290 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 Tasamuh: Jurnal Studi Islam Volume 17. Nomor 2. Oktober 2025. Hal 290-307 ISSN 2086-6291 . 2461-0542 . https://e-jurnal. id/index. php/Tasamuh Epistemologi Al-QurAoan: Studi Atas Integrasi Wahyu Dan Akal Dalam Tafsir Kontemporer Saeed Fayzul Hayat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar fayzulhayats@gmail. Achmad Abubakar Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar abubakar@uin-alauddin. Halimah Basri Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar basri@uin-alauddin. Diterima: . 5-10-. Direvisi: . 5-10-. Disetujui: . 5-11-. Abstract: The issue of the relationship between revelation and reason has again become an important focus in contemporary exegetical studies along with the development of rational and scientific approaches to the Qur'an (Q. Al'Alaq . : 1Ae. This study aims to uncover the epistemological construction of Qur'anic exegesis that seeks to integrate revelation as a source of transcendental truth and reason as an interpretive instrument in understanding the divine message. This study uses a descriptive qualitative approach with library research methods through content and comparative analysis of classical and modern exegetical works such as Fakhruddin al-Razi. Fazlur Rahman. Nasr Hamid Abu Zayd. Muhammad Syahrur. Quraish Shihab, and Seyyed Hossein Nasr. The results show that the integration of revelation and reason is the foundation for a scientific, religious, and humanistic exegetical paradigm. The novelty of this research lies in the attempt to formulate an integrative epistemological model of interpretation that methodologically synthesizes Seyyed Hossein Nasr's Scientia Sacra concept and Fazlur Rahman's Double Movement theory to build a rational and spiritual interpretation framework. Academically, this research recommends the development of an interpretation curriculum and methodology based on integrative epistemology so that Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 | 291 Qur'anic interpretation functions not only as a spiritual source but also as a contextual and adaptive intellectual guide to the challenges of the modern era. Keywords: Epistemology of Qur'anic Interpretation. Integration of Revelation and Reason. Scientia Sacra. Double Movement. Contemporary Interpretation. PENDAHULUAN Dalam studi Islam masa kini, isu hubungan wahyu dan akal kembali mengemuka seiring maraknya pendekatan rasional dan ilmiah dalam penafsiran al-QurAoan. Sejak awal perkembangan intelektual Islam, relasi wahyu dan akal menjadi fokus kajian utama, di mana wahyu dipandang sebagai sumber kebenaran ilahiah dan akal sebagai instrumen untuk memahami serta mengaitkannya dengan realitas empiris. 1 Tradisi tafsir Islam mencerminkan dialektika antara keduanya melalui tiga corak utama, yaitu tafsr bi al-maAothr yang berbasis riwayat, tafsr bi al-raAoyi yang mengandalkan rasionalitas, dan tafsr isyAr yang berakar pada intuisi spiritual. 2 Pola ini menunjukkan bahwa epistemologi Islam sejak awal telah menempatkan dimensi imanen dan transenden secara seimbang, membentuk pendekatan keilmuan yang holistik dan integratif terhadap realitas manusia. Dalam tafsir kontemporer, keseimbangan wahyu dan akal kerap terganggu oleh dominasi pendekatan rasional dan teknis tanpa landasan epistemologis yang mendalam. Padahal, sebagaimana dikemukakan oleh Saputra et al. , . 4, kajian epistemologi menjadi krusial untuk menilai validitas metode tafsir di era modern yang menuntut integrasi antara filsafat sains dan wahyu. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya rekonstruksi paradigma epistemologi tafsir yang mampu mengharmonikan otoritas wahyu dengan rasionalitas manusia, sehingga penafsiran al-QurAoan tidak hanya kontekstual dan ilmiah, tetapi juga tetap berakar pada kebenaran transenden yang bersumber dari Tuhan. Miftahul Husna Zain et al. AuIntegrasi Wahyu Dan Akal Dalam Filsafat Ilmu Islam,Ay Invention: Journal Research and Education Studies 6, no. 2 (July 2. , https://doi. https://doi. org/10. 51178/invention. Sufyan Muttaqin. Cecep Alba. And Sansan Ziaul Haq. AuModel Penafsiran Kontemporer: Kajian Epistemologis Terhadap Al-Tafsir Al-Wasit Li-Al-QurAoan Al-Karim,Ay Jurnal Studi Al-QurAoan 20. No. Https://Doi. Org/Doi. Org/10. 21009/Jsq. Kerwanto Kerwanto. AuDasar-Dasar Moderasi Dalam Epistemologi Pendidikan Islam Perspektif Al-QurAoan,Ay Jurnal Online Studi Al-QurAoan 18, no. 1 (January 19, 2. : 91Ae110, https://doi. org/https://doi. org/10. 21009/JSQ. Deden Mula Saputra. Nurul Ahmadi, and Andry Hariono. AuEpistemologi AoUlum AlQurAoan: Kajian Historis Atas Dinamika Penafsiran Di Dunia Islam,Ay Al Mikraj Ae Jurnal Studi Islam Dan Humaniora 5, no. , https://doi. org/https://doi. org/10. 37680/almikraj. 292 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 Perdebatan epistemologis antara wahyu dan akal tersebut tercermin dalam pandangan para pemikir Islam klasik dan modern berikut ini. Dalam tradisi klasik. Fakhruddin al-Razi melalui MafAtu al-Ghayb berhasil memadukan pendekatan rasional-filosofis dengan teologi AsyAoariyah, melahirkan sintesis antara akal dan wahyu dalam tafsir. 5 Di era modern. Fazlur Rahman melalui teori double movement menekankan pentingnya memahami Al-QurAoan secara historis dan mengaitkannya dengan realitas modern agar pesan moralnya tetap relevan sepanjang zaman. 6 Nasr Hamid Abu Zayd melalui hermeneutika humanistik menekankan perlunya pembacaan historis dan kontekstual terhadap Al-QurAoan agar tetap relevan bagi kehidupan 7 Sementara itu. Muhammad Iqbal menegaskan pentingnya ijtihad sebagai manifestasi rasionalitas dinamis dalam Islam, dan Seyyed Hossein Nasr menekankan keseimbangan antara rasionalitas dan spiritualitas melalui konsep scientia sacra yang menolak sekularisme ilmu. 8 Adapun Muhammad Syahrur melalui teori hudud menawarkan model tafsir yang menetapkan batas minimal dan maksimal dalam ayat-ayat hukum Al-QurAoan. 9 Quraish Shihab lewat Tafsir al-Mishbah menampilkan model tafsir yang menjaga kesucian teks wahyu sekaligus membuka ruang ijtihad rasional dan kontekstual. 10 Keseluruhan pandangan ini memperlihatkan bahwa sebagian pakar menekankan rasionalitas sebagai kunci pemahaman Al-QurAoan, sebagian lainnya menegaskan supremasi wahyu, sementara kelompok moderat berupaya mengintegrasikan keduanya Hattasal MaAoruf. AuTelaah Kitab Tafsir MafAtu Al-Ghaib Karya Fakhr Al-Dn AlRAz: Kajian Isi Dan Metodologi Penafsiran,Ay Al-Qadim: Journal Tafsir Dan Ilmu Tafsir (Jti. No. Https://Ejournal. Nurulqadim. Ac. Id/Index. Php/Jtit/Article/View/83. Priyantika Lesyaina Az Zahra. Aniatul Fukoroh. And Andi Rosa. AuTeori Double Movement Pada Penafsiran Fazlurrahman Double Movement Theory In The Interpretation Of Fazlurrahman,Ay Jiic: Jurnal Intelek Insan Cendikia. No. Https://Jicnusantara. Com/Index. Php/Jiic. Muhammad Saekul Mujahidin. AuAl-Mubarak Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd Dalam Metode Perkembangan Tafsir Modern,Ay Al-Mubarak Jurnal Kajian Al-Quran & Tafsir 8. No. Https://Doi. Org/10. 47435/Al-Mubarak. V7i1. Yulia Angga Anggraina. Usman, and Zulfadli. AuIntegrasi Wahyu Dan Akal Dalam Epistemology Islam: Studi Literatur Berbasis Al QurAoan Dan Pemikiran Filsus Muslim,Ay Inklusi: Jurnal Pendidikan Islam Dan Filsafat 1, no. , https://glonus. php/inklusi. Nihayatul Husna. AuPembacaan Kontemporer Al-Qur`an Muhammad Syahrur. Batas Minimal Dan Maksimal Aurat Wanita,Ay Cakrawala: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Dan Studi Sosial 5, no. 2 (December 27, 2. : 1Ae13, https://doi. org/10. 33507/ cakrawala. Muhammad Habib Izzuddin Amin and Indal Abror. AuTafsir Al-Mishbah Quraish Shihab: Relevansi Dan Kontekstualisasi Al-QurAoan Bagi Masyarakat Modern Indonesia,Ay BASHAAoIR Jurnal Studi Alquran Dan Tafsir 5, no. 1 (June 2. : 9Ae22, https://ejournal. id/index. php/bashair/article/view/4495. Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 | 293 dalam kerangka tafsir yang seimbang dan kontekstual terhadap tantangan Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kajian tentang hubungan wahyu dan akal telah banyak dilakukan, namun sebagian besar masih bersifat parsial dan deskriptif. Studi tentang MuAotazilah dan AsyAoariyah menyoroti dominasi salah satu aspek akal atau wahyu tanpa menghadirkan sintesis epistemologis yang utuh. 11 Dalam konteks kontemporer, penelitian seperti Maryam & Anwar . ,12 menegaskan pentingnya integrasi wahyu dan akal untuk menjawab tantangan global modernitas. sementara kajian Arifin . ,13 melalui Tafsir Al-Muntakhab menunjukkan upaya memadukan corak klasik dan ilmiah sebagai bentuk keterpaduan keduanya. Namun demikian, belum banyak penelitian yang secara sistematis merumuskan model epistemologi tafsir yang komprehensif dan integratif antara dimensi wahyu, rasionalitas, dan konteks sosial modern. Karena itu, penelitian ini diarahkan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menawarkan konstruksi epistemologi tafsir yang menyeimbangkan wahyu dan akal secara proporsional sebagai fondasi pengembangan tafsir kontemporer yang solutif dan kontekstual. Penelitian ini penting dilakukan karena persoalan hubungan antara wahyu dan akal masih menjadi perdebatan yang belum menemukan bentuk keseimbangan yang utuh dalam studi tafsir kontemporer. Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan kompleksitas persoalan manusia modern, tafsir Al-QurAoan memerlukan pendekatan yang mampu menghubungkan nilainilai transendensi wahyu dengan realitas empiris yang dihadapi manusia. Penelitian ini memiliki signifikansi teoretis karena berupaya membangun kerangka epistemologi tafsir yang integratif antara wahyu dan akal, sehingga dapat memperkaya khazanah metodologi penafsiran Al-QurAoan dan memperluas perspektif keilmuan Islam. Secara praktis, penelitian ini penting untuk menghadirkan model tafsir yang kontekstual, solutif, dan relevan dengan kebutuhan zaman, sehingga tafsir tidak hanya berfungsi sebagai sumber spiritual, tetapi juga sebagai panduan intelektual dalam menghadapi tantangan sosial, ilmiah, dan kemanusiaan masa kini. Firman And Mohammad Yahya. AuPerbandingan Aliran Muktazilah. Murjiah Dan AsyAoariyah Tentang Posisi Akal Dan Wahyu,Ay Ajie: Al-Gazali Journal Of Islamic Education 1. No. 1 (June 2. Https://Doi. Org/10. 21092/A. Ajie. V1i1. Maryam And Syaiful Anwar. AuRelasi Al-QurAoan. Akal. Dan Filsafat: Implikasi Bagi Pendidikan Islam Di Era Global,Ay Abuya: Jurnal Pendidikan Dasar 2. No. 2 (November 2. Https://Doi. Org/Https://Doi. Org/10. 52185/Abuyavol2iss2y2024433. M Syamsul Arifin. AuEpistemologi Tafsir Ilmi Dalam Tafsir Al-Muntakhab,Ay Musala: Jurnal Pesantren Dan Kebudayaan Islam Nusantara Iv. No. Https:// Doi. Org/10. 37252/Jpkin. V4i1. 294 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 Penelitian ini berpijak pada asumsi bahwa wahyu dan akal merupakan dua sumber pengetahuan yang saling melengkapi dalam membangun kerangka epistemologi Islam. Dalam pandangan ini, wahyu diposisikan sebagai sumber kebenaran transendental, sedangkan akal berperan sebagai instrumen interpretatif yang membantu manusia memahami makna-makna Ilahi secara rasional dan kontekstual. 14 Landasan teoretis penelitian ini mengacu pada konsep scientia sacra dari Seyyed Hossein Nasr, yang menegaskan pentingnya kesatuan antara ilmu dan spiritualitas sebagai dasar epistemologi Islam. 15 Selain itu, teori double movement yang dikembangkan oleh Fazlur Rahman memberikan kerangka hermeneutik untuk memahami Al-QurAoan secara dinamis, dengan menghubungkan konteks historis turunnya wahyu dengan realitas modern. 16 Berdasarkan kedua teori tersebut, penelitian ini berasumsi bahwa integrasi antara wahyu dan akal menjadi landasan epistemologis bagi lahirnya tafsir yang seimbang, kontekstual, dan adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta perubahan sosial. Dengan demikian, pendekatan ini diharapkan mampu memberikan pemahaman baru tentang bagaimana tafsir AlQurAoan dapat berfungsi tidak hanya sebagai teks keagamaan, tetapi juga sebagai sumber nilai-nilai intelektual dan moral yang relevan dengan tantangan peradaban modern. METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat kepustakaan . ibrary researc. karena seluruh data yang digunakan bersumber dari kajian literatur dan teks tertulis, bukan hasil observasi lapangan. Ruang lingkup penelitian mencakup kajian konseptual mengenai integrasi antara wahyu dan akal dalam tafsir kontemporer dengan fokus pada persoalan epistemologi Islam modern. Objek kajian penelitian ini adalah pemikiran dan metodologi penafsiran para tokoh modern seperti Fazlur Rahman. Nasr Hamid Abu Zayd. Muhammad Syahrur. Quraish Shihab, dan Seyyed Hossein Nasr. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif Samsuddin. Kurniati, and Misbahuddin. AuDialektika Akal Dan Wahyu: Pembaharuan Hukum Islam Dalam Sosiologi Hukum,Ay Ekspose: Jurnal Penelitian Hukum Dan Pendidikan 22, no. 2 (March 2. : 56Ae67, https://doi. org/https://doi. 30863/ekspose. Ridho Akbar. Alwizar, and Djeprin E Hulawa. AuPerbandingan Konsep Metafisika Imam Al-Ghazali Dan Sayyed Hossein Nasr,Ay Jurnal Cendekia Ilmiah 4, no. 2 (February 2. , https://doi. org/https://doi. org/10. 56799/jceki. Muhammad Umar Ibnu Malik. AuMetodologi Pemikiran Fazlur Rahman Dalam Memahami Hadits: Menjembatani Konteks Historis Dan Relevansinya Di Era Kontemporer,Ay Batuthah: Jurnal Sejarah Padaban Islam 4, no. 1 (March 3, 2. : 26Ae43, https://doi. 38073/batuthah. Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 | 295 deskriptif, yaitu penelitian yang berupaya menggambarkan secara mendalam konsep dan praktik integrasi antara wahyu dan akal dalam pemikiran tafsir. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tafsir . dengan menelaah karya-karya tafsir klasik dan modern yang relevan dengan isu epistemologi Islam. Bahan utama penelitian terdiri atas sumber primer berupa Al-QurAoan, kitab-kitab tafsir klasik dan kontemporer, serta karya asli para tokoh yang menjadi fokus kajian, sedangkan sumber sekunder meliputi jurnal ilmiah, buku, artikel akademik, dan hasil penelitian terdahulu yang mendukung proses Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, yaitu pengumpulan, pencatatan, dan penelaahan terhadap teks-teks tertulis yang relevan dengan topik penelitian. Penelitian ini berfokus pada dua konsep utama, yaitu wahyu sebagai sumber kebenaran transendental dan akal sebagai instrumen epistemologis dalam memahami wahyu. Data dianalisis menggunakan analisis isi dan komparatif-interpretatif dengan mengkaji teks, membandingkan pandangan para pemikir, dan menafsirkan makna untuk membangun model epistemologi tafsir integratif antara wahyu dan akal yang sesuai dengan konteks keilmuan Islam kontemporer. PEMBAHASAN Perkembangan tafsir Al-QurAoan dari masa klasik hingga modern menunjukkan perubahan epistemologis yang menonjol, dengan penafsiran yang kian menekankan integrasi wahyu dan akal secara kontekstual. 17 Sejak awal pemikiran Islam, para sarjana telah terbagi dalam dua pandangan utama: satu menekankan pemahaman rasional melalui akal, dan lainnya menitikberatkan pada otoritas teks wahyu sebagai sumber kebenaran. 18 Kaum MuAotazilah menempatkan akal sebagai dasar utama dalam memahami ajaran agama, sementara AsyAoariyah berupaya menyeimbangkan peran akal dan wahyu, dengan tetap menegaskan wahyu sebagai sumber kebenaran yang paling Wely Dozan. Farihin. And Lalu Masaji. AuReformulasi Tafsir Al-QurAoan Di Era Modern (Telaah Historis Dinamika. Dan Transformasi Metodologi Interpretas. Reforming The Interpretation Of The QurAoan In The Modern Era (Historical Study Of Dynamics And Transformation Methodology Of Interpretatio. ,Ay Al-Afkar. Journal For Islamic Studies 5. No. 1 (February 2. Https://Doi. Org/Https://Doi. Org/10. 31943/Afkarjournal. V5i1. Fina Mazida Husna Et Al. AuRefleksi Hermeneutika Dalam Studi Islam Mengupas Pemikiran Tokoh Hermeneutika Barat Maupun Timur (Isla. ,Ay In Katalog Buku. Ed. Elvi Khasanah Et Al. , 1st Ed. (Semarang: Tahta Media Group, 2. Https://Tahtamedia. Co. Id/ Index. Php/Issj/Article/View/723. 296 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 19 Ketegangan epistemologis ini berlanjut dalam tradisi tafsir klasik dan membentuk dua corak besar dalam sejarah tafsir Islam corak tekstualnormatif dan corak rasional filosofis. Memasuki era modern, fenomena ini mengalami perkembangan yang signifikan seiring munculnya tantangan globalisasi, sekularisasi ilmu pengetahuan, serta kemajuan teknologi dan budaya. Sejumlah mufasir modern seperti Fazlur Rahman. Nasr Hamid Abu Zayd. Muhammad Syahrur, dan Quraish Shihab berusaha menghadirkan tafsir yang memadukan wahyu dan Meskipun demikian, sebagian pendekatan kontemporer cenderung menonjolkan sisi rasional semata atau terlalu terikat pada teks, sehingga integrasi epistemologis antara wahyu dan akal belum sepenuhnya terwujud secara konseptual. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan pendekatan baru dalam kajian tafsir yang mampu terus beradaptasi dan menjembatani berbagai metode penafsiran agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Fenomena inilah yang menjadi isu sentral dalam penelitian ini. Diperlukan suatu kajian epistemologis yang mampu menjembatani dua kutub tersebut dengan pendekatan yang utuh dan proporsional. Integrasi antara wahyu dan akal dipandang sebagai solusi metodologis untuk membangun paradigma tafsir yang harmonis antara sumber kebenaran transendental dan daya rasional Melalui pendekatan integratif ini, tafsir Al-QurAoan diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai teks keagamaan, tetapi juga sebagai sumber nilai, moral, dan ilmu pengetahuan yang mampu memberikan jawaban atas berbagai problem kemanusiaan modern. RELASI EPISTEMOLOGIS ANTARA WAHYU DAN AKAL DALAM TAFSIR Epistemologi Islam menempatkan wahyu . l-wau. sebagai sumber pengetahuan ilahi yang absolut, sedangkan akal (Aoaq. berfungsi sebagai instrumen interpretatif yang membantu manusia memahami makna dan hikmah di balik teks-teks wahyu. 20 Tradisi mutakallimn seperti MuAotazilah dan AsyAoariyah menempatkan akal sebagai penafsir wahyu dalam koridor Aan Pratama And Indo Santalia. AuAsyAoariyah: Sejarah. Doktrin. Dan Hubungannya Dengan MuAotazilah,Ay Edukreatif: Jurnal Kreativitas Dalam Pendidikan 6. No. 1 (January 2. Https://Ijurnal. Com/1/Index. Php/Jkp/Article/View/447. Afiful Ikhwan. AuMengintegrasikan Wahyu Dan Akal Dalam Pendidikan Islam Kontemporer,Ay Chalim Journal of Teaching and Learning 4, no. 2 (February 2, 2. : 128Ae40, https://doi. org/https://doi. org/10. 31538/cjotl. Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 | 297 ketuhanan, di mana menurut Adryan & Santalia, . ,21 AsyAoariyah menyeimbangkan akal dan wahyu secara proporsional tanpa pertentangan Perdebatan historis menunjukkan bahwa MuAotazilah menekankan rasionalitas otonom dalam menilai teks, sedangkan AsyAoariyah menundukkan rasio di bawah otoritas wahyu. Para ulama klasik memandang akal bukan sebagai sumber kebenaran baru, melainkan sebagai sarana epistemologis yang menjembatani pemahaman manusia terhadap wahyu, menjaga keseimbangan antara dimensi tekstual dan rasional. MafAtu al-Ghayb karya Fakhruddin ar-Razi menjadi pionir dalam sintesis antara wahyu dan akal. Ar-Razi memadukan pendekatan kalAm, filsafat, dan tafsir bi al-raAoyi sehingga menghasilkan tafsir yang rasional sekaligus 23 Dalam MafAtu al-Ghayb, al-Razi memandang tafsir bukan hanya kajian linguistik, tetapi sarana epistemik untuk menyingkap makna metafisik wahyu melalui perpaduan nalar logis dan intuisi spiritual, membentuk corak epistemologi rasional-spiritual. 24 Pandangan ini sejalan dengan konsep Scientia Sacra Seyyed Hossein Nasr , yang menegaskan bahwa wahyu adalah sumber utama pengetahuan sakral dan berfungsi menuntun akal untuk menyaksikan serta memahami kebenaran metafisik. Menurut Nasr dalam Knowledge and the Sacred. Scientia Sacra adalah pengetahuan yang bersumber dari wahyu ilahi dan diserap oleh akal yang 26 Dalam konteks tafsir, hal ini berarti bahwa akal tidak mencipta makna, melainkan mengungkap makna yang sudah diwahyukan. Sehingga Muhammad Adryan And Indo Santalia. AuAliran AsyAoariyah: Sebuah Kajian Historis Pengaruh Aliran Serta Pokok Teologinya,Ay Innovative: Journal Of Social Science Research 2. No. Https://Doi. Org/Https://Doi. Org/10. 31004/Inovatif. V2i1. Siti Nurhidayati Et Al. AuAnalisis Epistemologis Terhadap Kriteria Mufassir: Telaah Atas Sumber. Metode Dan Validitas Ilmu Dalam Perspektif Ushul Al-Tafsir,Ay Journal Of Indonesian Tafsir Studies 06. No. : 129Ae45. Https://Doi. Org/Https://Doi. Org/ 51875/Attaisir. V6i1. Ulil Azmi. AuStudi Kitab Tafsir Mafatih Al-Ghaib Karya Ar-Razi,Ay Jurnal Studi Alquran Dan Tafsir 2. No. 2 (December 2. Https://Doi. Org/Https://Doi. Org/10. Bashair. V2i2. Muhammad Rizqi Romdhon And Masruchin Masruchin. AuKonsep Akal Menurut Fakhr Al-RAzi Dalam Tafsir Al-GhAib,Ay Kaca (Karunia Cahaya Alla. : Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin 13. No. 2 (August 2. Https://Doi. Org/Https://Doi. Org/10. Kaca. V13i2. Akhsanudin. AuKontekstualisi Pemikiran Sayyed Hossein Nasr Tentang Pendidikan Islam,Ay Afkaruna: International Journal Of Islamic Studies (Aiji. No. (September 30, 2. : 34Ae47. Https://Doi. Org/10. 38073/Aijis. V2i1. Syarif Hidayatullah. AuKonsep Ilmu Pengetahuan Syed Hussein Nashr: Suatu Telaah Relasi Sains Dan Agama,Ay Jurnal Filsafat 28. No. 1 (February 28, 2. : 113. Https://Doi. Org/10. 22146/Jf. 298 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 wahyu merupakan landasan ontologis bagi seluruh aktivitas rasional, sehingga penafsiran yang autentik ialah yang menempatkan akal berfungsi dalam bingkai dan arah keilahian. Model ini menawarkan cara pandang yang menyatukan dan menyeimbangkan peran wahyu dan akal, melampaui perbedaan lama antara MuAotazilah dan AsyAoariyah. Wahyu ditempatkan sebagai sumber utama kebenaran, sementara akal berfungsi sebagai cermin yang memantulkan cahaya Keduanya berhubungan secara dialogis, di mana akal aktif menafsirkan wahyu tanpa mengurangi kedudukan dan otoritasnya. Kajian terhadap tafsir klasik MafAtu al-Ghayb karya al-Razi menunjukkan bahwa pendekatan rasional dan spiritual sesungguhnya tidak terpisah. mufasir menampilkan wasatiyyah epistemologis keseimbangan antara akal dan spiritualitas dalam memahami wahyu, dengan mengintegrasikan sumber naqli. Aoaqli, dan dzawqi sebagai dasar tafsir yang sahih dan kontekstual. Sebagaimana penelitian Uyuni et al. , . ,28 dalam bukunya menyoroti keberhasilan al-Razi dalam menyusun model tafsir yang menggabungkan analisis logis Aristotelian dengan teosentrisme Islam, menjadikannya pelopor tafsir ilmiah dalam tradisi Islam. Sementara itu Firman & Yahya, . ,29 masih melihat relasi wahyuAeakal secara dikotomis, padahal relasi tersebut semestinya dipahami secara integrative wahyu sebagai sumber kebenaran mutlak dan akal sebagai instrumen interpretatif yang tunduk namun Pendekatan ini sejalan dengan paradigma tawud epistemologis yang menegaskan kesatuan sumber pengetahuan. Dalam kerangka ini tafsir AlQurAoan berdiri di atas dua pilar utama bayAn wahyAn . larifikasi wahy. dan taAoaqqul insAn . enalaran manusiaw. yang saling menopang dalam membentuk struktur pengetahuan Islam. PRAKTIK INTEGRASI WAHYU DAN AKAL DALAM TAFSIR KONTEMPORER Diera modern dan global, tafsir Al-QurAoan bergeser dari tekstual ke kontekstual dengan pendekatan hermeneutika yang mempertimbangkan aspek M Rama Haqiqi. Muh Mubinullah. And M Rizkhan Arsy. AuHermeneutika Dalam Diskursus Tafsir: Konsep. Sejarah Perkembangan. Dan Penggunaannya Dalam Tafsir Ibnu Katsir,Ay Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu Al-Quran Dan Tafsir 4. No. : 2024, Https://Doi. Org/Https://Doi. Org/10. 19109/Jsq. V4i1. Badrah Uyuni Et Al. AuIslam Dan Ilmu Pengetahuan,Ay In Researachget Book. Ed. Hendra Nusa Putra, 1st Ed. (Padang: Get Press Indonesia, 2. Https://w. Researchgate Net/Publication/395847298. Firman And Yahya. AuPerbandingan Aliran Muktazilah. Murjiah Dan AsyAoariyah Tentang Posisi Akal Dan Wahyu. Ay Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 | 299 sosial, historis, dan kultural, sehingga lebih relevan dan adaptif terhadap tantangan zaman. 30 integrasi asbabun nuzul dengan hermeneutika modern berperan penting dalam membangun tafsir Al-QurAoan yang progresif, karena mampu mengaitkan pesan wahyu dengan konteks historis dan sosial secara 31 Konsep Islamisasi ilmu yang diperbarui menekankan pentingnya dialog antara wahyu dan realitas empiris. Wahyu tidak hanya menjadi dasar nilai, tetapi juga berperan sebagai kerangka berpikir yang memungkinkan pengembangan ilmu secara kreatif tanpa meninggalkan landasan teologisnya. Menurut Mujahidin, . ,33 penafsiran kontemporer perlu menjaga keseimbangan antara otentisitas wahyu dan daya rasional manusia agar tafsir tetap berfungsi sebagai pedoman ilahi yang adaptif terhadap perubahan zaman. Dalam hal ini, akal berperan sebagai alat kontekstualisasi yang menafsirkan wahyu sesuai kebutuhan sosial, bukan sebagai sumber kebenaran baru yang berdiri sendiri. Pendekatan ini terlihat jelas dalam teori Double Movement yang dikembangkan oleh Fazlur Rahman. Ia menekankan dua gerak hermeneutis pertama, memahami pesan moral Al-QurAoan dalam konteks sejarah pewahyuannya, dan kedua, menafsirkan prinsip-prinsip moral universal untuk diterapkan pada situasi modern. 34 Dengan demikian, wahyu tidak berhenti pada teks, tetapi menuntun akal agar mampu menghidupkan nilai-nilai ilahiah dalam masyarakat kontemporer. Namun, agar tidak terjebak pada sekularisasi penafsiran, pendekatan ini perlu disertai kesadaran spiritual sebagaimana digagas Seyyed Hossein Nasr melalui konsep Scientia Sacra, yang menempatkan wahyu sebagai sumber pengetahuan sakral dan menjadikan akal sebagai alat penyingkap makna, bukan penentu kebenaran. Nurcahyati Nurcahyati And Haqiqi Haqiqi. AuTransformation Of Traditional Tafsir To Modern Perspective Of Fazlur RahmanAos Hermeneutics,Ay Al Muhafidz: Jurnal Ilmu AlQurAoan Dan Tafsir 5. No. 1 (February 25, 2. : 143Ae60. Https://Doi. Org/10. Almuhafidz. V5i1. Muhammad Muslimin. Achmad Abubakar. And Hamka Ilyas. AuKontribusi Asbabun Nuzul Terhadap Hermeneutika Al-QurAoan,Ay Peshum: Jurnal Pendidikan. Sosial. Dan Humaniora 4. No. Https://Doi. Org/Https://Doi. Org/10. 56799/Peshum. V4i2. Aulia Herawati. Ulil Devia Ningrum. And Herlini Puspika Sari. AuWahyu Sebagai Sumber Utama Kebenaran Dalam Pendidikan: Kajian Kritis Terhadap Implementasinya Di Era Modern,Ay Surau : Journal Of Islamic Education 2. No. Https://Doi. Org/ 30983/Surau. V3i1. Mujahidin. AuAl-Mubarak Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd Dalam Metode Perkembangan Tafsir Modern. Ay Ibnu Malik. AuMetodologi Pemikiran Fazlur Rahman Dalam Memahami Hadits: Menjembatani Konteks Historis Dan Relevansinya Di Era Kontemporer. Ay Amin And Abror. AuTafsir Al-Mishbah Quraish Shihab: Relevansi Dan Kontekstualisasi Al-QurAoan Bagi Masyarakat Modern Indonesia. Ay 300 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 Dalam praktiknya, beberapa tokoh kontemporer menerapkan integrasi ini dengan corak berbeda. Fazlur Rahman memandang Al-QurAoan perlu ditafsirkan secara dinamis dan kontekstual, bukan hanya secara tekstual. menekankan bahwa ajaran wahyu harus diterapkan dalam kehidupan sosial dengan menyoroti nilai-nilai seperti keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan agar tetap relevan dengan tantangan zaman. 