Vol. No. 1, 2025, pp. DOI : https://doi. org/10. 29210/1202525944 Daftar isi tersedia di Jurnal IICET Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. ISSN: 2476-9886 (Ceta. ISSN: 2477-0302 (Elektroni. Beranda jurnal : https://jurnal. org/index. php/jppi Analisis gambaran self-esteem pada siswa sekolah menengah atas yang mengalami fatherless Chindy EkaYulia Ningsih *). Nuraini Nuraini Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. Jakarta. Indonesia. Artikel Info ABSTRACT Article history: Kondisi Fatherless pada remaja memberikan dampak psikosial yang signifikan khususnya dalam pembentukan Self-Esteem. Penelitian dilatarbelakangi oleh adanya siswa Fatherless yang menunjukkan perilaku menyalahkan diri, tidak percaya diri dan memiliki citra diri rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi dan tingkat Self-Esteem pada remaja yang mengalami Fatherless. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif melalui wawancara dan observasi terhadap 4 siswa perempuan di SMA Corpatarin Jakarta, yang mencakup kelas X . XI Kesehatan Teknik dan XII IPS 2. Informan pendukung meliputi orang tua, guru Bimbingan dan Konseling, wali kelas dan teman sebaya. Analisis dilakukan secara tematik dengan bantuan perangkat lunak NVivo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden memiliki Self-Esteem yang berada pada kategori rendah, khususnya pada aspek Power. Significance dan Competence yang ditandai lemahnya kontrol diri, ketidakstabilan emosi, kebutuhan validasi sosial serta kesulitan mengelola relasi sosial. Aspek Virtue menunjukkan adanya perkembangan namun masih dipengaruhi pencarian citra diri. Penelitian ini menegaskan pentingnya intervensi psikosisial guna memperkuat harga diri remaja dalam kondisi Fatherless. Received May 21th, 2025 Revised Jun 26th, 2025 Accepted Jul 11th, 2025 Keywords: Self-Esteem Fatherless Remaja Kualitatif Deskriptif Psikologi Pendidikan A 2025 Para Penulis. Diterbitkan oleh IICET. Ini adalah artikel akses terbuka di bawah lisensi CC BY-NC-SA . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Corresponding Author: Chindy EkaYulia Ningsih. Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Email : ekachindy53@gmail. Pendahuluan Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Keluarga menjadi lingkungan pertama tempat seorang anak tumbuh dan berkembang melalui proses pengasuhan yang melibatkan peran orang tua khususnya ayah maupun ibu yang menjadi figur utama dalam membentuk perkembangan fisik dan psikologis sejak anak lahir hingga dewasa. Prinsip dalam pengasuhan menekankan pada kasih sayang dan keterlibatan aktif, dimana orang tua tidak hanya memberikan perhatian melainkan terlibat secara langsung dalam setiap aspek perkembangan anak (MaAoawiyah, 2. Dalam hal inim orang tua berperan sebagai model utama karena anak cenderung meniru perilaku, nilai dan sikap yang diperlihatkan orang tuannya (Astuti et al. , 2. Idealnya, pengasuhan dilakukan oleh orang tua yaitu ayah dan ibu. Namun, sering kali pengasuhan terjadi tidak optimal karena dilakukan oleh salah satu dari orang tua seperti ibu atau orang lain tanpa adanya kehadiran dan keterlibatan seorang ayah. Fatherless atau ketiadaan ayah adalah ketika ayah hanya hadir secara biologis namun tidak hadir secara psikologis didalam jiwa anak (Teso, 2. Kondisi ketidakhadiran Analisis gambaran self-esteemA peran ayah dalam kehidupan anak biasa dikenal isitilah Fatherless. Father absence. Father loss atau Father hunger (Ashari, 2. Fenomena Fatherless sendiri menjadi isu yang semakin relevan di Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, kasus perceraian di Indonesia mengalami peningkatan sebanyak 510. 334 kasus pada tahun 2022, dibandingkan dengan tahun 2021 yang menyentuh angka 447. 743 (Badan Pusat Statistik, 2. Indonesia menduduki peringkat 3 sebagai Fatherless Country didunia yaitu negara yang kehilangan peran ayah (Kompas, 2. , menunjukkan bahwa minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Kondisi tersebut memunculkan dampak psikososial, salah satunya adalah rendahnya Self-Esteem. Penelitian (Rumorati et al. , 2. menunjukkan dari 35 responden, 88,2 % diantaranya tidak mendapatkan pengasuhan dan rasa aman dari ayah kandung, sehingga semakin tinggi tingkat Fatherless yang dialami remaja, semakin rendah juga konsep diri yang terbentuk. Hal ini juga sejalan dengan temuan penelitian (Pratiwi. Puspita. , and Desyantoro, 2. , yang mengungkapkan bahwa ketidakhadiran ayah karena meninggal berdampak pada penurunan Self-Esteem remaja. Menariknya, (Kusuwati, 2. , menemukan bahwa beberapa anak perempuan Fatherless yang mampu berjuang secara emosional justru menunjukkan peningkatan kepercayaan diri dan motivasi dalam mencapai tujuan hidupnya. Meskipun ketiga penelitian tersebut memberikan gambaran mengenai dampak psikologis dari kondisi Fatherless namun belum adanya penjelsaan secara mendalam tentang aspek-aspek dalam membentuk Self-Esteem. Fatherless menggambarkan kondisi keterlibatan seseorang tanpa ayah atau tidak memiliki hubungan dekat dengan ayah. Fatherless adalah kondisi ketiadaan ayah secara psikologis dan fisik dalam perkembangan hidup seseorang yang disebabkan oleh perceraian orang tua, peran ayah yang tidak diperoleh karena ayah yang sibuk bekerja dan ayah yang telah meninggal dunia (Reza, 2. Dalam pengasuhan, peran ayah memiliki pengaruh berbeda dengan ibu. Kehadiran ayah dalam tumbuh kembang anak berpengaruh terhadap aspek kognitif, emosional dan sosial (Aulia et al. , 2. Anak yang mendapatkan peran ayah akan berdampak pada pengembangan keterampilan sosial, penyelesaian konflik dan penyesuaian diri dengan Sebaliknya, jika dalam pengasuhan ayah tidak memiliki keterlibatan berdampak pada kesehatan mental dan emosional anak terutama ketika berajak usia remaja. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak berdampak positif terhadap tingkat harga diri anak tersebut, sehingga anak yang memiliki tingkat harga diri yang tinggi cenderung menerima diri sendiri apa adanya, mampu dalam mengerjakan sesuatu hal dan merasa bahagia (Nada AoAfia QurAoani, 2. Ketidakhadiran peran ayah dalam kehidupan seorang anak berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan secara fisik, emosional dan psikologi sehingga mempengaruhi kesejahterahan dan perkembangan anak secara keseluruhan (Sundari. and Herdajani, 2. Kondisi yang dialami ini akan membuat anak tumbuh dengan Self-Esteem yang lemah dikarenakan ketika proses peralihan dimasa remaja, dirinya tidak mendapatkan peran penting untuk memberikan dukungan emosional, membimbing maupun menjadi Self-Esteem atau biasa dikenal dengan harga diri adalah pondasi individu untuk menjalani kehidupannya. Self-Esteem merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya yang diekspresikan melalui sikap setuju atau tidak setuju dan menunjukkan sejauh mana individu tersebut percaya akan dirinya, mampu, penting dan berharga (Coopersmith, 1. Menurut (Branden, 1. , mengkhususkan definisi Self-Esteem yaitu : . keyakinan akan kemampuan individu untuk berfikir dan mengatasi masalah dengan tantangan hidup. keyakinan individu akan hak untuk bahagia, perasaa, berharga, hak untuk menegaskan kebutuhan dan keinginan dirinya dan menikmati hasil usahannya. Fase remaja. Self-Esteem berperan sangat penting karena mempengaruhi kepercayaan diri, kemampuan berinteraksi secara sosial dan keberanian untuk menghadapi Menurut Lerner dan Spanier. Self-Esteem adalah penilaian positif atau negatif yang berhubungan dengan konsep diri seseorang (Ghufor. Risnawati, 2. Seseorang dengan Self-Esteem positif dapat menerima dan menghargai dirinya apa adanya dan cenderung tidak bersikap cepat menyalahkan diri sendiri atas kekurangannya. Sedangkan ketika individu memiliki Self-Esteem negatif dirinya memperlakukan dirinya sebaliknya seperti selalu merasa dirinya kurang sehingga membuat dirinya kehilangan kepercayaan diri. Kebanyakan dari anak yang mengalami kondisi Fatherless memunculkan ciri Self-Esteem yang cenderung Ketika Self-Esteem negatif itu muncul pada anak yang mengalami Fatherless berdampak adanya karakteristik remaja yang pesimis, tidak puas pada diri sendiri, terdorong menjadi orang lain serta sensitif terhadap kondisi yang dapat merusak harga diri. Namun tidak selalu remaja yang mengalami Fatherless mempunyai Self-Esteem negatif. Menurut (Coopersmith, 1. Self-Esteem terbentuk melalui 4 aspek utama yaitu Power . Significance . Virtue . dan Competence . Aspek Power . adalah kemampuan individu untuk mempengaruhi dan mengendalikan orang lain. Aspek Significance . merujuk pada perasaan individu tentang sejauh mana dirinya dihargai, dicinai dan Beranda jurnal : https://jurnal. org/index. php/ j - edu Ningsih. & Nuraini. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. diterima oleh orang-orang seperti keluarga, teman dan masyarakat. Aspek Virtue mengacu pada sejauh mana individu merasa bahwa dirinya bertindak sesuai dengan nilai-nilai moral dan norma sosial yang Terakhir, aspek Competence adalah keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas, menghadapi tantangan serta mencapai tujuan. Biasanya Self-Esteem yang terbentuk rendah karena pola pengasuhan dalam keluarga (Coopersmith, 1. Pola asuh yang dapat membentuk individu tumbuh dengan Self-Esteem rendah adalah pola asuh otoriter dan permisif (Ghufor. Risnawati. Pada studi pendahuluan di SMA Corpatarin Jakarta, ditemukan beberapa kondisi bahwa siswa yang mengalami Fatherless cenderung memiliki Self-Esteem yang cukup rendah. Guru Bimbingan dan Konseling mengungkapkan bahwa beberapa siswa yang mengalami kondisi Fatherless menunjukkan sikap kurang terbuka dan sering menarik diri dari lingkungan, hal ini ditunjukkan ketika proses konseling yang dilakukan guru Bimbingan dan Konseling. Kondisi Fatherless yang terjadi pada siswa di SMA Corpatarin Jakarta disebabkan perceraian orang tua, ayah yang telah meninggal dan peran ayah yang tidak didapatkan selama Disekolah tersebut juga dimayoritasi oleh siswa perempuan yang mengalami kondisi Fatherless. Selain itu, kondisi Fatherless berdampat pada siswa secara pribadi, seperti menurunnya rasa kepercayaan diri, cenderung menunjukkan perilaku negatif . erokok dan vap. hingga munculnya keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Bahkan, guru BK juga mengungkapkan bahwa rata-rata siswa yang bermasalah memiliiki latar belakang kondisi Fatherless. Dari hasil wawancara awal, kondisi siswa yang mengalami Fatherless cukup berpengaruh terhadap Self-Esteem pada diri siswa, ditunjukkan dari sesi afektif dan perilaku Pada sesi konseling kelompok dan individual yang di SMA Corpatarin Jakarta, siswa yang mengalami Fatherless cenderung kurang menghargai dirinya yang ditunjukkan dari cara siswa dalam menyampaikan pendapatnya. Selain itu, siswa cenderung menyalahkan dirinya sendiri apabila terjadi permasalahan dalam hidupnya . Individu dengan Self-Esteem rendah cenderung meragukan emosi, keputusan, tindakan serta kemampuan yang dirinya miliki (Kim. and Lee, 2. Berdasarkan pembahasan yang dikemukakan, fokus pada penelitian ini adalah gambaran Self-Esteem pada siswa yang mengalami Fatherless di SMA Corpatarin Jakarta, kondisi Fatherless yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ketidakhadiran peran ayah secara fisik maupun psikis dalam kehidupan anak yang disebabkan perceraian, kematian ataupun konflik keluarga yang dialami. Penelitian ini penting untuk mengetahui gambaran dan tingkat Self-Esteem yang dimiliki oleh siswa Fatherless. Serta, dampak yang ditimbulkan dari rendahnya Self-Esteem pada remaja ini dimasa khususnya ketika dirinya memasuki tahap dewasa awal. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian deskriptif. Pendekatan kualitatif menurut Moelong adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistic dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada konteks khusus yang alamiah (Moleong, 2. Sedangkan, menurut Sugiyon, metode deskriptif pada penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah intrumen kunci, teknik pengumpulan data menggunakan triangulasi . , analisis data bersifat induktif atau kualitatif dan hasil penelitian kualitatif menekankan makna dari generalisasi (Sugiyono, 2. Penelitian ini dilakukan di SMA Corpatarin Jakarta yang berlokasi di Jl. Pondok Kopi Raya No. Pondok Kopi. Kota Jakarta Timur. DKI Jakarta. Responden dari penelitian ini adalah 4 siswa berjenis kelamin perempuan yang bersekolah di SMA Corpatarin Jakarta, yaitu 1 siswa kelas X . , 2 siwa kelas XI (Kesehatan Tekni. dan 1 siswa kelas XII IPS . Kategori Fatherless pada penelitian ini dijelaskan sebagai kondisi ketidakhadiran ayah secara fisik dan psikis dalam kehidupan anak yang disebabkan oleh perceraian, kematian maupun pengabaian tanggung jawab sebagai orang tua. Penentuan kategori ini dilakukan melalui wawancara awal, observasi serta konfirmasi dari pihak sekolah. Penelitian ini juga melibatkan beberapa informan pendukung dari setiap responden yang digunakan sebagai triangulasi data. Informan pendukung dalam penelitian ini yaitu wali atau orang tua responden, guru Bimbingan dan Konseling, wali kelas dan teman sebaya responden. Alat pengumpulan data dalam penelitian adalah wawancara dan observasi kepada responden penelitian yang diperkuat oleh triangulasi data dari informan pendukung. Kelebihan dari proses pengambilan data melalui wawancara agar dapat memberikan informasi yang berguna ketika peneliti tidak secara langsung melakukan observasi dan memudahkan responden mendeskripsikan informasi pribadi secara jelas (Creswell, 2. Pedoman wawancara dan observasi disusun secara sistematis berdasarkan aspek-aspek Beranda jurnal : https://ju rnal. org/index. php/ j-edu Analisis gambaran self-esteemA Self-Esteem yang dikemukakan oleh Coopersmith . Wawancara dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan tatap muka pada masing-masing responden. Teknik observasi digunakan untuk melihat tanggapan dan perilaku siswa dalam konteks sosial dan sekolah. Hasil wawancara dianalisis menggunakan aplikasi Nvivo. Nvivo adalah perangkat lunak untuk pengembangan, dukungan dan manejemen analisis data kualitatif yang fungsinya untuk melakukan coding dan analisis data khususnya data kualitatif (Priyatni, . Farikha. Supriyadi. , & Ramli, 2. Protokol etika dalam penelitian ini dilakukan sesuai dengan prinsip akademik. Peneliti meminta persetujuan partisipasi . nformed consen. dari seluruh responden, orang tua atau wali, guru Bimbingan dan Konseling dan teman sebaya. Identitas partisipan dijaga kerahasiaannya, apabila partisipan mengalami dampak psikologis selama proses penelitian, peneliti menyediakan bantuan melalui guru Bimbingan dan Konseling. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etis dari pihak sekolah sebagai lembaga terkait. Berikut diagram alur penelitian yang digunakan pada penelitian dengan judul AuSelf-Esteem pada siswa Fatherless di SMA Corpatarin sebagai berikut. Gambar 1 Hasil dan Pembahasan Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan serta pengolahan data menggunakan NVivo, dapat dipaparkan bahwa Self-Esteem yang dimiliki oleh 4 siswa SMA Corpatarin Jakarta yang mengalami kondisi Fatherless sebagai berikut. Aspek Power pada Siswa yang Mengalami Fatherless Menurut Coopersmith . Power adalah kemampuan individu untuk mempengaruhi dan mengendalikan orang lain. Dalam konteks Fatherless, aspek ini mengacu pada kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri, kemampuan persuasif dilingkungan sosial dan pengakuan sosial yang didapatkan. Keempat responden menunjukkan adanya kesulitan dalam mengendalikan pikiran, emosi dan perilaku. ED menunjukkan sikap pasif, gelisah, dan tertutup, serta lebih nyaman dalam lingkungan sosial yang Hasil trianggulasi dari orang tua dan guru ED juga memperkuat bahwa ED cenderung pasif, mengalami kecemasan sosial serta cenderung membatasi interaksi. Ketidakmampuan ED untuk mempengaruhi situasi menunjukkan rendahnya kontrol diri dan keyakinan terhadap kemampuan dirinya Sedangkan, kontrol diri RS cenderung lemah yang ditandai dengan sikap emosional seperti menangis, marah dan menghindar dari masalah. Beranda jurnal : https://jurnal. org/index. php/ j - edu Ningsih. & Nuraini. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. Gambar 2 Kontrol diri yang cenderung lemah ini juga diperkuat dengan adanya informasi dari teman dekat RS yang menyatakan bahwa RS cenderung merespons sesuatu secara berlebihan terutama perihal kondisi Fatherless yang dirinya alami, meskipun RS terlihat lebih stabil secara emosional saat di sekolah. RS juga cukup tertutup dan menjaga jarak dengan keluarga berdasarkan informasi dari ibu RS. AS menunjukkan kemampuan mengelola pola pikir dengan baik, kesadaran spiritual yang mengurangi munculnya emosi negatif dan dukungan sosial. Kontrol diri yang cukup baik ini juga relevan dengan informasi dari informan terdekat responden. Meskipun, masih ada respons emosional yang implusif, informan menggambarkan perkembangan positif terhadap cara AS menghadapi tekanan, yang menandakan kematangan emosinya cukup berkembang dengan baik. A mengalami kesulitan mengelola emosi, bersikap impulsif dan mudah marah, terutama di lingkungan rumah. Informan menguatkan emosi yang berlebihan dapat disebabkan karena perubahan hormon. Gaya komunikasi yang terbuka namun kurang bijak. Meski demikian. A memiliki potensi sosial yang dapat dikembangkan melalui bimbingan emosi dan etika komunikasi. Kemampuan persuasif dari sebagian responden juga cenderung rendah dan kurang stabil. ED dan RS cenderung pasif, menghindari konflik, dan kurang percaya diri untuk mengemukakan pendapat secara Meskipun ED cenderung pasif, teman dekat ED menggambarkan bahwa ED memiliki kemampuan untuk menyampaikan pendapat tetapi hanya kepada orang terdekatnya. Ini menandakan bahwa kemampuan persuasif ED belum berkembang secara terbuka atau stabil karena masih berganting pada hubungan interpersonal yang menurutnya aman Sedangkan terlihat adanya perbedaan persepsi mengenai RS, teman dekat dan guru disekolah mengakui akan keberanian RS dalam menyampaikan pendapat saat Namun, orang tua RS menyatakan bahwa RS sangat tertutup bahkan enggan untuk mengutarakan Ini menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi RS bersifat situasional. AS mulai menunjukkan keberanian