Original Research Jurnal Kesehatan Holistic Volume 8. , 10-16 Analisis Hubungan Karakteristik Individu terhadap Kejadian Infeksi Menular Seksual pada Wanita Pekerja Seks di Kota Kupang Analysis of the Relationship between Individual Characteristics and the Incidence of Sexually Transmitted Infections in Female Sex Workers in Kupang City Tuppak Sirait1. Anderias Umbu Roga1. Jacob Ratu1. Anita Christina Sembiring2* Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Program Pascasarjana. Universitas Nusa Cendana. Kupang. Indonesia Jurusan Gizi. Poltekkes Kemenkes Kupang Article History Article info: Received: Mei 9th, 2023 Revised: July 17th, 2023 Accepted: December 16th, 2023 Coresponding author: Name: Anita Christina Sembiring Address: Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Kupang E-mail: anitasembiring83@yahoo. Website: http://ejournal. id/index. php/jkh/ http://dx. org/10. 33377/jkh. pISSN 2548-1843 eISSN 2621-8704 Abstrak Pendahuluan: Infeksi Menular Seksual merupakan penyakit yang menular melalui hubungan seksual dengan pasangan yang memiliki perilaku seksual berisiko tinggi, salah satunya adalah berganti-ganti pasangan seks. Perilaku ini paling mungkin terjadi dengan menggunakan jasa Wanita Pekerja Seks. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karakteristik individu dengan kejadian Infeksi Menular Seksual pada Wanita Pekerja Seks di Kota Kupang. Metode: penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Hasil: analisis bivariat menunjukkan bahwa umur dan lama bekerja memiliki p value < 0,25 sedangkan status perkawinan, pendidikan, jumlah pelanggan, pendapatan dan pengetahuan memiliki p value > 0,25. Kesimpulan: Karakteristik individu yang berhubungan dengan kejadian IMS adalah faktor umur dan lama bekerja. Sedangkan faktor status perkawinan, pendidikan, jumlah pelanggan, pendapatan dan tingkat pengetahuan tidak berhubungan dengan kejadian IMS. Kata Kunci: Infeksi Menular Seksual. Wanita Pekerja Seks Abstract Introduction: Sexually Transmitted Infections are diseases that are transmitted through sexual intercourse with partners who have high-risk sexual behavior, one of which is having multiple sex partners. This behavior is most likely to occur by using the services of female sex workers. Purpose: this study aims to analyze the relationship between individual characteristics and the incidence of sexually transmitted Jurnal Kesehatan Holistic. Volume 08. Issue 01. January, 2024 infections in female sex workers in Kupang City. Methods: this research is a quantitative study with a cross sectional Results: bivariate analysis shows that age and length of work have a p value <0. 25 while marital status, education, number of customers, income and knowledge have a p value > Conclusion: Individual characteristics associated with the incidence of STIs are age and length of work. While the factors of marital status, education, number of customers, income and level of knowledge are not related to the incidence of STIs. Keywords: Sexually Transmitted Infections. Female Sex Workers This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License CC BY -4. Jurnal Kesehatan Holistic. Volume 08. Issue 01. January, 2024 Sirait et al PENDAHULUAN Poin ketiga dari Sustainable Development Goals (SDGAo. yaitu setiap orang harus sehat dan Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah mengurangi kematian akibat penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah salah satu penyakit menular yang ditularkan melalui hubungan seksual, baik melalui vagina, mulut, maupun anus yang disebabkan terutama oleh bakteri, virus, atau protozoa (BKKBN, 2. IMS merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia, lebih dari satu juta kasus IMS terjadi setiap hari di seluruh dunia (WHO, 2. Di Kota Kupang. Nusa Tenggara Timur, tercatat ada sebanyak 1. 286 kasus IMS dengan rincian 1. 