Jurnal Klinik dan Riset Kesehatan 2025. Tersedia di w. jk-risk. Jurnal Klinik dan Riset Kesehatan RSUD Dr. Saiful Anwar Malang e-ISSN: 2809-0039 p-ISSN: 2809-2678 Artikel Penelitian Karakteristik Klinis. Keluhan Utama, dan Gambaran Pencitraan MRI pada Pasien Makroadenoma Pituitari di RSUD Dr. Saiful Anwar Clinical Characteristics. Chief Complaints, and MRI Imaging Features of Pituitary Macroadenomas at Dr. Saiful Anwar General Hospital Anggadha Yuniarko Saputra1. Indrastuti Normahayu2 Departemen Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya - RSUD dr Saiful Anwar Malang Ae Departemen Radiologi Fakultas KedokteranIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 2 Departemen Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya - RSUD dr Saiful Anwar Malang Diterima 9 Januari 2025. direvisi -. publikasi 31 Oktober 2025 INFORMASI ARTIKEL Penulis Koresponding: Anggadha Yuniarko Saputra. Departemen Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya - RSUD dr Saiful Anwar Malang Ae Departemen Radiologi Fakultas KedokteranIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Email: anggadhasaputra@gmail. ABSTRAK Pendahuluan: Makroadenoma pituitari merupakan neoplasma jinak pada kelenjar hipofisis yang sering menimbulkan efek massa signifikan, seperti kompresi kiasma optik dan sinus kavernosus, serta gangguan hormonal. Studi terkait karakteristik demografis, keluhan utama, dan pencitraan makroadenoma pituitari di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang komprehensif mengenai karakteristik pasien dengan makroadenoma pituitari di RSUD Dr. Saiful Anwar. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi demografis, keluhan klinis, dan karakteristik pencitraan MRI pada pasien dengan makroadenoma Metode: Penelitian deskriptif retrospektif ini melibatkan 23 pasien yang menjalani pemeriksaan MRI kepala di RSUD Dr. Saiful Anwar selama periode Januari 2020 hingga Desember 2024. Data demografis, keluhan utama, dan hasil pencitraan MRI dianalisis secara deskriptif. Variabel yang dievaluasi meliputi usia, jenis kelamin, keluhan utama, konsistensi tumor, dan intensitas sinyal pada sekuens T1 dan T2. Hasil: Dari 23 pasien, 82,6% adalah perempuan dengan usia rata-rata 46,95 tahun. Keluhan utama paling banyak dilaporkan adalah pandangan kabur . ,5%) akibat kompresi kiasma optik. Sebagian besar tumor bersifat solid . ,6%) dengan dominasi hyperintensitas pada sekuens T2 . ,3%). Ekstensi suprasellar ditemukan pada mayoritas pasien, disertai keterlibatan kiasma optik dan sinus kavernosus. Kesimpulan: Makroadenoma pituitari lebih sering ditemukan pada perempuan usia dewasa pertengahan dengan gangguan penglihatan sebagai keluhan dominan. Pemeriksaan MRI menunjukkan karakteristik konsistensi solid dengan heterogenitas sinyal, menekankan pentingnya evaluasi radiologis untuk diagnosis dini dan perencanaan terapi. Pendekatan multidisiplin diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Kata Kunci: Pituitari. Makroadenoma. MRI. ABSTRACT Introduction: Pituitary macroadenomas are benign neoplasms of the pituitary gland that often cause significant mass effects, such as compression of the optic chiasm and cavernous sinus, as well as hormonal disturbances. Studies on the demographic characteristics, chief complaints, and imaging features of pituitary macroadenomas in Indonesia remain limited. This study aims to provide a comprehensive overview of patients with pituitary macroadenomas at Saiful Anwar General Hospital. Objective: This study aims to analyze the demographic distribution, clinical complaints, and MRI imaging characteristics of patients with pituitary macroadenomas. Methods: This retrospective descriptive study involved 23 patients who underwent brain MRI at Saiful Anwar General Hospital between January 2020 and December Saputra AY. Normahayu I. Karakteristik Klinis. Keluhan Utama, dan Gambaran Pencitraan MRI pada Pasien Makroadenoma Pituitari di RSUD Dr. Saiful Anwar, 2025. :15-25. DOI:10. 11594/jk-risk. | 15 Saputra AY. Normahayu I Demographic data, chief complaints, and MRI imaging findings were analyzed Variables evaluated included age, gender, chief complaints, tumor consistency, and signal intensity on T1- and T2-weighted sequences. Results: Among the 23 patients, 82. 6% were female, with a mean age of 46. 95 years. The most frequently reported complaint was blurred vision . 5%), caused by optic chiasm compression. Most tumors were solid . 6%), with hyperintensity dominance on T2-weighted sequences . 3%). Suprasellar extension was observed in most patients, involving the optic chiasm and cavernous sinus. Conclusion: Pituitary macroadenomas are more commonly found in middle-aged females, with visual disturbances being the dominant complaint. MRI revealed solid consistency with signal heterogeneity, emphasizing the importance of radiological evaluation for early diagnosis and therapeutic planning. A multidisciplinary approach is essential to improve patient quality of life. Keywords: Pituitary. Macroadenoma. MRI. PENDAHULUAN Adenoma pituitari merupakan neoplasma jinak yang paling sering ditemukan pada kelenjar hipofisis, mencakup 10-15% dari semua tumor intrakranial. Berdasarkan ukuran, adenoma pituitari dibagi menjadi mikroadenoma, dengan diameter kurang dari 10 mm, dan makroadenoma, dengan diameter lebih dari 10 mm. Makroadenoma memiliki signifikansi klinis yang lebih besar karena ukurannya yang substansial sering menimbulkan efek massa pada struktur anatomis di sekitarnya, seperti kiasma optik, sinus kavernosus, dan hipotalamus. Efek tersebut dapat menyebabkan gangguan neurologis, seperti hemianopsia bitemporal dan sakit kepala kronis, serta disfungsi hormonal yang berujung pada hipopituitarisme. Makroadenoma juga dapat bersifat menghasilkan hormon berlebihan seperti prolaktin, hormon pertumbuhan, atau ACTH, sehingga memicu sindrom klinis seperti hiperprolaktinemia, akromegali, atau penyakit Cushing. Secara global, insidensi adenoma pituitari cukup tinggi. Studi radiologi dan otopsi menunjukkan prevalensi adenoma pituitari berkisar antara 10-20% pada populasi umum, di mana sebagian besar bersifat asimtomatik atau ditemukan secara kebetulan. Namun, makroadenoma pituitari yang menimbulkan gejala klinis memiliki prevalensi yang lebih rendah, diperkirakan terjadi pada 1 dari 1. 000 individu. Kondisi ini menjadi tantangan klinis karena gejala yang muncul sangat bervariasi, tergantung pada ukuran tumor, lokasi, serta sifat fungsional atau non-fungsionalnya. Tumor ini tidak hanya mengganggu fungsi pituitari normal tetapi juga berpotensi menginvasi struktur neurovaskular di sekitarnya, yang dapat memperburuk morbiditas pasien. Dalam proses diagnosis makroadenoma pituitari, pencitraan radiologis memainkan peran penting, terutama Magnetic Resonance Imaging (MRI) yang menjadi modalitas pilihan. MRI memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dalam mendeteksi tumor, menggambarkan ukuran, lokasi, serta ekstensi tumor ke struktur sekitarnya secara lebih jelas dibandingkan CT-Scan. Pemeriksaan ini juga memberikan informasi yang akurat untuk perencanaan tatalaksana, baik pembedahan maupun terapi lanjutan, serta evaluasi pascaoperasi. Dengan kemampuannya dalam memberikan detail struktur jaringan lunak. MRI memungkinkan identifikasi dini terhadap keterlibatan kiasma optik, sinus kavernosus, dan komponen kistik atau hemoragik pada tumor. Meskipun makroadenoma pituitari memiliki dampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien, studi terkait karakteristik demografis, keluhan utama, dan gambaran pencitraan pada populasi lokal, khususnya di Indonesia, masih terbatas. Data yang ada umumnya bersifat global