AKRUAL: Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol. 7 No. 2: Juli - Desember 2025 ANALISIS KECURANGAN LAPORAN KEUANGAN: PENDEKATAN FRAUD PENTAGON THEORY (STUDI PADA PERUSAHANAN MANUFAKTUR SEKTOR INDUSTRIAL BEI TAHUN 2018-2. Rifky Theo Agarbe1. Muhammad Maulana Mansur2 Universitas Nusa Putra theo_ak21@nusaputra. id, maulana. mansur_ak21@nusaputra. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kecurangan pelaporan keuangan pada sektor manufaktur berbagai industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2018 hingga 2022 dengan menggunakan pendekatan Fraud Pentagon Theory. Fraud Pentagon Theory terdiri dari lima elemen yaitu pressure, opportunity, rationalization, cabality, dan arogance, yang dapat digunakan untuk mendeteksi terjadinya kecurangan. Studi ini akan menyelidiki cara yang digunakan untuk melakukan tindakan curang dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Temuan penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan metode deteksi kecurangan dan memberikan wawasan bagi perusahaan untuk mencegah pelaporan keuangan yang curang. Populasi riset ini ialah perusahaan manufaktur sector industry aneka di BEI 2018-2022. Sampel pada riset ini terdiri dari 14 perusahaan dengan 90 data yang dikumpulkan berdasarkan purposive Riset ini menggunakan analisis regresi data panel dengan bantuan Eviews 10. Dari hasil riset yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa Fraud Pentagon Theory berpengaruh tidak signifikan terhadap kecurangan pada laporan keuangan. Kata kunci: Fraud. Laporan Keuangan. Pentagon Theory Abstract This study aims to analyze fraudulent financial reporting in the manufacturing sector of various industries listed on the Indonesia Stock Exchange from 2018 to 2022 using the Fraud Pentagon Theory approach. The Fraud Pentagon Theory consists of five elements, namely pressure, opportunity, rationalization, capability, and arrogance, which can be used to detect the occurrence of fraud. The study will investigate the means employed to carry out the fraudulent actions and how they are carried out. The findings of this study are expected to contribute to the development of fraud detection methods and provide insights for companies to prevent fraudulent financial reporting. The study population is manufacturing companies in the various industrial sectors on the IDX 2018-2022. The sample in this research consisted of 3 companies with 15 data collected by purposive sampling. This research uses panel data regression analysis with the help of Eviews 10. From the results of the research that has been done, it can be seen that the Fraud Pentagon Theory has no significant effect on fraud in financial statements. Keyword: Fraud. Financial Statement. Pentagon Theory PENDAHULUAN Laporan keuangan merupakan salah satu bentuk representasi tanggung jawab perusahaan kepada semua pihak yang terlibat, baik dari internal maupun eksternal, dengan menggunakan katakata yang berbeda. , untuk memberikan gambaran mengenai kondisi keuangan perusahaan dalam jangka waktu tertentu. Informasi dalam laporan keuangan sangatlah penting dan oleh karena itu pihak manajemen selalu menyajikan laporan keuangan dalam kondisi yang optimal guna mencerminkan kinerja terbaik perusahaan. Situasi ini memaksa manajemen untuk mencari cara ketika tujuan bisnis tidak tercapai, salah satunya adalah manipulasi laporan keuangan (Ratnasari. Solikhah 2. Menurut Standar Audit 99 (AICPA, 2. , fraud merupakan tindakan yang disengaja untuk secara sengaja memanipulasi atau menciptakan kesalahan materi atau kebingungan dalam laporan keuangan yang sedang diaudit. Tuanakotta . , menjelaskan