Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 133-140, 2024 DOI: https://doi. org /10. 51352/jim. PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI MASERASI DAN SOKHLETASI TERHADAP KADAR FLAVONOID TOTAL EKSTRAK ETANOL 96% DAUN KLUWIH (Artocarpus camans. Submitted : 6 Agustus 2024 Edited : 16 Desember 2024 Accepted : 23 Desember 2024 Regita Wananda Putri1. Hidayatullah2. Eka Fitri Susiani3 Fakultas Farmasi. Universitas Borneo Lestari Banjarbaru. Indonesia Email: regitawananda12@gmail. 1,2,3 ABSTRAK Pemanfaatan tumbuhan berkhasiat obat menjadi salah satu langkah untuk pengobatan Salah satunya tumbuhan kluwih (Artocarpus camans. juga memiliki kesamaan dengan tumbuhan sukun tetapi memiliki perbedaan dibuahnya. Terlaksananya penelitian ini ditujukan untuk menganalisis kadar total flavonoid ekstrak etanol 96% daun kluwih dan metode mana yang berpotensi menghasilkan kadar total flavonoid yang lebih besar. Ekstraksi daun kluwih dilakukan secara maserasi dan sokhletasi. Adapun metode yang diimplementasikan berupa Spektrofotometri UV-Vis dengan pereaksinya AlCl3 dan melibatkan kuersetin sebagai pembanding. Berdasarkan analisis dengan menerapkan metode maserasi didapatkan kadar rata-rata 23,05 mg QE/g ekstrak untuk kadar total flavonoid ekstrak etanol 96% daun kluwih sedangkan melalui metode sokhletasi diperoleh rata-rata 31,33 mg QE/g ekstrak. Sehingga dapat disimpulkan metode ekstraksi yang menghasilkan kadar total flavonoid ekstrak etanol 96% daun kluwih yang lebih besar yaitu Kata Kunci: Daun. Kluwih (Artocarpus camans. Flavonoid. Maserasi. Sokhletasi. ABSTRACT The utilization of medicinal plants is one of the steps for alternative medicine. One of them is the kluwih plant (Artocarpus camans. which is also similar to the breadfruit plant but has differences in its fruit. The purpose of this research is to analyze the total flavonoid content of 96% ethanol extract of kluwih leaves and which method has the potential to produce greater total flavonoid content. Extraction of kluwih leaves was done by maceration and sokhletation. The method implemented was UV-Vis spectrophotometry with AlCl3 reagent and involving quercetin as a comparator. Based on the analysis by applying the maceration method, an average level of 05 mg QE/g extract was obtained for the total flavonoid content of 96% ethanol extract of kluwih leaves, while the sokhletation method obtained an average of 31. 33 mg QE/g extract. it can be concluded that the extraction method that produces a greater total flavonoid content of 96% ethanol extract of kluwih leaves is sokhletasi. Keywords: Leaves. Kluwih (Artocarpus camans. Flavonoids. Maceration. Soxhletation. PENDAHULUAN Indonesia memiliki berbagai jenis tumbuh Ae tumbuhan dan didominasi tanaman obat yang biasanya diimplementasikan untuk mengobati gangguan kesehatan secara tradisional yang diwariskan turuntemurun. Tumbuhan obat-obatan sudah banyak tersedia, dapat dipanen langsung untuk dikonsumsi segar This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution (CC-BY-NC-SA) 4. 0 International license. Copyright . 2024 Jurnal Ilmiah Manuntung How to Cite . SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SAMARINDA Putri RW. Hidayatullah M. Susiani EF. PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI MASERASI DAN SOKHLETASI TERHADAP KADAR FLAVONOID TOTAL EKSTRAK ETANOL 96% DAUN KLUWIH (Artocarpus camans. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan. :133-140. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 133-140, 2024 atau dikeringkan. Tanaman yang berkhasiat sebagai tanaman obat-obatan, salah satunya yakni tumbuhan kluwih. Tumbuhan kluwih juga memiliki kesamaan dengan tumbuhan sukun tetapi memiliki perbedaan dibuahnya. Tumbuhan kluwih dimanfaatkan masyarakat biasanya hanya pada bagian buah dan batangnya. Sementara itu ketersedian kimia aktif dari daun kluwih sangatlah melimpah. Manfaat daun kluwih (Artocarpus camans. sebagai obat tradisional memiliki efek farmakologi yaitu menurunkan kadar glukosa darah penderita diabetes. Menurut penelitian terdahulu ekstrak daun kluwih mempunyai aktivitas antioksidan tinggi, dimana nilai ICCICA senilai 54,72 AAg/mL, penetapan kadar total flavonoid dengan metode maserasi pada daun kluwih sebesar 22,30 mg QE/g ekstrak serta pada hasil skrining fitokimia terdapat kandungan triterpenoid, steroid, fenol, tanin, dan . Selain berpotensi sebagai antioksidan, senyawa flavonoid memiliki berbagai fungsi farmakologis lainnya, seperti antibakteri, antiinflamasi, kardioprotektor, antidiabetik, antikanker, dan antiaging. Pembuatan dipengaruhi oleh metode ekstraksi yang akan menentukan banyaknya zat yang dapat metode yang dapat digunakan untuk mengisolasi senyawa aktif dari bahan alam, antara lain ekstraksi cara dingin yaitu metode maserasi serta cara panas yaitu Pemilihan kedua metode ini dikarenakan pada metode ekstraksi maserasi memiliki kelebihan yaitu tidak memerlukan peralatan yang khusus dan senyawa yang mudah rusak terhadap pemanasan akan tetap terjaga, tetapi metode ini memiliki kelemahan yaitu memerlukan pelarut yang banyak. Metode sokhletasi memiliki kelebihan yaitu dapat menghasilkan ekstrak yang lebih banyak, waktu yang digunakan lebih cepat, sedangkan kelemahannya yaitu senyawa yang terekstraksi dikuatirkan akan mengalami kerusakan. Berdasarkan uraian diatas, maka kadar total flavonoid ekstrak etanol 96% daun kluwih (Artocarpus camans. dengan menerapkan ekstraksi metode maserasi dan dan mengetahui metode ekstraksi mana yang berpotensi menghasilkan kadar total flavonoid yang lebih besar pada ekstrak etanol 96% daun kluwih (Artocarpus METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Penelitian ini menggunakan alat yaitu bejana maserasi, batang pengaduk, blender (SharpA), cawan penguap, gelas ukur (PyrexA), kuvet (Quartz CuvetteA), labu ukur (PyrexA), tabung reaksi (PyrexA), mikropipet (Dragon LabA), alat sokhlet, pengayak, pipet tetes, kertas saring, rotary evaporator (IKFR 10A). Spektrofotometer UV-Vis (PG InstrumentA), waterbath (MemmertA), timbangan analitik (FujistuA). Penelitian ini menggunakan bahan daun kluwih (Artocarpus camans. , asam asetat (MerckA), etanol 96%. Aluminium . klorida (MerckA), aquades, etanol p. (MerckA), asam klorida (HCI) (MerckA). Serbuk magnesium, kuersetin (Sigma aldrichA). Determinasi Tumbuhan Tumbuhan (Artocarpus camans. yang digunakan sebagai sampel diperoleh di Kelurahan Guntung Paikat. Banjarbaru. Kalimantan Selatan, sebanyak 4 kg tersebut diambil pada tanggal 26 Desember 2023 pada jam 09. 