Jurnal Akuntansi dan Keuangan Islam Volume 13. Oktober 2025, hlm. P-ISSN: 2338-2783 | E-ISSN: 2549-3876 DOI: https://doi. org/10. 61111/jakis. PENGARUH VARIABEL MAKROEKONOMI DAN MIKROEKONOMI TERHADAP PROFITABILITAS BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA: ANALISIS ERROR CORRECTION MODEL Masreal Bachrul Alam. Faishol Lutfi*, dan Memet Agustiar Universitas Tanjungpura Jalan Prof. Dr. Hadari Nawawi. Pontianak. Kalimantan Barat. Indonesia Email: masrealbachrulalam@gmail. com, faishol. luthfi@ekonomi. agustiar@ekonomi. ABSTRACT The purpose of this study is to analyze the effects of microeconomic variables on financial statement performance and of macroeconomic variables on the profitability of Islamic Commercial Banks in Indonesia. In the data analysis, the Error Correction Model (ECM) is applied to monthly observation data for the 2014-2023 period. The results showed that in the short term, the variables of inflation, exchange rate. BI Rate. FDR. BOPO, and DPK did not influence ROA . On the other hand, in the long term, only the exchange rate variable has no effect. the remaining inflation. BI Rate. FDR. BOPO, and DPK variables affect ROA. For this reason, banks themselves need to play a significant role in strengthening risk management to address dynamic changes in profitability-related variables. Keywords: Profitability. Macroeconomics. Statement Performance Microeconomics. Financial ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh variabel mikroekonomi yang terdapat pada kinerja laporan keuangan dan faktor luar berupa variabel makroekonomi terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia. Dalam analisis data, digunakan model Error Correction Model (ECM) dengan data observasi selama rentang tahun 2014-2023 secara bulanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, variabel inflasi, nilai tukar. BI Rate. FDR. BOPO, dan DPK tidak satu pun memiliki pengaruh terhadap ROA . Disisi lain, dalam jangka panjang, hanya variabel nilai tukar yang tidak berpengaruh, sisanya variabel inflasi. BI Rate. FDR. BOPO, dan DPK berpengaruh terhadap ROA. Untuk itu, diperlukan peran yang besar dari perbankan sendiri untuk memperkuat manajemen risiko guna menghadapi perubahan dinamis dari variabel-variabel yang memiliki hubungan terhadap profitabilitas. Kata kunci: Profitabilitas. Makroekonomi. Mikroekonomi. Kinerja Laporan Keuangan Diterima: 12/03/2025 Direvisi: 25/03/2025, 09/05/ 2025, 14/07/2025 Disetujui: 26/08/2025 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Islam Vol. No. 2 (Oktober 2. PENDAHULUAN Perbankan syariah di Indonesia berfungsi sama dengan bank konvensional sebagai lembaga perantara yang mengelola dana masyarakat, namun dilakukan sesuai prinsip Islam yang adil, dengan menekankan kejujuran dan amanah. Bank syariah diatur oleh Undang - undang omor 21 Tahun 2008 dan beroperasi berdasarkan ajaran Quran dan Hadits. Bank syariah berperan sebagai lembaga sekaligus badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat melalui simpanan dan menyalurkannya kembali dalam bentuk pinjaman . atau produk lainnya untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat (Wirnawati & Diyani, 2. Sebagai institusi yang memainkan peran krusial dalam perekonomian, penting untuk melakukan pengawasan kinerja yang efektif dalam perbankan. Salah satu cara untuk mengevaluasi kinerja keuangan bank adalah dengan memeriksa tingkat profitabilitasnya, karena pencapaian laba maksimum merupakan tujuan utama dalam sektor perbankan. Kinerja keuangan bank syariah dievaluasi dengan indikator profitabilitas, seperti Return on Asset (ROA) yang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat setiap tahunnya selama satu dekade terakhir, hal ini bisa dilihat dari grafik di bawah ini. Gambar 1. Perkembangan ROA Bank Umum Syariah Tahun 2014-2023 ROA (%) Sumber: Statistik Perbankan. Syariah OJK Faktor yang memengaruhi ROA meliputi kondisi mikroekonomi, seperti kebijakan pengelolaan dana dan sumber daya manusia, serta faktor makroekonomi, seperti