Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) Vol. 6 No. 4 November 2022 e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 DOI: 10. 36312/jisip. 3861/http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Pemberdayaan Berbasis Masjid Melalui Program Urban Farming Fania Mutiara Savitri Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang Article Info Article history: Received 12 September 2022 Publish 13 November 2022 Keywords: Community Empowerment Strategy. Mosque. Urban Farming Info Artikel Article history: Received 12 September 2022 Publish 13 November 2022 Abstract This study aims to . determine the implementation of mosque-based community empowerment strategies through the Urban Farming program at Al Fattah mosque Semarang and . knowing the supporting and inhibiting factors of mosque-based community empowerment in the Urban Farming program through the Urban Farming program at the Al Fattah mosque. Semarang. This study uses the PLA (Participatory Learning and Actio. The results of this study indicate that . the implementation of a mosque-based community empowerment strategy in semarang Village uses Adult Education Strategy (POD) and PLA (Participatory Learning and Actio. or Learning by doing. In this PLA strategy, empowerment partners gain a lot of knowledge based on their daily experiences which are shaped from their living environment. the supporting factors for mosque-based community empowerment are based on the internal aspects of this empowerment having advantages from the social, economic, psychological and ecological aspects, namely having very high solidarity, enthusiasm for business development in agriculture and being able to maintain a healthier and more environmentally friendly environment. clean while the inhibiting factor comes from the external aspect, it can be seen that the mastery of Urban Farming technology innovation is still minimal so it requires more intensive assistance. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk . mengetahui implementasi strategi pemberdayaan masyarakat berbasis masjid melalui program Urban Farming di Masjid Al Fattah semarang Semarang dan . mengetahui faktor pendukung dan penghambat pemberdayaan masyarakat berbasis masjid dalam program Urban Farming melalui program Urban Farming di Masjid Al Fattah semarang Semarang. Penelitian ini menggunakan metode PLA ( Participatory Learning and Actio. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa . implementasi strategi pemberdayaan masyarakat berbasis masjid di semarang menggunakan Strategi Pendidikan Orang Dewasa (POD) dan PLA (Participatory Learning and Actio. atau Learning by doing. Dalam strategi PLA ini mitra pemberdayaan memperoleh banyak pengetahuan yang berbasis pada pengalaman mereka sehari hari yang di bentuk dari lingkungan kehidupan mereka. faktor pendukung pemberdayaan masyarakat berbasis masjid didasari oleh dari aspek internal pemberdayaan ini memiliki kelebihan dari sisi sosial, ekonomi, psilogis dan ekologis yaitu memiliki solidaritas yang sangat tinggi, semangat untuk melakukan pengembangan usaha di bidang pertanian serta dapat menjaga lingkungan menjadi lebih sehat dan bersih sedangkan faktor penghambat berasal dari aspek eksternal, dapat diketahui bahwa penguasaan inovasi teknologi Urban Farming masih minim sehingga membutuhkan pendampingan lebih intensif. This is an open access article under the Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 0 Internasional Corresponding Author: Fania Mutiara Savitri Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang Email: faniamutiara@walisongo. PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin cangih, umat Islam semakin mengoptimalkan fungsi masjid sebagai sentral kegiatan keumatan. Saat ini eksistensi masjid menjadi sangat potensial terutama dalam rangka untuk memberdayaan umat Islam dalam berbagai aspek Gazalba . , mengemukakan bahwa selain sebagai pusat ibadah, masjid juga berperan sebagai pusat kebudayaan dan peradaban. Masjid sebagai pusat peradaban memiliki peran yang signifikan dalam mengembangkan kegiatan sosial kemasyarakatan, membangun kapabilitas 2543 | Pemberdayaan Berbasis Masjid Melalui Program Urban Farming (Fania Mutiara Savitr. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 intelektual umat, meningkatkan perekonomian umat, dan menjadi ruang diskusi untuk mencari solusi permasalahan umat terkini. Ada banyak cara untuk mengoptimalkan peran dan fungsi masjid, salah satunya adalah sebagai central untuk melaksanakan pengembangan masyarakat. Dalam rangka untuk mengoptimalkan peran dan fungsi masjid tersebut maka, memperlukan strategi pengembangan masyarakat. Salah satunya adalah Strategi Pemberdayaan Berbasis Masjid melalui Program Urban Farming di Masjid Al Fattah semarang Semarang. Masjid memiliki peran yang signifikan dan strategis. Masjid memiliki fungsi sebagai pusat penyebaran dakwah dan pendidikan Islam, pusat sosialiasi dan institusional hukum Islam. Fungsi masjid sangat strategis dalam pengembangan umat Islam karena selain dapat dipergunakan untuk ibadah, juga dapat difungsikan untuk kegiatan-kegiatan yang bernuansa sosial, ekonomi ataupun kegiatan-kegiatan sosial budaya lainnya. Pengembangan masyarakat berbasis masjid memerlukan strategi agar dapat berjalan terarah dan maksimal. Berdasarkan studi penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Desi Kusniawati dkk . Aslati . , dan Ridwanullah . ditemukan bahwa belum ada pembahasan mengenai fokus pada masyarakat kota yang dipusatkan pada jamaah masjid dan warga sekitar masjid di semarang melalui program Urban Farming. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengimplementasikan strategi masyarakat berbasis masjid sesuai dengan kondisi masyarakat yang di berdayakan dan menegetahui faktor pendukung dan penghambat pemberdayaan masyarakat berbasis masjid di semarang. Karya ilmiah ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk merangsang tumbuhnya kreativitas dan partisipasi masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. KAJIAN PUSTAKA Strategi Pemberdayaan dan Pendekatan Pemberdayaan masyarakat merupakan suatu kegiatan yang tentunya memiliki tujuan yang jelas dan terstruktur guna memudahkan dalam pencapaian yang ingin di capai bersama. Maka perlu adanya suatu strategi yang digunakan sebagai acuan dalam setiap melakukan kegiatan tersebut (Mardikanto and Soebianto 2012: . Strategi pemberdayaan pada hakikatnya adalah gerakan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Menurut Suyono gerakan masyarakat berbeda dengan membuat model percontohan secara ideal, selanjutnya setelah teruji baru disebarluaskan. Berbeda dengan strategi gerakan masyarakat, ditempuh melalui jangkauan kepada masyarakat seluas-luasnya/sebanyakbanyaknya. Maka apabila benih pemberdayaan telah ditebar kepada seluruh lapisan masyarakat sehingga mereka mampu beradaptasi, melakukan penyempurnaan maupun pembenahan yang telah disesuaikan dengan potensi, kebutuhan, maupun permasalahan. Dengan model atau strategi pemberdayaan yang beragam itu hendaknya disesuaikan dengan kondisi masyarakat (Harry, 2001:. Dalam melaksanakan pemberdayaan ada beberapa pendekatan yang harus dilakukan. Pendekatan utama dalam konsep pemberdayaan adalah bahwa masyarakat tidak dijadikan objek dari berbagai proyek pembangunan, tetapi merupa- kan subjek dari upaya pembangunannya sendiri. Berdasarkan konsep demikian, maka pemberdayaan masyarakat harus mengikuti pendekatan sebagai berikut: Pertama, upaya itu harus terarah . Ini yang secara populer disebut pemihakan. ditujukan langsung kepada yang memerlukan, dengan program yang dirancang untuk mengatasi masalahnya dan sesuai kebutuhannya. Kedua, program ini harus langsung mengikutsertakan atau bahkan dilaksanakan oleh masyarakat yang menjadi sasaran. Mengikut sertakan masyarakat yang akan dibantu mempunyai beberapa tujuan, yakni supaya bantuan tersebut efektif karena sesuai dengan kehendak dan kemampuan serta kebutuhan mereka. Selain itu sekaligus meningkatkan keberdayaan . masyarakat dengan pengalaman dalam merancang, melaksanakan, mengelola, dan memper- tanggungjawabkan upaya peningkatan diri dan ekonominya. 2544 | Pemberdayaan Berbasis Masjid Melalui Program Urban Farming (Fania Mutiara Savitr. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Ketiga, menggunakan pendekatan kelompok, karena secara sendiri-sendiri masyarakat miskin sulit dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Juga lingkup bantuan menjadi terlalu luas kalau penanganannya dilakukan secara individu. Karena itu seperti telah disinggung di muka, pendekatan kelompok adalah yang paling efektif, dan dilihatdari penggunaan sumber daya juga lebih Di samping itu kemitraan usaha antara kelompok tersebut dengan kelompok yang lebih maju harus terus-menerus di bina dan dipelihara secara saling menguntungkan dan memajukan (Anwas, 2015:. Menurut Suhartono . , penerapan pendekatan pemberdayaan dapat dilakukan melalui 5P Pemungkinan, menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang secara optimal. Pemberdayaan harus mampu membebaskan masyarakat dari sekatsekat kultural dan struktur yang menghambat. Penguatan, memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Pemberdayaan harus mampu menumbuh kembangkan segenap kemampuan dan kepercayaan diri masyarakat yang menunjang kemandirian mereka. Perlindungan. melindungi masyarakat terutama kelompok- kelompok lemah agar tidak tertindas kelompok kuat, menghindari terjadinya persaingan yang tidak seimbang . palagi tidak seha. antara yang kuat dan lemah, dan mencegah terjadinya eksploitasi kelompok kuat terhadap kelompok lemah. Pemberdayaan harus diarahkan kepada segala penghapusan jenis diskriminasi dan dominasi yang tidak menguntungkan rakyat kecil. Penyokongan. memberikan bimbingan dan dukungan agar masyarakat mampu menjalankan perannya dan tugas-tugas kehidupannya. Pemberdayaan harus mampu menyokong masyarakat agar tidak terjatuh dalam keadaan dan posisi yang semakin lemah dan terpinggirkan. Pemeliharaan. memelihara kondisi yang kondusif agar tetap terjadi keseimbangan distribusi kekuasaan antara berbagai kelompok dalam masyarakat. Pemberdayaan harus mampu menjamin keselarasan dan keseimbangan yang memungkinkan setiap orang memperoleh kesempatan berusaha (Anwas, 2015:87-. Konsep Urban Farming Urban Farming berasal dari bahasa inggris, dalam bahasa indonesia sendiri dikenal dengan sebutan pertanian kota. Namun karena konsep tersebut telah berkembang dinegara lain, maka istilah Urban Farming lebih dikenal masyarakat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2. sendiri urban telah tercantum, yang berarti bersifat kekotaan, atau orang yang berpindah dari desa ke Sedangkan farming berarti pertatian. Maka dapat diartikan urban farming berarti pertanian Bareja . pengertian urban farming atau urban agriculture sebagai membudidayakan tanaman dan/atau memelihara hewan ternak didalam dan di sekitar wilayah kota besar/metropolitan atau kota kecil untuk memperoleh bahan pangan/kebutuhan lain dan tambahan finansial, termasuk didalamnya pemrosesan hasil panen, pemasaran. Dan distribusi produk hasil kegiatan tersebut. lain Dewi . mengartikan pertanian kota sebagai kegiatan pertanian yang dilakukan dilingkungan kota sebagai salah satu bentuk ruang terbuka hijau (RTH) produktif yang bernilai ekonomi dan ekologi (Widyawati, 2013:. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), pertanian perkotaan merupakan kegiatan pertumbuhan, pengolahan, dan distribusi pangan serta produk lainnya melalui budidaya tanaman dan peternakan yang intensif di perkotaan dan daerah sekitarnya, dan menggunakan . sumber daya alam dan limbah perkotaan, untuk memperoleh keragaman hasil panen dan hewan ternak (Fauzi dkk, 2016:. Council on Agriculture. Science and Technology (CAST) menyatakan Pertanian Perkotaan mencakup aspek kesehatan lingkungan, remediasi, dan rekreasi 2545 | Pemberdayaan Berbasis Masjid Melalui Program Urban Farming (Fania Mutiara Savitr. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 (Nasihien dkk, 2017:. Sumber lain, yaitu UNDP . , mendefinisikan pertanian kota sebagai Urban Agriculture (UA) is an activity that produces, producesses, and market food and other products, applying intensive production methods, and . using natural resources and urban wastes, to yield a diversity of crops and livestock (Widyawati, 2013:. Pertanian perkotaan merupakan bagian dari sistem pangan lokal. Dimana makanan dibudidayakan dan diproduksi serta di konsumsi oleh masyarakat kota disekitarnya. Pertanian perkotaan juga dapat mencakup peternakan . isalnya pemuliaan dan pemeliharaan terna. , pemeliharaan lebah, budidaya . isalnya budidaya ika. , aquaponik . isalnya mengintegrasikan peternakan ikan dan pertania. , dan produk non-makanan seperti memproduksi benih, membudidayakan bibit, dan menumbuhkan bunga. Hal ini dapat dicirikan dalam hal kedekatan geografis produsen untuk konsumen, praktik produksi dan distribusi yang berkelanjutan (Hamzes & Moestopo, 2018:. Berdasarkan beberapa sumber diatas dapat disimpulkan bahwa urban farming atau pertanian kota atau urban agriculture merupakan suatu aktivitas pertanian yang berupa kegiatan bertani . ataupun berternak yang berlokasi diperkotaan atau dipinggiran kota dengan menerapkan metode produksi yang intensif, memanfaatkan sumberdaya alam serta limbah perkotaan untuk menghasilkan, dan menjual serta mendistribusikan berbagai macam produk tanaman dan perternakan Karakteristik Urban Farming Kajian karakteristik Urban Farming sebagai suatu aktivitas pertanian khas perkotaan, dpat dilakukan melalui peninjauan terhadap sistem produksi pertanian yang telah berkembang Adapun kekhasan dalam Urban Farming yaitu: Luas lahan relatif sempit dan terpencar-pencar sehingga skala usahanya tidak jelas. Kompetisi yang tinggi dalam pemanfaatan sumberdaya lingkungan selain lahan. Sebagian dilaksanakan di lokasi yang bersifat ilegal. Sporadis dan temporer, tidak terkoordinasi dengan perencanaan tata ruang kota. Kedekatannya dengan pasar/konsumen. Rendahnya tingkat organisasi pelaku Urban Farming. Memanfaatkan limbah perkotaan sebagai air buangan maupun sampah organik. Kapasitas produksi sulit diperkirakan. Latar belakang pelaku pertanian sangat beragam. Sistem tanam sangat beragam, dari yang tradisional, subsisten, hingga yang menerapkan teknologi modern, dari yang menggunakan media tanah hingga soliless culture. Potensial terkontaminasi polusi lingkungan perkotaan. Lebih banyak menggunakan wadah/pot. Menerapkan sistem efensiasi melalui recycle, reuse, reduce. Didominasi oleh jenis tanaman sayuran dan buah-buahan, sementara pemeliharaan hewan ternak dan budi daya ikan lebih sedikit. Banyak yang menerapkan model vertikultur dan bertanam diatap untuk efisiensi penggunaan Banyak yang bersifat hobi, tidak dikelola secara komersial. Mudah tergusur oleh kepentingan pengembangan kota Sistem Urban Farming Hidroponik (Inggris: hydroponi. berasal dari kata Yunani yaitu hydro yang berarti air dan ponos yang artinya daya. Hidroponik juga dikenal sebagai soilless culture atau budidaya tanaman tanpa Jadi hidroponik berarti budidaya tanaman yang memanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam atau soilless (Hamzes & Moestopo, 2018:. Secara sederhana ditinjau dari asal katanya budidaya Hidroponik berarti suatu metode budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah, tetapi memanfaatkan air/larutan mineral bernutrisi yang diperlukan oleh tanaman dan 2546 | Pemberdayaan Berbasis Masjid Melalui Program Urban Farming (Fania Mutiara Savitr. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 bahan lainnya sebagai pengganti media tanah yang mengandung unsur hara seperti sabut kelapa, serat mineral, pasir, pecahan genteng/batu bata, serbuk kayu, dan lain sebagainya. Beberapa kelebihan dan alasan untuk menguatkan motivasi anda belajar menanam tanaman dengan cara hidroponik, antara Bertanam hidroponik lebih hemat dibandingkan dengan menanam konvensional di atas tanah karena tidak perlu menyiramkan air setiap hari sebab larutan nutrisi/media larutan mineral yang dipergunakan sudah tertampung di dalam wadah yang dipakai, sehingga kita tinggal melakukan pengontrolan saja. Bertanam hidroponik dapat memaksimalkan lahan terbatas karena tidak membutuhkan lahan yang banyak, bahkan media tanaman bisa dibuat secara bertingkat Bertanam hidroponik merupakan teknik yang ramah lingkungan karena tidak menggunakan pestisida atau obat hama yang dapat merusak tanah, menggunakan air hanya 1/20 dari tanaman biasa, dan mengurangi CO2 karena tidak perlu menggunakan kendaraan atau mesin. Tanaman hidroponik tidak merusak tanah karena tidak menggunakan media tanah dan juga tidak membutuhkan tempat yang luas. Hasil tanaman hidroponik bisa dimakan secara keseluruhan termasuk akar karena terbebas dari kotoran dan hama Bisa memeriksa akar tanaman dengan jelas secara periodik untuk mengontrol pertumbuhannya Pertumbuhan tanaman lebih cepat dan kualitas hasil tanaman dapat terkontrol Untuk menanam hidroponik tidak perlu tergantung musim, karena itu dapat ditanam kapan saja sesuai dengan planning kita. Menanam hidroponik bisa mengurangi/menghemat pemakaian pupuk. Bertanam hidroponik tidak perlu banyak tenaga untuk mengerjakannya Lingkungan tempat bertanam hidroponik cenderung lebih bersih ketimbang bertanam di atas Tanaman hidroponik jarang mempunyai masalah dengan hama dan penyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri, ulat dan cacing nematoda yang banyak terdapat dalam tanah Lahan tempat menanam hidroponik lebih fleksibel, dapat ditanam di mana saja seperti di dalam rumah atau di pekarangan yang sudah dipaving. Beberapa tanaman yang sering ditanam secara hidroponik, adalah sayur-sayuran hijau seperti selada, bayam, cabai, tomat, bak choy, brokoli, sawi, kailan, kangkung, bawang, strowbery, dan lainlain. Tanaman-tanaman hidroponik di atas seringkali menjadi pilihan utama bagi para vegetarian yang sangat memperhatikan proses pembuatan makanan, apakah ada unsur kimiawi di dalamnya, apakah terdapat pembunuhan hewan, juga terkait dengan konservasi lingkungan dan usaha penghijauan. METODE PENELITIAN Metode (Participatory Learning and Actio. yaitu proses belajar tentang suatu topik, seperti: cara menanam hidroponik, menyaeamai, merawat tanaman hidroponik dll, kemudian diikuti dengan aksi atau kegiatan riel yang relevan dengan program pemberdayaan masyarakat. Metode yang digunakan dalm pemberdayaan berbasis masjid ini adalah metode PLA (Participatory Learning and Actio. yaitu metode yang menggabungkan antara pelatihan dan praktik atau proses belajar dan praktik secara partisipatif. PLA merupakan bentuk baru dalam metode pemberdayaan masyarakat, dulu dikenal sebagai Learning by Doing atau belajar sambil bekerja (Theresia, 2014:238-. PLA sangat efektif untuk dijadi metode belajar orang dewasa. PLA merupakan proses belajar secara berkelompok yang dilakukan oleh semua stakeholders secara interaktif dalam proses analisa bersama. Multi perspektive, yang mencerminkan beragam interpretasi pemecahan masalah yang real yang dilakukakan oleh para pihak yang beragam dan beragam cara pandangnya. Spesifikasi lokasi sesuai dengan kondisi para pihak yang terlibat Difasilitasi oleh stakeholders dan ahli yang bertindak sebagai fasilitator dalam pengambilan 2547 | Pemberdayaan Berbasis Masjid Melalui Program Urban Farming (Fania Mutiara Savitr. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Keputuan yang diambil dalam metode PLA akan dijadikan acuan bagi parubahanperubahan yang akan dilaksanakan oleh orang setempat. HASIL DAN PEMBAHASAN Strategi Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Berbasis Masjid Melalui Program Urban Farming Pemberdayaan masyarakat berbasis berbasis masjid memalui program Urban Farming di semarang menggunakan dua strategi untuk mempermudah, yaitu: PLA (Participatory Learning and actio. Strategi pemberdayaan masyarakat yang digunakan salah satunya adalah PLA. PLA merupakan suatu pendekatan pemberdayaan yang memiliki keunggulan baik secara filosofis maupun nilai aksi dengan mengutamakan pada proses belajar bersama (Silmi, 2017:. atau dikenal juga sebagai learning by doing. Pilihan strategi ini digunakan karena sasaran atau mitra pemberdayaan adalah ibuibu baik yang masih muda dan ibu ibu yang berusia lanjut. Kegiatan menanam dengan media tanah dan pembuatan eco enzyme merupakan hasil keputusan yang masyarakat pilih berdasarkan keadaan yang mereka butuhkan dan mampu lakukan. Setiap proses pemberdayaan selalu didampingi oleh Tugas fasilitator dalam program ini adalah untuk menginisiasi ataupun memotivasi kegiatan mereka. Pembelajaran PLA dilakukan dengan memberikan pembelajaran bersama secara partisipatif. Metode PLA (Participatory Learning and Actio. yaitu metode yang menggabungkan antara pelatihan dan praktik atau proses belajar dan praktik secara partisipatif. Namun sebelum itu masyarakat juga membutuhkan pengetahuan dan tata cara dalam menanam tanaman pada lahan sempit perkotaan. Pilihan teknik bercocok tanaman diperkotaan adalah menggunakan sistem Keputuan yang diambil dalam metode PLA akan dijadikan acuan bagi parubahan-perubahan yang akan dilaksanakan. Berikut merupakan bagian dari PLA yang dilakukan oleh ibu-ibu untuk pengembangan tanaman sayur di wilayah kota yang terbatas namun mampu menunjang kehidupan sehari-hari hingga bisa menjadi peluang bisnis. Belajar merawat tanaman tomat sekaligus praktik langsung di lahan milik warga Pembelajaran dengan model PLA dilakukan langsung dari pembekalan materi hingga langsung praktek yang di dampingi oleh ahlinya. Penyampain materi budidaya tanaman sayur organik Pembekalan pengetahuan dasarKeterlibatan mitra pemberdayaan secara aktif dalam setiap tahapan pemberdayaan dan semua pelatihan Urban Farming menunjukan adanya tingakat partisiapasi yang sangat tinggi. Belajar sekaligus praktik Urban Farming menanam sayuran selada dan daun mint dengan media hidroponik system rakit apung. Dalam system pertanian urban Media hodriponik model akit apung relative lebih mudah untuk dipraktekkan, bahan yang dibutuhkan sebagai media saangat mudah didapatkan. Bisa menggunakan media baskom atau ember plastik. Belajar sekaligus praktik Urban Farming merawat tanaman Tomat Beef dengan menggunakan hidroponik drip system Belajar sekaligus praktik Urban Farming merawat melon dengan system hidroponik vertigasi mengunakan media cocopiet POD (Pendidikan Orang Dewas. POD adalah salah satu strategi pemberdayaan yang berbasis pada komunitas local. Ini merupakan proses edukasi atau perubahan melalui pendidikan. Oleh karena itu selama proses pelaksanaan kegiatan harus dilakukan pelatihan-pelatihan. Berbeda dengan pelatihan konvensional, pelatihan yang diterapkan dalam proses pemberdayaan yang berbasis pada komunitas harus dirancang sebagai AuPelatihan PartisipatifAy dengan mengimplementasikan strategi pendidikan orang dewasa (POD). 2548 | Pemberdayaan Berbasis Masjid Melalui Program Urban Farming (Fania Mutiara Savitr. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Dalam POD hubungan fasilitator dengan peserta didik bersifat lateral/ horizontal. POD lebih mengutamakan proses dari pada hasil, dalam arti, keberhasilan pelatihan tidak diukur dari seberapa banyak terjadinya transfer of knowladge, tetapi seberapa banyak interaksi atau diskusi dan berbagi pengalaman . antara sesama peserta maupun antara fasilitator dan pesertanya Pada tahapan ini team pemberdayaan melalukan scooping atau penelusuran tentang program pelatihan apa saja disepakati saat FGD dan Sosialisasi bersama mitra pemberdayaan. Model dan polanya pemberdayaannya seperti apa, akan melalukan pelatihan apa, tempatnya dimana, alat peraganya apa saja, semuanya ditentukan oleh mitra pemberdayaan. Dalam strategi POD ini, team pemberdayaan hanya memfasilitasi mitra dampingan dalam duskusi penentuan kebutuhan atau need assesment. Kemudian berdasarkan analisis kebutuhan, disusunlah program program pemberdayaan masyarakat yang dalam pendidikan formal disebut dengan silabus dan kurikulum. Hasil dari need assesmen tentang Program Urban Farming yang dilakukan melalui FGD pada Tanggal 30 Agustus 2021 adalah: Melaksanakan pelatihan Pembuatan pupuk Eco Enzyme Melaksanakan pelatihan Budidaya Tanaman Organik Faktor Pendukung Dan Penghambat Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Masjid Melalui Program Urban Farming semarang Analisis faktor pendukung dalam pemberdayaan ini menggunakan analisis SWOT. Analisis untuk mengamati lingkungan eksternal untuk melihat kesempatan dan ancaman serta mengamati lingkungan internal melihat kekuatan dan kelemahan. Faktor-faktor lingkungan itu disebut dengan SWOT yaitu Strengths. Weaknesses. Opportunities, and Threats (Hermawan, 2017:. Strengths Kekuatan yang mendukung dalam pemberdayaan masyarakat berbasis masjid dalam program Urban Farming di masjid Al Fattah semarang adalah sebagai berikut: Adanya potensi dalam mengambangkan Urban Farming. Salah satu potensi dalam pengembangan Urban Farming pada dasarnya dimiliki Indonesia, yaitu sumberdaya alam (SDA). Sumberdaya alam yang mendukung kegiatan ini yaitu energi matahari, air. CO2, oksigen dan unsur hara. Untuk membantu tanaman tumbuh dan berkembang sudah dimiliki alam Indonesia. Namun dibutuhkan tangan manusia untuk menanam tanaman tersebut untuk menjadi tumbuhan yang dapat dimakan manusia. Indonesia sebagai salah satu negara yang berada digaris katulistiwa telah dikarunia energi matahari yang melimpah, dengan intensitas yang cukup tinggi, bahkan dari pagi hingga sore hari. Intensitas matahari yang tinggi tersebut memungkinkan memiliki banyak varietas tumbuhan yang dapat Beragam tanaman dapat disesuaikan dengan cuaca yang mana mempengaruhi intensitas Perkotaan memiliki limbah air cukup banyak. Baik dari limbah rumah tangga ataupun limbah fasilitas umum seperti air bekas wudhu dimasjid. Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan Urban Farming. Namun perlu diingat, limbah air tersebut bukan limbah air berbahaya. Disisi lain hal tersebut juga menjadi solusi dalam memanfaatkan limbah air. Sumberdaya lain yaitu CO2 atau karbondioksida. Karbondioksida diperkotaan menjadi salah satu masalah yang saat ini cukup memprihatinkan khususnya di perkotaan. Padatnya kendaraan bermotor menjadi salah satu penyebab. Salah satu untuk mengatasi adalah dengan menanam pohon ataupun tumbuhan. Termasuk dalam kegiatan Urban Farming ini, maka keberadaan karbondioksida dapat dimanfaatkan. Sehingga kegiatan ini juga memiliki manfaat untuk mengurangi karbondioksida. Adanya partisipasi mitra pemberdayaan yaitu ibu-ibu masyarakat semarang yang ikutserta dalam Solidaritas atau kekompakan masyarakat dengan adanya pemberdayaan ini. 2549 | Pemberdayaan Berbasis Masjid Melalui Program Urban Farming (Fania Mutiara Savitr. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Semangat yang tinggi oleh mitra pemberdayaan dalam pelaksanaan kegiatan ini dari awal hinggal Rasa ingin tahu yang tinggi membuat masyarakat semakin semangat. Hal ini merupakan salah satu kekuatan dalam pemberdayaan masyarakat. Weaknesses Kelemahan dalam pemberdayaan masyarakat berbasis masjid dalam program Urban Farming di masjid Al Fattah semarang adalah sebagai berikut: Kurangnya ketelitian Kurangnya motivasi untuk berinovasi. Masyarakat yang umumnya adalah ibu-ibu di masyarakat kota memiliki pekerjaan lain, sehingga ingin melakukan dari hal yang menurut mereka sudah tidak asing dan tidak memerlukan banyak tenaga ataupun dana yang Kurangnya disiplin waktu. Salah satu hal yang menjadi kelemahan adalah kurangnya disiplin mitra pemberdayaan dalam waktu. Hal tersebut menjadi kelemahan karena akan menurunkan semangat partisipan lan yang datang lebih dulu atau tepat waktu. Terbatasnya lahan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan Urban Farming, sehingga masyarakat harus memanfaatkan lahan sempit dengan menggunakan polibag ataupun barang bekas yang digunakn untuk tempat menanam. Sulitnya mencari media di area perkotaan, sehingga media tanah harus beli. Hal tersebut akan meningkatkan pengeluaran. Opportunities Peluang yang akan dimiliki ketika pemberdayaan masyarakat berbasis masjid dalam program Urban Farming di masjid Al Fattah semarang berjalan dengan lancar adalah sebagai berikut: Berpeluang menjadi lahan bisnis. Adanya pemberdayaan ini membuka peluang bisnis baru bagi masyarakat. Hasil panen dari penanaman organik dapat dijual secara online melaui group whatsapp mememnuhi kebutuhan anggota PKK. Di sisi lain dengan adanya Urban Farming akan membuka peluang untuk menjadi tempat wisata dalam pemanfaatan lahan sempit kota serta menjadi tempat edukasi. Berpeluang menjasi wilayah mandiri pangan. Program pemberdayaan berbasis masjid ini salah satunya adalah dengan menanam organik. Dalam hal ini masyarakat memiliki peluang untuk mencukupi kebutuhan pangannya sendiri. Sehingga dengan masyarakat mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan mengurangi ketergantungan dari luar kota atau daerah untuk memenuhi kebutuhan pangan seperti sayuran, cabai, bumbu ataupun yang lainnya. Dengan kemandirian pangan masyarakat tertentu akan mendukung mewujudkan ketahanan pangan Suatu negara dikatakan mempunyai ketahanan pangan jika memenuhi tiga subsistem utama, yaitu: Ketersediaan pangan . enyangkut jumlah yang cukup, aman dan bergizi bagi seluruh Akses pangan . emampuan semua rumah tangga dan individu yang memperoleh pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizinya, yang dapat diperoleh melalui produksi sendiri, bantuan dari luar ataupun pembelia. Penyerapan pangan . engenai penggunaan pangan untuk kebutuhan hidup sehat, meliputi energi, air, gizi dan kesehatan lingkunga. Kerjasama kelembagaan. Kerjasama menjadi salah satu peluang dalam pengembangan Urban Farming. Baik dari lembaga pemerintah ataupun lembaga swasta. Meningkatnya kualitas SDM melalui pelatihan-pelatihan yang dilakukan dalam kegiatan Pemanfaatan sampah yaitu dengan menggunakan limbah organik ataupun sampah-sampah anorganik seperti plastik dan ember bekas sebagai tempat untuk menanam ataupun eco enzim. 2550 | Pemberdayaan Berbasis Masjid Melalui Program Urban Farming (Fania Mutiara Savitr. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Threats Sebagai suatu kegiatan yang menyangkut banyak aspek, jika program Urban Farming di masjid Al Fattah semarang berkembang, maka ada sejumlah ancaman yang akan dihadapinya sebagai berikut: Munculnya persaingan bisnis (Urban Farmin. Persaingan bisnis dapat terjadi dari hasil produk dari urbain farming terssebut. Baik persaingan dari hasil pertanian kota ataupun hasil pertanian daru desa yang masuk ke kota. Perkembangan teknologi yang pesat sehingga banyak produk pasar global yang masuk Pengaruh buruk dari masyarakat luar adalah pengaruh tentang berita-berita yang akan berdampak negatif pada mitra pemberdayaan yang dapat menjatuhkan mental mereka. Musuh alami tanaman seperta hama dan gulma. KESIMPULAN Fungsi masjid tidak hanya menjadi sarana ibadah, akan tetapi dapat dijadikan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat khususnya di sekitar masjid. Dalam rangka melakukan pemberdayaan, perlu menerapkan strategi yang tepat dalam pelaksanaannya. Strategi tersebut ditetapkan sesuai dengan kondisi sosial masyarakat . sekitar masjid. Salah satu strategi yang dapat digunakan yaitu model Strategi Pendidikan Orang Dewasa (POD) dan PLA ( Participatory Learning and Actio. atau Learning by doing Penerapan strategi tersebut tidak hanya bertujuan untuk menarik minat mitra dalam melakukan pemberdayaan, akan tetapi juga sebagai bekal bagi mereka untuk menghadapi tantangan global. Penting bagi masyarakat kota yang pada umumnya tidak memiliki lahan yang luas untuk dapat mengelola dan memanfaatkan penggunaan lahan yang terbatas. Program PLA yang bertujuan mengutamakan proses belajar bersama sambil melakukan praktik sehingga diharapkan mitra pemberdayaan dapat menjalankannya secara terus menerus. Dikarenakan mitra pemberdayaan merupakan ibu-ibu, maka program Urban Farming mampu menunjang kehidupan sehari-hari dan menjadi peluang bisnis. Secara internal pemberdayaan ini memiliki kelebihan dari sisi sosial, ekonomi, psilogis dan ekologis yaitu memiliki solidaritas yang sangat tinggi, semangat untuk melakukan pengembangn usaha di bidang pertanian serta dapat menjaga lingkungan menjadi lebih sehat dan bersih. Dari aspek eksternal, mitra pemberdayaan memiliki kekurangan dari sisi kedisplinan waktu. Penguasaan inovasi teknologi Urban Farming masih minim sehingga membutuhkan pendampingan lebih intensif. Berdasarkan hasil dari penelitian, sekiranya perlu adanya kajian lebih dalam misalnya mengenai pengaruh dari pemberdayaan berbasis masjid melalui program Urban Farming. Pengaruh tersebut sangat berguna bagi kelanjutan program pemberdayaan yang dilakukan. Apabila hanya ditahap implementasi namun kedepannya tidak berpengaruh, maka bisa menggunakan program yang tepat untuk pemberdayaan selanjutnya. Perlu pula mengkaji tentang strategi pemasaran dari hasil Urban Farming. Jadi, peluang bisnis yang dimiliki oleh mitra dapat dijalankan. Saat ini, pemasaran online telah menjadi pilihan bagi masyarakat, sedangkan mitra adalah ibu-ibu. Hal tersebut perlu dilakukan sebagai upaya meraih peluang bisnis. DAFTAR PUSTAKA