VARIABEL VOL. 8 NO. 2 (October 2. : 90-97 p-ISSN: 2593-302X dan e-ISSN: 2599-3038 Variabel is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Profil Kemampuan Numerasi Siswa Ditinjau dari Self-Confidence Haryanto Pamungkas1. Gunawan2. Taufan Nugraha3. Ahmad4 Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Purwokerto. Indonesia oge@gmail. com2,*) Corresponding author Kata Kunci: Matematika. Numerasi. SelfConfidence ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kecakapan numerasi matematis siswa dikaji dari tingkat self-confidence. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui teknik pengumpulan data dengan interview semiterstruktur, tes, dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari siswa kelas VII berjumlah 30 orang. Hasil pengisian kuisioner self-confidence, subjek dikelompokkan berdasarkan kategori self-confidence rendah, sedang, dan tinggi. Tiap-tiap kategori diambil satu siswa sebagai responden dengan purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan self-confidence tinggi dapat mengerjakan soal numerasi dengan strategi yang efektif, lengkap, dan percaya diri. Siswa dengan selfconfidence sedang cenderung ragu dalam mengambil keputusan saat menghadapi soal yang lebih kompleks yang berakibat kurang yakin menggunakan konsep. Siswa selfconfidence rendah menunjukkan kecenderungan menghindar dan kurang yakin terhadap kemampuannya sendiri. Siswa kategori rendah tidak mampu menemukan konsep dan menerapkannya dalam masalah. Self-confidence terbukti memengaruhi pemahaman, keberanian mencoba, dan konsistensi strategi penyelesaian soal numerasi. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan pentingnya pendekatan pembelajaran yang mendukung penguatan self-confidence siswa dalam belajar matematika. Profile of Students' Numeracy Skills Reviewed from SelfConfidence Keywords: Mathematics. Numeracy. SelfConfidence ABSTRACT From the standpoint of self-assurance, this research sought to evaluate students' mathematical numeracy abilities. The data collection methods employed in this descriptive qualitative study included documentation, tests, and semi-structured Thirty-seventh-grade pupils made up the study After completing the self-assurance questionnaire, the participants were classified into high, medium, and low self- Variabel Vol. 8 No. (October 2. Page: 90-97 assurance levels. Each category was taken by one student as a respondent with purposive sampling. Data analysis involved the processes of data reduction, data presentation, and The results showed that students with high selfassurance may employ successful, comprehensive, and assured tactics to numerical challenges. Students who have a moderate amount of self-assurance were often hesitant to make choices when faced with more complex problems, that result in less confidence in using concepts. Students with low selfconfidence showed a tendency to avoid and lack confidence in their own abilities. Low-category students were not able to find concepts and apply them to problems. Self-confidence has been shown to affect understanding, courage to try, and consistency in numeracy problem-solving strategies. The implications of this study show the importance of a learning approach that supports strengthening students' confidence in learning mathematics. PENDAHULUAN Pada abad ke 21, banyak perubahan yang terjadi di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan bersama dengan peningkatan jumlah jaringan informasi dan komunikasi, membuat dunia semakin maju. Dengan demikian, banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menghadapi tantangan di era globalisasi ini agar memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia di Indonesia harus memiliki kemampuan literasi, salah satunya literasi matematika atau numerasi (Nasoha et al. , 2. Kemampuan numerasi didefinisikan sebagai keterampilan, pengetahuan, disposisi, dan perilaku yang diperlukan siswa untuk menerapkan matematika pada beragam masalah (Yaqin et al. , 2. Hal ini melibatkan pemahaman dan kesadaran tentang posisi matematika di dunia, serta kemampuan untuk menerapkan keahlian dan pengetahuan matematika (Fahlevi, 2. Siswa