KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN MANGGA (Mangifera indica L. ) DI BULELENG Putu Suwardike1. I Nyoman Rai2. Rindang Dwiyani2. Eniek Kriswiyanti3 email: putu. suwardike@unipas. Mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Udayana Fakultas Pertanian. Universitas Udayana Jl. Panglima Besar Sudirman. Denpasar. Bali Fakultas MIPA. Universitas Udayana Jl. Raya Kampus Unud. Kampus Bukit Jimbaran. Badung Abstract: Mango plants are one type of plant that has been developed in Buleleng Regency. Generally, the development of mangoes is not based on land suitability analysis, but is based on trial and error or imitating other farmers who have succeeded. This article is the result of a literature study to examine the existing conditions of the development of mango plants in Buleleng, and the compatibility of the factual conditions for the development of mango plants in Buleleng with the Technical Guidelines for Evaluating Land for mango plants. At the order level, land in the Buleleng Regency is classified as suitable (S) for mango plants. However, at the class level, the suitability of land for mango plants in Buleleng is quite varied. The most suitable area for mango plants is Buleleng. Sawan and Kubutambahan subdistricts. Keywords: mango, land suitability. Buleleng Abstrak: Tanaman mangga meupakan salah jenis tanaman yang banyak dikembangkan di Kabupaten Buleleng. Umumnya, pengembangan mangga tidak didasarkan pada analisa kesesuaian lahan, tetapi berdasarkan cobacoba atau meniru petani lain yang telah berhasil. Artikel ini merupakan hasil studi pustaka guna menelaah kondisi eksisting pengembangan tanaman mangga di Buleleng, dan kecocokan kondisi faktual pengembangan tanaman mangga di Buleleng dengan Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan untuk tanaman mangga. Pada tingkat ordo, lahan-lahan di wilayah Kabupaten Buleleng tergolong cocok (S) untuk tanaman mangga. Tetapi, pada tingkat klas, kesesuaian lahan untuk tanaman mangga di Buleleng cukup bervariasi. Wilayah yang paling sesuai untuk tanaman mangga adalah Kecamatan Buleleng. Sawan dan Kubutambahan. Kata kunci: mangga, kesesuaian lahan, buleleng PENDAHULUAN Mangga merupakan buah tropis yang tergolong eksotik . berpeluang besar untuk industri pengolahan dan sebagai buah eksport. Di dunia, mangga masuk dalam kelompok lima tanaman buah utama selain pisang, jeruk, anggur, dan apel (Viruel et al. , 2005. Jha et al. Produsen buah mangga dunia adalah India. Meksiko. Brasil. Pakistan. Thailand. Cina. Indonesia. Filipina, dan Banglades. India. Cina. Thailand. Meksiko. Pakistan. Indonesia menyumbang 75% produksi dunia, sedangkan India mendominasi produksi dunia dengan sumbangan sekitar 40% dari total produksi buah mangga dunia (Fitmawati et al, 2. Secara nasional, mangga memberikan sumbangan terbesar ketiga terhadap produksi buah nasional setelah pisang dan nenas, dengan produksi sekitar 2. ton atau 11,57% (Anonim, 2. Meskipun produksinya cukup besar. Indonesia bukanlah Negara pengekspor utama mangga di Dunia. Menurut Karsinah et al. Indonesia belum masuk sepuluh besar Negara pengekspor mangga dunia. Secara membutuhkan buah mangga untuk bahan baku industri . uah olaha. dan memenuhi kebutuhan konsumsi sebagai buah meja. Untuk buah meja, pasar dunia menyukai buah berukuran cukup besar (A 400 buah-. , rasa manis, aroma daging buah harum, kulit buah berwarna kemerahan dan pelok/bijinya relatif kecil. Selama ini varietas andalan ekspor Indonesia adalah Arumanis 43 dan Gedong Gincu. Ukuran buah dan rasa daging buah Arumanis 143 memenuhi selera pasar dunia, namun kulit buahnya masih berwarna hijau atau hijau Warna kulit buah varietas Gedong Gincu memenuhi selera pasar dunia yang lebih menyukai mangga dengan kulit buah kemerahan. Namun ukuran buah mangga Gedong Gincu masih relatif kecil (A 300 g. dan ukuran pelok/bijinya masih relatif (Karsinah et al. , 2. Tanaman mangga dikembang-kan secara luas di Indonesia, termasuk Kabupaten Buleleng. Saat ini, mangga merupakan salah satu komoditas unggulan Kabupaten Buleleng. Sebelum mangga unggul seperti Arumanis 143, manalagi, golek dan madu (Lalijiw. diperkenalkan dan ditanam secara luas. Buleleng menurun membudidayakan mangga lokal, seperti mangga amplemsari, mangga . bikul, poh Sanih. Poh Mesui, poh Dodol, poh Manggis, poh Kotak, poh Lembat, poh Angus, poh Gedang, poh Kunyit, poh Tembaga, poh Santog, poh Putih, poh Lutung, poh Tanduk, dll. Saat ini populasi tanaman mangga lokal semakin terbatas, bahkan beberapa jenis diantaranya sangat sulit di jumpai di lapangan (Swatantra, 2015, komunikasi pribad. Mangga unggul bernilai ekonomi tinggi, seperti arumanis 143, manalagi, lalijiwa dan golek mendominasi populasi tanaman mangga. Pengembangan tanaman mangga oleh petani umumnya tidak didasarkan pada analisa kesesuaian lahan setempat untuk tanaman mangga. Mereka menanam mangga secara coba-coba atau meniru petani lain yang tekah berhasil. Oleh karena itu, pada awalnya tanaman mangga dijumpai hampir di seluruh wilayah Kabupaten Buleleng, mulai dari dataran rendah di sepanjang pesisir pantai sampai dataran tinggi yang terdapat di wilayah Seiring dengan perjalanan waktu, populasi mangga terseleksi oleh kondisi alam. Tanaman mangga di dataran tinggi umumnya tidak dapat tumbuh dan berbuah dengan baik sehingga banyak yang ditebang. Populasi mangga banyak terdapat di wilayah dataran rendah sampai sedang, dengan ketinggian tempat < 300 m Populasi mangga paling banyak terdapat di dataran rendah hingga ketinggian A 150 m dpl. Pada artikel ini tidak diuraikan mengenai pola persebaran tanaman mangga di Buleleng dan teknik difokuskan untuk menjawab pertanyaan, apakah pengembangan tanaman mangga di Buleleng sudah sesuai dengan persyaratan kesesuaian lahan untuk tanaman mangga? Pada prinsipnya, informasi mengenai kesesuaian lahan untuk tanaman mangga penting untuk menyediakan kondisi lingkungan yang cocok . untuk tanaman mangga sehingga karakterkarakter penting tanaman mangga, seperti kuantitas hasil dan mutu buah dapat terekspresi secara optimal. Dengan lingkungan yang cocok, maka biaya mungkin dan pendapatan petani dapat Karakteristik Tanaman Mangga Karakteristik umum tanaman mangga Mangga merupakan tanaman diploid . n = 2x = . yang telah lama dibudidayakan (Usman et al. , 2. Berasal dari Bombay dan sekitar kaki gunung Himalaya, kemudian menyebar ke berbagai Negara sampai ke Amerika Latin, terutama Brasilia, benua Afrika dan kawasan Asia Tenggara, seperti Vietnam. Philipina dan Indonesia (Viruel et al. Bhargava dan Khorwal, 2011. Wahdan et al. , 2. Keluarga Anacardiaceae ini mempunyai banyak genus dan spesies. Genus Mangifera mempunyai 62 spesies, namun yang menghasilkan buah yang enak ada 16 Mangga konsumsi sebagian besar berasal dari species Mangifera indica L. Kedudukan taksonomi tumbuhan adalah: Kingdom Plantae. Devisi Spermatophyta. Class Dicotylendonae. Ordo Anarcardiales. Famili Anarcardiaceae. Genus Mangifera dan Spesies Mangifera sp. Mangga merupakan tanaman tahunan . yang struktur batangnya . termasuk kelompok arboreus, yaitu tumbuhan berkayu yang mempunyai tinggi batang lebih dari 5 m. Mangga bisa mencapai tinggi 10-40 m (Mukherjee dan Litz, 2. Tumbuh berupa pohon berbatang tegak, bercabang banyak, dan bertajuk rindang hijau sepanjang tahun. Tinggi pohon dewasa bisa mencapai 10-40 umur pohon bisa mencapai 100 tahun Morfologi pohon mangga terdiri atas akar, batang, daun, dan bunga. Bunga menghasilkan buah dan biji . yang secara generatif dapat tumbuh menjadi tanaman baru (Pracaya, 2. Kulit batangnya tebal dan kasar dengan banyak celah-celah kecil dan sisik-sisik bekas tangkai daun. Warna pepagan . ulit batan. yang sudah tua biasanya coklat keabuan, kelabu tua sampai hampir hitam (Mukherjee dan Litz, 2. Akar tunggang pohon mangga sangat panjang, dapat mencapai 6 m dalamnya. Pemanjangan akar tunggang akan berhenti kalau ujung akar telah mencapai permukaan air tanah. Sesudah fase perpanjangan akar tunggang berhenti, lalu bebentuk akar cabang dibawah makin Paling banyak akar cabang terdapat pada kedalaman 30-60 cm dibawah permukaan tanah (Pracaya, 2. Daun tunggal, dengan letak tersebar, tanpa daun Panjang tangkai daun bervariasi dari 1,25-12,5 cm, bagian pangkalnya membesar dan pada sisi sebelah atas ada alurnya (Mukherjee dan Litz, 2. Aturan . biasanya 3/8, tetapi makin berdekatan sehingga nampaknya seperti dalam lingkaran (Pracaya, 2. Helai daun bervariasi namun kebanyakan berbentuk jorong sampai lanset, 2-10 y 840 cm, agak liat seperti kulit, hijau tua berkilap, berpangkal melancip dengan tepi daun bergelombang dan ujung meluncip, dengan 12-30 tulang daun skunder. Beberapa variasi bentuk daun mangga yaitu: lonjong dan ujungnya seperti mata berbentuk bulat telur, ujungnya runcing seperti mata tombak. segi empat, tetapi ujungnya runcing. berbentuk segi empat, ujungnya membulat (Mukherjee dan Litz, 2. Daun yang masih muda biasanya bewarna kemerahan, keunguan atau kekuningan. yang di kemudian hari akan berubah pada bagian permukaan sebelah atas menjadi hijau mengkilat, sedangkan bagian permukaan bawah berwarna hijau muda. Umur daun bisa mencapai 1 tahun atau lebih (Mukherjee dan Litz, 2. Daun mangga letaknya berselangseling saling berseberang-an. Panjang tangkai daun bervariasi antara 1,25-12,5 cm, bagian pangkalnya membesar dan pada sisi sebelah atas ada alurnya. Rumus duduk daun pada batang biasanya 3/8, yaitu tiap tiga kali putaran batang terdiri atas delapan buah daun makin mendekati ujung makin berdekatan seperti dalam Bentuk daun bermacam-macam, ada yang lonjong, segiempat dan bulat Ujung daunnya ada yang runcing seperti mata tombak dan membulat. Tepi daun biasanya rata, tetapi kadangkadang sedikit bergelombang, melipat atau Panjang helaian daun 8-40 cm dan lebarnya 2-12,5 cm bergantung kepada varietas dan kesuburannya. Jumlah tulang daun antara 18-30 (Usman et al. Sumarsono et al, 2. Buah mangga bisa di identifikasi berdasarkan ukuran dan bentuk malai, warna bunga, dan tangkai malai bunga. Bentuk bunga mangga secara umum adalah piramida dengan panjang 12 - 49 cm dan diameter 13 - 40 cm. Panjang bunga mangga arumanis dapat mencapai12 - 49 cm dengan diameter 10 - 43 cm. keragaman ukuran bunga mangga tersebut kemungkinan disebabkan oleh iklim. Teknik budidaya, dan kondisi pohon yang berbeda. Faktor Ae faktor tersebut juga berpengaruh terhadap mekarnya bunga. Beberapa penelitian menyebutkan bunga mangga arumanis mekar sempurna pada pukul 03:00 Ae 07:00 atau pada pukul 12:00 (Broto, 2. Bunga mangga yang berbentuk malai terbentuk dari ranting terminal, terdiri atas beberapa ribu individu bunga. Dalam satu malai terdapat bunga sempurna dan bunga jantandengan proporsi 1:4 sampai 1:2. Struktur bunga jantan terdiri atas tangkai bunga, kelopak, mahkota, filamen . erdiri atas 5 buah dengan ukuran panjang yang berbeda, filamen yang panjang mempunyai serbuk sari subur sedangkan filamen yang pendek serbuk sarinya tidak subu. , kepala sari . erdiri atas kantong dan serbuk sar. , dan dasar bunga. Bunga sempurna terdiri atas tangkai bunga, kelopak, mahkota, tangkai putik, ovari . akal bua. , dan dasar bunga (Mukherjee dan Litz, 2. Benang sari berjumlah 5 buah, tetapi yang subur hanya satu atau dua buah sedangkan yang lainnya Benang sari yang subur biasanya hampir sama panjang dengan putik, yakni kira-kira 2 mm, sedangkan yang steril lebih pendek. Kepala putik berwarna kemerah-merahan dan akan berubah warna menjadi ungu pada waktu kepala sari membuka untuk memberi kesempatan kepada tepung sari yang telah dewasa untuk menyerbuki kepala putik. Bentuk tepung sari biasanya bulat panjang, lebih kurang 20-35 mikron. Kulit buah agak tebal berbintik-bintik kelenjar. kekuningan atau kemerahan bila masak. Daging buah jika masak berwarna merah jingga, kuning atau krem, berserabut atau tidak, manis sampai masam dengan banyak air dan berbau kuat sampai lemah (Usman et al. , 2001. Sumarsono et al. Persyaratan Tumbuh Tanaman Mangga Kondisi Iingkungan yang ideal bagi tanaman mangga adalah iklim yang agak kering dengan curah hujan 750 - 2. mm, dengan 4 - 7 bulan kering, ketinggian < 300 m dpl. dan suhu udara rata-rata berkisar antara 25AC - 32AC. Namun, mangga dapat juga ditanam pada ketinggian hingga 1. 200 m. Di daerah beriklim basah dengan musim kering <3 bulan pertumbuhanya subur, tapi buahnya lebih sedikit dibandingkan dengan di daerah beriklim kering. Tanaman akan mudah terserang penyakit blendok dan mati pucuk serta rasa buahnya agak asam. KAJIAN KECOCOKAN KONDISI EKSISTING PENGEMBANGAN MANGGA DI BULELENG DENGAN PETUNJUK TEKNIS EVALUASI LAHAN UNTUK TANAMAN MANGGA Kondisi Umum Wilayah Kabupaten Buleleng Secara geografis terletak pada posisi 6o03Ao40Ay - 8o23Ao00Ay LS dan 114o25Ao55Ay 115o27Ao28Ay BT, berada di belahan Utara Pulau Bali memanjang dari Barat ke Timur. Sebagian besar wilayah Kabupaten Buleleng merupakan daerah berbukit dan bergunung yang membentang di bagian Selatan, sedangkan dataran rendah terdapat di bagian Utara sepanjang pantai yang memanjang dari Barat ke Timur. Kemiringan lahan dominan landai . , kemudian terjal . 634,50 H. , miring . 462,75 H. , dan datar . 264,75 H. Struktur geologi tersusun oleh : . lapisan aluvial yang tersebar di bagian Utara, . batuan gunung berapi tersebar di bagian Selatan, dan . formasi Asah, formasi Palasari, dan formasi Prapat Agung tersebar di bagian Barat. Relief bergunung ditemukan di lima kecamatan, yaitu : . Kecamatan Gerokgak 18 gunung, . Kecamatan Banjar dua gunung, . Kecamatan Sukasada tiga gunung, . Kecamatan Sawan dua . Kecamatan Kubutambahan dua gunung (BPS Kab. Buleleng, 2. Tipe iklim wilayah Kabupaten Buleleng berdasarkan klasifikasi Schmidth Ae Ferguson bervariasi mulai dari tipe iklim C . ilai Q = 50,. di Wanagiri Kecamatan Sukasada dan sekitarnya, sampai tipe F . ilai Q = 170,73 - 244,. di Pemuteran Kecamatan Gerokgak dan Suhu udara rata-rata 28,0oC. kelembaban udara rata-rata mencapai 87%, curah hujan antara 0,00 Ae 352,03 mm/bulan atau 1,00-3. 168,30 mm/tahun. dan penyiraran matahari mencapai 73%. Kabupaten Buleleng tidak memiliki lahan Sebagaimana telah disinggung pada Bab II, tanaman mangga di Buleleng ditemukan hampir di semua wilayah, mulai dari dataran rendah sampai dataran Tetapi populasi mangga paling banyak ditemukan di daerah pada ketinggian tempat < 150 m dpl. Kesesuaian Tanaman Mangga Menurut Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan Struktur klasifikasi kesesuaian lahan yang digunakan pada vdasarnya mengacu pada Frame of Land Evaluation (FAO, 1976 dalam Ritung et al. , 2. , dengan menggunakan 4 kategori, yaitu ordo, klas, sub klas dan unit. Ordo menggambarkan kesesuai-an lahan secara umum. Pada tingkat ini, kesesuaian lahan dibedakan atas lahan tergolong sesuai (S) dan lahan tergolong tidak sesuai (N). Kelas menggambarkan tingkat Pada tingkat ini, lahan yang tergolong ordo sesuai (S) dibedakan atas lahan sangat sesuai (S. , cukup sesuai (S. dan sesuai marginal (S. Sedangkan lahan tergolong ordo tidak sesuai (N) tidak dibedakan. Untuk tanaman mangga, petunjuk kelas kesesuaian lahannya disajikan pada Tabel Kecocokan Kondisi Eksisting Pengembangan Mangga di Buleleng Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan Telaahan kecocokan kondisi eksisting pengembangan mangga di Buleleng dengan petunjuk teknis evaluasi lahan untuk tanaman mangga pada paper ini keterbatasan data pendukung yang ada. Pada tingkat ordo tampak bahwa wilayah Kabupaten Buleleng sesuai untuk tanaman Namun pada tingkat klas, kesesuaian lahan tampak bervariasi. Diti jau dari ketinggian tempat, rata-rata suhu, ketersediaan air hujan, drainase dan media perakaran, wilayah Kecamatan Buleleng. Sawan dan Kubutambahan paling cocok untuk mangga. KESIMPULAN Berdasarkan uraian pada Bab-bab di atas dapat dirumuskan beberapa simpulan sebagai berikut. Pada tingkat ordo, lahan-lahan di wilayah Kabupaten Buleleng tergolong cocok (S) untuk tanaman mangga. Pada tingkat klas, kesesuaian lahan untuk tanaman mangga di Buleleng cukup bervariasi. Wilayah yang paling sesuai untuk tanaman mangga adalah Kecamatan Buleleng. Sawan dan Kubutambahan. Tabel 1. Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan penggunaan/Karakteristik Lahan Temperatur Teperatur rerata . C) Ketersediaan air . Curah hujan . Kelas Kesesuaian Lahan >40 <15 >2. Kelembaban (%) <750 >42 <30 Ketersediaan oksigen . Drainase Media perakaran . Tekstur Bahan kasar (%) Kedalaman tanah . Gambut Ketebalan . Kematangan Retensi hara . KTK tanah . Kejenuhan basa (%) pH H2O C-organik (%) Hara tersedia . N Total (%) P2O5 . g/100 . K2O . g/100 . Toksisitas . Salinitas . S/. Sodisitas . Alkalinitas /ESP (%) Bahaya sulfidik . Kedalaman sulfidik . Bahaya erosi . Lereng (%) Bahaya erosi Bahaya banjir/genangan pada masa tanam . Tinggi . Lama . Penyiapan lahan . Batuan di permukaan (%) Singkapan batuan (%) Baik. Agak terhambat Terhambat, agak cepat Sangat Agak halus, <15 >100 Sedang Agak kasar Kasar >55 >50 <50 Saprik Saprik, hemik >200 Fibrik >16 >35 5,5-7,8 >1,2 5-5,5 7,8-8 0,8-1,2 <20 <0,8 Sedang Sedang Sedang Rendah Rendah Rendah Sangat rendah Sangat rendah Sangat rendah <15 >25 >125 <60 Sangat Ringan-sedang >30 Sangat >40 >25 Sumber : Ritung et al. , 2012 DAFTAR PUSTAKA