inflasi, nilai tukar, dan BI Rate. Perkembangan ketiga variabel tersebut dapat dilihat pada grafik di bawah ini yang mana menunjukkan tren yang fluktuatif. Alam. Lutfi, dan Agustiar: Pengaruh Variabel Makroekonomi dan MikroekonomiA Gambar 2. Perkembangan Inflasi. Nilai Tukar dan BI Rate Tahun 2014-2023 12,440 13,795 13,436 13,548 14,481 13,901 14,105 14,269 14,416 20,000 15,731 10,000 15,000 5,000 INFLASI (%) BI Rate (%) NILAI TUKAR (R. Sumber: Bank Indonesia. Badan Pusat Statistik, dan Kementrian Perdagangan RI Inflasi yang tinggi dapat menurunkan minat menabung dan meningkatkan pembiayaan bermasalah, yang berdampak negatif pada profitabilitas (Hidayati, 2. Adapun fluktuasi nilai tukar memengaruhi kegiatan bisnis, terutama bagi perusahaan yang mengimpor atau mengekspor barang yang di mana kenaikan nilai tukar dolar mengakibatkan peningkatan harga barang modal domestik, yang berdampak pada proses produksi. Sedangkan BI Rate memengaruhi suku bunga yang berdampak pada daya tarik simpanan (Raedi et al. , 2. Meskipun Bank Umum Syariah (BUS) tidak mengenakan bunga . , perubahan BI Rate tetap mempengaruhi kinerja BI Rate yang tinggi dapat mengurangi likuiditas pasar dan permintaan pembiayaan syariah, serta meningkatkan biaya dana melalui instrumen non-bunga seperti sukuk. Disisi lain faktor mikro turut mempengaruhi kinerja profitabilitas di perbankan syariah, seperti faktor makro, beberapa faktor mikro juga menunjukkan dari pertumbuhan yang fluktuatif selama 10 tahun terakhir, hal ini dapat dilihat pada grafik di bawah ini. Gambar 3. Perkembangan FDR. BOPO, dan DPK Bank Umum Syariah Tahun 2014-2025 500,000 400,000 300,000 200,000 100,000 217,858 174,895 206,407 238,393 257,606 288,978 322,853 365,421 429,029 465,932 FDR (%) BOPO (%) DPK (Rp Milia. Sumber: Statistik Perbankan Syariah OJK Faktor mikroekonomi, seperti Financing to Deposit Ratio (FDR). Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), dan Dana Pihak Jurnal Akuntansi dan Keuangan Islam Vol. No. 2 (Oktober 2. Ketiga (DPK) juga memengaruhi profitabilitas bank syariah. FDR mengukur likuiditas bank dengan menunjukkan kapasitasnya untuk memenuhi kebutuhan kredit melalui keseluruhannya asetnya. FDR yang tinggi menunjukkan kemampuan bank dalam menyalurkan dana, meski dapat mengurangi dana yang dihimpun (Difa et al. , 2. BOPO membandingkan biaya operasional bank dengan pendapatan operasionalnya untuk mengukur efisiensi dalam operasional bank. BOPO yang rendah menunjukkan efisiensi operasional yang baik, sementara DPK yang meningkat dapat meningkatkan ROA. Sehany & Nurhidayati . mengungkapkan DPK merupakan sumber dana utama yang dihimpun dari masyarakat dan cadangan penting bagi bank. Tanpa DPK, bank akan kekurangan dana untuk investasi. Namun, hubungan antara faktor makro dan mikroekonomi terhadap profitabilitas tidak selalu linier. Sebagai contoh, meskipun inflasi dan FDR meningkat, profitabilitas bank syariah tetap naik, hal tersebut menunjukkan bahwa faktor internal dan eksternal saling mempengaruhi dan perlu diperhatikan dalam analisis kinerja keuangan bank Profitabilitas perbankan dipengaruhi oleh kondisi mikroekonomi seperti FDR. BOPO, dan DPK, serta kondisi makroekonomi seperti inflasi, nilai tukar, dan suku bunga acuan (BI Rat. Data grafik menunjukkan adanya hubungan yang tidak selalu berbanding lurus antara variabel-variabel tersebut, seperti inflasi dan profitabilitas yang meningkat bersamaan pada tahun 2022. Jika mengacu teori, keduanya seharusnya berbanding terbalik. Begitu juga dengan BI Rate yang meningkat bersama profitabilitas pada 2018 dan 2022, serta FDR yang meningkat dengan profitabilitas pada 2022. Hal ini menunjukkan adanya gap yang perlu dikaji lebih lanjut. Banyak penelitian lebih fokus pada indikator mikroekonomi, yang mengabaikan pengaruh makroekonomi, meskipun faktanya, keduanya memengaruhi profitabilitas Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan semua faktor ekonomi dalam menganalisis kinerja keuangan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana variabel-variabel