Jurnal Manajerial dan Kewirausahaan Vol. No. Juli 2026: hlm 969 Ae 977 ISSN 2657-0025 (Versi Elektroni. PENGARUH LOKUS KENDALI. PERILAKU TERHADAP RISIKO. DAN PANUTAN TERHADAP NIAT KEWIRAUSAHAAN PADA GENERASI Z Abdullah Gymnastiar1. Nur Hidayah2* Program Studi Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Tarumanagara Jakarta Email: abdullah. 115220039@stu. Program Studi Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Tarumanagara Jakarta Email: nurh@fe. *Penulis Korespondensi Masuk: 09-04-2026, revisi: 15-04-2026, diterima untuk diterbitkan: 31-07-2026 ABSTRAK Di penelitian ini ingin mengetahui perilaku orang terutama Generasi Z yang menginginkan usahanya dibangun dengan tujuan berkontribusi pada kualitas hidup secara keseluruhan. Perilaku tersebut akan menentukan bagaimana gaya, metode dalam memimpin dan menjalankan usaha tersebut. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini ialah lokus kendali, perilaku terhadap risiko, panutan, dengan variabel mediasi orientasi kewirausahaan. Variabel dependen yang digunakan ialah niat berwirausaha. Variabel yang dipilih terdapat suatu kaitannya dengan perilaku dalam suatu individu yang ingin menjalankan usahanya. dengan adanya variabel-variabel di atas dapat mempermudah dan memperjelas dalam penggapaian objek penelitian, yaitu Generasi Z di DKI Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kuantitatif dan menggunakan metode penyebaran kuesioner. Teknik pengambilan sampel yang digunakan ialah Purposive Sampling dengan sampel sebesar 175 responden. Pengolahan data di proses menggunakan PLS-SEM. Penelitian ini menemukan pengaruh positif panutan dan lokus kendali terhadap niat berwirausaha, peran mediasi orientasi kewirausahaan dalam pengaruh lokus kendali terhadap niat Kata Kunci: lokus kendali, perilaku terhadap risiko, panutan, orientasi kewirausahaan, niat berwirausaha ABSTRACT This study aims to determine the behavior of people, especially Generation Z, who want their businesses built with the aim of contributing to the overall quality of life. This behavior will determine the style and methods of leading and running the business. The independent variables used in this study are Locus of Control. Risk Behavior. Role Models, with Entrepreneurial Orientation as the mediating variable. The dependent variable used is Entrepreneurial Intention. The selected variables are related to the behavior of an individual who wants to run a business. The presence of the above variables can simplify and clarify the achievement of the research object, namely Generation Z in DKI Jakarta. The research method used is a quantitative descriptive research method and uses a questionnaire distribution method. The sampling technique used is purposive sampling with sample of 175 respondents. Data processing is processed using PLS-SEM. This study found a positive influence of role models, locus of control on entrepreneurial intention, the mediating role of entrepreneurial orientation in the influence of locus of control on entrepreneurial intention. Keywords: locus of control, risk attitude, role models, entrepreneurial orientation, entrepreneurial intention PENDAHULUAN Latar belakang Generasi Z (Gen Z) merupakan kelompok demografi masyarakat yang hidup sebelum generasi Alpha dan setelah generasi Y (Milenia. Menurut Dimock, . dari Pew Research Center, generasi Z ialah mereka yang lahir di antara tahun 1997 dan berakhir pada tahun 2012, fase ini menunjukkan kemajuan sosioekonomi yang lebih stabil dan perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat. Generasi ini memiliki nama lainnya seperti iGeneration dikarenakan sangat terbiasa dengan dunia digital (Hardey, 2. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), populasi generasi z di indonesia pada tahun 2020 mencapai 74,93 juta penduduk atau 27,94% dari Pengaruh Lokus Kendali. Perilaku terhadap Risiko, dan Panutan terhadap Niat Kewirausahaan pada Generasi Z Abdullah Gymnastiar et al. total populasi di indonesia dan merupakan populasi mayoritas yang akan dibutuhkan di berbagai Salah satu masalah yang dialami oleh generasi z adalah pengangguran. Ketidakcocokan antara keahlian . dan kebutuhan pasar kerja menjadi faktor utama tingginya angka pengangguran di kalangan generasi z menurut survei Kementerian Ketenagakerjaan, . Penurunan lapangan pekerjaan di sektor formal menjadi tantangan serius, selama periode 2009-2012 tercipta 15,6 juta lapangan kerja formal, menurun menjadi 8,5 juta pada 2014-2019, dan hanya 2 juta pada periode Faktor lain yang menyebabkan tingginya angka pengangguran adalah turunnya lapangan pekerjaan di sektor formal dan tidak terjadi link and match antara pendidikan dan permintaan tenaga kerja berbagai sektor. Sebagian besar penganggur generasi z adalah laki-laki dengan mayoritas lulusan SMA/SMK yang mengalami kesenjangan keterampilan dibanding kebutuhan industri dan terdapat fenomena work-life balance dan budaya kerja baru yang mempengaruhi preferensi generasi z dalam memilih pekerjaan, individu cenderung lebih selektif dan mementingkan kesejahteraan holistik. Distribusi geografis menunjukkan bahwa jumlah pengangguran di perkotaan lebih tinggi yakni 5,23 juta orang dibandingkan di pedesaan sebanyak 4,65 juta orang. Berdasarkan jenis kelamin, pengangguran generasi z didominasi oleh perempuan sebanyak 5,72 juta orang dan laki-laki sebanyak 4,16 juta orang. Daerah urban cenderung memiliki tingkat pengangguran yang lebih tinggi seperti DKI Jakarta dengan angka pengangguran pada tahun 2024 sebanyak 6,21% (Badan Pusat Statistik, 2. status sosial ekonomi merujuk pada latar belakang ekonomi keluarga atau orang tua, yang dapat diukur melalui tingkat pendidikan, pendapatan, kepemilikan aset, fasilitas, dan jenis pekerjaan. Lingkungan keluarga merupakan faktor penentu yang paling utama karena orang tua akan mempengaruhi anak-anaknya dalam menentukan masa depan mereka, termasuk dalam hal karir (Asmuruf & Soelaiman, 2. Penelitian ini perlu diteliti karena untuk mengetahui perilaku generasi z dalam motivasi berwirausaha dengan tujuan menekan angka pengangguran, meningkatkan kualitas hidup, mendorong inovasi, dan kontribusi pada ekonomi dan negara. Dan juga mengetahui pola individu dalam melihat peluang usaha dan melakukan start-up business lebih awal. Kajian teori Theory of Planned Behavior Teori perilaku terencana (Theory of planned behavio. yang ditemukan oleh ajzen, . merupakan lanjutan dari Teori Perilaku Beralasan (Theory of reasoned actio. yang sebelumnya sudah dikemukakan oleh Ajzen dan Fishbein, . Menurut theory of reasoned action, perilaku seseorang ditentukan oleh keinginan individu tersebut untuk melakukan dan atau tidak melakukan suatu perilaku tertentu atau sebaliknya. Theory of planned behavior diasumsikan bahwa manusia biasanya akan bertindak atau berperilaku sesuai dengan pertimbangan akal sehat dan menggunakan informasi yang ada untuk berperilaku. Locus of control Menurut Littunen dan Storhammar . , locus of control bisa bersifat internal atau eksternal. Locus of control menggambarkan sejauh mana individu percaya bahwa pencapaian tergantung pada kemampuan dan tindakannya sendiri, bukan pada faktor eksternal. Individu dengan internal locus of control percaya bahwa kejadian adalah hasil dari perilaku dan sumber daya diri sendiri. Karakteristik psikologis ini sering digunakan sebagai prediktor kewirausahaan karena individu percaya bahwa masa depan dibentuk oleh usahanya sendiri dan lebih cenderung untuk Jurnal Manajerial dan Kewirausahaan Vol. No. Juli 2026: hlm 969 Ae 977 ISSN 2657-0025 (Versi Elektroni. mengeluarkan lebih banyak usaha dan ketekunan dalam mencapai hal yang diinginkan, yang pada gilirannya dapat membantu memulai sebuah perusahaan dan menjaga agar tetap sukses (Rauch & Frese, 2. Rotter, . berargumen bahwa individu dengan internal locus of control dapat mempengaruhi hasil melalui kemampuan dan usahanya sendiri daripada melalui kekuatan Pada sisi lain, external locus of control menggambarkan suatu karakteristik individu yang percaya bahwa faktor yang tidak bisa di kontrol seperti keberuntungan, perubahan dan takdir lebih mengontrol kehidupan individu. Risk attitude Risk attitude telah dianggap sebagai sifat yang menentukan dari entrepreneur dan entrepreneurship (Block dkk. , 2. Usaha kewirausahaan menuju konsep usaha baru bisa berisiko karena perusahaan baru cenderung memiliki tingkat kegagalan yang tinggi (Antoncic, 2. Para entrepreneur menerima berbagai jenis risiko . sikologis, sosial, dan finansia. saat entrepreneur tersebut mendirikan perusahaan baru (Hisrich dan Peters, 1. Predisposisi individu terhadap risiko dapat mempengaruhi keputusan yang berisiko (Bromiley dan Curley, 1. Orientasi pengambilan risiko telah dianggap sebagai fitur dari proses kewirausahaan dan entrepreneur untuk waktu yang lama, fakta ini, penelitian. Brockhaus, . menemukan bahwa para entrepreneur cenderung menjadi pengambil risiko yang moderat. Kecenderungan pengambian risiko dapat didefinisikan sebagai orientasi seseorang untuk mengambil risiko. Role models Role models mulai menarik perhatian peneliti sejak tiga dekade yang lalu ketika Scherer dkk. menemukan model peran orang tua dalam preferensi karier dan kemudian diperkuat oleh Moreno-Gymez dkk. Para peneliti terus mengembangkan studi tentang entrepreneurial role model terkait identifikasi model peran keluarga (Laspita dkk. , 2. , jenis kelamin (Austin & Nauta, 2. , dan pengusaha sukses sebagai entrepreneurial role model (Dakung dkk. , 2. Studi ini juga menunjukkan peran entrepreneurial role model dalam meningkatkan entrepreneurial intention, baik secara langsung maupun tidak langsung (Moreno-Gymez dkk. , 2. Hubungan antara kondisi role model dan niat wirausaha juga telah dianalisis. Menurut social learning theory (Bandura, 1. , role model negatif . irausaha yang gaga. dapat mengurangi wirausaha. Entrepreneurial orientation Baum dkk. menyatakan bahwa entrepreneurial orientation adalah keberhasilan dalam menghasilkan seseorang yang berniat menjadi wirausaha bukan hanya soal pengetahuan dan Lebih dari itu, diperlukan pendekatan inovatif untuk merangsang pembentukan karakter wirausaha (Schmitt-Rodermund, 2. Hal ini juga diperkuat melalui tinjauan pustaka dari Abasianchavari & Moritz, . Liyyn & Fayolle, . , yang menyimpulkan bahwa sebagian besar penelitian mengidentifikasi orientasi kewirausahaan sebagai faktor yang merangsang pertumbuhan niat dalam diri seseorang. Dalam pendidikan, entrepreneurial orientation adalah kecenderungan individu untuk menjadi inovatif, proaktif, dan berani dalam memulai atau mengelola bisnis (Abbasianchavari & Moritz, 2. Entrepreneurial intention Entrepreneurial intention merupakan keadaan pikiran yang mengarahkan dan membimbing perhatian, pengalaman, tindakan, penetapan tujuan, komunikasi, komitmen, organisasi, dan jenis pekerjaan lainnya menuju pelaksanaan perilaku kewirausahaan (Bird, 1. Istilah AuintentionAy telah didefinisikan oleh berbagai penulis dengan cara yang konvergen. Sebuah definisi umum tentang niat perilaku diberikan oleh ajzen, . yang menyatakan bahwa AuintentionAy adalah Auindikasi kesiapan seseorang untuk melakukan suatu perilaku. Ay Pengaruh Lokus Kendali. Perilaku terhadap Risiko, dan Panutan terhadap Niat Kewirausahaan pada Generasi Z Abdullah Gymnastiar et al. Gambar 1. Model penelitian Berdasarkan model penelitian yang ditunjukkan pada Gambar 1, dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut: H1: Locus of control berpengaruh secara positif terhadap entrepreneurial intention generasi Z DKI Jakarta. H2: Locus of control berpengaruh secara positif terhadap entrepreneurial orientation generasi Z DKI Jakarta. H3: Risk attitude berpengaruh secara positif terhadap entrepreneurial orientation generasi Z DKI Jakarta. H4: Risk attitude berpengaruh secara negatif terhadap entrepreneurial intention generasi Z DKI Jakarta. H5: Role model berpengaruh secara positif terhadap entrepreneurial intention generasi Z DKI Jakarta. H6: Entrepreneurial orientation berpengaruh secara positif terhadap entrepreneurial intention generasi Z DKI Jakarta. H7: Entrepreneurial orientation memediasi hubungan locus of control dengan entrepreneurial intention generasi Z DKI Jakarta. H8: Entrepreneurial orientation memediasi hubungan risk attitude dengan entrepreneurial intention generasi Z DKI Jakarta. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bersifat deskriptif dan menggunakan metode penyebaran kuesioner melalui Google Forms. Populasi dalam penelitian ini adalah Generasi Z yang berada atau tinggal di kota jakarta. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non-probability sampling yang berupa purposive sampling. Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini ialah merupakan Generasi Z (Lahir pada tahun 1997 sampai dengan tahun 2. , bersedia untuk menjadi responden, dan berumur minimal 18 tahun. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah lokus kendali, perilaku terhadap risiko, panutan sebagai variabel independen. Orientasi kewirausahaan sebagai variabel mediasi dan niat berwirausaha sebagai variabel dependen. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis data Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode SEM-PLS dan hasil analisis data ditunjukkan pada Tabel 1 sampai dengan Tabel 9. Jurnal Manajerial dan Kewirausahaan Vol. No. Juli 2026: hlm 969 Ae 977 ISSN 2657-0025 (Versi Elektroni. Tabel 1. Hasil analisis validitas diskriminan Sumber: Hasil pengolahan data SmartPLS 4. Variabel Entrepreneurial Intention Entrepreneurial Orientation Locus of Control Risk Attitude Role Models Cronbach's Alpha 0,882 0,796 0,744 0,797 0,876 Composite Reliability . 0,889 0,802 0,766 0,759 0,887 Composite Reliability . 0,910 0,855 0,820 0,837 0,909 Average Variance Extracted (AVE) 0,629 0,499 0,399 0,466 0,668 Untuk dikatakan composite reliability reliabel, maka nilai composite reliability minimal Ou 0,7. Jika nilai composite reliability < 0,7, maka dinyatakan tidak reliabel. Selanjutnya, nilai Average Variance Extracted (AVE) yang diharapkan adalah > 0,5. Kemudian. Tabel 2 menunjukkan hasil uji validitas Heterotrait-monotrait ratio dimana pengukuran rasio terhadap konstruk terdapat batasan nilai yaitu < 0,900 untuk validitas diskriminan dapat terpenuhi. Tabel 2. Hasil analisis Heterotrait-Monotrait ratio Sumber: Hasil pengolahan data SmartPLS 4. Variabel Entrepreneurial Intention Entrepreneurial Orientation Locus of Control Risk Attitude 0,748 0,631 0,178 0,579 0,595 0,284 0,647 0,269 0,459 0,200 Entrepreneurial Intention Entrepreneurial Orientation Locus of Control Risk Attitude Role Models Role Models Selanjutnya Pengujian dapat dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF). Jika nilai VIF < 10 maka dinyatakan tidak terjadi multikolinearitas. Jika nilai VIF > 10 maka dinyatakan terjadi multikolinearitas. Tabel 3. Hasil analisis collinearity statistics Sumber: Hasil pengolahan data SmartPLS 4. Variabel Entrepreneurial Orientation Ie Entrepreneurial Intention Locus of Control Ie Entrepreneurial Intention Locus of Control Ie Entrepreneurial Orientation Risk Attitude Ie Entrepreneurial Intention Risk Attitude Ie Entrepreneurial Orientation Role Models Ie Entrepreneurial Intention VIF 1,649 1,342 1,044 1,077 1,044 1,466 Keterangan Tidak ada multikolinearitas Tidak ada multikolinearitas Tidak ada multikolinearitas Tidak ada multikolinearitas Tidak ada multikolinearitas Tidak ada multikolinearitas Tabel 4. Hasil analisis koefisien determinasi Sumber: Hasil pengolahan data SmartPLS 4. Variabel Entrepreneurial Intention Entrepreneurial Orientation R-Square 0,498 0,250 R-Square Adjusted 0,486 0,241 Tabel 4 menunjukkan bahwa variabel entrepreneurial intention memiliki hasil R-square sebesar 0,498 dengan arti bahwa variasi variabel tersebut dikatakan dapat dijelaskan dengan tingkatan Selanjutnya, variabel entrepreneurial orientation memiliki hasil R-square sebesar 0,250 dengan arti bahwa variasi variabel tersebut dikatakan dapat dijelaskan dengan tingkatan yang Selanjutnya merupakan hasil analisis predictive relevance (Q. yang ditunjukkan pada Tabel 5. Pengaruh Lokus Kendali. Perilaku terhadap Risiko, dan Panutan terhadap Niat Kewirausahaan pada Generasi Z Abdullah Gymnastiar et al. Tabel 5. Hasil analisis predictive relevance Sumber: Hasil pengolahan data SmartPLS 4. Variabel Entrepreneurial Orientation Entrepreneurial Intention Q2 Predict 0,201 0,333 RMSE 0,905 0,830 MAE 0,682 0,630 Hasil analisis predictive relevance Tabel 5 menunjukkan variabel entrepreneurial orientation memiliki nilai Q2 predict 0,201 dan entrepreneurial intention menghasilkan Q2 predict 0,333 dengan arti variabel tersebut memiliki observasi yang baik. Selanjutnya Tabel 6 menunjukkan hasil analisis model fit. Tabel 6. Hasil analisis model fit Sumber: Hasil pengolahan data SmartPLS 4. SRMR d_ULS Chi-square NFI Saturated Model 0,077 2,738 0,697 681,043 0,721 Estimated Model 0,094 4,121 0,745 702,079 0,712 Berdasarkan Tabel 6, nilai saturated model dari SRMR 0,077 dan nilai estimated model 0,094 memiliki arti model tersebut cocok dengan data. Selanjutnya nilai NFI memiliki hasil saturated model 0,721 dan hasil estimated model 0,712 memiliki arti model tersebut memiliki kecocokan yang tinggi. Selanjutnya Tabel 7 menunjukkan hasil analisis f-square. Tabel 7. Hasil analisis f-square Sumber: Hasil pengolahan data SmartPLS 4. Variabel Entrepreneurial Orientation Ie Entrepreneurial Intention Locus of Control Ie Entrepreneurial Intention Locus of Control Ie Entrepreneurial Orientation Risk Attitude Ie Entrepreneurial Intention Risk Attitude Ie Entrepreneurial Orientation Role Models Ie Entrepreneurial Intention f-Square 0,198 0,102 0,253 0,002 0,030 0,058 Keterangan Sedang Kecil Sedang Tidak ada efek Kecil Kecil Tabel 7 menunjukkan bahwa variabel entrepreneurial orientation terhadap entrepreneurial intention memiliki efek sedang. Selanjutnya, locus of control terhadap entrepreneurial intention memiliki efek kecil. Variabel locus of control terhadap entrepreneurial orientation memiliki efek Variabel independen risk attitude terhadap entrepreneurial intention tidak memiliki efek atau efek sangat kecil. Variabel independen risk attitude terhadap entrepreneurial orientation memiliki efek kecil. Variabel role models terhadap entrepreneurial intention memiliki efek kecil. Tabel 8 menunjukkan hasil pengujian efek langsung hipotesis. Tabel 8. Hasil analisis direct effect Sumber: Hasil pengolahan data SmartPLS 4. Hipotesis Entrepreneurial Orientation Ie Entrepreneurial Intention Locus of Control Ie Entrepreneurial Intention Locus of Control Ie Entrepreneurial Orientation Risk Attitude Ie Entrepreneurial Intention Risk Attitude Ie Entrepreneurial Orientation Role Models Ie Entrepreneurial Intention Path Coef. 0,405 0,262 0,445 -0,032 0,153 0,207 t Statistics 4,583 4,273 6,527 0,533 1,841 2,318 p-Values 0,000 0,000 0,000 0,297 0,033 0,021 Hasil Diterima Diterima Diterima Ditolak Diterima Diterima Jurnal Manajerial dan Kewirausahaan Vol. No. Juli 2026: hlm 969 Ae 977 ISSN 2657-0025 (Versi Elektroni. Berdasarkan Tabel 8, dapat dijelaskan bahwa sebagian besar variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Selanjutnya merupakan hasil uji efek tidak langsung yang ditunjukkan pada Tabel 9. Tabel 9. Hasil analisis indirect effect Sumber: Hasil pengolahan data SmartPLS 4. Hipotesis Locus of Control Ie Entrepreneurial Orientation Ie Entrepreneurial Intention Risk Attitude Ie Entrepreneurial Orientation Ie Entrepreneurial Intention Path Coef. t Statistics p-Values Hasil 0,180 3,755 0,000 Diterima 0,062 1,675 0,047 Diterima Berdasarkan Tabel 9, dapat dijelaskan bahwa entrerpeneurial orientation memediasi hubungan locus of control dan risk attitude terhadap entrepreneurial intention. Diskusi Pada pengujian hipotesis pertama (H. menunjukkan bahwa Locus of Control berpengaruh positif dan signifikan terhadap Entrepreneurial Intention. Pengujian hipotesis pertama sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Karabulut . yaitu locus of control berpengaruh positif dan signifikan terhadap entrepreneurial intention. Namun, penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Popescu dkk. , yaitu locus of control berpengaruh positif tetapi tidak signifikan. Penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rajh , . yaitu locus of control berpengaruh positif tetapi tidak signifikan. Pengujian hipotesis kedua (H. menunjukkan Locus of Control berpengaruh positif dan signifikan terhadap Entrepreneurial Orientation. Lokus kendali generasi Z sangat mempengaruhi orientasi kewirausahaan dalam kepercayaan individu dalam melakukan suatu hal untuk berinovasi, mengambil risiko, dan proaktif terhadap suatu situasi. Pengujian hipotesis ketiga (H. menunjukkan Risk Attitude berpengaruh positif dan signifikan terhadap Entrepreneurial Orientation. Perilaku terhadap risiko generasi Z sangat mempengaruhi orientasi berwirausaha dalam menghadapi dan mengelola risiko dalam keinginan berwirausaha. Berdasarkan deskripsi subjek yang memiliki latar belakang belum menerima pendidikan kewirausahaan, perilaku generasi Z masih menganggap berbisnis atau berwirausaha memiliki risiko yang tinggi. Pengujian hipotesis keempat (H. menunjukkan Risk Attitude berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Entrepreneurial Intention. Pengujian hipotesis keempat sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nabi dan Liyyn . yaitu risk attitude berpengaruh negatif dan tidak signifikan. Namun penelitan ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Widjaja . yaitu berpengaruh positif dan signifikan. Berdasarkan karakteristik subjek menunjukkan perilaku terhadap risiko generasi Z menurunkan niat berwirausaha dan masih belum sepenuhnya merepresentasikan pengaruh variabel risk attitude terhadap entrepreneurial intention. Pengujian hipotesis kelima (H. menunjukkan bahwa role models berpengaruh positif dan signifikan terhadap entrepreneurial intention. Pengujian hipotesis kelima sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suzuki . yaitu role models berpengaruh positif dan signifikan terhadap entrepreneurial intention. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Efrata dkk. , . yaitu role models berpengaruh positif dan signifikan terhadap entrepreneurial intention. Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Karimi dkk. , . yaitu role models berpengaruh positif dan signifikan terhadap entrepreneurial intention. Pengaruh Lokus Kendali. Perilaku terhadap Risiko, dan Panutan terhadap Niat Kewirausahaan pada Generasi Z Abdullah Gymnastiar et al. Pengujian hipotesis keenam (H. menunjukkan Entrepreneurial Orientation berpengaruh positif dan signifikan terhadap Entrepreneurial Intention. Penelitian hipotesis keenam sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ibrahim dan Lucky, . yaitu entrepreneurial orientation berpengaruh positif dan signifikan terhadap entrepreneurial intention . Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Triyono dkk. , . yaitu berpengaruh positif dan Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hassan dkk. yaitu berpengaruh positif dan tidak signifikan. Pada pengujian hipotesis ketujuh (H. menunjukkan Entrepreneurial Orientation memediasi hubungan Locus of Control dengan Entrepreneurial Intention dengan signifikan. Pada pengujian hipotesis kedelapan (H. menunjukkan Entrepreneurial Orientation memediasi hubungan Risk Attitude dengan Entrepreneurial Intention dengan signifikan. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil uji dan pembahasan yang telah dilakukan, maka terdapat beberapa kesimpulan dari penelitian ini yang diuraikan dimana locus of control berpengaruh signifikan terhadap entrepreneurial intention. Risk attitude berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap entrepreneurial intention. Role model berpengaruh positif dan signifikan terhadap entrepreneurial Entrepreneurial orientation memediasi dengan signifikan terhadap hubungan locus of control dengan entrepreneurial intention tetapi tidak signifikan terhadap hubungan risk attitude dengan entrepreneurial intention. Bagi penelitian selanjutnya dapat memperdalam penelitian empiris dalam hubungan lokus kendali, perilaku terhadap risiko terhadap minat kewirausahaan pada generasi Z untuk menyesuaikan relevansi dan kondisi generasi Z. REFERENSI