Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 6. No 2. Juli 2025 PENERAPAN TEORI PSIKOLOGI BEHAVIORISTIK DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN ANAK PERSPEKTIF DAN IMPLEMENTASI Kelly Simanjuntak Sekolah Tinggi Teologi Baptis Papua kellysimanjuntak82@gmail. Noh Ibrahim Boililu Universitas Kristen Indonesia boiliunoh@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan teori psikologi behavioristik dalam pendidikan Agama Kristen anak, dengan menyoroti perspektif teoritis serta implementasi praktisnya dalam konteks pembelajaran. Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana prinsip-prinsip behavioristik yang menekankan pada stimulus-respons, penguatan, dan pembentukan perilaku melalui pembiasaan dapat digunakan secara efektif dalam membentuk karakter dan pemahaman keagamaan anak-anak dalam pendidikan Kristen. Tujuan penulisan adalah untuk mengevaluasi relevansi dan efektivitas teori ini dalam menciptakan proses pembelajaran yang mendukung pertumbuhan spiritual dan moral anak sejak usia dini. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah studi kepustakaan . ibrary researc. , dengan menganalisis berbagai literatur terkait teori behavioristik dan pendidikan Kristen anak. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan untuk menggambarkan serta menafsirkan konsep-konsep teoritis dan aplikasinya dalam konteks pendidikan agama. Hasil kajian menunjukkan bahwa teori behavioristik dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pendidikan Agama Kristen anak, terutama melalui penggunaan metode penguatan positif, repetisi materi, dan pembentukan kebiasaan rohani. Misalnya, penguatan berupa pujian atau hadiah saat anak menunjukkan sikap kasih atau hafalan ayat Alkitab dapat memperkuat perilaku positif yang diharapkan. Namun, pendekatan ini perlu dilengkapi dengan unsur kasih, relasi personal, dan nilai-nilai iman Kristen agar tidak terjebak pada aspek mekanistik semata. Dengan demikian, implementasi teori behavioristik dalam pendidikan Kristen perlu diintegrasikan secara bijaksana agar tujuan pengajaran tidak hanya membentuk perilaku luar, tetapi juga menyentuh pertumbuhan iman anak secara holistik. Kata kunci: Behavioristik. Anak. Pendidikan Agama Kristen. Penguatan. Pembentukan Perilaku. Integrasi ABSTRACT This study aims to examine the application of behaviorist psychological theory in Christian religious education for children, highlighting both theoretical perspectives and practical implementation in the learning context. The main issue addressed is how behaviorist principles which emphasize stimulus-response, reinforcement, and the shaping of behavior through habituation can be effectively utilized in forming children's character and religious understanding within Christian education. The purpose of this paper is to evaluate the relevance and effectiveness of this theory in creating a learning process that supports children's spiritual and moral development from an early age. The method employed in this study is library research, through the analysis of various literature related to behaviorist theory and Christian education for children. A descriptive-qualitative approach is used to describe and interpret theoretical concepts and their applications in the context of religious The findings indicate that behaviorist theory can make a significant contribution to Christian religious education for children, particularly through the use of positive reinforcement methods, repetition of material, and the development of spiritual habits. For example, reinforcement in the form of praise or rewards when a child shows loving behavior or memorizes Bible verses can strengthen the desired positive behaviors. However, this approach must be complemented with elements of love, personal relationships, and Christian faith values to avoid a purely mechanistic application. Therefore, the implementation of behaviorist theory in Christian education should be integrated wisely so that the goal of teaching is not only to shape external behavior but also to foster the holistic growth of a childAos faith. Keywords: Behaviorism. Children. Christian Religious Education. Reinforcement. Behavior Formation. Integration. PENDAHULUAN Pembelajaran dalam segala hal memerlukan sebuah teori yang dapat diadaptasi dan di aplikasikan untuk model belajar. Dalam hal ini penting untuk dikaji pendekatan psikologi Pendidikan yang dihadirkan dari para tokoh psikologi yaitu pendekatan Perilaku . Pendekatan ini akan selalu dipakai dalam setiap proses pembelajaran dengan sajian yang bervariasi dari para ahli dibidangnya yang akan membuat kita paham betapa pentingnya sebuah pendekatan yang menghasilkan perubahan. Pendekatan ini sangat penting untuk membuat kesinambungan antara teori psikologi dengan Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Agama Kristen (PAK) secara khusus PAK anak memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan iman anak sejak usia dini. Dalam tahap perkembangan awal, anak berada dalam fase yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman konkret, dan pengulangan perilaku. 