dan belum JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 16 Karakteristik Klinis. Keluhan Utama, dan Gambaran Pencitraan MRI pada Pasien Makroadenoma Pituitari di RSUD Dr. Saiful Anwar merefleksikan karakteristik spesifik pasien di tingkat regional atau institusi tertentu. Hal ini penting untuk dipelajari lebih lanjut, mengingat adanya perbedaan karakteristik populasi, akses terhadap layanan kesehatan, serta variasi praktik klinis dalam diagnosis dan manajemen penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik demografis dan gambaran pencitraan pada pasien dengan diagnosis makroadenoma pituitari di RSUD Saiful Anwar. Fokus penelitian ini meliputi distribusi jenis kelamin, rentang usia, keluhan utama yang dialami pasien, serta karakteristik radiologis tumor berdasarkan hasil pemeriksaan MRI kepala. Data ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kondisi makroadenoma pituitari di lingkungan klinis setempat serta menjadi dasar dalam pengembangan protokol diagnostik dan tatalaksana yang lebih efektif. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya dalam diagnosis dan penanganan pasien dengan makroadenoma pituitari, serta menjadi referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya. Dengan memahami distribusi demografis, gejala klinis, dan karakteristik radiologis yang muncul, penelitian ini dapat memberikan manfaat langsung, baik secara akademis maupun klinis. Data yang diperoleh diharapkan dapat membantu dokter spesialis radiologi, endokrinologi, serta bedah saraf dalam merancang pendekatan yang lebih tepat untuk diagnosis dini dan pengelolaan makroadenoma pituitari. Selain itu, penelitian ini juga dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pasien untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap kondisi penyakit yang dialami serta mendorong kepatuhan terhadap pengobatan yang direkomendasikan. Pemahaman yang lebih mendalam terhadap makroadenoma pituitari dapat mendukung kualitas layanan kesehatan di tingkat lokal. METODE Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif yang bertujuan untuk menganalisis karakteristik demografis dan gambaran pencitraan MRI pada pasien dengan diagnosis makroadenoma pituitari. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Saiful Anwar. Malang, yang merupakan rumah sakit rujukan dengan fasilitas pemeriksaan pencitraan yang memadai. Penelitian ini dilaksanakan selama periode Januari 2020 hingga Desember 2024. Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini meliputi semua pasien dengan diagnosis makroadenoma pituitari yang telah menjalani pemeriksaan MRI kepala di RSUD Dr. Saiful Anwar. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah pasien dengan diagnosis makroadenoma pituitari yang dikonfirmasi melalui hasil pencitraan MRI dan memiliki data rekam medis yang lengkap, termasuk data demografis, keluhan utama, dan hasil evaluasi radiologis. Kriteria eksklusi adalah pasien dengan data tidak lengkap, riwayat prosedur pembedahan sebelumnya, atau memiliki lesi intrakranial lain yang dapat mengganggu interpretasi gambaran MRI. Teknik purposive sampling digunakan untuk mendapatkan sampel sesuai dengan kriteria Variabel Penelitian Variabel bebas dalam penelitian ini meliputi data demografis, seperti jenis kelamin dan usia pasien. Variabel tergantung adalah karakteristik gambaran pencitraan MRI, yang mencakup ukuran tumor, lokasi, ekstensi suprasellar, keterlibatan kiasma optik, sinus kavernosus, serta komponen kistik atau hemoragik pada tumor. Pengumpulan Data JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 17 Saputra AY. Normahayu I Data dikumpulkan secara retrospektif dari rekam medis pasien dan arsip pencitraan MRI di bagian radiologi RSUD Dr. Saiful Anwar. Interpretasi gambaran MRI dilakukan oleh dokter spesialis radiologi yang protokol pemeriksaan standar. Parameter yang dievaluasi meliputi ukuran tumor dalam milimeter, lokasi tumor . ellar, suprasellar, atau ekstensi ke struktur lai. , serta karakteristik internal tumor . istik, padat, atau hemoragi. Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, serta nilai rata-rata dan simpangan baku untuk variabel kontinu. Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel dan grafik untuk memudahkan interpretasi Seluruh proses analisis dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak statistik yang sesuai. Etika Penelitian Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan RSUD Dr. Saiful Anwar dengan nomor 400/267/K. 3/102. 7/2024. Seluruh data pasien yang dikumpulkan dijaga kerahasiaannya sesuai prinsip etik penelitian HASIL Gambaran Demografis Pasien Makroadenoma Pituitari Penelitian ini melibatkan 23 pasien dengan diagnosis makroadenoma pituitari yang menjalani pemeriksaan pencitraan MRI di RSUD Dr. Saiful Anwar. Usia termuda pasien adalah 8 tahun, sedangkan usia tertua mencapai 77 tahun. Rata-rata usia pasien adalah 46,95 tahun dengan simpangan baku A14,76 tahun, yang menunjukkan variasi yang cukup besar dalam rentang usia. Nilai modus usia adalah 45, 48, 54, 58, dan 59 tahun, di mana masing-masing usia tersebut diisi oleh 2 pasien. Hal ini menggambarkan bahwa sebagian besar pasien berada pada usia dewasa pertengahan hingga lanjut. Distribusi jenis kelamin menunjukkan dominasi pasien perempuan sebanyak 19 orang . ,6%), sedangkan pasien lakilaki hanya 4 orang . ,4%). Proporsi ini memperlihatkan ketidakseimbangan yang signifikan antara jenis kelamin, dengan insidensi makroadenoma pituitari lebih banyak ditemukan pada perempuan. Gambaran Distribusi Keluhan Utama Pasien Makroadenoma Pituitari Keluhan utama yang paling banyak dilaporkan oleh pasien adalah pandangan kabur, yang dialami oleh 10 orang . ,5%). Gangguan penglihatan ini erat kaitannya dengan kompresi kiasma optik akibat ekstensi suprasellar dari tumor. Keluhan kombinasi antara nyeri kepala dan pandangan kabur dilaporkan oleh 8 orang . ,8%), yang menunjukkan adanya efek massa tumor yang menekan struktur sekitarnya serta peningkatan tekanan intrakranial. Sebanyak 3 orang . ,0%) hanya melaporkan nyeri kepala sebagai keluhan utama, tanpa gangguan penglihatan yang Keluhan ini mungkin disebabkan oleh iritasi dura mater atau peningkatan tekanan intrakranial lokal akibat tumor yang Sementara itu, lapang pandang menyempit merupakan keluhan yang paling jarang dilaporkan, hanya ditemukan pada 2 orang . ,7%) dari total pasien. Data ini menunjukkan bahwa gangguan penglihatan merupakan manifestasi klinis yang dominan pada pasien makroadenoma pituitari. Karakteristik Gambaran MRI Pasien Makroadenoma Pituitari Berdasarkan pemeriksaan pencitraan MRI, karakteristik konsistensi tumor menunjukkan bahwa mayoritas lesi bersifat solid, yang ditemukan pada 16 kasus . ,6%). Konsistensi kistik lebih jarang ditemukan, dengan jumlah 7 kasus . ,4%). Konsistensi solid pada lesi menunjukkan adanya kepadatan jaringan yang lebih kompak, sedangkan komponen kistik JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 18 Karakteristik Klinis. Keluhan Utama, dan Gambaran Pencitraan MRI pada Pasien Makroadenoma Pituitari di RSUD Dr. Saiful Anwar mengindikasikan proses degeneratif atau perubahan sekunder dalam tumor. Pada pemeriksaan sekuens T1weighted MRI, hipointensitas adalah temuan yang paling umum ditemukan, terlihat pada . ,5%). Hyperintensitas ditemukan pada 7 kasus . ,4%), sedangkan isointensitas dilaporkan pada 6 kasus . ,1%). Variasi ini mencerminkan heterogenitas jaringan tumor makroadenoma pituitari. Sementara itu, pada sekuens T2weighted MRI, gambaran hyperintensitas mendominasi, ditemukan pada 18 kasus . ,3%). Hipointensitas terlihat pada 4 kasus . ,4%), sedangkan isointensitas hanya muncul pada 1 kasus . ,3%). Dominasi hyperintensitas pada sekuens T2 menunjukkan adanya komponen dengan kandungan air yang tinggi di dalam lesi tumor. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makroadenoma pituitari lebih sering ditemukan pada pasien perempuan dengan usia rata-rata 46,95 tahun. Keluhan utama yang dominan adalah gangguan penglihatan, seperti pandangan Pencitraan MRI mengidentifikasi karakteristik konsistensi solid pada sebagian besar lesi, dengan intensitas sinyal yang bervariasi, baik pada sekuens T1 maupun T2. Gambar 1 T1 Pre Kontras (Solid Makroadenom. Gambar 2 T1 Post Kontras (Solid Makroadenom. JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 19 Saputra AY. Normahayu I Gambar 3 T2 Axial (Solid Makroadenom. Tabel 1. Gambaran Demografis Pasien Makroadenoma Pituitari Parameter Usia Min Mean (A SD) Max Modus Parameter Jenis Kelamin Pria Wanita Tahun 46,95 A 14,76 45, 48, 54, 58, 59 Jumlah, n (%) 23 . Tabel 2. Gambaran Distribusi Keluhan Utama Pasien Makroadenoma Pituitari Keluhan Utama Nyeri Kepala dan Pandangan Kabur Nyeri Kepala Saja Pandangan Kabur Saja Lapang Pandang Menyempit Tabel 3. Karakteristik Gambaran MRI Pasien Makroadenoma Pituitari Karakteristik Gambaran MRI Konsistensi Solid Kistik Gambaran T1 Hipointens Isointens Hyperintens Gambaran T2 Hipointens Isointens Hyperintens PEMBAHASAN Interpretasi Karakteristik Demografis Pasien Makroadenoma Pituitari Penelitian ini menunjukkan bahwa Jumlah n, (%) 8 . Jumlah, n(%) 16 . makroadenoma pituitari lebih banyak ditemukan pada perempuan, dengan proporsi 82,6%, dibandingkan laki-laki yang hanya mencapai 17,4%. Temuan ini sejalan JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 20 Karakteristik Klinis. Keluhan Utama, dan Gambaran Pencitraan MRI pada Pasien Makroadenoma Pituitari di RSUD Dr. Saiful Anwar dengan beberapa studi sebelumnya yang melaporkan tingginya insidensi adenoma pituitari, termasuk makroadenoma, pada populasi perempuan. Salah satu alasan yang dapat menjelaskan fenomena ini adalah perbedaan faktor hormonal antara laki-laki dan perempuan. Estrogen, yang memiliki efek proliferatif terhadap jaringan hipofisis, diyakini berperan dalam perkembangan adenoma, terutama prolaktinoma, yang seringkali ditemukan pada pasien perempuan usia Dari segi usia, hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata usia pasien adalah 46,95 tahun dengan simpangan baku 14,76 tahun. Usia ini berada pada rentang dewasa pertengahan hingga lanjut, yang merupakan kelompok usia dengan risiko tertinggi untuk mengalami makroadenoma Hal ini konsisten dengan literatur yang menyebutkan bahwa makroadenoma lebih sering terdiagnosis pada usia 40Ae60 tahun, meskipun kasus pada usia muda dan lanjut usia juga tetap ditemukan. Usia termuda dalam penelitian ini, yaitu 8 tahun, menunjukkan adanya potensi manifestasi makroadenoma pituitari pada usia anakanak, meskipun jarang terjadi. Dalam konteks usia lanjut, pasien tertua yang berusia 77 tahun menegaskan bahwa makroadenoma pituitari juga dapat berkembang seiring proses penuaan, di mana mekanisme degenerasi seluler dan gangguan regulasi hormon pertumbuhan mungkin berperan. Perbedaan rentang usia ini menggarisbawahi pentingnya pemantauan klinis yang lebih cermat pada pasien di kelompok usia ekstrem, baik anakanak maupun lanjut usia, karena manifestasi klinis dan tatalaksana dapat berbeda dibandingkan populasi usia dewasa. Analisis Keluhan Utama Pasien Keluhan utama yang paling sering dilaporkan dalam penelitian ini adalah pandangan kabur, yang dialami oleh 43,5% Gejala ini erat kaitannya dengan kompresi kiasma optik, struktur saraf yang terletak di atas sella turcica. Pada makroadenoma pituitari, pertumbuhan tumor yang meluas ke arah suprasellar dapat menekan kiasma optik, menyebabkan gangguan lapang pandang klasik berupa hemianopsia Pandangan kabur menjadi keluhan dominan karena struktur optik ini sangat rentan terhadap efek massa yang ditimbulkan oleh tumor yang membesar. Keluhan kombinasi antara nyeri kepala dan pandangan kabur dilaporkan oleh 34,8% pasien, yang mengindikasikan adanya tekanan intrakranial akibat peningkatan volume massa tumor. Nyeri kepala umumnya bersifat frontotemporal atau retro-orbital dan muncul akibat peregangan dura mater atau kompresi struktur vaskular di sekitar sella. Hubungan antara nyeri kepala dan gangguan penglihatan ini menggarisbawahi pentingnya evaluasi klinis yang menyeluruh untuk mendeteksi keterlibatan struktur otak di sekitarnya. Keluhan nyeri kepala saja, yang dilaporkan oleh 13,0% pasien, mungkin terjadi pada fase awal perkembangan makroadenoma, di mana efek massa masih terbatas pada peningkatan tekanan lokal. Sementara itu, keluhan lapang pandang menyempit ditemukan pada 8,7% pasien, yang menunjukkan tingkat progresivitas lebih lanjut dari kompresi kiasma optik. Rendahnya proporsi keluhan ini dapat disebabkan oleh kurangnya deteksi dini atau keterbatasan pasien dalam mengenali perubahan lapang Temuan ini konsisten dengan literatur yang menyebutkan bahwa gejala neurologis dan visual adalah manifestasi utama makroadenoma pituitari. Namun, penting untuk diingat bahwa variasi keluhan klinis dapat dipengaruhi oleh ukuran, lokasi, dan sifat tumor . ungsional atau nonfungsiona. , sehingga pendekatan diagnostik berbasis pencitraan menjadi krusial dalam praktik klinis. JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 21 Saputra AY. Normahayu I Karakteristik Gambaran MRI dan Implikasinya Pencitraan MRI menjadi modalitas pilihan dalam evaluasi makroadenoma pituitari karena kemampuannya dalam memberikan gambaran anatomi jaringan lunak dengan resolusi tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa konsistensi solid adalah karakteristik yang paling umum ditemukan pada 69,6% pasien, sedangkan kistik hanya ditemukan pada 30,4% pasien. Lesi solid umumnya mencerminkan proliferasi seluler yang lebih padat, yang dapat dikaitkan dengan tumor non-fungsional atau agresif. Sementara itu, komponen kistik dapat mengindikasikan proses degeneratif, nekrosis, atau perdarahan intratumoral, yang sering ditemukan pada makroadenoma berukuran besar. Pada sekuens T1-weighted MRI, hasil penelitian menunjukkan bahwa hipointensitas merupakan temuan paling dominan, ditemukan pada 43,5% pasien. Gambaran hipointens ini biasanya menggambarkan jaringan dengan densitas rendah, seperti edema atau nekrosis, yang sering ditemukan pada tumor jinak dengan ukuran besar. Hyperintensitas, yang terlihat pada 30,4% pasien, dapat mengindikasikan adanya komponen kistik atau perdarahan subakut dalam lesi. Sementara itu, isointensitas, yang dilaporkan pada 26,1% pasien, menunjukkan sifat jaringan yang relatif seragam dibandingkan jaringan otak sekitarnya. Pada sekuens T2-weighted MRI, hyperintensitas mendominasi, ditemukan pada 78,3% pasien. Gambaran ini menunjukkan kandungan air yang tinggi di dalam lesi, yang sering dikaitkan dengan edema atau perubahan kistik pada tumor. Sebaliknya, hipointensitas, yang terlihat pada 17,4% pasien, mungkin mencerminkan perdarahan kronis atau komponen fibrotik dalam tumor. Variasi ini menunjukkan heterogenitas karakteristik internal makroadenoma pituitari dan pentingnya interpretasi radiologis yang komprehensif dalam menentukan diagnosis serta perencanaan terapi. Ekstensi tumor ke struktur sekitarnya juga menjadi perhatian penting dalam penelitian ini. Mayoritas tumor menunjukkan ekstensi suprasellar, yang bertanggung jawab atas kompresi kiasma optik dan manifestasi visual. Beberapa kasus menunjukkan keterlibatan sinus kavernosus, yang berpotensi menyebabkan kompresi saraf kranial i. IV. V, dan VI, memicu gejala seperti oftalmoplegia, diplopia, atau nyeri wajah. Evaluasi lokasi dan ekstensi tumor melalui MRI menjadi dasar penting dalam menentukan pendekatan terapi, baik pembedahan transsphenoidal maupun radioterapi. Implikasi Klinis dan Keterbatasan Penelitian Hasil penelitian ini memiliki beberapa implikasi klinis yang penting. Pertama, dominasi gangguan visual sebagai keluhan utama menekankan pentingnya pemeriksaan oftalmologi rutin pada pasien dengan kecurigaan makroadenoma pituitari. Evaluasi visual dini dapat membantu mendeteksi kompresi kiasma optik sebelum kerusakan permanen terjadi, yang sering kali ditemukan pada pasien dengan tumor berukuran besar. Kedua, karakteristik gambaran MRI yang bervariasi menunjukkan perlunya pendekatan individual dalam penanganan, terutama dalam mengevaluasi agresivitas tumor dan merencanakan tindakan bedah. Lesi dengan invasi sinus kavernosus atau komponen kistik dapat memengaruhi strategi pengobatan dan prognosis pasien. Dalam konteks diagnosis banding, penting untuk mempertimbangkan beberapa lesi sellar dan parasellar yang dapat menyerupai makroadenoma pituitari pada gambaran MRI. Kraniofaringioma dapat menunjukkan gambaran kistik dengan kalsifikasi. , meningioma sellar memiliki karakteristik "dural tail sign" dan enhancement yang homogen. , sedangkan metastasis dapat menunjukkan peningkatan yang cepat JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 22 Karakteristik Klinis. Keluhan Utama, dan Gambaran Pencitraan MRI pada Pasien Makroadenoma Pituitari di RSUD Dr. Saiful Anwar dengan erosi tulang yang lebih agresif. Selain itu, kista Rathke's cleft biasanya memiliki intensitas sinyal yang khas pada T1 dan T2. , sementara aneurisma arteri karotis interna dapat menunjukkan signal void pada MRI konvensional. Oleh karena itu, interpretasi yang cermat terhadap karakteristik spesifik pada MRI, dikombinasikan dengan pemeriksaan klinis dan endokrin yang komprehensif, sangat penting untuk menegakkan diagnosis yang tepat. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan yang perlu diperhatikan. Desain retrospektif membuat penelitian ini bergantung pada data sekunder dari rekam medis, yang mungkin tidak selalu lengkap dan beberapa kasus makroadenoma , pasien tidak kembali untuk follow up diagnosis dan Selain itu, jumlah sampel yang relatif kecil dan lokasi penelitian yang terbatas pada satu pusat kesehatan dapat memengaruhi generalisasi temuan ini. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, penelitian prospektif dengan ukuran sampel yang lebih besar dan melibatkan beberapa pusat kesehatan direkomendasikan. Selain itu, evaluasi fungsi hormonal melalui pengukuran kadar hormon hipofisis akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang profil klinis makroadenoma Penelitian lanjutan yang mengkaji outcome klinis setelah intervensi, seperti pembedahan atau radioterapi, juga akan sangat bermanfaat untuk memahami efektivitas terapi dan prognosis pasien. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa makroadenoma pituitari lebih banyak ditemukan pada perempuan dengan usia rata-rata 46,95 tahun, dan keluhan utama berupa gangguan penglihatan seperti pandangan kabur . ,5%). Pencitraan MRI mengidentifikasi lesi solid pada sebagian besar pasien . ,6%) dengan intensitas sinyal bervariasi, di mana hyperintensitas pada T2 menjadi temuan dominan. Ekstensi tumor ke kiasma optik dan sinus kavernosus sering menyebabkan komplikasi visual dan neurologis. Pemeriksaan MRI berperan penting dalam diagnosis dan perencanaan terapi, menekankan pentingnya evaluasi dini dan pendekatan multidisiplin untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan makroadenoma pituitari. UCAPAN TERIMA KASIH Kami mengucapkan terima kasih kepada RSUD Dr. Saiful Anwar. Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, serta para dokter dan staf radiologi atas kontribusi dan dukungan dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA