Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. November 2025 Keterampilan Kolaborasi Mahasiswa PGSD dalam Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum: Analisis Deskriptif Kuantitatif Menggunakan Weighted Mean Score Yessi Rifmasari Universitas Adzkia Email: yessi. rifmasari87@gmail. RIWAYAT ARTIKEL Received: 2025-11-14 Revised : 2025-11-25 Accepted: 2025-11-29 KEYWORD PGSD Students. Curriculum Development. Quantitative Descriptive. Weighted Mean Score KATA KUNCI Mahasiswa PGSD. Pengembangan Kurikulum. Deskriptif Kuantitatif. Weighted Mean Score ABSTRACT Collaborative skills are an important 21st-century competency that elementary school teacher education (PGSD) students must possess, especially in curriculum development courses that require group analysis and curriculum design skills. This study aims to analyze the level of collaborative skills of PGSD students using a quantitative descriptive approach with the Weighted Mean Score (WMS) The research subjects consisted of 55 students, while the instruments were developed based on five dimensions of collaboration according to Johnson and Johnson, namely effective communication, collaborative responsibility, promotive interaction, decision making, and collaborative presentation. The results showed that collaboration skills were in the good category (WMS = 3. but did not reach the ideal standard of 75%. The dimension of promotive interaction had the highest achievement . %), while collaborative presentation was the lowest aspect . %). These findings indicate the need to strengthen individual accountability and integrate group work results, especially at the final presentation stage. This study confirms that social interdependence-based cooperative learning has great potential to improve the collaboration skills of PGSD students. ABSTRAK Keterampilan kolaborasi merupakan kompetensi penting abad ke-21 yang harus dimiliki mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), terutama dalam mata kuliah Pengembangan Kurikulum yang menuntut kemampuan analisis dan perancangan kurikulum secara kelompok. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat keterampilan kolaborasi mahasiswa PGSD menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik Weighted Mean Score (WMS). Subjek penelitian terdiri dari 55 mahasiswa, sedangkan instrumen dikembangkan berdasarkan lima dimensi kolaborasi menurut Johnson dan Johnson, yaitu komunikasi efektif, tanggung jawab kolaboratif, interaksi promotif, pengambilan keputusan, dan presentasi kolaboratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan kolaborasi berada pada kategori baik (WMS = 3,. , namun belum mencapai standar ideal 75%. Dimensi interaksi promotif memiliki capaian tertinggi . %), sedangkan presentasi kolaboratif merupakan aspek terendah . %). Temuan ini mengindikasikan perlunya penguatan akuntabilitas individual serta integrasi hasil kerja kelompok, khususnya pada tahap penyajian akhir. 223 | JPI. Vol. No. November 2025 Penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran kooperatif berbasis interdependensi sosial memiliki potensi besar untuk meningkatkan keterampilan kolaborasi mahasiswa PGSD. Pendahuluan Keterampilan kolaborasi merupakan salah satu kompetensi kunci abad ke-21 yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan dan profesi guru. Calon guru sekolah dasar dituntut memiliki kemampuan bekerja sama secara efektif karena dalam praktiknya mereka akan berkolaborasi dengan siswa, rekan sejawat, dan komunitas sekolah. Oleh karena itu, pembelajaran di perguruan tinggi harus memberi ruang bagi mahasiswa PGSD untuk mengembangkan kompetensi kolaboratif secara terstruktur. Dalam mata kuliah Pengembangan Kurikulum, kurikulum, menyusun rancangan kurikulum, serta mengembangkan perangkat pembelajaran melalui kerja kelompok. Namun hasil observasi awal menunjukkan masih terdapat kendala dalam aktivitas kolaboratif, seperti koordinasi yang tidak merata, komunikasi yang kurang efektif, dan kesulitan menyatukan hasil kerja individu menjadi produk Hal ini menunjukkan keterampilan kolaborasi mahasiswa belum berkembang secara Sejumlah pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan komunikasi, koordinasi, dan interaksi sosial mahasiswa PGSD. Namun sebagian besar kajian masih bersifat umum dan belum memberikan gambaran kuantitatif mendalam terkait kualitas kolaborasi pada setiap dimensi keterampilan. Selain itu, kajian empiris khusus dalam konteks mata kuliah Pengembangan Kurikulum masih terbatas. Berdasarkan gap tersebut, penelitian ini bertujuan memberikan gambaran komprehensif tentang PGSD berdasarkan lima dimensi utama kolaborasi. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi empiris dalam pengembangan strategi pembelajaran kooperatif yang adaptif untuk mendukung pengembangan kompetensi kolaborasi calon guru sekolah dasar. Tinjauan Literatur Konsep Keterampilan Kolaborasi Kolaborasi merupakan kemampuan bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang disepakati melalui komunikasi, koordinasi, dan tanggung jawab antaranggota kelompok (Johnson & Johnson, 2. Dalam pendidikan abad ke-21, kolaborasi termasuk dalam kategori 4C . ritical thinking, creativity, collaboration, communicatio. yang penting bagi pembelajaran dan dunia kerja modern (Trilling & Fadel, 2. Kolaborasi dalam Pendidikan Tinggi dan PGSD Di tingkat perguruan tinggi, kolaborasi memungkinkan mahasiswa terlibat dalam pertukaran ide, pemecahan masalah, dan konstruksi pengetahuan secara sosial (Vygotsky, 1. Bagi mahasiswa PGSD, kolaborasi penting dalam membangun kemampuan bekerja sama dalam merancang pembelajaran dan mengembangkan kurikulum sekolah dasar (Kemendikbudristek, 2. Cooperative Learning dan Dimensi Kolaborasi Model pembelajaran kooperatif menekankan interdependensi positif, tanggung jawab individu, interaksi promotif, dan keterampilan interpersonal (Johnson. Johnson, & Smith, 2. Johnson dan Johnson . mengidentifikasi lima dimensi kolaborasi yang dapat diukur: komunikasi efektif, tanggung jawab kolaboratif, interaksi promotif, pengambilan keputusan, dan presentasi kolaboratif Temuan Penelitian Terdahulu Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kolaborasi dapat meningkatkan motivasi, pemahaman konsep, dan performa akademik mahasiswa (Gillies. Pada konteks PGSD, kolaborasi terbukti mendukung penyelesaian tugas berbasis tim dan memperkuat kemampuan komunikasi akademik (Siregar & Irawan, 2. Namun penelitian kuantitatif yang mengukur capaian kolaborasi berdasarkan setiap dimensi secara rinci masih terbatas. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif yang bertujuan menggambarkan tingkat keterampilan kolaborasi mahasiswa secara faktual (Sugiyono, 2. Subjek penelitian adalah 55 mahasiswa PGSD Universitas Adzkia Semester Genap 2024/2025. Instrumen observasi dikembangkan berdasarkan lima dimensi kolaborasi Johnson & Johnson . Validitas instrumen diuji melalui expert judgment oleh dua dosen ahli, sedangkan reliabilitas diuji dengan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 224 inter-rater reliability dan memperoleh koefisien > 0,80. Data dikumpulkan melalui observasi kegiatan diskusi, presentasi kelompok, dan dokumentasi tugas. Teknik analisis menggunakan Weighted Mean Score (WMS) dengan tiga kategori interpretatif: baik . ,26Ae4,. , cukup . ,51Ae3,. , dan kurang (O 2,. Batas capaian ideal ditetapkan pada Ou 75%. Hasil Penelitian Capaian Keterampilan Kolaborasi Tabel 1. Hasil Observasi Keterampilan Kolaborasi Mahasiswa PGSD Capai WM Kateg Keteran Dimensi (%) Komunik 65 Baik asi Efektif Tanggung Jawab 58 Baik Kolaborat Interaksi 70 Baik Tertinggi Promotif Pengambi 55 Baik Keputusa Presentasi Kolaborat 3. 20 Cukup 64% Terendah Seluruh dimensi berada pada kategori baik kecuali presentasi kolaboratif yang berada pada kategori Diagram Distribusi Dimensi Kolaborasi Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan kolaborasi mahasiswa berada pada kategori baik (WMS = 3,. Temuan ini sejalan dengan Gillies . yang menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kualitas interaksi dalam kelompok. Dimensi komunikasi efektif . %) menunjukkan mahasiswa mampu menyampaikan ide, memberikan umpan balik, dan mendengarkan pendapat teman. Temuan ini mendukung teori Johnson & Johnson . tentang pentingnya komunikasi sebagai dasar Dimensi tanggung jawab kolaboratif memperoleh capaian 71%. Meskipun cukup baik, beberapa mahasiswa masih menunjukkan gejala social loafing, sesuai temuan Karau & Williams . bahwa ketidakseimbangan kontribusi merupakan tantangan umum dalam kelompok. Interaksi promotif menjadi dimensi tertinggi . %), menggambarkan adanya dukungan akademik dan hubungan interpersonal positif dalam kelompok. Hal ini mendukung temuan Saavedra & Opfer . tentang peran interaksi promotif dalam mendorong kolaborasi efektif. Dimensi menunjukkan bahwa kelompok mampu mencapai kesepakatan meskipun partisipasi belum merata. Dominasi satu atau dua anggota masih terjadi, seperti dijelaskan Trilling & Fadel . bahwa pemerataan partisipasi berpengaruh pada kualitas keputusan. Presentasi kolaboratif merupakan dimensi terendah . %). Rendahnya capaian menunjukkan lemahnya koordinasi akhir, kurangnya integrasi hasil individu, dan tidak jelasnya pembagian peran dalam presentasi. Hal ini konsisten dengan Johnson. Johnson, & Smith . bahwa presentasi kelompok membutuhkan akuntabilitas individu dan kolaborasi terstruktur. Temuan penelitian ini mengindikasikan perlunya penerapan model kooperatif seperti STAD. Jigsaw, atau Numbered Heads Together (NHT), yang terbukti meningkatkan tanggung jawab individu dan integrasi hasil kelompok, khususnya dalam tugas presentasi. Kesimpulan Diagram menunjukkan interaksi promotif menjadi dimensi dengan capaian tertinggi . %), sedangkan presentasi kolaboratif menjadi yang terendah . %). Penelitian ini menunjukkan bahwa keterampilan kolaborasi mahasiswa PGSD berada pada kategori baik (WMS = 3,. , namun belum mencapai standar ideal 75%. Dimensi interaksi promotif, komunikasi efektif, tanggung jawab kolaboratif, dan pengambilan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 225 | JPI. Vol. No. November 2025 keputusan menunjukkan capaian positif. Namun dimensi presentasi kolaboratif masih rendah . %), menunjukkan perlunya penguatan dalam integrasi hasil kerja, koordinasi akhir, dan akuntabilitas individu. Implikasi Hasil ini menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif berbasis interdependensi sosial perlu diimplementasikan lebih terstruktur melalui model seperti STAD. Jigsaw, atau NHT untuk meningkatkan kualitas presentasi kelompok dan pemerataan peran. Keterbatasan dan Saran Penelitian Selanjutnya Penelitian ini hanya menggunakan data observasi Studi lanjutan dapat: menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali dinamika interaksi. menambah variabel seperti motivasi, peran anggota, atau gaya komunikasi. menguji efektivitas model kooperatif tertentu dalam meningkatkan presentasi kolaboratif. Daftar Pustaka