16 WITA. Pengambilan daun kluwih yang digunakan sebagai simplisia yaitu bagian daun dengan kriteria daun masih Berwarna hijau muda, diambil 1-2 tangkai dari pucuk. Identifikasi tumbuhan dilakukan di Laboratorium Dasar FMIPA Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Kalimantan Selatan. dengan tujuan untuk mengetahui kebenaran tumbuhan yang akan digunakan sebagai bahan penelitian secara Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 133-140, 2024 Gambar 1. Tumbuhan Kuwih Pengolahan Simplisia Cara membuat simplisia, yaitu . melakukan sortasi basah terhadap daun kluwih yang telah terkumpul. mencuci daun kluwih sampai bersih menggunakan air mengalir. merajang daun kluwih agar cepat kering. mengeringkan daun yang telah dirajang dengan mengangin-anginkan pada ruangan yang bebas dari sinar matahari langsung hingga kering. melakukan sortasi kering untuk memilah bahan lain atau bagian daun yang tidak dibutuhkan. menghaluskan simplisia menggunakan blender. mengayak serbuk simplisia menggunakan mesh 40. menyimpan serbuk simplisia pada wadah yang ditutup rapat dan ditempat kering dengan temperatur ruangan . Sokhletasi Menimbang serbuk simplisia sebanyak 50 gram dan membungkusnya menggunakan kertas saring, lalu mengikatnya memakai benang di kedua sisi. Kemudian, masukkan ke dalam tabung sokhlet dan memberi tambahan pelarut etanol 96% sejumlah 500 Ekstraksi dilakukan pada temperatur 60AC sampai tetesan siklus menjadi jernih atau bening. Setelah itu, rotary evaporator digunakan untuk memisahkan ekstrak dari pelarut dan dilanjutkan menguapkan ekstrak pada temperatur 50oC dengan meletakkannya di atas waterbath untuk menghasilkan ekstrak yang kental. Setelah itu, ekstrak ditimbang dan nilai rendemennya dihitung. Rendemen ekstrak dapat dihitung dengan rumus : Pembuatan Ekstrak Maserasi Tahap maserasi yaitu, . menimbang simplisia seberat 250 gram. menambahkan 1250 liter etanol 96% sebagai pelarut. mengekstrak simplisia pada suhu ruang selama durasi waktu 24 jam dan setiap 6 jam mengaduk simplisia . menyaring menggunakan kain . menambahkan pelarut pada ampas dan mengulanginya sampai dua kali dengan perbandingan yang sama. memisahkan ekstrak cair yang sudah didapatkan dari pelarut memakai rotary evaporator. menguapkan untuk mendapatkan ekstrak kental dengan meletakkan ekstrak diatas waterbath . Persamaan rendemen ekstrak, % Rendemen = % Rendemen = bobot ekstrak bobot simplisia Skrining Fitokimia Uji Flavonoid Sampel menambahkan serbuk Mg 2 mg, dan HCl pekat sebanyak 1 mL. Kemudian, tambahkan amil Jika warnanya merah, kuning, atau jingga, menunjukkan hasil positif . Penetapan Kadar Total Flavonoid Pembuatan Larutan Induk Kuersetin Cara membuat Larutan Baku Induk Kuersetin 1000 ppm yaitu dengan melarutkan kuersetin 10 mg dan menambahkan etanol p. Setelah itu, memasukkannya dalam labu ukur yang mempunyai kapasitas 10 mL . bobot ekstrak bobot simplisia Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 133-140, 2024 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Mengambil 1 mL larutan induk kuersetin menggunakan pipet untuk menghasilkan konsentrasi 100 ppm dan memasukkannya ke labu ukur kapasitas 10 Setelah itu, menambahkan etanol p. sampai tanda batas maksimal dan dilanjutkan dengan menambahkan asam asetat 5% dan AlCl3 10% masing-masing sejumlah 8 dan 1 mL. Setelah itu, membaca absorbansi menggunakan Spektrofotometer UV Ae Vis dengan senilai 400 hingga 500 nm . ukur kapasitas 10 mL dan menambahkan pelarut berupa etanol untuk mendapatkan konsentrasi larutan 1000 ppm. Kemudian memberi tambahan asam asetat 5% dan AlCl3 10% masing-masing sejumlah 8 dan 1 mL. Lalu melakukan inkubasi selama tiga puluh menit. Setelah itu, membaca absorbansi menggunakan Spektrofotometer UV Ae Vis . Analisis Data Memasukkan nilai absorbansi ke dalam regresi linier larutan kuersetin standar, , dengan y merupakan absorbansi larutan uji dan x konsentrasi total flavonoid yang terdapat pada ekstrak daun kluwih. Kadar total flavonoid direpresentasikan sebagai total kuersetin ekuivalen setiap 1 mg ekstrak . gQE/. Persamaan untuk menentukan total kadar flavonoid, yakni: C xV x Fp Kadar Flavonoid Total = Penentuan Operating Time Penelitian ini tidak melakukan operating time dan mengacu pada beberapa jurnal yang menyatakan bahwa kuersetin stabil pada menit ke-30 . ,13,14,15,16,. Penentuan Kurva Baku Kuersetin Mengambil larutan induk 100 ppm dan 7 mL yang didapatkan dari mengencerkan larutan induk 1000 ppm dan memasukkannya ke labu ukur kapasitas 10 mL. Lalu menambahkan etanol p. a sampai batas penanda untuk memperoleh larutan seri dengan konsentrasi 30. Kemudian mengambil masing-masing 1 mL dan memasukkannya ke tabung reaksi dan dilanjutkan penambahan asam asetat 5% dan AlCl3 10% masing-masing sejumlah 8 dan 1 mL. Kemudian melakukan inkubasi pada durasi waktu tiga puluh menit. Setelah itu, membaca absorbansi menggunakan Spektrofotometer UV Ae Vis . Keterangan : Fp : Faktor Pengenceran M : Berat ekstrak . V : Volume (L) C : Konsentrasi ekstrak . g/L) HASIL DAN PEMBAHASAN Pada mengimplementasikan sampel berupa daun kluwih yang telah dikumpulkan dilakukan proses sortasi basah, dicuci, dirajang, dikeringkan, disortasi kering, diblender dan dilakukan pengayakan menggunakan Serbuk simplisia yang diperoleh sebanyak 742 g dengan nilai rendemen sebesar 18,55%. Tabel 1. Menunjukkan data rendemen simplisia daun kluwih. Penetapan Kadar Total Flavonoid dalam Ekstrak Etanol 96% Daun Kluwih (Artocarpus camans. Mengambil 10 mg ekstrak daun kluwih dan memasukkannya ke dalam labu Tabel 1. Data Rendemen Simplisia Daun Kluwih No. Bahan Tumbuhan Bobot Daun Kluwih Bobot Serbuk Simplisia . Rendemen (%) Daun Kluwih 18,55 Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 133-140, 2024 Ekstrak Etanol 96% Daun Kluwih (Artocarpus camans. Daun kluwih diekstraksi dengan menerapkan pelarut etanol 96% melalui metode maserasi dan sokhletasi. Hasil ekstraksi yang diperoleh berupa ekstrak kental. Tabel 2. Menunjukkan hasil rendemen ekstrak etanol 96% daun kluwih (Artocarpus camans. Tabel 2. Data Rendemen Ekstrak Etanol 96% Daun Kluwih Dengan Metode Maserasi dan Sokhletasi Metode Ekstraksi Bobot Simplisia . Bobot Ekstrak Maserasi 15,8047 6,3219 Sokhletasi 8,4266 16,8532 No. Skrining Fitokimia Tabel 3. Merepresentasikan Rendemen (%) dari skrining fitokimia ekstrak etanol 96% Artocarpus camansi. Tabel 3. Hasil Skrining Fitokimia ekstrak etanol 96% Daun Kluwih Hasil Maserasi dan Sokhletasi Identifikasi Senyawa Flavonoid Pereaksi Metode Gambar Keterangan Hasil Maserasi Terbentuk lapisan amil alkohol pada lapisan atas berwarna merah Sokhletasi Terbentuk lapisan amil alkohol pada lapisan atas berwarna jingga Mg,HCl Pekat. Amil Alkohol Hasil uji skrining terhadap senyawa flavonoid pada ekstrak etanol 96% daun kluwih (Artocarpus camans. merepresentasikan nilai positif yang ditunjukkan dengan adanya pembentukan warna merah pada lapisan atas amil alkohol. Pengujian ini dilakukan dengan mencampurkan ekstrak 0,1 g dengan air panas, setelah itu didihkan larutan ekstrak selama 5 menit, lalu ditambahkan 2 mg serbuk magnesium dan HCl pekat sebanyak 1 ml kemudian ditambahkan amil alkohol, gojok dan biarkan larutan sampai memisah dan terbentuknya cincin berwarna merah pada lapisan atas amil alkohol. Reaksi reduksi Mg dengan penambahan HCl dalam suasana asam menyebabkan perubahan warna. Reduksi Mg dan HCl pekat memberikan warna kemerahan . Gambar 2. Reaksi Flavonoid dengan Mg-HCl-Amil alkohol Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 