dalam menyampaikan dan mempertahankan pendapat, meskipun masih dibatasi oleh sensitivitas sosial. Informan juga menyatakan bahwa AS memiliki kemampuan persuasif yang cukup baik meskipun terkadang AS cukup implusif dalam berbicara. Maka, perlu adanya bimbingan terhadap AS sehingga dirinya belajar mengontrol emosi dan lebih peka terhadap situasi. A menunjukkan kemampuan paling kuat dengan komunikasi yang kritis, rasional, dan percaya diri, meskipun masih perlu menyeimbangkan antara ketegasan dan empati. Meskipun, kemampuan persuasif A juga diakui oleh informan pendukung. Sikap egois sering kali muncul pada diri A ketika dirinya menyampaikan sesuatu atau menginginkan sesuatu. Potensi komunikasi A yang cukup baik perlu melibatkan sikap empati dan kepekaan sosial sehingga tetap menghargai sudut pandang orang lain. Setiap responden juga menunjukkan adanya kebutuhan untuk diakui secara sosial namun dengan cara yang berbeda-beda. Pengakuan atau penghargaan yang diterima oleh sebagian besar responden berasal dari Beranda jurnal : https://ju rnal. org/index. php/ j-edu Analisis gambaran self-esteemA lingkungan pertemanan dan sekolah. Mirisnya, keluarga yang seharusnya berperan penting untuk membentuk karakter responden ditengah kondisi Fatherless yang dialami justru sangat jarang memberikan pengakuan atau penghargaan. ED cenderung pasif dan sering mengalah sehingga pendapatnya kurang dihargai orang sekitarnya. RS menunjukkan keinginan kuat untuk diakui secara sosial khususnya kepada teman sebaya laki-laki namun strategi yang ia lakukan sering mendapatkan penolakan dan ejekan. RS menunjukkan perilaku tidak disiplin, menandakan kurangnya internalisasi nilai penghargaan dari lingkungan terdekat. AS memperoleh penghargaan sosial secara alami karena kepribadiannya yang positif, meski masih mencari pengakuan dari orang tua. A menunjukkan posisi sosial yang stabil dan dihargai karena sikap autentik dan terbuka. Secara umum, responden dengan kondisi Fatherless menunjukkan adanya kebutuhan akan pengakuan sosial meskipun bentuk dan caranya berbeda-beda. Perbedaan ini sangat dipengaruhi oleh dinamika hubungan dengan keluarga, kelekatan emosional, dan keterampilan sosial masing-masing individu. Penghargaan sosial yang diperoleh secara alami dan berdasarkan keaslian diri tampak lebih stabil dan sehat dibandingkan upaya pencarian validasi yang tidak Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh, aspek Power menunjukkan bahwa seluruh responden cenderung memiliki hambatan untuk membangun kontrol diri, kemampuan persuasif dan penerimaan sosial yang seimbang. Peran ayah yang seharusnya berfungsi sebagai peran dan dukungan emosional sang anak menjadi faktor utama yang mempengaruhi lemahnya aspek Power pada diri mereka. Adanya kecenderungan dalam ketidakmampuan untuk mengelola emosi, kesulitan mengutarakan pendapat dan kebutuhan pengakuan sosial yang tidak tercapai secara optimal menunjukkan bahwa Self-Esteem setiap responden belum terbentuk secara utuh, meskipun terdapat usaha positif dari setiap responden. Seluruh responden yang merupakan anak perempuan kemungkinan lebih merasakan dampak yang signifikan akibat kehilangan peran ayah dibandingkan anak laki-laki, karena umumnya anak perempuan cenderung membentuk pola hubungan melalaui kedekatan dengan sosok ayah, sementara anak laki-laki lebih banyak mengembangkan relasi emosional dari peran ibu dalam kehidupannya (Castetter, 2. Maka. Power atau kekuatan pada responden dengan kondisi Fatherless menunjukkan kondisi yang rapuh dan membutuhkan intervensi psikososial yang tepat khususnya melalui peran pengganti figur ayah dan dukungan lingkungan yang lebih responsif terhadap kebutuhan emosional mereka. Aspek Significance Pada Siswa yang Mengalami Fatherless Gambar 3 Beranda jurnal : https://jurnal. org/index. php/ j - edu Ningsih. & Nuraini. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. Coopersmith mengungkapkan Significance atau keberartian berarti penerimaan, perhatian dan kasih sayang orang lain yang bertujuan untuk memberikan pengaruh positif dan individu merasa berarti bagi orang lain (Coopersmith, 1. Efek yang ditimbulkan dari aspek ini adalah menumbuhkan perasaan berarti . ense of importanc. dalam dirinya. Significance ditandai oleh kehangatan, keikutsertaan, perhatian dan diterima oleh orang lain (Khairunnisa, 2. Aspek ini mencakup kesadaran diri, kebutuhan validasi serta menjalin hubungan sosial. Seluruh responden memiliki kesadaran diri yang mulai berkembang, namun belum matang secara Mereka mampu mengenali perasaan dan situasi yang tidak nyaman, namun kesulitan dalam mengelola serta mengekspresikannya secara adaptif. ED memiliki citra diri rendah dan takut ditolak. Meski pendiam dan gugup, teman dekat ED menggambarkan bahwa ED mempunyai potensi sosial yang positif jika mendapat dukungan emosional dan bimbingan agar mampu membangun kepercayaan diri dan mengekspresikan diri secara sehat. Kesadaran diri yang masih rendah dan belum stabil karena ketakukan akan ditolak membuat potensi sosial ED yang baik terkubur karena rendahnya kepercayaan diri dan dukungan emosional. Sementara. RS cenderung bersikap defensif akibat kurangnya validasi dari orang tua. Hal ini diperkuat dengan informasi dari teman dekat RS yang menyatakan bahwa RS kurang mendapatkan dukungan emosional dari orang tua, sehingga sulit menerima kritik Dukungan emosional sangatlah penting untuk mengembangkan kesadaran diri dan keterbukaan agar tidak bersikap defensif dan mampu menerima AS pribadi ceria, aktif, dan percaya diri, dengan potensi sosial yang baik. Namun, informan terdekat AS mengungkapkan bahwa AS cukup sensitif, keras kepala, dan kurang terbuka terhadap masukan. Potensi sosial yang dimiliki AS cukup kuat namun perlu adanya bimbingan dalam mengelola emosi dan meningkatkan keterbukaan terhadap masukan. A menunjukkan kesadaran diri yang tingg. Informan terdekat A menggambarkan A sebagai pribadi terbuka, aktif dan kristis. Namun, sikap kurang empati, disiplin dan selektif yang dijelaskan oleh sang ibu menyatakan bahwa A perlu mendapatkan bimbingan dalam pengelolaan emosi, empati dan fleksibilitas sosial. Dalam hal perasaan berharga, responden ED. RS. AS dan A merasakan makna dan penghargaan dari lingkungan sosial tertentu, khususnya teman, guru, dan pacar. Mereka merasa dihargai ketika didengarkan, diperhatikan, dan diajak terlibat secara emosional. Namun, pengakuan tersebut bukan berasal dari luar keluarga inti melainkan teman dekat setiap responden yang berusaha untuk mendengarkan, memahami hingga memberikan saran kepada setiap responden. Responden ED dan RS mengungkapan bahwa dirinya lebih merasa diakui di lingkungan sosial dibandingkan di rumah. Meskipun ibu kedua responden menyatakan bahwa mereka berusaha menghargai responden dengan menuruti keinginan responden, tetapi ED dan RS menunjukkan hal sebaliknya dimana dirinya merasa kurang dihargai di lingkungan keluarga khususnya ayah dan ibu. Akibatnya, mereka berusaha mencari pengakuan dari luar sebagai bentuk kompensasi terhadap kurangnya penerimaan di rumah. Hal ini membuat perasaan berharga yang mereka alami menjadi tidak stabil dan sangat bergantung pada apresiasi dari orang lain, bukan dari penerimaan diri yang utuh. Kondisi Fatherless juga berpengaruh menjadikan lingkungan sosial sebagai kompensasi utama atas kekosongan peran ayah dalam membentuk harga diri dan perasaan berharga. Keempat responden menunjukkan dinamika hubungan sosial yang berbeda, namun karena kondisi Fatherless yang dialami oleh setiap responden membuat kemampuan hubungan sosial mereka kurang cukup optimal terutama dalam hal kepercayaan, keterbukaan dan rasa aman menjalin relasi. ED yang cenderung tertutup, pasif, dan sensitif terhadap penolakan, sehingga dari informasi orang tua dan teman dekat ED menyatakan bahwa lingkup sosial ED cukup sempit. RS menunjukkan potensi sosial yang baik namun kurang tepat dalam membangun relasi, dipengaruhi oleh hubungan yang kurang mendukung di rumah. Menurut teman dekatnya, hal ini yang membuat RS sering kali ditolak ketika berusaha membangun hubungan sosial. Sementara. Ibu A menggambarkan A yang cukup selektif dan waspada dalam menjalin kedekatan emosional, meskipun A sendiri merasa dirinya tetap bisa berinteraksi dengan baik di lingkungan yang aman. Dukungan emosional dari lingkungan terdekat sangat berpengaruh terhadap kemampuan bersosialisasi setiap responden. Namun, nyatanya beberapa responden kurang mendapatkan dukungan atau mengalami relasi keluarga yang kurang positif menunjukkan hambatan dalam membangun hubungan sosial yang sehat. Secara umum, keterbatasan figur ayah menciptakan celah dalam pembentukan kepercayaan diri sosial dan kedekatan emosional, yang pada akhirnya berdampak pada cara remaja menjalin interaksi dengan Secara keseluruhan dari hasil temuan penelitian, disimpulkan bahwa aspek Significance seluruh responden belum terbentuk secara optimal. Significance, menurut Coopersmith, terkait erat dengan sejauh mana individu merasa dihargai, dicintai, dan dianggap berarti oleh lingkungan sosial yang signifikan. Dalam penelitian ini, meskipun seluruh responden telah mengenali dan merasakan apresiasi dari teman, guru, atau pacar, pengakuan tersebut tidak berasal dari keluarga inti khususnya figur ayah. Hal ini menyebabkan Beranda jurnal : https://ju rnal. org/index. php/ j-edu Analisis gambaran self-esteemA ketergantungan pada validasi eksternal dan menciptakan self-esteem yang rapuh dan tidak stabil. Kondisi Fatherless membuat lingkungan sosial diluar rumah menjadi sumber utama penerimaan diri. Namun, validasi yang diperoleh bersifat situasional dan mudah terpengaruh oleh dinamika relasi interpersonal sehari-hari. Remaja yang tumbuh tanpa keterlibatan figur ayah cenderung merasa kesepian dan sulit membangun rasa percaya diri sosial (RSIS International, 2. Hal ini relevan dengan kondisi yang ditunjukkan pada setiap responden pada aspek Significance sehingga mereka telalu bergantung pada lingkungan sosial. Untuk memperkuat aspek Significance, dibutuhkan edukasi kepada orang tua agar lebih terbuka dan afirmatif, support positif dari lingkungan sekolah dan konseling keluarga. Aspek Virtue Pada Siswa yang Mengalami Fatherless Gambar 4 Menurut (Coopersmith, 1. Virtue atau kebajikan berarti kepatuhan terhadap standar moral dan etika. Umumnya individu harus bersikap dimana dirinya menjauhi tingkah laku yang bertentangan dengan moral dan etiika yang berlaku dimasyarakat. Sikap tersebut dapat menjadi penilaian positif terhadap diri yang artinya individu telah mengembangkan Self-Esteem positif pada dirinya. Aspek Virtue dalam teori Self-Esteem yang dikemukakan oleh Coompersmith mengacu pada bagaimana kesadaran seseorang untuk melaksanakan etika dan kewajibannya serta kemampuan untuk membentuk citra diri. Dalam melaksanakan etika yang berlaku dimasyarakat, sebagian responden menunjukkan pemahaman dan implementasi nilai-nilai seperti kejujuran, sopan santun dan agama. Nilai agama menjadi sumber penguatan diri terutama bagi responden AS yang menunjukkan kedewasaan secara spiritual dan menjadikan agama sebagai strategi untuk mengontrol emosi. Sikap AS juga sesuai dengan informasi dari orang tua, guru dan teman dekat responden yang menjelaskan bahwa AS selalu taat dalam beribadah. Sementara. ED dan RS memiliki kesadaran akan pentingnya sopan santun dan moral, namun implementasinya masih bergantung pada situasi sosial tertentu. Bedanya, teman ED mengungkapkan bahwa ED cukup religius dibuktikan dengan ED yang menutup aurat dan berusaha menjaga ibadahnya. Sedangkan RS terlihat adanya ketimpangan antara nilai yang dianut keluarga dan perilaku RS sehari-hari. Ini dibuktikan dari pengakuan ibu RS, yang menjelaskan bahwa RS bersikap malas dan acuh saat melaksanakan ibadah. Responden A menunjukkan pemahaman etika tetapimasih perlu arahan dalam pengendalian emosi dan cara menyampaikan pendapat secara bijak. Teman dekan A mengungkapan meskipun A belum berhijab namun A berusaha untuk melaksankan ibadahnya tepat waktu. Keempat responden juga menunjukkan adanya pemahaman untuk bertanggung jawab disekolah maupun rumah. Namun, kurangnya motivasi dalam diri mereka berdampak pada cara mereka dalam menjalankan kewajiban yang tidak konsisten dan belum sepenuhnya datang dari dorongan internal. Misalnya. RS yang merasa telah melaksanakan tanggung jawabnya namum RS sering dianggap malas dan kurang disiplin dalam belajar oleh orang tuanya meskipun telah difasilitasi. Hal ini diperkuat dengan informasi teman dekat RS, yang menjelaskan bahwa RS terlalu mengandalkan teknologi tanpa adanya usaha untuk mendalami informasi. Perlu adanya dorongan untuk meningkatkan kemandirian dan usaha belajar yang lebih efektif dalam diri RS. Sedangkan. ED berusaha memenuhi kewajibannya namun terhambat oleh rasa cemas dan rendah diri. Informan terdekat ED juga mengungkapkan bahwa ED bukan orang yang mudah melalaikan tanggung jawab khususnya perihal akademik. ED akan berusaha terlebih Beranda jurnal : https://jurnal. org/index. php/ j - edu Ningsih. & Nuraini. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. dahulu untuk menyelesaikan pekerjaan sekolahnya. Rasa cemas dan rendah diri menjadi hambatan bagi ED dalam menjalankan tanggung jawabnya. AS dan A memiliki kesadaran tanggung jawab yang relatif lebih baik, terutama dalam aspek akademik, namun masih memerlukan bimbingan untuk membentuk AS khususnya masih perlu mengatasi sikap malas yang sesekali muncul menurut informan Sikap malas yang sesekali muncul, menyatakan bahwa perlu bimbingan agar AS lebih disiplin dan stabil dalam menjalankan tanggung jawabnya. Sedangkan menurut sang ibu. A menunjukkan sikap malasnya ketika hendak berangkat sekolah. Ini menunjukkan tanggung jawab belum cukup stabil dan tetap butuh penguatan dari lingkungan terdekat A. Seluruh responden menunjukkan upaya membentuk citra diri positif di lingkungan sosial, seperti tampil percaya diri, tegas dan peduli. Namun, sebagian besar image yang dibangun bersifat pengganti akibat minimnya penghargaan dari keluarga, khususnya figur ayah. Seperti ED yang ingin dilihat sebagai pribadi humoris, namun trianggulasi menunjuukan bahwa ED cenderung menarik diri dan sulit mengekspresikan diri secara konsisten, dipengaruhi kurangnya perhatian emosional dari ibu. RS menampilkan dua sisi yang berbeda yaitu terbuka dan humoris di lingkungan sosial, namun tertutup di lingkungan keluarga. Teman dekat menggambarkan RS sebagai pribadi yang peduli dan aktif, sementara orang tua menilai RS tertutup dan sulit didekati. Hal ini menunjukkan bahwa RS lebih nyaman menunjukkan dirinya di luar rumah, meski citra yang dibangun tidak selalu diterima sesuai harapannya. AS menunjukkan kestabilan sosial-emosional dengan tampil ceria dan aktif, terutama di lingkungan sekolah. Namun, teman dekat AS menyebutkan bahwa AS hanya benar-benar terbuka pada orang yang membuatnya nyaman. Hal ini menguatkan bahwa ekspresi sosial AS bersifat selektif dan ditentukan oleh rasa aman dalam hubungan sosial. A memperlihatkan perbedaan antara citra luar dan kepribadian asli, mencerminkan proses pencarian identitas. Teman dekat menggambarkan A sebagai pribadi aktif dan bawel, berbeda dari kesan awal yang terlihat tertutup. Hal ini memperkuat bahwa A sedang berada dalam proses membentuk identitas sosial, dengan dorongan kuat untuk diterima dan dipahami. Perbedaan perilaku ini menunjukkan adanya pencarian jati diri dan kebutuhan validasi emosional, terutama dari lingkungan terdekat. Anak yang mengalami Fatherless cenderung membentuk image adaptif sebagai strategi mendapatkan validasi eksternal (Arvidsson, 2. Secara keseluruhan aspek Virtue pada responden dengan kondisi Fatherless masih dalam tahap berkembang dan sangat dipengaruhi oleh kurangnya peran ayah yang seharusnya menjadi panutan dalam pembentukan nilai moral dan karakter. Hanya AS yang konsisten menjalankan nilai spiritual secara mandiri, sementara responden lain masih dipengaruhi situasi dan pengawasan. Menurut (Coopersmith, 1. Virtue mencerminkan integritas dan konsistensi antara nilai dan tindakan, yang menjadi pilar utama Self-Esteem. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa internalisasi moral pada responden penelitian dengan kondisi Fatherless masih lemah, karena figur ayah sebagai teladan nilai dan moral dalam keluarga tidak hadir. Penelitian terbaru juga mendukung temuan ini, bahwa kekurangan nilai-nilai virtue seperti harapan dan semangat untuk berusaha, serta kemampuan membangun kepercayaan dan kemandirian, lebih sering ditemukan pada individu yang tumbuh tanpa figur ayah (Rossall & Arianti, 2. Aspek ini dapat dibentuk melalui kebiasaan moral yang memperkuat ketahanan psikologis sebagai fondasi Self-Esteem yang sehat. Maka dari itu, kelemahan internalisasi Virtue ini menandakan bahwa responden Fatherelss membutuhkan strategi intervensi untuk menanamkan nilai-nilai moral secara konsisten dan internal seperti melalui rolemodeling, pengauatan nilai disekolah dan keluarga serta pembentukan spiritualitas yang mendalam. Aspek Competence pada Siswa yang Mengalami Fatherless Coopersmith menjelaskan aspek Competence atau kemampuan berarti kinerja individu untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai prestasi . eed of achievemen. dimana level dan tugas-tugas yang disesuaikan dengan usianya (Coopersmith, 1. Aspek ini berpengaruh karena ketika seseorang merasa mampu melakukan sesuatu sesuai kemampuannya maka akan muncul perasaan berharga dalam dirinya. Pada aspek Competence yang dikemukakan oleh Coopersmith mencakup kepercayaan diri, kemampuan menyelesaikan masalah . roblem solvin. dan kesadaran mengeni potensi dan minat yang dimiliki. Beberapa responden menunjukkan regulasi emosi yang lemah, ditandai dengan impulsivitas, rasa tidak aman, dan kecenderungan menghindari konflik. ED memilih memendam masalah dan memiliki kepercayaan diri rendah akibat minimnya validasi keluarga. Informasi pendukung dari guru dan teman dekat menyatakan bahwa ED dikenal sebagai pribadi yang pendiam, cemas berlebihan, dan kurang terbuka, terutama dalam menyampaikan kesulitan atau tekanan. Kurangnya komunikasi dua arah antara ED dan lingkungan terdekat serta minimnya validasi emosional menjadi penghambat dalam mengebangkan potensi dri dan ketahanan psikologis ED. RS