Al-TaAolim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. : April Journal homepage https://ejournal. id/index. php/altalim TRADISI ZIARAH SEBAGAI SARANA PENGUATAN MODERASI BERAGAMA SANTRI PONDOK TREMAS Ismail1. Syamsudin2 1 Afiliasi (Pendidikan Anak Usia Dini/Institut Studi Islam Muhammadiyah Pacita. Indonesia 2 Afiliasi (STAINU Pacita. Indonesia Email: ismail@isimupacitan. id1, syamsudinjos@gmail. Received: 06-04-2025 DOI: Accepted: 20-04-2025 Published: 30-04-2025 Abstrak: Sebagai sistem agama yang dianut oleh mayoritas orang Indonesia. Islam memiliki dua pijakan ajaran. Yang pertama berasal dari Al Quran, yang dianggap sebagai kalamullah, dan Hadits, yang dianggap sebagai sunah Rasulullah. Yang kedua berasal dari ajaran kontekstual yang berasal dari cipta rasa dan karsa manusia yang dipengaruhi oleh lingkungan geografis, sosial, dan Akibatnya, berbagai kearifan dan tradisi yang berbeda muncul sebagai hasil dari lingkungan tersebut. Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan pendekatan fenomenologi atas tradisi Ziarah di Pondok Tremas yang dilakukan oleh para santri baru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui relevansi tradisi ziarah di Pondok Tremas sebagai penguatan moderasi beragama bagi santri-santri baru di perguruan Islam tersebut. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tradisi ziarah sangat relevan dengan konteks dan upaya penguatan moderasi beragama bagi santri karena kesesuaian tradisi ziarah dengan salah satu indicator moderasi beragama, yaitu reservasi budaya dan tradisi local. Kata Kunci: Ziarah. Moderasi Beragama. Pondok Pesantren PENDAHULUAN Sebagai sistem agama yang dianut oleh mayoritas orang Indonesia. Islam memiliki dua pijakan ajaran. Yang pertama berasal dari Al Quran, yang dianggap sebagai kalamullah, dan Hadits, yang dianggap sebagai sunah Rasulullah. Yang kedua berasal dari ajaran kontekstual yang berasal dari cipta rasa dan karsa manusia yang dipengaruhi oleh lingkungan geografis, sosial, dan Akibatnya, berbagai kearifan dan tradisi yang berbeda muncul sebagai hasil dari lingkungan tersebut. Sepertinya perbedaan ini masuk akal sebagai rahmat dari hukum alam yang diciptakan oleh tuhan yang maha esa. Dalam konteks agama, istilah Auislam wasatiyahAy atau Auislam moderatAy digunakan untuk menggambarkan moderasi. Ini adalah islam jalan tengah yang menghindari kekerasan, cintakedamian, toleransi, menjaga nilai luruh yang baik, dan menerima setiap perubahan dan pembaharuan untuk kepentingan umum Al-TaAolim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. : April Nama Penulis (Bol. Judul Artikel (Italic. Book Antiqua 9p. (Shihab, 2. Kebudayaan dan agama adalah dua sistem nilai yang saling terkait yang membentuk gagasan tentang konstruksi realitas. Mereka juga memainkan peran penting dalam membentuk norma sosial dan struktur Liberalis, serta dalam memahami dunia sekitar kita. Agama dilihat sebagai suatu sistem nilai yang mencakup ketaatan kepada Tuhan, sedangkan kebudayaan adalah ekspresi dari kreativitas, karya, dan pikiran manusia yang mengandung nilai-nilai, serta pesan-pesan Liberalis, wawasan filosofis, dan kearifan local (Adibah et al. , 2. Dalam konteks ini, agama mengekspresikan nilai-nilai ketaatan spiritual, sedangkan kebudayaan mengandung 2ibera dan nilai untuk memungkinkan manusia menjalani kehidupan yang dinamis. Tatanan keberagamaan secara keseluruhan dipengaruhi oleh sistem agama masyarakat dan makna kolektifnya. Namun, perlu diingat bahwa sistem agama tidak selalu permanen dan dapat berubah sesuai dengan masyarakat (Sutrisno, 2. Tradisi Ziarah merupakan budaya turun temurun yang dilakukan sejak nenek moyang bangsa Indonesia tanpa mengenal bingkai agama. Di era modern saat inipun tradisi ziarah masih umum dilakukan. Bahkan dalam ajaran Islam, ziarah ini dituntunkan sendiri oleh Rasulullah SAW. Pondok Tremas merupakan pondok pesantren yang melestarikan budaya atau tradisi ziarah ini bahkan menjadi tradisi yang seolah wajib bagi santri-santri baru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui esensi dan tujuan dari tradisi Ziarah serta mengkaji relevansinya dengan konsep moderasi beragama. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yaitu pendekatan penelitian yang focus pada kedalaman makna atas kehidupan sosial di dalam masyarakat sehari-hari yang tujuannya adalah mempelajari tentang fenomena manusia tanpa perlu mempelajari penyebabnya (Hamdani. Suyanto, 2. Subjek dari penelitian ini adalah santri pondok pesantren tremas dan ustadz pengasuh pondok pesantren tremas. Sedangkan objek dari penelitian ini adalah tradisi ziarah di Pondok Pesantren Tremas. HASIL DAN PEMBAHASAN (Huruf kapital. Bold. Book Antiqua 12p. Profil Pondok Tremas Pondok Tremas merupakan sebuah Perguruan Islam yang terletak di Desa Tremas. Kecamatan Arjosari. Kabupaten Pacitan. Provinsi Jawa Timur. Pondok Tremas didirikan pada tahun 1880 oleh KH. Abdul Manan Dipomenggolo yang merupakan orang Indonesia pertama yang menunutut ilmu ke Al-Azhar. Mesir (Media Santri NU, 2021. Sanusi, 2. Sejarah berdirinya Perguruan Islam Pondok Tremas berawal dari Raden Bagus Darso yang kemudian Bernama KH Abdul Manan, yang merupakan putra dari Demang Semanten. Raden Ngabehi Dipomenggolo sepulang dari Al-TaAolim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. : April ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/altalim Nama Penulis (Bol. Judul Artikel (Italic. Book Antiqua 9p. merantau untuk memperdalam ilmu Agama Islam ke Pondok Pesantren Tegalsari. Ponorogo yang kemudian mendirikan sebuah pondok di tanah kelahirannya. Desa Semanten. Bagus Darso juga menyelenggarakan pengajian-pengajian sederhana yang kemudian karena ilmunya, banyak warga Pacitan yang datang mengaji kepadanya. Hingga kemudian pada tahun 1825 M didirikan pondok untuk santri-santri yang berasal dari tempat yang jauh yang datang untuk mengaji. Bagus Darso kemudian menikah dengan putri Demang Tremas. Raden Ngabehi Honggowijoyo yang merupakan kakak kandung dari Raden Ngabehi Dipomenggolo. Setelah pernikahan tersebut kemudian pondok beralih ke Tremas karena disediakannya tempat yang memadahi oleh mertua Bagus Darso untuk mendirikan sebuah pondok. Kemudian pada tahun 1830 M Pondok Tremas resmi berdiri (Mukodi, 2. - Visi Misi Pondok Tremas Visi : Mewujudkan Pondok Tremas sebagai Civitas Akademika salaf yang comptitif di tingkat Nasional maupun Internasional. Misi: . Mengambangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan Islam secara kaffah. Membangun Indonesia menjadi negara yang madani dan diridhoi Allah. - Tujuan Membentuk pribadi santri yang berakhlaqul karimah. Menghasilkan lulusan yang aktif, kreatif, inovatif dan kompetitif - Motto Mencetak insan benar yang pintar (Ilahiyah, 2. Tradisi Ziarah Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ziarah adalah berkunjung ke tempat yang dianggap keramat atau mulia . eperti makam dan sebagainy. Ziarah kubur adalah kunjungan seseorang ke tempat disemayamkannya orang penting atau orang dengan hubungan dekat, seperti keluarga (Al-Ayubi, 2. Ziarah kubur telah lama menjadi tradisi di Dunia Islam. Pada suatu titik. Nabi Muhammad SAW sempat dilarang melakukannya karena khawatir bahwa iman kaum Muslimin masih rapuh pada saat itu. Namun, pada akhirnya. Nabi Muhammad SAW memberikan izin untuk ziarah kubur dengan tujuan agar para penziarah mengingat kematian dan tidak terlena dengan kenikmatan duniawi dan selalu siap untuk kematian (Mirdad et al. , 2. Di sisi lain, ziarah pada umumnya dilakukan untuk para leluhur, orang tua, dan anggota keluarga Tujuan ziarah dalam konteks ini, selain untuk mengingat kematian bagi para peziarah, adalah untuk mengagungkan Allah. Tuhan Yang Maha Esa, dan mendoakan arwah ahli kubur agar diterima di sisi Allah. Ini adalah perbuatan sunnah dan dianjurkan. Amalan ini biasa disebut dengan ziarah kubur . iyArah al-qub. Makna lain dari ziarah yang lebih umum, khususnya di Indonesia, adalah kunjungan ke berbagai tempat, biasanya ke makam, rumah ibadah atau masjid bersejarah, makam tokoh-tokoh agama, sultan, raja, dan keluarganya, dan ke tempat-tempat atau umumnya berupa kompleks 3iberalis makam-makam Al-TaAolim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. : April ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/altalim Nama Penulis (Bol. Judul Artikel (Italic. Book Antiqua 9p. wali yang berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia. Moderasi Beragama Dalam Liberal Arab, kata moderasi disebut Aual-wasathiyyahAy, yang berasal dari kata AuwasathAy. Istilah lain mendefinisikan AuwasathanAy dengan AusawaAounAy, yang berarti tengah-tengah di antara dua batas, atau dengan keadilan, yang tengahtengah, standar, atau biasa. Wasathan juga berarti menghindari berkompromi, bahkan meninggalkan prinsip agama (Al Shafani & IM, 2. Beragama artinya memeluk atau mempercayai dan menganut suatu ajaran agama (Nurdin, 2. Oleh karena itu, moderasi beragama adalah Liberalis melihat agama, yang berarti kita memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan cara yang tidak ekstrem, baik dari sisi kanan maupun kiri (Junaedi, 2. Dalam konteks agama, islam wasatiyah atau islam moderat didefinisikan sebagai islam jalan tengah. Ini berarti menghentikan kekerasan, cinta kedamian, toleransi, mempertahankan nilai luhur yang baik, menerima perubahan dan pembaharuan demi kebaikan, dan menerima setiap fatwa berdasarkan situasi geografis, sosial, dan budaya. Menurut Kementerian Agama, beberapa Liberalis moderasi beragama adalah toleransi, anti-kekerasan, komitmen kebangsaan, dan akomodatif terhadap budaya local (Kantor Kemenag Denpasar, 2. Prinsip atau ciri-ciri moderasi dalam Islam: Wasathiyah . engambil jalan tenga. Wasathiyah dapat berarti pemahaman yang memadukan antara teks ajaran agama dan konteks situasi masyarakat, yaitu dengan tidak berlebihan dalam beragama dan tidak mengurangi ajaran agama. Jadi. AuwasatiyahAy adalah pandangan atau perilaku yang selalu berusaha mengambil posisi tengah dari dua perilaku yang berbeda dan kelewatan sehingga salah satu dari kedua perilaku tersebut tidak mendominasi pikiran atau perilaku individu. Tawazun ( Seimbang ) Tahawzun adalah pandangan keseimbangan yang tidak keluar dari garis yang telah ditetapkan. Istilah tawazun berasal dari kata mizan, yang berarti Namun, dalam konteks moderasi, mizan dimaksudkan untuk keadilan dalam semua aspek kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat, bukan untuk menimbang. Tasamuh (Tolerans. Dalam Libera Arab, kata AutasamuhAy berasal dari kata AusamhunAy, yang berarti AumemudahkanAy. Toleransi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti: bersifat menghargai, membiarkan, membolehkan, sesuatu yang berbeda atau bertentangan dengan keyakinan sendiri. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa toleransi adalah perilaku yang menghargai pendirian orang lain dan menghargai mereka, tetapi tidak berarti memperbaiki, mengikuti, atau membenarkannya. IAotidal . urus dan tega. IAotidal berasal dari kata Libera Arab yang berarti AuadilAy, yang dalam kamus besar Libera Indonesia berarti Autidak berat sebelahAy atau Autidak sewenangwenang. Ay IAotidal adalah perspektif yang menempatkan sesuatu pada Al-TaAolim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. : April ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/altalim Nama Penulis (Bol. Judul Artikel (Italic. Book Antiqua 9p. tempatnya, membagi sesuatu sesuai dengan porsinya, melaksankaan hak dan memenuhi kewajiban. Musawah . Musawah berarti persamaan derajat. agama Islam tidak pernah membedakan manusia secara pribadi. Semua orang memiliki derajat yang sama tanpa memandang jenis kelamin, ras, suku, tradisi, budaya, atau Karena semuanya telah ditetapkan oleh sang pencipta, manusia tidak dapat mengubah hal-hal yang telah ditetapkan. Syuro ( Musyawara. Syuro berasal dari kata SyawaraAiYusawiru, yang berarti memberikan penjelasa, menyatakan, atau mengambil sesuatu. bentuk lain dari kata ini adalah tasyawara, yang berarti perundingan, bertukar pendapat, atau bertukar ide. Jadi, musyawarah adalah cara untuk menyelesaikan setiap masalah dengan berkumpul dan berbicara satu sama lain untuk mencapai kesepakatan berdasarkan prinsip kebaikan bersama di atas segalanya. Ishlah (Reformas. Islah berasal dari kata AuperbaikanAy dalam 5ibera Arab, yang berarti AumendamaikanAy atau memperbaiki. Dengan berpegang pada prinsip memelihara nilai nilai tradisi lama yang baik dan menerapkan nilai nilai tradisi baru yang lebih baik untuk kemaslahatan bersama, konsep moderasi memberikan kondisi yang lebih baik untuk merespon perubahan dan kemajuan zaman atas dasar kepentingan umum. Awlawiyah(Mendahulukan Periorita. Al-awlawiyyah adalah bentuk jamak dari kata al-aulaa, yang berarti penting atau perioritas. Selain itu, al-awlawiyyah juga dapat diartikan sebagai mengutamakan kepentingan yang lebih penting dari segi implementasi . Dalam beberapa situasi, hal yang paling penting adalah memprioritaskan hal-hal yang harus diprioritaskan daripada hal-hal yang kurang penting, tergantung pada waktu dan durasi. Tradisi Ziarah di Pondok Pesantren Tremas Di Pondok Tremas lahir tradisi unik yang telah menjadi kebiasaan bagi para santri sejak ratusan tahun yang lalu di mana para santri baru rutin berziarah ke makam Gunung Lembu selama 41 hari berturut-turut tanpa putus. Tidak ada peraturan tertulis yang mengharuskan atau mewajibkan tradisi tersebut namun tradisi tersebut menjadi seolah wajib di kalangan para santri baru. Jika dilihat dari konteksnya, tradisi tersebut seakan-akan merupakan suatu amalan yang ringan, namun pada kenyataannya, banyak sekali kendala yang menjadi ujian bagi para santri, seperti kondisi hujan, ketiduran, dan lain sebagainya. Tradisi ini tidak ada di dalam kitab, namun diyakini mampu menjadi ujian awal bagi santri baru untuk menunjukkan keseriusan dan kegigihan mereka dalam menuntut ilmu (Achlaq et al. , 2. Al-TaAolim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. : April ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/altalim Nama Penulis (Bol. Judul Artikel (Italic. Book Antiqua 9p. Esensi dan Tujuan Tradisi Ziarah Di pesantren yang didirikan oleh KH Abdul Manan Dipomenggolo pada tahun 1830 M ini, lahir sebuah tradisi unik yang sudah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu, yaitu setiap santri baru AudiusahakanAy, bahkan ada yang AuwajibAy untuk rutin berziarah ke makam masyayikh . Pesantren selama 41 hari berturut-turut tanpa putus. Santri baru berusaha mengembangkan tradisi ziarah ke makam sesepuh setiap pagi dan sore Ziarah ini dilakukan ke makam Gunung Lembu, yang terletak sekitar 350 meter barat daya dari kompleks pesantren Tremas, dan ke makam Semanten, yang terletak di bukit desa Semanten, yang dilakukan setiap hari Kamis dan Jumat di pinggiran kota Pacitan. Para sesepuh dan pengasuh Pesantren Tremas, termasuk KH Dimyathi. KH Abdurrozaq. KH Habib Dimyathi. KH Haris Dimyathi. KH Hasyim Ihsan. KH Toyyib Hasan BaAobud, dan KH Mahrus Hasyim, bersemayam di makam gunung Lembu. Selain itu, para kiai seperti KH Abdul Manan Dipomenggolo, yang meninggal pada tahun 1860 dan merupakan pendiri pertama Pesantren Tremas Pacitan, serta Sayyid Hasan BaAobud, yang merupakan generasi pertama orang Indonesia yang belajar di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, dimakamkan di bukit Semanten Pacitan. Kegiatan berziarah selama 41 hari terlihat sederhana dan mudah dilakukan, tetapi pada kenyataannya sangat sulit untuk mencapai target sempurna karena ada banyak halangan, seperti hujan dan ketiduran. Jika para santri berhasil mencapai tujuan mereka selama 41 hari tanpa henti, itu adalah sinyal positif bagi mereka. Artinya, setelah tidak tidur siang selama satu minggu, mereka benar-benar sabar menghadapi tes mental kedua ini. Ziarah kubur memiliki banyak manfaat dan hikmah. Kiai Fuad menyatakan. AuSaya haqqul yaqin, orang-orang yang sering ziarah kubur itu jauh berbeda wajahnya, peraupan-nya, ahwaliahnya . ingkah lakuny. dengan orang-orang yang tidak terbiasa melakukannya. Ay (Ismail, 2. Dia menambahkan bahwa salah satu amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW adalah ziarah ke kubur. Dia menegaskan bahwa para ulama, meskipun mereka telah meninggal, sebenarnya masih hidup di sisi Allah SWT. Para santri di Pesantren Tremas percaya hal itu dan berusaha mentradisikan ziarah kepada para ulama sebagai bentuk taAodhim (Faizin Faizin, . Relevansi Tujuan Ziarah dengan Konsep Moderasi Beragama Tradisi Ziarah di Pondok Pesantren Tremas merupakan tradisi kuno yang sudah berlangsung sejak tahun 1800 an hingga saat ini dan merupakan tradisi luhur yang pantas untuk dipertahankan. Selain itu, ziarah juga mengandung nilai-nilai ke-Islaman yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW. Berdasarkan pada indicator moderasi beragama yang diterbitkan oleh Kementrian Agama, maka budaya atau tradisi Ziarah termasuk salah satu tradisi yang erat kaitannya dengan indicator sikap Al-TaAolim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. : April ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/altalim Nama Penulis (Bol. Judul Artikel (Italic. Book Antiqua 9p. akomodatif terhadap budaya local. Sehingga, tradisi ziarah ini sangat relevan dengan konteks moderasi beragama yang disosialisasikan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia. Berdasarkan prinsipdan ciri-ciri moderasi dalam Islam, terdapt prinsip Wasathiyah yang berarti perspektif atau perilaku yang selalu berusaha mengambil posisi tengah dari dua perilaku yang berbeda dan kelewatan sehingga salah satu dari kedua perilaku tersebut tidak mendominasi pikiran atau perilaku seorang individu. Sehingga umat Islam tidak boleh hanya bergantung pada teks dan melupakan konteks karena hal itu akan menghasilkan pemahaman yang ekstrim, radikal, kaku, dan keras . Mereka juga tidak boleh egois dan menganggap orang lain tidak benar atau keliru. Selain itu, umat Islam tidak hanya memperhatikan konteks, tetapi mereka juga menyingkirkan kitab suci agama (Al Quran dan hadit. sebagai podoman dan menjadikan Liberalism sebagai pendukungnya. Liar dan tidak terkendali, bebas dan tidak terkontrol. KESIMPULAN Tradisi ziarah di Pondok Tremas memiliki tujuan untuk menanamkan kecintaan kepada para pendiri Pondok Tremas dan sebagai bentuk penghormatan mereka, serta untuk menanamkan nilai-nilai tentang mengingat kematian. Selain itu, tradizi ziarah juga digunakan sebagai ujian awal untuk melihat resiliensi santri baru dalam menunjukkan kesungguhannya dalam menuntut ilmu di Pondok Tremas. Tradisi Ziarah di Pondok Tremas sangat relevan dengan upaya penguatan sikap moderasi beragama di kalangan santri karena tradisi tersebut sesuai dengan salah satu indicator moderasi beragama, yaitu memelihara budaya atau tradisi local sebagaimana yang telah disuarakan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia. DAFTAR PUSTAKA