Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik Volume. 3 Nomor. 4 Desember 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpakk. Tersedia: https://journal. id/index. php/jbpakk Implementasi Program Ibadah Seksi Pelayanan Remaja dan Pemuda (SPRP) Jemaat GKE Barimba dalam Pembinaan Karakter Ophilia Lindy Agrecia1*. Siren Nugroho2. Cintya Fioni3. Prita Aura Eklesia4 Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya. Indonesia Email: ophilialindyagrecia@gmail. com 1*, sirennugroho72@gmail. com 2, cia85714@gmail. com 3, pritaauraeklesia@gmail. *Penulis Korespondensi: ophilialindyagrecia@gmail. Abstract. Implementation of the Youth and Youth Service Section (SPRP) Worship Program at the GKE Barimba Congregation in the context of developing the character of Christian teenagers and young people. Using descriptive qualitative methods, data was collected through in-depth interviews with youth and youth leaders who play an active role in development activities at the church. The results of the study revealed various challenges faced by teenagers and young people, such as peer pressure that affects worship motivation, a less engaging atmosphere of togetherness in worship, and differences in age and maturity levels between teenagers and young people that cause emotional distance. Their spiritual needs include relational aspects, a contextual understanding of faith, real spiritual experiences, and the formation of strong moral character to face the challenges of the modern era. Effective development strategies involve the active role of families in spiritual development at home. Christian educators as guides and motivators, the use of interactive learning methods such as Bible-based games and digital media that are relevant to the character of the younger generation, and the implementation of dynamic and creative worship services to increase engagement. The implementation of this program aims to form a strong Christian character and prepare teenagers and young people to become faithful, responsible individuals who are able to serve actively in the church and society. Close synergy between family, church, and education is a key factor in the success of spiritual development of the younger generation amidst rapid social and technological Keywords: Character Building. Christian Religious Education. GKE Barimba Congregation. SPRP Worship. Youth. Abstrak. Implementasi Program Ibadah Seksi Pelayanan Remaja dan Pemuda (SPRP) di Jemaat GKE Barimba dalam rangka pembinaan karakter remaja dan pemuda Kristen. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pembina remaja dan pemuda yang berperan aktif dalam kegiatan pembinaan di gereja tersebut. Hasil penelitian mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi para remaja dan pemuda, seperti tekanan dari lingkungan teman sebaya yang memengaruhi motivasi beribadah, suasana kebersamaan di ibadah yang kurang menarik, serta perbedaan usia dan tingkat kedewasaan antara remaja dan pemuda yang menyebabkan jarak emosional. Kebutuhan rohani mereka mencakup aspek relasional, pemahaman iman yang kontekstual, pengalaman rohani yang nyata, serta pembentukan karakter moral yang kokoh untuk menghadapi tantangan zaman modern. Strategi pembinaan yang efektif melibatkan peran aktif keluarga dalam pembinaan rohani di rumah, pendidik Kristen sebagai pemandu dan motivator, penggunaan metode pembelajaran interaktif seperti permainan berbasis Alkitab dan media digital yang relevan dengan karakter generasi muda, serta penyelenggaraan ibadah yang dinamis dan kreatif untuk meningkatkan keterlibatan. Implementasi program ini bertujuan membentuk karakter Kristen yang kuat dan mempersiapkan remaja serta pemuda menjadi pribadi yang