36 Nasr Hamid Abu Zayd memandang AlQurAoan sebagai teks yang lahir dalam konteks budaya dan sejarah tertentu. Karena itu, maknanya harus dipahami melalui hubungan antara teks, konteks, dan pembaca, bukan sekadar secara harfiah, agar pesan kemanusiaannya tetap hidup dan relevan. 37 Muhammad Syahrur menawarkan teori hudud sebagai pendekatan rasional dan fleksibel dalam memahami hukum Islam. menjelaskan bahwa hukum Allah memiliki batas minimal dan maksimal, sehingga penafsir dapat menyesuaikannya dengan konteks zaman tanpa melampaui ketentuan Ilahi. 38 Sementara itu. Dalam Tafsir Al-Mishbah. Quraish Shihab memadukan pemahaman teks Al-QurAoan dengan konteks sosial secara Ia menafsirkan ayat-ayat secara rasional dan relevan dengan kehidupan modern tanpa mengabaikan nilai-nilai ilahiah yang terkandung dalam wahyu. Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya seperti Mujahidin, . , dan Amin & Abror . ,41 yang hanya membahas satu tokoh secara parsial, maka sintesis lintas pemikiran ini menunjukkan bahwa para mufasir modern memiliki landasan epistemologis yang sama, yaitu pandangan bahwa wahyu merupakan sumber pengetahuan ilahi yang absolut, sedangkan akal berfungsi sebagai instrumen interpretatif yang kontekstual dan terbimbing secara moral. Model integratif ini menegaskan bahwa tafsir kontemporer tidak Sarah Mitha Amelia Et Al. AuPemikiran Fazlur Rahman Dalam Reinterpretasi AlQurAoan Melalui Lensa Kontekstual,Ay Journal Homepage: Almustofa: Journal Of Islamic Studies And Research 2. No. Https://Ejournal. Bamala. Org/Index. Php/Almustofa/. Abdullah Munir And HurinAoin Am. AuPemikiran Tafsir Kontekstual Nasr Hamid Abu Zayd Dan Relevansinya Terhadap Kurikulum Pai,Ay Jurnal El Makrifat Kajian Pendidikan Dan Keislaman 2. No. : 37. Https://Ojs. Stitmakrifatulilmi. Ac. Id/Index. Php/ Elmakrifah/Article/View/46/19. Zuyyina Candra Kirana. Aswandi. And Ali Muchasan. AuKontribusi Pemikiran Muhammad Syahrur Tentang Te,Ay Salimiya: Jurnal Studi Ilmu Keagamaan Islam 3. No. (December 2. Https://Doi. Org/Https://Doi. Org/10. 58401/Salimiya. V3i4. Lufaefil. AuTafsir Al-Mishbah: Tekstualitas. Rasionalitas Lokalitas Tafsir Nusantara,Ay Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 21. No. 1 (April 2. Https://Doi. Org/ Https://Doi. Org/10. 22373/Substantia. V21i1. Mujahidin. AuAl-Mubarak Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd Dalam Metode Perkembangan Tafsir Modern. Ay Amin And Abror. AuTafsir Al-Mishbah Quraish Shihab: Relevansi Dan Kontekstualisasi Al-QurAoan Bagi Masyarakat Modern Indonesia. Ay Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 | 301 menolak rasionalitas, melainkan menundukkan rasio dalam kerangka ketuhanan sehingga melahirkan tafsir yang rasional sekaligus spiritual. Sebagaimana ditegaskan Quraish Shihab akal dan wahyu adalah dua sayap yang harus terbang seimbang agar penafsiran mencapai kebenaran dan kebijaksanaan. Dengan demikian, integrasi wahyu dan akal dalam tafsir kontemporer menjadi paradigma baru yang menyatukan pendekatan rasional, kontekstual, dan spiritual. Ia berupaya menjawab tantangan modernitas tanpa meninggalkan kesakralan wahyu. Melalui model seperti Double Movement dan Scientia Sacra, para mufasir kontemporer berhasil menunjukkan bahwa penafsiran Al-QurAoan dapat tetap ilmiah, relevan, dan bernilai transenden sekaligus. IMPLIKASI EPISTEMOLOGI INTEGRATIF TERHADAP PENGEMBANGAN ILMU TAFSIR Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan sosial di era modern telah mendorong kajian tafsir Al-QurAoan berkembang pesat, menjadikannya bidang penting dalam studi keislaman yang relevan dengan dinamika zaman. 42 Sekularisasi pengetahuan dan krisis makna dalam membaca teks-teks keagamaan menuntut lahirnya model epistemologi tafsir baru yang mampu menjaga keutuhan nilai spiritual sekaligus relevan secara ilmiah. Fenomena ini menunjukkan bahwa pendekatan tafsir yang hanya menekankan rasionalitas ilmiah sering kali kehilangan dimensi ilahinya, sementara tafsir yang sepenuhnya tekstual kerap tertinggal dari dinamika zaman. Karena itu, dibutuhkan paradigma tafsir yang ilmiah sekaligus spiritual, di mana wahyu diposisikan sebagai sumber kebenaran absolut dan akal sebagai instrumen analitis yang menafsirkan pesan ilahi secara kontekstual. Secara teoretis, integrasi antara konsep Scientia Sacra dari Seyyed Hossein Nasr dan teori Double Movement dari Fazlur Rahman menghadirkan sintesis epistemologis yang harmonis. Scientia Sacra menegaskan wahyu sebagai pengetahuan sakral yang menuntun manusia pada realitas transenden, sedangkan Double Movement menawarkan metodologi rasional-hermeneutik untuk mengaitkan teks dengan konteks. Sintesis keduanya melahirkan model tafsir integratif yang menjembatani kebenaran ilahi dan realitas empiris, tanpa mengorbankan dimensi spiritual maupun ilmiah. Paradigma ini memungkinkan Afifudin And Kambali. AuMetodologi Penafsiran Al-QurAoan Dalam Kajian Ilmu Islam,Ay Counselia. Jurnal Bimbingan Konseling Pendidikan Islam 6. No. 1 (March 22, 2. 1Ae11. Https://Doi. Org/10. 31943/Counselia. V6i1. M Syamsul Arifin. AuEpistemologi Tafsir Ilmi Dalam Tafsir Al-Muntakhab,Ay Musala: Jurnal Pesantren Dan Kebudayaan Islam Nusantara Iv. No. Https:// Doi. Org/10. 37252/Jpkin. V4i1. 302 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 penafsiran Al-QurAoan bergerak dinamis, berpijak pada nilai-nilai abadi tetapi responsif terhadap perubahan sosial dan keilmuan modern. Secara aplikatif, epistemologi tafsir integratif memiliki implikasi luas terhadap pendidikan Islam, metodologi penelitian tafsir, dan pengembangan ilmu Dalam pendidikan Islam, paradigma ini mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari nilai wahyu, sehingga membentuk karakter ilmuwan Muslim yang rasional sekaligus beretika spiritual. Dalam metodologi tafsir, pendekatan ini mendorong pengembangan tafsir tematik dan ilmiah yang menafsirkan ayat-ayat Al-QurAoan dengan menggabungkan pendekatan empiris, linguistik, dan teologis. Dengan demikian, tafsir bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga proses spiritual untuk memahami kehendak Ilahi dalam konteks kehidupan manusia modern. Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, seperti Arifin . , yang menyoroti pendekatan tafsir ilmiah secara deskriptif, maka penelitian ini menawarkan kerangka epistemologis yang lebih utuh, yakni integrasi antara rasionalitas hermeneutik dan spiritualitas wahyu. Model ini tidak berhenti pada pembenaran ilmiah terhadap teks, tetapi juga menegaskan peran wahyu sebagai sumber orientasi moral dan transendensi dalam seluruh proses pengetahuan. Dengan cara ini, integrasi wahyu dan akal bukanlah kompromi antara agama dan ilmu, melainkan fondasi epistemologi Islam yang harmonis, dinamis, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Sebagaimana ditegaskan Nasr, pengetahuan sejati adalah yang berakar pada wahyu, namun berbuah dalam akal yang tercerahkan. Maka dalam konteks tafsir modern, epistemologi integratif menjadi jembatan yang menyatukan iman, akal, dan realitas, sehingga pengembangan ilmu tafsir tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kebijaksanaan spiritual. PENUTUP Kesimpulannya, hubungan antara wahyu dan akal dalam tafsir AlQurAoan bukanlah pertentangan, melainkan perpaduan yang saling melengkapi dalam menyingkap kebenaran Ilahi. Wahyu menjadi sumber kebenaran mutlak, sedangkan akal berperan sebagai alat interpretatif yang menuntun pemahaman manusia secara rasional dan spiritual. Melalui sintesis konsep Scientia Sacra Seyyed Hossein Nasr dan teori Double Movement Fazlur Rahman, penelitian ini M Syamsul Arifin. AuEpistemologi Tafsir Ilmi Dalam Tafsir Al-Muntakhab,Ay Musala: Jurnal Pesantren Dan Kebudayaan Islam Nusantara Iv. No. Https:// Doi. Org/10. 37252/Jpkin. V4i1. Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 | 303 menegaskan lahirnya paradigma tafsir integratif yang menyeimbangkan rasionalitas dan spiritualitas serta menjawab perbedaan klasik antara MuAotazilah dan AsyAoariyah. Dengan demikian, tafsir modern berfungsi bukan hanya sebagai penjelasan teologis, tetapi juga sebagai panduan moral dan intelektual yang relevan dengan tantangan zaman. Saran dari penelitian ini ialah perlunya penerapan pendekatan epistemologi integratif dalam kajian tafsir tematik dan ilmiah, pengembangan kurikulum tafsir berbasis integrasi wahyuAeakal di lembaga pendidikan Islam, serta perluasan penelitian multidisipliner agar integrasi ini dapat diaplikasikan secara nyata dalam menjawab problem sosial dan keilmuan modern tanpa kehilangan dimensi sakral wahyu. 304 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 DAFTAR PUSTAKA