Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Implementasi Model Pembelajaran Inkuiri dalam Meningkatkan Pemahaman Materi Sejarah Kebudayaan Islam pada Siswa MTs Daar elQolam. Gintung Jayanti Azizsam1. Erna Nurdiana2 1 MTs Daar el-Qolam. Gintung Jayanti. Tangeran 2 MTs Salafiyah Bandung harjo Correspondence: azizsam750@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Islamic History and Culture. Inquiry-based Learning. MTs Daar el-Qolam. Student Engagement. Critical Thinking. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to improve students' understanding of Islamic History and Culture (SKI) through the implementation of an inquiry-based learning model at MTs Daar el-Qolam. Gintung Jayanti. The research focuses on addressing the challenges faced by students in comprehending historical events and Islamic cultural The inquiry-based model encourages active learning, where students are motivated to ask questions, explore answers, and engage in discussions, thus fostering a deeper understanding of the subject matter. The research was conducted in two cycles, each consisting of planning, implementation, observation, and reflection. Data were collected through observations, interviews, and student assessments. The findings indicate that the inquiry-based learning model significantly enhances students' interest in the subject, improves their critical thinking skills, and deepens their understanding of Islamic history. This model proved effective in creating a more interactive and engaging learning environment, leading to better academic performance and student participation. The study provides valuable insights for educators looking to adopt innovative teaching strategies to improve the quality of learning in Islamic History and Culture. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan madrasah sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional memegang peran penting dalam membentuk karakter dan pemahaman keagamaan siswa. Mata pelajaran SKI di madrasah memberikan landasan untuk memahami sejarah perkembangan peradaban Islam dan nilai-nilai kebudayaan Islam yang relevan dengan kehidupan masa kini. Namun kondisi riil menunjukkan bahwa proses pembelajaran SKI belum optimal di banyak madrasah, termasuk di MTs. (Putra, 2. Karena itu, penting untuk menginvestigasi hambatan yang terjadi dalam pembelajaran SKI agar dicapai hasil yang lebih baik. Salah satu permasalahan yang muncul adalah rendahnya minat dan motivasi siswa terhadap pembelajaran SKI. Siswa sering melihat SKI sebagai materi yang bersifat hafalan dan kurang relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari, sehingga terjadi kejenuhan belajar dan partisipasi yang rendah (Anisah & Maulidah, 2. Kondisi tersebut menghambat pencapaian kompetensi yang diharapkan dalam mata pelajaran ini. Faktor metode pembelajaran menjadi katalis utama dalam dinamika tersebut. Beberapa penelitian mengungkap bahwa masih dominannya metode ceramah atau tanya jawab pasif dalam pembelajaran SKI menyebabkan siswa menjadi penerima pasif, tidak aktif mengeksplorasi pengetahuan secara mendalam (Syurgawi & Yusuf, 2020. Rohman et al. Hal ini menuntut perubahan ke arah model pembelajaran yang lebih student-centered dan aktif. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Selain metode, media dan teknologi pembelajaran juga berpengaruh besar dalam menarik perhatian siswa dan meningkatkan pemahaman terhadap materi SKI. Penelitian di sekolah menengah di Indonesia menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis teknologi dapat meningkatkan minat belajar siswa dan memperkaya pengalaman belajar materi sejarah dan kebudayaan Islam (Lail & Ali, 2. Dengan demikian, pemanfaatan media interaktif dan teknologi layak dipertimbangkan. Lebih spesifik di lingkungan madrasah, penelitian menunjukkan bahwa implementasi model pembelajaran inkuiri dalam SKI berhasil meningkatkan hasil belajar siswa dari rata-rata 75 ke 85 dalam dua siklus penelitian tindakan kelas (Rani, 2. Namun, kendala yang ditemui adalah alokasi waktu, sarana prasarana terbatas, dan guru SKI yang belum familiar dengan langkah-langkah model inkuiri secara penuh (Utama et al. , 2. Ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inovatif memerlukan dukungan lingkungan sekolah yang Kurikulum juga berperan dalam konteks ini. Kajian mengenai implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran SKI di madrasah menunjukkan bahwa walaupun telah diterapkan, realisasinya belum maksimal karena persiapan guru, materi ajar, dan evaluasi belum sepenuhnya disesuaikan (Fadillah & Achadi, 2. Di MTs Daar el-Qolam, hal serupa mungkin terjadi, sehingga perlu diidentifikasi aspek-aspek strategis yang belum berjalan. Lebih lanjut, orientasi pembelajaran SKI yang bersifat multikultural menunjukkan bahwa pendidikan kebudayaan Islam tidak hanya menanamkan sejarah tetapi juga penguatan karakter, penghargaan pluralitas, dan pemahaman lintas budaya (La-Tahzan, 2. Jika orientasi ini belum terpenuhi, maka siswa mungkin gagal mengaitkan materi SKI dengan konteks kehidupan mereka dan masyarakat sekitar mereka. Hambatan lainnya adalah kondisi sosial dan kultural siswa. Banyak siswa hadir dengan latar belakang yang berbeda dan kecenderungan budaya populer yang jauh dari nilai-nilai kebudayaan Islam klasik. Pembelajaran yang tidak mengaitkan materi dengan pengalaman siswa akan membuat pembelajaran terasa jauh dan abstrak (Fachrudin, 2. Hal ini relevan untuk lingkungan Gintung Jayanti yang memiliki beragam latar belakang. Sarana dan prasarana di madrasah juga menjadi faktor krusial. Penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan sumber belajar, waktu pembelajaran, dan jumlah guru SKI menciptakan hambatan dalam penerapan strategi pembelajaran inovatif (Utama et al. , 2. Di MTs Daar el-Qolam Gintung Jayanti, jika kondisi serupa terjadi, maka efektivitas pembelajaran SKI bisa terhambat. Selanjutnya, kelelahan atau kejenuhan belajar . earning boredo. dalam mata pelajaran SKI juga perlu mendapat perhatian. Penelitian tindakan kelas di MI menunjukkan bahwa kombinasi strategi kontekstual dan inkuiri dapat mengatasi kejenuhan belajar dan meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran SKI (Inovasi, 2. Dengan demikian, inovasi pembelajaran menjadi penting untuk memperbaharui cara penyampaian materi SKI. Evaluasi hasil belajar SKI pun menunjukkan adanya gap antara kompetensi yang diharapkan dengan capaian siswa. Analisis pembelajaran di MI. MTs, dan MA mengungkap bahwa cakupan materi, strategi pembelajaran, dan evaluasi belum sepenuhnya selaras dengan tujuan pembelajaran SKI (Fachrudin, 2. Oleh karena itu, pembenahan aspek penilaian dan umpan balik diperlukan. Konteks lokal di MTs Daar el-Qolam menjadi penting karena keberagaman dan karakteristik siswa serta madrasah mempengaruhi bagaimana model pembelajaran diterapkan. Setiap madrasah memiliki kultur institusi, jumlah siswa, dan kemampuan guru yang berbeda. Penelitian yang bersifat tindakan kelas dengan konteks lokal akan memberikan solusi yang spesifik dan aplikatif. Dengan latar belakang tersebut, penelitian tindakan kelas yang menerapkan model pembelajaran inkuiri pada materi SKI di MTs Daar el-Qolam Gintung Jayanti menjadi sangat Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Model ini diharapkan mampu meningkatkan motivasi, partisipasi aktif siswa, dan pemahaman materi SKI, sehingga kompetensi dan karakter siswa lebih optimal. Akhirnya, kebutuhan untuk menyusun perangkat pembelajaran yang tepatAitermasuk silabus. RPP, media, dan evaluasiAiserta memberikan pelatihan bagi guru SKI di madrasah menjadi Penelitian ini dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kualitas pembelajaran SKI dan menjadi teladan bagi madrasah lainnya. RESEARCH METHODS Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman materi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) pada siswa di MTs Daar el-Qolam. Gintung Jayanti. Penelitian Tindakan Kelas dipilih karena metodologi ini memungkinkan peneliti untuk secara langsung mengatasi masalah yang ada dalam proses pembelajaran di kelas melalui siklus tindakan yang berkesinambungan. PTK terdiri dari beberapa siklus yang masing-masing meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi (Kemmis & McTaggart, 2. Pendekatan ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran secara langsung sambil memberikan kesempatan kepada guru untuk melakukan perbaikan berbasis data yang ada. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dengan masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada tahap perencanaan, peneliti bersama dengan guru merancang model pembelajaran yang lebih interaktif, yaitu model pembelajaran inkuiri, yang dapat merangsang partisipasi aktif siswa. Pembelajaran inkuiri dipilih karena dapat mendorong siswa untuk bertanya, mencari jawaban, dan berdiskusi, yang pada gilirannya akan meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi SKI (Sugiyono, 2. Selama pelaksanaan, guru menggunakan media yang relevan untuk mendukung pembelajaran dan mengarahkan siswa untuk menggali pengetahuan melalui pertanyaan terbuka. Pada tahap observasi, peneliti dan guru mengamati perkembangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Pengamatan dilakukan dengan mencatat perilaku siswa, tingkat partisipasi, serta hasil belajar siswa baik secara individu maupun kelompok. Peneliti juga menggunakan lembar observasi untuk mencatat aspek-aspek penting selama proses pembelajaran, seperti interaksi antara siswa dan guru, dinamika diskusi, serta penerapan metode inkuiri dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Data yang diperoleh dari observasi ini akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan pada siklus berikutnya. Penelitian ini juga melibatkan siswa dalam proses refleksi untuk melihat sejauh mana mereka memahami materi yang diajarkan. Setelah setiap siklus selesai, dilakukan refleksi yang bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran dan hasil yang dicapai. Dalam refleksi ini, peneliti bersama guru menganalisis apakah model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi SKI. Apabila hasilnya belum optimal, perbaikan dilakukan pada siklus Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik kualitatif untuk mengidentifikasi perubahan-perubahan yang terjadi pada siswa selama pembelajaran Selain itu, hasil tes atau penilaian siswa juga digunakan sebagai indikator utama untuk mengukur peningkatan pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan. Untuk mengumpulkan data, penelitian ini menggunakan dua teknik utama, yaitu observasi dan Observasi dilakukan untuk mengetahui proses pembelajaran secara langsung, sementara tes digunakan untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran inkuiri. Tes yang diberikan berupa soal-soal tertulis yang mencakup materi yang telah dipelajari, sedangkan observasi berfokus pada aspek keterlibatan siswa, sikap mereka terhadap pembelajaran, serta interaksi dalam kelompok. Kedua instrumen ini dipilih untuk Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 memberikan gambaran yang lebih menyeluruh tentang efektivitas model pembelajaran inkuiri dalam meningkatkan pemahaman materi SKI di MTs Daar el-Qolam. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MTs Daar el-Qolam. Gintung Jayanti melalui penerapan model pembelajaran inkuiri. Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan bahwa penerapan model ini berhasil meningkatkan minat dan partisipasi siswa dalam pembelajaran SKI. Siswa yang sebelumnya pasif dan cenderung tidak tertarik menjadi lebih aktif dalam proses belajar. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis inkuiri yang memberikan ruang bagi siswa untuk bertanya, mencari informasi, dan berdiskusi dapat menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan menarik (Utama et al. , 2. Pada siklus pertama, meskipun terdapat peningkatan yang signifikan dalam partisipasi siswa, masih terdapat beberapa kendala, seperti kurangnya keterampilan guru dalam mengelola diskusi kelompok yang menggunakan pendekatan inkuiri. Beberapa siswa merasa kebingungan dengan pertanyaan yang diberikan dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mencari jawaban secara mandiri. Hal ini mencerminkan bahwa meskipun model inkuiri efektif, guru perlu lebih mempersiapkan metode pembelajaran ini agar lebih sesuai dengan kemampuan siswa (Rani, 2. Untuk itu, siklus kedua dilakukan dengan beberapa perbaikan pada langkah-langkah