Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 Faktor yang Mempengaruhi pemberian MP ASI Terlalu Dini di Puskesmas Majauleng Kabupaten Wajo Factors Affecting the Giving of MP ASI Too Early at the Majauleng Health Center. Wajo Regency 1,2,3 Elis1. Riswan2*. Hartina Bahar3 Program Studi D4 Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia Timur Makassar (*)Email Korespondensi: riswanhartawansanusi85@gmail. Abstrak Latar Belakang makanan pendamping ASI (MP-ASI) dini adalah makanan atau minuman yang diberikan kepada bayi berusia 6 bulan. Proses transisi dari asupan yang berbasis susu menuju ke makanan yang semi padat. Masalah yang sering yang dihadapi di negara berkembang separti indonesia masih banyak ibu yang memberikan makanan pendamping ASI pada bayinya yang berusia 0-6 bulan. Hal ini terjadi karena ibu beranggapan bahwa Asi mereka tidak cukup untuk bayinya dan meragukan kualitas dari ASI. Terlambatnya ibu dalam memberikan ASI, teknik pemberian ASI yang salah. Kebiasaan yang keliru dalam memberikan tambahan cairan kepada bayi, kurangnya dukungan dari peran petugas kesehatan, serta dipengaruhi juga oleh pendidikan dan pekerjaan ibu. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pemberian MP-ASI terlalu dini. Metode pada penelitian ini adalah Survey Analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Wajo pada bulan November s. d Desember 2021. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki bayi 0-6 bulan sebanyak 210 bayi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kurangnya produksi ASI dengan nilai p sebesar 0,000 dimana nilai p < 0,05 dengan pemberian MP-ASI dini, dan tidak terdapat hubungan antara sosial budaya dengan nilai A sebesar 0,217 dimana nilai A > 0,05 dengan pemberian MP-ASI dini dan tidak terdapat hubungan pula peran petugas kesehatan dengan nilai A sebesar 0,505 dimana nilai A > 0,05 terhadap pemberian MP-ASI dini di Puskesmas Majauleng Kabupaten Wajo. Kesimpulannya adalah terdapat hubungan antara kurangnya produksi MP-ASI dini dan tidak terdapat hubungan antara sosial budaya dan peran petugas kesehatan terhadap pemberian MP-ASI dini di puskesmas majauleng kabupaten wajo. Kata Kunci: Bayi. Kurangnya Produksi ASI. MP-ASI Dini. Peran Petugas Kesehatan. Sosial Budaya Abstrack Background Early complementary food (MP-ASI) is food or drink given to babies aged 6 months. The process of transitioning from milk-based intake to semi-solid foods. The problem that is often faced in developing countries like Indonesia is that there are still many mothers who provide complementary food to their babies aged 0-6 months. This happens because mothers think that their breast milk is not enough for their babies and doubt the quality of breast milk, mothers are late in giving breast milk, wrong breastfeeding techniques, wrong habits in giving additional fluids to babies, lack of support from the role of health workers, and influenced also by mother's education and occupation. The purpose of this study was to find out the factors that influence giving complementary breastfeeding too early. The method in this study is an analytical survey with a cross sectional approach. This research was conducted in Wajo Regency from November to December 2021. The population in this study were all mothers who had babies 0-6 months, totaling 210 The results showed that there was a relationship between the lack of breast milk production with a p value of 000 where the p value <0. 05 with early complementary breastfeeding, and there was no socio-cultural relationship with a A value of 0. 217 where the A value > 0. 05 with breastfeeding Early MP-ASI and there is no relationship between the role of health workers with a A value of 0. 505 where the A value > 0. 