Journal of Student Research (JSR) Vol. No. 4 Juli 2023 e-ISSN: 2963-9697. p-ISSN: 2963-9859. Hal 159-167 DOI: https://doi. org/10. 55606/jsr. Analisis Penerapan Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K. Pada Proyek Kontruksi Di Indonesia Vicky Zulkarnain Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya Danny Alfiyan Saputra Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya Niko Hasby Yahya Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya Muhammad Sabrie Aditya Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya Denny Oktavina Radianto Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya vickyzulkarnain@student. Abstract. Construction companies have a high enough risk of work so that in its implementation Occupational Safety and Health (K. management is needed. management is one of the efforts to minimize the risk of work accidents and hazards in the field. This study aims to determine the implementation of K3 management in construction projects in Indonesia. The method used is through a literature study by examining several construction projects in Indonesia and analyzing the application of existing K3 principles. The results showed that 3 out of 5 construction projects in Indonesia have implemented K3 management quite well, while the rest are still very minimal due to workers' lack of knowledge about the importance of implementing K3. The results of the study also explain that the application of K3 in large-scale construction projects in Indonesia has been carried out quite well, but for small-scale projects, the K3 aspect tends to be ignored. Keywords: K3, safety, occupational health, construction project Abstrak. Perusahaan kontruksi memiliki risiko pekerjaan yang cukup tinggi sehingga dalam pelaksanaannya diperlukan manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. Manajemen K3 merupakan salah satu upaya yang untuk meminimalisir risiko kecelakaan kerja dan bahaya dilapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan manajamen K3 pada proyek kontruksi di Indonesia. Metode yang digunakan yaitu melalui studi literatur dengan menelaah beberapa proyek kontruksi di Indonesia dan analisis penerapan prinsip K3 yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 dari 5 proyek kontruksi di Indonesia telah menerapkan manajemen K3 dengan cukup baik, adapun sisanya masih sangat minim akibat kurangnya pengetahuan pekerja akan pentingnya pelaksanaan K3. Hasil penelitian juga menjelaskan bahwa penerapan K3 pada proyek konstruksi berskala besar di Indonesia sudah terlaksana cukup baik namun untuk proyek berskala kecil aspek K3 cenderung tidak diperhatikan. Kata kunci: K3, keselamatan, kesehatan kerja, proyek konstruksi Received Mei 30, 2023. Revised Juni 2, 2023. Juli 22, 2023 * Vicky Zulkarnain, vickyzulkarnain@student. ANALISIS PENERAPAN MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K. PADA PROYEK KONTRUKSI DI INDONESIA LATAR BELAKANG Sebagai negara berkembang Indonesia memiliki banyak proyek pembangunan yang harus dilaksanakan. Pembangunan ini biasanya berkaitan dengan proyek kontruksi seperti pembangunan perumahan, jalan raya, bangunan gedung, kontruksi sipil maupun proyekproyek kontruksi pemerintah lainnya. Biasanya pekerjaan di bidang kontruksi menyangkut banyak hal seperti material, tenaga kerja, dan peralatan kerja khusus yang perlu diperhatikan standarisasinya. Oleh karena itu, pekerjaan kontruksi memiliki resiko kecelakaan yang cukup tinggi sehingga diperlukan manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. merupakan upaya pencegahan untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan dan kejadian tidak diinginkan lainnya saat bekerja. Setiap perusahaan yang memiliki resiko dalam pekerjaannya wajib menerapkan prinsip dan strandarisasi ini. Menurut Atmaja . , kegiatan utama dari K3 berkaitan dengan upaya mengidentifikasi, mengevaluasi, mengsubsidi dan melakukan pengendalian resiko Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk sistem keselamatan dan kesehatan kerja yang lebih memperhatikan tenaga kerja, manajemen keselamatan, dan kondisi lingkungan di tempat kerja agar dapat mengurangi risiko penyakit dan kecelakaan yang mungkin Upaya ini juga dilakukan untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, aman, dan produktif. Pedoman K3 telah dibentuk oleh Kemeterian Ketenagakerjaan dan Kementerian Kesehatan yang berisi tentang upaya pencegahan dan meminimalisir risiko kecelakaan kerja serta penyakit yang timbul akibat pekerjaan. Namun nyatanya di lapangan tidak semua perusahaan yang mengerti dan menerapkan manajemen K3 dengan baik. Kurang dari 10% perusahaan yang telah memahami dan melaksanakan manajemen K3 di Indonesia (Mirajhusnita dkk, 2. Mengingat risiko tinggi dari pekerjaan kontruksi maka penerapan manajemen K3 sangat diperlukan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan dan penerapan manajemen K3 di perusahaan-perusahaan kontruksi di Indonesia dan faktor-faktor penghambat pelaksanaan K3 di Indonesia. KAJIAN TEORITIS JSR - VOLUME 1. NO. JULI 2023 Journal of Student Research (JSR) Vol. No. 4 juli 2023 e-ISSN: 2963-9697. p-ISSN: 2963-9859. Hal 159-167 Salah satu pekerjaan yang melibatkan banyak hal adalah pekerjaan dibidang Kompleksitas dari pekerjaan ini terdapat pada material, peralatan kerja dan tenaga kerjanya sehingga membuat risiko kecelakaan kerja dibidang ini semakin tinggi (Suryan, 2. Data dari BPJS Ketenagakerjaan tahun 2018 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kasus kecelakaan kerja dengan 4. 678 kasus menyebabkan kematian dan 439 kasus mengakibatkan cacat dari total sebanyak 157. 000 kasus. Jumlah ini terus meningkat di tahun 2020 terjadi sebanyak 177. 000 kasus kecelakaan kerja terutama dibidang kontruksi yang kebanyakan kasusnya disebabkan karena kelalaian manusia . %) (Nurdianti, 2. International Labour Organization (ILO) tahun 2011 menyatakan bahwa kasus kecelakaan fatal sering terjadi di lokasi kontuksi, sebanyak satu dari enam kecelakaan terjadi dengan tidak kurang dari 60. 000 kasus kecelakaan terjadi di seluruh dunia tiap Beberapa contoh kecelaakan kerja yang terjadi diproyek kontruksi seperti tertimpa dan terjebak reruntuhan bangunan, jatuh dari ketinggian, ancaman tersengat listrik, kecelakaan alat berat, terkena zat beracun maupun paparan api dan ancaman kesehatan lainnya (Indah, 2. Mengingat adanya risiko tinggi tersebut maka penting diterapkan prinsip K3 dalam pekerjaan. Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umun No. 9 Tahun 2008 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dijelaskan bahwa AuKesehatan Kerja (K. adalah pemberian perlindungan kepada setiap orang yang berada di tempat kerja, yang berhubungan dengan pemindahan bahan baku, penggunaan peralatan kerja konstruksi, proses produksi dan lingkungan sekitar tempat kerja. Ay Adapun peraturan ini diperbarui kembali pada Peraturan Menteri PUPR No. 5 Tahun 2014. Dalam peraturan ini disebutkan bahwa AuKonstruksi (K3 Konstruks. adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja pada pekerjaan konstruksi. Ay Di Indonesia sendiri peraturan akan manajemen dan pelaksanaan K3 telah diatur dalam beberapa peraturan seperti UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. UU No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. PERMEN No. 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja. Adapun untuk standar JSR - VOLUME 1. NO. JULI 2023 ANALISIS PENERAPAN MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K. PADA PROYEK KONTRUKSI DI INDONESIA internasional diberlakukan OHSAS 18001 (Occupational Health and Safety Management System:18. yang dibentuk oleh British Standard Institution pada tahun 1999, dan PBB juga mengeluarkan standarisasi internasional melalui ISO 45001 tentang sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja. Tujuan utama dibentuknya manajemen K3 adalah untuk mengurangi bahkan menghilangkan risiko akan kecelakaan kerja yang dialami pekerja dan untuk mengelola aktivitas organisasi demi tercapainya keselamatan dan memberikan kenyamanan kerja sehingga akan memudahkan tercapainya tujuan organisasi (Devi, 2. Untuk melaksanakan standarisasi K3 yang tepat maka perusahaan harus memahami syaratsyarat pelaksanaan K3. Beberapa syarat ini seperti. Pembinaan K3, kegiatan ini berupa sosialisasi K3 bagi semua pekerja di seluruh tingkatan jabatan. Kondisi fisik lingkungan kerja, meliputi ruang tertutup maupun terbuka tempat pekerja bekerja. Proses kerja, meliputi seluruh kegiatan yang dilaksanakan dan harus disesuaikan dengan pengetahuan pekerjanya. Alat-alat Pelingdung Diri (APD), bagi setiap tenaga kerja terutama mereka yang bekerja dilapangan penggunaan APD sangat penting untuk melindung diri dari berbagai bahaya atau risiko yang mungkin terjadi selama kegiatan berlangsung (Atmaja, 2. Beberapa penyebab dari kecelakaan kerja dibidang kontruksi biasanya disebabkan oleh kelalaian manusia dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan ini meliputi beberapa hal seperti peralatan dan perlengkapan kerja yang tidak memadai, adanya tekanan terhadap jadwal pekerjaan, kurangnya pelatihan K3 dan kurangnya pengawasan akan keselamatan pekerja (Febrianti, 2. Hal ini menjadi hambatan atau kendala dalam pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja oleh karena itu perusahaan perlu melakukan upaya lebih serius dalam pelaksanaan K3 agar risiko dari pekerjaan kontruksi dalam seminim mungkin di kendalikan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan menelaah dan memahami beberapa penelitian terkait dengan pelaksanaan prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. pada proyek kontruksi di berbagai kota di Indonesia. Beberapa penelitian yang digunakan seperti penerapan K3 pada pelaksanaan proyek kontruksi di Kota Padang. JSR - VOLUME 1. NO. JULI 2023 Journal of Student Research (JSR) Vol. No. 4 juli 2023 e-ISSN: 2963-9697. p-ISSN: 2963-9859. Hal 159-167 proyek pembangunan Rumah Sakit Mitra di Kabupaten Tegal, proyek bangunan gedung di Cirebon, dan proyek pembangunan rumah susun di Sumatera Utara serta penerapan K3 pada pelaksanaan kontruksi di Surabaya. Hasil dari analisis 5 jurnal penelitian ini kemudian digunakan untuk mengidentifikasi bagaimana pelaksanaan manajemen K3 pada proyek kontruksi serta mengkaji faktor penyebab dari belum maksimalnya pelaksanaan manajemen K3 di Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Hasil analisis pada proyek kontruksi gedung di kota Padang menunjukkan bahwa penerapan sistem pelaksanaan K3 masih sangat minim, hal ini disebabkan karena banyak tenaga kerja yang berfikir bahwa keselamatan kerja tidak terlalu penting sehingga cenderung untuk menyepelekannya. Hal ini juga diperparah dengan kurangnya kesadaran dari pekerja mengenai bahaya kecelakaan kerja maupun bahaya kesehatan lainnya, selain itu dari perusahaan juga dinilai kurang ketat menerapkan prosedur K3 pada proyek yang dilaksanakan (Atmaja, 2. Penelitian mengenai pembangunan rumah susun di Kota Medan juga menunjukan hasil yang sama, dimana ditemukan beberapa kendala sebagai faktor penghambat program K3 di proyek kontruksi salah satunya mengenai pemahaman para pekerja mengenai K3 yang masih minim. Banyak pekerja yang beranggapan bahwa penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) bukanlah suatu kebutuhan pokok saat melakukan pekerjaan, mereka cenderung merasa tidak nyaman menggunakan APD (Saragi, 2. Hasil lain ditunjukkan pada penelitian mengenai penerapan K3 pada proyek bangunan di Kabupaten Cirebon sebanyak 60% responden telah menerapkan penggunaan APD. Pada aspek pengelolaan kondisi darurat diketahui bahwa tingkat penerapan K3 sebesar 75%, adapun tingkat penerapan K3 pada aspek pekerjaan struktur sebanyak 66,7% responden telah melaksanakan. Selain itu pada aspek penggunaan bahan berbahaya dan beracun diketahui sebanyak 62,9% telah diterapkan dan 89,2 % hasil yang diperoleh pada aspek kesehatan dan kebersihan lingkungan kerja pada proyek bangunan gedung Kabupaten Cirebon. Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan manajemen K3 pada proyek kontruksi ini sudah cukup baik (Indah, 2. JSR - VOLUME 1. NO. JULI 2023 ANALISIS PENERAPAN MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K. PADA PROYEK KONTRUKSI DI INDONESIA Hasil penelitian Wuliutomo . , mengenai analisis pelaksanaan K3 pada proyek kontruksi di Surabaya juga menunjukkan nilai yang tergolong baik. Sebanyak 78% sistem K3 telah diterapkan pada perusahaan jasa kontruksi di Surabaya dengan skor Beberapa perusahaan kontruksi besar di Surabaya telah menerapkan prinsip K3 dengan baik dengan tingkat penerapannya sebesar 93%, namun untuk perusahaan kontruksi kecil tingkat penerapannya masih tergolong kecil sebesar 56%. Sehingga dapat diketahui bahwa penerapan prinsip K3 belum menyeluruh secara baik di Kota Surabaya. Adapun penerapan K3 pada proyek kontruksi pembangunan Rumah Sakit Mitra di Kabupaten Tegal diketahui telah cukup baik hal ini diketahui berdasarkan hasil analisis deskriptif yang telah dilakukan dimana hampir setiap responden memberikan penilaian yang cukup tinggi. Selain itu pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan proyek ini juga telah menyadari tentang pentingnya penerapan prinsip K3 terutama pada proyek kontruksi (Mirajhusnita, 2. Dapat diketahui bahwa 3 dari proyek kontruksi besar di Indonesia telah menerapkan prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. dengan baik, sedangkan 2 penelitian lainnya menyimpulkan bahwa penerapan K3 pada proyek di Kota Padang dan Medan belum berjalan dengan baik yang disebabkan oleh rendahnya kesadaran pekerja akan pentingnya pelaksanaan manajemen K3 untuk mencegah risiko bahaya dan dampak buruk Selain faktor kesadaran pekerja yang minim diketahui bahwa masih ada faktor lain yang menyebabkan pelaksanaan K3 di beberapa proyek kontruksi terutama proyek dalam skala kecil masih tergolong minim. Faktor-Faktor Penghambat Penerapan K3 di Indonesia Diketahui bahwa penerapan prinsip K3 belum sepenuhnya terlaksana dengan baik di Indonesia, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti: Pengetahuan akan penerapan K3 Banyak pekerja yang menganggap bahwa penggunaan alat pelindung diri maupun prinsip K3 lainnya bukan menjadi kebutuhan pokok saat bekerja, kurangnya kesadaran pekerja ini berakibat pada belum terlaksananya K3 dengan baik. Menurut Susanto . , tingkat pengetahuan pekerja akan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja berhubungan dengan faktor pendidikan, faktor jabatan proyek dan faktor penerapan safety reward. Kurangnya pelatihan mengenai K3 JSR - VOLUME 1. NO. JULI 2023 Journal of Student Research (JSR) Vol. No. 4 juli 2023 e-ISSN: 2963-9697. p-ISSN: 2963-9859. Hal 159-167 Banyak perusahaan yang belum memahami tentang konsep dan sistem Manajemen K3 sehingga pelatihan program ini tidak terlalu diperhatikan, selain itu banyak perusahaan yang beranggapan bahwa pelatihan ini hanya akan menambah biaya pengeluaran perusahaan (Awuy, 2. Kurangnya anggaran mengenai K3 Keterbatasan anggaran ini merupakan salah satu kendala dalam penerapan K3 dimana budaya ini belum bisa direalisasikan karena banyak perusahaan yang memiliki dana terbatas dan dalam pelaksanaannya memerlukan biaya yang akan berdampak pada harga jual kontruksi (Putri, 2. Faktor lingkungan Terdapat hubungan antara lingkungan dengan kesadaran pekerja akan penerapan K3. Hal ini berkaitan dengan lingkungan yang menjadi tempat berkembangnya perilaku atau kebiasaan seseorang terhadap perilaku tertentu. Apabila lingkungannya mendukung untuk melaksanakan prinsip K3 maka setiap pekerja tentu akan memahami pentingnya menerapkan manajemen K3 pada pelaksanaan proyek kontruksi (Priatna, 2. Upaya Penerapan Prinsip K3 Kurangnya tingkat kesadaran pekerja akan penerapan prinsip keselamatan dan kesehatan kerja akan mempengaruhi tingginya tingkat risiko kecelakaan kerja pada proyek kontruksi. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran pekerja akan penerapan K3. Upaya ini seperti penerapan safety induction yang dilakukan setiap sebelum pekerjaan dimulai, perlunya pelatihan intensif dan adanya pengawasan berkala agar pekerja patuh dalam menerapkan prinsip K3 ketika sedang bekerja (Nurdianti, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari penelitian ini yaitu pelaksanaan manajemen K3 di beberapa proyek di Indonesia telah berjalan cukup baik. Banyak perusahaan berskala besar telah memahami dan menerapkan prinsip-prinsip K3 sehingga dapat meminimalisir risiko bahaya dan kecelakaan kerja yang ada. Adapun untuk perusahaan yang berskala kecil pelaksanaan manajemen K3 masih sangat minim. Faktor-faktor penghambat penerapan JSR - VOLUME 1. NO. JULI 2023 ANALISIS PENERAPAN MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K. PADA PROYEK KONTRUKSI DI INDONESIA K3 di Indonesia diantaranya berkaitan dengan pengetahuan pekerja akan K3, kurangnya pelatihan dan anggaran K3 serta faktor lingkungan yang tidak mendukung terlaksananya prinsip K3 dengan baik. Mengingat peningnya penerapan K3 dalam pelaksanaan proyek konstruksi maka penulis menyarankan agar pemerintah lebih ketat dalam mengawasi pelaksanaan proyekproyek kontruksi dengan memperhatikan aspek keselamatan dan kesehatan kerja lebih baik dan perlu dilakukan pelatihan akan pelaksanaan K3 sebelum pekerja memulia Penulis juga menyarankan agar dilakukan kajian lain yang memuat lebih banyak penelitian terkait dengan K3 dalam pelaksanaan proyek kontruksi di Indonesia agar hasilnya lebih beragam dan akurat. DAFTAR PUSTAKA