makro dan mikroekonomi dapat mempengaruhi profitabilitas pada bank umum syariah di Indonesia. LANDASAN TEORI 1 PROFITABILITAS Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dalam periode tertentu. Salah satu cara untuk mengukur dan menilai kemampuan ini adalah dengan rasio ROA, yang dipergunakan untuk menilai efektivitas perusahaan dalam menghasilkan laba dengan memanfaatkan aset yang dimiliki (Amajida & Muthaher, 2. Bank Indonesia lebih memprioritaskan pada ROA daripada ROE karena laba bank sebagian besar berasal dari dana eksternal. ROA mengukur kemampuan bank menghasilkan keuntungan dari aset, dengan nilai yang lebih tinggi menunjukkan pemanfaatan aset yang lebih baik. Menurut Misrofingah Alam. Lutfi, dan Agustiar: Pengaruh Variabel Makroekonomi dan MikroekonomiA . , meskipun laba tinggi dapat menghasilkan margin besar, hal ini belum tentu mencerminkan profitabilitas yang tinggi. 2 BANK SYARIAH Bank syariah beroperasi sesuai prinsip Islam, dengan pembagian keuntungan dan kerugian. Ada tiga jenis bank syariah di Indonesia: BUS. UUS, dan BPRS. Perbankan syariah mencakup hal yang berkaitan dengan bank Islam dan badan usaha Islam, termasuk struktur organisasi, kegiatan usaha, serta metode dan protokol dalam menjalankan kegiatan usaha (Abrori, 2. Pembiayaan yang terdapat di dalam perbankan syariah menggunakan model Mudharabah dan Musyarakah, serta diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) untuk memastikan kesesuaian dengan prinsip Islam. Bank syariah hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tidak ingin terlibat dalam bunga bank 3 INFLASI Inflasi secara sederhana dapat dimaknai sebagai kenaikan harga barang dan jasa yang dapat mengurangi daya beli. Penyebabnya bisa karena permintaan yang meningkat atau pasokan yang menurun (Saefulloh et al. , 2. Ahli ekonomi Islam Taqiyuddin menjelaskan bahwa terdapat dua jenis inflasi, yaitu inflasi alami dan inflasi akibat kesalahan perilaku manusia. Inflasi alami terjadi karena langkanya pasokan pasar, di mana terdapat peningkatan pada sisi total permintaan dan/atau penurunan total penawaran. Dalam hubungannya dengan profitabilitas, inflasi yang tinggi yang sulit dikendalikan dapat menghambat perbankan dalam mengumpulkan dana, karena menurunkan suku bunga riil dan mengurangi minat masyarakat untuk menabung (Nugroho et al. , 2. Ini berdampak negatif pada perekonomian, menyebabkan ketidakstabilan dan menurunkan aktivitas ekonomi. Inflasi juga memengaruhi pola tabungan dan pembiayaan, mengurangi dana yang dihimpun bank syariah dan menurunkan profitabilitasnya. Di sisi produsen, inflasi dapat mendorong kenaikan output, namun jika harga tidak sesuai dengan pendapatan, penjualan tertekan, yang berdampak pada kinerja keuangan dan profitabilitas bank, terutama bagi yang bergantung pada pinjaman (Solihin et al. , 2. 4 NILAI TUKAR Nilai tukar adalah perbandingan antara mata uang lokal dan asing, yang Faktor-faktor mempengaruhinya meliputi ekspor, impor, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi. Menurut Sukirno . , pemerintah memiliki wewenang untuk mengatur kurs valuta asing agar tidak merugikan perekonomian. Kurs yang ditetapkan oleh pemerintah sering kali berbeda dari kurs pasar bebas. Besar kecilnya perbedaan tersebut tergantung pada kebijakan pemerintah dalam menstabilkan dan mengembangkan ekonomi. Dalam Islam, transaksi valuta asing disebut Al- Jurnal Akuntansi dan Keuangan Islam Vol. No. 2 (Oktober 2. Sharf dan diperbolehkan asal sesuai kesepakatan dan tidak ada tambahan pada barang sejenis. Fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi biaya produksi, harga jual produk, dan profitabilitas. Dalam perbankan syariah, perubahan nilai tukar dapat mempengaruhi kinerja keuangan, terutama bagi bank yang menyediakan layanan transaksi valuta asing. Jika nilai tukar melemah, bank syariah berisiko mengalami kerugian dari pembiayaan. Selain itu, fluktuasi nilai tukar juga dapat mempengaruhi kepercayaan nasabah, yang berdampak pada jumlah simpanan dan investasi. Oleh karena itu, pengelolaan risiko nilai tukar sangat penting untuk menjaga profitabilitas dan stabilitas perbankan syariah. 