Halaman 174-183 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. OPTIMALISASI PROGRAM PENCEGAHAN STUNTING: HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PERSEPSI KELUARGA Elvira Sari Dewi1. Muladefi Choiriyah1. Suryanto Suryanto1. Kumboyono Kumboyono1. Dina Dewi Sartika Lestari Ismail1. Titin Andri Wihastuti1. Intan Yusuf Habibie2. Lola Ayu Istifiani2. Inggita Kusumastuty2. Asti Melani Astari1. Hanisa Iis Ariska3. Ahmad Rosuli4. Akhmad Yanuar Fahmi Pamungkas4. Anang Satrianto4. Andrik Hermanto4. Anita Dwi Ariyani4. Badrul Munif4. Diana Kusumawati4. Fajri Andi Rahmawan4. Fransiska Erna Damayanti4. Riyan Dwi Prasetyawan4. Rani Diana Balqis4. Rudiyanto4. Supriyanto4. Orchidara Herning Kawitantri4. Mulya Agustina4. Dea Amanda Caressa4. Erik Toga4. Dian Roshanti4. Efina Amanda4. Agus Putra Murdani4 Departemen Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Brawijaya. Malang Departemen Gizi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Brawijaya. Malang Program Studi Profesi Ners. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Brawijaya. Malang STIKES Banyuwangi. Banyuwangi. Indonesia *Correspondence: Elvira Sari Dewi Email: ns. elvira@ub. ABSTRAK Pendahuluan: Jumlah anak stunting di Desa Paspan. Banyuwangi, masih mengalami peningkatan, sehingga diperlukan optimalisasi upaya pencegahan untuk menghindari dampak negatif terhadap kehidupan anak. Pengetahuan dan persepsi ibu mengenai stunting merupakan faktor penting dalam upaya pencegahan kondisi ini. Tujuan penelitian mengkaji hubungan antara pengetahuan ibu tentang stunting dengan persepsi keluarga terhadap stunting pada ibu yang memiliki anak dengan stunting di Desa Paspan. Banyuwangi. Metode: Penelitian kuantitatif cross-sectional dilakukan di Desa Paspan. Banyuwangi, pada bulan Desember 2022. Kriteria inklusi dan eksklusi digunakan dan didapatkan 26 responden dari 32 populasi ibu anak dengan stunting. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang terdiri atas sepuluh pertanyaan tentang pengetahuan mengenai stunting dan sebelas pertanyaan tentang persepsi keluarga mengenai stunting. Uji korelasi gamma, dengan tingkat signifikansi 0,05, digunakan untuk mengkaji hubungan antara dua variabel. Hasil: Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai stunting . %), sementara 84,6% memiliki persepsi yang cukup terhadap stunting. Hasil analisis uji korelasi gamma menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu tentang stunting dengan persepsi keluarga terhadap stunting . = 0,340. Kesimpulan: Pengetahuan ibu mengenai stunting tidak selalu berkorelasi dengan persepsi keluarga terhadap stunting. Oleh karena itu, upaya pencegahan stunting memerlukan pendekatan holistik yang mempertimbangkan faktor sosial, budaya, dan lingkungan guna meningkatkan pemahaman serta mendorong perubahan perilaku masyarakat. Kata kunci: Pengetahuan Ibu. Persepsi Keluarga. Stunting. ABSTRACT Introduction: The number of children with stunting in Paspan Village. Banyuwangi, continues to increase, necessitating the optimization of preventive efforts to mitigate its negative impact on children's lives. Mothers' knowledge and perceptions regarding stunting are crucial factors in preventing this condition. Research purposes to examine the NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 174 Halaman 174-183 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. relationship between maternal knowledge about stunting and family perceptions of stunting among mothers with stunted children in Paspan Village. Banyuwangi. Method: A cross-sectional quantitative study was conducted in Paspan Village. Banyuwangi, in December 2022. Inclusion and exclusion criteria were applied, resulting in 26 respondents out of a population of 32 mothers with stunted children. Data were collected using a questionnaire comprising ten questions on knowledge about stunting and eleven questions on family perceptions of stunting. A gamma correlation test, with a significance level of 0. was used to examine the relationship between the two variables. Results: Most respondents had a good level of knowledge about stunting . %), while 6% had a moderate perception of stunting. The gamma correlation test analysis indicated no significant relationship between maternal knowledge about stunting and family perceptions of stunting . = 0. r = 1. Conclusion: Maternal knowledge about stunting does not necessarily correlate with family perceptions of stunting. Therefore, stunting prevention efforts require a holistic approach that considers social, cultural, and environmental factors to enhance understanding and promote behavioral changes within the community. Keywords: Maternal Knowledge. Family Perception. Stunting PENDAHULUAN Stunting adalah gangguan tumbuh kembang balita yang didiagnosis jika tinggi badan mereka diukur berdasarkan usia menunjukkan hasil kurang dari dua standar deviasi dari median standar pertumbuhan anak (Indriyastuti & Kartono, 2022. Yasin & Andrian, 2. Indonesia, stunting telah diidentifikasi sebagai tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan, di mana kekurangan gizi kronis pada anak banyak ditemukan dan berkontribusi terhadap hambatan pertumbuhan serta perkembangan. Kekurangan gizi kronis ini terutama terjadi pada periode emas atau golden period di seribu hari pertama kehidupan dan umumnya terdeteksi saat anak berusia dua tahun (Sopiatun & Maryati, 2. Sustainable Development Goals (SDG. mengaitkan masalah stunting dengan agenda pembangunan global yang lebih luas, yaitu SDG 2 yang berfokus pada mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, meningkatkan status gizi, dan mendorong pertanian berkelanjutan, dan SDG 3 yang berfokus pada meningkatkan kesejahteraan umum (Gulseven et al. , 2. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan bahwa prevalensi balita stunting di Indonesia sebesar 24,4% pada tahun 2021 dan turun menjadi 21,1% pada tahun Di Provinsi Jawa Timur, prevalensi stunting juga turun dari 23,5% pada tahun 2021 menjadi 19,2% pada tahun 2022. Hal yang sama juga terjadi di Kabupaten Banyuwangi, di mana prevalensi stunting turun dari 20,1% pada tahun 2021 menjadi 18,1% pada tahun Salah satu dari enam wilayah di Kabupaten Banyuwangi dengan prevalensi stunting tertinggi adalah Kecamatan Glagah, dengan 4,91%. Jumlah kasus stunting di Desa Paspan di Kecamatan Glagah meningkat dari 4 anak pada tahun 2021 menjadi 8 anak pada tahun 2022 (Kominfo Banyuwangi, 2. Meskipun prevalensi stunting di Kabupaten Banyuwangi telah berkurang, target penurunan nasional yang diharapkan sebesar 2,7% per tahun masih belum tercapai. Selain itu, angka tersebut masih lebih rendah dari target 14% yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Menurut data Pendataan Keluarga 21 (PK. , 121. 322 keluarga . ,37%) di Banyuwangi masih berisiko mengalami stunting (SSGI, 2. Kehidupan anak dapat dipengaruhi oleh stunting baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, stunting ditandai dengan terhambatnya pertumbuhan fisik, gangguan perkembangan otak, penurunan tingkat kecerdasan, dan gangguan Dalam jangka panjang, stunting dapat menyebabkan penurunan kekebalan NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 175 Halaman 174-183 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. tubuh, penurunan kemampuan kognitif dan prestasi belajar, peningkatan risiko penyakit tidak menular, dan penurunan kualitas kerjanya. Terdapat beberapa faktor penyebab stunting, baik faktor penyebab secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu faktor tidak langsung yang telah diidentifikasi melalui berbagai penelitian adalah kurangnya pengetahuan dan persepsi mengenai stunting serta upaya pencegahannya (Kresnawati et al. , 2. Pengetahuan dan persepsi ibu termasuk dalam faktor predisposisi yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak (Ahsan et al. Pengetahuan ibu yang rendah diketahui dapat meningkatkan risiko stunting pada anak hingga 10,2 kali lebih besar (Septamarini et al. , 2. Pengetahuan diperoleh melalui proses penginderaan yang kemudian memengaruhi tindakan seseorang. Sementara itu, persepsi merupakan hasil interpretasi terhadap pengalaman yang melibatkan proses penginderaan, yang selanjutnya membentuk pemahaman serta pandangan individu terhadap lingkungannya. Persepsi yang tepat dalam pencegahan stunting diharapkan dapat diimplementasikan dalam praktik peningkatan status gizi remaja, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap penurunan prevalensi stunting di Indonesia (Natanael et al. , 2. Upaya penanggulangan stunting perlu dioptimalkan untuk mengurangi dampak negatifnya serta mendukung pencapaian tujuan SDGs. Stunting tidak hanya berdampak langsung pada kesehatan dan potensi masa depan anak-anak, tetapi juga mencerminkan komitmen negara dalam upaya global menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan Pencegahan stunting perlu dimulai sejak masa kehamilan, sehingga peningkatan pengetahuan dan persepsi mengenai kesehatan serta gizi harus diperkuat guna mendukung upaya tersebut. Langkah-langkah promotif dan preventif dapat diterapkan untuk meningkatkan pengetahuan serta persepsi ibu terhadap pencegahan stunting, antara lain melalui penyuluhan gizi anak, pemberian makanan tambahan, suplementasi vitamin A, pemberian tablet tambah darah, serta pemantauan tumbuh kembang dengan deteksi dini perkembangan anak (Angraini et al. , 2. Paramita et al. menemukan bahwa tingkat pengetahuan ibu terkait dengan tingkat kejadian stunting yang lebih rendah pada anak. Rahmayanti et al. juga menemukan hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dan tingkat kejadian stunting pada anak usia 2 hingga 4 tahun. Selain itu, penelitian Caesarean . menemukan hubungan antara pengetahuan ibu dan persepsi hambatan dalam pencegahan. Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa pengetahuan ibu sangat berpengaruh pada tingkat kejadian stunting pada anak dan persepsi mereka tentang cara mencegahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara pengetahuan ibu tentang stunting dengan persepsi keluarga terhadap stunting di Desa Paspan. Banyuwangi, yang merupakan salah satu daerah di mana prevalensi stunting masih meningkat. METODE Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Desa Paspan. Kabupaten Banyuwangi pada bulan Desember 2022. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki anak dengan stunting yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Paspan, dengan jumlah 32 orang. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak dengan stunting, bersedia menjadi responden, hadir selama kegiatan penelitian berlangsung, dan mengisi kuesioner dengan lengkap. Kriteria eksklusi meliputi ibu yang meninggalkan kegiatan penelitian sebelum selesai dan mereka yang menyangkal memiliki anak dengan stunting. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode non-probability sampling, yaitu purposive sampling, dengan jumlah responden didapatkan sebanyak 26 orang. Sampel dipilih berdasarkan kesesuaian dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 176 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Halaman 174-183 Penelitian ini menggunakan lembar kuesioner yang dimodifikasi dari Yunitasari et al. Kuesioner pengetahuan tentang stunting terdiri atas 10 item pertanyaan yang membahas definisi, penyebab, dampak, dan cara pencegahan stunting. Kuesioner persepsi keluarga tentang stunting terdiri atas 11 item pertanyaan yang mengukur bagaimana keluarga melihat stunting dari sudut pandang kerentanan, keseriusan, manfaat, hambatan, dan kemampuan diri. Setelah modifikasi, kuesioner diuji ulang untuk validitas dan reliabilitas. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa setiap item di kuesioner memiliki nilai korelasi lebih dari 0,30 . Ou 0,. , sehingga dianggap valid. Uji reliabilitas menggunakan metode Cronbach's Alpha menemukan nilai 0,85 untuk kuesioner pengetahuan dan 0,88 untuk kuesioner persepsi, menunjukkan bahwa kuesioner memiliki tingkat konsistensi internal yang sangat baik. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung oleh peneliti. Uji korelasi gamma, yang memiliki tingkat signifikansi 0,05, digunakan untuk mengolah dan menganalisis semua data yang dikumpulkan. Untuk menjamin ketepatan dan keakuratan hasil, analisis dilakukan menggunakan program SPSS versi 26. Penelitian ini dilaksanakan dengan mematuhi prinsip-prinsip etik penelitian, yaitu respect for persons . enghormati hak dan privasi responde. , beneficence . emaksimalkan manfaat dan meminimalkan risik. , non-maleficence . idak membahayakan responde. , justice . emberikan perlakuan yang adil kepada semua responde. , dan fidelity . enjaga integritas serta kejujuran dalam pelaksanaan penelitia. Sebelum penelitian dimulai, seluruh responden telah diberikan penjelasan mengenai tujuan, prosedur, manfaat, serta risiko penelitian, dan telah memberikan persetujuan tertulis . nformed consen. Sebagai bagian dari upaya optimalisasi dan implementasi asas beneficence, responden memperoleh penyuluhan mengenai perawatan dan gizi anak, serta akses terhadap berbagai program pendukung, seperti pemberian makanan tambahan dan pemantauan tumbuh kembang melalui deteksi dini perkembangan anak. HASIL Hasil penelitian disajikan secara ringkas dalam bentuk tabel. Tabel 1 menyajikan gambaran yang lebih jelas mengenai distribusi karakteristik responden. Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden Karakteristik Ibu . Usia Pendidikan Pekerjaan Penghasilan Terpapar Informasi Stunting Karakteristik Frekuensi . Persentase (%) 18-40 (Dewasa Mud. 40-60 (Mady. SD/MI-SMP/MTs SMA/MA/SMK Sarjana IRT Wiraswasta Karyawan swasta Petani Lainnya Tidak ada penghasilan tetap 40 tahun yang umumnya disertai dengan penurunan fungsi reproduksi. Temuan ini diperkuat oleh Jannah et al. , yang menyatakan bahwa wanita pada usia dewasa NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 178 Halaman 174-183 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. muda memiliki tingkat kesuburan yang masih tinggi serta risiko komplikasi kehamilan yang relatif rendah. Namun, kejadian stunting pada anak dari ibu usia dewasa muda kemungkinan besar dipengaruhi oleh faktor lain, seperti status gizi, kondisi lingkungan, serta akses terhadap layanan kesehatan. Selain itu, masa dewasa muda juga merupakan fase transisi menuju tanggung jawab sebagai orang tua, yang dapat memengaruhi pola asuh dan pemenuhan kebutuhan gizi anak, sehingga rentang usia ini menjadi yang paling umum bagi ibu dengan anak stunting. Terdapat bukti bahwa tingkat pendidikan ibu berkontribusi pada prevalensi stunting pada anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 9 orang . ,6%) dari ibu adalah lulusan SD. Hasil ini sejalan dengan penelitian Husnaniyah et al. , yang menemukan bahwa ibu dengan pendidikan rendah memiliki risiko 2,22 kali lebih besar untuk memiliki anak dengan stunting dibandingkan dengan ibu dengan pendidikan tinggi. Selain itu. Nurmalasari et al. menyatakan bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap angka kematian anak stunting. Tingkat pendidikan ibu memengaruhi pola asuh dan kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak mereka secara Status pekerjaan juga menjadi faktor yang berkontribusi terhadap kejadian stunting. Mayoritas ibu dalam penelitian ini tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan tetap, dengan persentase yang sama, yaitu sebanyak 19 responden . ,1%). Penelitian Safitri et al. menunjukkan bahwa 75% anak dengan ibu yang bekerja mengalami stunting. Hal ini dikaitkan dengan berkurangnya waktu pengasuhan, pola asuh yang kurang optimal, serta ketidakcukupan asupan makanan bergizi bagi anak. Selain itu, penghasilan keluarga juga berpengaruh terhadap kejadian stunting. Sari dan Zelharsandy . menyatakan bahwa orang tua dengan pendapatan rendah cenderung memberikan makanan dengan jumlah, kualitas, dan variasi yang lebih sedikit kepada anak. Sebaliknya, keluarga dengan pendapatan lebih tinggi memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menyediakan makanan bergizi dan memperoleh akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan. Sebagian besar ibu yang memiliki anak dengan stunting telah mendapatkan informasi mengenai stunting, yaitu sebanyak 22 orang . ,6%). Namun, keterpaparan informasi tidak selalu berhubungan langsung dengan kejadian stunting pada anak. Penelitian Nursalam & Kurniawati . menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara keterpaparan informasi dengan kejadian stunting. Paparan informasi saja tidak cukup untuk menurunkan angka stunting, karena pemahaman dan penerapan informasi dalam praktik sehari-hari juga berperan penting. Namun, hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Kurniatin & Lepita . menunjukkan bahwa keterpaparan informasi tentang stunting memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stunting. Selain itu, penelitian Rahmah et al. mengungkapkan bahwa keterpaparan informasi mengenai stunting memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan ibu. Mayoritas ibu . %) di Desa Paspan memiliki pengetahuan yang baik tentang Pengetahuan ini diperoleh melalui proses penginderaan terhadap suatu objek melalui panca indera, terutama penglihatan dan pendengaran (Ardiani et al. , 2. Tingkat pengetahuan ibu mengenai stunting dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya usia, status pekerjaan, tingkat pendidikan, dan keterpaparan informasi. Usia dewasa muda ditemukan sebagai fase dengan kemampuan kognitif optimal yang memudahkan penerimaan dan pemahaman informasi. Hal ini sesuai dengan penelitian NursaAoiidah & Rokhaidah . , yang menyatakan bahwa ibu pada usia dewasa muda lebih aktif mencari informasi terkait kesehatan anak, termasuk pencegahan stunting. Status pekerjaan juga berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan ibu. Penelitian Erfiana et al. menunjukkan bahwa ibu yang tidak bekerja memiliki lebih banyak waktu untuk mencari informasi dan menerapkan perilaku preventif terhadap stunting. NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 179 Halaman 174-183 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Selain itu, tingkat pendidikan dan keterpaparan informasi turut memengaruhi pengetahuan ibu. Secara umum, ibu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai stunting. Namun, individu dengan pendidikan rendah tetap dapat memperoleh pengetahuan yang baik jika mendapatkan informasi yang cukup dan relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun mayoritas ibu memiliki tingkat pendidikan rendah, keterpaparan informasi melalui berbagai media, penyuluhan kesehatan, serta program pendidikan kesehatan tetap berperan dalam meningkatkan pemahaman mereka. Penelitian Rahmah et al. juga menegaskan bahwa ibu yang pernah terpapar informasi tentang stunting memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dengan ibu yang tidak pernah mendapatkan informasi serupa. Sebagian besar keluarga . ,6%) memiliki persepsi tentang stunting dalam kategori Persepsi merupakan proses pemaknaan individu terhadap stimulasi yang diterima melalui panca indera, yang kemudian memengaruhi tindakan dan perilakunya. Faktor-faktor seperti usia ibu, tingkat pendidikan, dan keterpaparan informasi ditemukan berperan dalam membentuk persepsi terhadap stunting. Destriana & Katmini . menyatakan bahwa ibu pada usia dewasa muda lebih terbuka terhadap penerimaan informasi dan lebih mudah mengalami perubahan perilaku. Sebaliknya, ibu dengan tingkat pendidikan rendah cenderung memiliki pemahaman yang lebih terbatas mengenai pentingnya pencegahan Penelitian Rini . menunjukkan bahwa ibu yang sering menerima informasi mengenai stunting melalui berbagai saluran komunikasi dan interaksi dengan tenaga kesehatan cenderung memiliki persepsi yang lebih baik terhadap pencegahan stunting. Hasil uji Korelasi Gamma menunjukkan p-value = 0,340, yang mengindikasikan bahwa secara statistik tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu tentang stunting dengan persepsi keluarga terhadap stunting. Meskipun mayoritas ibu memiliki pengetahuan yang baik, persepsi mereka terhadap stunting masih berada dalam kategori cukup. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh ibu atau keluarga tidak selalu memengaruhi cara pandang mereka terhadap masalah stunting. Persepsi terhadap stunting dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti pengalaman pribadi, norma sosial, informasi dari media, atau keyakinan budaya (Delaney et al. , 2020. Fitria, 2. Penelitian ini menunjukkan perbedaan hasil dengan beberapa studi terdahulu. Kausar et al . menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dan persepsi serta perilaku terhadap pencegahan stunting di wilayah. Ayu et al. juga melaporkan bahwa ibu dengan pengetahuan yang baik tentang stunting cenderung memiliki persepsi yang lebih positif terhadap pentingnya gizi seimbang pada Namun, penelitian Caesarean . menunjukkan bahwa hubungan antara pengetahuan dan persepsi bergantung pada aspek yang diukur, di mana pengetahuan ibu berkorelasi dengan persepsi hambatan dalam pencegahan stunting, tetapi tidak secara signifikan berhubungan dengan aspek persepsi lainnya. Temuan ini menegaskan bahwa optimalisasi program pencegahan stunting tidak dapat hanya mengandalkan peningkatan pengetahuan ibu, tetapi juga harus memperhatikan berbagai faktor yang memengaruhi persepsi keluarga. Keterlibatan aktif dari berbagai pihak, terutama ibu sebagai pengasuh utama dan keluarga sebagai lingkungan terdekat anak, sangat diperlukan untuk memastikan efektivitas program ini. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih komprehensif, seperti peningkatan edukasi yang berbasis budaya, penguatan dukungan sosial, serta penyediaan akses informasi yang lebih luas, perlu diterapkan. Dengan demikian, diharapkan angka stunting dapat ditekan secara signifikan, sehingga kualitas kesehatan dan perkembangan anak Indonesia dapat meningkat secara optimal. SIMPULAN Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang stunting dan NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 180 Halaman 174-183 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. persepsi keluarga terhadap stunting di Desa Paspan. Banyuwangi. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tidak selalu berbanding lurus dengan persepsi seseorang terhadap isu stunting. Meskipun demikian, edukasi tetap merupakan elemen kunci dalam upaya pencegahan stunting guna meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat. Namun, pendekatan edukatif perlu dilakukan secara holistik dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi persepsi, serta didukung oleh strategi yang kontekstual dan berbasis budaya agar pesan yang disampaikan lebih efektif dan dapat diterima dengan UCAPAN TERIMA KASIH