ARSIP Jurnal Arsitektur. Vol. No. November 2023: 130-135 BEHAVIORAL ARCHITECTURAL APPROACH TO THE DESIGN OF THE BOGOR CAMPUS FAN REHABILITATION AREA PENDEKATAN ARSITEKTUR PERILAKU PADA PERANCANGAN KAWASAN REHABILITASI FAN CAMPUS BOGOR Dika Arfita Nur Karim. Andarita Rolalisasi. RA Retno Hastijanti. Prodi Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. dikaarfitank@surel. untag-sby. rolalisasi@untag-sby. retno@untag-sby. Abstrak Pemilihan konsep arsitektur pada bangunan dapat mempengaruhi bagaimana perilaku manusia yang menempati bangunan tersebut. Seperti halnya pada kawasan rehabilitasi, penggunaan konsep arsitektur berbasis perilaku dinilai cocok bila diterapkan, karena dapat berpengaruh ke perilaku dan karakter manusia. Aspek yang digunakan pada penelitian ini adalah aspek variabel fisik yang meliputi ruang, ukuran dan bentuk, perabot dan penataannya, warna, suara, temperature, dan pencahayaan. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui apakah bangunan pada kawasan rehabilitasi sudah memenuhi aspek variabel fisik pada arsitektur perilaku. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode pendekatan studi literatur, di mana beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dikumpulkan dan dianalisis. Hasil penelitian pada kawasan rehabilitasi telah menunjukkan bahwa bangunan sudah memenuhi aspek-aspek yang mempertimbangkan perilaku penggunanya yaitu pecandu narkoba. Kata kunci: Arsitektur. Perilaku. Kawasan Rehabilitasi. Abstract The selection of architectural concepts in buildings can influence how the behavior of humans who occupy these buildings. As is the case in rehabilitation areas, the use of behavior-based architectural concepts is considered suitable when applied, because it can affect human behavior and character. The aspects used in this study are aspects of physical variables which include space, size and shape, furniture and arrangement, color, sound, temperature, and The purpose of this research is to find out whether the buildings in the rehabilitation area fulfill the physical variable aspects of behavioral architecture. This research was carried out using a literature study approach, in which several previous studies were collected and The results of research in the rehabilitation area have shown that the building meets aspects that consider the behavior of its users, namely drug addicts. Keywords: Architecture. Behavior. Rehabilitation Area. PENDAHULUAN Arsitektur adalah gabungan antara ilmu dan seni yang melibatkan proses perancangan yang selalu mempertimbangkan tiga aspek penting, yakni fungsi, keindahan, serta teknologi (Kamilia. , & Erwindi. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin kompleks, kepentingan dalam memperhatikan perilaku manusia juga menjadi faktor yang sangat penting dalam proses perancangan, yang biasa disebut pengkajian perilaku manusia dalam konteks arsitektur. Perilaku . memiliki pengertian menurut KBBI adalah reaksi atau tanggapan perorangan pada lingkungan atau rangsangan. Perilaku manusia mencerminkan cara manusia berinteraksi dan berpartisipasi secara fisik, baik dalam hubungannya dengan individu lain maupun dengan lingkungan fisik sekitarnya (Septianingrum. Warna, mempunyai fungsi utama untuk membuat suasana ruang. Warna juga berpengaruh pada suasana seperti panas atau dingin, dan dapat berpengaruh pada kualitas ruang. Suara. Temperatur, dan Pencahayaan, ketiga hal ini dapat mempengaruhi psikologis manusia jika penggunaannya tidak tepat. Arsitektur perilaku mempunyai banyak definisi, menurut Fakriah. arsitektur perilaku harus memperhatikan perilaku penghuni sebagai pertimbangan pada aspek-aspek kenyamanan serta kebutuhan penghuni. Namun menurut Puspitasari. Ernawati. , & Triharto. arsitektur perilaku mengacu pada pertimbangan-pertimbangan perilaku dalam proses perancangan dan Sedangkan Purwantiasning. , & Prayogi. dalam praktiknya arsitektur perilaku merupakan pendekatan desain arsitektur yang memasukkan pertimbangan mengenai perilaku manusia dalam proses perancangan. Pada prinsipnya arsitektur perilaku harus berdampingan dengan aspekaspek berhubungan dengan perilaku pada desain METODOLOGI PERANCANGAN Pada metode pelaksanaan perancangan ini memakai jenis penelitian studi literatur, yaitu dengan mengumpulkan data dari beberapa referensi pada penelitian terdahulu yang kemudian di kompilasi dan ditarik kesimpulan (Junarti. Sukestiyarno. Mulyono. & Dwidayati. Hasil dari beberapa referensi tersebut dijadikan acuan untuk arsitektur berbasis perilaku. HASIL PEMBAHASAN Dari beberapa variabel diatas, berikut adalah studi kasus yang terjadi FAN Campus Bogor: Ruang Pengelompokkan berdasarkan keefektifan pengorganisasian ruang dan intensitas penggunaan ruang, maka dapat dikelompokkan sebagai berikut: Pada studi ini penulis ingin membandingkan variabel fisik yang mempengaruhi perilaku menurut Setiawan, dan Haryadi B. 1995 dengan memakai studi kasus pada FAN Campus Bogor. TINJAUAN TEORI Menurut Setiawan, dan Haryadi B. 1995 dalam Arsitektur Lingkungan dan Perilaku ada beberapa yang mempengaruhi perilaku manusia berdasarkan variabel fisik. Variabel tersebut adalah sebagai berikut: Ruang, merupakan suatu hal utama dari pemakaian dan fungsi ruang itu sendiri. Variabel-variabel dalam perancangan fisik ruang mempunyai pengaruh pada perilaku Bentuk & Ukuran, ruang disesuaikan dengan fungsi yang akan di akomodasi. Dimensi ruang yang terlalu kecil atau besar dapat berpengaruh pada aspek psikologis Perabot & Penataannya, menyesuaikan dengan karakteristik kegiatan yang dilakukan pada ruang tersebut. Penggunaan tatanan simestris dalam desain dapat menciptakan kesan yang kaku, sementara tatanan asimetris memberikan kesan sebaliknya, yaitu kesan yang dinamis. Tabel 1. Pembagian Zona Ruang Zona Keterangan Ruang yang digunakan oleh pasien pengguna narkoba Ruangan khusus pengguna narkoba dengan aturan yang berlaku Ruangan pasien yang bersifat lebih privat dengan ijin dari staff Ruang hanya digunakan acara atau kegiatan tertentu saja. Gambar 1 Denah pada Lantai 1 (Sumber: Palupi. , & Lissimia. Gambar 4 Asrama Laki-Laki (Sumber: Madinah. Gambar 2 Denah pada Lantai 2 (Sumber: Palupi. , & Lissimia. Gambar 5 Asrama Perempuan (Sumber: Madinah. Perabot & Penataanya . Multifunctional Hall Multifunctional Hall atau tempat berkumpul di desain terbuka, tidak bersekat dan tidak ada kaca penghalang. Sehingga memberi rasa nyaman saat berkomunikasi dan tidak ada privasi di area ini untuk residen. Gambar 3 Denah pada Lantai 3 (Sumber: Palupi. , & Lissimia. Ukuran & Bentuk Bangunan pada FAN Campus Bogor ini dirancang sebagai kawasan rehabilitasi untuk pecandu narkoba. Bangunan ini berbentuk rumah kayu yang sudah mempunyai ciri khas sebagai tanda pengenal masyarakat apalagi pegiat di bidang rehabilitasi narkoba. Bangunan terbagi menjadi dua bagian berdasarkan jenis kelamin. Asrama laki-laki berupa rumah kayu dengan dengan dua lantai yang disebut dorm of the rock. Pembagian ukuran pada asrama laki-laki 42 kapasitas delapan orang, menggunakan empat ranjang bertingkat. Sedangkan untuk asrama perempuan atau biasa disebut yellow house berupa rumah batu bata yang berisi satu kamar mandi dengan tiga kamar tidur. Kapasitas tiap kamar tidur asrama perempuan lebih kecil yaitu 16 dihuni oleh dua Kedua asrama dinilai sudah memenuhi standar untuk privasi antar residen, karena kamar tidur hanya digunakan untuk beristirahat sedangkan barang-barang milik residen ditempatkan di ruang tengah. Gambar 6 Multifunction Hall (Sumber: Madinah. Ruang Makan Penataan area ruang makan tidak bersekat sehingga tidak terdapat jarak antara residen. Penggunaan furniture yang berbahan kayu dibuat seragam. alami material kayu yang dipakai memberikan efek pada mood dan meningkatkan psikis pengguna yang cenderung agresif. Gambar 7 Ruang Makan (Sumber: Madinah. Ruang Tidur Penataan ranjang dan lemari di ruang tidur dibuat seragam. Gambar 10 Penggunaan Warna Lantai 1 (Sumber: Palupi. , & Lissimia. Gambar 8. Ruang Tidur (Sumber: Madinah. Ruang Kelas Furniture yang digunakan di ruang kelas hanya kursi, bertujuan untuk kenyamanan dan kebebasan. Gambar 11 Penggunaan Warna Lantai 2 (Sumber: Palupi. , & Lissimia. Gambar 9. Ruang Kelas (Sumber: Madinah. Gambar 12 Penggunaan Warna Lantai 3 (Sumber: Palupi. , & Lissimia. Warna Warna dalam ruang adalah komponen penting mengendalikan pikiran maupun perasaan Pemilihan warna mempunyai peran penting pada tampilan visual suatu ruang sehingga dapat menciptakan suasana yang di Pada FAN Campus Bogor penggunaan warna pada ruang dibedakan menjadi dua yaitu: Ruang Dalam, pada area ini di dominasi dengan material kayu berwarna coklat yang memberikan suasana nyaman pada pikiran dan bernuansa hangat. Kesan indah dan . Ruang Luar, secara bentuk bangunan tidak menampilkan ciri bangunan terapi tetapi seperti rumah tradisional. Pemakaian warna pada area ruang luar adalah sama yaitu material kayu yang berwarna coklat. Warna coklat disebut mempunyai sifat netral sehingga memiliki efek positif dan memberi kesan tenang paada psikologis bentuk yang sudah memenuhi standar untuk privasi antar residen, karena kamar tidur hanya digunakan untuk beristirahat sedangkan barangbarang milik residen ditempatkan di ruang Ketiga, perabot dan penataannya setiap kenyamanan residen serta mempercepat proses Keempat, pemilihan material kayu berwarna coklat yang berpengaruh pada psikologi residen untuk mempercepat proses Terakhir, suara, temperatur, dan pencahayaan ketiganya bergantung pada bukaan pada bangunan. Gambar 13 Penggunaan Warna Ruang Luar (Sumber: Madinah. DAFTAR PUSTAKA