235 kasus dialami perempuan dan 51 kasus dialami laki-laki (Dinkes Kota Kupang, 2. Penularan IMS dapat terjadi melalui hubungan seksual dengan pasangan yang memiliki perilaku seksual berisiko tinggi, salah satunya perilaku berganti-ganti pasangan dalam hubungan seksual . ultipartner se. tanpa menggunakan kondom (Chien et al, 2022. Yarbrugh dan Burnham, 2016. Ross et al, 2. Perilaku tersebut paling mungkin terjadi dengan melibatkan Wanita Pekerja Seks (WPS). Pencegahan penularan IMS dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor predisposing, enabling, dan reinforcing (Suadistana, 2. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktorfaktor yang berhubungan dengan kejadian Infeksi Menular Seksual pada Wanita Pekerja Seks di Kota Kupang. Kota Kupang merupakan salah satu kota yang telah resmi menutup tempat prostitusi di daerahnya yang dikenal dengan sebutan AuKarang DempelAy atau disingkat KD. Penutupan tersebut berdasarkan Surat Keputusan Walikota Kupang Nomor 176/KEP/HK/2018 tentang penutupan lokasi Karang Dempel yang berlaku mulai 1 Januari 2019. Tujuan dari keputusan tersebut adalah untuk membebaskan kota dari praktek itu. tentang prostitusi, seperti yang dipikirkan Walikota Surabaya ketika menutup tempat prostitusi "Dolly" (Kleden, 2. Meski pemerintah telah mendirikan lembaga pelatihan vokasi bagi mantan WPS dan bahkan belum mempertimbangkan menjadikan WPS sebagai profesi, hal itu dinilai belum efektif karena masih ada beberapa tempat yang menawarkan layanan serupa di Kota Kupang. Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti bermaksud untuk mengidentifikasi karakteristik responden terkait prevalensi Infeksi Menular Seksual (IMS) pada wanita pekerja seks (WPS) di Kota Kupang. Sehingga hasil penelitian dapat memberikan informasi yang berguna untuk menentukan pencegahan IMS. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional yang dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis korelasi antara faktor risiko dengan faktor efek data penelitian. Jumlah sampel dan Teknik sampling Seluruh WPS yang ada di Kota Kupang merupakan populasi dalam penelitian ini. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah secara incidental sampling dengan memperhatikan kriteria inklusi dan ekslusi. Oleh karena jumlah populasi dalam penelitian ini tidak diketahui maka penentuan besar sampel menggunakan rumus Lameshow, sehingga didapatkan besar sampel sebanyak 68 orang. Instrumen Dalam melakukan pengumpulan data, peneliti menggunakan instrumen berupa kuesioner yang berisikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui karakteristik individu yang terdiri dari: umur, pendidikan, status perkawinan, lama bekerja sebagai WPS, jumlah pelanggan, dan pendapatan per minggu serta mengukur pengetahuan responden tentang IMS dengan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reabilitasnya. Proses pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dengan cara menyebarkan kuesioner dan melakukan wawancara kepada WPS secara langsung di tempat mereka bekerja. Proses pengumpulan data dilaksanakan pada bulan November sampai Desember 2022. Setiap kuesioner yang telah selesai diisi kemudian dicek kelengkapannya dan dikumpulkan untuk diolah dan dianalisis. Jurnal Kesehatan Holistic. Volume 08. Issue 01. January, 2024 Analisis Hubungan Karakteristik Individu terhadap Kejadian Infeksi Menular Seksual pada Wanita Pekerja Seks di Kota Kupang Analisis Data yang telah dikumpulkan akan diolah melalui proses editing, coding, data entry, dan cleaning Kemudian, data dianalisis secara univariat untuk melihat distribusi frekuensi masing-masing bivariat untuk melihat hubungan antara variabel bebas dan terikat. Proses ini dilakukan dengan menggunakan aplikasi pengolahan data SPSS. Etika Penelitian Dalam rangka melindungi hak-hak responden, maka penelitian ini telah melalui proses kaji etik dan mendapatkan persetujuan dengan Nomor: 202249-KEPK. HASIL Tabel 1 Karakteristik Individu . Karakteristik Umur < 32 tahun > 32 tahun Tingkat pendidikan Tidak sekolah SMP SMA Status perkawinan Belum menikah Menikah Cerai Lama bekerja jadi WPS < 6 tahun > 6 tahun Jumlah pelanggan < 16 orang/minggu > 16 orang/minggu Pendapatan per minggu < Rp2. > Rp2. Pengetahuan Tinggi Rendah Berdasarkan tabel 1, diketahui bahwa rata-rata umur responden adalah 32 tahun dan paling banyak berusia sama dengan atau di bawah 32 tahun dengan