1 Oleh karena itu, penting bagi para pendidik Kristen untuk memahami pendekatan pedagogis yang efektif dan sesuai dengan tahapan perkembangan psikologis anak. Salah satu pendekatan yang dapat dijadikan pijakan adalah teori psikologi behavioristik, yang menekankan pada pengamatan terhadap perilaku tampak dan pengaruh lingkungan dalam membentuk respons individu melalui proses stimulus dan respons. Teori behavioristik, yang berkembang dari pemikiran tokoh-tokoh seperti John B. Watson. Ivan Pavlov, dan B. Skinner, memiliki kontribusi besar dalam dunia pendidikan. Inti dari pendekatan ini adalah bahwa perilaku dapat dipelajari, dibentuk, dan dimodifikasi melalui penguatan . serta hukuman . Dalam konteks pendidikan anak, terutama dalam pembelajaran agama, pendekatan ini menawarkan metode yang terstruktur dalam membentuk kebiasaan positif dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kekristenan. Melalui pembiasaan dan pengulangan respons yang diinginkan, anak-anak dapat diarahkan untuk menginternalisasi nilai-nilai iman, seperti kasih, ketaatan, kejujuran, dan pengampunan. Dalam praktik pendidikan Agama Kristen, sering kali muncul tantangan dalam menyampaikan nilainilai abstrak seperti iman dan kasih kepada anak-anak yang masih berada dalam tahap perkembangan kognitif Di sinilah teori behavioristik dapat menjadi alat bantu pedagogis yang relevan. Dengan menggunakan penguatan positif berupa pujian, hadiah kecil, atau pengakuan sosial ketika anak menunjukkan perilaku yang sesuai dengan ajaran Kristen, guru dapat membentuk pola perilaku yang konsisten dan selaras dengan nilai-nilai 3 Sebaliknya, perilaku yang bertentangan dapat dikoreksi dengan cara yang bijak dan membangun, sesuai dengan prinsip pedagogi Kristen yang menekankan kasih dan disiplin. Namun demikian, penerapan teori behavioristik dalam pendidikan Kristen anak tidak dapat dilakukan secara kaku atau mekanistik. Salah satu kritik utama terhadap pendekatan behavioristik adalah kecenderungannya untuk mengabaikan aspek batiniah dan motivasi internal individu. Dalam pendidikan Kristen, tujuan pembelajaran tidak hanya terbatas pada perubahan perilaku eksternal, tetapi juga pada pertumbuhan iman yang bersifat personal dan relasional dengan Allah. Oleh sebab itu, perlu adanya integrasi antara pendekatan behavioristik dengan nilai-nilai spiritual Kristen, agar pendidikan yang diberikan bersifat holistik dan tidak terjebak dalam rutinitas tanpa makna. Kebutuhan untuk mengintegrasikan teori psikologi modern dengan prinsip-prinsip iman Kristen merupakan suatu upaya yang penting dalam konteks pendidikan masa kini. Pendidikan Kristen anak harus bersifat kontekstual dan responsif terhadap perkembangan psikologi anak serta dinamika zaman. Dengan menelaah teori behavioristik secara kritis dan bijaksana, pendidik Kristen dapat memanfaatkan aspek-aspek positif dari teori ini tanpa mengorbankan esensi spiritualitas Kristen. Hal ini memerlukan pemahaman mendalam terhadap prinsip-prinsip behavioristik, serta kepekaan dalam menerapkannya dalam konteks Abraham Tefbana. AiPendekatan Reward Dan Punishment Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa,An Jurnal Luxnos 10, no. 1 (January 2. : 43Ae57. Edward S. Murphy. The Wiley Blackwell Handbook of Operant and Classical Conditioning (Chichester: Wiley, 2. , 3Ae5. Skinner. Science and Human Behavior (New York: Macmillan, 2. , 24Ae25. pengajaran iman yang mengutamakan kasih karunia, hubungan personal dengan Tuhan, dan transformasi hati. Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana prinsip-prinsip behavioristik dapat diterapkan secara efektif dalam pendidikan Agama Kristen anak. Penulis hendak mengkaji baik dari sisi teoritis maupun dari praktik implementasinya di lingkungan pembelajaran Kristen, dengan menekankan pentingnya penyesuaian pendekatan behavioristik terhadap tujuan utama pendidikan iman. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan studi pustaka, tulisan ini mengumpulkan dan menganalisis berbagai sumber ilmiah yang relevan, termasuk teori-teori psikologi pendidikan dan literatur teologis yang berkaitan dengan pendidikan anak. Melalui kajian ini, diharapkan muncul pemahaman baru mengenai bagaimana strategi penguatan perilaku dapat digunakan bukan hanya untuk membentuk tindakan lahiriah anak, tetapi juga menjadi sarana awal untuk membangun kedisiplinan rohani dan kesadaran iman. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang tidak hanya mengajarkan anak untuk Aiberperilaku baik,An tetapi juga membantu mereka untuk memahami alasan moral dan spiritual di balik perilaku tersebut. Oleh karena itu, pendekatan behavioristik dalam pendidikan Kristen tidak boleh berdiri sendiri, melainkan perlu dipadukan dengan pendekatan yang memperhatikan perkembangan spiritual, emosional, dan sosial anak secara utuh. Theory Behaviorism Cognitivism Humanism Key Pavlov Watson Thorndike Skinner Bandura Ausubel Bruner Gagne Piaget Maslow Roger Comb Focus Key Term Learner Role Passive Responden Teacher Role Behavior Enviromet Stimulus Response Punishment Reinforcment Thingking Cognitive Structure Understanding Information Processing Active Participan Guide Arranger of learning The Person Feeling Attitude Self Actualiazation Values Clarification Sef-directed Facilitator Manager of Environment Tabel 1. 1 Psicology Foundation of Teaching Dengan latar belakang tersebut, tulisan ini akan membahas lebih lanjut tentang konsep dasar teori behavioristik, aplikasinya dalam pendidikan anak Kristen, serta batasan dan tantangan yang perlu diperhatikan. Harapannya, pembaca khususnya para pendidik dan penggiat pendidikan Kristen dapat memperoleh wawasan yang konstruktif dalam membangun model pengajaran yang efektif, kontekstual, dan setia pada prinsip iman Kristen. METODE PENELITIAN Penulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Metode ini dipilih karena mampu menggali secara mendalam konsep-konsep teoritis mengenai penerapan teori psikologi behavioristik dalam pendidikan Agama Kristen anak. Penelitian kualitatif bertujuan memahami fenomena berdasarkan kondisi alamiah, dengan analisis bersifat deskriptif dan interpretatif. Studi pustaka dilakukan melalui telaah terhadap berbagai sumber literatur, seperti buku ilmiah, jurnal, tesis, dan artikel yang relevan dengan topik pembahasan. Pendekatan ini memberikan landasan konseptual yang kuat dan mendalam sebagai dasar dalam menyusun analisis dan pembahasan. Seluruh data dan informasi yang dikumpulkan bersifat dokumentatif, dapat diverifikasi, serta mendukung akurasi akademik dari hasil kajian yang disajikan. Edward S. Murphy. The Wiley Blackwell Handbook of Operant and Classical Conditioning , 3Ae5. Skinner. About Behaviorism (New York: Vintage, 2. , 47. Skinner. About Behaviorism , 55Ae56. HASIL DAN PEMBAHASAN Landasan Teori Behavioristik dalam Pendidikan Anak Teori psikologi behavioristik berakar pada pemikiran bahwa perilaku manusia dapat dipelajari dan dibentuk melalui interaksi dengan lingkungan sosial. Tokoh-tokoh utama seperti B. Skinner menekankan pentingnya reinforcement . dan punishment . dalam memodifikasi Dalam konteks pendidikan anak, teori ini menyediakan kerangka kerja yang terstruktur dalam membentuk kebiasaan melalui pembiasaan, repetisi, dan respons terhadap stimulus tertentu. Dalam pendidikan Agama Kristen anak, konsep ini relevan karena anak-anak pada usia dini belajar lebih efektif melalui pengalaman konkret dan pengulangan. Mereka cenderung belum mampu memahami konsep-konsep abstrak iman secara mendalam. Oleh karena itu, behaviorisme dapat menjadi pintu masuk untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan Kristen seperti berdoa, membaca Alkitab, dan menunjukkan kasih melalui tindakan nyata. Namun, penting untuk diingat bahwa behaviorisme cenderung berfokus pada aspek luar perilaku dan bukan motivasi batin. Maka, dalam konteks pendidikan Kristen, pendekatan ini tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya kerangka pedagogis. Pendekatan Behaviorostik . endekatan perilak. yaitu pendekatan yang berpusat pada usaha untuk mempelajari bagaimana lingkungan mempengaruhi perilaku manusia secara sederhana dan kompleks. Dalam teori ini pengajar mengendalikan proses belajar dan anak didik menjadi penerima pembelajaran secara pasif . ssociationist-conectio. koneksi-stimulasi-tanggapan. Teori belajar behavioristik ialah teori yang mempelajari perilaku manusia. Teori ini berfokus pada peran dari belajar dalam menjelaskan tingkah laku manusia dan terjadi melalui rangsangan atau stimulus yang menimbulkan hubungan perilakuyang reaktif atau respon. Dalam teori behavioristik, tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh aturan, bisa diramalkan dan bisa ditentukan. Teori belajar behavioristik merupakan proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulusrespon. Belajar menurut teori ini adalah suatu kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan. Belajar tidaknya seorang anak bergantung pada faktor-faktor kondisional yang diberikan oleh Teori belajar behaviorisme mengutamakan pengamatan tingkah laku dalam mempelajari individu dan bukan mempelajari bagian dalam tubuh atau mencermati penilaian. Teori belajar ini dapat diamati secara objektif karena jika ingin menelaah kejiwaan seseorang, maka amatilah perilaku yang muncul sehingga dapat memperoleh data yang dapat dipertanggungjawabkan Ivan Pavlov . menampilkan kajiannya dengan menggunakan Anjing dan makanan yang disebut dengan Classical conditioning. Pavlov menggunakan teori Classical Conditioning yang menyatakan bahwa belajar melalui latihan & pembiasaan dapat membuat perubahan yang signifikan. Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang terus menerus yang timbul sebagai akibat dari pesyaratan kondis, dan sifatnya adalah membentuk hubungan antara stimulus dengan respon, belajar dan perubahan tingkah laku tidak dapat dipisahkan. Setiap perubahan adalah belajar dan setiap belajar adalah perubahan. Edward Lee Thorndike . menggunakan teori koneksionisme yang menekankan bahwa belajar terdiri dari pembentukan ikatan atau interaksi antara stimulus dan respon yang terbentuk melalui Thorndike dengan teori Connectionism hubungan stimulasi dan respon S-R . enelitiannya mengajukan 3 hukum yaitu kesiapan, pelatihan dan, akibat ). Jhon B. Watson dengan teorinya bahwa perilaku dapat diprediksi, dikendalikan dan dibentuk jika dilakukan berulang ulang . ilatih ). mengatakan tiga prinsip yaitu menekankan respon terkondisi sebagai elemen untuk membangun perilaku, perilaku di pelajari sebagai pengaruh lingkungan dan memusatkan pada perilaku hewan. BF Skinner . dengan teorinya Operant Conditioning yang menyodorkan reinforcement . enekanan ulan. yang membuat subyek memberi tanggapan. Tingkah laku menjadi fokus dalam satu Dalam teorinya akibat-akibat yang menentu akan menekan perilaku individu. Skinner menggunakan teori Operant Conditioning yang menduga reward atau reinforcement menjadi faktor terpenting dalam belajar. Ia membuat tiga asumsi pertama, perilaku menurut Hukum. Kedua, perilaku Ahmad Syawaludin. AiReward and Punishment in the Perspective of Behaviorism Learning Theory and Its Implementation in Elementary School,An SHEs: Conference Series 2, no. 1 (January 2. : 12Ae28. Abidin A. Mustika. AiPenerapan Teori Belajar Behaviorisme Dalam Pembelajaran Studi Pada Anak ,An Jurnal Pendidikan dan Konseling 15, no. 1 (January 2. : 15Ae35. Haryu Islamuddin. Psikologi Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2. , 80. Haryu Islamuddin. Psikologi Pendidikan , 80. manusia tidak dapat dijelaskan dengan mekanisme psikis seperti ide dan ego. Ketiga, perilaku manusia tidak di tentukan oleh Individual. 11 Albert Bandura pada teori Operan conditioning ia mengemukakan bahwa perubahan terjadi karena pengamatan terhadap orang lain dalam lingkungannya yang dijadikan Ia memberi kesimpulan bahwa hampir semua tingkah laku seseorang telah dipelajari secara sengaja atau tidak sengaja melalui modelling. Prinsip-Prinsip Belajar Behaviorisme Gaya Behaviorisme telah digunakan dalam pendidikan untuk waktu yang lama untuk mendorong perilaku yang diinginkan dan untuk mencegah perilaku yang tidak diinginkan. Stimulus dan Respons Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa misalnya alat peraga, gambar atau charta tertentu dalam rangka membantu belajarnya. Sedangkan respons adalah reaksi siswa terhadap stimulus yang telah diberikan oleh guru tersebut. Reaksi ini haruslah dapat diamati dan diukur. Konsekuensi yang menyenangkan akan memperkuat perilaku disebut penguatan . sedangkan konsekuensi yang tidak menyenangkan akan memperlemah perilaku disebut dengan hukuman . Penguatan positif dan negatif serta pemberian stimulus positif yang diikuti respon disebut penguatan positif. Sedangkan mengganti peristiwa yang dinilai negatif untuk memperkuat perilaku disebut penguatan negatif. Penguatan primer dan sekunder adalah penguatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan fisik. Sedangkan penguatan sekunder adalah penguatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan non fisik. Kesegeraan memberi penguatan . Penguatan hendaknya diberikan segera setelah perilaku muncul karena akan menimbulkan perubahan perilaku yang jauh lebih baik dari pada pemberian penguatan yang diulur-ulur waktunya. Pembentukan perilaku (Shappin. menurut skinner untuk membentuk perilaku seseorang diperlukan langkahlangkah berikut: Mengurai perilaku yang akan dibentuk menjadi tahapan-tahapan yang lebih rinci Menentukan penguatan yang akan digunakan Penguatan terus diberikan apabila muncul perilaku yang semakin dekat dengan perilaku yang akan Dalam konteks pendidikan Agama Kristen anak, prinsip ini memiliki potensi besar untuk membantu membentuk perilaku-perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Kristiani, selama digunakan dengan bijaksana dan dalam kerangka iman. Penguatan Positif dalam Konteks Pendidikan Kristen Penguatan positif . ositive reinforcemen. merupakan metode yang sangat efektif dalam menumbuhkan perilaku baik anak. Dalam pendidikan Kristen, bentuk-bentuk penguatan positif dapat berupa pujian verbal (AiBagus sekali kamu sudah mau berdoaA. , penghargaan simbolik . tiker, bintang, atau penghargaan haria. , maupun pengakuan sosial di depan teman-teman saat seorang anak menunjukkan sikap Kristiani, seperti membantu teman, bersikap jujur, atau menghafal ayat Alkitab dengan baik. Anak usia dini sangat responsif terhadap penguatan jenis ini karena mereka masih berada dalam fase perkembangan kognitif yang sangat bergantung pada pengalaman konkret dan penilaian eksternal. Dengan pengulangan perilaku yang diperkuat secara positif, lama-kelamaan perilaku tersebut menjadi Misalnya, ketika anak secara konsisten menerima pujian karena bersikap ramah, mereka mulai melihat keramahtamahan sebagai sesuatu yang penting dan terpuji, dan bukan sekadar tindakan yang menghasilkan hadiah. Namun, perlu dicatat bahwa penguatan positif yang terlalu sering digunakan secara dangkal atau bersifat manipulatif dapat menimbulkan ketergantungan. Anak mungkin hanya akan melakukan tindakan baik jika ada imbalan. Oleh karena itu, guru atau pendidik Kristen harus memberikan penguatan dengan penuh kesadaran, dan mengaitkannya dengan nilai-nilai rohani, bukan sekadar penghargaan lahiriah. Selain penguatan positif, teori behavioristik juga mengenal penguatan negatif dan hukuman . Dalam praktik pendidikan Kristen anak, penguatan negatif dapat dilakukan dengan cara menghilangkan sesuatu yang menyenangkan agar anak memahami konsekuensi dari perilaku negatifnya. Junihot Simanjuntak. Psikologi Pendidikan Agama Kristen (Yogyakarta: PBMR, 2. , 25. Junihot Simanjuntak. Psikologi Pendidikan Agama Kristen, 41Ae42. Deice Miske Poluan. AiMengaktualisasikan Pendidikan Agama Kristen Anak Dalam Pelayanan Misi,An SIKIP: Jurnal Pendidikan Agama Kristen 4, no. 2 (February 2. : 95Ae103. Contohnya, seorang anak yang mengganggu teman saat pelajaran mungkin tidak diizinkan untuk bermain di akhir sesi belajar. Namun, penting untuk membedakan antara penguatan negatif yang mendidik dengan hukuman yang menghukum secara emosional. Dalam pendekatan Kristen, koreksi terhadap perilaku anak tidak boleh dilakukan dengan kemarahan atau penghinaan, melainkan dengan kasih yang membangun. Anak perlu tahu bahwa koreksi diberikan bukan karena mereka dibenci, tetapi karena mereka dikasihi dan diarahkan kepada jalan yang benar, sebagaimana prinsip Alkitab yang menyatakan. Aikarena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-NyaAn (Ibrani 12:. Pendidik Kristen harus menciptakan keseimbangan antara kasih dan disiplin, sehingga anak-anak tidak takut akan hukuman, tetapi memahami nilai pertobatan dan perubahan sikap sebagai respons terhadap kasih Tuhan. Pentingnya Penjelasan Nilai dan Makna Iman Dalam pendidikan Agama Kristen, penguatan baik positif maupun negatif tidak boleh digunakan semata-mata untuk menciptakan kepatuhan lahiriah. Tujuan utama dari pendidikan Kristen adalah transformasi hati, pertumbuhan iman, dan pembentukan karakter yang mencerminkan Kristus. Oleh karena itu, setiap tindakan penguatan harus dibingkai dalam pemahaman rohani. Misalnya, ketika seorang anak menunjukkan kebaikan, guru tidak hanya memuji, tetapi juga menjelaskan bahwa perbuatan itu mencerminkan kasih Kristus. Penanaman nilai spiritual ini dapat dilakukan dengan cara yang sederhana namun bermakna, seperti menghubungkan tindakan baik dengan ayat Alkitab atau kisah Yesus. Dengan demikian, anak tidak hanya Aimelakukan karena diberi bintang,An tetapi juga mulai mengembangkan motivasi batiniah untuk melakukan hal yang benar karena ia mengasihi Tuhan. Pendekatan ini juga membantu anak mengenali bahwa iman Kristen bukan sekadar serangkaian aturan perilaku, melainkan relasi dengan Allah yang mengubah hidup. Penguatan menjadi sarana untuk menanamkan firman Tuhan secara praktis dan kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Keberhasilan penerapan penguatan dalam pendidikan Kristen sangat bergantung pada kualitas hubungan antara pendidik dan anak. Anak akan lebih terbuka terhadap arahan dan penguatan ketika mereka merasa aman, diterima, dan dihargai. Oleh karena itu, membangun hubungan yang hangat, penuh kasih, dan saling percaya adalah prasyarat utama dalam implementasi metode ini. Selain itu, pendidik Kristen juga harus menjadi teladan dalam perilaku yang diajarkan. Tidak mungkin menanamkan nilai kasih jika pendidik sendiri bersikap kasar atau tidak sabar. Keteladanan guru menjadi penguatan implisit yang sangat kuat seringkali lebih berpengaruh daripada kata-kata atau hadiah. Dalam tradisi Kristen. Yesus sendiri memberikan teladan dalam cara mendidik para murid-Nya: penuh kesabaran, pengulangan, penguatan, dan kasih yang membentuk karakter. Maka, penerapan prinsip behavioristik yang dilakukan dalam semangat Kristiani seharusnya meniru cara Yesus membentuk para pengikut-Nya bukan dengan tekanan, tetapi dengan relasi, pengajaran berulang, dan kasih yang konsisten. Hubungan Psikologi dengan PAK Anak Hubungan anatara Psikologi dan Pendidikan sangat saling membutuhkan. Mendidik berarti membantu peserta didik untuk berkembang secara optimal, sesuai dengan tujuan Pendidikan dan harus dilakukan sesuai dengan kultur budaya dan kondisi psikologis yang tepat. Satu istilah yang perlu kita renungkan AnPendidikan dapat melengkapi ketidak sempurnaan dalam kodrat alamiah kitaAy (Nicolo Marchiavel. Psikologi dalam Pendidikan Kristen sangatlah erat jika para pendidik Kristen memahami metode dan dapat mengaplikasikan setiap teori psikologi. Pendidik harus memiliki ilmu jiwa yang mampu untuk mengamati, mendeskripsikan perilaku setiap peserta didik. Semua ilmu pengetahuan, termasuk psikologi, yang tidak bertentangan dengan Alkitab berasal dari Tuhan. 18 Psikologi memberikan teori-teori yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran disekolah bagi anak-anak. Seorang pendidik yang baik di sekolah tentunya berusaha mengenal anak Freliyanti. Modul Teori Pembelajaran: Teori-Teori Belajar Dan Penerapannya Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (Palu: Sekolah Tinggi Teologi Bala Keselamatan Palu, 2. , 45Ae46. Deice Miske Poluan. AiMengaktualisasikan Pendidikan Agama Kristen Anak Dalam Pelayanan Misi,An 95Ae103. Arozatulo Telaumbanua. AiAnalysis of Behavioristic Learning Theory Based on John 4:1Ae42 and Its Application in Christian Religious Education,An 89Ae102. Edward S. Murphy. The Wiley Blackwell Handbook of Operant and Classical Conditioning , 3Ae4. Eli Tanya. Gereja Dan Pendidikan Agama Kristen: Mencermati Peranan Pedagogis Gereja (Cipanas: Sekolah Tinggi Teologi Cipanas, 2. , 63. Gembala yang baik di jemaat tentu berusaha mengenal warga jemaatnya. Begitu pula dengan pembina yang baik, ia akan selalu berupaya mengenal kelompok yang dilayaninya. Untuk tujuan itu, ia perlu melakukan analisis situasi. Yang dimaksud dengan analisis situasi ialah menyelididki dan menggambarkan situasi audiens atau peserta didik, atau mereka yang dibina. Tanpa pengenalan yang benar tentang peserta didik maka pembelajaran PAK yang berlangsung, tidak akan memberikan jawaban atas kebutuhan dan pergumulan yang dialami oleh peserta didik. Sayangnya Alkitab tidak secara mendetail memberikan keterangan atau informasi tentang manusia itu sendiri. Karena itulah ilmu psikologi menjadi sangat penting dalam pembelajaran PAK. Oleh karena itu hubungan yang sangat erat antara psikologi dengan Pendidikan Agama Kristen harus terjalin seperti mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Memberi dan melengkapi mungkin menjadi ungkapan yang sangat tepat jika kita menggambarkannya. Ada 13 prinsip pembelajaran yaitu mempunyai tujuan. Tidak merasa terpaksa. Belajar dengan tekun. Harus ada perubahan dari diri individu. Memperoleh hasil sambilan. Selalu berusaha. Harus mempelajari keseluruhan. Memerlukan bimbingan dan bantuan orang lain. Belajar harus dipahami bukan dihafal. Usaha akan memberikan kesuksesan. Mendahulukan pemahaman dan Kemauan belajar dari diri sendiri. 19 Kontribusi psikologi yang jika prinsip ini diterapkan disekolah-sekolah Kristen khususnya dalam pendidikan PAK Anak maka akan sungguh sangat akan mengoptimalkan proses pembelajaran disekolah. Pendidikan Agama Kristen (PAK) bagi anak-anak harus disediakan secara serius dan spesial agar nilai-nilai Pendidikan dapat mendarat dengan tepat bagi anak-anak. Pendidikan Agama Kristen harus diterapkan bagi setiap individu yang dimulai dari anak, sebab anak dianggap sebagai yang akan menjadi generasi penerus. Dan hal ini penting dilakukan oleh Gereja, orang tua, sekolah dan masyarakat serta semua orang percaya untuk memberikan Pendidikan Agama Kristen secara intensif kepada anak. Pendidikan Agama Kristen bagi anak-anak penting difokuskan pada usia 0 sampai 12 tahun, sebab anak-anak harus dididik secara khusus sesuai dengan keadaan mereka, dan pengajarannya juga berbeda dengan cara mendidik anak remaja, selain itu dalam perkembangan segi jasmani, mental, rohani seorang anak berbeda dengan anak yang lain dan setiap tingkat dalam usia anak memiliki perbedaan. Mengajar anak-anak bukanlah hal yang mudah dan sederhana seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang dengan berkata bahwa anak-anak semuanya adalah penurut, gampang dikendalikan dan sebagainya. Namum dalam hal mengajar anak seorang guru atau pendidik haruslah mengerti tentang keberadaan dan kebutuhan seorang anak tersebut sehingga materi yang akan disampaikan dapat diterima oleh anak tersebut. Jhon Dewey menilai bahwa Guru adalah murid advance dalam kelas. Walaupun guru lebih tahu dari murid namun ia bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator dalam proses belajar tersebut. Kebutuhan murid di penuhi melalui proses self-discovery, interaksi dan Anak terlibat secara personal dalam proses belajar dan pelajaran di rencanakan untuk memenuhi kebutuhan dan menolong anak untuk bertumbuh sebagai seorang individu. Jadi seorang guru bukan hanya mengajar isi bahan pelajaran tapi juga mengajar diri murid agar menghasilkan perubahan sikap dan kelakuan. Mengajar PAK anak adalah keharusan bagi setiap pendidik Kristen di jaman sekarang ini apalagi dengan perkembangan dan gempuran dari media dan IPTEK yang menggerus. PAK anak harus dengan tampilan dan wajah baru yang lebih Fresh dan kekinian tanpa meninggalkan nilai-nilai Alkitabiah sebagai pedoman dan pembelajaran disekolah gereja dan dimanapun, terlebih lagi di era 5. Para pendidik dituntut untuk berimprovisasi dalam dunia teknologi yang tidak hanya mendidik dengan model lama/monoton sehingga anak-anak akan lebih responsif. Penerapan Teori Behavioristik dalam PAK Anak Semua teori-teori belajar dari para tokoh psikilogi dapat diterapan dalam PAK anak yang disesuaikan dengan konteks dan situasi yang ada. Jadi seorang pendidik harus memandang setiap murid/individu dalam proses belajar dengan sangat cermat mengetahui minat, bakat hal-hal yang disukai dan tidak. Teori belajar behavioristik ini adalah teori yang menganggap keberhasilan belajar dari perubahan tingkah laku dan pengalaman. Dalam hal mempelajari tingkah laku dengan uji coba pengamataan yang dapat di analisa pada bagian luar/ yang terlihat saja bukan bagian dalam tubuh Daeng Sudirwo. Kurikulum Pembelajaran Dalam Otonomi Daerah (Bandung: Andira, 2. , 15. Daeng Sudirwo. Kurikulum Pembelajaran Dalam Otonomi Daerah, 15. Ruth Haley Barton. Hidup Bersama Dalam Kristus: Mengalami Transformasi Dalam Komunitas (Yogyakarta: Yayasan Gloria, 2. , 75. sehingga aspek mental, kecerdasan, bakat minat, perasaan ataupun emosi pada saat anak-anak belajar. Dalam penerapannya, teori ini juga mendukung penggunaan pengulangan dalam pembelajaran. Anak-anak cenderung belajar lebih baik melalui pengulangan cerita Alkitab, lagu rohani, atau doa-doa Melalui pengulangan yang konsisten, nilai dan ajaran Kristen dapat tertanam kuat dalam diri Misalnya, pengulangan cerita tentang kasih Yesus dapat menanamkan pemahaman bahwa Tuhan mengasihi semua orang, dan anak pun terdorong untuk meneladani kasih itu dalam kehidupan seharihari. Guru PAK juga dapat membuat lingkungan belajar yang kaya akan stimulus positif, seperti gambar tokoh Alkitab, simbol-simbol Kristen, atau papan penghargaan untuk perilaku baik. Lingkungan semacam ini memicu respons yang sesuai dengan nilai-nilai Kristen dan memperkuat motivasi anak untuk bertumbuh dalam iman. Namun, penerapan teori behavioristik dalam PAK anak harus disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak dan prinsip-prinsip kasih dalam kekristenan. Pendekatan ini tidak boleh sematamata mekanis atau manipulatif, melainkan harus dilandasi kasih dan tujuan pembentukan karakter Kristiani. Guru harus mengenal setiap anak secara pribadi dan memberikan penguatan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Implikasi Teori Behavioristik Implikasi Teori belajar Behavioristik ada 6 yaitu pertama pembelajaran ditekankan pada penambahan pengetahuan sedangkan belajar sebagai aktivitas untuk mengungkapkan pembelajaran yang sudah dipelajari. Kedua, peran pendidik merencanakan kurikulum dengan menyusun pengetahuan menjadi bagian kecil yang ditandai dengan keterampilan yang harus dicapai. Ketiga, pelajar adalah objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Keempat, proses belajar memandang pengetahuan adalah objektif pasti, tetap tidak berubah. Kelima, proses belajar terjadi akibat adanya interaksi stimulus dan respon. Keenam, evaluasi hasil belajar di ukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati. Adapun hal-hal yang dapat di aplikasikan dalam pembelajaran PAK anak adalah : Kurikulum. Dimana kurikulum PAK anak harus dirancang dan didesain untuk meningkatkan prestasi belajar yang disesuaikan dengan respon anak-anak Penginjilan pribadi. Penginjilan Pribadi bagi anak sangat perlu diterapkan dengan pendekatan ini agar setiap anak-anak yang sudah diajar diharapkan menghasilkan perubahan dengan pertobatan yang sungguh kepada Kristus Pendekatan Personal. Pendekatan Personal juga menjadi bagian penting yang dapat diterapkan lewat pembelajaran. Pembelajaran dengan metode Audio-visual-Kinestetik. Pembelajaran PAK anak dengan metode ini akan lebih dapat diterima dan dirasakan oleh anak-anak dengan mengeksplorasi hal-hal yang diterima dan dirasakan. Pembelajaran dengan Modelling. Metode pembelajaran ini sangat penting bagi PAK anakanak dikarenakan anak butuh model/role model yang dapat ditiru dan diaplikasikan untuk membentuk karakter yang kuat dan positif dari orang-orang sekitar. Dalam praktiknya, penerapan teori behavioristik dalam pendidikan Kristen anak bisa dilakukan melalui beberapa metode, seperti: Rutinitas spiritual harian: Anak-anak diajak membangun kebiasaan rohani seperti doa sebelum belajar, membaca ayat harian, atau mengucapkan syukur. Sistem penghargaan: Memberikan reward kepada anak yang menunjukkan perilaku Kristen, misalnya memberi pujian saat anak menunjukkan kasih kepada teman atau membantu guru. Latihan berulang: Menggunakan metode hafalan Alkitab secara berulang disertai penguatan untuk menanamkan firman Tuhan. Role playing: Memainkan peran dalam cerita Alkitab dapat memperkuat pemahaman melalui pengalaman langsung yang direspon secara emosional dan perilaku. Guru atau pendidik Kristen harus menjadi teladan dalam menerapkan metode ini secara konsisten, penuh kasih, dan tidak memaksa. Lingkungan belajar pun perlu mendukung, dengan suasana aman, hangat, dan relasional, sehingga anak merasa dihargai dan diterima. Nurul Wahidatur. AiPenerapan Teori Behaviorisme Dalam Pembelajaran,An JOEAI Jurnal of education and Instrucion 6, no. (January 2. : 20Ae35. Junihot Simanjuntak. Psikologi Pendidikan Agama Kristen, 15Ae16. Thomas H. Groome. Christian Religious Education (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 15. KESIMPULAN Teori Behavioristik ini adalah teori yanag dapat di hubungkan dengan pembelajaran PAK walaupun teori ini diciptakan untuk pembelajaran yang hanya dapat dilihat. Oleh sebab itu Para Pendidik, wajib memahami dan mengadaptasi sengan cara yang sesuai untuk usia anak-anak. Meskipun teori behavioristik terbukti efektif dalam membentuk perilaku anak melalui prinsip stimulus-respons dan penguatan, pendekatan ini memiliki keterbatasan signifikan ketika diterapkan dalam konteks pendidikan iman Kristen. Teori ini cenderung berfokus pada perubahan perilaku yang terlihat secara eksternal, namun kurang memperhatikan aspek internal seperti motivasi hati, kebebasan kehendak, dan relasi personal dengan Tuhan hal-hal yang justru menjadi inti dari kehidupan iman Kristen. Jika pendekatan behavioristik diterapkan secara kaku dan tanpa integrasi nilai spiritual, maka ada risiko anak hanya melakukan tindakan baik demi hadiah atau pujian semata, bukan karena kasih yang tulus kepada Tuhan. Oleh sebab itu, sangat penting bagi pendidik Kristen untuk tidak hanya mengandalkan teori behavioristik sebagai satu-satunya pendekatan pedagogis. Pendekatan ini perlu dilengkapi dengan pembentukan karakter dan penanaman nilai spiritual yang mendalam. Integrasi ini dapat diwujudkan, misalnya, dengan menanamkan makna spiritual di balik setiap perilaku yang diperkuat seperti menjelaskan bahwa menunjukkan kasih kepada sesama adalah bentuk ketaatan kepada perintah Kristus. Selain itu, anak-anak juga perlu diajak untuk merenungkan iman mereka, walaupun masih dalam bentuk sederhana, agar terbiasa melihat makna rohani di balik tindakan sehari-hari. Lebih dari itu, prinsip kasih karunia dan pengampunan harus menjadi dasar dalam membentuk perilaku anak, bukan hanya sistem reward dan punishment semata. Dengan pendekatan yang demikian, teori behavioristik tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi alat bantu yang efektif ketika dibingkai dalam kerangka nilai-nilai teologis Kristen. Penguatan perilaku tetap digunakan, tetapi diarahkan untuk mendorong pertumbuhan iman, transformasi hati, dan relasi yang lebih dalam antara anak dengan Tuhan. Pendekatan ini menjadikan pendidikan agama bukan hanya soal kepatuhan lahiriah, tetapi proses pembentukan pribadi anak secara holistik sesuai dengan kehendak Allah. DAFTAR PUSTAKA