beriman, bertanggung jawab, serta mampu melayani secara aktif di gereja maupun Sinergi yang erat antara keluarga, gereja, dan pendidikan menjadi faktor kunci dalam keberhasilan pembinaan rohani generasi muda di tengah perubahan sosial dan teknologi yang cepat. Kata kunci: Ibadah SPRP. Jemaat GKE Barimba. Pembinaan Karakter. Pendidikan Agama Kristen. Remaja Pemuda. LATAR BELAKANG Remaja dan pemuda merupakan aset strategis dalam gereja yang memiliki peranan penting dalam kelangsungan dan perkembangan pelayanan gereja di masa depan. Pada masa remaja dan pemuda, mereka mengalami berbagai gejolak dan tantangan hidup yang kompleks, sehingga kebutuhan rohani mereka menjadi sangat vital untuk dipenuhi secara tepat sasaran. Naskah Masuk: 07 November 2025. Revisi: 30 November 2025. Diterima: 20 Desember 2025. Terbit: 23 Desember 2025 Implementasi Program Ibadah Seksi Pelayanan Remaja dan Pemuda (SPRP) Jemaat GKE Barimba dalam Pembinaan Karakter Kebutuhan rohani ini meliputi pemahaman firman Tuhan yang kontekstual dengan kehidupan sehari-hari, pembentukan karakter Kristen yang kokoh, serta pembinaan dalam komunitas iman yang mendukung pertumbuhan rohani mereka. Namun, dalam praktiknya, gereja sering menghadapi tantangan berupa ketidakaktifan, keraguan, dan kebutuhan spiritual yang belum terpenuhi secara optimal pada kalangan remaja dan pemuda. Gereja Betania Barimba sebagai salah satu jemaat yang menaruh perhatian pada pembinaan rohani remaja dan pemuda perlu melakukan analisis mendalam tentang kebutuhan rohani mereka agar pembinaan melalui Pendidikan Agama Kristen (PAK) dapat berjalan efektif dan relevan. Strategi PAK yang sesuai sangat dibutuhkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi, membantu remaja dan pemuda menemukan jati diri Kristiani, serta membekali mereka menghadapi berbagai tekanan dunia modern. Melalui pendekatan yang terintegrasi, seperti pengembangan kurikulum kontekstual, pembinaan karakter, komunitas yang suportif, serta metode pembelajaran yang kreatif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi, diharapkan pertumbuhan rohani remaja dan pemuda di Gereja Betania Barimba dapat terwujud dengan optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan rohani remaja/pemuda di Gereja Betania Barimba serta merumuskan strategi PAK yang tepat guna dalam pembinaan iman, sehingga pelayanan rohani terhadap generasi penerus ini dapat lebih terarah, relevan, dan berdampak positif bagi pertumbuhan spiritual dan kehidupan sehari-hari mereka dalam pengikut Kristus. KAJIAN TEORITIS Kajian teoritis pada penelitian ini berlandaskan pada remaja dan pemuda merupakan kelompok usia yang berada pada masa transisi menuju kedewasaan, ditandai oleh pencarian identitas, perkembangan emosi, kemampuan berpikir kritis, serta kebutuhan membangun relasi sosial yang sehat. Dalam konteks kehidupan iman, remaja mengalami dinamika rohani yang dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, pergaulan, media, dan budaya zaman, sehingga mereka membutuhkan pembinaan rohani yang relevan dan kontekstual. Kebutuhan rohani remaja mencakup empat aspek utama. Pertama, kebutuhan relasional, yaitu pengalaman diterima, didukung, dan dimiliki oleh komunitas rohani. Kedua, kebutuhan pengetahuan iman, yaitu pengajaran Alkitab yang relevan dan mudah dipahami, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup mereka. Ketiga, kebutuhan pengalaman rohani seperti doa, ibadah yang hidup, dan pelayanan, yang menolong mereka mengalami Tuhan secara Keempat, kebutuhan pembentukan karakter dan moral untuk menghadapi tantangan zaman seperti pergaulan bebas, tekanan teman sebaya, dan krisis moral. Selain itu, remaja juga Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. membutuhkan arahan mengenai identitas diri dan tujuan hidup berdasarkan iman Kristen. Pendidikan Agama Kristen (PAK) bagi remaja bertujuan menolong mereka bertumbuh secara utuh melalui fungsi pengajaran, pembinaan iman, dan pengutusan. PAK tidak hanya spiritualitas, serta dorongan untuk terlibat dalam pelayanan nyata. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, strategi PAK yang efektif perlu bersifat holistik dan kontekstual. Strategi yang dapat diterapkan antara lain pembelajaran partisipatif melalui diskusi, metode kolaboratif, dan studi kasus. mentoring rohani untuk pendampingan personal. ibadah kreatif yang sesuai dengan gaya remaja. serta kegiatan pengalaman rohani seperti retret, pelayanan sosial, dan kegiatan misi. Selain itu, keterlibatan keluarga dalam pembinaan iman remaja juga penting melalui dukungan orang tua dan komunikasi yang baik antara gereja dan Dengan demikian, analisis kebutuhan rohani merupakan dasar penting bagi perancangan strategi PAK. Ketika gereja memahami kebutuhan remaja secara mendalam dan menerapkan strategi pembinaan yang relevan, maka pembinaan iman remaja/pemuda akan menjadi lebih efektif dan mampu membantu mereka bertumbuh menjadi pribadi yang beriman, berkarakter, dan siap melayani. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk memahami kebutuhan rohani remaja/pemuda dan strategi PAK di Gereja Betania Barimba. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dengan salah satu pembina remaja/pemuda yang dianggap memahami kondisi kerohanian dan kegiatan pembinaan di gereja. Wawancara dilakukan secara langsung dengan pertanyaan terbuka agar narasumber dapat menjelaskan pandangannya secara bebas. Data hasil wawancara kemudian dianalisis dengan cara merangkum informasi penting, menyusunnya dalam bentuk uraian, dan menarik kesimpulan mengenai kebutuhan rohani serta strategi PAK yang sesuai. HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Psikologi Remaja/Pemuda Perkembangan psikologi remaja adalah suatu proses transformasi yang dialami individu dalam aspek mental saat menjalani fase transisi dari masa kanak-kanak ke dewasa, biasanya berlangsung antara usia 10 hingga 19 tahun. Proses ini mencakup berbagai perubahan penting dalam emosi, pemikiran, interaksi sosial, dan pengembangan identitas. Masa remaja adalah Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025 Implementasi Program Ibadah Seksi Pelayanan Remaja dan Pemuda (SPRP) Jemaat GKE Barimba dalam Pembinaan Karakter waktu yang sangat penting karena individu mulai belajar berpikir secara abstrak, meningkatkan kesadaran diri, serta menyesuaikan emosi yang kompleks. Perkembangan psikologis ini tidak hanya faktor biologis seperti saat pubertas, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sosial seperti keluarga, teman, dan budaya (Dariyo, 2. Secara psikologis, remaja melewati berbagai fase perubahan yang dimulai dari early adolescence . -13 tahu. , middle adolescence . -17 tahu. , hingga late adolescence . -19 Pada early adolescence, sering terjadi perubahan fisik yang cepat yang memicu remaja untuk mulai menyadari tubuh mereka dan membangun rasa percaya diri. Di middle adolescence, mereka lebih menunjukkan keinginan untuk mandiri, sering kali mengalami konflik dengan orang tua, dan mulai mengembangkan identitas diri yang semakin kuat. Late adolescence adalah waktu penguatan identitas diri serta perencanaan masa depan, di mana remaja mulai menetapkan tujuan hidup dan mengambil tanggung jawab sosial yang lebih besar (Santrock, 2. Dari segi emosi dan sosial, masa remaja ditandai oleh variasi emosi yang kuat serta pencarian hubungan sosial yang rumit. Remaja mulai menjelajahi interaksi dengan lawan jenis, membentuk persahabatan yang lebih mendalam, dan menciptakan