perlu memiliki kemampuan angka yang baik. Dengan keterampilan ini, siswa dapat lebih mudah menyelesaikan dan memahami permasalahan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Seseorang dikatakan memiliki kualitas kemampuan yang baik, salah satunya diukur dengan adanya kemampuan literasi matematika yang baik (Kiawati et al. , 2. Kemampuan numerasi adalah kemampuan seseorang untuk berpikir dengan cara matematika saat menyusun, menerapkan, dan memahami matematika dalam menyelesaikan permasalahan di beragam situasi dalam kehidupan sehari-hari (Ully & Hakim, 2. Kemampuan ini meliputi pengetahuan tentang prosedur, konsep, alat, dan fakta matematika yang digunakan untuk mendeskripsikan, memperkirakan, dan menjelaskan peristiwa yang dialami di sekitar (Dinarti et al. , 2. Menurut Han et al. , ada tiga aspek penting yang digunakan untuk mengevaluasi kemampuan seseorang dalam numerasi: . kemampuan dalam menggunakan beragam angka dan simbol-simbol yang berkaitan dengan matematika dasar dalam memecahkan masalah yang biasa ditemui. kemampuan untuk menganalisis informasi yang ditampilkan dengan berbagai cara, seperti tabel, grafik, diagram, dan bagan. kemampuan dalam menginterpretasikan hasil analisis tersebut dalam membuat prediksi dan keputusan. Ketiga indikator ini menjadi dasar dalam berbagai penilaian numerasi, termasuk dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang diterapkan di Indonesia. Aspek afektif memainkan peran penting dalam mendukung kemampuan numerasi siswa (Cahyani & Abdul Aziz, 2. Salah satu aspek afektif yang berpengaruh signifikan adalah self-confidence (Fitayanti et al. , 2. Self-confidence ialah kepercayaan seseorang pada kemampuannya sendiri dalam menghadapi tantangan dan mengerjakan tugas-tugas (Sholiha & Aulia, 2. Dalam konteks pembelajaran matematika, self-confidence membantu siswa agar lebih percaya diri saat menyelesaikan Variabel Vol. 8 No. (October 2. Page: 90-97 permasalahan numerik dan memahami konsep matematika (Awami et al. , 2. Menurut Lestari & Yudhanegara . , terdapat beberapa indikator yang mencerminkan tingkat self-confidence seseorang, yakni yakin pada kemampuannya, mempunyai konsep diri yang positif, serta berani mengutarakan pendapatnya. Dengan memahami dan mengembangkan self-confidence, siswa dapat meningkatkan kemampuan numerasinya (Ali & Handayani, 2. , yang pada gilirannya akan mendukung keberhasilan dalam pembelajaran matematika dan implementasi konsep numerik dalam kehidupan sehari-hari. Hasil observasi awal di lokasi penelitian menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal numerasi, khususnya yang menuntut kemampuan berpikir kritis, penalaran, serta representasi matematis. Banyak siswa cenderung hanya mengandalkan hafalan rumus tanpa memahami makna dari prosedur matematis yang digunakan. Selain itu, ditemukan pula bahwa aspek afektif, khususnya self-confidence, menjadi faktor yang cukup memengaruhi kemampuan numerasi. Sebagian siswa terlihat ragu-ragu, kurang percaya diri, dan enggan mencoba strategi penyelesaian yang berbeda ketika menghadapi soal numerasi. Hal ini membuat mereka cepat menyerah dan bergantung pada jawaban teman, sehingga tidak berkembang secara optimal. Penelitian oleh Faiza et al. memaparkan bahwa siswa dengan tingkat self-confidence tinggi dapat merepresentasikan situasi matematika, menggunakan strategi penyelesaian masalah yang efektif, serta membuat kesimpulan dengan baik. Sebaliknya, siswa dengan self-confidence rendah cenderung sulit merepresentasikan masalah, memilih strategi yang tepat, dan melakukan penalaran matematis. Jika self-confidence siswa baik, maka kemampuan numerasi akan memperoleh hasil yang baik juga. Penelitian lain oleh Awami et al. menemukan bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam kemampuan literasi numerasi antara siswa dengan self-confidence rendah dan tinggi. Siswa dengan self-confidence tinggi menunjukkan performa yang lebih baik dalam menyelesaikan soal numerasi dibandingkan dengan mereka yang memiliki self-confidence rendah. Selain itu, penelitian oleh Sintya & Sari . mengungkapkan bahwa self-confidence berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis dalam menyelesaikan soal numerasi. Siswa dengan self-confidence tinggi mampu memenuhi lebih banyak indikator kemampuan berpikir kritis dibandingkan dengan siswa yang memiliki selfconfidence rendah. Secara keseluruhan, berbagai penelitian tersebut mengindikasikan bahwa selfconfidence mempunyai hubungan positif dengan kemampuan numerasi. Self-confidence siswa yang ditingkatkan dapat menjadi strategi efektif dalam upaya mengoptimalkan kemampuan numerasi. Selain itu, self-confidence juga dapat mendorong kreativitas siswa dalam menyelesaikan masalah (Yaniawati et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh Gunawan et al. menjelaskan bahwa siswa yang mempunyai kepercayaan diri baik akan mampu menghubungkan antar konsep matematika yang sesuai dengan masalah, sehingga dapat memberikan ide yang baru dalam proses penyelesaian Dengan demikian, aspek self-confidence selain dapat mendukung numerasi juga dapat mengembangkan kreativitas siswa. Perbedaan penelitian ini dengan sebelumnya, diantaranya penelitian ini menggambarkan profil kemampuan numerasi siswa pada berbagai tingkatan self-confidence mulai dari rendah sampai tinggi. Hasilnya dapat memberikan gambaran lebih terperinci mengenai variasi kemampuan numerasi di antara siswa dengan latar afektif yang berbeda. Penelitian dilakukan berdasarkan masalah nyata yang ditemukan di lokasi penelitian, sehingga memberikan kontribusi praktis untuk strategi pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa. Penelitian ini menekankan pentingnya menyeimbangkan keterampilan kognitif . dengan aspek afektif . elf-confidenc. yang selama ini seringkali dipisahkan dalam kajian. Berdasarkan latar belakang, tujuan penelitian adalah mendeskripsikan profil kemampuan numerasi siswa berdasarkan tingkat self-confidence. Hasil penelitian ini dapat berkontribusi untuk pengembangan strategi pembelajaran yang bukan hanya berfokus pada aspek kognitif, namun juga afektif untuk meningkatkan kemampuan numerasi siswa secara menyeluruh. Variabel Vol. 8 No. (October 2. Page: 90-97 METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk memahami dan menganalisis kemampuan numerasi matematis siswa ditinjau dari tingkat self-confidence. Pendekatan ini digunakan untuk mendeskripsikan profil kemampuan numerasi siswa berdasarkan kategori tingkat selfconfidence. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMPN 2 Cilongok tahun ajaran 2024/2025. Jumlah subjek yang diambil sebanyak 30 siswa. Berdasarkan angket self-confidence, subjek dikelompokan ke dalam tiga kategori, yakni rendah, sedang, dan tinggi. Diambil masing-masing satu siswa sebagai responden pada setiap kategori dengan teknik purposive sampling. Untuk memudahkan proses analisis kemampuan numerasi, ketiga responden tinggi, sedang, dan rendah masing-masing diberikan label A1. A2, dan A3. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner self-confidence dan tes kemampuan Angket disusun berdasarkan indikator self-confidence yang merujuk pada Lestari & Yudhanegara . , yakni percaya pada keterampilan diri, mempunyai konsep diri positif, bertindak mandiri, serta berani menyampaikan opini. Angket menggunakan skala Likert dengan 4 opsi jawaban. Tes kemampuan numerasi matematika berisi soal-soal kontekstual berkaitan dengan kehidupan seharihari mengacu pada indikator numerasi dari Han et al. , yaitu memahami informasi kontekstual . , menerapkan konsep matematika untuk menyelesaikan masalah . , dan memberikan alasan atau penalaran terhadap jawaban . Data dikumpulkan melalui penyebaran angket self-confidence dan pelaksanaan tes numerasi matematika secara langsung di kelas. Seluruh data dikumpulkan pada waktu yang sama untuk menjaga validitas data. Selanjutnya, ketiga responden diwawancarai. Fokus wawancara terkait dengan proses kemampuan numerasi siswa dalam memecahkan permasalahan kontekstual. Pedoman wawancara dibuat sesuai dengan indikator masingmasing kemampuan numerasi. Dalam pelaksanaannya, peneliti menerapkan triangulasi data untuk membuktikan keabsahan data yang diperoleh yang terdiri dari waktu, sumber, dan teknik. Triangulasi waktu menunjukkan penelitian dilakukan lebih dari satu waktu yang berbeda-beda yang meliputi waktu observasi awal, pengambilan data, dan pengamatan. Triangulasi sumber menjelaskan bahwa data penelitian diambil dari lebih dari satu sumber, yaitu hasil observasi awal, hasil tes numerasi, hasil pengamatan, dan hasil wawancara. Triangulasi teknik dilakukan lebih dari satu teknik pengambilan data, diantaranya dengan teknik wawancara, pengamatan, dan tes tertulis numerasi. Data yang telah didapat kemudian dianalisis dengan tiga tahapan, yakni pengurangan data, penyajian data, serta pembuatan kesimpulan akhir. Pengurangan data dilakukan dengan cara memilih, menyaring, dan mengarahkan fokus pada data yang berkaitan langsung dengan tujuan penelitian. Penyajian data dilakukan berbentuk narasi yang jelas dan gambar supaya analisisnya lebih mudah. Terakhir, kesimpulan ditarik sesuai kecenderungan dan pola yang terlihat dari data yang sudah Fokus utama pada proses analisis adalah kemampuan numerasi siswa yang terdiri dari indikator formulate, employing, dan interpreting. HASIL DAN PEMBAHASAN Siswa Kategori Self-Confidence Tinggi Berdasarkan Gambar 1. A1 mampu memenuhi indikator formulate yakni mampu menganalisis informasi yang disajikan dengan berbagai cara. Hal tersebut ditunjukkan dengan memahami isi informasi dengan membaca atau mengamati secara menyeluruh, mengidentifikasi fakta dan opini dalam informasi yang disajikan, dan menarik kesimpulan berdasarkan pola atau tren yang terlihat. Pada indikator employing, responden A1 juga mampu menggunakan beragam jenis simbol atau angka yang berhubungan dengan matematika. A1 mampu memecahkan soal dengan menggunakan angkaangka matematis untuk menghitung jumlah harga dan pajak. Pada indikator interpreting, responden A1 mampu memberikan alasan atau penalaran terhadap jawaban. Kondisi ini didukung oleh penelitian Aprilione et al. dan Faiza et al. yang menyatakan bahwa kemampuan numerasi yang baik akan dimiliki oleh siswa yang mempunyai self-confidence tinggi. Pada penelitiannya menjelaskan bahwa siswa yang mempunyai self-confidence tinggi mampu memenuhi semua indikator kemampuan Variabel Vol. 8 No. (October 2. Page: 90-97 Hasil wawancara dengan responden menunjukkan hal yang serupa. Berikut hasil : Bagaimana perasaanmu saat mengerjakan soal matematika, terutama yang berkaitan dengan A1 : Saya merasa percaya diri. Biasanya saya baca soalnya dulu pelan-pelan, terus saya coba pahami maksudnya. Kalau sulit, saya coba bagi jadi beberapa bagian kecil. R : Apakah kamu merasa gugup atau ragu saat mengerjakan soal baru? A1 : Enggak terlalu sih. Saya anggap itu tantangan. Kalau nggak tahu, saya coba pakai logika. Saya percaya pasti bisa kalau dicoba dulu. R : Apa menurutmu penting punya rasa percaya diri dalam matematika? A1 : Penting banget. Kalau kita ragu sama diri sendiri akibatnya tidak fokus dan mudah menyerah. Memahami informasi kontekstual . Menerapkan . Memberikan alasan atau penalaran terhadap jawaban . Gambar 1. Hasil Pekerjaan Responden A1 Siswa Kategori Self-Confidence Sedang Memahami kontekstual . Menerapkan . Gambar 2. Hasil Pekerjaan Responden A2 Berdasarkan Gambar 2. A2 mampu menganalisis informasi yang diberikan dengan berbagai cara . Hal itu ditunjukkan dengan memahami isi informasi dengan membaca atau mengamati secara menyeluruh, mengidentifikasi fakta dan opini dalam informasi yang disajikan, dan menarik kesimpulan berdasarkan pola atau tren yang terlihat. Pada indikator employing, responden A2 mampu menggunakan beragam jenis simbol atau angka yang berhubungan dengan matematika. A2 mampu mengerjakan soal dengan menggunakan angka-angka matematis untuk menghitung jumlah harga dan Selaras dengan penelitian Sintya dan Sari . menjelaskan bahwa indikator memahami masalah dan menuliskan penyelesaian dengan benar ditunjukkan oleh siswa dengan kategori self- Variabel Vol. 8 No. (October 2. Page: 90-97 confidence sedang. Namun, pada lembar jawaban tidak dituliskan alasan atau kesimpulan akhir Berikut hasil wawancara dengan responden A2. R : Bagaimana perasaan kamu saat menghadapi soal numerasi? A2 : Kadang saya yakin, kadang juga ragu. Kalau soalnya mirip dengan yang sudah pernah diSiswai, saya bisa. Tapi kalau soalnya beda, saya suka bingung dan jadi malas mikir R : Apa yang kamu lakukan saat mulai merasa ragu? A2 : Biasanya saya lihat dulu mana yang bisa dikerjakan. Tapi kadang saya bandingkan diri saya dengan teman yang lebih pintar, terus jadi down juga sih. R : Apa yang bisa bikin kamu lebih percaya diri? A2 : Kalau sering latihan dan ada yang dukung, saya lebih semangat. Kalau guru atau orang tua bilang saya bisa, itu bikin saya termotivasi. R : Apakah kamu terbiasa memberikan kesimpulan akhir? A2 : Tidak. Kadang-kadang saya memberikan Kesimpulan, yang terpenting saya selesai dan paham. Siswa Kategori Self-Confidence Rendah Memahami informasi kontekstual . Gambar 3. Hasil Pekerjaan Responden A3 Berdasarkan Gambar 3. A3 hanya mampu memenuhi satu indikator, yakni mampu menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai cara . Hal itu ditunjukkan dengan memahami isi informasi dengan membaca atau mengamati secara menyeluruh, mengidentifikasi fakta dan opini dalam informasi yang disajikan, dan menarik kesimpulan berdasarkan pola atau tren yang terlihat. Sejalan dengan Setiawati et al. yang menjelaskan bahwa self-confidence yang rendah dapat menghambat siswa dalam menuntaskan permasalahan numerasi. Siswa yang tidak mempunyai selfconfidence kuat akan mengurangi keyakinan akan pengetahuan yang dimiliki dan berakibat pada rendahnya kemampuan numerasi. Hasil wawancara dengan responden A3 menunjukkan kesulitan dalam mencari solusi dan menerapkan konsep matematika pada masalah. Kondisi ini juga berakibat pada tidak adanya kesimpulan akhir yang diperoleh. Berikut kutipan wawancaranya. : Apa yang kamu rasakan saat mengerjakan soal numerasi di kelas? : Saya sering takut salah. Kadang belum baca soal sampai habis, saya sudah panik duluan. : Saat kamu tidak tahu jawabannya, apa yang kamu lakukan? : Biasanya saya lewatin aja. Atau nunggu teman jawab dulu, baru saya coba ikutin. Saya takut ditertawakan kalau salah. R : Menurut kamu, kenapa kamu merasa tidak percaya diri? A3 : Soalnya dari kecil saya sering dianggap nggak pintar sama keluarga. Jadi, saya merasa nggak akan bisa seperti teman-teman. R : Apa yang bisa membantu kamu lebih percaya diri? A3 : Mungkin kalau belajar pelan-pelan dan nggak dimarahi kalau salah terus dikasih semangat juga sih. R : Apakah kamu kesulitan mencari konsep yang akan digunakan? A3 : Iya betul. Saya tidak terlalu paham materinya dan tidak terlalu menguasai rumus-rumus di matematika sehingga saya bingung. Variabel Vol. 8 No. (October 2. Page: 90-97 R : Menurut kamu, apa kelemahannya? A3 : Saya kurang belajar dan mudah menyerah. KESIMPULAN Kesimpulan penelitian ini adalah kemampuan numerasi siswa dipengaruhi oleh tingkat selfconfidence. Siswa dengan taraf self-confidence tinggi cenderung mempunyai kemampuan numerasi yang baik, mampu menyelesaikan soal dengan strategi yang terstruktur, menerapkan konsep dengan benar, dan memberikan alasan serta kesimpulan secara logis. Siswa dengan self-confidence sedang menunjukkan hasil numerasi yang bervariasi, tergantung pada konteks soal dan kondisi psikologis saat Siswa cenderung memahami soal dengan baik namun ragu-ragu dalam pengambilan keputusan atau strategi penyelesaian sehingga kesimpulan akhir tidak dapat dirumuskan dengan tepat. Sementara siswa dengan self-confidence rendah mempunyai kemampuan numerasi yang kurang Siswa mudah merasa tidak mampu, cemas saat menghadapi soal kontekstual, dan sering menyerah sebelum mencoba menyelesaikan soal secara tuntas. Dalam hal kemampuan numerasi siswa juga tidak mampu memahami permasalahan dengan baik, sehingga berakibat tidak mampu menemukan dan menerapkan solusi dengan benar. Hal itu diakibatkan minimnya pemahaman dan pengetahuan konsep matematika yang baik. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan mempertimbangkan faktor pengetahuan awal siswa dalam menyelesaikan masalah kontekstual yang kaitannya dengan kemampuan numerasi. Peneliti selanjutnya dapat menggunakan aspek pengetahuan awal sebagai pertimbangan dalam mendeskripsikan profil kemampuan numerasi siswa. Hasil ini dapat digunakan sebagai pembahasan selanjutnya tentang kemampuan pemahaman konsep matematika. DAFTAR PUSTAKA