ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat Diterima : 22 Desember 2025 Direvisi : 22 Desember 2025 DOI : 10. 58518/darajat. Dipublikasi : 24 Desember 2025 UPAYA GURU PAI DALAM MEMBENTUK KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL DI MA. TARBIYATUL WATHON Muhammad Faiq Muizzuddin Universitas Qomaruddin. Gresik. Indonesia Email : sdarafaiq310794@gmail. Nur Hakim Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah. Lamongan. Indonesia E-mail: nurhakim@iai-tabah. Abstrak Dalam proses pendidikan, guru dan siswa merupakan dua elemen yang tak terpisahkan. Guru pendidikan agama Islam juga memiliki tugas untuk membimbing siswa agar dapat menerapkan pengetahuan tentang ajaran Islam dalam kehidupan mereka sendiri, keluarga, dan komunitas. Tantangan sentral yang dihadapi oleh institusi pendidikan saat ini adalah penurunan nilai Dalam hal ini Upaya guru sangat diperlukan sebagai pengasah kemampuan siswa dalam penanaman sikap termasuk sikap tanggung jawab dan kepedulian. Tujuan dari penelitian ini sendiri didasari untuk mengetahui bagaimana kondisi karakter tanggung jawab siswa, usaha guru pendidikan agama islam dalam membentuk karakter tanggung jawab siswa, serta untuk memahami hal-hal yang menghambat dan mendukung dalam menanamkan karakter tanggung jawab siswa di MA Tarbiyatul Wathon Gresik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif. Objek penelitian ini adalah peserta didik kelas XI di Madrasah Aliyah Tarbiyatul Wathon Gresik. Terkait dengan pengumpulan data dilakukan menggunakan obeservasi, wawancara dan dokumentasi, serta rancangan analisis data yang mencakup tahapan reduksi data, penyajian data, serta verifikasi data. Temuan penelitian menunjukkan bahwa karakter tanggung jawab siswa di MA Tarbiyatul Wathon masih jauh dari standar tertinggi yang ditetapkan oleh lembaga itu sendiri. berbagai upaya yang dilakukan oleh guru pendidikan agama islam seperti proses memahami siswa, penggunaan berbagai teknik startegi, menumbuhkan rasa tanggung jawab selama pembelajaran, mengelompokkan siswa, memberikan tugas, dan melibatkan siswa dalam kegiatan yang berorientasi pada karakter bertujuan untuk membantu siswa di MA Tarbiyatul Wathon mengembangkan karakter tanggung jawab. Penelitian ini menemukan sejumlah faktor yang mendukung sekaligus menghambat pengembangan karakter tanggung jawab siswa seperti keluarga dan lingkungan. Kata kunci: Guru Pendidikan Agama Islam. Konstekstual. Tanggung Jawab Abstract Teachers and students are two essential components of the educational process. Teachers of Islamic religious education are also responsible for helping students implement what they have learned about Islamic beliefs in their communities, families, and personal lives. The deterioration moral principles is one of the main issues facing educational institutions nowadays. Teachers' efforts are crucial to developing students' capacity to inculcate attitudes, such as those of responsibility and compassion. Understanding the state of students' character of responsibility, the efforts made by Islamic religious education instructors to help students develop this trait, and the factors that help and hinder students at MA Tarbiyatul Wathon Gresik from developing this trait are the foundations of this study. This study combined a descriptive approach with a Upaya Guru Pendidikan Agama Islam | Muhammad Faiq Muizzuddin. Nur Hakim Darajat. Volume 10. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat qualitative strategy. Students in grade XI at Madrasah Aliyah Tarbiyatul Wathon Gresik served as the study's subjects. A data analysis strategy comprising the phases of data reduction, data presentation, and data verification was used in conjunction with observation, interviews, and documentation as part of the data collection process. According to the research findings. MA Tarbiyatul Wathon students' character of responsibility still falls well short of the highest requirements established by the school. To help students at MA Tarbiyatul Wathon develop a responsible character. Islamic religious education teachers employ a variety of strategies, assigning assignments, encouraging a sense of responsibility during learning, and engaging students in character-oriented activities. This study identified a number of elements, including family and environment, that both help and hinder pupils' development of responsible character. Keywords: Contextual. Islamic Religious Education Teacher. Responsibility. PENDAHULUAN Peran guru dan siswa tidak bisa dipisahkan dan saling terkait erat dalam bidang Pengetahuan dan pemahaman guru yang lebih mendalam tentang materi pelajaran memberikan peran penting bagi mereka. Selain mengajar, guru juga berperan sebagai panutan bagi siswa, membantu mereka mengembangkan prinsip-prinsip moral. Guru harus mampu bertindak secara bertanggung jawab, menjadi teladan untuk peserta didik, dan menunjukkan perilaku yang baik dalam menjalankan tugasnya. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) bertugas mengembangkan kepribadian siswa agar mampu mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, selain mengajarkan materi keagamaan. Selain itu, guru PAI berperan penting dalam membantu siswa menerapkan ajaran agama dalam ranah sosial, keluarga, dan Pendidikan agama didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang bertujuan untuk memperkenalkan ajaran agama, membentuk kepribadian, mengembangkan kemampuan, dan menanamkan sikap serta nilai-nilai pada setiap individu di semua jenjang dan jenis pendidikan, sesuai dengan kebijakan yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia (Permenag RI). 1 Dalam Islam, karakter sama dengan "akhlak". Akhlak mencakup perilaku, rutinitas, perbuatan, dan kesopanan seseorang dalam interaksi sehari-hari. Karakter mencakup kualitas moral seseorang, seperti keberanian, kekuatan, kejujuran, kesetiaan, dan pola perilaku yang baik, yang terwujud dalam semua tindakannya. Menurunnya nilai-nilai moral siswa menjadi salah satu permasalahan terbesar yang dihadapi lembaga pendidikan saat ini. Dilema inilah yang menjadi akar permasalahan berbagai permasalahan yang mulai muncul di lingkungan pendidikan. Sekolah memegang peran penting dalam membentuk karakter siswanya. Dalam hal ini, partisipasi aktif guru sangat penting untuk membantu siswa menumbuhkan sikap positif, seperti rasa tanggung jawab dan empati. Dalam pandangan yang dipaparkan oleh Wanibulandari dan Ardianti . sependapat dengan hal ini, yakni menyatakan bahwa anak-anak dapat mengembangkan karakter tanggung jawab jika mereka terbiasa bertindak bertanggung jawab, terutama terhadap lingkungan Hal ini menggambarkan bahwa satu atau dua guru tidak bisa menjadi satu-satunya yang bertugas atas proses pembentukan rasa tanggung jawab siswa. Sebaliknya, semua guru di sekolah harus turut serta bertanggung jawab mengemban Amanah ini. Anak-anak perlu ditanamkan nilai-nilai karakter, terutama karakter tanggung jawab, kepada keluarga, masyarakat, dan guru mereka. 1 Rahman. Fathor. "Kebijakan Pendidikan Islam di Sekolah dan Perguruan Tinggi (PAI Masa Orde Lama. PAI dan SKB 3 Menteri. PAI dalam PMA 16 Tahun 2010, dan PAI di PerguruanTinggi dalam UU Sisdikna. " Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan 2. : 38-65. Wanabuliandari. , & Ardianti. Pengaruh modul e-jas edutainment terhadap karakter peduli lingkungan dan tanggung jawab. Scholaria: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 8. , 70-79. Upaya Guru Pendidikan Agama Islam | Muhammad Faiq Muizzuddin. Nur Hakim Darajat. Volume 10. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat Agar pembentukan karakter tanggung jawab lebih mudah dipahami dan dihayati siswa. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) harus memperbarui strategi pengajaran dan materi ajar mereka dengan pendekatan yang lebih kontemporer dan relevan dengan perkembangan zaman yang pesat. materi tersebut harus dikaitkan dengan pengalaman dunia nyata mereka atau secara kontekstual. Selain meningkatkan efektivitas proses pembelajaran, pendekatan kontekstual ini akan menjadi instrumen yang bermanfaat untuk membentuk karakter siswa secara utuh. METODE Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan memilih metode penelitian lapangan untuk menggali fenomena sosial dalam konteks alaminya. Strategi penelitian yang digunakan adalah pendekatan studi kasus, maka pengumpulan data dilakukan secara komprehensif menggunakan berbagai metode pengumpulan data untuk memperoleh data yang sesuai tentang kasus yang diteliti. Penelitian ini mengambil sebuah lokasi tepatnya di Madrasah Aliyah Tarbiyatul Wathon di Desa Campurejo Kecamatan Panceng Kabupaten Gresik. Pada dasarnya alat yang digunakan dalam penelitian ini berkaitan erat dengan teknik pengumpulan data. Adapun teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data, yaitu: Observasi. Wawancara dan Dokumentasi. Dalam menganalisis data, dilakukan dengan cara mengelompokkan data kedalam kategori tertentu, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan pengujian sintesa, menyusun kedalam pola, mengambil data yang dapat dipelajari dan dipakai, serta membuat kesimpulan yang mudah dipahami. Proses ini meliputi tiga tahap utama, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. PEMBAHASAN Kondisi Karakter Tanggung Jawab Siswa Di MA Tarbiyatul Wathon Pendidikan karakter lebih dari sekadar mengajarkan norma atau aturan yang benar dan salah. Pendidikan karakter juga mengajarkan dan membentuk kebiasaan baik yang sesuai dengan norma tersebut. Dengan demikian, siswa tidak hanya mampu memahami antara yang benar dan salah, tetapi juga mampu merasakan nilai-nilai baik yang sudah terbiasa dilakukan oleh masyarakat. Menurut seorang ahli bernama Muchlas Samani, karakter adalah kualitas yang melekat pada diri seseorang yang membentuk pola pikir, sikap, dan perilakunya. Kualitas tersebut meliputi nilai-nilai luhur, seperti jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, kerja keras, dan kreatif. Kondisi karakter siswa di MA. Tarbiyatul Wathon khususnya karakter tanggung jawab dirasa masih kurang optimal. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya bentuk pelanggaran atau kesalahan siswa yang semestinya itu menjadi tanggung jawab dasar bagi seorang siswa, seperti tidak mengumpulkan tugas, datang terlambat, tidak masuk tanpa alasan yang jelas, dan melanggar tata tertib sekolah. Meskipun pelanggaran yang dilakukan siswa tidak tergolong berat, bukan berarti seorang guru harus membiarkan siswanya tetap melakukan hal tersebut. Seorang guru khususnya sebagai seorang pendidik memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter seorang siswa. Upaya-upaya positif dan membangun harus terus dilakukan untuk dapat membentuk karakter tanggung jawab siswa. Tanggung jawab adalah karakter yang sangat penting bagi siswa. Dengan tanggung jawab, siswa dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik, baik di sekolah Musthofa. Amin. Penguatan Nilai-nilai Pendidikan Karakter Dalam Materi Ajar Aqidah Akhlak Pada Mata Pelajaran ISMUBA (Studi Kasus di SD Muhammadiyah 21 Surabay. Diss. Universitas Muhammadiyah Surabaya, 2019. Upaya Guru Pendidikan Agama Islam | Muhammad Faiq Muizzuddin. Nur Hakim Darajat. Volume 10. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat maupun di masyarakat. Selain itu, tanggung jawab juga dapat membantu siswa untuk mengendalikan diri, membagi waktu, dan menjalani hidup dengan teratur. Implementasi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Karakter Tanggung Jawab Siswa MA Tarbiyatul Wathon Guru memiliki tanggung jawab besar terhadap proses pendidikan yang disampaikannya kepada murid-muridnya. Tugas pendidik tidak hanya terbatas pada penyampaian materi pelajaran, tetapi lebih luas lagi, yaitu membentuk karakter peserta Dalam upaya membentuk karakter tanggung jawab, diperlukan kontribusi dari guru untuk mewujudkannya. Keberhasilan pendidikan karakter membutuhkan penerapan metode yang beragam oleh guru. Hal ini melibatkan memberikan beragam tugas kepada siswa, pembentukan kelompok, penyediaan berbagai materi bahan ajar, penerapan kriteria penilaian yang beragam, pembuatan laporan penilaian dari hasil proses pendidikan, pemahaman bahwa setiap siswa memiliki perkembangan yang berbeda, menciptakan suasana yang nyaman dan aman bagi siswa, serta melibatkan siswa dalam kegiatan berorientasi karakter. Adapun hasil pengamatan dan wawancara peneliti di lapangan. Berikut adalah beberapa contohnya: Memahami Karakter siswa dengan tingkat kecepatan pemahaman yang tidak sama Memahami karakter siswa di MA. Tarbiyatul Wathon adalah langkah awal bagi guru untuk mengenal dan memahami keinginan, kesukaan, serta hal yang dihindari oleh siswa selama proses pembelajaran. Guru perlu memiliki pemahaman yang mendalam terhadap siswa guna memfasilitasi pemahaman materi dengan lebih baik. Ketika terjalin pemahaman saling antara guru dan siswa, proses belajar mengajar akan menjadi lebih lancar dan efektif, mengingat adanya keterbukaan dan kesalingpengertian di antara keduanya. Hubungan antara siswa dan guru adalah hubungan yang saling membutuhkan. Siswa membutuhkan guru untuk belajar dan mengembangkan diri, sedangkan guru membutuhkan siswa untuk berbagi ilmu dan Penggunaan metode yang bervariasi dalam proses pendidikan Keberhasilan proses pendidikan dapat diukur dari hasil belajar siswa, baik berupa angka maupun nilai. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kreativitas yang tinggi dan memahami istilah-istilah pendidikan terbaru agar dapat memberikan pembelajaran yang efektif dan efisien. Dengan demikian, siswa dapat memahami materi yang telah diajarkan dengan baik. Slameto juga berpendapat bahwa variasi mengajar dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, membangkitkan rasa ingin tahu siswa, dan mengembangkan daya kreativitas siswa. Menanamkan Tanggung Jawab Saat Pembelajaran Guru pendidikan agama islam membentuk karakter siswa di MA. Tarbiyatul Wathon adalah melalui pendekatan pemberian tugas selama sesi pembelajaran. Siswa yang mendapat tugas diharapkan dapat menyelesaikannya sesuai dengan waktu yang telah disepakati bersama oleh guru dan siswa. Selain memberikan tugas, guru juga bertanggung jawab untuk mengingatkan siswa tentang kewajiban mereka sebagai peserta didik. Jika siswa tidak mampu menyelesaikan tugas yang telah ditentukan, maka siswa akan diberikan hukuman. Instansi pendidikan yang berlabel madrasah akan lebih mengedepankan hukuman yang bersifat islami, seperti menulis atau membaca surat dalam Al-Qur'an, piket kebersihan kelas, atau membersihkan musholla madrasah Lestari. Endang Titik. Cara praktis meningkatkan motivasi siswa sekolah dasar. Deepublish, 2020. Upaya Guru Pendidikan Agama Islam | Muhammad Faiq Muizzuddin. Nur Hakim Darajat. Volume 10. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat sebelum digunakan untuk sholat berjamaah. Hukuman tersebut bertujuan untuk mendidik siswa, bukan untuk menghukumnya. Mengelompokkan Siswa Saat Proses Pembelajaran Pembentukan kelompok belajar siswa saat proses pembelajaran memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa. Hal ini dapat melatih siswa untuk berani berbicara di depan umum, serta bekerja sama dan berkolaborasi dengan temanteman mereka. Pembentukan kelompok belajar dianggap sebagai salah satu metode yang paling tepat untuk meningkatkan kemampuan siswa. Dalam metode ini, siswa akan diberikan tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas tertentu secara bersamasama. Masing-masing anggota kelompok memiliki peran yang berbeda-beda, seperti penulis, pemberi ide, atau pelaksana tugas. Memberikan Tugas Lisan. Tulis Dan Praktik Penugasan yang diberikan oleh guru pendidikan agama islam kepada siswa MA. Tarbiyatul Wathon juga menjadi cara untuk menilai sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan selama proses pembelajaran. Metode penugasan adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran di mana guru memberikan tugas tertentu agar murid melakukan kegiatan belajar, kemudian harus berdasarkan pendapat nana sudjana mengemukakan Metode penugasan adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran di mana guru memberikan tugas tertentu agar murid melakukan kegiatan belajar, kemudian harus Melibatkan Siswa Dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Yang Berkarakter Guru memiliki peran penting dalam membentuk karakter tanggung jawab siswa. Namun, guru tidak dapat melakukannya sendiri. Program sekolah juga dapat berperan dalam mendukung pembentukan karakter tanggung jawab siswa. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh sekolah adalah dengan menyediakan berbagai pilihan kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan berbagai keterampilan dan kemampuan, termasuk keterampilan tanggung jawab. Kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat fisik, seperti olahraga, dapat mengajarkan siswa tentang pentingnya disiplin, kerja keras, dan ketekunan. Kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat non fisik, seperti kegiatan keorganisasian, dapat mengajarkan siswa tentang pentingnya kerjasama, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial. Ekstrakulikuler olahraga seperti pencaksilat, sepak bola, dll. Sedangkan kalau yang non olahraga seperti OSIS. IPNU-IPPNU, dan pramuka. Faktor Pendukung Dan Penghambat Dalam Membentuk Karakter Siswa Yang Bertanggung Jawab di MA. Tarbiyatul Wathon Faktor Pendukung Guru Membentuk Karakter Siswa Yang Bertanggung Jawab Dalam rangka penanaman karakter tanggung jawab melalui pendidikan agama Islam, terdapat faktor-faktor yang menjadi kunci keberhasilan dalam membentuk karakter siswa, khususnya dalam aspek tanggung jawab. Ada tiga faktor yang mendukung. tersebut, atara lainnya yakni : Pertama. Faktor pendukung keberhasilan pendidikan karakter khususnya karakter tanggung jawab pada siswa yang bersumber dari keluarga adalah pola asuh orang tua yang demokratis, orang tua sebagai teladan, dan orang tua memberikan penghargaan. Pola asuh orang tua yang demokratis akan membuat siswa merasa dihargai dan memiliki kepercayaan diri. Hal ini akan mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas tindakannya. Aditya. Dedy Yusuf. "Pengaruh penerapan metode pembelajaran resitasi terhadap hasil belajar matematika siswa. " SAP (Susunan Artikel Pendidika. Upaya Guru Pendidikan Agama Islam | Muhammad Faiq Muizzuddin. Nur Hakim Darajat. Volume 10. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat Sejalan dengan konsep dan pedoman Kemendikbud menjelaskan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi siswa. Pola asuh keluarga yang baik dapat membentuk karakter siswa yang bertanggung jawab. Kedua. Sekolah memiliki peran yang penting dalam membentuk karakter siswa. Faktorfaktor yang dapat mendorong keberhasilan pendidikan karakter khususnya karakter tanggung jawab pada siswa yang bersumber dari sekolah adalah kebijakan sekolah yang mendukung pendidikan karakter, guru sebagai pendidik dan pengajar yang memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional yang baik, kegiatan ekstrakurikuler yang dapat mengembangkan karakter tanggung jawab, serta kolaborasi dengan orang tua. Kebijakan sekolah yang mendukung pendidikan karakter akan menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif untuk pembentukan karakter siswa. Guru sebagai pendidik dan pengajar yang memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional yang baik dapat menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien dalam membentuk karakter siswa. Kegiatan ekstrakurikuler dapat menjadi sarana untuk mengembangkan karakter siswa, termasuk karakter tanggung jawab. Kolaborasi dengan orang tua dapat membantu sekolah untuk memahami perkembangan dan kendala siswa dalam belajar dan membentuk karakter. Ketiga, setelah faktor keluarga dan sekolah selanjutnya faktor Lingkungan berperan penting dalam pembentukan karakter siswa, selain faktor keluarga dan sekolah. Siswa menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan, baik di sekolah maupun di Di lingkungan, siswa dapat belajar tentang berbagai hal, termasuk cara bersosialisasi dan bermasyarakat. Selain itu, menurut Urie Bronfenbrenner Lingkungan masyarakat, yang merupakan bagian dari makrosistem, dapat mempengaruhi perkembangan sosial siswa melalui berbagai cara, antara lain nilai-nilai dan norma-norma sosial, kegiatan-kegiatan sosial, dan media massa. Oleh karena itu, tempat tinggal siswa menjadi tempat di mana mereka dapat membuktikan diri kepada orang lain, terutama masyarakat, bahwa mereka telah diberi pembelajaran mengenai karakter tanggung jawab di sekolah, yang pada dasarnya sudah diajarkan oleh keluarganya. Jika siswa mampu menunjukkan tanggung jawab yang baik, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan menjadi individu yang dipercayai banyak orang dan meraih derajat yang lebih tinggi dalam masyarakat. Faktor Penghambat Guru Membentuk Karakter Siswa Yang Bertanggung Jawab Tingkat tanggung jawab siswa yang semakin rendah merupakan tanda bahwa sekolah atau madrasah telah gagal dalam membentuk karakter siswa. Hal tersebut menjadi kendala bagi guru dan sekolah dalam usaha membentuk karakter siswa, terutama dalam membentuk karakter tanggung jawab yang akan memberikan manfaat besar bagi siswa ketika mereka telah dewasa dan terlibat dalam kehidupan keluarga serta lingkungan masyarakat. Ada dua faktor yang menghambat pemebentukan karakter siswa di MA. Tarbiyatul Wathon. faktor tersebut, atara lainnya yakni : Pertama. Lingkungan dan teman-teman di sekitar rumah siswa menjadi faktor penghambat terbentuknya karakter tanggung jawab siswa. Lingkungan yang negatif akan membawa pengaruh yang kurang baik bagi siswa dan tingkah lakunya. Hal ini karena lingkungan menjadi tempat siswa mendapatkan pendidikan selain sekolah dan Anak-anak sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan, terutama jika mendapatkan ajakan langsung dari teman-temannya. Hal ini karena anak- anak Kemendikbud. Hakekat Pendidikan Karakter. Jakarta: Kemendikbud. Zubaidillah. Muh Haris. "Teori ekologi, psikologi dan sosiologi lingkungan pendidikan islam. " . Upaya Guru Pendidikan Agama Islam | Muhammad Faiq Muizzuddin. Nur Hakim Darajat. Volume 10. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat merupakan sosok remaja yang selalu ingin mencoba hal baru dan selalu ingin meniru gaya teman-temannya. Kedua. Faktor penghambat pembentukan karakter tanggung jawab siswa berasal dari keluarga siswa. Jika dalam keluarga terdapat ketidakharmonisan antara hubungan siswa dan orang tua, serta banyak masalah yang tidak terselesaikan, maka hal ini akan berdampak negatif pada kondisi psikis siswa. Bahkan, hal ini dapat berubah menjadi karakter dan kebiasaan bagi siswa karena siswa terlarut dalam permasalahan keluarga yang ada. Kerja sama dan komunikasi yang buruk antara guru dan keluarga siswa juga semakin memperburuk suasana yang kurang baik. Hal ini membuat sulit untuk mewujudkan karakter tanggung jawab yang berusaha dibentuk. Keadaan ekonomi keluarga yang sulit merupakan kebutuhan primer yang harus Namun, hal ini dapat menyebabkan kedua orangtua siswa tidak memiliki banyak waktu untuk anaknya. Hal ini disebabkan oleh tuntutan kebutuhan sehari-hari yang semakin meningkat. Orangtua siswa pun harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga mereka tidak memiliki banyak waktu untuk keluarga. Ketidakhadiran orangtua dalam membimbing dan mengarahkan siswa secara langsung menyebabkan siswa merasa resah. Hal ini diperparah dengan tidak adanya motivasi yang diberikan oleh orangtua, sehingga siswa semakin terpuruk. Akibatnya, siswa tidak terkontrol kegiatannya di rumah maupun di luar rumah, sehingga semakin sulit terbentuknya karakter positif yang seharusnya diajarkan oleh keluarga. KESIMPULAN Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas. Penelitian ini mengungkapkan bahwa kondisi karakter tanggung jawab siswa di MA Tarbiyatul Wathon tidak sesuai dengan harapan dan kurang mencapai tingkat maksimal yang diharapkan oleh madrasah itu sendiri. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya bentuk pelanggaran yang masih dilakukan oleh siswa seperti tidak mengumpulkan tugas, datang terlambat, tidak masuk tanpa alasan yang jelas, dan melanggar tata tertib sekolah. Upaya yang dilakukan oleh pendidik Pendidikan Agama Islam di MA Tarbiyatul Wathon untuk membentuk karakter tanggung jawab siswa mencakup pemahaman terhadap peserta didik, penerapan metode yang beragam, penanaman sikap tanggung jawab selama pembelajaran, pengelompokkan peserta didik, pemberian tugas, dan keterlibatan peserta didik dalam kegiatan berorientasi karakter. Dalam proses pembentukan karakter tanggung jawab siswa, peneliti menemukan beberapa faktor yang mendukung sekaligus menghambat. Diantaranya adalah faktor keluarga, sekolah, dan lingkungan atau pertemanan. DAFTAR PUSTAKA