norma serta nilai-nilai pribadi yang membentuk dasar moral mereka. Selain itu, perkembangan kognitif di usia remaja meningkatkan kemampuan untuk berpikir lebih logis dan abstrak, tetapi terkadang disertai dengan perilaku impulsif dan pengambilan risiko yang tinggi karena dampak emosi dan tekanan dari lingkungan sosial. Oleh karena itu, dukungan dari lingkungan seperti keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat penting untuk membantu remaja melewati tantangan psikologis dan sosial ini dengan cara yang sehat (Yusuf, 2. Memahami perkembangan psikologi remaja sangat signifikan bagi orang tua, pendidik, dan profesional kesehatan mental agar dapat memberikan panduan yang sesuai serta dukungan yang efektif bagi remaja. Pendekatan yang tepat akan membantu remaja dalam mengelola perubahan psikologis dengan baik, meningkatkan rasa percaya diri, dan mempersiapkan mereka untuk menjadi individu dewasa yang sehat secara emosional dan sosial (Hastuti, 2. Perkembangan Sosial Remaja/Pemuda Perkembangan sosial pada remaja adalah proses di mana individu yang berada di usia remaja mulai memahami, mengembangkan, dan beradaptasi dengan norma, nilai, serta pola interaksi sosial yang ada di sekitar mereka. Ini merupakan tahap akhir dari perkembangan sosial yang telah dimulai sejak masa kanak-kanak dan menandai momen di mana perhatian remaja lebih terkonsentrasi pada hubungan sosial di luar keluarga, seperti dengan teman-teman sebaya dan komunitas yang lebih luas. Dalam fase ini, kemampuan kognisi sosial mengalami Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. peningkatan, yang merupakan kemampuan untuk mengenali orang lain sebagai individu yang berbeda, dengan karakteristik, minat, nilai, dan perasaan yang beragam. Ini mendorong remaja untuk membangun hubungan yang lebih dekat dan rumit melalui persahabatan maupun hubungan romantis (Syamsu, 2. Masa remaja juga ditandai dengan perluasan jaringan interaksi sosial yang lebih kompleks dan bervariasi dibandingkan dengan masa kanak-kanak. Remaja mulai belajar beradaptasi dengan norma dan aturan sosial yang berbeda dari yang dipelajari di dalam lingkungan keluarga. Mereka mengalami perkembangan dalam kematangan emosional dan sosial, yang terlihat dalam peningkatan kemampuan untuk membuat keputusan secara mandiri terkait pemilihan lingkungan sosial, penyelesaian konflik, serta kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama dalam kelompok. Kegiatan bersama teman sebaya, seperti berorganisasi, berdiskusi, dan berpartisipasi dalam aktivitas sosial, berperan besar dalam memperkuat kompetensi sosial remaja, sehingga mempermudah mereka untuk bersosialisasi dengan masyarakat yang lebih luas (Sulhan, 2. Perkembangan sosial remaja juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk keluarga, status sosial ekonomi, pendidikan, serta keadaan mental. Dalam proses ini, remaja mulai membentuk identitas sosial mereka sendiri melalui interaksi sosial dan penjelajahan berbagai peran sosial. Hal ini menjadi dasar bagi pengembangan kepribadian dan moralitas, yang sangat penting dalam menentukan sikap dan perilaku remaja di masa depan. Oleh sebab itu, dukungan dari orang tua, pendidik, dan lingkungan sosial sangat krusial untuk membantu remaja menghadapi tantangan sosial dan emosional yang muncul selama fase ini (Iqlima, 2. Perkembangan Spiritual Remaja/Pemuda Perkembangan spiritual para remaja dan pemuda Kristen saat ini sangat dipengaruhi oleh keterlibatan aktif gereja dalam mengembangkan pendidikan agama Kristen yang bertujuan untuk memperkuat kepemimpinan spiritual. Proses ini meliputi pembentukan karakter kepemimpinan yang dicirikan oleh nilai-nilai seperti integritas, sikap rendah hati, dan empati. Gereja tidak hanya memberikan ajaran agama dalam bentuk teori, tetapi juga mendukung pertumbuhan spiritual melalui pendampingan, partisipasi dalam komunitas, dan pengalaman Metode ini membantu para pemuda Kristen membangun dasar iman yang kokoh, mengembangkan kesadaran spiritual, dan mempersiapkan mereka untuk menjadi pemimpin di masa depan yang dapat melayani masyarakat dengan komitmen dan tanggung jawab yang Di sisi lain, tantangan di era digital serta perubahan sosial juga berpengaruh pada cara pemuda Kristen menjalani spiritualitas mereka. Oleh karena itu, peran gereja sangat krusial Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025 Implementasi Program Ibadah Seksi Pelayanan Remaja dan Pemuda (SPRP) Jemaat GKE Barimba dalam Pembinaan Karakter untuk menjaga keseimbangan antara nilai-nilai keagamaan dan dinamika kehidupan modern, termasuk menciptakan lingkungan yang relevan dan mendukung spiritualitas pemuda dengan pendekatan yang fleksibel dan inklusif (Wartika, 2. Pergumulan Utama Para remaja dan pemuda di SPRP Barimba menghadapi berbagai pergumulan yang mempengaruhi motivasi dan hasrat mereka untuk rajin beribadah. Salah satu kendala utama adalah dampak kuat dari lingkungan teman seangkatan yang banyak mempengaruhi partisipasi mereka dalam kegiatan ibadah. Ketika sahabat-sahabat terdekat di dalam kelompok memilih untuk tidak beribadah, hal ini menimbulkan tekanan sosial yang cukup besar, sehingga individu merasa kesulitan untuk tetap setia kepada ibadah. Sikap enggan ini tidak hanya disebabkan oleh kurangnya kesadaran spiritual, tetapi juga muncul karena keinginan untuk diterima oleh rekan-rekan sebaya, yang dalam konteks ini cenderung kurang aktif dalam menjalankan ibadah. Lebih jauh lagi, rasa malas yang dialami oleh remaja dan pemuda sering kali disebabkan oleh suasana kebersamaan yang dirasakan tidak menyenangkan atau kurang mendukung dalam kelompok ibadah. Mereka merasa kurang termotivasi ketika lingkungan ibadah tidak menarik bagi mereka atau tidak dapat memenuhi kebutuhan serta minat mereka sebagai generasi muda. Oleh sebab itu, suasana yang hangat, penuh semangat, serta melibatkan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan remaja dan pemuda sangat penting untuk memperkuat keterlibatan mereka. Tantangan lain yang juga cukup penting adalah perbedaan usia yang signifikan antara remaja dan pemuda dalam komunitas SPRP Barimba. Perbedaan usia ini menciptakan dinamika yang terkadang sulit untuk disatukan, mengingat perbedaan dalam tingkat kedewasaan psikologis dan cara berpikir yang cukup berbeda. Remaja, yang masih berada dalam tahap pencarian identitas dan eksplorasi emosional, merasa ragu dan kurang percaya diri untuk bergabung dengan kelompok pemuda yang mempunyai pola pikir yang lebih matang. Ketidaksesuaian ini menciptakan jarak emosional yang menjadi halangan dalam membangun solidaritas dan kebersamaan saat beribadah. Akibatnya, banyak remaja memilih untuk menjauh atau tidak aktif dalam kegiatan ibadah bersama pemuda. Masalah ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih inklusif serta peka terhadap kebutuhan masing-masing kelompok usia. Sebagai contoh, pembentukan kelompok kecil yang khusus untuk remaja dengan metode yang menarik dan sesuai dengan karakteristik mereka dapat meningkatkan motivasi beribadah. Di sisi lain, pemuda harus lebih terbuka serta menjalin komunikasi yang ramah, sehingga perbedaan usia tidak menjadi penghalang, melainkan dapat menjadi sumber kekayaan dalam pengalaman spiritual bersama. Selain itu, penyelenggaraan Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. program yang menggabungkan kedua kelompok ini dalam acara yang menyenangkan dan bermakna dapat menjadi solusi untuk mengecilkan jarak emosional. Pemahaman tentang psikologi perkembangan dan dinamika sosial sangat penting bagi para pendamping rohani serta pemimpin gereja di SPRP Barimba untuk menciptakan suasana yang mendukung bagi pertumbuhan spiritual remaja dan pemuda. Dengan pendekatan yang tepat, diharapkan semangat beribadah yang lebih besar dapat tumbuh serta keterlibatan aktif dalam komunitas iman meningkat, sehingga mereka dapat menjadi generasi yang memiliki karakter yang kuat dan berkomitmen terhadap nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari (Hardi, 2. Kebutuhan Rohani Menurut pembina remaja dan pemuda di SPRP Barimba, kebutuhan spiritual dari remaja dan pemuda saat ini perlu dikembangkan terlebih dahulu di lingkungan keluarga, di mana orang tua memegang peranan penting dalam membimbing anak untuk memahami makna sejati dari ibadah dalam konteks persekutuan keluarga. Salah satu metode yang direkomendasikan adalah dorongan agar anak lebih aktif dalam beribadah, bukan hanya sebagai rutinitas, tetapi dengan memberikan arti dan pengalaman pribadi dari setiap ibadah tersebut sehingga kehidupan rohani mereka bisa berkembang dengan lebih mendalam. Pendekatan ini berfokus pada pembentukan identitas spiritual sejak usia dini dengan bimbingan dari orang tua dan gereja, sehingga remaja tidak hanya patuh secara formal tetapi juga mengalami perubahan tingkah laku yang sesuai dengan firman Tuhan (Matheus & Selfina, 2. Dari sudut pandang Alkitab, hal ini sejalan dengan ajaran yang terdapat dalam Ulangan 6:6-7 yang menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak-anak mereka tentang firman Tuhan: "Segala perintah yang kukatakan kepadamu hari ini haruslah kamu perhatikan, ajarkanlah terus-menerus kepada anak-anakmu dan bicarakanlah saat kamu berada di rumah, saat kamu berjalan, saat kamu berbaring, dan saat kamu bangun. " Ini menunjukkan bahwa pembinaan spiritual tidak hanya berlangsung di gereja, tetapi juga dimulai di rumah, melalui interaksi sehari-hari dengan anak-anak. Strategi Pembinaan dari Rumah Orang tua bisa mulai dengan mengajak remaja untuk berdoa dalam keluarga setiap hari dan melakukan diskusi singkat mengenai firman Tuhan, sehingga ibadah menjadi sebuah pengalaman pribadi yang memperkuat iman secara mandiri. Pembina spiritual seperti di SPRP Barimba menekankan betapa pentingnya bagi orang tua untuk berperan sebagai sahabat dan pendoa syafaat, yang peka terhadap pergolakan identitas remaja sambil menanamkan pemahaman tentang Yesus sebagai Juruselamat. Kerja sama antara rumah dan gereja sangat Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025 Implementasi Program Ibadah Seksi Pelayanan Remaja dan Pemuda (SPRP) Jemaat GKE Barimba dalam Pembinaan Karakter krusial, karena gereja hanya bisa melayani dengan cara yang terbatas sementara orang tua dapat melakukan pembinaan setiap hari (PESTA, 2. Konteks Alkitab bisa dipahami dari Efesus 6:4 yang mengingatkan ayah-ayah: "Dan kamu, para bapak, janganlah membuat anak-anakmu marah, tetapi ajarilah mereka dengan pengajaran dan nasihat dari Tuhan. " Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa pembinaan spiritual harus berlandaskan cinta dan pemahaman, bukan hanya tekanan, sehingga anak-anak merasa didukung dan terinspirasi dalam perjalanan iman mereka. Peran Pembina dan Gereja Pembina remaja di gereja, termasuk dalam konteks seperti SPRP Barimba, memiliki tugas untuk memberikan arahan spiritual melalui pengajaran yang relevan, melibatkan remaja dalam pelayanan yang seperti pujian, dan memantau pertumbuhan spiritual untuk memastikan mereka tidak terjebak dalam rutinitas yang tidak bermakna. Strategi pendidikan agama Kristen yang disesuaikan dengan kebutuhan rohani remaja mencakup pengamatan dan wawancara untuk merumuskan pendekatan yang komprehensif, seperti menangani perilaku menyimpang melalui hubungan keluarga yang harmonis. Pertumbuhan spiritual pemuda melalui ibadah yang rutin dan bermakna membantu mereka tetap kokoh di tengah tantangan masa transisi (Yuliana & Lorensa, 2. Pandangan yang mendasari hal ini dapat ditemukan dalam 1 Timotius 4:12, yang menyatakan: "Jangan biarkan orang lain meremehkan dirimu karena usiamu yang muda, tetapi jadilah panutan bagi semua orang percaya, baik dalam ucapan, perilaku, cinta, keyakinan, dan " Ini menegaskan pentingnya peran pembina dalam menekankan pentingnya perilaku yang baik dan iman yang kuat, serta memberikan contoh yang jelas dalam kehidupan seharihari. Dengan demikian, remaja didorong untuk tidak hanya melakukan ibadah secara formal, tetapi juga untuk merasakan pertumbuhan iman dalam aktivitas sehari-hari. Peran Pendidik Kristen Peran pendidik Kristen dalam mengarahkan remaja dan pemuda saat ini sangat penting, mengingat kompleksitas tantangan yang mereka hadapi dalam menemukan identitas diri. Saat ini, remaja dan pemuda sering menghadapi masalah identitas akibat berbagai pengaruh negatif dari lingkungan sosial dan perkembangan teknologi. Dalam hal ini, pendidik Kristen berfungsi sebagai pemandu dan penuntun spiritual untuk membantu mereka memahami serta memperkuat identitas iman dan nilai-nilai Kristiani yang sejati (Natipulu. Therisia, dan Deak Salah satu hal penting dalam pelayanan ini adalah mendorong remaja dan pemuda untuk terlibat aktif dan bertanggung jawab dalam pelayanan ibadah, seperti yang terlihat dalam Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. konteks SPRP Barimba. Namun, seringkali ditemukan situasi di mana beberapa remaja yang sudah dijadwalkan untuk bertugas tidak menjalankan tanggung jawabnya. Penyebabnya bisa karena rasa takut, kurangnya percaya diri, atau ketidakpahaman mengenai pentingnya pelayanan tersebut sebagai bagian dari pertumbuhan spiritual dan kematangan iman. Untuk itu, pendidik Kristen perlu menciptakan lingkungan yang hangat dan memotivasi remaja agar berani mengambil tanggung jawab dalam pelayanan, sehingga mereka dapat memperoleh pengalaman berharga dalam pembentukan karakter dan kesiapan spiritual (Aritonang & Lumbantobing, 2. Peralihan dari Sekolah Menengah Atas (SMA) ke tahap yang lebih dewasa seringkali menjadi masa yang penuh tantangan bagi remaja dan pemuda dalam melaksanakan peran mereka di ibadah. Pada masa ini, sikap tidak serius dan kecenderungan untuk bersenang-senang di dalam ibadah bisa muncul, karena mereka sedang beradaptasi dengan perubahan psikologis dan sosial. Pendidik Kristen seharusnya sensitif terhadap dinamika ini dengan menggunakan pendekatan yang bijaksana, sabar, dan penuh pengertian. Melalui bimbingan yang konsisten dan pembinaan karakter yang terarah, pendidik dapat menanamkan kesadaran bahwa pelayanan bukan hanya kewajiban, tetapi juga peluang untuk berkembang secara rohani, memperkuat iman, dan mempersiapkan diri untuk melayani di berbagai situasi (Rannu & Sari, 2. Peran pendidikan agama Kristen tidak terbatas hanya pada pengajaran teoretis, tetapi juga mencakup pembentukan karakter remaja dan pemuda. Pendidikan agama berfungsi sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai moral, etika Kristen, dan kepedulian sosial. Dengan membangun karakter yang bertanggung jawab, jujur, dan peka terhadap orang lain, remaja dan pemuda diharapkan menjadi agen perubahan yang dapat memberikan dampak positif di gereja dan masyarakat. Selain itu, pendidikan agama menjadi fondasi yang kuat untuk menghadapi tantangan zaman yang terus berubah, sehingga mereka tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang dapat merusak iman dan moralitas (Walean et al. , 2. Secara keseluruhan, pendidik Kristen memiliki peranan utama dalam mendukung pertumbuhan iman, karakter, dan kemampuan pelayanan remaja dan pemuda. Mereka harus kreatif dalam merancang metode pembelajaran dan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan generasi muda saat ini. Dengan cara ini, keterlibatan remaja dan pemuda dalam pelayanan ibadah dapat meningkat, dan mereka akan menjadi individu yang matang secara spiritual, emosional, dan sosial, siap untuk melayani dengan penuh tanggung jawab di gereja maupun di masyarakat. Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025 Implementasi Program Ibadah Seksi Pelayanan Remaja dan Pemuda (SPRP) Jemaat GKE Barimba dalam Pembinaan Karakter Strategi PAK yang relevan Pendidikan Agama Kristen (PAK) untuk para remaja dan pemuda di SPRP Barimba menunjukkan bahwa metode permainan paling favorit karena cara ini menyenangkan, mudah dalam menangkap makna Firman Tuhan, serta disertai hadiah yang dapat memicu partisipasi Di sisi lain, metode renungan tradisional atau berbagi pengalaman seringkali kurang berhasil karena minimnya konsentrasi dan sedikit peserta yang mau berbagi cerita. Strategi PAK yang sesuai perlu menyesuaikan diri dengan karakter generasi muda yang terus berubah, dengan menyertakan cara interaktif seperti permainan berbasis Alkitab . ontohnya Kahoot untuk kuis rohani atau menebak lagu pujia. , diskusi dalam kelompok kecil, simulasi pelayanan, serta proyek tim untuk membantu pertumbuhan spiritual dan meningkatkan penghayatan nilai Kristen dibandingkan dengan ceramah yang pasif. Penggunaan media seperti aplikasi permainan Kristen daring, video animasi Alkitab, platform interaktif di YouTube, dan tantangan rohani di media sosial membuat proses belajar lebih menarik, mudah diakses, dan membantu pemahaman terhadap konsep teologis yang rumit melalui gambar yang menyenangkan, sehingga mengurangi kebosanan dari metode konvensional. Bentuk kebaktian yang sesuai mencakup kebaktian yang dinamis dengan permainan pembuka, band penyembahan modern, sesi refleksi singkat yang didasarkan pada pengalaman, drama Alkitab, atau permainan escape room yang memadukan hiburan dan keagamaan, ditambah komunitas kecil untuk menciptakan jaringan iman yang membantu remaja dalam menjalani panggilan Tuhan di tengah tantangan sehari-hari. Kegiatan pendampingan yang menyeluruh mencakup bimbingan satu-satu atau dalam kelompok kecil yang berfokus pada masalah transisi usia seperti krisis identitas, kegiatan rohani, pelatihan kepemimpinan, kunjungan pastoral, dan pelayanan kepada masyarakat melalui permainan untuk menyiapkan keterampilan pelayanan nyata, sehingga pertumbuhan spiritual remaja dapat berlangsung secara menyeluruh dan berkesinambungan (Media, 2. KESIMPULAN Perkembangan psikologi, sosial, dan spiritual remaja serta pemuda merupakan proses rumit yang melibatkan transformasi emosional, kognitif, relasi sosial, serta pembentukan identitas dan keimanan yang kuat, di mana masa remaja menjadi periode kritis penuh rintangan seperti pencarian jati diri, pengaruh teman sebaya, serta ketidaksesuaian tingkat kematangan yang menghambat keterlibatan dalam ibadah dan aktivitas gereja di lingkungan SPRP Barimba. Pergumulan utama seperti tekanan sosial, suasana ibadah yang kurang menarik, dan perbedaan usia menekankan betapa esensialnya peran orang tua serta pendidik Kristen dalam Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. menyediakan bimbingan moral dan rohani, sehingga remaja tidak sekadar beribadah secara rutin melainkan mengalami pertumbuhan iman yang autentik dan bermakna melalui pendekatan sabar serta pelayanan yang relevan, mempersiapkan mereka menjadi individu bertanggung jawab yang mampu menghadapi dinamika zaman modern. Saran