bahwa penipuan dapat dipahami sebagai tindakan mengambil untung secara tidak sah dari uang, barang/properti, layanan, tidak membayar layanan atau mendapatkan bisnis. Sementara itu. Albrecht . , mendefinisikan penipuan sebagai tindakan menipu orang lain dengan menyajikan fakta secara tidak benar. Dengan demikian, penipuan dapat dipahami sebagai pelanggaran hukum yang menimbulkan kerugian pihak lain untuk kepentingan pelaku (Maharani, 2. Menurut hasil survey fraud di Indonesia tahun 2019, korupsi merupakan bentuk fraud yang paling banyak terjadi dengan angka 64,4%. fraud lain yang cukup besar adalah penyalahgunaan barang milik/aset negara dan korporasi dengan angka 28,9%. Sedangkan kecurangan pelaporan keuangan sebesar 6,7%. Memang kasus korupsi seringkali lebih menonjol di saluran digital, sehingga khalayak menganggap kasus tersebut sebagai kasus penipuan yang umum terjadi di Indonesia. Namun, dalam hal kerugian yang timbul akibat kecurangan, kecurangan dalam laporan keuangan merupakan penyebab utama dengan tingkat kerugian sebesar 67,4%, dimana kerugian yang terjadi bernilai kurang dari Rp 10. 000,-. Selain itu, terdapat tingkat kerugian sebesar 5,0% dengan nilai kerugian di atas 10 miliar. Perusahaan manufaktur memiliki tanggung jawab yang tidak terbatas, yang berarti aset pribadi pemilik bisnis dapat digunakan sebagai jaminan untuk semua utang bisnis yang ada. samping itu, perusahaan manufaktur rentan terhadap risiko terkait obligasi korporasi karena bergantung pada pendanaan eksternal. Hal ini meningkatkan potensi terjadinya kecurangan dalam pelaporan keuangan. Menurut Siddiq & Suseno . , elemen-elemen yang memengaruhi risiko keuangan telah mengalami perubahan dari teori yang dikemukakan oleh Cressey . menjadi teori yang dikembangkan oleh Crowe . Menurut Donald R. Cressey, terdapat tiga faktor yang menjadi penyebab seseorang melakukan kecurangan yang dikenal dengan segitiga kecurangan . raud triangl. , yaitu tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi. Pada tahun 2024. Wolfe dan Hermason mengembangkannya menjadi berlian dengan menambahkan elemen kemungkinan. Pada tahun 2011. Crowe mengembangkannya menjadi teori curang segi lima, menambahkan unsur arogansi karena teori tersebut sebelumnya dianggap tidak dapat digunakan dalam segala kondisi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kecurangan laporan keuangan dari perspektif kecurangan teori pentagon dan mengkaji pentingnya faktor-faktor yang memicu kemungkinan terjadinya kecurangan Laporan keuangan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada subjek, waktu, dan metode. Subyek dan timeframe yang penulis pertimbangkan adalah perusahaan manufaktur di sektor industri BEI periode 2018-2022 dengan metode menggunakan data panel. Dengan begitu banyak penelitian yang berfokus pada perusahaan perbankan dan real estate, penulis memilih industrialis manufaktur sebagai objek penilitan karena belum massif dikaji. TINJAUAN TEORITIS DAN HIPOTESIS Teori Keagenan (Agency Theor. Teori keagenan atau agency theory merupakan teori yang pertama kali dikemukakan oleh Jensen dan Wiliam . yang dimana dalam teori tersebut menjelaskan tentang hubungan kontrak atau lossely defiden antara pemilik saham dengan pengelola operasional perusahaan. Ichan . menjelaskan bahwa hubungan keagenan merupakan kontrak yang terjadi antara princial dan agen, principal merupakan satu orang atau lebih yang memerintah orang lain . untuk melakukan suatu jasa atas nama principal dan memberikan kewenangan kepada agen untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi principal. Agency Theory didasari pada beberapa asumsi yang dapat dibagi