persentase sebesar 60,3%. Selanjutnya, tingkat pendidikan responden yang tamat SMP memiliki persentase terbesar . ,6%) dibandingkan dengan tingkat pendidikan yang lain. Responden paling banyak memiliki status perkawinan cerai dengan persentase sebesar 73,5%. Berikutnya, responden yang telah bekerja sebagai WPS selama 6 tahun dan/atau kurang dari itu memiliki persentase terbesar . ,2%). Lalu, responden yang melayani sebanyak lebih dari 16 pelanggan per minggu memiliki persentase terbesar . ,9%). Pendapatan WPS per minggu rata-rata sebesar dua juta delapan ratus ribu rupiah dan paling banyak responden . memiliki pendapatan lebih dari Rp 2. 000 per minggu. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan tentang IMS yang rendah . 4%). Jurnal Kesehatan Holistic. Volume 08. Issue 01. January, 2024 Sirait et al Tabel 2 Hubungan Karakteristik Individu terhadap IMS . IMS Karakteristik Individu Umur < 32 tahun > 32 tahun Status Perkawinan Belum menikah Menikah Cerai Pendidikan Tidak sekolah SMP SMA Lama bekerja jadi WPS < 6 tahun > 6 tahun Jumlah pelanggan < 16 orang/minggu > 16 orang/minggu Pendapatan per minggu < Rp2. > Rp2. Pengetahuan Tinggi Rendah * Signifikan pada p<0,05 Positif Negatif p value 16,17 0,038* 0,088 0,732 0,116 0,035* 0,469 0,665 Berdasarkan tabel 2, dapat dilihat bahwa hasil uji chi square menunjukkan adanya hubungan antara umur dan kejadian IMS, artinya semakin muda umur responden maka risiko terkena IMS juga semakin besar. Tidak ada hubungan antara status perkawinan dan kejadian IMS, artinya walaupun responden belum menikah dan sudah menikah memiliki risiko yang sama untuk terkena IMS. Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan responden terhadap kejadian IMS, artinya responden yang tidak sekolah maupun yang berpendidikan SD. SMP maupun SMA memiliki peluang yang sama untuk terkena IMS . Ada hubungan lama bekerja sebagai WPS terhadap kejadian IMS, artinya semakin lama responden bekerja sebagai WPS maka semakin tinggi risiko WPS terkena IMS. Tidak ada hubungan jumlah pelanggan terhadap kejadian IMS, artinya responden yang melayani banyak pelanggan memiliki peluang yang sama besar dengan responden yang melayani sedikit pelanggan untuk terkena IMS. Tidak ada hubungan antara jumlah pendapatan responden terhadap kejadian IMS, artinya WPS yang memiliki pendapatan di atas rata rata maupun di bawah rata rata tetap memiliki peluang yang sama untuk terkena IMS. Tidak ada hubungan antara pengetahuan responden terhadap kejadian IMS, responden yang memiliki pengetahuan yang tinggi juga memiliki peluang yang sama terkena IMS dengan responden yang berpengetahuan rendah. PEMBAHASAN Umur merupakan salah satu unsur penting yang mempengaruhi aktivitas seksual seseorang, dimana orang yang lebih dewasa memiliki pertimbangan yang lebih banyak dalam melakukan aktivitas seksualnya dibandingkan dengan orang yang belum dewasa. Semakin muda umur seorang wanita. Jurnal Kesehatan Holistic. Volume 08. Issue 01. January, 2024 Analisis Hubungan Karakteristik Individu terhadap Kejadian Infeksi Menular Seksual pada Wanita Pekerja Seks di Kota Kupang maka akan semakin rawan tertular IMS. Pada penelitian ini sebagian besar responden berusia sama dengan atau di bawah 32 tahun sebanyak 60,3%, dengan usia termuda adalah 20 tahun dan usia tertua adalah 57 tahun, usia ini termasuk ke dalam usia dewasa. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Simanjuntak . dimana usia rata rata WPS adalah 20-24 tahun juga termasuk ke dalam usia remaja. Hasil uji Chi Square menunjukkan bahwa ada hubungan antara umur dan kejadian IMS, artinya semakin muda umur responden maka resiko terkena IMS juga semakin besar. Menurut Green, tingkat pendidikan merupakan karakteristik individu yang menjadi salah satu faktor predisposisi dalam membentuk perilaku sehat. Tingkat pendidikan seseorang akan akan mempengaruhi cara pandangnya dalam menghadapi suatu masalah. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa sebagian besar responden berpendidikan terakhir SMP/sederajat, yaitu sebanyak 31 orang responden . ,6%). Beberapa penelitian yang ada juga menyebutkan proporsi responden sebagian besar memiliki pendidikan rendah yaitu SD dan SMP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berstatus cerai yaitu sebanyak 50 responden . ,5%). Hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian Simanjuntak . yang menunjukkan bahwa WPS berstatus janda dominan di Kabupaten Deli Serdang yaitu sebanyak 48,8%. Studi lain oleh Miankouhi et al. juga ditemukan bahwa proporsi responden dengan status perkawinan WPS tertinggi Perempuan yang bercerai bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, tetapi karena mereka tidak memiliki pendidikan dan keterampilan untuk bersaing di dunia kerja. WPS adalah pilihan Orang yang menikah cenderung memiliki pengalaman seksualitas yang lebih baik, sehingga pengetahuan tentang penyakit menular seksual juga meningkat. Angka kejadian IMS lebih tinggi pada orang yang tidak menikah, bercerai atau terpisah dari keluarganya dibandingkan pada orang yang menikah karena kebutuhan seksualnya telah terpenuhi. Lama kerja WPS juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi kejadian IMS. Semakin lama seorang perempuan bekerja sebagai WPS, semakin tinggi paparan IMS. Namun perlu diingat bahwa paparan hubungan seksual yang mengakibatkan WPS tertular IMS dapat terjadi saat kontak seksual pertama jika pasangan seksualnya mengidap IMS. Faktor risiko selanjutnya adalah jumlah klien yang dilayani oleh WPS. Semakin banyak klien yang dilayani, semakin besar kemungkinan seseorang menularkan IMS ke WPS. Sebaliknya, jika WPS terinfeksi IMS, lebih banyak klien yang mungkin terinfeksi. Namun, sejumlah kecil klien dapat mengurangi tawaran WPS atas penggunaan kondom karena takut kehilangan klien. Selain itu, rendahnya jumlah mitra bisnis menunjukkan bahwa klien tetap WPS memainkan peran penting dalam mempertahankan tingginya prevalensi IMS pada WPS. Tingkat pendapatan seringkali bergantung pada kemampuan seseorang untuk mengakses layanan kesehatan dan mencegah penyakit melalui gaya hidup sehat. Hasil analisis bivariat menunjukkan dengan nilai p = 0,732 tidak ada hubungan antara pendapatan dengan kejadian PMS. Artinya, responden dengan pendapatan di atas dan di bawah median memiliki risiko yang sama untuk tertular penyakit menular seksual. Hal ini mungkin karena pendapatan yang diperoleh responden tidak digunakan untuk perawatan kesehatan pribadi tetapi untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini terkait dengan status responden yang sebagian besar adalah janda dan tulang punggung tunggal untuk Pengetahuan adalah hasil dari pengetahuan dan muncul setelah seseorang mempersepsi objek tertentu melalui indranya. Informasi merupakan faktor yang sangat penting dalam membentuk tingkah laku atau tindakan manusia. Audina mencatat bahwa ada korelasi antara pengetahuan yang buruk dan perilaku proaktif, artinya semakin buruk pengetahuannya, semakin kurang baik dia berperilaku atau Perilaku yang diinformasikan lebih baik daripada perilaku yang tidak diinformasikan. Pada umumnya pengetahuan manusia diperoleh dari pengalaman-pengalaman yang dikumpulkan dari berbagai sumber. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden kurang mendapat informasi tentang penyakit menular seksual. Responden tidak tahu menahu tentang penyakit akibat hubungan seksual. Rata-rata responden juga tidak tahu apa-apa tentang manfaat Namun berdasarkan hasil uji chi-square dapat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara Jurnal Kesehatan Holistic. Volume 08. Issue 01. January, 2024 Sirait et al pengetahuan dan IMS. Artinya, walaupun memiliki pengetahuan yang baik tentang IMS, seorang WPS juga tetap memiliki peluang terkena IMS. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa karakteristik individu yang berhubungan dengan kejadian IMS adalah faktor umur dan lama bekerja. Sedangkan faktor status perkawinan, pendidikan, jumlah pelanggan, pendapatan dan tingkat pengetahuan tidak berhubungan dengan kejadian IMS. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih kepada dosen dan staf Program Pascasarjana Universitas Nusa Cendana, responden penelitian, dan semua pihak yang telah terlibat dalam penelitian ini. REFERENCES