5 BI RATE BI Rate adalah suku bunga yang ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas moneter. Suku bunga ini mempengaruhi biaya dana bank. Dalam Islam, bunga dianggap riba dan dilarang, namun bank syariah dapat merespons perubahan BI Rate melalui kebijakan internal. Kenaikan suku bunga yang ditetapkan oleh bank Indonesia dapat mendorong peningkatan pembiayaan bagi bank Islam, yang pada akhirnya akan meningkatkan profitabilitasnya (Kirana et al. , 2. BI Rate memengaruhi biaya dana bank, di mana kenaikan BI Rate dapat meningkatkan cost of fund, yang berdampak pada margin keuntungan dan permintaan produk pembiayaan. Menurut Rachmawati & Marwansyah . , bunga dianggap sebagai biaya yang mengurangi laba dan memengaruhi aktivitas ekonomi. Kenaikan BI Rate juga menyebabkan ketatnya likuiditas, menyulitkan bank memperoleh dana eksternal, dan meningkatkan biaya Namun, profitabilitas bank syariah dapat meningkat dengan kebijakan internal, seperti menaikkan rasio nisbah bagi hasil sebagai respons terhadap suku bunga yang tinggi (Mellaty & Kartawan, 2. 6 FINANCING TO DEPOSIT RATIO FDR mengukur perbandingan antara pembiayaan yang diberikan bank dan simpanan yang diterima. Lestari . , dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa FDR yang tinggi menunjukkan rendahnya likuiditas perbankan karena besarnya dana yang disalurkan, yang mengurangi simpanan di bank. Sebaliknya. FDR rendah menunjukkan bank belum mengoptimalkan peranannya sebagai perantara, tetapi memiliki likuditas yang lebih baik. FDR juga mencerminkan seberapa banyak Dana dari Pihak Ketiga (DPK) yang dialokasikan untuk pembiayaan (Munandar, 2. Peningkatan rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) menunjukkan rendahnya likuiditas bank, karena tingginya penyaluran dana dapat mengurangi simpanan masyarakat. Sebaliknya, penyaluran dana yang rendah cenderung meningkatkan likuiditas bank. Jika bank tidak menyalurkan pembiayaan secara optimal, meskipun dana yang dihimpun besar, bank tetap bisa mengalami kerugian yang memengaruhi profitabilitasnya (Lestari, 2. Alam. Lutfi, dan Agustiar: Pengaruh Variabel Makroekonomi dan MikroekonomiA 7 BIAYA OPERASIONAL TERHADAP PENDAPATAN OPERASIONAL BOPO mengukur efisiensi bank dalam mengelola biaya dan pendapatan. Rasio yang lebih rendah menunjukkan kinerja yang lebih baik. Bank Indonesia menetapkan BOPO di bawah 90% untuk efisiensi yang baik. Dalam hubungannya dengan profitabilitas Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) mengukur efektivitas manajemen bank dalam mengelola biaya dan pendapatan. BOPO yang tinggi menunjukkan kinerja yang lemah, sementara BOPO rendah menunjukkan kinerja yang baik. BOPO memiliki hubungan negatif dengan profitabilitas, di mana peningkatan BOPO menurunkan efisiensi dan profitabilitas. Efisiensi operasional yang baik (BOPO renda. menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi bagi bank. 8 DANA PIHAK KETIGA DPK adalah dana yang dihimpun dari masyarakat yang digunakan untuk DPK yang besar meningkatkan kapasitas pembiayaan bank, namun harus dikelola dengan hati-hati agar tidak terjadi kesenjangan antara dana yang dihimpun dan yang disalurkan. Konsep DPK dalam ekonomi Islam menekankan pengelolaan dana yang transparan, adil, dan bebas dari riba, dengan tujuan untuk memberikan manfaat bagi kedua belah pihak sebagaimana dengan prinsip keadilan dan kesejahteraan sosial. Dana Pihak Ketiga (DPK), yang meliputi simpanan giro, tabungan, dan deposito, merupakan sumber utama bagi bank dalam mendukung DPK yang meningkat memberikan bank syariah peluang lebih besar untuk menyalurkan pembiayaan seperti Mudharabah dan Musyarakah, yang pada gilirannya meningkatkan profitabilitas bank. Semakin tinggi DPK, semakin besar kapasitas pembiayaan yang dapat diberikan, yang berkontribusi pada peningkatan pendapatan dan profitabilitas bank syariah. METODE RISET Penelitian ini menggunakan pendekatan statistik deskriptif