menjadi tiga, yaitu asumsi mengenai sifat manusia, asumsi keorganisasian, dan asumsi informasi (Eisenhardrt, 1. Pada pelaksanaan teori agensi terdapat benturan kepentingan atau tujuan antara principal yang selalu ingin mendapatkan return tinggi dari investasi yang telah dikeluarkan, dengan agen yang ingin mendapatkan penghasilan besar atas kinerjanya (Tessa G. dan Harto, 2. Eisenhardt, . mengklasifikan sifat manusia yang dapat menimbulkan kecurangan menjadi tiga bagian, yaitu kepentingan pribadi . elf interes. , memiliki pemikiran terbatas tentang persepsi masa depan . ounded rationalit. , dan menghindar dari risiko . isk avers. Ketika benturan kepentingan terjadi maka menyebabkan timbulnya sifat yang mengarah kepada kecurangan (Aprilia, 2. Laporan Keuangan Laporan keuangan pada dasarnya merupakan hasil dari suatu proses akuntansi yang berfungsi sebagai sarana untuk mengkomunikasikan data keuangan kepada para pemangku kepentingan (Munawir, 2. Sedangkan Subramanyam & Jhon . mengatakan bahwa laporan keuangan adalah hasil dari laporan keuangan yang diatur oleh standar dan peraturan akuntansi, insentif manajemen, dan mekanisme pelaksanaan serta pengawasan perusahaan. Secara sederhana laporan keuangan menunjukkan keadaan keuangan suatu perusahaan dalam periode tertentu (Kasmir, 2. Kecurangan (Frau. Kecurangan . adalah istilah umum yang tidak mencakup segala cara untuk digunakan dengan keahlian tertentu, dan dipilih olah seorang individu untuk mendapatkan keuntungan dari pihak lain dengan cara melakukan penyajian yang salah (Albrecht, 2. Statement on Auditing Standards (SAS) No. 99 mendefinisikan fraud adalah tindakan disengaja yang menghasilkan penyajian salah saji material dalam laporan keuangan yang akan di audit. Robert Cockerall dalam makalahnya yang berjudul AuForensic Accounting fundamental : Introduction to the imvestigationAy mengatakan bahwa lingkungan fraud beberapa hal yaitu mencakup kesempatan tujuan/objek fraud, indikator, metode dan konsekuensi fraud. Fraud Pentagon Theory Fraud pentagon theory milik Crowe Horwarth . adalah hasil pengembangan dari fraud triangle theory milik Cressey . dan fraud diamond theory milik Wolf and Hermanson . Dalam teori ini menambahkan elemen arogansi . dan kompetensi . dalam fraud. Jhonathan Marks . mengatakan bahwa kompetensi adalah pengembangan dari elemen opportunity. Yaitu kemampuan melihat situasi yang menguntungkan untuk dirinya sendiri dengan mengendalikan kontrol internal dan sosial, sedangkan arogansi adalah perilaku superioritas dan keyakinan bahwa aturan perusahaan tidak berlaku bagi dirinya. Oleh karena itu, elemen pemicu terjadinya kecurangan menurut fraud pentagon memiliki lima elemen, yaitu tekanan . , peluang . , rasionalisasi . , kemampuan . , dan arogansi . Kecurangan Laporan Keuangan Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) dalam Bawekes et al. , . menjelaskan bahwa kecurangan laporan keuangan adalah perbuatan di sengaja atau kelalaian dalam penyajian kondisi keuangan yang salah untuk memperdaya pengguna laporan keuangan. Septiyani dan Handayani . mengatakan bahwa kecurangan laporan keuangan meliputi beberapa hal, yaitu manipulasi, pemalsuan catatan akuntansi atau dokumen pendukung yang telah disiapkan, transaksi dan informasi penting dari laporan keuangan dan sengaja menerapkan prinsip akuntansi yang tidak Financial Target Statement on Auditing Standards (SAS) No. 99 dalam Setiawati dan Baningrum . mengatakan bahwa financial target adalah risiko yang terjadi karena tekanan yang kuat terhadap manajemen untuk mencapai target keuangan yang di tentukan oleh menejemen atau direksi termasuk di dalamnya penentuan bonus dan insentif untuk karyawan. Jensen dan Mecklin . juga mengatakan bahwa target keuangan . inansial targe. adalah salah satu yang mendorong seorang manajemen melakukan kecurangan. Pada umumnya financial target merupakan laba yang dapat di ukur dengan Return On Aset (ROA). Menurut Tandelilin . ROA merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan aset yang dimiliki untuk menghasilkan laba setelah pajak. Soehardi et al. , . mengatakan bahwa semakin tinggi financial target perusahaan, maka akan semakin berpeluang terjadinya kecurangan dalam laporan Pernyataan ini sejalan dengan penelitian Faradiza . dan Agusputri & Sofie . yang menyatakan bahwa target keuangan yang disampaikan dengan ROA berpengaruh signifikan terhadap laporan keuangan. maka hipotesis yang di ajukan yaitu: H 1 : Financial target berpengaruh signifikan terhadap kecurangan dalam laporan keuangan. Ineffective Monitoring Inefective monitoring atau pengawasan yang tidak efektif adalah keadaan perusahaan yang tidak memiliki pengawasan atau internal kontrol yang efektif untuk memantau kinerja perusahaan. Hal ini akan memberikan peluang bagi manajemen untuk melakukan kecurangan karena tidak adanya internal kontrol yang efektif. Inefective monitoring merupakan salah satu proksi dari elemen peluang . American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) dalam regulasi Statemet of Auditing Standard (SAS) No. 99 mengatakan bahwa terdapat dua faktor yang mengakibatkan kecurangan karena tidak adanya internal kontrol yang efektif. Terdapat kelompok yang mendominasi manajemen tanpa kompensasi kontrol. Internal kontrol yang tidak efektif terhadap proses pelaporan keuangan dan pengendalian internal atas tata kelola oleh pihak yang bertanggung jawab. Diany dan Ratmono . dan Aprilia . dalam penelitiannya mengatakan bahwa Inefective monitoring memiliki pengaruh signifikan terhadap kecurangan laporan keuangan. Dari uraian di atas, maka hipotesis yang di ajukan adalah: H 2 : Inefective monitoring berpengaruh signifikan terhadap laporan keungan. Change of Auditor Setiawati dan Ratih . mengatakan bahwa pergantian auditor dapat mengindikasikan adanya kecurangan. Hal ini digunakan untuk menghilangkan jejak atas terjadinya kecurangan yang ditemukan oleh auditor sebelumnya (Tessa dan harto, 2. Change in auditor ini merupakan bagian dari proksi elemen rasionalisasi . SAS No. 99 menyebutkan bahwa rasionalisasi bisa diukur dengan pergantian auditor, opini audit dari auditor eksternal, dan keadaan total akrual dibagi total aktiva. Septiyani & Handayani . dan Pratiwi & Nurbaiti . dalam penelitianya mengatakan bahwa Change in auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap kecurangan laporan keuangan. Maka dari itu, hipotesis yang di ajukan adalah: H 3 : Change in auditor berpengaruh signifikan terhadap kecurangan laporan keuangan. Change in Directors Change in directors atau perubahan direksi merupakan proksi dari elemen kemampuan . Seseorang yang memiliki jabatan atau fungsi dalam suatu organisasi dapat menimbul kemampuan berbuat kecurangan (Wolfe & Hermanson, 2. Hal ini sesuai dengan penelitian Bagayud et al. , . menjelaskan bahwa Change in directors berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan. Akan tetapi hal ini di tentang oleh Elviani et al. , . yang menjelaskan dalam penelitiannya Change in directors tidak berpengaruh signifikan dengan kecurangan laporan keuangan. Maka dari beberapa penjelasan tersebut, hipotesis yang diajukan H 4 : Change in directors berpengaruh signifikan terhadap laporan keuangan Frequent Number of CEO Picture Jumlah foto CEO yang terdapat pada laporan keuangan dapat mempresentasikan