Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam ISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8. Nomor 1. Juni 2024 ALAMTARA. JSI by IAI TABAH is licensed under a Creative CommonsAttribution- NonCommercial 4. 0 International License Naskah masuk Direvisi Diterima Diterbitkan 05 Pebruari 2024 15 Pebruari 2024 28 Pebruari 2024 15 Mei 2024 DOI : https://doi. org/10. 58518/alamtara. DAKWAH ISLAM PESISIR. Kajian Metode Dakwah Abd. Kholiq IAI Tarbiyatut Tholabah. Lamongan. Indonesia Email: abd. kholiq@iai-tabah. Abstrak: Islam yang ada di Nusantara telah memiliki sejarah panjang di pesisir, kawasan yang terletak di pesisir dan merupakan pusat perdagangan atau pelabuhan utama pada masa lalu. Pesisir seringkali menjadi titik pertemuan antara berbagai budaya, agama, dan peradaban, sehingga memainkan peran penting dalam penyebaran dan perkembangan Islam wilayah tersebut. Islam telah tersebar luas di daerah pesisir melalui berbagai jalur yang berbeda. Penyebaran dan perkembangan Islam di pesisir dipengaruhi beberapa faktor. Sebagaimana diterangkan dalam berbagai literature sejarah Islam, ada beberapa jalur yang digunakan oleh para pembawa Islam untuk menyebarkan agama Islam di Nusantara. Dibalik sisi bahwa pondok pesantren secara material sebagai kelanjutan misi Islam, ada tokoh yang penuh kharismatik, yang menjadi panutan dan Dengan demikian masyarakat bakal memperoleh kesejahteraan dan maknanya yang hakiki. Dan disisi lain nampak begitu besar arti pondok pesantren bagi masyarakat bila semua itu benar-benar dapat diwujudkan, atau dengan kata lain bahwa tidaklah kecil beban yang dipikul oleh pondok pesantren untuk bisa memenuhi perananya di tengah masyarakat. Dakwah Islamiyah tidak boleh berhenti dalam sistim pelaksanaan dakwah. Maka yang perlu disiapkan dalam estafet pelaksanaan dakwah adalah di dirikannya lembaga pendidikan Islam yang berupa pondok pesantren sebagi cikal bakal lembaga pendidikan Islam. Kata Kunci: Dakwah. Pesisir. Pondok Pesantren Abstract: Islam in the archipelago has had a long history on the coast, areas located on the coast and which were trade centers or major ports in the past. The coast is 1 Abd. Kholiq Dakwah Islam Pesisir Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam ISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8. Nomor 1. Juni 2024 often a meeting point between various cultures, religions and civilizations, thus playing an important role in the spread and development of Islam in the region. Islam has spread widely in coastal areas through various different routes. The spread and development of Islam on the coast was influenced by several factors. explained in various Islamic historical literature, there are several routes used by the carriers of Islam to spread Islam in the archipelago. On the other hand. Islamic boarding schools are materially a continuation of the Islamic mission, there are charismatic figures who are role models and role models. In this way, society will obtain prosperity and its true meaning. And on the other hand, it seems that Islamic boarding schools will have a huge meaning for society if all of this can really be realized, or in other words, that the burden borne by Islamic boarding schools is not small to be able to fulfill their role in society. Islamic Da'wah must not stop in the system of implementing da'wah. So what needs to be prepared in the relay for implementing da'wah is the establishment of an Islamic educational institution in the form of a boarding school as the forerunner of an Islamic educational institution. Keywords: Da'wah. Coastal. Islamic Boarding School Pendahuluan Datangnya Islam di Jazirah Arab, dalam kondisi alam yang begitu tandus, jauh dari kesuburan tanahnya, gunung-gunung dan gurun pasir yang ada disekitarnya, begitu juga peradaban pada waktu itu, tapi Islam tidak begitu lama berkembang pesat. Berbarengan dengan perkembangan Islam pada waktu itu. Islam sanggup mengubah peradaban masyarakat jazirah Arab. Hal ini tentunya didukung oleh seorang pemimpin besar yang mempunyai kepribadian yang lengkap, sehingga dapat dan sanggup merubah keadaan disaat itu, beliau adalah Muhammad Rasulullah saw. Dalam kaitan ini bahwa lahirnya Islam sebagai Rahmatan LilAoalamin, maka ajaran yang dikandungnya harus sesuai dengan perkembangan zaman dan dari corak situasinya. Hal ini dapat diketahui apabila para pemeluknya konsekuen terhadap apa yang diajarkan dalam Islam itu sendiri. Oleh karena itu untuk menyebarkan ajaran Islam dan menanamkan konsekuen terhadap semua pemeluknya, diperlukan sumber informasi atau sebagai Muballigh yang benar-benar menguasai materi dakwah dan juga sikap mental untuk menghadapi mitra dakwah. 2 Abd. Kholiq Dakwah Islam Pesisir Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam ISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8. Nomor 1. Juni 2024 Islam yang ada di Nusantara telah memiliki sejarah panjang di pesisir, kawasan yang terletak di pesisir dan merupakan pusat perdagangan atau pelabuhan utama pada masa lalu. Pesisir seringkali menjadi titik pertemuan antara berbagai budaya, agama, dan peradaban, sehingga memainkan peran penting dalam penyebaran dan perkembangan Islam wilayah tersebut. Sejarah Islam penyebaran Islam di pesisir umumnya terjadi melalui jalur perdagangan dan hubungan diplomatik. Para pedagang Muslim dari berbagai negeri Arab. Persia. India, dan Cina membawa ajaran Islam serta memperkenalkan nilai-nilai agama tersebut kepada masyarakat setempat. Selain itu, para Ulama dan Mubaligh Islam juga turut berperan dalam menyebarkan Islam di pesisir melalui kegiatan dakwah pengajaran agama. Dengan demikian, penyebaran dan perkembangan Islam di pesisir merupakan bagian penting dari sejarah agama Islam di Indonesia dan wilayahwilayah sekitarnya. Islam tidak hanya menjadi identitas keagamaan, tetapi juga turut membentuk karakteristik budaya dan tradisi masyarakat pesisir yang Jalur Penyebaran Islam dan Perkembangan di Pesisir. Menyelusuri tentang kedatangan Islam di nusantara terdapat ada empat teori yang menjelaskan, yakni teori Gujarat, teori Makkah, teori Persia, dan teori Tiongkok. Teori Gujarat. Teori yang pertama yang menjelaskan tentang masuknya Islam ke Nusantara dikenal dengan AuTeori GujaratAy. Teori ini menyatakan bahwa Islam dibawa oleh para pedagang Gujarat yang berniaga ke Nusantara pada abad ke-13 M. Teori in dikemukakan oleh tokoh-tokoh Barat, seperti Pijnappel. Drewes, dan dikembangkan oleh Snouck Hurgronje. Teori Makkah. Teori ini merupakan sanggahan terhadap teori Gujarat, yaitu teori Makkakah/Arabia. Menurut teori ini. Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 M dibawa oleh para pedagang Arab, bukan Gujarat. Pendapat ini didukung oleh mayoritas sejarahwan, salah satunya adalah Buya Hamka. Rizem Aizid. Sejarah Islam Nusantara . ari analisis historis hingga arkeologis tentang Islam di Nusantar. , (Yogyakarta: DIVA Press. Desember 2. , 16-27. 3 Abd. Kholiq Dakwah Islam Pesisir Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam ISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8. Nomor 1. Juni 2024 Teori Persia. Selain teori Gujarat dan Makkah, ada juga teori yang diakui oleh sejarahwan terkait dengan masuknya Islam ke nusantara. Teori yang ketiga ini dikenal sebagai teori Persia. Bila dilihat dari masuknya Islam ke Nusantara, teori ini berpendapat sama dengan teori Gujarat, yakni Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13. Namun, teori Persia berbeda perihal asal usul dari pembawanya. Menurut teori ini, orang yang membawa Islam ke Nusantara berasal dari Persia (Ira. Teori Tiongkok. Selain tiga teori diatas, juga ditemukan teori baru tentang asal usul Islam di Nusantara, yaitu teori Tiongkok. Menurut teori ini, agama Islam masuk di Indonesia dibawa oleh perantau Tionghoa. Salah satu argumen yang menjadi dasar dari teori ini adalah fakta bahwa orang-orang Tionghoa sudah ada di kepulauan Nusantara sejak pertama Hijriyah. Teori Tiongkok dikembangkan oleh HAMKA dan sejarawan Tionghoa. Kong Yuanzhi, yang menyertai perjalanan Cheng Ho . uslim Tiongho. ke berbagai daerah Asia, termasuk Nusantara. Menyatakan bahwa menurut kronik masa Dinasti Tang . Metode Dakwah di Awal Masuknya Islam Di Nusantara Islam telah tersebar luas di daerah pesisir melalui berbagai jalur yang Penyebaran dan perkembangan Islam di pesisir dipengaruhi beberapa Sebagaimana diterangkan dalam berbagai literature sejarah Islam, ada beberapa jalur yang digunakan oleh para pembawa Islam untuk menyebarkan agama Islam di Nusantara. Melalui Jalur Perdagangan Jalur pertama yang menjadi jalan bagi Islam untuk masuk ke Nusantara, sebagaimana banyak diberitakan buku buku sejarah, adalah jalur Hal ini sangat wajar karena salah satu penyebar atau pembawa agama Islam adalah para saudagar dari Arab . da yang mengatakan dari Gujarat menurut teori Gujara. Dalam hal ini di kuatkan oleh pendapat Graaf, bahwa Islamisasi dapat dibedakan, bahwa ada tiga metode penyebaran Islam, yaitu oleh pedagang Rizem Aizid. Sejarah Islam NusantaraA33-39. 4 Abd. Kholiq Dakwah Islam Pesisir Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam ISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8. Nomor 1. Juni 2024 muslim dalam jalur perdangan yang damai, oleh para daAoi dan orang suci . Melalui Jalur Perkawinan. Selain perdagangan, jalur yang tidak kalah pentingnya dalam proses Islamisasi di Nusantara adalah perkawinan. Cara ini terbilang cukup ampuh. Hal ini dilakukan oleh pedagang muslim dengan menikahi para putri Umumnya, para pedagang yang menempuh cara ini adalah mereka yang menetap di kota-kota pelabuhan dan membentuk perkampungan yang disebut Pekojan. Cara yang lebih memasukkan agama Islam kenegeri itu ialah agar orangorang Islam menggunakan Bahasa dan adat istiadat penduduk asli, wanita-wanitanya, budak-budak mengembalikan martabat dirinyaA4 Melalui Jalur Pendidkan. Cara berikutnya adalah digunakan para penyebar agama Islam di Nusantara adalah melalui pendidikan dan pengajaran. Alat yang digunakan untuk menyebarkan Islam lwat jalur ini adalah dengan mendirikan pondokpondok pesantren. Adapun yang mendirikan pondok pesantren adalah guru-guru agama, kiai-kiai, dan ulama-ulama. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang penting dalam penyebaran Islam karena merupakan tempat pembinaan calon guru-guru agama, kiaikiai, atau ulama-ulama. Di pesantren itulah, para santri digodok dengan sedemikian rupa hingga menjadi ahli dalam bidang agama Islam. Para santri yang telah melalui proses pengkaderan dan penggodokan itu pun pada akhirnya mendapatkan titel sebagai ulama. Melalui Jalur Seni dan Budaya. Cara lain yang digunakan oleh para ulama atau penyebar Islam di Nusantara dalam menyebarkan agama Islam adalah melalui jalur seni dan budaya. Cara ini dilakukan oleh Wali Sanga saat menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa. Dengan menggunakan cara ini, penyebaran Islam di Tanah Jawa menjadi sangat sukses karena waktu itu masyarakat sangat menyukai berbagai pertunjukan seni dan budaya. Melalui Jalur Ajaran Tasawuf. Nur Syam. Islam Pesisir, (Yogyakarta: LKiS. Februari 2. , 63 Thomas W. Arnold. Sejarah Dakwah Islam, (Jakarta: Widjaya, 1. , 319. 5 Abd. Kholiq Dakwah Islam Pesisir Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam ISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8. Nomor 1. Juni 2024 Jalan lain yang digunakan oleh para penyebar Islam di Nusantara adalah Karena masyarakat Nusantara memiliki kepercayaan yang sangat kuat terhadap hal-hal yang magis, maka jalan tasawuf ini cukup efektif dalam menyebarkan agama Islam kepada masyarakat Nusantara. Salah satu yang menggunakan pendekatan tasawuf dalam menyebarkan Islam di Jawa adalah Syekh Siti Jenar. Dengan adanya berbagai jalur penyebaran tersebut. Islam dapat berkembang dan mengakar kuat di daerah pesisir . Keragaman jalur penyebaran tersebut juga mencerminkan kompleksitas dan kedalaman sejarah Islam di pesisir dan wilayah-wilayah sekitarnya. Kajian Metode Dakwah di Pesisir Kajian dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah didasarkan pada penelitian literature dan analisis terhadap konsep penelusuran dari sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Sumber-sumber yang digunakan meliputi bukubuku, artikel jurnal, dan sumber-sumber yang relevan dengan penelitian ini. Metode penelitian ini melibatkan pencarian dan sintesis informasi yang relevan, kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi dan menjelaskan aspek-aspek penting dalam metode dakwah di daerah pesisir. Kehadiran pondok pesantren Subyek dakwah berperan dalam penyebaran Agama Islam, maka dibutuhkan pula suatu pemahaman yang mendalam mengenai tugas seorang muballigh yang dilandasi dengan pemahaman tentang ajaran-ajaran Islam yang maha lengkap, untuk mewujudkan keberhasilan dakwah Islamiyah. Hal ini perlu didasari bahwa setiap muslim adalah diwajibkan untuk melaksanakan dakwah, dari statemen demikian maka sejauh mana pemahaman kaum muslimin tentang kewajiban dakwah Islamiyah yang paling mulia ini. Dalam hal ini Pondok pesantren Islam adalah merupakan wadah generasi muda yang benar-benar akan mampu untuk melaksanakan risalah dakwah Islamiyah. Perlu disadari bahwa untuk mewujudkan keberhasilan dakwah Islamiyah memang memerlukan waktu yang panjang, kemudian dari kenyataan ini maka perlu upaya menyiapkan kader-kader yang lebih mampu dalam rangka melanjutkan menyampaikan tugas dakwah Islamiyah agar tidak terhenti untuk satu generasi saja, melainkan 6 Abd. Kholiq Dakwah Islam Pesisir Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam ISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8. Nomor 1. Juni 2024 bersambung terus dari generasi ke generasi. Dengan demikian maka perlu adanya pembinaan yang mantap bagi santri, demikian pula santri harus memahami terhadap tugas dakwah yang dibebankan. Pesantren adalah tempat dimana anak-anak muda dan dewasa belajar secara lebih mendalam dan lebih lanjut ilmu agama Islam yang diajarkan sevara sistimatis, langsung dari dalam Bahasa Arab serta berdasarkan serta berdasarkan pembacaan kitab-kitab klasik karangan Ulama-ulama besar. Mereka yang berhasil dalam belajarnya, memang kemudian diharapkan menjadi kyai, ulama, muballigh, setidak-tidaknya guru agama dan ilmu Pada dasarnya kehadiran pondok pesantren ditengah masyarakat merupakan respon atas kebutuhan masyarakat tersebut, bahkan kadang dengan keinginan yang kuat untuk mempertahankan eksistensinya. Tanpa mempergunakan alasan yang pelik bahwa kehadiran pondok pesantren dipercaya sebagai lembaga pengayom dan penuntun bagi masyarakat serta membawa harapan dalam rangka mempertahankan dan memperkokoh tegaknya syariAoat Islam, sehingga dengan demikian menjadikan Islam sebagai agama yang menuju kepada Rahmatan lilAoalamin. Dibalik sisi bahwa pondok pesantren secara material sebagai kelanjutan misi Islam, ada tokoh yang penuh kharismatik, yang menjadi panutan dan tauladan. Dengan demikian masyarakat bakal memperoleh kesejahteraan dan maknanya yang hakiki. Dan disisi lain nampak begitu besar arti pondok pesantren bagi masyarakat bila semua itu benar-benar dapat diwujudkan, atau dengan kata lain bahwa tidaklah kecil beban yang dipikul oleh pondok pesantren untuk bisa memenuhi perananya di tengah masyarakat pendukungnya. Fungsi pondok pesantren Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan pusat dakwah Islamiyah tertua dan asli di Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan, pondok pesantren memilki akar sejarah yang panjang. Proses pendidikannya berlangsung selama 24 jam penuh, karena hubungan antara ulama/kiai dan santri yang berada dalam satu kompleks merupakan suatu masyarakat KH. Abdurrahman Wahid (Gus Du. pernah menggambarkan bahwa pondok pesantren merupakan subuah lingkaran pendidikan yang Dawam Rahardja. Editor. Pesantren dan Perubahan Sosial, (Jakarta: LP3ES, 1. , 2 7 Abd. Kholiq Dakwah Islam Pesisir Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam ISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8. Nomor 1. Juni 2024 integral . , yang dicirikan dengan adanya sebuah beranda dimana setiap orang dapat mengambil pengalaman secara integral. Karena itu, proses Islamisasi tampaknya mengalami akselerasi antara abad ke-12 dan ke-16 terlebih lagi, pada abad 16, mulai dirintis pendirian pondok pesantren untuk mewujudkan proses internalisasi Islam yang lebih Hal ini dapat dipahami, mengingat pengenalan terhadap ajaran yang baru bukanlah hal yang mudah karena harus melalui pendekatan psikologis dan sosial yang secara berangsur-angsur, kemudian berlanjut dengan proses sosialisasi secara massal terhadap ajaran Islam. Setelah Agama Islam berkembang luas di kalangan rakyat, para wali mendirikan pusat pendidikan dan penyiaran Islam. Penerus Maulana Malik Ibrahim, khususnya Sunan Ampel. Sunan Giri, dan Sunan Bonang, telah berhasil membangun pesantren yang didatangi oleh murid-murid dari seluruh Nusantara. Dari pesantren tersebut para wali dapat melakukan kaderisasi untuk meneruskan estafet dakwah seluruh wilayah. Dalam prinsip Islam Nusantara bisa menjadi sarana muslim lokal untuk berdakwah secara kaffah. Sebab, syariat yang diterapkan dalam Islam Nusantara bersifat luwes dan mengalir sesuai konteks masyarakat. Dalam konteks itu Islam bisa mengikuti adat budaya lokal, namun bukan mengganti doktrinnya. Inilah yang menjadi sumbangan penting untuk kedaulatan NKRI. Hal ini juga didorong oleh para kyai yang memang benar-benar ikhlas akan mengajarkan santri-santrinya. Jiwa kyai yang memang merasa terpanggil untuk mempersiapkan generasi selanjutnya untuk dididik menjadi calon kader yang mampu dapat membela dalam memperjuangkan agama Islam. Dengan peran pondok pesantren ini kiranya yang menjadikan pondok-pondok pesantren tidak menjadi menurun frekwensinya akan tetapi bertambah pesat perkembangannyadi bumi Nusantara ini. Melihat dari minat dari kyai dan tugas yang dibebankan adalah cukup mulia. Kalau disadari orang Islam mana yang rela kalau Agama Islam akan sirna, oleh karena itu secara lebih dini kyai membuka kesempatan Abdullah Zawawi. Peranan Pondok Pesantren Dalam Menyiapkan Generasi Muda Di Era Globalisasi,Jurnal Ummul Qura Vol i. No. Agustus 2013 Ridwan Lubis. Sejarah Islam di Nusantara . roses penyiaran, pemikiran, dan keberagamaan dalam pembanguna. , (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2. , 17 Zaenal Abidin bin Syamsuddin. Fakta Baru Walisongo, (Cimanggis: Imam Bonjol. Agustus 2. , 107 Sunarto. Peran Pondok Pesantren dalam Pengembangan Kultur Islam Nusantara. Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam. Volume 6. November 2015 8 Abd. Kholiq Dakwah Islam Pesisir Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam ISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8. Nomor 1. Juni 2024 untuk menerima santri yang memang benar-benar mengetahui misi/tugas sebagai seorang Islam yang mau konsisten terhadap kewajiban sebagai orang Islam. Kesimpulan Dengan mengingat bahwa pelaksanaan dakwah Islamiyah tidak boleh berhenti dalam sistim pelaksanaan dakwah. Maka yang perlu disiapkan dalam estafet pelaksanaan dakwah adalah di dirikannya lembaga pendidikan Islam yang berupa pondok pesantren sebagi cikal bakal lembaga pendidikan Islam. Di pondok pesantren akan di didik para santrinya dari pelbagai daerah yang nantinya diharapkan sebagai kader dalam pelaksanaan dakwah di daerahnya. REFERENSI