Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Penguatan Kapasitas Guru Sekolah Dasar dalam Menciptakan Kelas Inklusif yang Ramah bagi Anak Berkebutuhan Khusus Guesa Maiwinda. Pd. UIN Imam Bonjol Padang, guesa. maiwinda@uinib. Dini Susanti. Pd. Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, dinisusanti35@gmail. Ridania Ekawati. Pd. Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, ridaniaekawati@gmail. Vini Wela Septiana. Pd. Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, viniwela86@gmail. Sekar Harum Pratiwi. Pd. Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, sekarpratiwi95@gamil. Jepri Naldi. Pd. Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, jeprinaldi804@gmail. Nurasna Harahap. Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, nurasnaharahap75@gmail. Aulia Rahmi. Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, auliarahmi2022padang@gmail. Keywords: Pendidikan Inklusi. Sekolah Dasar. Siswa Berkebutuhan Khusus Abstrak: Pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya pemahaman dan keterampilan guru sekolah dasar dalam mengelola kelas inklusif yang ramah bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Fokus kegiatan adalah penguatan kapasitas guru melalui pelatihan, pendampingan, dan praktik penyusunan strategi pembelajaran inklusif. Pokok bahasan meliputi konsep pendidikan inklusif, identifikasi karakteristik ABK, pengelolaan kelas yang ramah, adaptasi pembelajaran, serta pengembangan lingkungan belajar yang mendukung keberagaman peserta didik. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap guru dalam menciptakan kelas yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan ABK. Metode yang digunakan berupa pelatihan partisipatif, diskusi kelompok, studi kasus, dan pendampingan implementasi di kelas. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan pemahaman guru tentang pendidikan inklusif, kemampuan merancang pembelajaran yang adaptif, serta terciptanya lingkungan kelas yang lebih ramah, aman, dan mendukung perkembangan seluruh peserta Pendahuluan Pendidikan inklusi merupakan sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua anak untuk belajar bersama dalam satu lingkungan sekolah tanpa membedakan kondisi fisik, intelektual, sosial, emosional, maupun latar belakang lainnya. Melalui pendidikan inklusi, anak berkebutuhan khusus (ABK) dapat memperoleh hak yang sama untuk mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu bersama teman sebayanya di sekolah p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif yang menegaskan bahwa setiap peserta didik memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan tanpa diskriminasi. Meskipun kebijakan pendidikan inklusi telah diterapkan, pelaksanaannya di sekolah dasar masih menghadapi berbagai tantangan. Guru sebagai pelaksana utama pembelajaran sering kali mengalami kesulitan dalam mengelola kelas yang memiliki keberagaman karakteristik peserta didik. Kondisi ini terutama terjadi ketika guru harus memberikan layanan pembelajaran yang sesuai bagi anak berkebutuhan khusus di dalam kelas reguler. Keterbatasan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman guru dalam pendidikan inklusi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kualitas layanan pembelajaran bagi ABK. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan oleh tim pengabdi di SDN 23 Pasir Sebelah dan SDN 23 Bungo Pasang Kota Padang, ditemukan beberapa permasalahan yang menjadi prioritas bagi sekolah mitra. Pertama, sebagian besar guru belum pernah mengikuti pelatihan khusus mengenai pendidikan inklusi dan strategi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus. Kedua, sekolah belum memiliki panduan praktis yang dapat digunakan guru dalam mengelola kelas inklusi. Ketiga, ketersediaan media dan sumber belajar yang adaptif bagi peserta didik berkebutuhan khusus masih sangat terbatas. Akibatnya, proses pembelajaran belum sepenuhnya mampu mengakomodasi kebutuhan belajar seluruh peserta didik secara optimal. Permasalahan tersebut berdampak pada belum maksimalnya layanan pendidikan yang diberikan kepada anak berkebutuhan khusus. Guru sering mengalami kesulitan dalam melakukan penyesuaian materi, metode pembelajaran, maupun penilaian yang sesuai dengan karakteristik peserta Di sisi lain, sekolah memiliki potensi yang cukup besar untuk mengembangkan pendidikan inklusi karena adanya komitmen kepala sekolah dan guru untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik. Berdasarkan analisis situasi tersebut, permasalahan prioritas yang perlu segera ditangani adalah rendahnya kapasitas guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran inklusif yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus. Permasalahan ini dipilih karena berhubungan langsung dengan kualitas layanan pembelajaran yang diterima peserta didik serta menjadi kebutuhan utama yang disampaikan oleh sekolah mitra. Sebagai solusi, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui program pelatihan dan pendampingan guru dalam mengelola kelas inklusi. Kegiatan juga mencakup penyusunan modul panduan implementasi pendidikan inklusi serta pengembangan media pembelajaran adaptif yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Pendekatan yang digunakan mengacu pada prinsip Universal Design for Learning (UDL) yang menekankan fleksibilitas dalam penyajian materi, cara peserta didik menunjukkan pemahaman, dan keterlibatan aktif dalam proses belajar. Mitra berpartisipasi secara aktif dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari identifikasi kebutuhan, pelaksanaan pelatihan, penyusunan perangkat pembelajaran, hingga monitoring dan evaluasi program. Keterlibatan aktif mitra diharapkan dapat meningkatkan keberlanjutan program setelah kegiatan pengabdian selesai dilaksanakan. Adapun target luaran kegiatan ini meliputi: . meningkatnya kompetensi guru dalam memahami dan menerapkan pendidikan inklusi di sekolah dasar. tersusunnya modul panduan implementasi kelas inklusi yang dapat digunakan sebagai acuan bagi . tersedianya media pembelajaran adaptif untuk mendukung pembelajaran anak berkebutuhan dan . terbentuknya komunitas praktisi pendidikan inklusi di sekolah mitra sebagai wadah berbagi pengalaman dan praktik baik dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif. Melalui kegiatan ini diharapkan guru memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menciptakan lingkungan belajar yang p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 inklusif, dan berkeadilan sehingga seluruh peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus, dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki. Pelaksanaan dan Metode Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan selama tiga bulan, yaitu dari bulan Maret hingga Mei 2023, di SDN 23 Pasir Sebelah dan SDN 23 Bungo Pasang Kota Padang. Provinsi Sumatera Barat. Kedua sekolah dipilih sebagai mitra karena telah menerima peserta didik berkebutuhan khusus dalam pembelajaran reguler, namun masih menghadapi berbagai kendala dalam implementasi pendidikan inklusi. Peserta kegiatan berjumlah 35 orang guru yang terdiri atas guru kelas dan guru mata pelajaran dari kedua sekolah mitra. Dari jumlah tersebut, sebanyak 28 orang merupakan guru perempuan dan 7 orang guru laki- laki. Latar belakang pendidikan peserta terdiri atas lulusan Sarjana (S. dan Magister (S. Kependidikan. Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan awal, sebagian besar guru belum pernah mengikuti pelatihan formal mengenai pendidikan inklusi dan strategi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Metode yang digunakan dalam kegiatan ini merupakan kombinasi antara pelatihan, peningkatan pemahaman, dan pendampingan berkelanjutan. Pendekatan ini dipilih untuk memastikan bahwa guru tidak hanya memahami konsep pendidikan inklusi secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Tahapan kegiatan diawali dengan kegiatan penyadaran dan peningkatan pemahaman mengenai pentingnya pendidikan inklusi di sekolah Pada tahap ini, peserta diberikan materi tentang konsep dasar pendidikan inklusi, hak-hak anak berkebutuhan khusus dalam memperoleh layanan pendidikan, karakteristik berbagai jenis kebutuhan khusus, serta prinsip- prinsip pembelajaran yang ramah bagi semua peserta didik. Kegiatan dilakukan melalui ceramah interaktif, diskusi, dan tanya jawab sehingga peserta dapat berbagi pengalaman serta permasalahan yang selama ini dihadapi di kelas. Tahap berikutnya adalah pelatihan . dan difusi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEKS) dalam bidang pendidikan inklusi. Materi yang diberikan meliputi identifikasi kebutuhan belajar peserta didik berkebutuhan khusus, penerapan pembelajaran berdiferensiasi, penyusunan perangkat pembelajaran inklusif, pengembangan asesmen yang adaptif, serta pemanfaatan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Pelatihan dilaksanakan dalam bentuk workshop interaktif yang memungkinkan peserta terlibat secara aktif dalam setiap sesi kegiatan. Selanjutnya, dilakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk mengidentifikasi dan memetakan berbagai permasalahan yang dihadapi guru dalam mengelola kelas inklusi. Melalui kegiatan ini, peserta bersama tim pengabdi mendiskusikan solusi yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing. Hasil FGD digunakan sebagai dasar dalam penyusunan modul panduan implementasi pendidikan inklusi dan pengembangan media pembelajaran adaptif. Pada tahap praktik, peserta diberikan kesempatan untuk melakukan simulasi penyusunan perangkat pembelajaran inklusif, seperti modul ajar, lembar kerja peserta didik, instrumen asesmen, serta media pembelajaran yang dapat digunakan oleh peserta didik dengan kebutuhan yang beragam. Kegiatan simulasi bertujuan untuk meningkatkan keterampilan guru dalam merancang pembelajaran yang lebih fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik. Tahap terakhir adalah pendampingan . dan konsultasi p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 berkelanjutan selama implementasi di kelas. Tim pengabdi melakukan observasi, memberikan masukan, serta membantu guru dalam menyelesaikan berbagai kendala yang muncul selama proses pembelajaran Pendampingan dilakukan secara langsung di sekolah maupun melalui komunikasi daring sehingga guru memperoleh dukungan yang berkelanjutan dalam menerapkan praktik pendidikan Untuk mengetahui keberhasilan program, dilakukan evaluasi melalui observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi kegiatan. Evaluasi difokuskan pada peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap guru dalam mengelola kelas inklusi, serta kemampuan guru dalam menyusun dan menerapkan perangkat pembelajaran yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus. Hasil evaluasi menjadi dasar untuk mengukur efektivitas program sekaligus sebagai bahan perbaikan dan pengembangan kegiatan berikutnya. Tabel Ringkasan Metode Kegiatan : Tahap Kegiatan Metode Analisis Kebutuhan Observasi, wawancara Peningkatan Pemahaman Ceramah interaktif. Pelatihan (Trainin. Workshop, simulasi FGD Pendampingan Evaluasi Diskusi kelompok Coaching dan Angket, observasi. Materi/Kegiatan Identifikasi permasalahan guru dalam pendidikan Konsep pendidikan inklusi dan karakteristik ABK Pembelajaran diferensiasi, penyusunan perangkat inklusi, media adaptif Pemetaan masalah dan solusi implementasi pendidikan inklusi Implementasi pembelajaran inklusi di kelas Pengukuran peningkatan kompetensi guru dan keberhasilan program Gambar 1. Foto Kegiatan p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Hasil dan Pembahasan Kegiatan pengabdian ini menghasilkan beberapa capaian penting yang dapat diukur secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara umum, terdapat peningkatan signifikan pada pemahaman dan keterampilan guru dalam mengimplementasikan pendidikan inklusi di kelas. Berikut diuraikan hasil dan pembahasan dari masing-masing tahap kegiatan. Pada tahap workshop dan pelatihan, dilakukan pretest untuk mengukur pemahaman awal guru tentang konsep pendidikan inklusi. Hasil pre-test menunjukkan rata-rata skor 42,3 dari skala 100, yang mengindikasikan pemahaman guru masih tergolong rendah. Setelah pelaksanaan workshop selama dua hari penuh, dilakukan post-test dengan hasil rata-rata skor 71,4. Peningkatan rata- rata sebesar 29,1 poin atau setara 68,5% menunjukkan efektivitas metode pelatihan yang diterapkan. Materi yang paling banyak dipahami adalah identifikasi kebutuhan ABK . eningkatan 82%) dan strategi diferensiasi konten pembelajaran . eningkatan 74%). Pada sesi simulasi penyusunan RPP inklusi, sebanyak 35 guru berhasil menyusun RPP yang memuat komponen akomodasi dan modifikasi untuk ABK. Tim pengabdi memberikan umpan balik langsung terhadap setiap RPP yang disusun. Hasilnya, 31 dari 35 RPP . ,6%) dinyatakan layak dan dapat diimplementasikan dengan sedikit revisi. Guru juga dilatih membuat media pembelajaran adaptif menggunakan bahan sederhana yang mudah ditemukan di lingkungan sekolah, seperti kartu kata bergambar, alat peraga matematika tiga dimensi, dan lembar kerja berbasis gambar. Masing-masing kelompok guru menghasilkan minimal tiga jenis media adaptif yang langsung dapat digunakan di kelas. ini adalah hasil keseluruhan pelaksanaan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan oleh para penulis atau pengabdi. Proses analisis data tidak perlu disajikan. Tabel dan grafik dapat digunakan untuk memperjelas penyajian hasil pengabdian. Tabel dan grafik harus diberi komentar atau dibahas. Jenis tulisan yang digunakan yaitu Selama tahap pendampingan di kelas . , tim pengabdi melakukan observasi langsung di 10 kelas dari kedua sekolah selama periode dua minggu. Hasil observasi menunjukkan bahwa guru mulai menerapkan strategi diferensiasi pembelajaran secara konsisten, meskipun masih terdapat beberapa guru yang memerlukan bimbingan lebih intensif. Catatan lapangan menunjukkan perubahan positif dalam interaksi guru dengan siswa berkebutuhan khusus, yakni guru lebih sabar dan kreatif dalam memfasilitasi kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Hasil kegiatan pengabdian ini relevan dengan temuan berbagai penelitian sebelumnya yang menegaskan bahwa pelatihan berbasis praktik . ands-on trainin. lebih efektif dalam meningkatkan kompetensi guru dibandingkan pelatihan konvensional yang bersifat teoritis semata (Loreman et al. Forlin, 2. Faktor pendorong keberhasilan kegiatan ini antara lain: . dukungan penuh dari kepala sekolah dan dinas pendidikan setempat. antusiasme guru yang tinggi dalam mengikuti setiap sesi pelatihan. pendekatan pelatihan yang kontekstual dan langsung dapat dipraktikkan di Adapun faktor penghambat yang ditemukan meliputi keterbatasan waktu karena padatnya jadwal mengajar guru, minimnya sarana pendukung seperti ruang sumber dan alat bantu khusus, serta belum adanya kebijakan teknis dari sekolah terkait pengelolaan siswa ABK. Indikator keberhasilan program ini diukur melalui peningkatan skor pre-test dan post-test, kualitas RPP yang disusun guru, jumlah media adaptif yang dihasilkan, serta respons positif guru terhadap keberlanjutan program pendidikan inklusi di sekolah masing-masing. r keberhasilan program. menjelaskan faktor-faktor pendorong atau penghambat pelaksanaan program. p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Luaran program yang dihasilkan dari kegiatan pengabdian ini terdiri dari tiga komponen utama. Pertama, modul panduan implementasi pendidikan inklusi di sekolah dasar yang telah divalidasi oleh pakar pendidikan khusus dan siap didistribusikan ke seluruh guru di kedua sekolah mitra. Kedua, kumpulan RPP inklusi yang telah direvisi dan dapat dijadikan referensi bagi guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran yang akomodatif. Ketiga, terbentuknya komunitas belajar guru . eacher learning communit. yang berkomitmen untuk terus mengembangkan praktik pendidikan inklusi secara Komunitas ini direncanakan akan mengadakan pertemuan rutin setiap bulan untuk berbagi pengalaman dan saling mendukung dalam implementasi inklusi di kelas. kuesioner, pre-test dan post-test, observasi kelas, dan wawancara mendalam dengan guru dan kepala sekolah. Penutup Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tentang implementasi pendidikan inklusi di sekolah dasar ini berhasil meningkatkan kompetensi guru dalam mengelola kelas inklusi secara signifikan. Hal ini tercermin dari peningkatan rata-rata skor pemahaman guru sebesar 68,5%, kemampuan menyusun RPP inklusi yang akomodatif, serta kemampuan mengembangkan media pembelajaran adaptif. Terbentuknya komunitas belajar guru . eacher learning communit. menjadi modal sosial yang penting untuk keberlanjutan program pendidikan inklusi di kedua sekolah mitra. Faktor pendukung utama keberhasilan program ini adalah dukungan kelembagaan yang kuat dan motivasi intrinsik guru yang Sementara itu, keterbatasan sarana dan padatnya jadwal guru masih menjadi hambatan yang perlu diatasi. Berdasarkan hasil kegiatan ini, disarankan agar: . sekolah menyediakan ruang sumber . esource roo. yang dilengkapi alat bantu belajar bagi ABK. dinas pendidikan mengintegrasikan pelatihan pendidikan inklusi dalam program pengembangan profesional guru secara berkelanjutan. pemerintah daerah memperkuat regulasi dan alokasi anggaran untuk mendukung implementasi pendidikan inklusi di seluruh sekolah dasar. penelitian lanjutan diperlukan untuk mengkaji dampak jangka panjang program ini terhadap capaian belajar siswa berkebutuhan khusus. References