tingkat arrogance dan superioritas yang dimiliki CEO, dikarenakan CEO lebih ingin memperlihatkan status dan jabatan yang dimiliki agar posisi dan jabatan tersebut tidak hilang (Septriyani dan Handayani, 2. Crowe . mengatakan bahwa CEO kemungkinan dapat melakukan apapun untuk mempertahankan posisi dan kedudukanya. Frequent Number of CEO Picture merupakan salah satu dari proksi arrogance. Seorang CEO dapat merasa memiliki kuasa penuh atas kontrol internal, hal ini yang disebabkan sifat arogansi tinggi dan superioritas yang dimiliki CEO yang dapat menyebabkan terjadinya fraud. Tessa . dalam penelitiannya mengatakan bahwa Frequent Number of CEO Picture berpengaruh signifikan terhadap laporan keuanga. Oleh karena itu, hipotesis yang diajukan adalah H 5 : Frequent Number of CEO Picture berpengaruh signifikan terhadap laporan keuangan Gambar 1. Kerangka Berpikir METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Kuantitatif merupakan metode yang berdasarkan data konkrit, yang dimana data penelitian berupa angka yang kemudian di olah menggunakan metode statistik untuk menghasilkan sebuah kesimpulan (Sugiyono, 2. Populasi dalam penelitian terdiri dari perusahaan manufaktur sektor industriasl yang terdaftar di BEI dari tahun 2018-2022. Dalam penentuan sampel digunakan metode purposive sampling dengan beberapa kriteria sebagai berikut: Perusahaan manufaktur sektor industrials yang terdapat di BEI pada tahun 2018-2022. Per 23 Juni 2023 terdapat 60 perusahaan yang terdaftar di BEI. Perusahaan manufaktur sektor industrials yang termasuk ke dalam papan utama pada tahun Dalam kriteria ini terdapat 16 perusahaan. Perusahaan manufaktur sektor industrials yang mempublikasikan laporan keuangan dan laporan tahunan tahun 2018-2022 serta dapat di akses. Pada kriteria ini, terdapat 14. Berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan, dari 60 perusahaan manufaktur sektor industrials yang terdaftar di BEI, terdapat 14 perusahaan memenuhi kriteria sebagai sampel penelitian. Periode pengamatan penelitian ini adalah 5 tahun, dengan demikian jumlah keseluruhan sampel dalam penelitian sebanyak 70 sampel. Jenis data untuk penelitian ini adalah data sekunder berupa data panel yang diperoleh dari BEI dan website resmi perusahaan berupa laporan tahunan dan laporan keuangan dari tahun 2018-2022. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, diantaranya: Variabel dependen (Y) yaitu kecurangan pada laporan keuangan. Suatu entitas dapat dikatakan melakukan fraud ketika F-Score bernilai lebih besar dari 1, akan tetapi jika F-Score kurang dari 1 maka perusahaan dapat dikatakan tidak melakukan fraud (Ratmono et al. , 2. Oleh karena itu, untuk mengukur apakah terjadi kecurangan pada laporan keuangan, peneliti menggunakan model yang dikembangkan oleh Dechow et. , al . yaitu model Fraud Score Model atau FScore. Model F-Score ini merupakan penjumlahan dari hasil kualitas akrual . ccrual qualit. atau yang sering diproksikan sebagai RSST, dengan kinerja keuangan . inancial performanc. Adapun rumus untuk menghitung RSST adalah sebagai berikut: OIycOya OIycAyaycC OIyayaycA RSST Accrual = yaycNycI WC (Working Capita. dapat dihitung dengan cara Current Asset - Current Liability. NCO (Non Current Operating Accrua. dapat dihitung dengan cara (Fixed Asset Ae Long Trem Invesmen. - (Long Trem Liabilities Ae Total Deb. FIN (Financial Accrua. dapat dihitung dengan cara Total Invesment - Total Liabilities, dan ATS (Average Total Asse. dapat dihitung dengan cara Beginning (Total Asset End Total Asse. : 2. Sedangkan untuk menghitung Financial Performance adalah sebagai berikut: Financial Performance = Change in Receivables Change in Inventories Change in Cash Sales Change in Earnings. OIycIyceycayceycnycycaycaycoyceyc Untuk menghitung Change in Receivables dapat dilakukan dengan cara yaycyceycycayciyce ycNycuycycayco yaycycyceyc . OIyaycuycyceycuycycuycycnyceyc Change in Inventories dilakukan dengan cara yaycyceycycayciyce ycNycuycycayco yaycycyceyc . Change in Cash Sales dilakukan dengan cara yaycaycycuycnycuyci yc yaycyceycycayciyce ycycuycycayco yaycycyceyc yc OISales OIycIyceycayceycnycycaycaycoyce Sales t ycIyceycayceycnycycaycaycoyce yc yaycaycycuycnycuyci ycOe1 . Change in Earnings dilakukan dengan cara - yaycyceycycayciyce ycNycuycycayco yaycycyceycOe1 . Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa untuk menghitung F-Score dapat dilakukan dengan cara Accrual Quality Financial Performance. Variabel independen (X). Dalam penelitian ini terdapat beberapa variabel, diantaranya adalah: Laba bersih Financial Target, ini dapat dihitung ROA yaitu Total aset x 100 Inefective Monitoring, untuk mengetahui variabel ini dapat menggunakan rumus BDOUT yaycycoycoycaEa yccyceycycaycu ycoycuycoycnycycaycycnyc ycnycuyccyceycyyceycuyccyceycu = yaycycoycoycaEa ycycuycycayco yccyceycycaycu ycoycuycoycnycycaycycnyc Change in Auditor dan Change in Directors, diketahui memakai metode dummy. Pada variabel Change in Auditor akan diberikan angka 1 ketika terdapat perubahan KAP, dan diberikan angka 0 ketika tidak terjadi perubahan. Sedangkan pada variabel Change in Directors akan diberikan angka 1 ketika terdapat perubahan direksi, dan akan diberikan angka 0 ketika tidak terjadi perubahan. Frequent Number of CEO Picture, dalam variabel ini diketahui dengan cara menghitung total foto CEO yang terdapat pada laporan tahunan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemilihan Model CEM FEM dan REM Sebelum melakukan uji asumsi klasik, kita harus mengetahui terlebih dahulu pemodelan mana yang paling cocok untuk regresi data panel antara common effect model (CEM), fixed effect model (FEM) dan random effect model (REM). TABEL 1. Uji Chow Rusiadi . mengatakan bahwa uji Chow digunakan untuk pemilihan antara CEM atau fixed effect model (FEM) yang dilakukan dengan uji F. Jika probabilitas lebih besar dari 0,05 maka model yang digunakan adalah CEM dan begitupun sebaliknya. Dikarenakan pada tabel 1 nilai probabilitas 0,2945 > 0,05, maka model yang digunakan adalah CEM. Langkah selanjutnya yaitu menentukan pemodelan untuk memilih REM dan CEM. TABEL 2. Uji Lagrange Multiplier (LM) Uji LM ini digunakan ketika pada pengujian Chow terpelih CEM dan untuk penentuan pemodelan antara REM dan CEM. Jika propabilitas lebih besar dari 0,05 maka model yang digunakan adalah CEM dan begitupun sebaliknya. Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa nilai probabilitas 0,7469 > 0,05, maka pemodelan yang terpilih dalam penelitian ini adalah CEM. Pengujian Asumsi Klasik Regresi Data Panel Regresi data panel Gujarati . mengatakan bahwa regresi data panel adalah teknik regresi yang menggabungkan antara data cross-section dengan time saries. Dalam regresi data panel, terdapat tiga alternatif pemodelan yaitu CEM. FEM dan REM. Jika pemodelan yang terpilih adalah CEM dan FEM maka pendekatan teknik estimasi yang digunakan Ordinary Least Squared (OLS), sedangkan jika pemodelan yang terpilih adalah REM maka pendekatan teknik estimasi yang digunakan Generalized Least Squared (GLS). Pada penelitian ini, pemodelan yang terpilih adalah CEM. Tabel. 3 Uji Asumsi Klasik Regresi data Panel Dari tabel di atas, langkah awal yang harus dilakukan yaitu uji normalitas data. Tabel. 4 Analisis Deskriptif Faktor penentu normalnya suatu data dapat dilihat dari probabilitas Jarque-Bera lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan tabel analisis deskriptif, dapat diketahui bahwa nilai Jarque-Bera secara keseluruhan variabel menunjukkan lebih besar dari 0,05. Akan tetapi hal tersebut tidak masalah dikarenakan tidak menjadi syarat penentu. Oleh karena itu dapat dilanjutkan kepada uji yang Tabel. 5 Uji Heteroskedastisitas Ghozali dan Ratmono . mengatakan bahwa uji heteroskedastisitas adalah pengujian untuk mengetahui apakah model regresi terjadi ketidaksamaan variance dan residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya. Dalam uji heteroskedastisitas ini digunakan cara uji glester. Jika nilai probabilitas lebih besar dari 0,05 maka data tidak terjadi heteroskedastisitas. Pada tabel 5 dapat dilihat bahwa nilai probabilitas 0. 4330 > 0,05, maka dapat dikatakan bahwa tidak terjadi Tabel. 6 Uji Multikolonearitas Ghozali dan Ratmono . mengatakan bahwa uji multikolonearitas dilakukan untuk mengetahui apakah model regresi ditemukan terdapat korelasi antar veriabel bebas. Uji multikolonearitas ini menggunakan metode VIF. Jika Centered VIF kurang dari 10 maka tidak terdapat multikolonearitas. Pada tabel dapat dilihat bahwa semua nilai Centered VIF kurang dari 10, ini menunjukkan bahwa tidak terdapat multikolonearitas. Tabel. 7 Uji Autokorelasi Ghozali dan Ratmono . mengatakan bahwa uji autokeralasi digunakan untuk mengetahui dalam regresi linier apakah terdapat korelasi antara kesalahan pengganguan pada periode t dengan kesalahan pengganguan pada periode t-1. Jika nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05 maka tidak terjadi autokorelasi. Pada tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai probabilitas 0. 9463 > 0,05, yang dimana hal tersebut menunjukkan terdapat korelasi. Akan tetapi hal tersebut tidak menjadi masalah dikarenakan autokorelasi dalam regresi data panel CEM tidak menjadi syarat penentu. Hasil Common Effect Model (CEM) Tabel. 8 Uji Common Effect Model (CEM) Berdasarkan tabel 8 dapat dilihat bahwa R-squared sebesar 0. 040056 < dari 0,05, yang dimana hal tersebut berarti variabel independen sangat kecil mempengaruhi dalam kecurangan laporan keuangan, hal tersebut dapat juga menunjukkan bahwa variabel Pressure. Opportunity. Rasionalization. Competence dan Arrogance lainnya memiliki kontribusi dalam mempengaruhi kecurangan dalam laporan keuangan. Tabel 8 juga menunjukkan bahwa nilai uji F sebesar 0. 534110 >0,05, hal tersebut menunjukkan bahwa variabel independen tidak berpengaruh secara simultan terhadap kecurangan laporan Selain itu, dalam tabel 8 juga menunjukkan bahwa nilai uji T variabel independen tidak ada yang lebih kecil dari 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada hubungan positif dalam mendeteksi kecurangan laporan keuangan Financial target berpengaruh signifikan terhadap kecurangan dalam laporan keuangan. Berdasarkan hasil uji statistik yang dilakukan, terlihat bahwa financial target memiliki nilai probabilitas signifikan sebesar 0,9089. Nilai ini lebih besar dari nilai error 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 atau tujuan keuangan berpengaruh material terhadap penolakan kecurangan pada laporan keuangan. ROA . perusahaan yang tinggi belum tentu mengindikasikan kecurangan pelaporan keuangan. Peningkatan ROA dapat dikaitkan dengan peningkatan kualitas operasional dan efisiensi bisnis, seperti modernisasi sistem informasi. Hal ini sesuai dengan penelitian Yossi Septiani . dan Desi Handayani . bahwa rasio keuangan tidak berpengaruh signifikan terhadap kecurangan laporan keuangan perusahaan manufaktur. Inefective monitoring