Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Juni, 2025, pp. 037 Ae 047 FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) PENANGANAN DAN PENCEGAHAN STUNTING MENUJU PINAGAR SEBAGAI NAGARI GENERASI EMAS Yovita Yulia M. Zai1. Yani Maidelwita2. Asriwan Guci3. Sri Suciana4. Dian Febrida Sari5. Rizka Ausrianti6. Yusriana7. Ilham Akerda Edyyul8 1Program Studi S1 Logistik/Universitas Mercubaktijaya 2,3Program Studi S1 Informatika Kesehatan/Universitas Mercubaktijaya 4,5 Program Studi S1 Kebidanan/Universitas Mercubaktijaya 6,7Program Studi S1 Keperawatan/Universitas Mercubaktijaya 8Program Studi D i Terapi Wicara/Universitas Mercubaktijaya E-mail korespondensi: yovitayuliamzai@gmail. Abstrak: Stunting merupakan masalah kesehatan yang berdampak pada kualitas hidup anak dan masa depan masyarakat di Nagari Pinagar. Kabupaten Pasaman Barat. Permasalahan ini disebabkan oleh berbagai faktor sosial, ekonomi, dan kesehatan, sehingga diperlukan pendekatan terpadu untuk penanganannya. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penyebab stunting dan merumuskan strategi intervensi berbasis partisipasi masyarakat melalui Forum Focus group discussion (FGD). Kegiatan dilaksanakan pada 4 September 2024 di Kantor Wali Nagari Pinagar dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perangkat nagari, tokoh agama, tenaga kesehatan, kader posyandu, serta masyarakat setempat. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui Focus group discussion (FGD) guna memetakan kondisi sosial kesehatan ibu, bayi, dan balita. Diskusi ini menghasilkan peta sosial yang mengidentifikasi faktor penyebab stunting serta merumuskan solusi potensial dalam bentuk rencana tindak lanjut. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan partisipasi masyarakat dalam memahami dan menangani isu stunting. Selain itu, forum ini menghasilkan rekomendasi strategis untuk penguatan program kesehatan ibu dan anak, termasuk peningkatan akses terhadap gizi yang lebih baik, edukasi kesehatan, serta penguatan sinergi lintas sektor dalam pencegahan stunting. Kata Kunci: Stunting. Nagari Pinagar. FGD. Abstract: Stunting is a health issue that affects children's quality of life and the future of communities in Nagari Pinagar. Pasaman Barat Regency. This problem is caused by various social, economic, and health factors, necessitating an integrated approach to address it. This Community Service Program (PKM) aims to identify the causes of stunting and formulate intervention strategies based on community participation through a Focus group discussion (FGD) Forum. The activity was conducted on September 4, 2024, at the Nagari Pinagar Office, involving various stakeholders, including local government officials, religious leaders, healthcare workers. Posyandu cadres, and the local community. The method used was a participatory approach through FGDs to map the social health conditions of mothers, infants, and young children. The discussion resulted in a social map that identified the factors contributing to stunting and formulated potential solutions in the form of a follow-up action plan. The results of this activity indicate an increase in community participation in understanding and addressing stunting issues. Additionally, the forum produced strategic recommendations to strengthen maternal and child health programs, including improving access to better nutrition, health education, and enhancing cross-sectoral synergy in stunting prevention. ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Juni, 2025, pp. 037 - 047 Keywords: Stunting. Nagari Pinagar. Focus group discussion. Community Service. Pendahuluan Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang signifikan di Indonesia, terutama di daerah-daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi dan akses layanan kesehatan yang terbatas. Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2023, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 21,6%, yang meskipun mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, masih jauh dari target nasional sebesar 14% pada tahun 2024 (Setiyawati et al. , 2. Kabupaten Pasaman Barat merupakan kabupaten dengan peringkat 1 untuk prevalensi balita stunting, dengan jumlah 1. 672 balita yang tersebar di 90 nagari/ desa/kelurahan. Salah satu daerah yang menghadapi tantangan besar dalam penanganan stunting adalah Nagari Pinagar di Kabupaten Pasaman Barat. Sumatera Barat. Daerah ini memiliki tingkat prevalensi stunting yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional, yaitu sebesar 28,3% (Katalog/Catalog: 1102001. 1312, n. Menurut data Puskesmas Sukamenanti Tahun 2024, data balita stunting di Nagari Pinagar mencapai total 95 balita. Nagari Pinagar merupakan wilayah dengan karakteristik sosial-ekonomi yang kompleks. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani kecil dengan penghasilan tidak tetap, sementara akses terhadap layanan kesehatan dasar masih sangat terbatas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pasaman Barat menunjukkan bahwa sekitar 37% penduduk Nagari Pinagar hidup di bawah garis kemiskinan, dan tingkat pendidikan rata-rata hanya jenjang sekolah dasar (Katalog/Catalog: 1102001. 1312, n. Kondisi ini berimplikasi pada rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asupan gizi seimbang, terutama bagi ibu hamil dan anak-anak balita. Selain itu, tradisi dan budaya lokal turut memengaruhi pola asuh anak dan kebiasaan makan keluarga. Kajian yang dilakukan oleh (Nindhita et al. , 2. mengungkapkan bahwa masih banyak masyarakat di Nagari Pinagar yang percaya pada mitos seputar makanan tertentu yang dianggap tidak baik bagi ibu hamil, sehingga berkontribusi pada kurangnya asupan gizi mikro yang penting seperti zat besi dan vitamin A. Ditambah lagi, akses terhadap air bersih dan sanitasi juga menjadi masalah utama, dengan hanya 45% rumah tangga di wilayah ini yang memiliki fasilitas sanitasi layak (Nindhita et al. , 2. Isu utama yang menjadi perhatian dalam program pengabdian masyarakat ini adalah rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pencegahan stunting serta minimnya koordinasi antar pemangku kepentingan dalam menangani masalah ini. Fokus pengabdian diarahkan pada peningkatan kapasitas masyarakat melalui kegiatan focus group discussion (FGD) yang melibatkan berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat, kader posyandu, tenaga kesehatan, dan pemerintah desa. Metode ini dipilih karena FGD memungkinkan terciptanya dialog interaktif yang dapat mengidentifikasi akar permasalahan sekaligus solusi yang relevan dengan konteks lokal. Pemilihan Nagari Pinagar sebagai lokasi pengabdian didasarkan pada beberapa alasan utama. Pertama, tingkat prevalensi stunting yang tinggi menunjukkan bahwa wilayah ini memerlukan intervensi segera untuk mencegah dampak jangka panjang terhadap perkembangan anak. Kedua, keterbatasan sumber daya lokal, baik dalam aspek ekonomi maupun infrastruktur kesehatan, menjadi tantangan yang membutuhkan dukungan eksternal melalui program pemberdayaan masyarakat. Ketiga, potensi masyarakat Pinagar untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pemberdayaan cukup besar, sebagaimana dibuktikan oleh keberhasilan program-program sebelumnya yang melibatkan masyarakat secara langsung (Moridu et al. , 2. Tujuan utama dari program pengabdian ini adalah menciptakan perubahan sosial yang signifikan dalam upaya pencegahan stunting di Nagari Pinagar. Secara spesifik. ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Juni, 2025, pp. 037 - 047 program ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya asupan gizi yang baik, memperkuat peran kader posyandu sebagai agen perubahan, dan meningkatkan kolaborasi lintas sektor dalam menangani stunting. Hasil-hasil penelitian sebelumnya mendukung efektivitas pendekatan ini. Sebagai contoh, studi oleh Utami & Suryana . menunjukkan bahwa FGD yang dirancang dengan pendekatan partisipatif berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat di Jawa Tengah tentang pencegahan stunting hingga 35%. Penelitian lain oleh Mariani dan Pasaribu . juga menyimpulkan bahwa keberhasilan program pencegahan stunting sangat bergantung pada kolaborasi yang erat antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah lokal. Metode Pelaksanaan Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan melalui metode Focus group discussion (FGD), sebagai pendekatan utama untuk menggali aspirasi masyarakat dalam upaya penanganan dan pencegahan stunting. FGD dipilih karena bersifat partisipatif, memungkinkan terjadinya dialog dua arah yang mendalam, dan relevan untuk memetakan kondisi lokal serta merumuskan strategi berbasis komunitas. Jenis kegiatan utama adalah FGD yang bersifat edukatif, reflektif, dan solutif. FGD dirancang sebagai wadah untuk menggali pemahaman masyarakat mengenai stunting, mengidentifikasi faktor risiko dan tantangan yang dihadapi, merumuskan langkah-langkah pencegahan yang kontekstual dan aplikatif, dan menyusun komitmen bersama dalam mewujudkan Nagari Pinagar sebagai Nagari Generasi Emas. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan dilaksanakan di Nagari Pinagar. Kecamatan Sungai Aur. Kabupaten Pasaman Barat. Provinsi Sumatera Barat. FGD dilangsungkan pada Rabu, 4 September 2024, bertempat di Balai Pertemuan Nagari Pinagar. Lokasi ini dipilih karena merupakan pusat aktivitas masyarakat dan mudah dijangkau oleh berbagai lapisan peserta. Peserta FGD Peserta FGD merupakan representasi dari kelompok-kelompok strategis dalam masyarakat yang memiliki peran kunci dalam upaya pencegahan stunting, yakni: tokoh masyarakat . iniak mamak, alim ulama, bundo kandun. , perangkat nagari . ali nagari, kepala jorong, staf nagar. , kader posyandu dan kader kesehatan lainnya, ibu hamil dan ibu menyusui, tenaga kesehatan dari puskesmas setempat, unsur PKK dan Karang Taruna. Jumlah peserta dibatasi antara 30Ae50 orang untuk menjaga efektivitas diskusi, namun tetap mewakili keberagaman perspektif lokal. Proses Pelaksanaan Kegiatan Proses pelaksanaan kegiatan FGD terdiri atas beberapa tahapan utama, yaitu: Tahap Perencanaan: Koordinasi awal dengan pemerintah nagari dan Puskesmas Aur Kuning. Penyusunan kerangka diskusi dan panduan pertanyaan FGD. Seleksi peserta berdasarkan keterwakilan kelompok strategis. Persiapan logistik dan instrumen . uesioner, lembar kerja, alat dokumentas. Pelaksanaan FGD . Sesi pembukaan oleh fasilitator dan tokoh masyarakat. Pemaparan singkat mengenai kondisi stunting di Nagari Pinagar dan urgensi . Metode pelaksanaan dilakukan melalui diskusi Kelompok Terarah : Setiap kelompok membahas topik tertentu yang telah ditetapkan dalam agenda. Diskusi kelompok yang difasilitasi oleh moderator berpengalaman, dengan ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Juni, 2025, pp. 037 - 047 pembagian topik diskusi ke dalam beberapa tema: pola asuh, gizi, sanitasi, akses layanan kesehatan, serta peran kelembagaan lokal. Penjaringan solusi dan usulan program dari peserta. Penandatanganan lembar komitmen aksi bersama sebagai bentuk dukungan moral dan sosial. Tahap Analisis dan Pelaporan: Pengolahan data hasil diskusi untuk merumuskan rekomendasi kebijakan. Seluruh proses didokumentasikan melalui notulensi, rekaman suara, dan dokumentasi visual . oto/vide. Analisis hasil diskusi dilakukan secara tematik untuk merumuskan rekomendasi program berkelanjutan. Disusun laporan kegiatan dan disampaikan kepada pemerintahan nagari serta mitra terkait. Rencana tindak lanjut berupa pembentukan forum kerja masyarakat dan pemantauan berkala terhadap program yang disepakati. Pendekatan Partisipatif Kegiatan ini menggunakan pendekatan partisipatif kolaboratif, yang memosisikan masyarakat bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi sebagai subjek aktif dalam proses identifikasi masalah dan penyusunan solusi. Seluruh peserta didorong untuk menyampaikan ide, pengalaman, dan pandangan mereka secara Pendekatan ini diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif dan memperkuat rasa kepemilikan . terhadap program pencegahan Alat Bantu dan Instrumen Pendukung Untuk mendukung kelancaran dan efektivitas pelaksanaan FGD, digunakan berbagai alat bantu dan instrumen, antara lain: Kuesioner pre-test dan post-test: untuk mengukur perubahan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah kegiatan. Panduan diskusi . uiding question. : sebagai acuan moderator dalam memfasilitasi dialog. Notulensi dan lembar observasi: untuk mencatat dinamika diskusi dan isu penting yang muncul. Rekaman audio dan dokumentasi visual: sebagai bukti pelaksanaan dan bahan evaluasi kegiatan. Lembar komitmen aksi: ditandatangani oleh peserta sebagai bentuk pernyataan dukungan terhadap program pencegahan stunting. Hasil Pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Nagari Pinagar bertujuan untuk menangani dan mencegah stunting, yang merupakan isu kesehatan serius yang mengancam generasi masa depan. Proses pengabdian kepada masyarakat ini melibatkan berbagai kegiatan yang secara langsung berhubungan dengan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan berbasis komunitas. Hasil dari proses ini tidak hanya mencakup aksi teknis yang konkret, tetapi juga mencakup perubahan sosial yang signifikan sebagai dasar keberlanjutan program. Tingkat Pemahaman Awal Masyarakat tentang Stunting Hasil kuesioner pra-kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta . %) memiliki pemahaman yang masih terbatas tentang konsep stunting. Banyak peserta ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Juni, 2025, pp. 037 - 047 menganggap stunting hanya berkaitan dengan anak yang bertubuh pendek, tanpa memahami bahwa kondisi ini juga berdampak jangka panjang terhadap perkembangan kognitif, kemampuan belajar, dan produktivitas anak di masa depan. Setelah pelaksanaan FGD dan edukasi interaktif, terjadi peningkatan pemahaman signifikan. hasil post-test menunjukkan 91% peserta mampu menjelaskan stunting sebagai gangguan tumbuh kembang anak yang bersifat kronis dan berkaitan erat dengan asupan gizi, pola asuh, dan akses pelayanan kesehatan. Dinamika Proses Pendampingan Dinamika proses pendampingan meliputi: Ragam kegiatan yang dilaksanakan, di mana selama pelaksanaan program, beberapa kegiatan telah dilaksanakan untuk mengatasi masalah stunting dan meningkatkan pengetahuan serta kesadaran Kegiatan tersebut meliputi: Survei Awal dan Pemetaan Masalah: Sebagai langkah awal, dilakukan survei untuk mengidentifikasi prevalensi stunting di Nagari Pinagar. Data ini menjadi dasar untuk menentukan fokus program dan mendesain strategi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pelaksanaan Focus group discussion (FGD): FGD menjadi kegiatan utama dalam proses ini. Dalam FGD, para peserta . ermasuk orang tua, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehata. diajak untuk berdiskusi dan merumuskan solusi terhadap masalah stunting. Hasil dari diskusi ini menjadi bahan untuk merancang program pemberdayaan masyarakat. Faktor Penyebab Stunting yang Diidentifikasi FGD berhasil memetakan sejumlah faktor penyebab stunting yang relevan secara lokal, antara lain: Identifikasi Permasalahan Kesehatan pada Ibu FGD pertama memetakan masalah kesehatan pada ibu, dengan beberapa masalah utama seperti rendahnya kunjungan ibu hamil ke fasilitas kesehatan dan keterlambatan dalam kunjungan. Solusi yang diajukan mencakup pemberdayaan masyarakat agar ibu hamil datang lebih awal ke pelayanan kesehatan dan memaksimalkan skrining PUS. Selain itu, masalah dukungan keluarga dan keterlibatan ayah juga diangkat, dengan rekomendasi untuk mengaktifkan kembali posyandu remaja dan memberikan edukasi kepada suami mengenai pentingnya KB. Identifikasi Permasalahan Kesehatan pada Bayi Pada tingkat bayi, masalah utama yang ditemukan adalah rendahnya cakupan imunisasi . anya 9,9%) dan kurangnya transportasi ke posyandu. Rencana tindak lanjut melibatkan peningkatan pengetahuan kader kesehatan dan pembenahan fasilitas posyandu di nagari, serta penguatan dukungan masyarakat dan peran niniak mamak dalam kegiatan posyandu. Identifikasi Permasalahan Kesehatan pada Balita Masalah yang ditemukan pada balita serupa dengan bayi, yaitu rendahnya cakupan imunisasi dan kurangnya kesadaran orang tua untuk membawa anak ke posyandu. Beberapa solusi yang disarankan meliputi peningkatan dana PMT dan penyusunan MOU dengan pendamping PKH untuk mendukung program kesehatan. Program lomba bayi sehat dan peningkatan peran kader kesehatan juga menjadi salah satu strategi untuk mendorong partisipasi aktif ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Juni, 2025, pp. 037 - 047 Identifikasi Permasalahan Pada Lintas Sektoral . Koordinasi lintas program belum maksimal . Kurangnya data terintegrasi Aksi Program untuk Memecahkan Masalah Komunitas Bentuk aksi yang bersifat teknis melibatkan Pembentukan Kelompok Kerja (Pokj. Stunting di tingkat universitas, sesuai dengan Pusat Studi yang ada di Universitas Mercubaktijaya. Pokja ini terdiri dari beberapa Pusat Studi dan melibatkan tokoh masyarakat, tenaga kesehatan, dan kader kesehatan. Pokja ini bertugas mengawasi pelaksanaan program serta menggerakkan masyarakat untuk aktif dalam mencegah Pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Nagari Pinagar bertujuan untuk menangani dan mencegah stunting. Proses ini mengandalkan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan berbasis komunitas, dengan fokus pada perbaikan kesehatan ibu, bayi, dan balita. Rencana tindak lanjut Focus group discussion (FGD) Penanganan dan Pencegahan Stunting di Nagari Pinagar. Hasil FGD menghasilkan beberapa rencana tindak lanjut yang terperinci untuk setiap kelompok Untuk Ibu: Peningkatan pengetahuan kader melalui pelatihan kesehatan dan posyandu . Memaksimalkan program dinas kesehatan seperti skrining PUS untuk ibu hamil. Revitalisasi posyandu dan pemberdayaan keluarga dalam mendukung kesehatan ibu hamil. Untuk Bayi: Meningkatkan pengetahuan kader dengan Pelatihan kader posyandu dan pembentukan peer group untuk ibu hamil dan remaja. Penguatan posyandu dan pembenahan fasilitas yang ada. Untuk Balita: Revitalisasi posyandu dan pembentukan posyandu Balita. Mengoptimalkan program PMT dan penyegaran kader kesehatan. Meningkatkan dukungan untuk program imunisasi dan penyuluhan kepada orang tua. Lomba bayi sehat antar jorong untuk meningkatkan partisipasi ibu balita. Edukasi imunisasi oleh tokoh masyarakat melalui pengajian. Integrasi program PKH dengan kehadiran aktif di posyandu. Untuk Lintas Sektoral . Penandatanganan komitmen lintas sektor . Monitoring & evaluasi berkala oleh Pokja Nagari Hasil Perubahan Sosial yang Dihasilkan FGD ditutup dengan deklarasi komitmen bersama oleh peserta, disaksikan oleh unsur pemerintah, dinas kesehatan, dan akademisi. Komitmen ini diwujudkan melalui: Penandatanganan lembar komitmen bersama. Pembentukan Tim Kerja Pencegahan Stunting Nagari Pinagar. Penyusunan rencana aksi strategis yang dimasukkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Nagari 2025. Penyusunan MOU dengan pendamping PKH untuk integrasi intervensi kesehatan . Kolaborasi nagari, puskesmas, dan perguruan tinggi ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Juni, 2025, pp. 037 - 047 Perubahan yang Terlihat Pasca-FGD Sejumlah perubahan langsung dan nyata tampak dalam waktu singkat pasca-FGD: Meningkatnya pelibatan niniak mamak dan bundo kanduang dalam edukasi . Kesiapan pemerintah nagari menganggarkan PMT dan pelatihan kader dalam perubahan anggaran 2025. Pengaktifan kembali dasa wisma dan tim monitoring posyandu. Pelibatan aktif remaja dan sekolah dalam program tablet Fe dan edukasi gizi. Kegiatan Focus group discussion (FGD) Penanganan dan Pencegahan Stunting menuju Pinagar sebagai Nagari Generasi Emas telah berlangsung dengan lancar dan sukses di setiap tahapannya. Partisipasi aktif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah nagari, tenaga kesehatan, kader posyandu, serta masyarakat setempat, menunjukkan tingginya antusiasme dalam mencari solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan Kelancaran dan keberhasilan kegiatan ini juga dapat dilihat dari dokumentasi yang telah diabadikan dalam setiap tahap pelaksanaan. Pada Gambar 1 terlihat Perwakilan unsur pemerintah dan akademisi dari Universitas Mercubaktijaya sebagai Koordinator Locus memberikan arahan dalam pelaksanaan FGD, serta para pemangku kepentingan yang hadir dalam ruangan terlihat antusias untuk terlibat aktif memberikan solusi penanganan dan pencegahan stunting di Pinagar. Gambar 2. Para Pemangku Kepentingan. Unsur Pemerintah dan Tim PKM Gambar 3. Pelaksanaan FGD di Kenagarian Pinaga Diskusi Kegiatan Focus group discussion (FGD) yang diselenggarakan dalam rangka penanganan dan pencegahan stunting di Nagari Pinagar telah memberikan berbagai temuan penting. Melibatkan pemangku kepentingan utama, seperti pemerintah nagari, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, dan keluarga yang rentan terhadap risiko stunting. FGD ini berhasil mengidentifikasi faktor-faktor penyebab utama stunting di Nagari Pinagar. Faktor-faktor tersebut meliputi kurangnya akses terhadap sanitasi, rendahnya kesadaran gizi masyarakat, dan pola pengasuhan anak yang kurang optimal. Berdasarkan diskusi, intervensi yang disepakati meliputi peningkatan akses sanitasi, edukasi gizi, serta pelatihan pengasuhan ana k yang berbasis budaya lokal. FGD ini juga mengungkapkan potensi besar Nagari Pinagar untuk mencapai visi sebagai "Nagari Generasi Emas. " Komitmen masyarakat dalam menjalankan program-program pencegahan stunting sangat tinggi, terutama setelah menerima pelatihan intensif dari tenaga ahli. Hasil awal menunjukkan peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai gizi dan kesehatan, yang tercermin dari ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Juni, 2025, pp. 037 - 047 perubahan pola makan anak dan penerapan praktik kebersihan yang lebih baik. Fenomena stunting memiliki dimensi multifaktorial yang mencakup aspek kesehatan, sosial, ekonomi, dan budaya (Trisilawati & Syahputri, 2. Stunting didefinisikan sebagai kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama dalam 1. 000 hari pertama kehidupan (Tarmizi, 2. Program yang dirancang di Nagari Pinagar mencerminkan pentingnya pendekatan multisektoral sebagaimana diusulkan oleh teori "Social Determinants of Health"(Michael Marmot and Richard G. Wilkinson, n. Dalam teori ini, faktor-faktor seperti pendidikan, pendapatan, dan akses layanan kesehatan menjadi determinan utama kesehatan masyarakat. Proses edukasi gizi yang dilakukan dalam FGD juga sejalan dengan teori "Behavior Change Communication" (BCC) yang menekankan pada pendekatan komunikasi persuasif untuk mengubah perilaku individu dan kelompok (Belakang, 2. Melalui pendekatan ini, keluarga di Nagari Pinagar mulai memahami pentingnya asupan gizi seimbang, termasuk konsumsi protein hewani yang memadai, yang efektif dalam mengurangi prevalensi stunting (Putra et al. , 2. Proses pengabdian masyarakat di Nagari Pinagar menunjukkan bahwa perubahan sosial dalam upaya pencegahan stunting membutuhkan pendekatan berbasis partisipasi masyarakat. Pendekatan ini sesuai dengan "Participatory Action Research" (PAR), yang menekankan pentingnya keterlibatan aktif komunitas dalam mengidentifikasi masalah dan mencari solusi (Genisa & Angraini, 2. Dalam kasus Nagari Pinagar, partisipasi masyarakat tidak hanya meningkatkan rasa kepemilikan terhadap program, tetapi juga mempercepat implementasi strategi yang disepakati bersama. Transformasi sosial yang diamati meliputi peningkatan solidaritas komunitas dalam membangun sanitasi lingkungan, serta penguatan jaringan sosial dalam mendukung keluarga rentan. Hasil ini mendukung pandangan bahwa perubahan sosial tidak dapat terjadi secara instan, melainkan memerlukan proses yang berkelanjutan dan terstruktur (Soekandar & Pratiwi, 2. Hasil pengabdian masyarakat ini diperkuat oleh berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa intervensi berbasis komunitas dapat secara signifikan mengurangi prevalensi stunting. Sebagai contoh, studi oleh (Halim et al. Menemukan bahwa program edukasi gizi yang terintegrasi dengan layanan kesehatan dasar mampu meningkatkan status gizi anak sebesar 15% dalam waktu dua tahun. Selain itu, literatur lain menyoroti pentingnya kebijakan yang mendukung, seperti peningkatan anggaran untuk program kesehatan ibu dan anak, sebagai kunci keberhasilan program pencegahan stunting (Di et al. , 2. Pendekatan kolaboratif yang diterapkan di Nagari Pinagar juga sesuai dengan "Collective Impact Framework" yang menggaris bawahi perlunya keselarasan tujuan antar pemangku kepentingan untuk mencapai dampak yang maksimal (Riley et al. Dalam konteks ini, keberhasilan Nagari Pinagar menjadi contoh bagaimana sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan akademisi dapat menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan. Secara keseluruhan, hasil pengabdian masyarakat di Nagari Pinagar memberikan bukti kuat bahwa pendekatan yang partisipatif, berbasis budaya, dan didukung oleh teori-teori pembangunan kesehatan dapat mengatasi tantangan stunting secara efektif. Dengan komitmen berkelanjutan dari seluruh pihak. Nagari Pinagar memiliki potensi besar untuk mewujudkan generasi emas yang sehat dan Pelaksanaan FGD ini menghasilkan data konkret tentang penyebab dan solusi stunting di Nagari Pinagar. Kesepakatan yang dihasilkan dari diskusi ini menjadi dasar untuk merancang kebijakan berbasis komunitas dalam rangka ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Juni, 2025, pp. 037 - 047 mewujudkan Nagari Generasi Emas (NGE) yang bebas stunting. Rekomendasi utama yang dihasilkan mencakup penguatan edukasi gizi dan kesehatan ibu dan anak melalui posyandu dan kader desa , peningkatan akses terhadap pangan bergizi dengan program ketahanan pangan berbasis lokal , pembangunan sanitasi dan akses air bersih untuk meningkatkan kesehatan lingkungan, meningkatkan peran ayah dan keluarga dalam pola asuh anak untuk mencegah stunting sejak dini, dan kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat implementasi program penanganan stunting secara berkelanjutan. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Kegiatan Focus group discussion (FGD) terkait penanganan dan pencegahan stunting di Nagari Pinagar telah berhasil memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada masyarakat, pemangku kepentingan, serta tenaga kesehatan mengenai isu stunting. Secara teoritis, hasil kegiatan ini memperkuat konsep bahwa stunting bukan hanya masalah kesehatan melainkan juga persoalan sosial, ekonomi, dan Temuan utama dari kegiatan ini menunjukkan bahwa: Kesadaran masyarakat terhadap stunting meningkat: Peserta FGD menyadari pentingnya pola asuh anak, pemberian ASI eksklusif, dan pemenuhan gizi seimbang 000 hari pertama kehidupan (HPK) sebagai upaya utama pencegahan Keterlibatan lintas sektor diperlukan: Penanganan stunting tidak dapat dilakukan secara parsial. Kolaborasi antara sektor kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan sosial budaya harus diperkuat. Hal ini sejalan dengan kebijakan nasional yang menekankan pendekatan multisektor dalam mengatasi stunting. Pemanfaatan sumber daya lokal: Nagari Pinagar memiliki potensi lokal berupa pertanian organik dan tanaman herbal yang dapat dikembangkan sebagai sumber pangan bergizi. Optimalisasi sumber daya lokal ini merupakan langkah strategis menuju kemandirian pangan sekaligus peningkatan kualitas gizi masyarakat. Pentingnya edukasi berbasis budaya: Pendekatan berbasis nilai-nilai lokal, seperti tradisi gotong royong dan peran dukun bayi, dapat menjadi jembatan efektif untuk menyampaikan pesan pencegahan stunting yang lebih relevan dan diterima Saran Kegiatan FGD di Nagari Pinaga berhasil memfasilitasi dialog antara masyarakat dan pemangku kepentingan. Untuk keberlanjutan program, disarankan pemerintah daerah meningkatkan alokasi anggaran untuk program kesehatan masyarakat, dilakukan evaluasi berkala terhadap implementasi rekomendasi FGD dan penguatan sinergi antara perangkat nagari, kader kesehatan, dan tokoh adat. Ucapan Terimakasih