Journal for Quality in Women's Health Vol. 3 No. 2 September 2020 | pp. p-ISSN: 2615-6660 | e-ISSN: 2615-6644 DOI: 10. 30994/jqwh. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Upaya Mitigasi Bencana Bidang Kesehatan Reproduksi Di Seluruh Puskesmas Kota Bengkulu Yulita Elvira Silviani*. Nuril Absari Program Studi Kebidanan STIKES Tri Mandiri Sakti. Indonesia Corresponding author: Yulita Elvira Silviani . ivielvira92@gmail. Received: July, 28 2020. Accepted: August, 28 2020. Published: September, 1 2020 ABSTRAK Indonesia adalah negara kepulauan dengan potensi bencana alam sangat tinggi khususnya gempa bumi, letusan gunung api dan tsunami, karena terletak pada tiga pertemuan lempeng bumi yaitu Indo-Australia. Eurasia, dan Pasifik. Bengkulu merupakan salah satu wilayah letaknya berada pada daerah tumbukan 2 lempeng tektonik besar yaitu lempeng indoaustralia di bagian Selatan dan lempeng Eurasia di bagian Utara yang ditandai dengan terdapatnya pusatpusat gempa tektonik di kepulauan Mentawai dan sekitarnya. Keadaan yang dijelaskan diatas yang menyebabkan Kota Bengkulu berpotensi rawan terhadap bencana yaitu gempa, tsunami, banjir, longsor, dan gelombang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan dengan upaya mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan desain cross sectional. Data dianalisis secara analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square N2 dan analisis regresi logistik ganda. Untuk mengetahui keeratan hubungan digunakan Contingency Coefficient (C). Populasi pada penelitian ini adalah seluruh bidan di Puskesmas Kota Bengkulu berjumlah 167 dengan pengambilan sampel menggunakan teknik total Hasil penelitian didapatkan uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 25. dengan A value = 0,000 < . pada variabel pengetahuan, uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 8. 452 dengan A value = 0,004< . pada variabel sikap, uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 5. 966 dengan A value = 0,015 < . pada variabel motivasi, uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 6. 832 dengan A value = 0,009 < . pada variabel pengalaman mengikuti kegiatan pelatihan kebencanaan. Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap, motivasi, pengalaman mengikuti kegiatan pelatihan kebencanaan dengan upaya mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi. Variabel yang paling dominan adalah pengetahuan, karena memiliki nilai koefisien regresi () yang paling besar yaitu 5. Kata Kunci: Pengetahuan. Sikap. Motivasi. Pelatihan. Mitigasi Bencana. Kesehatan Reproduksi This is an open-acces article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. Website: http://jqwh. org | Email: publikasistrada@gmail. Faktor-Faktor Yang Berhubungan DenganA. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu Negara yang mendapat predikat negara rawan bencana. Indonesia adalah negara kepulauan dengan potensi bencana alam sangat tinggi khususnya gempa bumi, letusan gunung api dan tsunami, karena terletak pada tiga pertemuan lempeng Ketiga lempeng tersebut adalah lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Lempeng benua Eurasia yang memanjang dari pantai barat Sumatera hingga pantai selatan Jawa, terus ke timur sampai daerah Nusa Tenggara (Nur, 2. Bengkulu wilayah topografi sangat bergelombang, curah hujan yang tinggi jatuh pada bulan Oktober-Januari, berada dalam pengaruh angin tenggara. Angin umumnya bertiup dari arah pantai yaitu pantai barat, barat laut dan barat daya selatan selain itu kota Bengkulu merupakan salah satu wilayah di kepulauan Indonesia yang memiliki tatanan geologi sangat Kondisi ini disebabkan letaknya yang berada pada daerah tumbukan 2 lempeng tektonik besar yaitu lempeng indoaustralia di bagian Selatan dan lempeng Eurosia di bagian Utara yang ditandai dengan terdapatnya pusat-pusat gempa tektonik di kepulauan Mentawai dan sekitarnya. Keadaan yang dijelaskan diatas yang menyebabkan Kota Bengkulu berpotensi rawan terhadap bencana yaitu gempa, tsunami, banjir, longsor, dan gelombang. (Anggraini et , 2. Menurut Data Informasi Bencana Indonesia (BNPB, 2. bahwa Provinsi Bengkulu sejak lima tahun terakhir yaitu 2014-2019 mengalami 90 kali jumlah kejadian bencana diantaranya bencana banjir 42 kejadian, tanah longsor 29 kejadian, puting beliung 12 kejadian, kebakaran hutan dan lahan 2 kejadian, gempa bumi 5 kejadian dan banyak sekali dampak yang Dalam Kepmenkes 876/Menkes/SK/XI/2006 tentang kebijakan dan strategi nasional penanganan krisis dan masalah kesehatan, disebutkan bahwa penanganan krisis dan masalah kesehatan lain lebih menitikberatkan kepada upaya sebelum terjadinya bencana yaitu upaya pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan (Direja & Wulan, 2. Kesehatan merupakan hak asasi manusia yang harus dipenuhi dalam situasi apapun, termasuk pada situasi bencana. Demikian halnya dengan kesehatan reproduksi yang merupakan bagian dari kesehatan. Oleh karena itu, pelayanan kesehatan reproduksi harus selalu ada dan tersedia pada situasi bencana, agar hak kesehatan reproduksi dapat tetap terpenuhi (Kemenkes. Dalam situasi darurat bencana kebutuhan akan kesehatan reproduksi sering kali terabaikan, banyak permasalahan kesehatan reproduksi yang sering terjadi ketika bencana antara lain tingginya angka kesakitan dan kematian ibu hamil saat melahirkan bayinya, tingginya angka kesakitan bayi dan balita dan kekerasan berbasis gender (Utami & Wijaya. Meskipun telah ada upaya mitigasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah, namun rencana manajemen penanggulangan bencana tersebut masih bersifat umum yaitu terkait mitigasi struktural dan non-struktural yang belum terintegrasi secara efektif pada bidang kesehatan reproduksi. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan upaya mitigasi bencana dalam bidang kesehatan reproduksi di seluruh Puskesmas Kota Bengkulu. METODE Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan desain cross sectional. Tempat penelitian di seluruh Puskesmas Kota Bengkulu. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh bidan di Puskesmas berjumlah 167 bidan menggunakan teknik total sampling. Variabel dependen yang diteliti adalah upaya mitigasi bencana dalam kesehatan reproduksi, sedangkan variabel independen yaitu pengetahuan, sikap, motivasi dan pelatihan. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh Journal for Quality in Women's Health Faktor-Faktor Yang Berhubungan DenganA. melalui kuesioner dan data sekunder diperoleh melalui dinas dan institusi terkait. Data dianalisis secara analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square (N. dan analisis regresi logistik ganda. Untuk mengetahui keeratan hubungan digunakan Contingency Coefficient (C). HASIL Analisis univariat digunakan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi variabel independen yaitu pengetahuan, sikap, motivasi, pelatihan dan variabel dependen yaitu upaya mitigasi bencana dalam kesehatan reproduksi (Tabel . Tabel 1. Distribusi frequensi upaya mitigasi bencana dalam kesehatan reproduksi, pengetahuan, sikap, motivasi dan pelatihan . Variabel Frekuensi Persentase (%) Upaya Mitigasi Bencana Dalam Bidang Kesehatan Reproduksi Tidak Baik Baik Pengetahuan Bidan Kurang Cukup Baik Sikap Bidan Negatif Positif Motivasi Bidan Kurang Tinggi Pelatihan penanggulangan bencana Tidak Pernah Pernah Tabel 1 menunjukkan terdapat 31 orang bidan . ,6%) dengan upaya mitigasi bencana dalam bidang kesehatan reproduksi tidak baik dan terdapat 136 orang . ,4%) dengan upaya mitigasi bencana dalam bidang kesehatan reproduksi baik. Terdapat 1 orang . ,6%) dengan pengetahuan kurang, 36 orang . ,6%) dengan pengetahuan cukup, dan 130 orang . ,8%) dengan pengetahuan baik. Terdapat 12 orang . ,2%) dengan sikap negatif dan 155 orang . ,8%) dengan sikap positif dalam upaya mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi. Terdapat 14 orang . ,4%) dengan Motivasi kurang, dan 153 orang . ,6%) dengan motivasi tinggi untuk mengikuti pelatihan kebencanaan bidan dalam upaya mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi. terdapat 100 orang . ,9%) dengan Tidak Pernah mengikuti kegiatan pelatihan penanggulangan bencana dan 67 orang . ,1%) Pernah mengikuti kegiatan pelatihan penanggulangan bencana. Analisis bivariate dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, motivasi, pelatihan penganggulangan bencana dengan upaya mitigasi bencana dalam kesehatan reproduksi (Tabel . Tabel 2. Hubungan Pengetahuan dengan Upaya Mitigasi Bencana Bidang Kesehatan Reproduksi . Upaya Mitigasi Bencana Pengetahuan Total Tidak Baik Baik Journal for Quality in Women's Health Faktor-Faktor Yang Berhubungan DenganA. Kurang Cukup Baik Total 0,000 0,364 Tabel 2 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 25. 563 dengan A value = 0,000 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan upaya mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi. Sedangkan hasil uji Contingency Coefficient didapat nilai C= 0,364 dengan approx. ycoOe1 (A)=0,000<0,05 berarti signifikan, nilai C tersebut dibandingkan dengan nilai Cmax=Oo yco dimana m adalah nilai terkecil dari baris atau kolom. Dalam hal ini nilai m=2 maka nilai ycoOe1 2Oe1 Cmax= Oo yco =Oo 2 =0,707 Jadi nilai ya ya ycoycaycu 0,364 = 0,707 0,51, karena nilai ini terletak dalam interval 0,40-0,60 maka kategorii hubungan sedang. Tabel 3. Hubungan Sikap dengan Upaya Mitigasi Bencana Bidang Kesehatan Reproduksi . Upaya Mitigasi Bencana Sikap Total N2 A- value Tidak Baik Baik Negatif 0,219 Positif 452 0,004 Total Tabel 3 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 8. 452 dengan A value = 0,004 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan upaya mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi. Sedangkan hasil uji Contingency Coefficient didapat nilai C= 0,219 dengan sig(A)=0,004<0,05 berarti signifikan, nilai C tersebut dibandingkan dengan nilai ycoOe1 Cmax=Oo yco dimana m adalah nilai terkecil dari baris atau kolom. Dalam hal ini nilai m=2 ycoOe1 2Oe1 maka nilai Cmax= Oo yco =Oo 2 = 0,707. Jadi nilai ya ya ycoycaycu 0,219 = 0,707 = 0,30, karena nilai ini terletak dalam interval 0,20-0,40 maka kategori hubungan lemah. Tabel 4. Hubungan Motivasi dengan Upaya Mitigasi Bencana Bidang Kesehatan Reproduksi . Upaya Mitigasi Bencana Motivasi Total A- value Tidak Baik Baik Kurang 0,186 Tinggi 0,015 Total Tabel 4 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 5. 966 dengan A value = 0,015 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan upaya mitigasi Journal for Quality in Women's Health Faktor-Faktor Yang Berhubungan DenganA. bencana bidang kesehatan reproduksi. Sedangkan hasil uji Contingency Coefficient didapat nilai C= 0,186 dengan approx. sig (A)=0,015<0,05 berarti signifikan, nilai C tersebut ycoOe1 dibandingkan dengan nilai Cmax=Oo yco dimana m adalah nilai terkecil dari baris atau kolom. ycoOe1 2Oe1 Dalam hal ini nilai m=2 maka nilai Cmax= Oo yco =Oo 2 = 0,707. Jadi nilai ya ya ycoycaycu 0,186 = 0,707 = 0,26, karena nilai ini terletak dalam interval 0,20-0,40 maka kategori hubungan lemah. Tabel 5. Hubungan Pelatihan dengan Upaya Mitigasi Bencana Bidang Kesehatan Reproduksi . Upaya Mitigasi Bencana Pelatihan Kebencanaan Total N2 A- value Tidak Baik Baik Tidak Pernah 0,198 Pernah 832 0,009 Total Tabel 5 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 6. 832 dengan p value = 0,009 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara pengalaman mengikuti kegiatan pelatihan kebencanaan dengan upaya mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi Sedangkan hasil uji Contingency Coefficient didapat nilai C= 0,198 dengan sig(A)=0,009<0,05 berarti signifikan, nilai C tersebut dibandingkan dengan nilai ycoOe1 Cmax=Oo yco dimana m adalah nilai terkecil dari baris atau kolom. Dalam hal ini nilai m=2 ycoOe1 2Oe1 maka nilai Cmax= Oo yco =Oo 2 = 0,707. Jadi nilai ya ya ycoycaycu 0,198 = 0,707 = 0,28, karena nilai ini terletak dalam interval 0,20-0,40 maka kategori hubungan lemah. Analisis multivariat digunakan untuk melihat variabel mana yang memiliki hubungan paling dominan dengan upaya mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi (Tabel . Tabel 6. Analisis Variabel Dominan Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Upaya Mitigasi Bencana Bidang Kesehatan Reproduksi . Variabel Exp. B (Koef. Regresi Wald Logisti. Pengetahuan Sikap Motivasi Pelatihan Constant Tabel 7 menunjukkan ada empat variabel independen yang layak masuk kedalam model multivariat diantaranya adalah variabel pengetahuan, sikap, motivasi dan pelatihan. Dari keempat variabel tersebut hanya ada satu variabel yang memiliki hubungan paling besar dengan upaya mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi di Seluruh Puskesmas Kota Bengkulu yaitu pengetahuan, karena memiliki nilai koefisien regresi () yang paling besar yaitu Journal for Quality in Women's Health Faktor-Faktor Yang Berhubungan DenganA. PEMBAHASAN Hubungan Pengetahuan dengan Upaya Mitigasi Bencana Bidang Kesehatan Reproduksi Dari hasil penelitian antara hubungan pengetahuan dengan upaya mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi menunjukkan bahwa hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 25. 563 dengan A value = 0,000 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan upaya mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dijelaskan bahwa sebagian besar bidan yang mempunyai pengetahuan baik maka upaya mitigasi bencana dalam bidang kesehatan reproduksinya lebih baik, begitupun sebaliknya bidan yang mempunyai pengetahuan kurang mereka secara umum upaya mitigasi kesehatan reproduksinya kurang baik, artinya pengetahuan bidan akan menentukan upaya mitigasi kesehatan reproduksi. Pengetahuan merupakan faktor utama dan menjadi kunci untuk Pengetahuan yang dimiliki dapat mempengaruhi sikap dan kepedulian untuk siap siaga dalam mengantisipasi bencana. Pentingnya kesiapsiagaan merupakan salah satu elemen penting dari kegiatan pencegahan pengurangan risiko bencana yang bersifat pro-aktif sebelum terjadinya suatu bencana (Kurniawati & Suwito, 2. Pengetahuan atau kognitif yang merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan diperlukan sebagai dorongan fisik dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun dengan dorongan sikap perilaku setiap orang sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan stimulasi terhadap tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian (Budimanto et al. , 2. tentang hubungan pengetahuan, sikap bencana dan keterampilan basic life support dengan kesiapsiagaan bencana gempa bumi berdasarkan hasil uji chi-square dengan taraf signifikan 5% . diperoleh bahwa p value = 0,005 yang berarti p value = <0,05 maka ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana gempa bumi. Hubungan sikap Dengan Upaya Mitigasi Bencana Bidang Kesehatan Reproduksi Dari hasil penelitian antara hubungan sikap dengan upaya mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi menunjukkan bahwa Berdasarkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 8. 452 dengan A value = 0,004 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan upaya mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi. Sebagian besar tenaga kesehatan bidan dengan sikap positif memiliki upaya mitigasi bencana yang baik, hal ini terlihat dari rata-rata jawaban sangat setuju pada kuesioner bahwa tenaga kesehatan bidan di puskesmas merupakan basis pertama institusi kesehatan pemerintah untuk menangani masalah akibat bencana pada bidang kesehatan reproduksi sehingga upaya mitigasi pelayanan kesehatan reproduksi berjalan dengan baik melalui PPAM (Paket Pelayanan Awal Minimu. , melalui penyediaan paket kontrasepsi seperti kondom, pil, suntik dan IUD untuk memenuhi permintaan apabila terjadi bencana, mengkoordinasikan mekanismemekanisme untuk mencegah kekerasan seksual bersama sektor kesehatan dan sektor/cluster lainnya, menyediakan kit persalinan, memastikan ketersediaan layanan kegawatdaruratan kebidanan untuk ibu dan perawatan bayi baru lahir serta mitigasi bencana lainnya yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi bencana. Sikap diartikan sebagai kesiapsiagaan mental, yang dipelajari dan di organisasi melalui pengalaman, dan mempunyai pengaruh tertentu atas cara tanggap seseorang terhadap Journal for Quality in Women's Health Faktor-Faktor Yang Berhubungan DenganA. orang lain, objek, dan situasi yang berhubungan dengannya (Gibson dalam Lindawati & Wasludin, 2. Penelitian yang dilakukan oleh (Hesti et al. , 2. Terdapat hubungan yang bermakna antara sikap dengan kesiapsiagaan bidan dalam menghadapi bencana gempa dan tsunami di puskesmas kota Padang dengan p< 0,05 . Hubungan Motivasi Dengan Upaya Mitigasi Bencana Bidang Kesehatan Reproduksi Dari hasil penelitian hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 5. 966 dengan A value = 0,015 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan upaya mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bidan di Puskesmas Kota Bengkulu sebagian besar memiliki motivasi yang tinggi dalam mengikuti kegiatan pelatihan kebencanaan sehingga upaya mitigasi bencana bidang reproduksinya baik. Motivasi yang tinggi dari bidan dapat dilihat dari rata-rata jawaban pada kuesioner dimana jika ada pelatihan penanggulangan bencana akan berusaha untuk mengikuti kegiatan tersebut dalam upaya mitigasi, yakin dengan mengikuti pelatihan penanggulangan bencana dapat menambah pengetahuan tentang mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi, bidan mempunyai tanggung jawab untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai penanggulangan bencana sesuai dengan perkembangan ilmu terkini . Hasil penelitian (MaAoruf & Siswanto, 2. mengenai pengaruh motivasi terhadap peningkatan kompetensi bidan desa di Kabupaten Malang menunjukan nilai t = 14,157 dan P value = 0,000 lebih kecil dar =0,05, maka dapat disimpulkan ada pengaruh motivasi terhadap peningkatan kompetensi bidan. Seorang bidan membutuhkan skill yang khusus, sebab bukan hanya keterampilan teknis kebidanan yang diperlukan, namun juga skill untuk meningkatkan kompetensi sosial dan manajemen (Davis, 2. Artinya bidan perlu untuk meningkatkan motivasinya dalam mengikuti kegiatan pelatihan bencana sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana khusus pada bidang kesehatan reproduksi. Motivasi petugas kesehatan dalam mengikuti pelatihan kebencanaan akan membuat mental yang tangguh, siap, dan siaga dalam menghadapi bencana baik pada fase pra bencana, tanggap darurat, dan pasca bencana (Direja & Wulan, 2. Hubungan Pelatihan Penanggulangan Bencana Dengan Upaya Mitigasi Bencana Bidang Kesehatan Reproduksi Dari hasil penelitian menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 832 dengan p value = 0,009 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara pengalaman mengikuti kegiatan pelatihan kebencanaan dengan upaya mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi. Pengalaman pelatihan tentang kebencanaan akan meningkatkan kemampuan bidan dalam mitigasi dan kesiapsiagaan bencana termasuk pada bidang kesehatan reproduksi. Pelatihan adalah proses pendidikan dalam usaha meningkatkan kualitas dan kompetensi peserta pelatihan untuk masa sekarang dan akan datang, serta dilaksanakan dalam jangka pendek dengan cara praktis dan sistematis (Daud et al. , 2. Hal ini sejalan dengan penelitian (Afandi, 2. bahwa pelatihan simulasi efektif meningkatkan pengetahuan siswa tentang mitigasi bencana gempa bumi. Keterampilan yang harus dimiliki oleh bidan dalam upaya mitigasi kesehatan reproduksi apabila terjadi bencana diantaranya adalah Asuhan Persalinan Normal (APN). Pelayanan Obstetri. Neonatal Emergency Dasar (PONED). Pelatihan lain yang diperlukan antara lain yaitu PPAM kesehatan reproduksi krisis kesehatan. Basic Training Cardiac Live Support (BTCLS). Pertolongan pertama kegawatdaruratan obstetrik dan neonatus (PPGDON). Pencegahan infeksi, pelatihan manajemen bencana dan pelatihan penunjang lainnya. (Hesti et al. , 2. Journal for Quality in Women's Health Faktor-Faktor Yang Berhubungan DenganA. Faktor Dominan Upaya Mitigasi Bencana Bidang Kesehatan Reproduksi Dari hasil analisis multivariat didapatkan bahwa variabel dominan yang memiliki hubungan paling besar dengan upaya mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi yaitu pengetahuan, karena memiliki nilai koefisien regresi () yang paling besar yaitu 5. Hal ini menunjukkan bahwa indikator paling penting dari bidan dalam mitigasi bencana bidang kesehatan reproduksi adalah pengetahuan. Pengetahuan merupakan faktor utama dan menjadi kunci untuk mitigasi dan kesiapsiagaan. Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi bencana oleh bidan akan menentukan upaya mitigasi. Pengetahuan yang harus dimiliki adalah mengenai PPAM Kesehatan Reproduksi yaitu sekumpulan kegiatan prioritas Kesehatan reproduksi yang dilaksanakan pada tanggap darurat krisis kesehatan, yang apabila dilaksanakan pada krisis kesehatan. PPAM akan dapat menyelamatkan hidup dan mencegah kesakitan pada penduduk yang terkena dampak bencana khususnya perempuan. Pemahaman bidan mengenai logistik sangat penting untuk mendukung pelaksanaan PPAM saat terjadi bencana seperti kit individu . aket berisi pakaian, perlengkapan kebersihan diri, perlengkapan bayi, dll, yang diberikan kepada perempuan usia reproduksi, ibu hamil, ibu bersalin dan bayi baru lahi. , kit partus set, kit kesehatan reproduksi . h ki. , alat dan sarana pendukung lainnya seperti tenda kesehatan reproduksi, buku KIA, generator, bilik asmara. Penelitian (Kurniawati & Suwito, 2. menyatakan hasil pengujian hipotesis dengan uji t dan uji koefisien determinasi, maka ada pengaruh positif pengetahuan kebencanaan terhadap sikap KESIMPULAN DAN SARAN Faktor yang berhubungan dengan Upaya Mitigasi Bencana Bidang Kesehatan Reproduksi yaitu pengetahuan, sikap, motivasi dan pelatihan sedangkan fator yang paling dominan yaitu variabel pengetahuan. Diharapkan bagi tenaga kesehatan bidan di Puskesmas Seluruh Kota Bengkulu khususnya dapat terus meningkatkan upaya mitigasi bencana dalam bidang kesehatan reproduksi sehingga dapat meminimalisir akibat kerugian bencana pada bidang kesehatan reproduksi dan pemerintah Kota Bengkulu membuat kebijakan program di Puskesmas melalui peraturan daerah mengenai penanggulangan bencana melalui mitigasi bencana dalam bidang kesehatan reproduksi untuk meminimalisir kerugian yang diakibatkan UCAPAN TERIMAKASIH Terimakasih kepada Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat. Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional yang telah memberikan dana hibah Penelitian Dosen Pemula Tahun Anggaran 2020 dengan kontrak penelitian Nomor: 819/SP2H/LT/MONO/LL2/2020 tanggal 24 Juni 2020 DAFTAR PUSTAKA