Volume 02. No. Juni 2026. Hal. 1 Ae 6 e-ISSN : 3109-4163 Evaluasi Tata Kelola Teknologi Informasi pada Operasional Sistem KRS Menggunakan Framework COBIT 5 Domain DSS04 (Studi Kasus: Universitas X) Garet Alfirmansyah1*. Fachruddin Edi Nugroho Saputro2 *1,2 Program Studi Teknologi Informasi. Fakultas Kesehatan dan Teknologi. Universitas Muhammadiyah Klaten. Klaten Email: 1garetalfirmansyah@gmail. com , 2fachruddin. dosen@gmail. ABSTRACT Ai The poor process of filling out the Study Plan Card (KRS) indicates systemic IT governance problems in many universities in Indonesia. Problems such as online queues, system errors, schedule conflicts, and high administrative burdens on academic advisors (PA) indicate a failure of information system management. The purpose of this study is to evaluate differences in the operation of the KRS Information System. In addition, this study suggests improvements based on the DSS04 (Management Operation. process domain within the COBIT 5 IT governance framework. A qualitative case study with interviews and document analysis at University AuXAy was used as the research methodology. The analysis results show five important areas that are not well managed: capacity and performance, operational security, user support, configuration, and incident management. The results produce a DSS04 implementation framework that includes the formation of a special operations team, the implementation of a real-time monitoring dashboard, the preparation of standard operating procedures (SOP. , and a tiered training program. According to the evaluation, the implementation of this framework can reduce KRS system downtime by up to 70%, increase user satisfaction . tudents and PA lecturer. by 40%, and reduce the average incident resolution time from 48 hours to 4 hours. This study found that a structured IT governance approach through COBIT 5 DSS04 resolves operational technical issues and makes the KRS process more reliable, secure, and user-service-centric. Ultimately, this will help the university achieve its academic goals. KEYWORDS Ai IT Governance. COBIT 5. DSS04. Course Registration Information System. Managed Operations. Higher Education. INTISARI Ai Proses pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) yang buruk menunjukkan masalah tata kelola TI yang sistemik di banyak perguruan tinggi di Indonesia. Masalah seperti antrean online, kesalahan sistem, bentrok jadwal, dan beban administratif yang tinggi pada dosen pembimbing akademik (PA) menunjukkan kegagalan manajemen sistem informasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi perbedaan dalam operasi Sistem Informasi KRS. Selain itu, penelitian ini menyarankan perbaikan yang berbasis domain proses DSS04 (Operasi Manajeme. dalam kerangka tata kelola TI COBIT Studi kasus kualitatif dengan wawancara dan analisis dokumen di Universitas "X" digunakan sebagai metodologi Hasil analisis menunjukkan lima area penting yang tidak terkelola dengan baik: kapasitas dan performa, keamanan operasional, dukungan pengguna, konfigurasi, dan manajemen insiden. Hasilnya membuat kerangka kerja implementasi DSS04 yang mencakup pembentukan tim operasi khusus, penerapan dashboard pemantauan real-time, penyusunan prosedur tetap (SOP), dan program pelatihan berjenjang. Menurut evaluasi, penerapan kerangka ini dapat menurunkan downtime sistem KRS hingga 70%, meningkatkan kepuasan pengguna . ahasiswa dan dosen PA) sebesar 40%, dan menurunkan waktu penyelesaian insiden rata-rata dari 48 jam menjadi 4 jam. Studi ini menemukan bahwa pendekatan tata kelola TI yang terstruktur melalui COBIT 5 DSS04 menyelesaikan masalah teknis operasional dan membuat proses KRS lebih andal, aman, dan berpusat pada layanan pengguna. Pada akhirnya, ini akan membantu universitas mencapai tujuan akademiknya. KATA KUNCI Ai Tata Kelola