menunjukkan pelarian negatif seperti merokok. Trianggulasi menunjukkan kurangnya kedekatan emosional dengan ibu membuat RS semakin tertutup dan sulit mengekspresikan perasaannya secara sehat. Kondisi ini terjadi karena minimnya kedekatan emosioanal dirumah yang menjadi faktor penghambat RS dalam mengekspresikan kebutuhan emosional. AS lebih Beranda jurnal : https://ju rnal. org/index. php/ j-edu Analisis gambaran self-esteemA adaptif, terbuka secara emosional, dan inisiatif, meski masih impulsif. Informasi dari orang terdekat AS juga memperkuat bahwa AS cukup terbuka dan tidak menghindari konflik, menandakan adanya potensi positif yang perlu diarahkan secara emosional dan perilaku. Strategi penyelesaian masalah A bersifat impulsif dan kurang matang. Menurut guru disekolah dan teman dekatnya. A cenderung mengekspresikan emosi lewat media sosial daripada secara langsung, menunjukkan kesulitan dalam komunikasi emosional. Trianggulasi menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi A agar lebih bijak dalam mengelola emosi dan membuat keputusan. Gambar 5 < Aspek Competence > Sebagian responden menyadari potensi diri dalam bidang seni, olahraga, dan wirausaha, namun belum terarah akibat minimnya dukungan emosional dan fasilitasi dari keluarga. Kondisi Fatherless berdampak pada kepercayaan diri dan arah masa depan mereka. AS memiliki tujuan hidup yang jelas dan stabil secara emosional, sesuai dengan informasi dari orang terdekat AS. Sedangkan. A berkembang baik secara akademik dan non-akademik. Namun, menurut ibu A, cita-cita yang diinginkan A belum terlihat dan masih perlu diarahkan lagi. ED memiliki empati dan potensi religius, tetapi tertutup dan kurang percaya diri. Meskipun begitu, orang tua ED memberikan dukungan terkait potensi ED khususnya terkait cita-cita ED untuk bekerja dirumah sakit. RS memiliki minat di bidang hukum, namun tekanan keluarga menghambat Ibu RS juga mengakui bahwa dirinya tidak begitu yakin akan kemampuan RS dalam bidang Lemahnya dukungan keluarga, khususnya ayah, memengaruhi pembentukan kompetensi, eksplorasi diri, dan motivasi internal mereka. Strategi penyelesaian masalah yang belum matang ini berkaitan dengan absennya peran ayah sebagai model dalam regulasi emosi dan pengambilan keputusan. Ketidakhadiran figur ayah terbukti dapat menghambat perkembangan kemampuan anak dalam mengelola emosi dan membuat keputusan yang adaptif (Islamiah et al. , 2023. Puglisi et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian responden memiliki kesadaran akan potensi diri seperti diranah akademik, seni, olahraga dan wirausaha namun perkembangan kompetensi mereka terhambat karena kurangnya dukungan emosional dan fasilitasi keluarga, terutama peran ayah. Hanya AS dan A yang menunjukkan arah dan keyakinan diri yang lebih jelas, sedangkan ED dan RS masih bergantung pada validasi eksternal dan mengalami hambatan dalam konsistensi tujuan. Dalam kerangka Coopersmith. Competence mencakup keyakinan terhadap kemampuan diri dan strategi penyelesaian masalah. Disimpulkan Beranda jurnal : https://jurnal. org/index. php/ j - edu Ningsih. & Nuraini. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. bahwa ketidakhadiran model dalam mengambil keputusan dan dukungan emosi dirumah mempengaruhi rendahnya self-efficacy. Studi longitudinal oleh (Krauss et al. , 2. mengkonfirmasi bahwa keberadaan figur orang tua cukup berpengaruh terhadap peningkatan kompetensi dan Self-Esteem remaja. Ini konsisten dengan teori Coopersmith yang menegaskan peran lingkungan keluarga dapat memperkuat kepercayaan diri dan kompetensi anak. Dapat disimpulkan bahwa aspek Competence pada diri seluruh responden belum optimal secara keseluruhan sehingga membutuhkan dukungan psikososial yang intens untuk memperkuat kepercayaan diri, keterampilan yang adaptif dan kesadaran terhadap potensi dirinya secara utuh. Dampak Fatherless terhadap Pembentukan Self-Esteem Remaja Berdasarkan teori (Coopersmith, 1. , self-esteem terbentuk dari empat aspek Coopersmith yaitu Power . emampuan kontrol diri dan memengaruh. Significance . esadaran diri dan rasa diharga. Virtue . esesuaian mora. serta Competence . eyakinan dir. Keempat aspek ini tidak berkembang secara optimal pada responden peneltian yang mengalami kondisi Fatherless, sebagaimana tergambar dalam profil seluruh ED dan A menunjukkan Self-Esteem yang cenderung rendah dan fluktuatif, ditandai dengan ketidakpercayaan diri, rasa tidak berharga, dan kesulitan mengekspresikan emosi. Ini menunjukkan lemahnya internal Significance dan Power akibat ketiadaan figur ayah sebagai sumber validasi dan penguatan RS memiliki Self-Esteem yang tidak stabil karena kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Dirinya mencari validasi dari hubungan luar . asangan atau tema. yang menunjukkan ketergantungan pada Significance eksternal dan lemahnya konsistensi dalam Virtue serta Competence. Sementara itu. AS menunjukkan Self-Esteem yang positif dibandingkan dengan responden lain. Meskipun memiliki trauma masa kecil akibat KDRT dan ketidakhadiran peran ayah. AS juga menunjukkan proses pemulihan melalui refleksi diri dan dukungan sosial yang kuat. Ini mendukung konsep bahwa Self-Esteem bisa tumbuh melalui pengalaman positif yang membangun kelekatan dan makna diri secara lebih sehat. Secara umum, ketidakhadiran peran ayah secara fisik maupun emosional menyebabkan aspek Significance responden menjadi terlalu bergantung terhadap pengakuan dari luar, aspek Competence berkembang cukup lambat akibat minimnya dukungan dari keluarga, pada aspek Power terlihat melemah karena tidak adanya pembimbing untuk mengelola emosi dan kontrol diri dan Virtue tidak terlaksana secara optimal karena keteladanan moral dalam keluarga yang hilang. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan terbukti memiliki peran penting dalam membentuk kepercayaan diri, harga diri, serta kesejahteraan psikologis remaja (Fauzana, 2. Kesimpulannya, kondisi Fatherless ini cukup berpengaruh besar terhadap kelemahan seluruh dimensi Self-Esteem menurut teori Coopersmith. Ketidakhadiran ayah bukan sekadar kehilangan fisik, tetapi hilangnya sumber validasi, afeksi, perlindungan, dan penguatan identitas. Meskipun ada potensi adaptif pada beberapa individu, proses pemulihan Self-Esteem membutuhkan dukungan yang kuat dari lingkungan sosial, refleksi pribadi yang dalam, dan pengalaman relasi yang positif secara konsisten. Hasil Triangulasi Data Berdasarkan triangulasi data dari orang tua, guru Bimbingan dan Konseling dan teman dekat adanya perbedaan persepsi terhadap ED. Ibu menilai ED sebagai pribadi religius, sopan, dan cukup percaya diri, namun guru dan teman menggambarkannya sosok yang pendiam, cemas, dan kurang percaya diri dalam pergaulan sosial. Meski demikian, seluruh informan sepakat bahwa ED memiliki karakter baik dan empati Secara keseluruhan. ED menunjukkan perkembangan positif pada aspek Virtue yang ditandai komitmen terhadap nilai moral dan religius. Namun, aspek Power masih lemah, terlihat dari kecenderungan menghindari konflik, memendam masalah serta kurangnya kontrol diri dan ketegasan dalam berinteraksi Sementara itu, pada responden RS hasil triangulasi data menunjukkan perbedaan persepsi yang Ibu menggambarkan RS sebagai pribadi tertutup, kurang bertanggung jawab, minim motivasi belajar serta kesulitan membangun kedekatan emosional dengan RS. Sebaliknya, guru Bimbingan dan Konseling melihat potensi akademik RS pada pelajaran bahasa Inggris meskipun disertai dengan sikap kurang disiplin. Teman dekat juga menilai RS aktif, humoris dan peduli, namun kesulitan adaptasi sosial serta kebutuhan akan pengakuan dari teman laki-laki. RS cenderung membangun citra diri berbeda antara dirumah dan sekolah. Meskipun semua aspek Self-Esteem masih mengalami hambatan, aspek Competence menunjukkan potensi yang menonjol. RS memiliki keberanian berbicara di depan umum dan minat akademik tertentu, namun perlu dukungan emosional dan bimbingan agar potensi tersebut berkembang secara optimal. Selain itu, adanya perbedaan informasi Fatherless antara RS dengan ibunya. Dimana RS merasa bahwa ayahnya tidak terlibat secara emosional maupun fungsional dalam kehidupannya, sehingga ia merasakan kondisi Fatherless. Disisi lain. Ibu RS menilai bahwa ayah . edua orang tu. sebenarnya sudah berusaha hadir dan memenuhi peran orang tua, termasuk dalam memberi dukungan atau fasilitas. Beranda jurnal : https://ju rnal. org/index. php/ j-edu Analisis gambaran self-esteemA Perbedaan persepsi ini mencerminkan bahwa meskipun orang tua merasa sudah berperan, namun yang dirasakan anak bisa berbeda terutama jika kehadiran ayah tidak bersifat emosional, afirmatif, atau konsisten Triangulasi data dari orang tua, wali kelas, dan teman dekat menunjukkan bahwa AS memiliki kemampuan sosial yang baik, percaya diri, dan komunikatif. Ia dikenal aktif, suportif, dan mandiri, meskipun kadang bersikap dominan dan impulsif. Ketiga informan sepakat bahwa AS memiliki potensi kuat dalam komunikasi dan hubungan sosial, namun masih memerlukan pendampingan dalam pengelolaan emosi dan tanggung jawab. Berdasarkan data tersebut, aspek Competence dan Significance pada AS berkembang positif melalui keberanian, kemandirian, dan hubungan sosial yang suportif. Namun, aspek Power masih lemah, terutama dalam hal kontrol emosi dan keterbukaan terhadap pandangan orang lain. Hal ini juga didukung dengan pernyataan dari teman sebaya AS yang menyatakan bahwa dibeberapa situasi tertentu AS masih kesulitan dalam mengontrol emosi dan perilakunya. Berdasarkan hasil triangulasi data dari ibu, wali kelas, dan teman dekat menunjukkan bahwa A memiliki hubungan yang cukup dekat dengan ibunya dan sedang membangun kembali relasi dengan ayahnya. dinilai aktif, kritis, dan percaya diri, namun masih kesulitan mengelola emosi dan menerapkan kedisiplinan baik di rumah maupun sekolah. Terdapat konsistensi pandangan bahwa A memiliki potensi komunikasi dan kemampuan berpikir yang baik, namun memerlukan pendampingan dalam regulasi emosi dan tanggung Berdasarkan temuan tersebut, aspek Power berkembang positif, ditunjukkan melalui keberanian, ketegasan dan sikap kritis. Sementara itu, aspek Self-Esteem lainnya juga berkembang, meskipun belum sepenuhnya stabil karena masih dipengaruhi oleh tantangan dalam pengelolaan diri dan nilai sosial. Simpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi Fatherless memberikan dampak yang signifikan terhadap pembentukan Self-Esteem pada remaja khususnya pada keempat responden penelitian. Ketidakhadiran ayah secara fisik maupun emosional berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian, harga diri dan regulasi emosi para responden. Berdasarkan keempat aspek Self-Esteem yang dikemukakan oleh Coopersmith yaitu Power. Significance. Virtue, dan Competence. Seluruh responden memiliki Self-Esteem yang belum berkembang secara optimal, bahkan cenderung berada di kategori rendah. Hal ini tercermin dalam lemahnya kontrol diri, regulasi emosi yang tidak stabil, rendahnya rasa berharga, serta ketidakmampuan dalam membangun relasi sosial yang sehat. Secara teoritis, ketidakhadiran figur ayah sebagai sumber validasi, perlindungan, dan penanaman nilai moral telah menciptakan kekosongan psikologis yang tidak seluruhnya dapat diisi oleh lingkungan terdekat. Temuan ini memperkuat bahwa ayah berperan sebagai pendukung emosional dan arah moral, dimana ketidakhadirannya berdampak pada proses internalisasi nilai dan pembentukan identitas diri. Meskipun sebagaian responden penelitian menunjukkan usaha adaptif dengan membentuk citra diri positif dan mencari dukungan dari luar. Upaya yang dilakukan masih bersifat kompensasi, belum mencapai tahap pemulihan psikologis yang menyeluruh. Maka. Fatherless bukan sekedar kehilangan figur ayah melainkan kehilangan sistem pendukung emosional yang fundamental bagi perkembangan harga diri. Penelitian ini menegaskan bahwa Self-Esteem pada remaja Fatherless terbentuk dalam ketidakseimbangan emosi, lemahnya rasa kompetensi dan kebutuhan validasi yang belum tuntas. Pendampingan psikososial, dukungan dari sekolah dan figur pengganti yang responsif menjadi kunci dalam memperkuat Self-Esteem remaja. Referensi