berpengaruh signifikan terhadap laporan keungan. Hasil uji statistik menunjukkan nilai probabilitas ketidakefektifan supervisi sebesar 0,9592 lebih besar dari nilai error 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis ineffective monitoring berpengaruh signifikan terhadap laporan keuangan atau H2 dalam penelitian ini tidak dapat diterima. Secara umum, keberadaan dewan komisaris yang independen akan memberikan kepastian pengendalian dalam perusahaan. Namun, banyak atau sedikitnya dewan komisaris independent belum memberikan jaminan untuk meningkatkan pengawasan operasional perusahaan. Hal ini didasari oleh campur tangan Direksi yang independen, sehingga pengawasan di perusahaan menjadi tidak objektif. Change in auditor berpengaruh signifikan terhadap kecurangan laporan keuangan. Hasil pengujian diperoleh nilai probabilitas pergantian auditor sebesar 0,1396 yang lebih besar dari 0,05 . ilai erro. , yang berarti bahwa hipotesis pergantian auditor memiliki pengaruh material terhadap kecurangan melalui informasi berita keuangan terbantahkan. Perusahaan yang mengganti auditor atau KAP tidak memengaruhi kecurangan pelaporan keuangan. Tindakan perusahaan melakukan pergantian auditor tidak mendadak untuk melindungi manajemen dan mantan auditor karena diketahui melakukan kecurangan, tetapi dilakukan karena ingin mengembalikan hasil usaha di masa mendatang dengan hasil yang lebih objektif. Pernyataan di atas sejalan dengan hasil penelitian Harto dan Tessa . bahwa pergantian auditor tidak berdampak material terhadap kemungkinan terjadinya kecurangan dalam laporan keuangan. Change in directors berpengaruh signifikan terhadap laporan keuangan. Hasil yang diperoleh dari pengujian menunjukkan bahwa nilai koefisien Pergantian Direksi lebih besar dari 0,4829 berbanding 0,05 . ilai erro. yang berarti H 4 atau Hipotesis Pergantian Direksi berpengaruh signifikan terhadap laporan keuangan, diterima. Pergantian direksi perusahaan bukan secara mendadak untuk menutupi kecurangan yang terjadi, melainkan untuk meningkatkan kinerja perusahaan dengan senior/kompeten direktur untuk membawa perusahaan lebih maju. Temuan ini didukung oleh penelitian Ajeng dan Arief . yang menunjukkan bahwa pergantian auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap kecurangan laporan keuangan. Frequent Number of CEO Picture berpengaruh signifikan terhadap laporan keuangan. Hasil pengujian yang dilakukan terhadap Frequent Number of CEO Picture diperoleh nilai koefisien sebesar 0,9810 lebih besar dari 0,05. H5 atau hipotesis bahwa Frequent Number of CEO Picture berpengaruh signifikan terhadap laporan keuangan ditolak. Memang, dari semua perusahaan yang menjadi sampel, sangat sedikit yang memajang foto CEO di laporan tahunannya, sehingga jumlah foto CEO yang ditampilkan tidak bisa dijadikan indikator olahraga masalah pelaporan keuangan. PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil analitis dan pengujian hipotesis , penulis mendapatkan kesimpulan sebagai Financial target tidak berpengaruh signifikan terhadap kecurangan dalam laporan keuangan. Innefective Monitoring tidak berpengaruh signifikan terhadap kecurangan dalam laporan Change in Auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap kecurangan dalam laporan keuangan. Change in Directors tidak berpengaruh signifikan terhadap kecurangan dalam laporan Frequent Number of CEO Picture tidak berpengaruh signifikan terhadap kecurangan dalam laporan keuangan Maka, dapat disimpulkan bahwa proksi-proksi dari setiap elemen fraud pentaghon theory yang penulis telah rancang tidak berpengaruh signifikan terhadap kecurangan pada laporan keuangan DAFTAR PUSTAKA