dengan data sekunder yang dihimpun dari laporan keuangan lembaga terkait seperti Otoritas Jasa Keuangan. Bank Indonesia. Kementerian Perdagangan RI, dan Badan Pusat Statistik dari Januari 2014 hingga Desember 2023, sehingga diperoleh sebanyak 120 data observasi. Untuk lebih rinci dapat dijabarkan sebagai berikut. Tabel 1. Sumber Data Variabel ROA (Y) Inflasi . cU1 ) Nilai Tukar . cU2 ) BI Rate . cU3 ) Sumber Data Otoritas Jasa Keuangan . Bank Indonesia . Kementerian Perdagangan Republik Indonesia . Badan Pusat Statistik . Satuan Persen (%) Persen (%) Rupiah (R. Persen (%) Jurnal Akuntansi dan Keuangan Islam Vol. No. 2 (Oktober 2. Variabel FDR . cU4 ) BOPO . cU5 ) DPK . cU6 ) Sumber Data Otoritas Jasa Keuangan . Otoritas Jasa Keuangan . Otoritas Jasa Keuangan . Satuan Persen (%) Persen (%) Rupiah (R. Metode ini dipilih untuk menganalisis perbedaan antara jangka pendek dan panjang mengatasi data yang tidak stasioner. Sebelum dilakukan pengujian ECM, dilakukan pengujian stasioner untuk menentukan kestabilan data, baik pada tingkat level, diferensiasi pertama, atau kedua. Selanjutnya, dilakukan pengujian co-integrasi untuk melihat apakah data berpengaruh dalam jangka Setelah pengujian tersebut, model ECM didapatkan untuk menganalisis jangka pendek dan panjang. Dengan persamaan jangka pendek sebagai berikut. yaycIycCyayc = yu0 yu1yayaycAyayc yu2yaycAycNyc yu3yayaAyayc yu4yayayaycIyc yu5yayaAycCycEycCyc yu6yayaycEyayc yayaycNyc Oe 1 yuAyc Sedangkan persamaan jangka panjang sebagai berikut: ycIycCyayc = yu0 yu1yaycAyayc yu2ycAycNyc yu3yaAyayc yu4yayaycIyc yu5yaAycCycEycCyc yu6yaycEyayc yuAyc PEMBAHASAN 1 HASIL ANALISIS ERROR CORRECTION MODEL Dalam penelitian ini, hasil analisis Error Correction Model (ECM) adalah sebagai berikut. Pertama, uji stasioneritas, pada pengujian di tingkat level dapat diketahui bahwa hanya variabel nilai tukar . yang memiliki nilai lebih kecil dari 0. 05 atau dianggap stasioner, sementara variabel lainnya tidak stasioner sebab memiliki nilai prob. di atas 0. Sehingga setiap variabel di uji kembali pada tingkat first difference, pada pengujian tingkat ini menunjukkan bahwa seluruh variabel mempunyai nilai prob. Di bawah 0. yang artinya bahwa seluruh variabel sudah stasioner. Sebagaimana dalam tabel di bawah ini. Tabel 2. Hasil Stasioner Variabel ROA Inflasi Nilai Tukar BI Rate FDR Prob. Level Keterangan Tidak Stasioner Tidak Stasioner Stasioner Tidak Stasioner Tidak Stasioner 1st Difference Prob. Keterangan Stasioner Stasioner Stasioner Stasioner Stasioner Alam. Lutfi, dan Agustiar: Pengaruh Variabel Makroekonomi dan MikroekonomiA Variabel BOPO DPK Prob. 1st Difference Prob. Keterangan Stasioner Stasioner Level Keterangan Tidak Stasioner Tidak Stasioner Sumber: EViews 13 . Kedua, uji co-integrasi, pengujian ini dilakukan dengan memanfaatkan uji Augmented Dickey-Fuller (ADF), diperoleh hasil sebagai Tabel 3. Uji Co-integrasi Jarque-Berra Probability Sumber: EViews 13 . Pada uji co-integrasi menunjukkan hasil probabilitas dengan metode Augmented Dickey-Fuller (ADF) lebih kecil dari nilai taraf signifikan yaitu 0000, sehingga dapat dinyatakan bahwa terdapat co-integrasi, yang artinya terdapat hubungan jangka panjang antara variabel independen terhadap variabel dependen. Ketiga, uji ECM jangka pendek. Setelah pengujian stasioner dan cointegrasi dilakukan maka didapatkan hasil ECM jangka pendek seperti dibawah ini. Tabel 4. Hasil Uji Error Correction Model Jangka Pendek Variabel Coefficient Std. Erorr t-Statisitic D(INFLASI) D(KURS) D(BI) D(FDR) D(BOPO) D(DPK) ECT(-. R-Squared Mean dependent var Adjusted R-Squared dependent var of Regression Akaike info criterion Sum squared resid Schwarz criterion Log likelihood Hannan-Quinn criter. F-statisitic Durbin-Watson stat Prob(F-Statistic Sumber: EViews 13 . Prob. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Islam Vol. No. 2 (Oktober 2. Dari hasil pengujian di atas diperoleh persamaan sebagai berikut. ycIycCyayc = 0. 0188 O yu0 0. 0229 O yayaycAya Oe 0. 0541 O yaycAycN 0. O yayaAya Oe 0. 