendekatan sosio humaniora bukan hanya selaras dengan kompetensi abad ke-21, tetapi juga menjadi jembatan antara kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ) dalam satu kesatuan proses pendidikan. PAI Metode dan Strategi Pembelajaran PAI Berbasis Sosio Humaniora Achmad Sauqi Divo MiAoraj Al-Azis. Zabrina Aprillia RD Tanzhimuna Vol 5. No 1. Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 yang berorientasi pada ketiga kecerdasan ini akan melahirkan manusia utuhAiberiman, berilmu, dan berakhlak sosial. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa relevansi pembelajaran PAI berbasis sosio humaniora dalam abad ke-21 terletak pada kemampuannya menyinergikan nilai-nilai Islam universal dengan kompetensi global. Paradigma ini tidak menempatkan agama sebagai sistem yang kaku dan terpisah dari kehidupan modern, melainkan sebagai sumber etika, empati, dan kesadaran sosial yang Melalui pendekatan sosio humaniora. PAI mampu menjawab tantangan globalisasi tanpa kehilangan spiritualitasnya, membentuk peserta didik yang berpikir kritis sekaligus berjiwa nurani, serta menjadikan iman sebagai energi moral untuk berbuat adil dan berkontribusi bagi kemanusiaan (Arman, 2023. Simatupang, 2019. Amin et al. , 2. Peran Guru dalam Pembelajaran PAI Berbasis Sosio Humaniora Dalam paradigma sosio humaniora, peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) mengalami transformasi dari sekadar penyampai dogma menuju fasilitator nilai kemanusiaan dan pembimbing spiritual-sosial. Guru tidak hanya bertugas mentransfer ajaran agama, tetapi juga menuntun peserta didik agar mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam konteks kehidupan sosial. Ulin Nuha et al. menegaskan bahwa peran guru sangat krusial dalam menginternalisasi nilai-nilai Islam di setiap aspek pembelajaran. Guru bukan hanya figur otoritatif dalam aspek kognitif, tetapi juga role model moral yang menampilkan empati, keadilan, dan kasih sayang dalam interaksi pembelajaran. Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran PAI berbasis sosio humaniora sangat bergantung pada kemampuan guru membangun jembatan antara iman dan kemanusiaan melalui keteladanan. Guru PAI dalam pendekatan sosio humaniora juga berfungsi sebagai agen perubahan sosial yang menumbuhkan kesadaran peserta didik terhadap nilai-nilai sosial Islam. Menurut Suwartiningsih . , guru memiliki tanggung jawab penting dalam meningkatkan iman dan takwa siswa melalui strategi pembelajaran yang menyentuh ranah afektif dan sosial. Hal ini berarti bahwa guru tidak hanya menilai capaian kognitif, tetapi juga perilaku sosial peserta didik sebagai indikator keberhasilan pembelajaran. Arman . menambahkan bahwa guru PAI yang efektif harus mampu memanfaatkan teknologi, lingkungan sosial, serta pendekatan kontekstual untuk Metode dan Strategi Pembelajaran PAI Berbasis Sosio Humaniora Achmad Sauqi Divo MiAoraj Al-Azis. Zabrina Aprillia RD Tanzhimuna Vol 5. No 1. Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 menumbuhkan kepedulian sosial siswa. Melalui integrasi antara ajaran agama dan realitas sosial, guru menjadi penggerak utama pembentukan karakter religius yang empatik dan reflektif. Selain sebagai pendidik, guru PAI juga berperan sebagai mediator dialog antarbudaya dan antaragama dalam konteks pendidikan multikultural. Asrin . menekankan bahwa guru PAI harus menampilkan perilaku dan sikap yang mencerminkan jiwa multikultural serta mampu menganalisis latar sosial siswa sebagai masyarakat belajar yang beragam. Dalam kerangka sosio humaniora, guru menjadi penghubung antara nilai-nilai Islam dan keberagaman sosial yang nyata di lingkungan Al Amin et al. membuktikan bahwa guru yang menerapkan pendekatan sosiokultural dalam pembelajaran berhasil menumbuhkan sikap saling menghormati dan keharmonisan antar siswa. Dengan kata lain, guru tidak sekadar mentransmisikan nilai, tetapi juga membangun ekosistem belajar yang menghargai perbedaan dan memperkuat solidaritas sosial sebagai cerminan nilai Islam rahmatan lil Aoalamin. Lebih jauh, guru juga berperan sebagai desainer pembelajaran reflektif dan Masrifah et al. menemukan bahwa penerapan strategi sosioemosional dalam pembelajaran SKI meningkatkan keaktifan dan rasa tanggung jawab sosial siswa, asalkan guru mampu mengelola kelas secara positif dan empatik. Dalam konteks ini, guru berperan menciptakan suasana belajar yang hangat, dialogis, dan partisipatifAidi mana peserta didik merasa dihargai dan termotivasi untuk berbuat baik. Peran ini menuntut guru memiliki kompetensi kepribadian, pedagogik, dan sosial yang Guru bukan hanya pengajar nilai Islam, tetapi praktisi kemanusiaan yang menanamkan kesadaran bahwa keberagamaan sejati diukur dari sejauh mana seseorang bermanfaat bagi sesama. Dengan demikian, guru PAI dalam pendekatan sosio humaniora adalah figur transformasional yang membentuk peserta didik menjadi insan religius yang sadar sosial, berpikir kritis, dan berjiwa adil. KESIMPULAN Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis sosio humaniora berakar pada pandangan bahwa pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada aspek teologis, tetapi juga pada pengembangan kemanusiaan yang utuh. Konsep ini menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif yang belajar memaknai nilai-nilai Islam dalam konteks sosial dan budaya. Metode dan Strategi Pembelajaran PAI Berbasis Sosio Humaniora Achmad Sauqi Divo MiAoraj Al-Azis. Zabrina Aprillia RD Tanzhimuna Vol 5. No 1. Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 Landasan filosofisnya berangkat dari pandangan Islam tentang manusia sebagai makhluk spiritual dan sosial, dengan prinsip-prinsip kemanusiaan seperti keadilan, empati, pluralitas, dan solidaritas. Integrasi nilai sosial dan agama dalam PAI membentuk hubungan yang harmonis antara iman dan amal sosial, sehingga pembelajaran tidak berhenti pada hafalan, tetapi mengarahkan siswa untuk mengamalkan ajaran Islam secara nyata dalam kehidupan. Paradigma ini memanusiakan proses pendidikan agama, menjadikannya ruang dialog antara wahyu dan realitas, antara nilai-nilai ilahiah dan dimensi insaniah. Dalam konteks abad ke-21, pembelajaran PAI berbasis sosio humaniora terbukti relevan dalam menumbuhkan kompetensi berpikir kritis, kolaboratif, dan empatik yang dibutuhkan dalam masyarakat global. Pendekatan ini menjawab tantangan modernisasi dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai sumber etika, kesadaran sosial, dan semangat Guru PAI berperan penting sebagai fasilitator, teladan, dan agen perubahan sosial yang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan melalui proses pembelajaran yang kontekstual, reflektif, dan dialogis. Dengan demikian. PAI berbasis sosio humaniora bukan hanya strategi pedagogis, tetapi juga misi peradabanAiyaitu menciptakan generasi Muslim yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian sosial dan tanggung jawab kemanusiaan sesuai hakikat Islam sebagai rahmatan lil Aoalamin. REFERENSI