AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Sejarah Weni Kalla di Desa Tude (Puntar. Kecamatan Pantar Tengah Kabupaten Alor Petrus Mau Tellu Dony1. Inggrit E. Bayang2. Inang N. Mustapa3. Jesenia L. Alelang4. Henderina Womakal5. Neziah Hinagay6. Yessy Mata7. Universitas Tribuanan Kalabahi Email: petrusdony2@gmail. com , inggritbayang00@gmail. com2, nailamustapa093@gmail. jhiloalelang504@gmail. com4, rinawomakal@gmail. com5 , neziahhinagay27@gmail. yessymata760@gmail. Abstrak Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mendeskripsikan Cerita rakyat Sejarah Weni Kalla di Desa Tude (Puntar. Kecamatan Pantar Tengah. Kabupaten Alor dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis untuk menggali dan merekonstruksi sejarah Weni Kalla. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan tokoh masyarakat Bapak Mahlale Lama Koly. hasil yang di dapatkan dalam wawancara tesebut terjadilah pertengkaran hebat antara Bunanema dan Kallang Buri yang masing-masing mengakui dirinya sebagai putri Raja, dan mau menjadi permaisuri Raja Mai Wallang, pertengkaran di akhiri dengan perang tanding. Bunanema memegang alat tenun kain . dan duduk diatas lesung, sedangkan Kallang Buri yang mengaku dirinya putri Raja memegang kelewang dan duduk diatas moko pertama diberikan kepada Kallang Buri untuk membela atau memotong Bunanema. Ayunan kesatu, dua dan tiga tidak berhasil malahan kelewang yang dipakainya patah, kemudian giliran Bunanema untuk membelah atau memotong Kallang Buri, hanya dengan sekali ayunan kayu tenun Kallang Buri bersama moko yang didudukinya langsung terbelah menjadi dua bagian dan semua isi perutnya keluar. Kemudian Bunanema menikah dengan Raja Mai Wallang dan perkawinan mereka dikarunia seorang putra yang bernama Weni Kalla, pada suatu hari weni klla mencari belalang seekor belalang yang hinggap di dahan sebatang pohon terong. Weni Kalla langsung memanah belalang tersebut sebab belalang itu mencaci maki ayah dan ibunya. Kemudian Weni Kalla melaporkan kejadian tersebut kepada ayah dan ibunya, mereka langsung menuju ketempat kuburan dari Kallang Buri. Weni Kalla memanah belalang tersebut lagi dan ternyata belalang tersebut masih memaki ayah dan ibunya lagi mendengar itu sang ibu (Bunanem. mengambil busur dan panah milik Weni Kalla dan mematahkannya sehingga Weni Kalla langsung menangis dan tidak bisa dibujuk Akhirnya ibunya menawarkan botok dan tawaran itu diterima oleh Weni Kalla. Sementara ibunya menumbuk botok, sesuatu terjadi di ke Rajaan Kaila Wallang dimana air laut pun naik dan menenggelamkan ke Rajaan Kaila Wallang beserta isinya sampai sekarang ini. Ibu Weni Kalla yaitu Bunanema yang sementara menumbuk botok berubah menjadi batu dan sampai hari ini masih ada di dasar laut pantai Puntaru. Mahligai dan tiangnya yang dua belas batang juga masih ada sampai hari ini, botok yang ditumbuk oleh Ibunya Weni Kalla berubah menjadi pasir tiga warna yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 yang unik yaitu berwarna putih bening, kuning emas dan hitam mengkilat yang hanya terdapat di Pantar Barat Puntara Desa Tude suku Tibe. Kata Kunci: Sejarah certa rakyat Weni Kalla PENDAHULUAN Indonesia adalah negara yang kaya akan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun- temurun. Salah satu kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia adalah sastra lisan. Sastra lisan mengungkapkan peristiwa yang mengandung nilai moral, keagamaan, adat-istiadat, fantasi pribahasa, nyanyian, cerita rakyat, dan mantra. Sastra lisan bagian dari ilmu folklor. Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang dijelaskan oleh Danandjaya . Folk adalah sinonim dengan kolektif ciri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama, serta mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan dan yang dimaksudkan dengan lor adalah tradisi folk, yaitu sebagai kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Cerita rakyat adalah sebagian kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki Bangsa Indonesia. Pada umumnya, cerita rakyat mengisahkan tentang suatu kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat. Tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam cerita rakyat umumnya diwujudkan dalam bentuk binatang, manusia maupun dewa. Fungsi cerita rakyat selain sebagai hiburan, juga bisa dijadikan suri tauladan terutama cerita rakyat yang mengandung pesan-pesan pendidikan moral. Semi . menjelaskan bahwa Aucerita rakyat adalah sesuatu yang dianggap sebagai kekayaan milik rakyat yang kehadirannya di atas dasar keinginan untuk berhubungan sosial dengan orang Dalam cerita rakyat dapat dilihat adanya berbagai tindakan berbahasa, guna untuk menampilkan adanya nilai-nilai dalam masyarakatAy. Cerita rakyat yang kaya akan nilai-nilai moral dan kearifan lokal, bisa dijadikan sarana komunikasi untuk mengajarkan nilai-nilai pendidikan tentang kehidupan kepada masyarakat. Kebudayaan daerah di Indonesia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari khasanah kebudayaan yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 nasional, karena kebudayaan daerah merupakan penunjang dalam pengembangan kebudayaan Hal ini merupakan suatu masalah yang tidak bisa dibiarkan begitu saja, jika tidak dibina maka akan berpengaruh kepada hilangnya nilai-nilai tradisi masyarakat. Sejarah desa masih menarik sejarahwan untuk ditelusuri karena hamper semua peristiwa sejarah berawal atau terjadi didaerah pedesaan. Desa sebagai kesatuan terkecil di Indonesia, memiliki karakter tersendiri. Hal ini disebabkan karena masing-masing wilayah di Indonesia terbentuk melalui proses sejarah panjang dan berbeda-beda. Petrus Mau Tellu Dony . Demikian juga dengan Desa Tude (Putar. Kecamatan Pantar Tengah Kabupaten Alor. Desa Tude, terletak di Kecamatan Pantar Tengah. Kabupaten Alor. Nusa Tenggara Timur, memiliki potensi wisata yang menarik, terutama dengan keberadaan Pantai Pasir Tiga Warna di Dusun Puntaru. Pantai ini dikenal karena keindahan alamnya yang unik, dengan gradasi pasir berwarna yang memikat, menjadikannya destinasi yang menarik bagi wisatawan yang mencari suasana pantai yang santai. Selain keindahan alam, terdapat upaya untuk mengembangkan Pantai Pasir Tiga Warna sebagai objek wisata berbasis ekowisata. Pendekatan ini bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat melalui partisipasi aktif dalam pengelolaan dan pengembangan pariwisata. Namun, seperti banyak destinasi wisata lainnya. Desa Tude mungkin menghadapi tantangan terkait aksesibilitas dan Kondisi jalan menuju lokasi wisata sering kali menjadi faktor penentu dalam menarik minat wisatawan. Meskipun tidak ada informasi spesifik mengenai kondisi akses ke Desa Tude dalam sumber yang tersedia, pengalaman dari daerah lain di Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa akses jalan yang kurang memadai dapat menghambat perkembangan Secara keseluruhan. Desa Tude memiliki potensi wisata yang signifikan dengan daya tarik alam yang unik. Pengembangan infrastruktur dan pengelolaan yang berkelanjutan akan menjadi kunci dalam memaksimalkan potensi tersebut, sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 METODE PENGABDIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis untuk menggali dan merekonstruksi sejarah Weni Kalla. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan tokoh masyarakat Desa Tude, seperti Bapak Mahlale Lama Koly. Pendekatan ini bertujuan untuk memahami nilai-nilai budaya dan tradisi yang terkandung dalam cerita Weni Kalla, serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat setempat. HASIL PENGABDIAN DAN PEMBAHASAN Sejarah Weni Kalla bermula dari kisah keluarga Raja Mai Walang, anak dari Kaidi Walang. Cerita ini berakar pada pada Zaman dahulu ada sebuah ke Rajaan yang bernama kerjaan AuKaila WallangAy terletak di Puntaru yang sekarang sudah ditutupi atau digenangi oleh air laut Rajanya bernama Mai Wallang Keinginan Raja untuk beristri lagi sebab ia mendengar ada seorang putri yang cantik, yaitu putri Raja dari ke Rajaan Sambawa, lalu sang Raja mengutus beberapa tokoh adat ke Rajaan untuk ke Sembawa seraya meminang putri Raja. Raja Sembawa menerima pinangan dari Raja Mai Wallang dan langsung menyerahkan putrinya yang bernama Bumanema kepada para delegasi dari ke Rajaan Mai Wallang, setelah memenuhi beberapa persyaratan adat yang sudah disepakati kedua belah pihak, sesuai tradisi adat yang berlaku pada waktu itu, apabila seorang putri Raja keluar kawin maka harus didampingi oleh seorang perempuan sebagai dayang-dayang atau budak. Karena itu Raja menyerahkan seorang perempuan bernama Kallang Buri untuk menjadi dayangdayang dari Bunanema. Kemudian para delegasi dari ke Rajaan Mai Wallang membawa putri Raja Bunanema bersama Kallang Buri ke ke Rajaan Kaia Wallang. Sementara dalam perjalanan mengarungi lautan, terjadi pertengkaran mulut antara Bunanema dan Kallang Buri, karena Kallang Buri mengakui dirinya sebagai putri Raja, pada saat merapat ke pelabuhan. Kallang Buri menolak Bunanema jatuh kelaut kemudian Kallang Buri memakai pakaian putri ke Rajaan dan menempatkan dirinya sebagai Bunanema. Rombongan ke Rajaan langsung membawa Kallang yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Buri ke istana Raja Mai Wallang, sementara itu Bunanema berusaha meyelamatkan dirinya kedarat dan menyembunyikan dirinya diatas sebatang pohon asam dekat mata air, yang bernama Opualia. Kallang Buri disambut hangat oleh ke Rajaan bersama masyarakat dan diadakan kenduri besarbesaran dengan upacara adat lego-lego. Sementara upacara adat berlangsung seorang permaisuri Raja, yaitu ibunda Raja Mai Wallang yang bernama Tunia Kau, pergi mengambil air untuk mandi di mata air Opualia, sementara sang permaisuri sedang menimba air Bunanema menampakan dirinya dan mengatakan bahwa ia adalah Bunanema putri Raja dan sementara yang berada di istana itu bukan putri Raja melainkan dayang yang bernama Kallang Buri. Mata Air Opualia(Air Di Khususkan Untuk Orang-Orang Raj. Bunanema dibawah ke istana Raja dan duduk di tingkat tujuh dalam maligai . Pada waktu menjelang siang Bunanema turun dan masuk dalam barisan lego-lego dibagian kiri, sedangkan Kallang Buri melepaskan ikatan rambutnya, maka bau busuk memenuhi ruangan legoyn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 lego kemudian Bunanema melepaskan ikatan rambutnya juga maka tercium aroma harum semerbak memenuhi ruangan lego-lego. Kaki rumah adat jadi batu . Pada saat matahari terbit terjadilah pertengkaran hebat antara Bunanema dan Kallang Buri yang masing-masing mengakui dirinya sebagai putri Raja, dan mau menjadi permaisuri Raja Mai Wallang, pertengkaran di akhiri dengan perang tanding. Bunanema memegang alat tenun kain . dan duduk diatas lesung, sedangkan Kallang Buri yang mengaku dirinya putri Raja ia memegang kelewang dan duduk diatas moko. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Lesung (Mus. dan Moko (Kuwan. Giliran pertama diberikan kepada Kallang Buri untuk membela atau memotong Bunanema. Ayunan kesatu, dua dan tiga tidak berhasil malahan kelewang yang dipakainya patah, kemudian giliran Bunanema untuk membelah atau memotong Kallang Buri, hanya dengan sekali ayunan kayu tenun Kallang Buri bersama moko yang didudukinya langsung terbelah menjadi dua bagian dan semua isi perutnya keluar. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Batu Kalang Buri Kemudian Bunanema menikah dengan Raja Mai Wallang dan perkawinan mereka dikarunia seorang putra yang bernama Weni Kalla. Pada waktu anak ini menjelang kanak-kanakan ia mencari belalang pada pada saat itu ada seekor belalang yang hinggap di dahan sebatang pohon terong, yang kebetulan tumbuh diatas kuburan Kallang Buri. Weni Kalla langsung memanah belalang tersebut sebab belalang itu mencaci maki ayah dan ibunya. Kemudian Weni Kalla melaporkan kejadian tersebut kepada ayah dan ibunya, mereka langsung menuju ketempat kuburan dari Kallang Buri. Setelah tiba dikuburan Kallang Buri Weni Kalla memanah belalang tersebut lagi dan ternyata kali ini bidikan Weni Kallah tidak meleset dan langsung mengenai belalang tersebut namun belalang tersebut masih memaki ayah dan ibunya lagi mendengar itu sang ibu (Bunanem. mengambil busur dan panah milik Weni Kalla dan mematahkannya sehingga Weni Kalla langsung menangis dan tidak bisa dibujuk. Ibunya menawarkan segala macam makanan tetapi semuanya ditolak. Akhirnya ibunya menawarkan botok dan tawaran itu diterima oleh Weni Kalla. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Sementara ibunya menumbuk botok, sesuatu terjadi di ke Rajaan Kaila Wallang dimana air laut pun naik dan menenggelamkan ke Rajaan Kaila Wallang beserta isinya sampai sekarang ini. Ibu Weni Kalla yaitu Bunanema yang sementara menumbuk botok berubah menjadi batu dan sampai hari ini masih ada di dasar laut pantai Puntaru. Mahligai dan tiangnya yang dua belas batang juga masih ada sampai hari ini, botok yang ditumbuk oleh Ibunya Weni Kalla berubah menjadi pasir tiga warna yang unik yaitu berwarna putih bening, kuning emas dan hitam mengkilat yang hanya terdapat di Kecamatan Pantar Tengah Desa Tude Puntaru. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Pasir Tiga Warana Di Pantai Puntaru desa tude kecamatan pantar tengah-Alor KESIMPULAN Hasil peneliti ni dapat disimpulkan bahwa Sejarah Weni Kalla bermula dari kisah keluarga Raja Mai Walang, anak dari Kaidi Walang. Cerita ini berakar pada pada Zaman dahulu ada sebuah ke Rajaan yang bernama kerjaan AuKaila WallangAy terletak di Puntaru yang sekarang sudah ditutupi atau digenangi oleh air laut Rajanya bernama Mai Wallang. Keinginan Raja untuk beristri lagi sebab ia mendengar ada seorang putri yang cantik, yaitu putri Raja dari ke Rajaan Sambawa, lalu sang Raja mengutus beberapa tokoh adat ke Rajaan untuk ke Sembawa seraya meminang putri Raja. terjadilah pertengkaran hebat antara Bunanema dan Kallang Buri yang masing-masing mengakui dirinya sebagai putri Raja, dan mau menjadi permaisuri Raja Mai Wallang, pertengkaran di akhiri dengan perang tanding. Bunanema memegang alat tenun kain . dan duduk diatas lesung, sedangkan Kallang Buri yang mengaku dirinya putri Raja ia memegang kelewang dan duduk diatas moko, pertama diberikan kepada Kallang Buri untuk membela atau memotong Bunanema. Ayunan kesatu, dua dan tiga tidak berhasil malahan kelewang yang dipakainya patah, kemudian giliran Bunanema untuk membelah atau memotong Kallang Buri, hanya dengan sekali ayunan kayu tenun Kallang Buri bersama moko yang didudukinya langsung terbelah menjadi dua bagian dan semua isi perutnya keluar. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Kemudian Bunanema menikah dengan Raja Mai Wallang dan perkawinan mereka dikarunia seorang putra yang bernama Weni Kalla. Pada waktu anak ini menjelang kanak-kanakan ia mencari belalang pada pada saat itu ada seekor belalang yang hinggap di dahan sebatang pohon terong, yang kebetulan tumbuh diatas kuburan Kallang Buri. Weni Kalla langsung memanah belalang tersebut sebab belalang itu mencaci maki ayah dan ibunya. Kemudian Weni Kalla melaporkan kejadian tersebut kepada ayah dan ibunya, mereka langsung menuju ketempat kuburan dari Kallang Buri. Setelah tiba dikuburan Kallang Buri Weni Kalla memanah belalang tersebut lagi dan ternyata kali ini bidikan Weni Kallah tidak meleset dan langsung mengenai belalang tersebut namun belalang tersebut masih memaki ayah dan ibunya lagi mendengar itu sang ibu (Bunanem. mengambil busur dan panah milik Weni Kalla dan mematahkannya sehingga Weni Kalla langsung menangis dan tidak bisa dibujuk. Ibunya menawarkan segala macam makanan tetapi semuanya ditolak. Akhirnya ibunya menawarkan botok dan tawaran itu diterima oleh Weni Kalla. Sementara ibunya menumbuk botok, sesuatu terjadi di ke Rajaan Kaila Wallang dimana air laut pun naik dan menenggelamkan ke Rajaan Kaila Wallang beserta isinya sampai sekarang ini. Ibu Weni Kalla yaitu Bunanema yang sementara menumbuk botok berubah menjadi batu dan sampai hari ini masih ada di dasar laut pantai Puntaru. Mahligai dan tiangnya yang dua belas batang juga masih ada sampai hari ini, botok yang ditumbuk oleh Ibunya Weni Kalla berubah menjadi pasir tiga warna yang unik yaitu berwarna putih bening, kuning emas dan hitam mengkilat yang hanya terdapat di Kecamatan Pantar Tengah Desa Tude Puntaru. SARAN Saran bagi generasi mendatang adalah untuk terus menghormati, memahami dan melestarikan tradisi budaya, dan nilai-nilai lokal seperti yang terkandung Dalam cerita Sejarah Weni Kalla di Desa Tude (Puntar. Kecamatan Pantar Tengah Kabupaten Alor Penting untik menjaga keberadaan cerita ini sebagai bagian dari identitas masyarakat, sekaligus mengedepankan rasa bangga dan kepedulian terhadap keberagaman tradisi yang menjadi kekayaan budaya bangsa. Melaui pelestarian ini nilai-nilai moral dan budaya dapat terus diwariskan dan relavan dalam yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 kehidupan moderen. Saran kepada penelitan yang lain penelitian ini sebagai refrensi untuk penelitian yang lain. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Petrus Mau Tellu Dony selaku Dosen Pengasuh Mata Kuliah atas bimbinganya yang diberikan kepada kami para penulis. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Mahlale Lamma Koly sebagai narasumber utama yang telah berbagi pengetahuan dan cerita berharga tentang sejarah Weni Kalla. Terima kasih juga kami sampaikan kepada masyarakat Desa Tude (Puntar. Kecamatan Pantar Tengah. Kabupaten Alor, yang telah mendukung penelitian ini dengan membuka pintu budaya dan tradisi mereka. Semoga jurnal ini dapat menjadi dokumentasi berharga yang melestarikan warisan budaya lokal serta memberikan manfaat bagi generasi mendatang. DAFTAR PUSTAKA