pembelajaran. Pada siklus kedua, penerapan model pembelajaran inkuiri dilakukan dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan terarah. Guru memberikan arahan lebih jelas mengenai tujuan diskusi dan memastikan setiap siswa terlibat aktif dalam kegiatan kelompok. Selain itu, penggunaan media yang mendukung, seperti gambar dan video sejarah, juga membantu siswa untuk lebih memahami materi SKI. Penelitian ini menunjukkan bahwa perbaikan ini menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam hasil belajar siswa, dengan rata-rata nilai tes yang lebih tinggi dibandingkan pada siklus pertama (Fadillah & Achadi, 2. Peningkatan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan media dan pendekatan yang lebih terfokus sangat mendukung proses pembelajaran. Data hasil observasi menunjukkan bahwa siswa lebih antusias dalam mengikuti pelajaran SKI setelah penerapan model inkuiri. Selama diskusi kelompok, mereka terlihat lebih bersemangat untuk berbagi pendapat dan mencari informasi lebih lanjut. Ini sejalan dengan teori yang mengatakan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa (Syurgawi & Yusuf, 2. Namun, terdapat beberapa siswa yang merasa kesulitan dalam memahami konsep-konsep sejarah yang lebih kompleks, sehingga pembelajaran yang lebih mendalam dan berkesinambungan diperlukan untuk mengatasi hal ini. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri berhasil menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif dan menyenangkan. Siswa tidak hanya menjadi lebih aktif dalam pembelajaran, tetapi juga lebih termotivasi untuk mempelajari materi SKI. Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran yang mengedepankan keterlibatan aktif siswa dapat meningkatkan pemahaman mereka terhadap sejarah dan kebudayaan Islam, yang sebelumnya dianggap sebagai materi yang sulit dan membosankan (La-Tahzan, 2. Namun, dalam penerapannya, masih ditemukan beberapa kendala yang perlu diperbaiki. Beberapa siswa mengungkapkan bahwa waktu yang disediakan untuk diskusi kelompok seringkali terasa kurang, sehingga mereka tidak dapat menggali lebih dalam mengenai materi yang dibahas. Kendala ini terkait dengan pengelolaan waktu yang harus diperhatikan oleh guru agar setiap tahap pembelajaran dapat dilaksanakan dengan optimal (Lail & Ali, 2. Waktu yang cukup untuk diskusi menjadi kunci dalam memastikan siswa mendapatkan pemahaman yang mendalam. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Selain itu, penilaian terhadap hasil belajar siswa menunjukkan bahwa meskipun terdapat peningkatan pemahaman, ada beberapa aspek yang masih perlu diperbaiki. Beberapa siswa masih kesulitan dalam merangkum informasi yang mereka peroleh dari diskusi, yang mengindikasikan perlunya penguatan dalam aspek keterampilan menulis dan presentasi (Inovasi, 2. Oleh karena itu, pembelajaran SKI yang melibatkan lebih banyak latihan menulis dan berbicara dapat memperkuat hasil belajar siswa secara keseluruhan. Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah bahwa keberhasilan model inkuiri dalam meningkatkan pemahaman SKI sangat bergantung pada keterampilan guru dalam mengelola kelas dan mendukung proses diskusi. Guru harus mampu menciptakan suasana yang mendukung siswa untuk berpikir kritis dan berani mengungkapkan pendapat tanpa merasa takut salah. Hal ini memerlukan pelatihan yang berkelanjutan untuk guru agar dapat menerapkan model pembelajaran ini dengan lebih efektif (Fachrudin, 2. Pada aspek keterlibatan orang tua, penelitian ini juga menemukan bahwa kolaborasi antara guru dan orang tua dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Beberapa siswa yang mendapatkan dukungan ekstra dari orang tua di rumah menunjukkan perkembangan yang lebih baik dalam pemahaman materi SKI. Ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa dukungan keluarga dapat mempercepat pemahaman siswa dalam pelajaran sejarah (Anisah & Maulidah. Pembelajaran inkuiri di MTs Daar el-Qolam juga memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial mereka. Melalui diskusi kelompok, siswa belajar untuk bekerja sama, mendengarkan pendapat orang lain, serta mengembangkan rasa saling Keterampilan sosial ini sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pembelajaran SKI yang menggunakan model inkuiri tidak hanya bermanfaat dalam aspek akademik, tetapi juga dalam pengembangan karakter siswa (Budi, 2. Meskipun penelitian ini menunjukkan hasil yang positif, perlu ada evaluasi terus-menerus untuk memastikan bahwa model inkuiri tetap efektif dalam jangka panjang. Setiap siklus pembelajaran memberikan gambaran mengenai peningkatan yang terjadi, namun tantangan dalam pengelolaan kelas dan keterbatasan waktu tetap menjadi isu yang harus diperhatikan secara serius oleh guru (Rohman et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengatasi masalah ini dengan berbagai strategi dan perbaikan yang lebih Penerapan model inkuiri dalam pembelajaran SKI di MTs Daar el-Qolam. Gintung Jayanti, terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa. Namun, untuk memaksimalkan potensi model ini, guru perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang teknik-teknik pembelajaran inkuiri serta cara mengelola dinamika kelas yang ada. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi sekolah lain dalam mengembangkan strategi pembelajaran SKI yang lebih menarik dan efektif (Putra, 2. Selain itu, penting untuk menekankan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri membutuhkan komitmen dan keterlibatan aktif dari seluruh pihak, baik guru, siswa, maupun orang tua. Keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh kualitas materi ajar, tetapi juga oleh interaksi yang terjadi di dalam kelas. Oleh karena itu, upaya untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran SKI melalui model inkuiri harus melibatkan berbagai pihak dalam mendukung perkembangan siswa (Syurgawi & Yusuf, 2. Pada akhirnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa meskipun ada tantangan dalam penerapan model pembelajaran inkuiri, hasil yang diperoleh sangat positif, baik dari segi peningkatan pemahaman materi SKI maupun keterampilan sosial siswa. Ke depan, diharapkan dapat dilakukan lebih banyak penelitian yang mengeksplorasi penerapan model inkuiri di berbagai konteks madrasah lainnya untuk mengetahui apakah hasil yang serupa dapat dicapai di sekolahsekolah lain yang memiliki karakteristik siswa yang berbeda (Lail & Ali, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri pada materi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MTs Daar el-Qolam. Gintung Jayanti berhasil meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Model pembelajaran inkuiri yang diterapkan dalam penelitian ini terbukti dapat menciptakan suasana pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik, yang pada gilirannya meningkatkan motivasi dan partisipasi aktif siswa. Melalui pendekatan ini, siswa diberi kesempatan untuk menggali pengetahuan secara mandiri, berkolaborasi dalam diskusi kelompok, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Meskipun demikian, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa kendala yang perlu diperhatikan, seperti kurangnya keterampilan guru dalam mengelola diskusi kelompok, keterbatasan waktu untuk menggali materi lebih dalam, serta beberapa siswa yang masih kesulitan dalam menyusun informasi secara sistematis. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan lebih lanjut bagi guru dalam mengimplementasikan model pembelajaran inkuiri dengan lebih Selain itu, waktu yang lebih fleksibel dan penguatan dalam keterampilan menulis serta presentasi juga penting untuk memastikan hasil belajar yang maksimal. Secara keseluruhan, penerapan model pembelajaran inkuiri di MTs Daar el-Qolam menunjukkan hasil yang positif, baik dalam hal peningkatan pemahaman materi SKI maupun dalam pengembangan keterampilan sosial siswa. Penelitian ini memberikan bukti bahwa model pembelajaran yang lebih aktif dan berorientasi pada keterlibatan siswa dapat meningkatkan kualitas pembelajaran SKI, serta mendorong siswa untuk lebih tertarik dan memahami sejarah dan kebudayaan Islam dengan cara yang lebih mendalam. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi madrasah lainnya untuk mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif dan efektif. REFERENCES