0088 O yayayaycI Oe 0. 0130 O yayaAycCycEycC Oe 0. 7039 O yayaycEya Oe 0. 4488 O yayaycN(Oe. yuA Hasil tersebut menunjukkan hasil di mana semua variabel tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen yaitu ROA. Nilai adjusted R2 dengan nilai 0. 2379 atau 23% yang artinya dalam jangka pendek (ROA) dapat dijelaskan oleh variabel dependen sebesar 23% dan sisanya 77% dijelaskan oleh variabel lain. Keempat, uji ECM jangka panjang. Pada pengujian jangka panjang diperoleh hasil sebagai berikut. Tabel 5. Hasil Uji ECM Jangka Panjang Variabel Coefficient Std. Erorr t-Statisitic Prob. INFLASI KURS FDR BOPO DPK R-Squared Mean dependent var Adjusted R-Squared dependent var of Regression Akaike info criterion Sum squared resid Schwarz criterion Log likelihood Hannan-Quinn criter. F-statisitic Durbin-Watson stat Prob(F-Statistic Sumber: EViews 13 . Sehingga diperoleh hasil persamaan dari jangka pendek sebagai berikut: ycIycCyayc = Oe3. 0004 O yu0 Oe 0. 0580 O yaycAya Oe 0. 1003 O ycAycN 0. 1158 O yaAya Oe 0. 0249 O yayaycI Oe 0. 0325 O yaAycCycEycC 1. 7132 O yaycEya yuA Hasil tersebut menunjukkan hasil bahwa semua variabel menunjukkan pengaruh terhadap ROA hanya variabel nilai tukar yang tidak berpengaruh. Dengan melihat nilai adjusted R2 dengan nilai 0. 8177 atau 81% yang artinya dalam jangka panjang (ROA) dapat dijelaskan oleh variabel dependen sebesar 81% dan sisanya 19% dijelaskan oleh variabel lain. 2 UJI ASUMSI KLASIK 1 Pertama Uji Normalitas Alam. Lutfi, dan Agustiar: Pengaruh Variabel Makroekonomi dan MikroekonomiA Tabel 6. Hasil Uji Normalitas Jarque-Berra Probability Sumber: EViews 13 . Pada hasil pengujian di atas bahwa pada uji normalitas, data tidak berdistribusi normal sebab nilai probabilitasnya lebih kecil dari 0,05. Namun dalam hal ini dapat digunakan asumsi Central Limit Theorem (CLT), asumsi ini dapat diabaikan apabila jumlah observasi lebih dari 30 karena distribusi sampling error term, mendekati normal (Dielman, 1961 dalam Dharma et al. 2 Kedua Uji Multikolinearitas Tabel 7. Hasil Uji Multikolinearitas Variabel Inflasi Nilai Tukar BI Rate FDR BOPO DPK ECT(-. Centered VIF Sumber: EViews 13 . Pada tabel di atas menunjukkan hasil uji multikolinearitas di mana nilai VIF dari keenam varibael independen lebih kecil dari 10, maka dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas pada semua variabel independen. 3 Uji Heteroskesdastisitas Tabel 8. Hasil Uji Heteroskedastisitas Obs*R-squared Prob. Sumber: EViews 13 . Pada tabel di atas menunjukkan nilai probabilitas dari Uji White sebesar 5034 > 0. 05, artinya bahwa dalam penelitian ini residual terbebas dari masalah heteroskesdastisitas. 4 Uji Auotkorelasi Tabel 9. Hasil Uji Autokorelasi Obs*R-squared Prob. Sumber: EViews 13 . Jurnal Akuntansi dan Keuangan Islam Vol. No. 2 (Oktober 2. Tabel di atas menunjukkan hasil nilai probabilitas dari Uji BreuschGodfrey sebesar 0. 2243 > 0. 05, sehingga data dalam penelitian ini tidak terjadi 3 PEMBAHASAN 1 Pengaruh Inflasi terhadap Profitabilitas Inflasi pada jangka pendek secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia. Hal ini dapat terjadi karena masyarakat lebih memilih bank syariah daripada bank konvensional walaupun tingkat inflasi sedang tinggi, bank syariah tetap mampu memperoleh Disisi lain, terdapat faktor lain yang lebih dominan yang dapat berpengaruh pada inflasi itu sendiri misalnya faktor kebijakan moneter, manajemen internal bank, hingga kondisi pasar. Hasil pengujian tersebut dapat dibuktikan pada perkembangan data statistik tahun 2022 di mana inflasi dan profitabilitas meningkat secara bersamaan. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa inflasi tidak berpengaruh terhadap ROA perbankan syariah. Dalam jangka panjang, inflasi berpengaruh terhadap profitabilitas. Hal ini dapat terjadi karena inflasi sering kali menimbulkan ketidakpastian, mengurangi daya beli masyarakat sehingga berdampak pada kualitas pembiayaan bank. Operasional perbankan syariah yang tidak mengenal sistem bunga turut berpengaruh sehingga mampu membuat situasi yang rumit akibat dari kenaikan inflasi. Hal ini yang membuat perbankan syariah harus menghadapi tantangan untuk menjaga profitabilitas tetap meningkat di tengah kondisi ekonomi yang sulit. 2 Pengaruh Nilai Tukar terhadap Profitabilitas Nilai tukar pada jangka pendek dan panjang sama-sama menunjukkan hasil yang tidak signifikan terhadap profitabilitas. Hal ini dapat terjadi oleh beberapa faktor, seperti kebijakan internal bank yang efektif dalam mengatasi fluktuasi nilai tukar, struktur pembiayaan yang tidak terlalu bergantung pada transaksi internasional, serta penerapan mekanisme perlindungan . oleh bank Kenaikan nilai tukar mata uang asing tidak terlalu memengaruhi perbankan syariah karena dari sisi pangsa pasar masih relative kecil jika dibandingkan dengan bank konvensional. Bank syariah memiliki stok valuta asing yang lebih sedikit, dan sebagian besar hanya menyimpan uang dalam bentuk rupiah. Karena itu, dampak penurunan nilai rupiah terhadap bank syariah cukup rendah. Selain itu, fokus pembiayaan bank syariah masih terbatas di pasar domestik. Dengan demikian, perubahan nilai tukar mata uang asing tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap profitabilitas perbankan syariah. 3 Pengaruh BI Rate terhadap Profitabilitas BI Rate pada jangka pendek menunjukkan hasil yang tidak signifikan terhadap Tidak adanya pengaruh antara kedua variabel mungkin dapat Alam. Lutfi, dan Agustiar: Pengaruh Variabel Makroekonomi dan MikroekonomiA dijelaskan oleh beberapa faktor seperti strategi manajerial yang diterapkan oleh bank syariah untuk mengelola perubahan suku bunga atau struktur produk pembiayaan yang lebih berfokus pada prinsip syariah dan tidak terikat langsung dengan fluktuasi suku bunga. Selain itu, bank syariah juga memiliki pola pembiayaan dan pembagian keuntungan yang berbeda dengan bank konvensional, sehingga perubahan BI Rate tidak memberikan dampak yang sama besar terhadap profitabilitas. Sedangkan dalam jangka panjang. BI Rate berpengaruh terhadap Hal ini dapat terjadi karena bank syariah dapat bertahan dengan menyesuaikan tingkat imbal hasil . agi hasi. pada produk pembiayaan dan investasi, sehingga mampu menarik lebih banyak nasabah. Hubungan BI Rate dan profitabilitas juga tidak terlepas dari peran kebijakan moneter itu sendiri sebab perubahan BI Rate juga mempengaruhi keputusan investasi bank, terutama dalam instrumen keuangan seperti sukuk. Jika suku bunga acuan naik, harga sukuk bisa turun, sehingga nilai aset bank yang terkait dengan instrumen ini berkurang. Penurunan nilai aset tersebut dapat mengurangi laba dan mempengaruhi ROA. 4 Pengaruh FDR terhadap Proftabilitas FDR pada jangka pendek tidak berpengaruh terhadap profitabilitas. Hal ini karena keberadaan bank konvensional dapat memengaruhi FDR bank syariah karena bank konvensional lebih fleksibel dalam menawarkan berbagai jenis pembiayaan tanpa batasan syariah, seperti kredit konsumtif dan investasi, yang mampu meningkatkan FDR mereka. Sebaliknya, bank syariah terbatas dalam pembiayaan yang sesuai dengan prinsip syariah, yang lebih selektif dan berhati-hati dalam penyaluran dana. Dalam jangka panjang. FDR berpengaruh terhadap profitabilitas. Hal ini dapat terjadi karena bank syariah dapat menyalurkan pembiayaan dengan maksimal sehingga meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk menyimpan dana mereka. Semakin tinggi kepercayaan, semakin banyak dana yang Dana yang terkumpul ini berpotensi mempengaruhi tingkat ROA di perbankan syariah, dengan syarat bank mampu mengoptimalkan penyaluran 5 Pengaruh BOPO terhadap Profitabiltas Variabel BOPO dalam jangka pendek menunjukkan hasil yang tidak signifikan sebab tingginya BOPO. Hal ini karena adanya ketidakseimbangan antara dana yang diterima bank dan pembiayaan yang disalurkan dapat menyebabkan kerugian dan penurunan profitabilitas bank sehingga bank dianggap tidak efisien, yang mendorong bank untuk menaikkan nisbah, margin, atau bagi hasil demi meningkatkan pendapatannya, yang pada gilirannya dapat menimbulkan Sehingga diduga, pada tahun penelitian, perbankan syariah kurang memperhatikan risiko yang timbul akibat upaya peningkatan nisbah, sehingga risiko tersebut dapat menurunkan profitabilitas bank syariah, sehingga efisiensi operasional bank tidak berpengaruh pada tingkat profitabilitasnya. Sebab risiko di sini sangat berhubungan erat sebagai kemungkinan terjadinya Jurnal Akuntansi dan Keuangan Islam Vol. No. 2 (Oktober 2. kerugian dan ketidakpastian yang dapat menghambat pencapaian tujuan perbankan dalam memperoleh profitabilitas (Anwar et al. , 2. Sedangkan dalam jangka panjang. BOPO berpengaruh terhadap profitabilitas sebab peningkatan BOPO tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan operasional, yang menyebabkan biaya operasional semakin besar, sehingga dapat mengurangi efisiensi. Kenaikan BOPO yang tidak signifikan mengindikasikan bahwa biaya operasional yang dikeluarkan semakin besar, sementara pendapatan operasional tidak mengalami peningkatan yang Kondisi ini menyebabkan efisiensi operasional bank menurun, di mana biaya yang dikeluarkan melebihi pendapatan yang dihasilkan, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap peningkatan profitabilitas, begitu 6 Pengaruh DPK terhadap Profitabilitas Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam jangka pendek tidak berpengaruh terhadap Hal ini karena adanya ketidakseimbangan antara dana yang diterima bank dan pembiayaan yang disalurkan sehingga menyebabkan kerugian dan penurunan profitabilitas bank. Selain itu, kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap bank dalam mengelola dana mereka menjadi faktor lain yang menyebabkan ketidakseimbangan antara dana pihak ketiga yang dihimpun dan penyaluran pembiayaan. Masyarakat khawatir bank tidak bisa mengembalikan dana yang disetorkan. Ketidakseimbangan ini terjadi karena DPK yang diterima bank tidak langsung menghasilkan keuntungan, melainkan disalurkan kembali ke masyarakat dalam bentuk pembiayaan seperti Mudharabah. Musyarakah, dan akad lainnya. Dalam jangka panjang. DPK berpengaruh terhadap profitabilitas. Hal ini mengindikasikan bahwa perbankan syariah telah mampu memperoleh kepercayaan masyarakat dalam mengelola dana yang diterima dengan baik. semakin besar jumlah dana pihak ketiga yang diperoleh, semakin banyak pembiayaan yang dapat disalurkan kepada masyarakat. Pembiayaan yang tinggi ini pada gilirannya akan mempengaruhi tingkat profitabilitas bank SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pengaruh variabel makro dan mikroekonomi, maka diperoleh beberapa simpulan sebagai berikut. Inflasi tidak berpengaruh pada jangka pendek terhadap profitabilitas bank syariah, namun berpengaruh dalam jangka panjang. Nilai tukar tidak memberikan pengaruh signifikan pada profitabilitas baik dalam jangka pendek maupun panjang. BI Rate juga tidak berpengaruh signifikan pada jangka pendek, namun memengaruhi profitabilitas pada jangka panjang. FDR tidak berpengaruh pada jangka pendek, tetapi berpengaruh terhadap profitabilitas bank umum syariah di Indonesia dalam jangka panjang. BOPO tidak berpengaruh pada jangka pendek, namun berpengaruh dalam jangka panjang Alam. Lutfi, dan Agustiar: Pengaruh Variabel Makroekonomi dan MikroekonomiA terhadap profitabilitas. Terakhir. DPK tidak berpengaruh pada jangka pendek, tetapi memberikan pengaruh signifikan dalam jangka panjang pada profitabilitas bank umum syariah di Indonesia. Untuk itu, perlu adanya kebijakan dari perbankan syariah untuk lebih memanfaatkan teknologi finansial. Hal ini akan menciptakan produk dan layanan yang lebih beragam guna mengimbangi dominasi perbankan Selain itu, perbankan harus memperkuat manajemen risiko untuk menghadapi perubahan ekonomi makro seperti inflasi dan fluktuasi nilai tukar, serta lebih aktif memantau kebijakan ekonomi dan moneter pemerintah agar dapat menyesuaikan strategi dengan perubahan yang terjadi. Fokus juga harus diberikan pada peningkatan efisiensi operasional dan pemanfaatan teknologi untuk mengurangi biaya dan meningkatkan profitabilitas. DAFTAR PUSTAKA