JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. September 2025 Page 1422-1430 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah TRANSFORMASI LITERASI KEAGAMAAN MELALUI MEDIA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM MODERN Dwi Faruqi1 1IAI-IPMU Gumawang OKU Timur. Indonesia Email: dwifaruqi986@gmail. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 3 August 2025 Final Revised: 11 August 2025 Accepted: 16 September 2025 Published: 31 September 2025 Keywords: Digital Religious Literacy Social Media Islamic Education ABSTRACT The transformation of religious literacy through social media has become a significant phenomenon in the development of Islamic education in the digital era. Social media has reshaped how the millennial generation acquires and understands Islamic teachings, shifting from traditional patterns to more open and interactive forms of learning. This study aims to analyze the transformation of religious literacy occurring through social media and its implications for modern Islamic education. The research employed a descriptive qualitative approach with data collected through digital observation, indepth interviews, and documentation. The results reveal that social media functions as a non-formal Islamic educational space that fosters participation, dialogue, and creativity in learning religion. However, the accessibility of information also poses challenges such as oversimplification of teachings and a crisis of religious authority. Modern Islamic education must respond to this transformation by developing digital religious literacy rooted in ethics, critical thinking, and Islamic spiritual values. conclusion, social media holds great potential as an instrument for renewing Islamic education that is adaptive to technological change and the learning needs of the millennial generation. ABSTRAK Transformasi literasi keagamaan melalui media sosial menjadi fenomena penting dalam perkembangan pendidikan Islam di era digital. Media sosial telah mengubah cara generasi milenial memperoleh dan memahami ajaran Islam dari pola tradisional menuju pola yang lebih terbuka dan interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk transformasi literasi keagamaan yang terjadi melalui media sosial serta implikasinya terhadap pendidikan Islam modern. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi digital, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berperan sebagai ruang pendidikan Islam nonformal yang menumbuhkan partisipasi, dialog, dan kreativitas dalam pembelajaran agama. Meskipun demikian, kemudahan akses informasi juga menimbulkan tantangan berupa penyederhanaan ajaran dan krisis otoritas keagamaan. Pendidikan Islam modern perlu merespons transformasi ini dengan mengembangkan literasi keagamaan digital berbasis etika, kritisisme, dan nilai-nilai spiritual Islam. Kesimpulannya, media sosial memiliki potensi besar sebagai instrumen pembaruan pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan generasi milenial. Kata kunci: Literasi Keagamaan Digital. Media Sosial. Pendidikan Islam. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Transformasi Literasi Keagamaan Melalui Media Sosial Dalam Perspektif Pendidikan Islam Modern PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi pada era Revolusi Industri 4. 0 telah membawa perubahan signifikan dalam hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Media sosial kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana interaksi sosial, melainkan juga telah menjadi medium utama dalam proses penyebaran informasi, pembelajaran, bahkan dakwah keagamaan di kalangan generasi milenial. Fenomena ini menunjukkan adanya transformasi mendasar dalam cara manusia mengakses dan memahami ajaran agama Islam. Proses belajar yang dahulu didominasi oleh pertemuan langsung dengan guru atau ulama, kini beralih ke ruang digital yang lebih terbuka, dinamis, dan interaktif (Nasrullah, 2. Dalam konteks pendidikan Islam, perubahan ini memunculkan tantangan sekaligus peluang baru. Pendidikan Islam modern tidak dapat lagi bersandar hanya pada pendekatan tradisional seperti ceramah di majelis taklim, kajian kitab, atau perkuliahan konvensional di madrasah dan perguruan tinggi Islam. Transformasi media digital menuntut para pendidik Islam untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk dalam mengembangkan literasi keagamaan yang relevan dengan karakter generasi digital native (Prensky, 2. Media sosial seperti YouTube. Instagram. TikTok, dan podcast kini menjadi ruang baru bagi umat Islam untuk mempelajari ajaran agama secara cepat dan fleksibel (Rahmah, 2. Fenomena ini menandai munculnya apa yang dapat disebut sebagai literasi keagamaan digital yakni kemampuan seseorang dalam mengakses, memahami, menginterpretasi, dan menilai informasi keagamaan yang disebarkan melalui media sosial. Literasi keagamaan digital bukan hanya berkaitan dengan kemampuan teknis dalam menggunakan media digital, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis dan reflektif terhadap nilai-nilai keislaman yang ditampilkan secara variatif di dunia maya (Heryanto, 2. Dalam konteks pendidikan Islam, literasi keagamaan digital menjadi instrumen penting untuk membentuk generasi Muslim yang tidak hanya religius secara ritual, tetapi juga cerdas secara spiritual dan sosial. Namun, transformasi ini tidak selalu berjalan tanpa risiko. Di balik kemudahan akses informasi keagamaan, terdapat bahaya penyebaran konten yang bersifat simplistik, dangkal, bahkan menyesatkan. Banyak akun dakwah digital yang menyajikan tafsir agama tanpa dasar keilmuan yang kuat, sehingga menimbulkan distorsi pemahaman terhadap ajaran Islam. Fenomena ini memperlihatkan gejala Auotoritas keagamaan baruAy di media sosial, di mana figur-figur non-akademik dapat memperoleh legitimasi keagamaan hanya karena popularitasnya di dunia maya (Campbell, 2. Oleh sebab itu, pendidikan Islam modern harus memainkan peran strategis dalam membangun kesadaran kritis peserta didik untuk tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi juga penalar yang aktif dalam memahami ajaran Islam secara kontekstual. Pergeseran pola otoritas keagamaan tersebut selaras dengan konsep knowledge society yang dikemukakan oleh Drucker, . , bahwa masyarakat modern adalah masyarakat yang berorientasi pada produksi, distribusi, dan konsumsi pengetahuan. Dalam masyarakat semacam ini, informasi keagamaan tidak lagi bersifat hierarkis, melainkan tersebar secara horizontal melalui jaringan digital. Dengan demikian, media sosial berperan sebagai ruang dialektika baru antara tradisi dan modernitas dalam pendidikan Islam. Para ulama dan akademisi Islam kini dituntut untuk menyesuaikan metode dakwah dan pembelajaran mereka agar tetap relevan dengan kebutuhan generasi milenial yang terbiasa dengan kecepatan, visualisasi, dan interaktivitas digital (Amin, 2. Lebih jauh lagi, fenomena transformasi literasi keagamaan melalui media sosial juga perlu dipahami sebagai bagian dari perkembangan epistemologi pendidikan Islam itu sendiri. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Transformasi Literasi Keagamaan Melalui Media Sosial Dalam Perspektif Pendidikan Islam Modern Pendidikan Islam tidak lagi sekadar berorientasi pada transmisi nilai-nilai tradisional, tetapi juga pada pembentukan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi arus informasi global. Hal ini sesuai dengan paradigma education for life and eternity, yang menempatkan Islam sebagai sistem pendidikan yang adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan nilai spiritualnya (Hassan, 2. Dalam konteks ini, literasi keagamaan digital dapat dilihat sebagai jembatan antara nilai-nilai Islam klasik dan tantangan modernitas. Pentingnya mengkaji transformasi literasi keagamaan melalui media sosial terletak pada urgensinya dalam membentuk karakter generasi Muslim yang literat secara digital, spiritual, dan sosial. Melalui media sosial, nilai-nilai Islam dapat dikomunikasikan secara luas dan mudah diakses oleh siapa pun, tetapi keberhasilan proses ini sangat bergantung pada sejauh mana pendidikan Islam mampu membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis, etika digital, dan kepekaan terhadap otentisitas sumber keagamaan. Oleh karena itu, penelitian ini diarahkan untuk memahami bagaimana proses transformasi literasi keagamaan terjadi melalui media sosial, serta bagaimana media sosial berperan dalam memperkuat konsep pendidikan Islam modern yang berbasis pada nilai-nilai literasi dan pemikiran kritis. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka fokus penelitian ini adalah: . menganalisis bentuk transformasi literasi keagamaan yang terjadi melalui media sosial, . mengkaji peran media sosial dalam memperkuat pendidikan Islam modern, dan . menjelaskan implikasi transformasi ini terhadap pola pembelajaran dan pemahaman keagamaan generasi milenial. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis terhadap pengembangan konsep digital Islamic literacy, serta menjadi acuan praktis bagi lembaga pendidikan Islam dalam mengintegrasikan media sosial sebagai sarana pembelajaran keagamaan yang efektif, kontekstual, dan beretika. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk memahami secara mendalam fenomena transformasi literasi keagamaan yang terjadi melalui media sosial dalam konteks pendidikan Islam modern. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk menafsirkan makna dan dinamika sosial yang melatarbelakangi perilaku keagamaan generasi milenial di ruang digital (Creswell, 2. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana media sosial berperan sebagai sarana pembelajaran agama dan bagaimana individu memaknai serta menginternalisasi nilai-nilai Islam melalui interaksi digital. Sumber data penelitian terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan sejumlah informan yang meliputi pendidik Islam, mahasiswa, serta konten kreator atau influencer Muslim yang aktif menyebarkan materi dakwah melalui media sosial seperti YouTube. Instagram, dan TikTok. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling, dengan pertimbangan bahwa mereka memiliki keterlibatan langsung dan pengalaman relevan terhadap fenomena yang diteliti (Moleong. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari berbagai literatur akademik, artikel jurnal, serta dokumentasi digital berupa unggahan dakwah dan konten pendidikan Islam di media Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tiga tahap utama, yaitu observasi digital, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Observasi digital dilakukan untuk mengamati pola penyajian materi keagamaan di media sosial, sedangkan wawancara dilakukan guna menggali pemaknaan dan pengalaman informan terkait proses belajar agama di ruang digital. Dokumentasi digunakan untuk memperkuat data dengan menelaah arsip digital dan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Transformasi Literasi Keagamaan Melalui Media Sosial Dalam Perspektif Pendidikan Islam Modern publikasi ilmiah yang relevan. Penelitian ini dilaksanakan dalam konteks observasi digital terhadap aktivitas keagamaan di berbagai platform media sosial populer di Indonesia, terutama YouTube. Instagram, dan TikTok, yang digunakan secara luas oleh kalangan muda Muslim. Observasi dilakukan selama rentang waktu lima tahun terakhir . 0Ae2. untuk menangkap dinamika perubahan perilaku keagamaan di ruang digital sejak masa pandemi COVID-19 hingga periode pasca-pandemi. Rentang waktu tersebut dipilih karena merepresentasikan fase intensif penggunaan media sosial sebagai sarana dakwah dan pembelajaran agama secara Fokus observasi diarahkan pada akun-akun dan kanal dakwah yang memiliki jangkauan luas di kalangan generasi milenial dan gen Z, baik yang dikelola oleh lembaga pendidikan Islam, tokoh ulama digital, maupun komunitas dakwah kreatif. Konteks geografis penelitian ini mencakup konten yang diproduksi dan dikonsumsi oleh masyarakat Muslim di Indonesia bagian barat (Sumatera dan Jaw. , yang memiliki tingkat penetrasi media sosial tertinggi di Asia Tenggara menurut laporan DataReportal . Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memotret fenomena dakwah digital secara umum, tetapi juga menggambarkan pola interaksi keagamaan dalam konteks budaya Indonesia yang plural dan religius. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles & Huberman, . yang meliputi proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik agar hasil penelitian memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi. Dengan metode ini, penelitian diharapkan mampu mengungkap makna transformatif dari literasi keagamaan di media sosial serta kontribusinya terhadap penguatan paradigma pendidikan Islam modern yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan sosial. HASIL DAN PEMBAHASAN Transformasi literasi keagamaan melalui media sosial merupakan fenomena sosial educational yang tidak dapat dipisahkan dari dinamika modernitas digital. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi digital terhadap mahasiswa, dosen, serta konten kreator Muslim, tampak bahwa media sosial kini menjadi ruang pembelajaran agama yang paling dominan di kalangan generasi milenial. Generasi ini memperoleh pengetahuan Islam bukan lagi secara linear melalui guru atau institusi formal, tetapi secara terbuka melalui algoritma media sosial yang menyesuaikan minat dan preferensi individu. Dengan demikian, proses belajar agama kini tidak lagi berlangsung dalam ruang homogen seperti majelis atau kelas, tetapi dalam ruang virtual yang sangat cair, interaktif, dan demokratis (Nasrullah, 2. Transformasi Pola Literasi Keagamaan di Era Digital Perubahan utama yang ditemukan adalah bergesernya pola religious literacy dari orientasi tekstual ke arah visual dan naratif. Media sosial seperti YouTube. TikTok, dan Instagram menjadi sumber utama bagi pemahaman ajaran Islam secara cepat dan praktis. Video dakwah berdurasi satu menit atau kutipan hadis dalam bentuk infografis kini menggantikan peran buku dan kitab dalam menyampaikan pesan moral dan spiritual (Rahmah, 2. Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi milenial lebih memilih gaya belajar yang berbasis edutainment, yaitu penggabungan antara hiburan dan edukasi. Meskipun secara konseptual literasi keagamaan digital kerap disamakan dengan istilah digital Islamic learning atau cyber-dakwah, terdapat perbedaan mendasar baik secara epistemologis maupun pedagogis. Digital Islamic learning lebih menekankan pada proses pembelajaran Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Transformasi Literasi Keagamaan Melalui Media Sosial Dalam Perspektif Pendidikan Islam Modern Islam berbasis platform daring yakni pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana untuk mentransfer ilmu agama secara sistematis, biasanya dengan model pembelajaran formal atau semi-formal (Hassan, 2. Sementara itu, cyber-dakwah berorientasi pada aktivitas penyebaran pesan keagamaan di ruang maya untuk tujuan dakwah, yang seringkali bersifat monologis dan bertumpu pada penyampaian pesan dari daAoi kepada audiens (Rahmah, 2. Berbeda dari kedua istilah tersebut, literasi keagamaan digital memiliki dimensi epistemik yang lebih luas dan reflektif. Konsep ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengakses dan memahami informasi keagamaan di dunia digital, tetapi juga mencakup aspek kritisisme, validasi sumber, dan etika dalam mengonsumsi serta memproduksi pengetahuan Islam. Dengan demikian, literasi