05 for early MP-ASI administration at the Majauleng Health Center. Wajo Regency. The conclusion is that there is a relationship between the lack of early MP-ASI production and there is no relationship between socio-culture and the role of health workers in providing early MP-ASI at the Majauleng Health Center. Wajo District. Keywords: Babies. Lack of Milk Production. Early MP-ASI. Role of Health Workers. Socio-Cultural . P age Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 PENDAHULUAN MP-ASI adalah makanan atau minuman yang diberikan secara beragam pada bayi selain ASI. Ada dua jenis, yaitu MP-ASI di rumah . dan MP-ASI siap saji . , jumlah MP-ASI harus mencukupi dengan kualitas gizi yang baik dan seimbang(Yosephin, 2. Makanan pendamping ASI (MP-ASI) merupakan proses transisi dari asupan yang berbasis susu menuju ke makanan yang semi padat. Pengenalan dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi/anak. Air susu Ibu (ASI) hanya memenuhi kebutuhan gizi bayi sebanyak 60% pada bayi usia 6-12 bulan. Sisanya harus dipenuhi dengan makanan lain yang cukup jumlahnya dan baik gizinya. Oleh karena itu pada usia 6 bulan ke atas bayi membutuhkan tambahan gizi yang berasal dari MP-ASI (Mufida, dkk. Pada umur 0-6 bulan bayi pertama dilahirkan. ASI merupakan makanan yang terbaik bagi bayi, namun setelah usia tersebut bayi mulai membutuhkan makanan tambahan selain ASI yang di sebut makanan pendamping ASI. Makanan pendamping ASI mempunyai tujuan memberikan zat gizi yang cukup bagi kebutuhan bayi atau balita guna pertumbuhan dan pergembangan fisik dan psikomotorik yang optimal, selain itu juga mendidik bayi supaya memiliki kebiasaan makan yang baik. Tujuan tersebut dapat tercapai dengan baik jika dalam pemberian MP-ASI sesuai bertambahan umur, kualitas dan kuantitas makanan baik serta jenis makanan yang beraneka ragam (Mufida et al. , 2. Pemberian MP-ASI dengan tepat dan benar akan mendukung tumbuh kembang bayi baik kognitif, psikomotorik dan menumbuhkan kebiasaan makan yang baik(Tristanti, 2. Pemberian MP-ASI dini mempengaruhi tingkat kecerdasan anak setelah usia dewasa dan memicu terjadinya penyakit obesitas, hipertensi dan penyakit jantung coroner (Nababan, dkk. Masalah yang sering yang dihadapi di negara berkembang separti indonesia masih banyak ibu yang memberikan makanan pendamping ASI pada bayinya yang berusia 0-6 bulan. Pemberian MP-ASI terlalu dini memiliki dampak resiko sangat tinggi, yaitu gastroentritis yang sangat berbahaya bagi bayi dan dapat mengurangi produksi ASI karena bayi kurang menyusui (Afriyani, dkk. Menurut hasil pencatatan di Puskesmas Majauleng tahun 2019 tampak pada cakupan pemberian ASI Ekslusifbayi usia <6 bula jumlah bayi sebanyak 213 bayi dan yang diberi ASI Eksklusif 152 bayi atau 71,4%. Pada tahun 2020 jumlah 291 bayi dan yang diberi ASI Eksklusif 222 bayi atau 76,3%. Sehingga masih terdapat bayi usia<6 tidak mendapatkan ASI secara Eksklusif (Profil Puskesmas Majauleng, 2. Dari data tersebut terlihat bahwa terjadi kenaikan dari tahun 2019 s/d 2020 sebanyak 5,9% akan tetapi dari kenaikan tersebut belum mencukupi target dari sasaran Puskesmas Majauleng yakni sebanyak 95%. Bedasarkan permasalahan yang telah dipaparkan dalam latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini. Adapun tujuan umum untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pemberian MP ASI terlalu dini di Puskesmas majauleng Kabupaten Wajo. Sedangakan tujuan khusus untuk . Mengetahui faktor KurangnyaProduksi ASI terhadap pemberian MP ASI terlalu dini. Untuk Mengetahui faktor Sosial Budaya terhadap pemberian MP ASI terlalu dini. Untuk Mengetahui faktor Peran Petugas Kesehatan terhadap pemberian MP ASI terlalu dini. METODE Penelitian ini dilaksanakan di puskesmas Majauleng Kabupaten Wajodan. Desain penelitian adalah penelitian Survey Analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan Non Probability Sampling yaitu dengan Teknik Purposive Sampling. Populasi adalah semua ibu yang memiliki bayi 0-6 bulan di puskesmas majauleng kabupaten wajo sebanyak 210 bayi. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi 0-6 bulan di Puskesmas Majauleng kabupaten Wajo, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang dihitung menggunakan rumus Lameshow. HASIL Analisis Univariat Tabel 1. Distribusi Frekuensi di Puskesmas Majauleng Kabupaten Wajo Persentasi Pilihan Frekuensi Pemberian MP Asi Tidak Total . P age Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Kurangnya Produksi ASI Sosial Budaya Peran Petugas Kurang Cukup Total Tidak Total Aktif Tidak Aktif Total Sumber: Data Primer, 2021 Berdasarkan data tabel di atas untuk pemberian MP ASI terlalu dini di Puskesmas Majauleng menunjukkan bahwa mayoritas termasuk pada kategori ya sebanyak 32 responden . ,4%) diikuti oleh kategori tidak sebanyak 21 responden . ,6%), sehingga dapat dikatakan bahwa responden yang memberikan MP ASI dini lebih banyak dari yang memberikan sesuai waktunya. Sedangkan pada table Kurangnya Produksi ASI menunjukkan bahwa ibu yang memiliki produksi ASI kurang sebanyak 22 responden . ,5%) diikuti oleh ribu yang memiliki produksi ASI cukup sebanyak 31 responden . ,5%), sehingga dapat dikatakan bahwa responden yang memiliki produksi ASI kurang lebih sedikit dari pada responden yang memiliki produksi ASI Table Sosial Budaya mayoritas termasuk pada kategori tidak yaitu sebanyak 27 responden . ,9%) diikuti oleh kategori tidak sebanyak 26 responden . ,1%) sehingga dapat dikatakan bahwa responden yang menganut sosail budaya lebih banyak dari pada responden yang tidak menganut social budaya tertentu. Dan untuk table peran petugas menunjukkan bahwa peran petugas kesehatan mayoritas termasuk pada kategori aktif sebanyak 39 responden . ,6%) diikuti oleh kategori tidak aktif sebanyak 14 responden . ,40%) sehingga dapat dikatakan bahwa petugas yang aktifmemberikan informasi tentang kekurangan dari MP ASI terlalu dini lebih banyak dari pada kategori peran petugas tidak aktif. Analisis Bivariat Tabel 2. Pengaruh Terhadap MP ASI terlalu dini di Puskesmas Majauleng Kabupaten Wajo Pengaruh Total Tidak Kurangnya Produksi Kurang ASI 0,000 Cukup Total Sosial Budaya 0,217 Tidak Total Peran Petugas Aktif 0,505 Tidak Aktif Total Sumber: Data Primer, 2021 Dari tabel di atas Kurangnya Produksi ASI diketahui bahwa dari 53 responden terdapat 22 responden . ,5%) yang produksi ASI kurang,sebanyak 20 responden. ,7%) yang memberikan MP ASI terlalu dini dan sebanyak 2 responden . ,8%) yang memberikan MP ASI sesuai waktu, sedangkan pada produksi ASI yang cukup terdapat 31 responden . ,4%), diantaranya sebanyak 12 responden . ,6%) yang memberikan MP ASI dini, dan sebanyak 19 responden . ,8%) yang MP ASI sesuai waktu yaitu lebih dari enam bulan. Hasil uji chi-square dengan derajat kesalahan () = 0,05 dengan nilai A sebesar 0,000 dimana nilai A < 0,05 atau H 0 ditolak, maka ini berarti ada pengaruh antara kurangnya produksi ASI terhadap pemberian MP ASI terlalu dini di Puskesmas Majauleng Kabupaten Wajo. 10 | P a g e Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 Dari tabel Sosial Budaya diatas terlihat bahwa dari 53 responden terdapat 27 responden . ,9%) yang kategori melaksankan social budaya, sebanyak 19 responden. ,8%) yang memberikan MP AsI dini dan sebanyak 8 responden . ,1%) yang tidak memberikan MP ASI dini, sedangkan pada kategori tidak melakukan social budaya terdapat26 responden . ,1%), diantaranya sebanyak 13 responden . ,5%) yang merupakan memberikan MP ASI dini dan sebanyak 13 responden . ,5%) yang tidak MP ASI secara dini. Hasil uji chi-square dengan derajat kesalahan () = 0,05 dengan nilai A sebesar 0,217 dimana nilai A > 0,05 atau H0diterima, maka ini berarti tidak ada pengaruh antara sosial budaya terhadap pemberian MP ASI dini di Puskesmas Majauleng Kabupaten Wajo. Dari tabel Peran Petugas diatas terlihat bahwa dari 53 responden terdapat 39 responden . ,6%) yang kategori peran petugas aktif, sebanyak 22 responden . ,5%) yang memberikan MP AsI dini dan sebanyak 17 responden . ,1%) yang tidak memberikan MP ASI dini, sedangkan pada kategori peran petugas tidak aktif terdapat14 responden . ,4%), diantaranya sebanyak 10 responden . ,9%) yang merupakan memberikan MP ASI dini dan sebanyak 4 responden . ,5%) yang tidak MP ASI secara dini. Hasil uji chi-square dengan derajat kesalahan () = 0,05 dengan nilai A sebesar 0,505 dimana nilai A > 0,05 atau H0diterima, maka ini berarti tidak ada pengaruh antara peran petugas kesehatan terhadap pemberian MP ASI dini di Puskesmas Majauleng Kabupaten Wajo. PEMBAHASAN Pengaruh kurangnya produksi ASI terhadapmp ASI terlalu dini di puskesmas majauleng kabupaten Hasil uji chi-square dengan derajat kesalahan () = 0,05 dengan nilai A sebesar 0,000 dimana nilai A < 0,05 atau H0 ditolak, maka ini berarti ada pengaruh antara kurangnya produksi ASI terhadap pemberian MP ASI terlalu dini di Puskesmas Majauleng Kabupaten Wajo. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Heryanto, 2. Dari hasil analisa univariat diketahui sebanyak 32 . ,7%) responden dengan kategori kecukupan ASI cukup dan sebanyak 19 . ,3%) responden dengan kategori kecukupan ASI kurang. Hasil uji statistik diperoleh p value 0,000. Hal ini berarti bahwa ada hubungan yang bermakna antara kecukupan ASI dengan pemberian MP-ASI dini. Sejalan juga dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Sulastri . di Kelurahan Sine Sragen dimana dari 80 responden terdapat 2,5% pemberian MP-ASI tepat waktu dan 97,5% pemberian MP-ASI dini. Hal ini menunjukkan bahwa produksi ASI memperngaruhi pemberian MP-ASI dini pada bayi. Perilaku ibu dalam pemberian MP-ASI secara dini sebagian besar memberikan MP-ASI secara dini dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu pendorong, faktor pemungkin, dan faktor penguat (Andrian, 2. Hal ini dapat terjadi karena mereka masih mengikuti tradisi yang diturunkan dari orang tua nya, menganggap bahwa bayi rewel kaena ASI ibu kurang, anak tidak kenyang atau produksi ASI hanya sedikit. Sehingga oleh orang tua disarankan untuk memberikan MP ASI agar anak tenang. padahal banyak faktor yang menyebabkan bayi rewel, misalkan popok basah, kedinginan atau kepanasan, tidak nyaman dll. Pengaruh Sosial Budaya TerhadapMP ASI terlalu dini di Puskesmas Majauleng Kabupaten Wajo Hasil uji chi-square dengan derajat kesalahan () = 0,05 dengan nilai A sebesar 0,217 dimana nilai A > 0,05 atau H0diterima, maka ini berarti tidak ada pengaruh antara sosial budayaterhadap pemberian MP ASI dini di Puskesmas Majauleng Kabupaten Wajo. Asumsi peneliti bahwa Ibu dengan sosial budaya kurang baik akan terpengaruh oleh lingkungan sekitar dengan memberikan makanan pendamping ASI dini. Lingkungan yang dimaksud disini adalah keluarga, tempat bekerja, dan lingkungan sekitar rumah yang dapat mempengaruhi pemberian makanan pendamping ASI dini. Sedangkan ibu yang memiliki sosial budaya baik karena ibu tidak mudah terpengaruh dengan berbagai kepercayaan atau tradisi yang ada sehingga ini berkaitan dengan adanya pengetahuan yang ibu miliki. Maka dari itu diperlukan adanya upaya peningkatan pengetahuan masyarakat dalam menurunkan perilaku ibu terhadap pemberian MP-ASI dini karena tradisi atau kepercayaan yang berkembang. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Selvia, 2. dengan hasil uji statistik SpearmanAos rank correlation coefficient atau SpearmanAos Rho menunjukkan r = 0,092 nilai signifikansi p=0,358 derajat kemaknaan yang digunakan <0,05. Sehingga H1 ditolak bahwa tidak terdapat hubungan antara faktor nilai budaya dengan perilaku ibu dengan pemberian MPASI pada bayi usia 0-12 bulan. Penelitian ini bertentangan dengan (Aprilina dkk. bahwa hasil uji Chi Square didapatkan p value = 0,0000 (< = 0,. yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa 11 | P a g e Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 terdapat hubungan faktor budaya dengan pemberian MPASI dini pada bayi di Desa Pengalusan kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga. Sebagian besar ibu dengan budaya baik sebanyak 24 orang . ,0%) memberikan MPASI dini pada bayinya. Budaya dapat menentukan sikap dan perilaku seseorang dalam mengambil keputusan khususnya dalam pemberian ASI eksklusif. Perilaku manusia dipengaruhi salah satunya oleh faktor kebudayaan dan nilai-nilai yang ada di daerah Adanya pengaruh kebudayaan terhadap perilaku kesehatan tidak bisa dihindari begitupun sulit Kebudayaan yang berkembang menjadikan masyarakat