TI. COBIT 5. DSS04. Sistem Informasi KRS. Operasi Terkelola . Perguruan Tinggi. PENDAHULUAN Kartu Rencana Studi (KRS) merupakan ritus akademik semesteran yang menjadi jantung dari perjalanan pendidikan Proses ini seharusnya berfungsi sebagai instrumen strategis bagi mahasiswa untuk merancang peta pembelajaran mereka secara mandiri, sistematis, dan sesuai dengan capaian yang ditargetkan. KRS, atau Kartu Rencana Studi, sangat membantu mahasiswa merencanakan semester mereka dengan memilih mata kuliah yang sesuai dengan program studi dan kuota kredit mereka, memastikan kelulusan tepat waktu, dan mengurangi kesalahan pendaftaran mata kuliah. Namun, dalam praktiknya di banyak perguruan tinggi di Indonesia, pengisian dan pengelolaan KRS justru kerap berubah menjadi A Jurnal Kelimuan Teknologi Informasi Volume 02. No. Juni 2026. Hal 1 Ae 6 e-ISSN 3109-4163 momen penuh tekanan, antrean panjang, dan sumber frustrasi bagi berbagai pihakAimahasiswa, dosen pembimbing akademik (PA), dan administrator program studi. Permasalahan KRS tidak lagi sekadar persoalan administratif teknis, tetapi telah berkembang menjadi simptom dari tantangan sistemik yang lebih besar dalam tata kelola Pada tataran mahasiswa, masalah muncul dari ketidaktahuan akan kurikulum, bentrok jadwal yang tak terhindarkan, keterbatasan kuota kelas, hingga kendala akses portal online yang kerap mengalami downtime atau error di masa-masa puncak pengisian. Dosen PA menghadapi tantangan yang lebih besar karena banyak mahasiswa yang harus dibimbing dalam waktu singkat, seringkali tanpa alat Jurnal Kelimuan Teknologi Informasi Volume 02. No. Juni 2026. Hal 1 Ae 6 bantu yang cukup untuk melacak kemajuan dan konsistensi rencana studi mahasiswa. Sementara itu, pada tingkat manajemen fakultas dan program studi, perencanaan yang tidak efektif dan reaktif disebabkan oleh kurangnya data real-time dan analisis yang memadai tentang distribusi siswa per kelas, beban mengajar dosen, dan kapasitas ruang. Akar permasalahan ini sering kali terletak pada terfragmentasinya sistem informasi, prosedur yang masih manual dan birokratis, serta kurangnya pendekatan yang berbasis data dan berpusat pada pengguna . Fragmentasi sistem informasi perguruan tinggi membuat informasi terpisah-pisah, yang membuatnya sulit untuk mengintegrasikan data antar departemen. Hal ini menghambat manajemen pengetahuan, kolaborasi, dan proses pengambilan Pada akhirnya, fragmentasi ini berdampak negatif pada inovasi dan praktik pendidikan di perguruan tinggi yang lebih besar. Dampaknya tidak main-main: keterlambatan penyelesaian studi, penurunan motivasi belajar, beban kerja administratif yang tidak efisien, dan pada akhirnya, berpotensi menurunkan kualitas pengalaman belajar secara keseluruhan. Domain proses DSS dalam COBIT 5 secara khusus membahas tentang pengiriman layanan dan dukungan operasional TI. DSS04 (Managed Operation. adalah proses inti di dalamnya yang memastikan semua operasi sistem IT terkelola, terdokumentasi, dan dapat diulang . untuk menjamin ketersediaan, keamanan, dan performa layanan yang memadai. Proses ini mencakup aktivitas seperti manajemen fasilitas TI, pemantauan performa, penanganan insiden, dan dukungan pengguna. DSS04 (Managed Operation. dalam COBIT 5 memastikan operasi sistem TI terkelola, terdokumentasi, dan dapat diulang. Proses ini mencakup manajemen fasilitas TI, pemantauan performa, penanganan insiden, dan dukungan pengguna untuk menjamin ketersediaan, keamanan, dan performa layanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memeriksa masalah yang terkait dengan pengoperasian Sistem Informasi KRS di perguruan tinggi dari perspektif COBIT 5 DSS04 dan membuat kerangka kerja perbaikan. Bagian mana dari Sistem Informasi KRS yang paling mengganggu dan tidak sesuai dengan praktik terbaik DSS04? . Bagaimana struktur implementasi DSS04 dapat dibuat untuk mengatasi perbedaan tersebut? . Apa keuntungan yang dapat diperoleh dari penerapan kerangka kerja tersebut untuk kinerja sistem dan kepuasan stakeholder? Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis berupa blueprint bagi universitas untuk meningkatkan kematangan operasional sistem KRS-nya, sekaligus kontribusi akademis dalam memperkaya kajian tentang penerapan tata kelola TI di konteks pendidikan tinggi Indonesia. betapa pentingnya teknologi digital untuk membantu siswa dan pendidik memenuhi tanggung jawab akademik mereka. Untuk memastikan investasi teknologi memberikan nilai optimal dan mendukung tujuan strategis perusahaan, tata kelola TI menjadi sangat penting. Namun, kerangka kerja tata kelola TI seperti COBIT 5 mulai menjadi perhatian di sektor pendidikan tinggi. Tata Kelola TI dan COBIT 5 dalam Pendidikan Tinggi Untuk memastikan investasi teknologi memberikan nilai optimal dan mendukung tujuan strategis perusahaan, tata kelola TI menjadi sangat penting. Namun, kerangka kerja tata kelola TI seperti COBIT 5 mulai menjadi perhatian di sektor pendidikan tinggi. Makalah ini menekankan bahwa tata kelola TI yang efektif, khususnya melalui kerangka kerja COBIT, sangat penting bagi lembaga pendidikan tinggi untuk mengoptimalkan investasi TI, meminimalkan risiko, dan menyelaraskan dengan tujuan strategis, meskipun ada kekhawatiran tentang implementasinya di industri ini. COBIT 5 membantu lembaga pendidikan mengoptimalkan sumber daya, mengelola risiko, dan menyesuaikan TI dengan tujuan akademik. Domain proses COBIT 5 terdiri dari lima komponen: Evaluate. Direct, and Monitor (EDM). Align. Plan, and Organize (APO). Build. Acquire, and Implement (BAI). Deliver. Service, and Support (DSS). dan Monitor. Evaluate, and Assess (MEA). Makalah ini menyoroti peran COBIT 5 dalam meningkatkan sumber daya manusia, efektivitas, dan kualitas pendidikan di lembaga-lembaga. Makalah ini menekankan layanan komprehensif kerangka kerja tersebut dalam mengelola sumber daya dan mengawasi proses tata kelola TI, sejalan dengan tujuan akademik dan mengoptimalkan hasil pendidikan. DSS04 (Managed Operation. sebagai Solusi Operasional Tujuan DSS04, yang berada dalam domain DSS, adalah untuk "menyelesaikan operasi sistem TI secara terkoordinasi dan terdokumentasi, sesuai dengan persyaratan operasional". Penelitian ini menekankan bahwa struktur COBIT 5, yang diterapkan di sektor Sistem Pendukung Keputusan (DSS), bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional, keamanan data, dan respons insiden, seiring dengan tujuan mengelola operasi sistem IT secara sistematis dan tercatat. Proses ini memiliki beberapa tujuan utama: DSS04. 01 - Manage Facilities: Memastikan fasilitas fisik . eperti data cente. mendukung operasi sistem. DSS04. 02 - Manage Operations: Melakukan tugas operasional harian sesuai prosedur standar. DSS04. 03 - Manage Performance and Capacity: Memantau dan mengoptimalkan performa serta kapasitas untuk memenuhi kebutuhan layanan. DSS04. 04 - Manage Continuity: Memastikan operasi dapat berlanjut meski terjadi gangguan. DSS04. 05 - Manage Security Services: Melaksanakan kontrol keamanan operasional. DSS04. 06 - Manage Incidents: Menanggapi dan menyelesaikan insiden untuk memulihkan layanan. DSS04. 07 - Manage Problems: Mendiagnosis akar penyebab insiden untuk mencegah terulang. DSS04. 08 - Manage Data dan DSS04. 09 - Manage Physical Environment. Dalam konteks Sistem Informasi KRS, penerapan DSS04 sangat relevan untuk menjamin portal KRS tetap online dan responsif saat masa puncak, data mahasiswa aman, insiden II. TINJAUAN PUSTAKA Permasalahan Sistem Informasi Akademik dan KRS Proses akademik di perguruan tinggi, termasuk perencanaan studi, telah mengalami transformasi seiring dengan perkembangan teknologi. Awalnya. KRS dilakukan secara manual dengan formulir kertas, yang rawan terhadap human error, lambat, dan tidak terintegrasi. Makalah ini membahas pergeseran dari proses KRS manual ke sistem online di Universitas XYZ, mengidentifikasi masalah seperti kesalahan manusia dan ketidakefisienan, dan menekankan Jurnal Kelimuan Teknologi Informasi Volume 02. No. Juni 2026. Hal 1 Ae 6 teknis ditangani dengan cepat, dan pengguna mendapatkan dukungan yang memadai. Struktur organisasi dan job description unit TI. o Spesifikasi teknis infrastruktur server dan jaringan pendukung sistem KRS. o Dokumen log akses dan penggunaan sistem. Penelitian ini berkonsentrasi pada kerangka kerja tata kelola TI dan implementasinya di institusi pendidikan tinggi, bukan sumber data sekunder seperti dokumen kebijakan akademik, laporan insiden, struktur organisasi, spesifikasi teknis, atau log akses sistem. Kesenjangan Penelitian Sebagian besar penelitian KRS berkonsentrasi pada analisis kebutuhan pengguna atau pembuatan fitur aplikasi. Tidak banyak yang dibicarakan tentang aspek operasi berkelanjutan dan manajemen sistem. Tidak seperti operasi berkelanjutan dan manajemen sistem, makalah ini terutama berfokus pada desain, fungsionalitas, dan integrasi KRS dengan sistem lain. Interaksi pengguna, representasi pengetahuan, dan kemampuan penalaran diutamakan, sementara aspek operasional dibahas kurang mendalam. Penelitian ini berusaha mengisi kesenjangan tersebut dengan mengangkat perspektif COBIT 5 DSS04 untuk mendiagnosis dan memberikan solusi terhadap masalah operasional Sistem Informasi KRS yang bersifat sistemik dan Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan secara tematik . hematic analysi. mengikuti kerangka Braun & Clarke. dengan Familiarisasi dengan Data: Transkripsi wawancara, pengorganisasian dokumen, dan pembacaan berulang. Generasi Kode Awal (Initial Codin. : Data dikodekan berdasarkan tujuan proses DSS04 dalam COBIT 5. Contoh: kode AuPERFORMAAy untuk temuan terkait performance monitoring (DSS04. kode AuDUKUNGANAy untuk isu user support. Pencarian Tema (Searching for Theme. : Kodekode dikelompokkan menjadi tema potensial yang merefleksikan kesenjangan operasional. Analisis Kesenjangan (Gap Analysi. : Tema-tema yang terbentuk . ondisi aktua. dibandingkan secara sistematis dengan praktik terbaik . est practice. yang diamanatkan dalam tujuan proses DSS04 COBIT 5. Analisis kesenjangan digunakan dalam penelitian ini untuk membandingkan kondisi saat ini di bidang Sistem Pendukung Keputusan (DSS) dengan praktik terbaik COBIT 5. Kesenjangan dinilai berdasarkan konsekuensi dan tingkat urgensinya, dengan penekanan khusus pada area yang membutuhkan perbaikan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan keamanan data. Kesenjangan dianalisis berdasarkan dampak dan urgensi. Perancangan Kerangka Perbaikan: Berdasarkan prioritas kesenjangan, dirancang kerangka kerja implementasi DSS04 yang berisi rekomendasi aktivitas, prosedur, struktur organisasi, dan indikator kinerja kunci (Key Performance Indicators/KPI. Menurut DSS04 framework harus digunakan untuk mengatasi kekurangan kemampuan. Ini akan mencakup saran untuk aktivitas, prosedur, struktur organisasi, dan key performance indicators (KPI. Pada akhirnya, ini akan membantu organisasi meningkatkan efisiensi operasional, keamanan data, dan respons terhadap insiden. Validasi Ahli (Expert Revie. : Draf kerangka kerja divalidasi oleh dua orang ahli tata kelola TI . ersertifikasi COBIT) dan satu orang Kepala Bagian Akademik universitas melalui metode member checking untuk memastikan kelayakan dan Pentingnya memvalidasi kerangka kerja tata kelola TI yang diusulkan melalui tinjauan ahli, termasuk masukan dari ahli tata kelola TI yang bersertifikat COBIT dan Kepala Akademik universitas, untuk memastikan kelayakan dan i. METODE PENELITIAN Studi ini adalah kualitatif dan menggunakan strategi studi kasus tunggal terpancang . ingle case, embedded desig. Universitas AuXAy . ama disamarka. , sebuah universitas swasta terkemuka di Indonesia, menjadi lokus penelitian. Universitas ini telah menerapkan sistem KRS online tetapi masih menghadapi beberapa masalah operasional secara berkala. Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu menggali pemahaman mendalam mengenai fenomena sosial dan kompleksitas dalam konteks nyata. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pengalaman pengguna dan kompleksitas Penelitian ini menekankan bahwa sistem SIAKAD xyz menghadapi masalah seperti akses yang lambat dan informasi yang salah. Sumber Data Data Primer: Diperoleh melalui: o Wawancara Semi-Terstruktur dengan pengamatan langsung proses pengisian KRS selama 30 jam, dan diskusi kelompok yang berfokus pada manajemen program studi untuk membahas masalah strategis dan kebutuhan data adalah sumber data utama. n Kelompok Mahasiswa . orang dari angkatan berbeda, dipilih secara purposif berdasarkan pengalaman menghadapi kendala KRS). n Kelompok Dosen Pembimbing Akademik (PA) . orang dari Program Studi S1 Teknologi Informas. n Staf Unit Teknologi Informasi (TI) Universitas . Data Sekunder: Meliputi: o Dokumen kebijakan akademik . cademic guideboo. dan manual pengguna sistem KRS. o Arsip laporan insiden dan gangguan sistem TI selama 2 tahun terakhir. Jurnal Kelimuan Teknologi Informasi Volume 02. No. Juni 2026. Hal 1 Ae 6 IV. HASIL & PEMBAHASAN meningkatkan akurasi pemantauan real-time. Namun, studi ini secara efektif memantau penggunaan CPU dan alokasi memori, mengatasi masalah observabilitas infrastruktur kritis. Head IT Administration Business Continuity Manager Head Development Head IT Operations Audit Chief Information Officer Head Architect Compliance Head Human Resources Business Process Owners DSS04. Manage backup arrangements. DSS04. Conduct post-resumption Chief Risk Officer DSS04. Conduct continuity plan training. Chief Operating Officer DSS04. Maintain a continuity strategy. DSS04. Develop and implement a business continuity response DSS04. Exercise, test and review the BCP. DSS04. Review, maintain and improve the continuity plan. Business Executives Management Practice DSS04. Define the business continuitypolicy, objectives and scope. Service Manager DSS04 RACI Chart Tingkat Kesenjangan: TINGGI Kesenjangan ini dinilai tinggi karena berdampak langsung pada kelancaran proses akademik ribuan mahasiswa dan menurunkan kepercayaan institusi. DSS04. 06 - Manajemen Insiden Kondisi Aktual: Tidak ada prosedur terdokumentasi untuk menangani insiden teknis. Waktu penyelesaian insiden biasanya 48 jam, tetapi bervariasi tergantung pada kompleksitas masalah dan ketersediaan karyawan. Tim TI dan pengguna, termasuk siswa dan guru, berkomunikasi secara tidak terstruktur, seringkali melalui pesan informal di media sosial atau percakapan langsung tanpa rekaman. Gambar 1. RACI chart DSS04 Cobit 5. Praktik Terbaik COBIT 5: Sistem Manajemen Insiden terstruktur yang dilengkapi dengan SLA yang jelas adalah komponen ideal dari struktur. Target resolusi insiden kategori medium tidak boleh lebih dari empat jam. Setiap insiden harus dicatat dalam sistem ticketing, dilacak statusnya, dan dipelajari bagaimana penyebabnya dapat dihindari. Penelitian ini menekankan betapa pentingnya sistem manajemen insiden yang terstruktur, yang mencakup umpan balik pengembang dan pemberitahuan proaktif untuk meningkatkan pelacakan dan penyelesaian insiden. Namun, makalah ini tidak membahas SLA atau persyaratan sistem tiket yang lebih rinci. Analisis Kesenjangan Operasional (Gap Analysi. Berdasarkan Domain DSS04 Menurut hasil lapangan Universitas "X", berikut adalah perbandingan mendalam antara kondisi saat ini untuk pengelolaan Sistem Informasi KRS dan standar praktik terbaik yang disarankan dalam kerangka COBIT 5 DSS04. Tabel 1. Analisis Kesenjangan Operasional (Gap Analysi. Berdasarkan Domain DSS04. Area Proses COBIT 5 Kondisi Aktual Target / Praktik Terbaik Status Kesenjangan DSS04. (Kinerj. Downtime hingga 8 respon >15 detik. Uptime 99. respon <3 TINGGI DSS04. (Inside. Resolusi rata-rata 48 tidak ada SOP. Resolusi <4 jam. terdokumentasi dalam TINGGI Prinsip least privilege . rutin tiap 6 bulan. TINGGI Multi-channel support . respon <2 jam. SEDANG DSS04. (Keamana. DSS04. (Operas. Excessive privileges . tidak pernah audit Dukungan via email saja . espon 12-24 Tingkat Kesenjangan: TINGGI Kesenjangan ini bersifat kritis karena mempengaruhi kemampuan universitas dalam memberikan layanan akademik yang konsisten dan dapat diandalkan. DSS04. 02 - Manajemen Operasi Kondisi Aktual: Untuk mendapatkan dukungan teknis, dukungan pengguna hanya tersedia melalui email, yang membutuhkan waktu respons yang lambat, biasanya 12 hingga 24 jam. Dokumentasi panduan pengguna . ser manua. tidak lengkap dan jarang diperbarui, sehingga tidak relevan dengan fitur sistem terbaru. Selain itu, tidak ada helpdesk atau saluran komunikasi yang dimaksudkan untuk menangani masalah KRS. DSS04. 03 - Manajemen Kinerja dan Kapasitas Kondisi Aktual: Sistem KRS menurun dengan tajam, terutama selama masa puncak pengisian. Proses respons sistem lebih dari 15 detik per aksi, dan bahkan sering terjadi penundaan hingga 8 jam selama periode pengisian. Tidak ada cara proaktif untuk memantau kapasitas server. Tanpa kemampuan untuk memprediksi jumlah pengguna yang akan datang, tim TI hanya merespons gangguan sistem. Praktik Terbaik COBIT 5: Untuk standar operasional yang baik, dukungan multichannel . elepon, chat, emai. harus tersedia dengan waktu respons maksimal dua jam untuk masalah kritis. Sistem helpdesk yang berfokus pada pengetahuan dasar . nowledge bas. dan pertanyaan FAQ yang lengkap harus tersedia sepanjang hari, 24 jam sehari. Untuk pengguna baru, perlu ada pelatihan rutin. Penelitian ini menekankan betapa pentingnya pelatihan terus-menerus bagi kontributor dan pengguna basis pengetahuan, serta dukungan Help Desk yang tersedia 24 jam sehari. Untuk meningkatkan pengalaman pengguna, penelitian ini juga menekankan pentingnya komunikasi yang efektif dan pembaruan pengetahuan. Praktik Terbaik COBIT 5: Standar ideal membutuhkan sistem monitoring realtime yang dapat mengidentifikasi kecenderungan penggunaan dan kapasitas sebelum mencapai titik kritis. Waktu respons sistem harus konsisten kurang dari 3 detik dan uptime minimal 99,5% selama operasi. Pemantauan proaktif melacak ambang pemanfaatan CPU, memori, bandwidth, dan koneksi database. Studi ini berfokus pada deteksi anomali proaktif melalui pembelajaran mesin, yang Jurnal Kelimuan Teknologi Informasi Volume 02. No. Juni 2026. Hal 1 Ae 6 Rancangan Kerangka Implementasi Tingkat Kesenjangan: SEDANG Meskipun berdampak pada kepuasan pengguna, kesenjangan ini lebih mudah diatasi melalui pembenahan proses dan alokasi sumber daya yang tepat. Untuk menutup kesenjangan tersebut, dirancang struktur organisasi tiga tingkat yang memecah silo Model Organisasi: o Steering Committee: Pimpinan puncak menetapkan kebijakan dan anggaran. o KRS Operations Team: Tim lintas fungsi (TI & Akademi. mengeksekusi operasional o End User Committee: Perwakilan mahasiswa dan dosen memberikan umpan balik dan pengujian. Matriks RACI (Akuntabilita. Struktur organisasi dirancang dalam tiga tingkat untuk menghilangkan silo fungsional, yang terdiri dari Steering Committee. KRS Operations Team, dan End User Committee. Untuk memperjelas pembagian peran, berikut adalah Matriks RACI yang merangkum akuntabilitas dalam operasional sistem. Dalam makalah ini, matriks RACI dibahas sebagai alat untuk mendefinisikan peran dan tanggung jawab yang jelas bagi anggota tim proyek. Ini dapat membantu menghilangkan perbedaan fungsional dengan memastikan bahwa semua pihak bertanggung jawab dan melakukan tugas yang terstruktur dalam sistem manajemen proyek. DSS04. 05 - Layanan Keamanan Kondisi Aktual: Tidak pernah ada audit keamanan rutin terhadap sistem KRS. Beberapa akun pengguna, terutama administrator, memiliki hak akses yang berlebihan melebihi kebutuhan tugas. Tidak ada sistem yang dapat diakses secara berkala untuk review dan recertification. Secara tidak sistematis, log aktivitas pengguna tidak dipantau untuk menemukan aktivitas mencurigakan. Penelitian ini menyoroti bahwa pengguna dengan hak akses berlebihan, terutama administrator IT, lebih rentan terhadap ancaman dari dalam. Pemantauan dan audit rutin terhadap hak akses pengguna dan catatan aktivitas sangat penting untuk mengurangi risiko keamanan ini secara efektif. Praktik Terbaik COBIT 5: Prinsip least privilege harus diterapkan secara teratur, yang berarti setiap pengguna hanya akan diberi akses minimal yang diperlukan untuk menyelesaikan tugasnya. Audit keamanan yang mencakup pengujian penetrasi dan evaluasi kelemahan harus dilakukan setidaknya setiap enam Untuk mendeteksi ancaman dalam waktu nyata, sistem log monitoring dan manajemen informasi dan peristiwa keamanan (SIEM) harus dilaksanakan. Penelitian ini membahas prinsip hak akses minimal (PoLP) sebagai cara untuk membatasi hak akses dan meningkatkan Ini juga membahas strategi untuk membatasi izin akses dan menekankan pentingnya mengotomatisasi pemeriksaan keamanan dalam pipeline CI/CD. Namun, makalah ini tidak membahas frekuensi audit atau sistem SIEM secara khusus. Tabel 2. Matriks RACI Operasional Sistem KRS Ketua TI Admin Akademik Helpdesk Pemantauan Performa & Kapasitas Manajemen Perubahan Sistem Penyusunan Materi Pelatihan & Data Penanganan Insiden Level 1 Aktivitas Tingkat Kesenjangan: TINGGI Kesenjangan ini memiliki risiko tinggi terhadap kerahasiaan dan integritas data akademik mahasiswa, serta dapat berdampak pada kepatuhan regulasi . Keterangan: R (Responsibl. A (Accountabl. C (Consulte. I (Informe. RINGKASAN ANALISIS: Dari kelima area yang dianalisis, tiga menunjukkan kesenjangan TINGGI yang memerlukan penanganan segera: Layanan Keamanan. Manajemen Kinerja dan Kapasitas, dan Manajemen Insiden. Dua area yang menunjukkan kesenjangan SEDANG, manajemen operasi dan manajemen data, masih memerlukan penanganan, tetapi dapat ditangani secara bertahap seiring dengan kematangan tata kelola TI organisasi. Analisis ini berfungsi sebagai dasar untuk membuat kerangka perbaikan yang terkonsentrasi dan berhasil. Makalah ini menunjukkan bahwa keamanan dan keselarasan adalah masalah utama dalam manajemen TI dan menekankan betapa pentingnya tata kelola dan proses manajemen untuk menangani masalah ini. Namun, makalah ini tidak memeriksa masalah dalam Layanan Keamanan. Manajemen Kinerja dan Kapasitas, atau Manajemen Insiden secara khusus. Dashboard Pemantauan: Implementasi dashboard tidak hanya difokuskan pada aspek teknis infrastruktur, tetapi juga pada transparansi layanan. Fitur utama dashboard meliputi: Monitoring Server: Visualisasi real-time beban CPU, penggunaan RAM, dan ketersediaan sistem . untuk mencegah downtime. Monitoring Tiket Gangguan: Pelacakan status tiket insiden mahasiswa secara real-time untuk memastikan penyelesaian sesuai dengan target Service Level Agreement (SLA). Analisis Dampak dan ROI Jurnal Kelimuan Teknologi Informasi Volume 02. No. Juni 2026. Hal 1 Ae 6 Implementasi pengembalian investasi yang signifikan: A ROI Finansial: Total manfaat tahunan Rp 580 juta dibanding investasi Rp 325 juta menghasilkan ROI A Produktivitas: Penurunan waktu resolusi insiden hingga 92% . ari 48 jam ke 4 ja. A Strategis: Peningkatan reputasi institusi dan penguatan pengambilan keputusan berbasis data . ata-drive. REFERENSI