keagamaan digital menempatkan individu bukan sebagai penerima pasif, tetapi sebagai subjek aktif yang menafsirkan ajaran agama dalam konteks digital yang kompleks. Ia merupakan proses pembentukan nalar keagamaan kritis yang melampaui sekadar kegiatan belajar . atau berdakwah . aAowa. , dan lebih menekankan kemampuan epistemologis untuk menimbang, memaknai, serta mengontekstualisasi ajaran Islam sesuai tuntutan zaman (Heryanto, 2022. Amin, 2. Dengan perspektif ini, literasi keagamaan digital menjadi fondasi konseptual bagi pendidikan Islam modern, karena memadukan kompetensi spiritual dengan literasi media dan pemikiran kritis. Artinya, transformasi literasi keagamaan melalui media sosial bukan hanya tentang cara baru menyampaikan ilmu agama, melainkan tentang cara baru membangun kesadaran keagamaan yang dialogis, reflektif, dan kontekstual terhadap realitas digital. Hal ini selaras dengan teori connectivism learning (Siemens, 2. , yang menegaskan bahwa pengetahuan di era digital dibangun melalui jejaring informasi dan interaksi sosial. Dalam konteks pendidikan Islam, transformasi ini menciptakan bentuk baru dari Islamic microlearning, di mana proses internalisasi nilai agama berlangsung melalui konten singkat yang dikemas menarik dan mudah diakses. Penelitian terkini menunjukkan bahwa media sosial seperti TikTok kini tidak hanya sebagai platform hiburan atau dakwah pasif, melainkan juga sebagai sarana pembelajaran agama yang efektif. Jaza M. , . menemukan bahwa penggunaan TikTok sebagai resource pembelajaran PAI secara signifikan meningkatkan pemahaman dan penerapan nilai Islam. Di sisi lain, studi oleh Sanityastuti R. Rofiq M. , . memperingatkan bahwa kemampuan literasi digital para pengelola dakwah media sosial masih belum sebanding dengan penggunaan media itu sendiri Authe development of social media use has not been directly proportional to the skillsAAy. Lebih jauh lagi. Adima D. Yusuf M. , . menunjukkan melalui kajian bibliometrik bahwa tren penelitian literasi digital dalam perspektif Islam di pendidikan tinggi terus meningkat, menegaskan relevansi akademik dan praktisnya. Tantangan praktik juga muncul: Sundari D. Yusuf A. , . mengungkap bahwa siswa SMP di Bengkulu tertantang dalam menyaring hoaks keagamaan melalui media digital. Akhirnya. Susanti R. Latifah N. , . menunjukkan bahwa inovasi digital media/social media dalam pembelajaran PAI semakin relevan dan efektif. Dengan demikian, konsepsi literasi keagamaan digital yang saya tawarkan dalam artikel ini yang menekankan posisi aktif subjek dalam menafsir, mengontekstualisasi, dan memproduksi pengetahuan keagamaan secara kritis memiliki landasan empiris mutakhir dan kuat. Ay Namun demikian, hasil penelitian juga menunjukkan adanya paradoks. Semakin luas akses terhadap pengetahuan agama, semakin besar pula potensi distorsi pemahaman akibat lemahnya kemampuan verifikasi sumber. Banyak pengguna media sosial yang Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Transformasi Literasi Keagamaan Melalui Media Sosial Dalam Perspektif Pendidikan Islam Modern menerima ajaran agama tanpa melakukan validasi terhadap otoritas keilmuan pembuat Di sinilah pentingnya membangun literasi keagamaan digital, yaitu kemampuan untuk membaca, menilai, dan mengkritisi konten keagamaan agar tidak terjebak pada penyederhanaan teologis maupun ideologi keagamaan yang eksklusif (Heryanto, 2. Media Sosial sebagai Ruang Pendidikan Islam Modern Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai ruang pendidikan Islam modern yang bersifat terbuka dan kolaboratif. Berdasarkan hasil observasi terhadap konten dakwah digital, ditemukan bahwa media sosial telah menciptakan pola pembelajaran keagamaan yang non-hierarkis. Peserta didik tidak lagi bergantung pada otoritas tunggal, melainkan membangun pemahaman melalui dialog digital, komentar, dan diskusi lintas pengguna. Beberapa lembaga pendidikan Islam di Indonesia juga mulai melakukan adaptasi dengan memanfaatkan media sosial sebagai platform dakwah edukatif. Contohnya, dosen dan ustaz menggunakan kanal YouTube untuk mengajar tafsir tematik, madrasah mengembangkan akun TikTok untuk menanamkan nilai akhlak, dan pesantren memanfaatkan Instagram untuk kampanye nilai moderasi beragama. Pola ini menandai pergeseran pendidikan Islam dari classroom-based learning menuju platform-based learning, di mana proses pembelajaran tidak dibatasi ruang dan waktu (Amin, 2. Pendekatan semacam ini sejalan dengan prinsip pedagogi digital Islam, yang menggabungkan dimensi spiritualitas dengan inovasi teknologi. Dengan memanfaatkan media sosial secara kritis dan kreatif, pendidikan Islam dapat menjangkau audiens yang lebih luas, menumbuhkan literasi moral, dan membangun kesadaran religius yang kontekstual dengan zaman modern. Hasil empiris menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya sebagai kanal dakwah atau hiburan, melainkan kini juga menjadi medium pembelajaran agama yang efektif. Misalnya. Nasution F. Fathurrahman M. , . menemukan bahwa media sosial seperti Instagram. TikTok dan YouTube memainkan peran penting dalam pendidikan moral Islam generasi muda. Syaikhu S. , . menambahkan bahwa efektivitas tersebut diiringi dengan tantangan kualitas konten. Sedangkan Ayuna D. Fadilah S. , . menunjukkan bahwa bimbingan keagamaan digital dapat meningkatkan motivasi belajar santri. Pergeseran Otoritas dan Tantangan Etika Keagamaan Hasil penelitian menunjukkan adanya fenomena decentralization of religious authority pergeseran otoritas keagamaan dari ulama konvensional menuju figur influencer Muslim di ruang digital (Campbell, 2. Generasi milenial cenderung mempercayai tokoh-tokoh yang komunikatif, visual, dan mudah diakses ketimbang ulama tradisional yang terbatas dalam jangkauan. Akibatnya, otoritas keagamaan kini tidak lagi diukur berdasarkan keilmuan formal, tetapi berdasarkan kredibilitas digital, jumlah pengikut, dan kemampuan membangun digital trust. Fenomena ini membawa konsekuensi epistemologis dalam pendidikan Islam. Pendidikan Islam ditantang untuk mengajarkan etika literasi digital yang berlandaskan prinsip tabayyun . sebagaimana diajarkan dalam Al-QurAoan (QS. Al-Hujurat: . Pembentukan kesadaran epistemologis digital menjadi kunci agar peserta didik tidak hanya menerima pesan agama, tetapi mampu menimbang kebenaran dan kedalaman Selain itu, muncul pula bentuk baru dari komodifikasi dakwah yakni ketika konten keagamaan diproduksi untuk kepentingan popularitas atau monetisasi. Hal ini berpotensi Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Transformasi Literasi Keagamaan Melalui Media Sosial Dalam Perspektif Pendidikan Islam Modern menurunkan kesakralan pesan dakwah menjadi sekadar konten pasar. Maka dari itu, pendidikan Islam perlu menegaskan kembali fungsi etisnya: mendidik umat agar cerdas digital, kritis teologis, dan beradab dalam mengonsumsi informasi keagamaan. Di satu sisi, kemajuan penggunaan media digital menghadirkan tantangan baru terkait literasi keagamaan. Prasetia, . menunjukkan bahwa meskipun santri memiliki akses digital tinggi, kompetensi literasi keagamaan digital masih belum memadai dalam menangkal radikalisme. Sundari D. Yusuf A. , . menemukan bahwa siswa SMP di Bengkulu mengalami kesulitan menyaring hoaks keagamaan secara daring. Sementara itu. Eraku H. Nurdin R. , . menegaskan bahwa guru-PAI harus memperkuat kompetensi literasi digital agar dapat berfungsi sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran keagamaan digital. Implikasi terhadap Pendidikan Islam Transformasi literasi keagamaan di era media sosial menuntut inovasi pedagogis dalam pendidikan Islam. Guru, dosen, dan lembaga pendidikan harus berperan sebagai digital mentors yang tidak hanya mentransfer ilmu agama, tetapi juga membimbing peserta didik dalam mengembangkan kemampuan literasi digital religius. Kurikulum pendidikan Islam perlu memasukkan komponen Islamic Digital Literacy yang berfokus pada etika bermedia, validasi sumber, dan pemanfaatan teknologi untuk dakwah moderat (Hassan. Selain itu, integrasi nilai Islam dengan prinsip life-long learning berbasis digital akan memperkuat relevansi pendidikan Islam di era global. Dengan demikian, lembaga pendidikan Islam dapat melahirkan generasi yang memiliki critical digital religiosity, yaitu kemampuan berpikir reflektif, spiritual, dan etis dalam memaknai ajaran Islam di tengah derasnya arus informasi modern. Inovasi pembelajaran digital dalam konteks PAI semakin mendapatkan tempat. Hamdi N. , . mendemonstrasikan bahwa e-modul dapat meningkatkan literasi digital siswa dalam PAI. Tobib D. Rahmawati N. , . melaporkan bahwa pembelajaran PAI berbasis digital di SMA YADIKA Bandar Lampung berhasil memperkuat literasi digital dan internalisasi nilai religius generasi Alpha. Selain itu. Sutrisno F. Maulana D. , . menemukan bahwa YouTube dan TikTok semakin banyak digunakan sebagai ruang edukasi keluarga Muslim menunjukkan bahwa pembelajaran keagamaan digital telah merambah tingkat domestik dan sosial. Sintesis dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media sosial tidak sekadar menjadi saluran dakwah, tetapi telah berevolusi menjadi ekosistem pembelajaran Islam Transformasi literasi keagamaan melalui media sosial memperluas akses terhadap ilmu, mendemokratisasi pengetahuan Islam, serta mengubah relasi antara guru, murid, dan otoritas keagamaan. Kebaruan . penelitian ini terletak pada formulasi konsep AuLiterasi Keagamaan Digital IslamiAy sebagai paradigma baru dalam pendidikan Islam modern. Konsep ini menempatkan literasi digital bukan hanya sebagai kemampuan teknis, tetapi juga sebagai proses pembentukan nalar kritis religius berbasis nilai-nilai Islam. Model ini memperkaya diskursus pendidikan Islam dengan perspektif baru bahwa media sosial dapat menjadi instrumen pedagogis yang efektif apabila dikelola berdasarkan prinsip literasi kritis, etika digital, dan nilai-nilai spiritual Islam. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Transformasi Literasi Keagamaan Melalui Media Sosial Dalam Perspektif Pendidikan Islam Modern KESIMPULAN Transformasi literasi keagamaan melalui media sosial menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan mendasar dalam cara generasi milenial memahami dan mempraktikkan ajaran Islam. Media sosial kini berfungsi sebagai ruang baru pendidikan Islam yang memungkinkan proses belajar berlangsung secara terbuka, dialogis, dan partisipatif. Dalam ruang digital ini, nilai-nilai Islam tidak lagi disampaikan melalui jalur formal semata, tetapi juga melalui interaksi sosial dan konten kreatif yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Perubahan ini menandai lahirnya bentuk literasi keagamaan baru yang menuntut keseimbangan antara keterampilan digital dan kedalaman Generasi muda tidak hanya perlu mahir menggunakan media sosial, tetapi juga memiliki kemampuan menilai, memverifikasi, dan memaknai informasi keagamaan secara Oleh karena itu, pendidikan Islam modern perlu memanfaatkan media sosial secara strategis sebagai sarana dakwah dan pembelajaran yang kontekstual, dengan tetap menjaga otentisitas nilai-nilai Islam. Dengan munculnya pola baru dalam memperoleh pengetahuan agama, lembaga pendidikan Islam diharapkan mampu merancang kurikulum yang mengintegrasikan literasi digital dengan pendidikan akhlak dan etika bermedia. Upaya ini akan memperkuat peran pendidikan Islam dalam membentuk generasi yang religius, kritis, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Transformasi ini bukan sekadar perubahan teknologis, tetapi sebuah pergeseran paradigma menuju pendidikan Islam yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. REFERENSI