berperilaku sesuai dengan kebudayaan Pegaruh kebudayaan ini akan lebih berdampak negatif jika diikuti dengan pengetahuan ibu yang rendah tentang kapan seharusnya waktu pemberian MP-ASI bagi bayi (Sadli, 2. Pengaruh Peran Petugas Kesehatan TerhadapMP ASI terlalu dini di Puskesmas Majauleng Kabupaten Wajo Hasil uji chi-square dengan derajat kesalahan () = 0,05 dengan nilai A sebesar 0,505 dimana nilai A > 0,05 atau H0diterima, maka ini berarti tidak ada pengaruh antara peran petugas kesehatanterhadap pemberian MP ASI dini di Puskesmas Majauleng Kabupaten Wajo. Menurut asumsi peneliti bahwa diperlukan adanya kader ASI atau KP-ASI . elompok pendukung ASI) untuk dapat membantu petugas kesehatan dalam pemantauan dan peninjauan terkait pemberian MP-ASI dini dan membantu petugas kesehatan dalam memberikan penjelasan dan pemahaman mengenai pentingnya ASI Eksklusif bagi bayi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi Sri Nauli Harahap dengan judul Hubungan pemberian MP-ASI dini dengan kejadian penyakit infeksi pada bayi 0- 6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sindar Raya Kecamatan Raya Kahean Kabupaten Simalungun tahun 2012 bahwa tidak ada hubungan antara peran petugas kesehatan dengan pemberian MP-ASI dini. Penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Sadli, 2. Berdasarkan analisis hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari 37 ibu terdapat 20 ibu dengan persepsi peran petugas baik yang memberikan MP-ASI dini . ,1%) dan terdapat 17 ibu dengan persepsi peran petugas baik yang tidak memberikan MP-ASI dini pada bayinya . ,9%). Hasil uji statistik Chi Squarepada = 0,05 diperoleh p value sebesar 0,078 . value> 0,. berarti Ho gagal tolak atau diterima sehingga disimpulkan tidak ada hubungan peran petugas kesehatan dan perilaku pemberian MP-ASI dini pada bayi usia 0-6 bulan di wilayah kerja UPT Puskesmas Pulasaren Kota Cirebon tahun 2018. Peran yang diberikan petugas kesehatan sangat dibutuhkan, maka mereka harus mampu memberikan kondisi yang dapat mempengaruhi perilaku positif terhadap kesehatan, salah satunya pada ibu-ibu dalam pemberian ASI Eksklusif. Pengaruh tersebut tergantung pada komunikasi persuasif yang ditujukan pada ibu, yang meliputi perhatian, pemahaman, ingatan penerima dan perubahan perilaku. Interaksi tersebut akan tercipta suatu hubungan yang baik untuk mendorong atau memotivasi ibu dalam melakukan ASI Eksklusif (Widdefrita et al. Hal ini menggambarkan pemberian penyuluhan yang dilakukan oleh petugas kesehatan belum efektif dilakukan kepada ibu sehingga pemberian MP-ASI dini masih tinggi. Ada kemungkinan karena pemberian penyuluhan makanan pendamping ASI bagi bayi usia 0-6 bulan ketikabayi sudah lahir sehingga ibu sudah terlanjur memberikan MP-ASI dini kepada bayinya. Selain itu juga kurangnya kegiatan konseling ASI karena belum adanya ruang laktasi. Dalam hal ini petugas kesehatan mempunyai peran penting dalam membentuk perilaku ibu terhadap pemberian MP-ASI dan juga membentuk pengetahuan ibu mengenai pentingnya ASI Eksklusif pada bayi sampai usia 6 bulan. KESIMPULAN DAN SARAN Ada pengaruh yang signifikan antara kurangnya produksi ASI terhadap pemberian MP ASI terlalu dini berdasarkan Hasil uji chi-square nilai A sebesar 0,000 dimana nilai A < 0,05 yang artinya H0 ditolak. Tidak Ada pengaruh yang signifikan antara Sosial Budaya terhadap terhadap pemberian MP ASI terlalu dini dasarkan Hasil uji chi-square nilai A sebesar 0,217 dimana nilai A > 0,05 yang artinya H0diterima dan Tidak Ada pengaruh yang signifikan antara Peran Petugas terhadap terhadap pemberian MP ASI terlalu dini di Puskesmas Majauleng Kabupaten Wajo berdasarkan Hasil uji chi-square nilai A sebesar 0,505 dimana nilai A > 0,05 yang artinya H0 diterima. Berdasarkan hal tersebut peneliti memberi saran Diharapkan ibu hamil dan 12 | P a g e Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 ibu menyusui untuk senantiasa memperhatikan pemenuhan gizi sejak dari kehamilan hingga masa nifas karna sebagai upaya pemenuhan kelancaran produksi ASI. DAFTAR PUSTAKA