133-140, 2024 Penetapan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Etanol 96% Daun Kluwih (Artocarpus Kandungan flavonoid total dari ekstrak etanol 96% daun Artocarpus camansi ditentukan menggunakan teknik perbandingan perubahan warna, yang melibatkan reaksi sampel dengan asam asetat dan AlCl3. Ketika aluminium klorida dan quercetin ditambahkan ke sampel. AlCl3 dapat menghasilkan senyawa yang menggeser panjang gelombang ke arah cahaya tampak. Hasilnya, larutan menjadi lebih kuning. Tindakan menambahkan asam asetat membantu menjaga panjang gelombang di area tampak karena molekul tersebut memiliki gugus autokrom dan kromofor. Inkubasi selama tiga puluh menit juga membantu reaksi berlangsung dengan sempurna, menghasilkan warna yang paling terang . Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Kuersetin Hasil perhitungan Panjang gelombang kuersetin dengan konsentrasi 100 ppm yang direaksikan dengan AlCl3 dan asam asetat diukur pada rentang 400-500 nm. Nilai . anjang gelomban. maksimal 415 nm, dan absorbansi senilai 0,727. Gambar 3. Kurva Panjang Gelombang Maksimum Kuersetin Penentuan Kurva Baku Kuersetin Terdapat lima larutan seri yang dibuat pada konsentrasi 30. dam 70 ppm dengan menggunakan larutan induk 1000 ppm untuk menentukan kurva baku standar Melakukan inkubasi selama 0,5 jam dan membaca absorbansi menggunakan spektrofotometer UV Ae Vis dengan senilai 415 nm. Nilai R2 diperoleh senilai 0,9975 dan persamaan regresi linearnya yaitu. Gambar 4. Kurva Baku Standar Kuersetin Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 133-140, 2024 Berdasarkan hasil ukur absorbansi pada larutan standar dengan tingkat konsentrasi dan 70 ppm menghasilkan nilai R2 senilai 0,9975 dan persamaan regresi linearnya yaitu . Sehingga korelasi yang terbentuk yakni linear sebab nilai R2 mendekati 1 . 100 ppm terhadap asam asetat dan AlCl3. melakukan inkubasi selama tiga puluh menit dan melakukan replikasi sebanyak 3 . membaca absorbansi sampel ekstrak etanol 96% daun kluwih menggunakan spektrofotometer UV Ae Vis dengan senilai 415 nm, dan diperoleh dari metode maserasi didapatkan kadar rata-rata 23,05 mg QE/g ekstrak sedangkan melalui metode sokhletasi diperoleh rata-rata 31,33 mg QE/g ekstrak. Tabel 4. Menunjukkan perhitungan total kadar flavonoid daun Kluwih Kadar Flavonoid Total Ekstrak Etanol 96% Daun Kluwih (Artocarpus camans. Cara menganalisis kadar flavonoid total ekstrak etanol 96% daun kluwih yaitu, . mereaksikan larutan dengan konsentrasi Tabel 4. Perhitungan Total Kadar Flavonoid Daun Kluwih Metode mg QE/g ekstrak SD Maserasi 23,0505 1,5476 Sokhletasi 31,3333 1,6035 Penentuan kadar total flavonoid ekstrak etanol 96% daun kluwih (Artocarpus camans. dibuat konsentrasi 1000 ppm lalu dilakukan pengenceran ke 100 ppm dan direplikasi sebanyak 3 kali agar data yang didapatkan akurat. Hasil rata-rata yang 23,05 mg QE/ g ekstrak dan hasil metode sokhletasi sebesar 31,33 mg QE/g ekstrak. SIMPULAN Kadar total flavonoid ekstrak etanol 96% daun kluwih (Artocarpus camans. metode maserasi diperoleh rata-rata 23,0505 mg QE/g ekstrak sedangkan metode sokhletasi diperoleh rata-rata 31,3333 mg QE/g ekstrak. dan metode ekstraksi yang menghasilkan kadar total flavonoid ekstrak etanol 96% daun kluwih (Artocarpus camans. yang lebih besar yaitu metode ekstraksi sokhletasi. UCAPAN TERIMAKASIH Terima kasih sebesar-besarnya kepada Universitas Borneo Lestari dan staff yang telah membantu peneliti menyelesaikan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA