SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. https://journal. id/index. php/SEHATMAS e-ISSN 2809-9702 | p-ISSN 2810-0492 Vol. 5 No. 2 (April 2. 334-344 DOI: 10. 55123/sehatmas. Submitted: 06-02-2026 | Accepted: 13-03-2026 | Published: 15-04-2026 Hubungan Pengetahuan dengan Sikap Masyarakat pada Penggunaan Antibiotik di Kelurahan Pondok Besi Kota Bengkulu Miftahuljannah1. Oky Hermansyah2*. Maria Eka Patri Yulianti3. Tri Danang Kurniawan4. Rose Intan Perma Sari5 1,2,4,5 D3 Farmasi. Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Bengkulu. Kota Bengkulu. Indonesia Pendidikan Profesi Dokter. Fakultas Kedokteran dan ilmu Kesahatan. Universitas Bengkulu. Kota Bengkulu. Indonesia Email: mh28052005@gmail. com, 2*oky. hermansyah@unib. mariaeka18@gmail. com, 4tridanang@unib. id, 5roseintan@unib. Abstract This study aims to analyze the relationship between the level of knowledge and attitudes of the community towards antibiotic use in Pondok Besi Village. Bengkulu City. This study used a quantitative method with an observational analytical design through a crosectional approach. The study sample consisted of 104 respondents obtained using proportional cluster random sampling technique. Data were collected through questionnaires that had been tested for validity and reliability, then analyzed using Univariate and Univariate analysis with the Chi-Square test. The results showed that the majority of respondents had a good level of knowledge . 1%) and a good attitude . 0%) towards antibiotic use. The Univariate analysis showed a significant relationship between knowledge and attitudes of the community, where respondents with better knowledge tended to have more positive attitudes towards antibiotic use. These findings indicate that knowledge plays an important role in shaping public attitudes towards the rational use of antibiotics. Therefore, continuous improvement of health education is essential to strengthen understanding and shape appropriate attitudes towards antibiotic use to prevent antimicrobial resistance at the community level. Keywords: Knowledge. Antibiotics. Public Attitudes. Antimicrobial Resistance. Medication Use. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap penggunaan antibiotik di Kelurahan Pondok Besi Kota Bengkulu. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik observasional melalui pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 104 responden yang diperoleh menggunakan teknik proportional cluster random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan analisis Univariat dan Univariat dengan uji ChiLisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Miftahuljannah1. Oky Hermansyah2*. Maria Eka P. Yulianti3. Tri Danang Kurniawan4. Rose Intan P. Sari5 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 334 Ae 344 Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik . ,1%) dan sikap yang baik . ,0%) terhadap penggunaan Analisis Univariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap masyarakat, di mana responden dengan pengetahuan yang lebih baik cenderung memiliki sikap yang lebih positif dalam penggunaan antibiotik. Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan berperan penting dalam membentuk sikap masyarakat terhadap penggunaan antibiotik secara rasional. Oleh karena itu, peningkatan edukasi kesehatan yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk memperkuat pemahaman dan membentuk sikap yang tepat dalam penggunaan antibiotik guna mencegah terjadinya resistensi antimikroba di tingkat masyarakat. Kata Kunci: Pengetahuan. Antibiotik. Sikap Masyarakat. Resistensi Antimikroba. Penggunaan Obat. PENDAHULUAN Antibiotik merupakan komponen penting dalam penanganan penyakit infeksi yang berperan dalam menurunkan angka morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Namun, penggunaan antibiotik yang tidak rasional telah menjadi masalah kesehatan global karena dapat memicu resistensi antimikroba yang berdampak serius terhadap efektivitas World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa pada tahun 2019 terdapat lebih dari 1,27 juta kematian secara langsung akibat resistensi antimikroba dan hampir 5 juta kematian terkait kondisi tersebut, yang menunjukkan besarnya beban global akibat penggunaan antibiotik yang tidak tepat (Murray et al. , 2. Di tingkat nasional, penyakit infeksi masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia, sehingga penggunaan antibiotik di masyarakat tergolong tinggi. Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa sebanyak 22,1% penduduk menggunakan antibiotik dalam satu tahun terakhir. Tingginya penggunaan ini tidak selalu diiringi dengan pemahaman yang baik, sehingga berpotensi menyebabkan penggunaan yang tidak rasional dan meningkatkan risiko resistensi antimikroba (Kementerian Kesehatan RI, 2. Permasalahan resistensi antibiotik juga terjadi di tingkat komunitas akibat penggunaan antibiotik yang tidak tepat serta kurangnya pemahaman masyarakat (Noverial et al. , 2. Meskipun data spesifik mengenai prevalensi resistensi antibiotik di Provinsi Bengkulu masih terbatas, beberapa laporan di wilayah Sumatera menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan resistensi terhadap antibiotik tertentu. Di Kota Bengkulu, penggunaan antibiotik di masyarakat masih memerlukan pengawasan dan edukasi berkelanjutan, yang mengindikasikan bahwa pemahaman masyarakat mengenai penggunaan antibiotik yang rasional belum optimal. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kejadian resistensi antibiotik apabila tidak ditangani secara tepat melalui intervensi berbasis masyarakat. Salah satu faktor yang mendukung terjadinya resistensi antibiotik adalah kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap antibiotik. Pemahaman tersebut berkaitan erat dengan tingkat pengetahuan individu yang menjadi dasar dalam pembentukan perilaku kesehatan. Tingkat pengetahuan dapat mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang. Secara teoritis, hal ini dapat dijelaskan melalui pendekatan Health Belief Model (HBM), yang menyatakan bahwa perilaku individu dipengaruhi oleh persepsi terhadap risiko, manfaat, dan hambatan dalam melakukan suatu tindakan kesehatan (Wang et al. , 2. Dalam konteks penggunaan antibiotik, pengetahuan yang baik diharapkan dapat membentuk persepsi yang tepat sehingga memengaruhi sikap masyarakat dalam menggunakan antibiotik secara rasional. Penelitian di Indonesia Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Miftahuljannah1. Oky Hermansyah2*. Maria Eka P. Yulianti3. Tri Danang Kurniawan4. Rose Intan P. Sari5 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 334 Ae 344 menunjukkan bahwa individu dengan pengetahuan antibiotik yang lebih tinggi cenderung memiliki perilaku penggunaan antibiotik yang lebih rasional, termasuk tidak melakukan swamedikasi (Kirana, 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dan sikap dalam penggunaan antibiotik, di mana responden dengan pengetahuan yang baik memiliki kecenderungan sikap yang lebih positif dan rasional (Armal et al. , 2. Temuan lain juga menegaskan bahwa rendahnya pengetahuan masyarakat menjadi salah satu faktor utama terjadinya penggunaan antibiotik yang tidak tepat di tingkat komunitas (Limato et al. , 2. Meskipun berbagai penelitian telah mengkaji hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap penggunaan antibiotik, sebagian besar masih berfokus pada tingkat rumah sakit, apotek, atau populasi tertentu. Selain itu, penelitian oleh Armal et al. dan Limato et al. dilakukan pada karakteristik responden dan wilayah yang berbeda, seperti pada fasilitas pelayanan kesehatan atau populasi dengan akses informasi yang lebih baik, sehingga belum sepenuhnya merepresentasikan kondisi masyarakat pada tingkat komunitas terkecil seperti kelurahan. Kajian pada tingkat komunitas terkecil seperti kelurahan masih relatif terbatas dalam literatur yang ada. Khususnya di Kelurahan Pondok Besi. Kota Bengkulu, yang memiliki karakteristik sosiogeografis tersendiri seperti variasi tingkat pendidikan, akses informasi kesehatan, serta kondisi lingkungan masyarakat, belum banyak penelitian yang secara spesifik menganalisis hubungan Kondisi ini mengindikasikan adanya kesenjangan penelitian yang masih perlu dikaji lebih lanjut untuk memperoleh gambaran empiris yang lebih kontekstual sesuai kondisi lokal. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini memiliki kebaruan . berupa analisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap penggunaan antibiotik pada tingkat kelurahan sebagai unit komunitas terkecil, sehingga diharapkan dapat memberikan dasar yang lebih spesifik dalam perencanaan intervensi edukasi Dengan demikian, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap penggunaan antibiotik serta apakah terdapat hubungan antara keduanya di Kelurahan Pondok Besi. Kota Bengkulu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap penggunaan antibiotik sebagai dasar dalam upaya peningkatan penggunaan antibiotik yang rasional dan pencegahan resistensi antimikroba di tingkat komunitas. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan pendekatan cross sectional, di mana pengukuran variabel independen . dan variabel dependen . ikap terhadap penggunaan antibioti. dilakukan pada waktu yang bersamaan. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Pondok Besi. Kota Bengkulu pada bulan Januari hingga Maret 2026. Populasi penelitian adalah seluruh masyarakat yang berdomisili di wilayah tersebut 378 jiwa, dengan sampel sebanyak 104 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10% serta penambahan 10% untuk mengantisipasi kehilangan data. Pemilihan tingkat kesalahan 10% didasarkan pada keterbatasan waktu, tenaga, dan sumber daya penelitian, namun tetap mempertimbangkan keterwakilan sampel terhadap populasi (Miller & Ulrich, 2. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportional cluster random sampling berdasarkan pembagian wilayah RT. Setiap RT dijadikan sebagai klaster, kemudian jumlah sampel pada masing-masing RT ditentukan secara proporsional sesuai jumlah Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Miftahuljannah1. Oky Hermansyah2*. Maria Eka P. Yulianti3. Tri Danang Kurniawan4. Rose Intan P. Sari5 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 334 Ae 344 Selanjutnya, pemilihan responden dalam setiap RT dilakukan secara acak sederhana hingga jumlah sampel terpenuhi (Dewi et al. , 2. Kriteria inklusi meliputi responden berusia 17Ae60 tahun, berdomisili di lokasi penelitian, dan pernah menggunakan antibiotik. Kriteria eksklusi meliputi responden yang tidak dapat membaca, menulis, atau berkomunikasi dengan baik serta tenaga kesehatan. Data yang digunakan terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui kuesioner tertutup yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya . ilai r hitung > r tabel 0,361. CronbachAos Alpha pengetahuan 0,702 dan sikap 0,. Kuesioner terdiri dari 10 item pertanyaan pengetahuan dan 10 item pernyataan sikap dengan skala Likert 4 poin . angat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuj. Penentuan kategori pengetahuan dan sikap dibagi menjadi kategori baik . endapatkans skor 76-100%), cukup . endapatkan skor 51%-75%), dan kurang . endapatkan skor <51%) berdasarkan persentase skor yang diperoleh responden terhadap skor maksimum (Haris et al. , 2. Data dianalisis melalui tahap editing, coding, dan entry menggunakan program SPSS. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan distribusi frekuensi masingmasing variabel, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan tingkat signifikansi = 0,05 dan tingkat kepercayaan 95%. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan dari pihak terkait, dan seluruh responden telah memberikan persetujuan untuk berpartisipasi . nformed consen. sebelum pengisian kuesioner dilakukan. HASIL Dari hasil penelitian yang berjudul AuHubungan Pengetahuan dengan Sikap Masyarakat pada Penggunaan Antibiotik di Kelurahan Pondok Besi Kota BengkuluAy bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap masyarakat dalam penggunaan antibiotik. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei menggunakan kuesioner kepada responden yang memenuhi kriteria inklusi, dengan jumlah sampel sebanyak 104 orang. Data yang diperoleh kemudian dianalisis berdasarkan karakteristik responden serta distribusi tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi masing-masing variabel, serta analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap masyarakat. Proses pengumpulan data dalam penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari hingga Maret 2026. Berdasarkan data yang telah diperoleh dan dianalisis, hasil penelitian disajikan sebagai berikut. Tabel 1. Distribusi berdasarkan Karakteristik responden Karakteristik Jenis Kelamin Usia Pendidikan Kategori Laki-laki Perempuan 17Ae25 tahun 26Ae35 tahun 36Ae45 tahun 46Ae60 tahun SMP SMA/SMK D3/S1 Jumlah Persentase (%) 33,7% 66,3% 24,0% 21,2% 17,3% 37,5% 6,7% 17,3% 61,5% 14,4% Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Miftahuljannah1. Oky Hermansyah2*. Maria Eka P. Yulianti3. Tri Danang Kurniawan4. Rose Intan P. Sari5 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 334 Ae 344 Pekerjaan IRT Swasta Wiraswasta Tidak bekerja Buruh PNS Guru Total 45,2% 20,2% 14,4% 12,5% 4,8% 1,9% 1,0% Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 104 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Berdasarkan jenis kelamin, mayoritas responden adalah perempuan sebanyak 69 orang . ,3%), sedangkan laki-laki sebanyak 35 orang . ,7%). Berdasarkan kelompok usia, responden terbanyak berada pada rentang usia 46Ae60 tahun yaitu 39 orang . ,5%), diikuti usia 17Ae25 tahun sebanyak 25 orang . ,0%), usia 26Ae35 tahun sebanyak 22 orang . ,2%), dan usia 36Ae45 tahun sebanyak 18 orang . ,3%). Berdasarkan tingkat pendidikan, mayoritas responden memiliki pendidikan terakhir SMA/SMK sebanyak 64 orang . ,5%), diikuti SMP sebanyak 18 orang . ,3%), diploma/sarjana sebanyak 15 orang . ,4%), dan SD sebanyak 7 orang . ,7%). Berdasarkan pekerjaan, sebagian besar responden adalah ibu rumah tangga sebanyak 47 orang . ,2%), diikuti pegawai swasta sebanyak 21 orang . ,2%), wiraswasta sebanyak 15 orang . ,4%), belum/tidak bekerja sebanyak 13 orang . ,5%), buruh sebanyak 5 orang . ,8%). PNS sebanyak 2 orang . ,9%), dan guru sebanyak 1 orang . ,0%). Analisis Univariat Pengetahuan Masyarakat Tabel 2. Hasil Univariat Pengetahuan Pengetahuan Jumlah Persentase % Pengetahuan Baik 48,1% Pengetahuan Cukup 27,9% Pengetahuan Kurang 24,0% Total Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat tentang penggunaan antibiotik di Kelurahan Pondok Besi sebagian besar berada pada kategori baik, yaitu sebanyak 50 responden . ,1%). Responden dengan pengetahuan cukup sebanyak 29 orang . ,9%), sedangkan responden dengan pengetahuan kurang sebanyak 25 orang . ,0%). Analisis Univariat Sikap Masyarakat Sikap Sikap Baik Sikap Cukup Sikap Kurang Total Tabel 3. Hasil Univariat Sikap Jumlah Persentase % 51,0% 31,7% 17,3% Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki sikap yang baik terhadap penggunaan antibiotik, yaitu sebanyak 53 orang . ,0%). Responden dengan sikap cukup sebanyak 33 orang . ,7%), dan responden dengan sikap kurang sebanyak 18 orang . ,3%). Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Miftahuljannah1. Oky Hermansyah2*. Maria Eka P. Yulianti3. Tri Danang Kurniawan4. Rose Intan P. Sari5 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 334 Ae 344 Analisis Bivariat Hubungan Pendidikan dengan Pengetahuan Tabel 4. Hasil Univariat Hubungan Pendidikan dengan Pengetahuan Pengetahuan Pendidikan Total P-Value Baik Cukup Kurang 0 . ,0%) 2 . ,9%) 5 . ,8%) 7 . ,7%) SMP ,9%) ,7%) ,7%) ,3%) SMA/SMK 34 . ,7%) 19 . ,3%) 11 . ,6%) ,5%) D3/S1 ,5%) ,0%) ,0%) Total ,1%) 29 . ,9%) 25 . ,0%) 104 . ,0%) 0,000 ,4%) Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa tingkat pendidikan memiliki kecenderungan hubungan dengan tingkat pengetahuan responden. Responden dengan tingkat pendidikan rendah seperti SD dan SMP sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan kurang, masing-masing sebanyak 5 orang . ,8%) dan 8 orang . ,7%). Sebaliknya, responden dengan pendidikan lebih tinggi seperti SMA/SMK dan D3/S1 didominasi oleh tingkat pengetahuan baik, yaitu sebanyak 34 orang . ,7%) dan 13 orang . ,5%). Hasil tabulasi silang menunjukkan adanya variasi tingkat pengetahuan pada setiap tingkat pendidikan responden. Namun, berdasarkan hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan masyarakat di Kelurahan Pondok Besi. Kota Bengkulu. Analisis Bivariat Hubungan Pekerjaan dengan Pengetahuan Tabel 5. Hasil Univariat Hubungan Pekerjaan dengan Pengetahuan Pengetahuan Pekerjaan Total Baik Cukup Kurang IRT ,2%) ,1%) ,5%) ,6%) Wiraswasta ,8%) ,8%) ,7%) ,4%) Swasta ,5%) ,8%) ,9%) ,2%) PNS ,9%) ,0%) ,0%) ,9%) PValue 0,242 Buruh ,0%) ,9%) ,9%) ,8%) Guru ,0%) ,0%) ,0%) ,0%) Belum/Tidak 7 . ,7%) 4 . ,8%) 2 . ,9%) 13 . ,5%) Total ,1%) ,9%) ,0%) ,0%) Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Miftahuljannah1. Oky Hermansyah2*. Maria Eka P. Yulianti3. Tri Danang Kurniawan4. Rose Intan P. Sari5 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 334 Ae 344 Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa terdapat variasi tingkat pengetahuan berdasarkan jenis pekerjaan responden. Responden yang bekerja sebagai ibu rumah tangga (IRT) sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan baik, yaitu sebanyak 23 orang . ,1%), diikuti pengetahuan cukup sebanyak 13 orang . ,5%), dan pengetahuan kurang sebanyak 11 orang . ,6%). Pada kelompok wiraswasta, tingkat pengetahuan responden cenderung lebih rendah, dengan sebagian besar berada pada kategori kurang sebanyak 7 orang . ,7%). Sementara itu, responden yang bekerja sebagai pegawai swasta sebagian besar memiliki pengetahuan baik sebanyak 13 orang . ,5%). Responden dengan pekerjaan PNS dan guru seluruhnya memiliki pengetahuan baik. Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa terdapat variasi tingkat pengetahuan pada setiap jenis pekerjaan responden. Namun, berdasarkan hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pekerjaan dengan tingkat pengetahuan masyarakat di Kelurahan Pondok Besi Kota Bengkulu. Analisis Bivariat Hubungan Pengetahuan dengan Sikap Tabel 6. Hasil Univariat Hubungan Pengetahuan dengan Sikap Sikap Pengetahuan Total Baik Cukup Kurang Pengetahuan Baik 1 . ,0%) 50 . ,1%) . ,6%) . ,5%) Pengetahuan Cukup 3 . ,9%) 29 . ,9%) . ,4%) . ,6%) Pengetahuan 2 . ,9%) 9 . ,7%) 25 . %) Kurang . ,5%) Total ,0%) ,7%) ,3%) ,0%) PValue 0,000 Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa responden dengan pengetahuan baik sebagian besar memiliki sikap baik yaitu sebanyak 36 orang . ,6%), dan sangat sedikit yang memiliki sikap kurang yaitu 1 orang . ,0%). Pada kelompok pengetahuan cukup, sikap responden bervariasi namun didominasi oleh sikap baik sebanyak 15 orang . ,4%). Sementara itu, responden dengan pengetahuan kurang mayoritas memiliki sikap kurang yaitu sebanyak 14 orang . ,5%), dan hanya sebagian kecil yang memiliki sikap baik yaitu sebanyak 2 orang . ,9%). Hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value = 0,000 . < 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan sikap masyarakat terhadap penggunaan antibiotik di Kelurahan Pondok Besi Kota Bengkulu. PEMBAHASAN Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Antibiotik Tingkat pengetahuan masyarakat yang cenderung baik menunjukkan bahwa sebagian responden telah memiliki pemahaman yang memadai terkait penggunaan Kondisi ini kemungkinan dipengaruhi oleh paparan informasi kesehatan yang semakin luas, baik melalui tenaga kesehatan, media massa, maupun pengalaman pribadi dalam penggunaan obat. Pengetahuan yang baik berperan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan kesehatan, termasuk dalam menentukan kapan antibiotik digunakan dan bagaimana cara penggunaannya secara tepat (Kristiyani & Patuwo, 2. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Miftahuljannah1. Oky Hermansyah2*. Maria Eka P. Yulianti3. Tri Danang Kurniawan4. Rose Intan P. Sari5 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 334 Ae 344 Secara teoritis, pengetahuan merupakan hasil dari proses pengindraan yang membentuk dasar kognitif individu dalam bertindak (Ekadipta. Hidayat, et al. , 2. Dalam konteks penggunaan antibiotik, pemahaman mengenai indikasi, aturan pakai, serta risiko resistensi menjadi faktor penting dalam mencegah penggunaan yang tidak rasional (Khan et al. , 2024. Muteeb et al. , 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Armal et al. , karena kedua studi menunjukkan bahwa individu dengan pengetahuan lebih baik cenderung memiliki pemahaman tepat terkait penggunaan antibiotik. Namun, faktor kontekstual di Bengkulu, seperti kemudahan akses antibiotik tanpa resep di apotek setempat, dapat memengaruhi perilaku penggunaan antibiotik. Meski seseorang memiliki pengetahuan baik, kemudahan memperoleh antibiotik secara bebas dapat mendorong penggunaan yang kurang tepat, sehingga pengetahuan saja tidak selalu menjamin praktik yang rasional. Masih ditemukannya kelompok masyarakat dengan tingkat pengetahuan yang belum optimal menunjukkan adanya kesenjangan informasi kesehatan di tingkat komunitas, yang dapat dipengaruhi oleh faktor pendidikan, akses informasi, serta kurangnya edukasi berkelanjutan . idya dali, 2. Sikap Masyarakat Pada Penggunaan Antibiotik Sikap masyarakat yang cenderung baik mencerminkan adanya perilaku yang positif dalam penggunaan antibiotik, termasuk mengikuti anjuran tenaga kesehatan dan memahami risiko penggunaan yang tidak sesuai (Mulyani, 2. Sikap merupakan hasil pembelajaran yang melibatkan pengalaman, informasi, dan pengaruh lingkungan sosial (Wolf et al. , 2. Sikap yang baik sangat berperan dalam mendorong perilaku rasional, sehingga menekan risiko resistensi (Raihan et al. , 2. Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan antibiotik dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, pengalaman penggunaan obat, serta akses terhadap informasi kesehatan (Armal et al. Hardiyanti & Pratama, 2. Namun, adanya responden dengan pengetahuan baik namun memiliki sikap kurang . atau sebaliknya menandakan adanya faktor psikologis dan budaya lokal yang memengaruhi perilaku. Misalnya, norma sosial atau kebiasaan keluarga dapat mendorong penggunaan antibiotik meski pengetahuan individu sudah baik, sedangkan rasa takut atau skeptisisme terhadap obat dapat menurunkan sikap positif meski pengetahuan rendah. Oleh karena itu, peningkatan sikap tidak cukup hanya melalui peningkatan pengetahuan, tetapi juga perlu didukung pendekatan edukasi berkelanjutan yang mempertimbangkan konteks lokal dan perilaku budaya. Hubungan Pengetahuan Dengan Sikap Masyarakat Pada Penggunaan Antibiotik Hasil penelitian menunjukkan kecenderungan bahwa individu dengan tingkat pengetahuan lebih baik memiliki sikap yang lebih positif terhadap penggunaan antibiotik. Temuan ini mengindikasikan peran penting pengetahuan dalam membentuk sikap, khususnya dalam konteks perilaku kesehatan. Secara teori, pengetahuan merupakan komponen kognitif yang menjadi dasar terbentuknya sikap, yang kemudian memengaruhi aspek afektif dan konatif individu dalam bertindak (Ekadipta. Hidayati, et al. , 2022. Mustaphi, 2. Individu yang memahami manfaat, risiko, dan aturan penggunaan antibiotik secara tepat akan lebih cenderung memiliki sikap rasional, sedangkan keterbatasan pengetahuan dapat menyebabkan terbentuknya sikap yang kurang tepat. Hasil ini sejalan dengan penelitian Armal et al. dan Hardiyanti & Pratama . , namun perbedaan kecil ditemukan di beberapa responden. Fenomena ini menunjukkan bahwa selain pengetahuan, faktor lingkungan lokal, kemudahan akses obat, dan budaya komunitas turut memengaruhi sikap individu. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Miftahuljannah1. Oky Hermansyah2*. Maria Eka P. Yulianti3. Tri Danang Kurniawan4. Rose Intan P. Sari5 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 334 Ae 344 Dengan demikian, peningkatan pengetahuan masyarakat tetap menjadi strategi utama dalam membentuk sikap yang lebih baik terhadap penggunaan antibiotik. Upaya edukasi yang efektif dan berkelanjutan diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku yang lebih rasional di tingkat komunitas (Patinasarany et al. , 2. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasan yang perlu diperhatikan. Data diperoleh melalui kuesioner yang mengandalkan ingatan responden mengenai pengalaman penggunaan antibiotik di masa lalu, sehingga memungkinkan terjadinya recall bias. Selain itu, desain cross-sectional membatasi kemampuan penelitian untuk menilai hubungan sebab-akibat antara pengetahuan dan sikap. Keterbatasan ini perlu dipertimbangkan dalam interpretasi hasil dan perencanaan penelitian selanjutnya. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa masyarakat di Kelurahan Pondok Besi Kota Bengkulu umumnya memiliki tingkat pengetahuan dan sikap yang baik terhadap penggunaan antibiotik, meskipun masih terdapat sebagian masyarakat dengan pemahaman dan sikap yang belum optimal. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan berperan penting dalam membentuk sikap, di mana individu dengan pemahaman lebih baik cenderung menunjukkan perilaku penggunaan antibiotik yang lebih rasional. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi kesehatan yang berkelanjutan dan terarah, melibatkan tenaga kesehatan, instansi terkait, serta masyarakat, untuk meningkatkan pemahaman tentang penggunaan antibiotik yang tepat dan mencegah resistensi antimikroba. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengeksplorasi faktor lain yang memengaruhi sikap dan perilaku penggunaan antibiotik, seperti budaya lokal, kemudahan akses obat, dan norma sosial, sehingga strategi intervensi dapat lebih efektif. UCAPAN TERIMA KASIH Kami menyampaikan rasa terima kasih banyak yang mendalam kepada pihak Kelurahan Pondok Besi. Kota Bengkulu, yang telah memberi izin dan kesempatan kepada kami untuk melakukan dan pengumpulan data sebagi upaya mendukung terlaksananya penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA