Indonesian Dental Association Journal of Indonesian Dental Association http://jurnal. id/index. php/jida ISSN: 2621-6183 (Prin. ISSN: 2621-6175 (Onlin. Research Article Comparison of Interceptive Orthodontic Treatment Need Assessment between Professionals and Parents Petronella Widyanto1. Yohana Yusra2A 1Undergraduate Student. Faculty of Dentistry. Universitas Trisakti. Indonesia 2Department of Orthodontics. Faculty of Dentistry. Universitas Trisakti. Indonesia KEYWORDS IKPO-I. IKPOI-OT, Interceptive orthodontic. Malocclusion ABSTRACT Introduction: Malocclusion is the arrangement of the teeth that is not ideal according to the dental arch. Interceptive orthodontic treatment aims to correct malocclusion during the mixed dentition period. Orthodontic index is a measuring tool to assess the severity of malocclusion, one of the indexes that can be used is Indeks Kebutuhan Perawatan Ortodonti Interseptif oleh Orang Tua (IKPOI-OT) for early detection of malocclusion in children aged 8-11 years during the mixed dentition period that can be used by parents. Objective: To determine whether there is a difference in the measurement results of the need for interceptive orthodontic treatment with IKPO-I by dentists and IKPOI-OT measured by parents at SDN Jelambar Baru 07 so that this index can be used by parents for early detection of malocclusion in children aged 8-11 years . ixed dentition perio. Methods: This research is an analytical observational study with a cross-sectional design. Dental examination was conducted by the parents using the IKPOI-OT form and by the dentist using a dental mirror and flashlight with IKPOI form. The data obtained from the research was subjected to a statistical comparison test using the Mann Whitney test. Results: Total participants were 84 students and parents of SDN Jelambar Baru 07, the results of parent's examination showed that 55 children . ,5%) needed consultation with a dentist or orthodontist, meanwhile, the results of the dentist's examination showed that all of the children needed orthodontic treatment, 42 children . %) needed interceptive orthodontic treatment and 42 children . %) requires corrective orthodontic treatment. Conclusion: There is a difference in the measurement results of the need for interceptive orthodontic treatment with IKPO-I by dentists and IKPOI-OT measured by parents. A Corresponding Author E-mail address: yohana@trisakti. id (Yohana Yusr. DOI: 10. 32793/jida. Copyright: A2025 Widyanto P. Yusra Y. This is an open access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium provided the original author and sources are credited. Journal of Indonesian Dental Association 2025 8. , 1-5 Widyanto & Yusra KATA KUNCI ABSTRAK IKPO-I. IKPOI-OT. Maloklusi. Ortodonti interseptif Pendahuluan: Maloklusi adalah susunan gigi geligi yang tidak sesuai dengan lengkung Perawatan ortodonti interseptif bertujuan untuk memperbaiki maloklusi yang dilakukan pada periode gigi campur. Indeks ortodonti merupakan sebuah alat ukur untuk menilai tingkat keparahan maloklusi, salah satu indeks yang dapat digunakan adalah Indeks Kebutuhan Perawatan Ortodonti Interseptif oleh Orang Tua (IKPOI-OT) untuk deteksi dini maloklusi pada anak usia 8-11 tahun saat periode gigi campur yang dapat dilakukan oleh orang tua. Tujuan: Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil pengukuran kebutuhan perawatan ortodonti interseptif dengan IKPO-I oleh dokter gigi dan IKPOI-OT yang diukur oleh orang tua murid SDN Jelambar Baru 07 agar indeks ini dapat digunakan oleh orang tua untuk deteksi dini kasus maloklusi pada anak usia 8-11 tahun . eriode gigi campu. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional atau potong silang. Dilakukan pemeriksaan gigi anak oleh orang tua menggunakan formulir IKPOI-OT dan pemeriksaan oleh dokter gigi dengan kaca mulut dan senter menggunakan formulir IKPO-I. Data yang diperoleh dari penelitian dilakukan uji perbandingan statistik menggunakan uji Mann Whitney. Hasil: Subjek penelitian sebanyak 84 murid dan orang tua SDN Jelambar Baru 07, hasil pemeriksaan orang tua menunjukkan 55 anak . ,5%) membutuhkan konsultasi dengan dokter gigi atau ortodontis sedangkan hasil pemeriksaan dokter gigi menunjukkan semua anak membutuhkan perawatan ortodonti, 42 anak . %) membutuhkan perawatan ortodonti interseptif dan 42 anak . %) membutuhkan perawatan ortodonti korektif. Kesimpulan: Terdapat perbedaan hasil pengukuran kebutuhan perawatan ortodonti interseptif dengan IKPO-I oleh dokter gigi dan IKPOI-OT yang diukur oleh orang tua. Bali. Banjarmasin. Cempaka Putih dan Jakarta Timur. Indeks Kebutuhan Perawatan Ortodonti Interseptif oleh Orang Tua (IKPOI-OT) dapat digunakan oleh orang tua untuk melakukan deteksi dini maloklusi pada anak usia 8-11 tahun saat periode gigi campur. IKPOI-OT berupa formulir bersifat kuantitatif, terdiri dari 9 pertanyaan yang diisi oleh orang tua. Tujuan indeks ini adalah untuk mempermudah orang tua mendeteksi dini maloklusi pada anak sehingga dapat segera membawa anaknya ke dokter gigi untuk mendapatkan perawatan Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil pengukuran kebutuhan perawatan ortodonti interseptif dengan IKPO-I dan IKPOI-OT yang diukur oleh orang tua pada anak usia 811 tahun . eriode gigi campu. di SDN Jelambar Baru 07. Jakarta Barat. Manfaat dari penelitian ini adalah memberi informasi dan pengetahuan kepada dokter gigi dan masyarakat mengenai pemakaian IKPOI-OT serta informasi tambahan dan refrensi untuk penelitian selanjutnya mengenai IKPOI-OT. PENDAHULUAN Oklusi normal atau oklusi ideal merupakan susunan gigi yang teratur dan sesuai dengan bentuk lengkung pengunyahan dan estetika yang baik. Maloklusi adalah susunan gigi yang tidak sesuai dengan lengkung rahang, kondisi ini umum terjadi pada anak-anak selama masa pergantian gigi susu ke gigi permanen, atau yang dikenal sebagai fase gigi campur. Hal ini disebabkan oleh tidak cukupnya ruang untuk erupsi gigi permanen dengan sempurna karena gigi sulung memiliki ukuran yang lebih kecil dari gigi permanen. Perawatan ortodonti dapat membantu mengatasi masalah maloklusi seperti crowding, open bite, deep bite, cross bite, over bite, under bite dan gigi yang mengalami erupsi abnormal. Perawatan ortodonti interseptif merupakan perawatan ortodonti yang dilakukan pada tahap awal pertumbuhan gigi dan rahang atau pada periode gigi campur. 2 Tujuan dari perawatan ortodonti interseptif pada periode gigi campur adalah untuk menangani maloklusi sejak dini, karena pada masa ini hubungan oklusi masih bersifat sementara, perawatan ini bertujuan mencegah terbentuknya maloklusi pada gigi permanen yang akan tumbuh. Indeks ortodonti adalah suatu instrumen yang digunakan untuk menilai tingkat keparahan maloklusi dan membantu menentukan rencana perawatan yang tepat untuk pasien. Indeks Kebutuhan Perawatan Ortodonti Interseptif (IKPO-I) adalah salah satu indeks yang digunakan oleh dokter gigi dan ortodontis di Indonesia. Indeks ini bersifat kuantitatif, terdiri dari 18 indikator yang digunakan untuk mendiagnosis maloklusi pada anak usia 8-11 tahun saat periode gigi campur. Indeks ini dikembangkan oleh Yusra dan telah digunakan untuk penelitian pada anak Sekolah Dasar di Denpasar BAHAN DAN METODE Alat dan bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah kaca mulut, senter, alat tulis, formulir IKPO-I, formulir IKPOI-OT, masker, sarung tangan, cairan disinfektan, tissue dan kertas. enelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional, pengumpulan sampel menggunakan metode consecutive sampling. Penelitian ini telah memperoleh ethical clearance dari Komisi Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti melalui surat 658A/S1/KEPK/FKG/11/2023. Journal of Indonesian Dental Association 2025 8. , 1-5 Widyanto & Yusra Penelitian dilaksanakan pada bulan November Desember 2023 dan pemeriksaan gigi anak dilaksanakan pada tanggal 11 Desember 2023 di SDN Jelambar Baru 07. Jakarta Barat. Sebelum dilakukan penelitian, peneliti memberikan informasi penelitian dan informed consent kepada orang tua murid. Lalu, dilakukan pelatihan pada dokter gigi dan asisten peneliti tentang cara pengisian IKPO-I. Selanjutnya dilaksanakan sosialisasi mengenai cara pengisian IKPOI-OT oleh dokter gigi kepada orang tua murid SDN Jelambar Baru 07 melalui video tutorial. Setelah sosialisasi diberikan post test yang terdiri dari 8 pertanyaan, diisi oleh orang tua murid untuk memastikan orang tua mengerti cara mengisi indeks dengan baik dan Indeks disebarkan via Google Form kepada orang tua dan diisi dengan lengkap. Pemeriksaan gigi anak usia 8-11 tahun murid SDN Jelambar Baru 07 dilakukan oleh dokter gigi dan penulis sebagai asisten yang bertugas untuk melakukan pencatatan hasil pemeriksaan. Setelah pengumpulan data dilakukan analisis data untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil IKPO-I dan IKPOI-OT. IKPO-I (Indeks Kebutuhan Perawatan Ortodonti Intersepti. merupakan indeks yang digunakan oleh dokter gigi dan spesialis ortodonti di Indonesia untuk mendeteksi maloklusi pada periode gigi campur anak usia 8-11 tahun. Pemeriksa mengisi formulir secara lengkap menggunakan penerangan yang cukup untuk mengevaluasi keadaan intra oral pasien menggunakan kaca mulut . Penilaian IKPO-I terdiri dari 18 indikator yang dinilai oleh dokter gigi (Gambar . Terdapat 3 kategori hasil IKPO-I. Grade 1 menandakan pasien tidak membutuhkan perawatan ortodonti. Grade 2 menandakan pasien membutuhkan perawatan ortodonti interseptif dan Grade 3 menandakan pasien membutuhkan perawatan ortodonti korektif. Indeks Kebutuhan Perawatan Ortodonti Interseptif oleh Orang Tua (IKPOI-OT) merupakan indeks yang digunakan oleh orang tua untuk mendeteksi dini maloklusi pada anak usia 8-11 tahun saat periode gigi Pemeriksa mengisi formulir menggunakan penerangan yang cukup untuk mengevaluasi keadaan intra oral anak. 5 Penilaian IKPOI-OT terdiri dari 9 indikator yang perlu diisi oleh orang tua (Gambar . Terdapat 2 kategori hasil pemeriksaan IKPOI-OT, skor 0 menandakan anak saat ini tidak membutuhkan perawatan ortodonti dan skor 1-9 menandakan anak membutuhkan konsultasi dengan dokter gigi atau ortodontis. Jika hasil menunjukan bahwa anak saat ini tidak membutuhkan perawatan ortodonti, orang tua hanya perlu menjaga kesehatan gigi dan mulut anak dengan baik dan membawa anak diperiksa ke dokter gigi rutin setiap 6 bulan sekali. Jika hasil menunjukan bahwa anak membutuhkan konsultasi dengan dokter gigi atau ortodontis, orang tua dapat segera membawa anaknya ke dokter gigi atau ortodontis untuk melakukan konsultasi. Hasil skor IKPO-I dan IKPOI-OT dilakukan analisa secara statistik. Hasil pemeriksaan IKPO-I Grade 2 dan 3, yaitu pasien membutuhkan perawatan ortodonti interseptif dan korektif akan dibandingkan dengan hasil pemeriksaan IKPOI-OT dengan skor 1-9, anak membutuhkan konsultasi dengan dokter gigi atau Sedangkan hasil skor IKPO-I grade 1, yaitu pasien tidak membutuhkan perawatan ortodonti akan dibandingkan dengan hasil pemeriksaan IKPOI-OT dengan skor 0, anak saat ini tidak membutuhkan perawatan ortodonti. Gambar 1. Formulir pemeriksaan IKPO-I. HASIL Hasil Pemeriksaan Menggunakan IKPO-I Tabel 1 memperlihatkan bahwa tidak terdapat anak dengan skor 0 - 5 yang mengindikasikan bahwa anak tidak membutuhkan perawatan ortodonti, terdapat 42 anak dengan skor 6 - 47 yang mengindikasikan bahwa anak membutuhkan perawatan ortodonti interseptif dan terdapat 42 anak dengan skor >47 yang mengindikasikan bahwa anak membutuhkan perawatan ortodonti korektif. Journal of Indonesian Dental Association 2025 8. , 1-5 Widyanto & Yusra dengan skor 0 yang mengindikasikan bahwa anak saat ini tidak membutuhkan perawatan ortodonti dan terdapat 55 anak dengan skor 1 - 9 yang mengindikasikan bahwa anak membutuhkan konsultasi dengan dokter gigi atau Tabel 2. Hasil post test orang tua Skor Benar semua Benar 5-7 pertanyaan Benar 1-4 pertanyaan Salah semua TOTAL Frekuensi Persentase 21,4 % 14,3 % 33,3 % Tabel 3. Hasil pemeriksaan menggunakan IKPOI-OT oleh orang tua murid Skor TOTAL Frekuensi Persentase 34,5 % 65,5 % Perbedaan Hasil Menggunakan IKPO-I dan IKPOIOT Data yang diperoleh dilakukan uji normalitas dengan Kolmogorov Smirnov, didapatkan data tidak berdistribusi normal sehingga dilanjutkan dengan uji perbedaan menggunakan Mann Whitney. Tabel 4 memperlihatkan hasil uji statistik menggunakan uji Mann Whitney. Pvalue yang diperoleh dari hasil uji Mann Whitney sebesar 0,000 lebih kecil dari . , yang menandakan terdapat perbedaan hasil pemeriksaan antara IKPOI-OT oleh orang tua dan IKPOI-I oleh dokter gigi. Tabel 4. Perbedaan hasil pemeriksaan menggunakan IKPOI-OT dan IKPO-I Mann-Whitney Mann Whitney U Wilcoxon W P-value Gambar 2. Formulir pemeriksaan IKPOI-OT. Tabel 1. Hasil pemeriksaan menggunakan IKPO-I oleh dokter gigi. Skor 6 - 47 >47 TOTAL Frekuensi Persentase Hasil Pemeriksaan 0,000 PEMBAHASAN Jumlah sampel penelitian ini adalah 84 anak dan 84 orang tua karena tidak semua orang tua setuju berpartisipasi dalam penelitian serta beberapa anak tidak hadir saat pemeriksaan dan beberapa anak sudah dalam periode gigi permanen sehingga tidak bisa diperiksa menggunakan IKPO-I dan IKPOI-OT. Dilakukan sosialisasi kepada orang tua murid untuk mengajarkan cara pengisian IKPOI-OT dengan benar dan diberikan post test untuk mengetahui tingkat pengetahuan orang tua setelah dilakukan sosialisasi. Hasil post test oleh orang tua masih kurang baik dengan persentase terbanyak sebesar 33,3% orang tua menjawab semua pertanyaan Hasil Post Test Orang Tua Tabel 2 memperlihatkan bahwa 26 orang tua menjawab semua pertanyaan post test dengan benar, 18 orang tua menjawab 5-7 pertanyaan dengan benar, 12 orang tua menjawab 1-4 pertanyaan dengan benar dan 28 orang tua menjawab semua pertanyaan salah. Hasil Pemeriksaan Menggunakan IKPOI-OT Tabel 3 memperlihatkan bahwa terdapat 29 anak Journal of Indonesian Dental Association 2025 8. , 1-5 Widyanto & Yusra Berdasarkan analisis, data di atas menunjukan bahwa terdapat perbedaan hasil pemeriksaan oleh orang tua dan dokter gigi, hanya 55 orang tua . ,5%) yang mendapat hasil bahwa anaknya membutuhkan konsultasi dengan dokter gigi atau ortodontis sedangkan hasil pemeriksaan dokter gigi menggunakan IKPO-I menunjukan bahwa semua anak . %) membutuhkan perawatan ortodonti, baik interseptif maupun korektif. Perbedaan tersebut bisa disebabkan oleh indikator IKPO-I dan IKPOI-OT berbeda sehingga hasil akhir indeks terdapat perbedaan. Pada IKPOI-OT terdapat indikator memeriksa kebiasaan buruk anak yang tidak terdapat di IKPO-I. Pada IKPO-I terdapat indikator yang memeriksa frenulum, karies dm2, kehilangan insisivus tetap, peg-shaped, kehilangan dini dm1, dm2 dan dc, pergerakan ke mesial M1, persistensi gigi anterior sulung, gigi supernumerary dan hubungan M1 yang tidak terdapat di IKPOI-OT. Hal tersebut kemungkinan dapat menyebabkan hasil IKPO-I lebih banyak anak yang membutuhkan perawatan ortodonti karena pemeriksaan lebih lengkap dan menyeluruh, meskipun demikian. IKPOI-OT dapat membantu deteksi dini maloklusi pada anak karena dapat digunakan oleh orang tua di rumah. Faktor lain yang dapat menyebabkan perbedaan hasil pemeriksaan orang tua dan dokter gigi adalah sosialisasi yang kurang efektif karena sosialisasi hanya dilakukan secara daring menggunakan Zoom dan hanya dilakukan satu kali. Hasil post test yang cukup rendah menandakan pengetahuan orang tua yang masih kurang mengenai maloklusi dan dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan IKPOI-OT. Salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan orang tua adalah dengan melakukan sosialisasi secara tatap muka serta memberi edukasi dan motivasi sejak dini khususnya mengenai maloklusi. Faktor sosial ekonomi memainkan peran penting dalam kepedulian orang tua terhadap kesehatan gigi Orang tua dengan latar belakang sosial ekonomi rendah cenderung memiliki keterbatasan dalam akses informasi, pendidikan, serta layanan kesehatan, termasuk kesehatan gigi dan mulut. hal ini menyebabkan rendahnya tingkat kesadaran dan pengetahuan orang tua mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi anak sejak Selain itu, kurangnya pemahaman tentang cara yang tepat untuk memeriksa adanya kelainan pertumbuhan gigi, seperti maloklusi, membuat orang tua tidak mampu mendeteksi masalah tersebut. Faktor psikologis juga berperan dalam rendahnya partisipasi orang tua dalam memperhatikan kondisi susunan gigi anak. Rasa malu atau enggan mengakui bahwa susunan gigi anaknya tidak baik dapat menjadi salah satu alasan hasil pemeriksaan IKPOI-OT tidak akurat dan sering kali menjadi penghambat bagi orang tua untuk mencari bantuan professional. IKPOI-OT yang diukur oleh orang tua pada anak usia 811 tahun . eriode gigi campu. murid SDN Jelambar Baru 07. Hasil pemeriksaan gigi anak oleh dokter gigi dengan IKPO-I menunjukkan bahwa semua anak membutuhkan perawatan ortodonti baik interseptif maupun korektif sedangkan hasil pemeriksaan gigi anak oleh orang tua dengan IKPOI-OT menunjukkan bahwa hanya 55 anak . ,5%) yang membutuhkan konsultasi dengan dokter gigi atau ortodontis. KESIMPULAN KONFLIK KEPENTINGAN Penulis menyatakan tidak terdapat kepentingan yang berkaitan dengan manuskrip ini. REFERENSI